Lp Hipertensi

download Lp Hipertensi

of 34

  • date post

    26-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    76
  • download

    0

Embed Size (px)

description

test

Transcript of Lp Hipertensi

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA PADA PASIEN DENGAN HIPERTENSI

Oleh :SGD 2

Komang Tri Budi Utami1002105001Ni Luh Gede Prabayati1002105007Made A Perama Pradnyani 1002105009Ni Ketut Rahajeng Intan H1002105016Ni Komang Sri Widiani1002105033I Gusti Agung Novi Lindaswari1002105038Ni Made Indah Hermayoni 1002105039Ni Made Desy Pratiwi1002105043I Putu Septiawan1002105068I Made Someita1002105077Putu Pamela Kenwa 1002105081

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATANFAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA2013

LEARNING TASK

SGD IIHari/tanggal: Selasa/ 24 September 2013Topik : Pendekatan asuhan keperawatan keluarga dengan berbagai masalah kesehatan

Tugas: Susunlah makalah berupa laporan pendahuluan untuk pendekatan asuhan keperawatan keluarga dengan masalah: Kelompok 1: Anak usia sekolah dengan diareKelompok 2: Post stroke karena hipertensiKelompok 3: TuberculosisKelompok 4: Kecacatan pada salah satu anggota keluargaKelompok 5: Balita yang mengalami ISPAKelompok 6: Lansia yang mengalami Diabetes mellitusKelompok 7: salah satu anggota keluarga mengalami gangguan jiwaKleompok 8: Ibu hamil dengan risiko tinggi

