Makalah Keperawatan Anak i1

download Makalah Keperawatan Anak i1

of 23

  • date post

    25-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    31
  • download

    8

Embed Size (px)

description

anak

Transcript of Makalah Keperawatan Anak i1

MAKALAH KEPERAWATAN ANAK IITHYFOID FEVER

Kelompok 7:Dadang Widodo SetyawanFitri Handraini

STIKES MUHAMMADIYAH LAMONGAN2011/201216

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan hidayah-nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul THYPOID FEVER sesuai dengan waktu yang ditentukan.Makalah ini penulis susun sebagai salah satu persyaratan untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Anak II. Dalam penyusunan makalah ini, penulis mendapatkan banyak pengarahan dan bantuan dari beberapa pihak, untuk itu dalam kesempatan ini penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada :

1. Drs. H. Budi Utomo, Amd. Kep., M. Kes, selaku Ketua STIKES Muhammadiyah Lamongan.2. Lilis Maghfiroh, S, Kep,Ns selaku pengajar Mata Kuliah Keperawatan Anak II.3. Semua pihak yang membantu kelancaran penyusunan makalah ini.

Penulis berusaha untuk dapat menyelesaikan makalah ini, dengan sebaik-baiknya. Namun demikian penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan. Oleh karena itu demi kesempurnaan, penulis mengharapkan adanya kritik dan saran dari semua pihak, untuk menyempurnakannya.

Lamongan, mei 2012ttd

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTARiDAFTAR ISIiiBABI PENDAHULUAN1A. LATAR BELAKANG1B. RUMUSAN MASALAH1C. TUJUAN2D. MANFAAT2BABII TINJAUAN TEORI3A. PENGERTIAN3B. ETIOLOGI3C. GEJALA KLINIS3D. PATOFISIOLOGI4E. PENCEGAHAN6F. PENATALAKSANAAN6G. PENGOBATAN 7H. KOMPLIKASI7I. PEMERIKSAAN PENUNJANG7J. DIANGNOSA PEMBANDING7BAB III KONSEP TEORI ASUHAN KEPERAWATAN9BAB IV KESIMPULAN17A. KESIMPULAN17B. SARAN19DAFTAR PUSTAKA20

BAB IPENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANGDemam tifoid adalah suatu penyakit sistemik yang disebabkan oleh kuman Salmonella typhii. Sampai saat ini demam typhoid masih menjadi masalah kesehatan masyarakat , serta berkaitan erat dengan sanitasi yang buruk terutama di Negara-negara berkembang.Di negara-negara berkembang perkiraan angka kejadian demam typhoid bervariasi dari 10 sampai 540 per 100.000 penduduk . Meskipun angka kejadian demam typhoid turun dengan adanya perbaikan sanitasi pembuangan di berbagai Negara berkembang , diperkirakan setiap tahun masih terdapat 35 juta kasus dengan 500.000 kematian di seluruh dunia . Di Negara maju perkiraan angka kejadian demam typhoid lebih rendah yakni setiap tahun terdapat 0,2-0,7 kasus per 100.000 penduduk di Eropa Selatan . Di Indonesia demam typhoid masih merupakan penyakit endemic dengan angka kejadian yang masih tinggi , diperkirakan 350-810 kasus per 100.000 penduduk pertahun ; atau kurang lebih sekitar 600.000- 1,5 juta kasus setiap tahunnya . Di antara penyakit yang tergolong penyakit infeksi usus , demam typhoid menduduki urutan kedua setelah gastroenteritis . Di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSCM sejak tahun 1992-1996 tercatat 550 kasus demam typhoid yang dirawat dengan angka kematian antara 2,63-5,13 % .

B. RUMUSAN MASALAH1. Apa yang dimaksud dengan penyakit thypoid fever?2. Bagaimana etiologi penyakit thypoid fever?3. Bagaimana gambaran klinis penyakit thypoid fever?4. Bagaimana patofisiologi dari penyakit thypoid fever?5. Bagaimana cara pencegahan penyakit thypoid fever?6. Bangaimana penatalaksaan penyakit thypoid fever?7. Bagaimana pengobatan dari penyakit thypoid fever?8. Apa saja komplikasi panyakit thypoid fever?9. Apa saja pemeriksaan penunjang penyakit thypoid fever?10. Apa diagnosa pembanding pada penyakit thypoid fever?C. TUJUAN Tujuan umumAgar mahasiswa mengerti tentang asuhan keperawatan dengan thypoid fever. Tujuan khusus1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan penyakit thypoid fever.2. Mengetahui etiologi penyakit thypoid fever.3. Mengetahui gambaran klinis penyakit thypoid fever.4. Mengetahui patofisiologi dari penyakit thypoid fever.5. Mengetahui cara pencegahan dari penyakit thypoid fever6. Mengetahui penatalaksaan penyakit thypoid fever.7. Mengetahui pengobatan dari penyakit thypoid fever.8. Mengetahui komplikasi panyakit thypoid fever.9. Mengetahui pemeriksaan penunjang penyakit thypoid fever.10. Mengetahui diagnosa pembanding pada penyakit tipoid fever.D. MANFAAT Agar mahasiswa mengetahui tentang thypoid fever. Agar mahasiswa mengetahui asuhan keperawatan pada thypoid fever.

BAB IITINJAUAN TEORI

A. PENGERTIANThypoid fever ialah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari satu minggu, gangguan pencernaan, dan gangguan kesadaran. (ngastiyah, 2005).

B. ETIOLOGIPenyakit ini disebabkan oleh infeksi kuman Samonella Thposa/Eberthela Thyposa yang merupakan kuman negatif, motil dan tidak menghasilkan spora, hidup baik sekali pada suhu tubuh manusia maupun suhu yang lebih rendah sedikit serta mati pada suhu 700C dan antiseptik.

C. GEJALA KLINISMasa inkubasi 7-20 hari, inkubasi terpendek 3 hari dan terlama 60 hari (T.H. Rampengan dan I.R. Laurentz, 1995). Rata-rata masa inkubasi 14 hari dengan gejala klinis sangat bervariasi dan tidak spesifik. Walaupun gejala bervariasi secara garis besar gejala yang timbul dapat dikelompokan dalam : demam satu minggu atau lebih, gangguan saluran pencernaan dan gangguan kesadaran. Dalam minggu pertama : demam, nyeri kepala, anoreksia, mual, muntah, diare, konstipasi dan suhu badan meningkat (39-410C). Setelah minggu kedua gejala makin jelas berupa demam remiten, lidah tifoid dengan tanda antara lain nampak kering, dilapisi selaput tebal, dibagian belakang tampak lebih pucat, dibagian ujung dan tepi lebih kemerahan. Pembesaran hati dan limpa, perut kembung dan nyeri tekan pada perut kanan bawah dan mungkin disertai gangguan kesadaran dari ringan sampai berat seperti delirium.

.

D. PATOFISIOLOGIKuman salmonella masuk bersama makanan/minuman yang terkontaminasi, setelah berada dalam usus halus mengadakan invasi ke jaringan limfoid usus halus (terutama plak peyer) dan jaringan limfoid mesenterika. Setelah menyebabkan peradangan dan nekrosis setempat kuman lewat pembuluh limfe masuk ke darah (bakteremia primer) menuju organ retikuloendotelial sistem (RES) terutama hati dan limpa. Di tempat ini kuman difagosit oleh sel-sel fagosit RES dan kuman yang tidak difagosit berkembang biak. Pada akhir masa inkubasi 5-9 hari kuman kembali masuk ke darah menyebar ke seluruh tubuh (bakteremia sekunder) dan sebagian kuman masuk ke organ tubuh terutama limpa, kandung empedu yang selanjutnya kuman tersebut dikeluarkan kembali dari kandung empedu ke rongga usus dan menyebabkan reinfeksi usus. Dalam masa bakteremia ini kuman mengeluarkan endotoksin. Endotoksin ini merangsang sintesa dan pelepasan zat pirogen oleh lekosit pada jaringan yang meradang. Selanjutnya zat pirogen yang beredar di darah mempengaruhi pusat termoregulator di hipothalamus yang mengakibatkan timbulnya gejala demam.Makrofag pada pasien akan menghasilkan substansi aktif yang disebut monokines yang menyebabkan nekrosis seluler dan merangsang imun sistem, instabilitas vaskuler, depresi sumsum tulang dan panas. Infiltrasi jaringan oleh makrofag yang mengandung eritrosit, kuman, limfosist sudah berdegenerasi yang dikenal sebagai tifoid sel. Bila sel ini beragregasi maka terbentuk nodul terutama dalam usus halus, jaringan limfe mesemterium, limpa, hati, sumsum tulang dan organ yang terinfeksi. Kelainan utama yang terjadi di ileum terminale dan plak peyer yang hiperplasi (minggu I), nekrosis (minggu II) dan ulserasi (minggu III). Pada dinding ileum terjadi ulkus yang dapat menyebabkan perdarahan atau perforasi intestinal. Bila sembuh tanpa adanya pembentukan jaringan parut.

PATHWAY

Makanan/minuman tercemar : S. thyposaUsus halus dan kolonRES : hati dan limpaAktivitas intoleransUsusMual, muntah, diareNutrisi kurang dari kebutuhan tubuhBakteremia sekunder Pirogen endogenHipertermiPerdarahan dan perforasiFesesInfeksi : pasien kontak SplenomegaliHepatomegaliBakteremia primerKonstipasiVolume cairan tubuh menurun

DIAGNOSA KEPERAWATAN1. Hipertermi berhubungan dengan gangguan hipothalamus oleh pirogen endogen.2. Resiko tinggi kekurangan cairan tubuh berhubungan dengan mual, muntah.3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak ada nafsu makan dan mual.4. Konstipasi berhubungan dengan perubahan proses pencernaan, penurunan aktivitas fisik.

E. PENCEGAHANa. Kebersihan pribadi dan lingkunganb. Mencuci tangan sebelum makanc. Menjaga kebersihan makanan dan minumand. Tidak makan dan jajan di sembarang tempat ,pilihlah rumah makan dan tempat jajan yang menjaga dan mengutamakan kebersihan karena penyebaran demam typhoid melalui makanan dan tangan yang tercemar oleh bakteri ini.e. Jangan minum air yang belum dimasak/belum matangf. Menjaga kebersihan peralatan makang. Menjaga daya tahan tubuh agar selalu fit dengan makanan, gizi seimbangh. Buang air besar sebaiknya pada tempatnya jangan dikali atau sungai untuk menghindari penyebaran kuman

F. PENATALAKSANAANa. Tirah baring atau bed rest.b. Diit lunak atau diit padat rendah selulosa (pantang sayur dan buahan), kecuali komplikasi pada intestinal.c. Obat-obatan atau terapid. Mobilisasi bertahap setelah 7 hari bebas demam.

G. PENGOBATAN Isolsi pasien Perawat yang baik untuk menghindari komplikasi, mengingat sakit yang lama, lemah, anoreksia dan lain-lain. Istrahat selama demam sampai 2 minggu setelah suhu normal kembali (istrahat total), kemudian boleh duduk, jika tidak panas lagi boleh berdiri kemudian berjalan diruangan. Diet. Makanan harus mengandung cukup cairan, kalori, dan tinggi protein. Bahan makanan tidak boleh mengandung banyak serat, tidak merangsang dan tidak menimbulkan gas. Susu 2 gelas sehari. Bila kesadaran pasien menurun diberikan makanan cair, melalui sonde lambung. Jika kesadaran dan nafsu makan anak baik dapat jugadiberikan makanan lunak. Obat pilihan ialah kloramfenikol. Bila terdapat komplikasi, terapi disesuaikan dengan penyakit.

H. KOMPLIKASI Perdarahan usus Perforasi usus Ileus paralitik

I. PEMERIK