BAB IPENDAHULUANA. Latar BelakangHipertensi kini menjadi masalah global karena prevalensinya yang terus meningkat sejalan dengan perubahan gaya hidup seperti merokok, obesitas, inaktivitas fisik dan stres psikososial. Hampir di setiap negara, hipertensi menduduki peringkat pertama penyakit yang paling sering dijumpai. Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan tekanan diastolik diatas 90 mmHg. Pada populasi lanjut usia, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg (Sheps,2005). Menurut WHO dan the International Society of Hypertension (ISH), saat ini terdapat 600 juta penderita hipertensi di seluruh dunia, dan 3 juta di antaranya meninggal setiap tahunnya. Tujuh dari setiap 10 penderita tersebut tidak mendapatkan pengobatan secara adekuat. Di Indonesia masalah hipertensi cenderung meningkat. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001 menunjukkan bahwa 8,3% penduduk menderita hipertensi dan meningkat menjadi 27,5% pada tahun 2004. Kelompok Kerja Serebrokardiovaskuler FK UNPAD/RSHS tahun 1999, menemukan prevalensi hipertensi sebesar 17,6%, dan MONICA Jakarta tahun 2000 melaporkan prevalensi hipertensi di daerah urban adalah 31,7%. Sementara untuk daerah rural (Sukabumi) FKUI menemukan prevalensi sebesar 38,7%. Hasil SKRT 1995, 2001 dan 2004 menunjukkan penyakit kardiovaskuler merupakan penyakit nomor satu penyebab kematian di Indonesia dan sekitar 2035% dari kematian tersebut disebabkan oleh hipertensiHipertensi adalah keadaan peningkatan tekanan darah yang memberi gejala yang akan berlanjut untuk suatu target organ seperti stroke (untuk otak), penyakit jantung koroner (untuk pembuluh darah jantung) dan left ventricle hypertrophy (untuk otot jantung). Dengan target organ di otak yang berupa stroke, hipertensi adalah penyebab utama stroke yang membawa kematian tinggi. Menurut Gunawan (2001) penyebab hipertensi diantaranya karena faktor keturunan, ciri dari perseorangan serta kebiasaan hidup seseorang. Seseorang memiliki kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya adalah penderita hipertensi. Oleh karenanya pengelolaan hipertensi oleh keluarga sangat penting untuk mencegah terjadinya hipertensi dan menanggulangi komplikasi akibat hipertensi.Keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat merupakan klien keperawatan dan keluarga sangat berperan dalam menentukan cara asuhan yang diperlukan anggota keluarga yang sakit. Bila dalam keluarga tersebut salah satu anggotanya mengalami masalah kesehatan maka sistem dalam keluarga akan terpengaruhi, penderita hipertensi biasanya kurang mendapatkan perhatian keluarga, apabila keluarga kurang dalam pengetahuan tentang perawatan hipertensi, maka berpengaruh pada perawatan yang tidak maksimal. Menurut Friedman (1999) perilaku perawatan hipertensi berhubungan dengan keluarga terhadap penderita hipertensi, dimana keluarga dapat menjadi faktor yang sangat berpengaruh dalam menentukan progam perawatan, karena keluarga berfungsi sebagai sistem pendukung bagi anggotayang menderita hipertensi yang menuntut pengorbanan ekonomi, sosial, psikologis yang lebih besar dari keluarga. Untuk menciptakan suatu kondisi yang sehat dan terkontrol, maka keluarga diharapkan mempunyai pengetahuan dan sikap tentang penyakit hipertensi agar tercipta suatu perilaku perawatan yang tepat pada penderita hipertensi, dalam hal pencegahan, penatalaksanaan yang benar, cepat pada penderita hipertensi (Notoatmodjo, 2003).Penatalaksanaan hipertensi seperti kepatuhan diet, modifikasi lingkungan, dan sebagainya merupakan hal penting yang dapat mengontrol hipertensi pada pasien. Dalam melaksanakan pengobatan hipertensi ini, dukungan dan motivasi kepada pasien penting dilakukan oleh keluarga, karena keluarga memberikan pengaruh yang penting dalam mempercepat kesembuhan pasien. Dengan pemberian edukasi yang dilakukan oleh perawat kepada keluarga mengenai hipertensi dan cara penanggulangannya diharapkan tekanan darah pasien berada dalam kisaran normal serta mencegah terjadinya kekambuhan stroke pada anggota keluarga yang menderita stroke sebelumnya akibat hipertensi. B. Tujuan pembuatan laporanTujuan pembuatan laporan pendahuluan ini adalah sebagai berikut:1. Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai hipertensi dan cara mengontrolnya.2. Mencegah terjadinya kekambuhan stroke pada pasien.3. Menanggulangi faktor resiko terjadinya hipertensi pada keturunan pasien.4. Meningkatkan kesehatan pada pasien dan keluarganya serta kesehatan pada masyarakat sekitar dengan cara penyebaran informasi kesehatan dari keluarga ke masyarakat lain

BAB IIISI

A. KONSEP DASAR PENYAKIT :1. Definisi Hipertensi secara umum adalah tekanan darah persisten dimana tekanan darah sistoliknya diatas 140 mmHg dan tekanan darah diastoliknya diatas 90 mmHg tetapi pada populsi lansia didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan diastoliknya 90 mmHg (Brunner and Suddarth, 2002). Menurut WHO yang dikutip oleh Slamet Suyono (2001:253) batas tekanan darah yang masih dianggap normal adalah 140/90 mmHg dan tekanan darah sama dengan atau lebih dari 160/95 mmHg dinyatakan sebagai hipertensi. Secara umum seseorang dikatakan menderita hipertensi jika tekanan darah sistolik/diastolik 140/90 mmHg (normalnya 120/80 mmHg). Menurut Jan A. Staessen, et.al., Seseorang dikatakan hipertensi apabila tekanan darah sistolik (TDS) 140 mmHg atau tekanan darah diatolik (TDD) 90 mmHg. Menurut Kaplan :a. Pria usia kurang dari 45 tahun, dikatakan hipertensi apabila tekanan darah pada waktu berbaring atau sama dengan 130/90 mmHg.b. Pria usia lebih dari 45 tahun, dikatakan hipertensi apabila tekanan darahnya diatas 145/95 mmHg.c. Pada wanita tekanan darah diatas atau sama dengan 160/90 mmHg dinyatakan hipertensi.

2. EpidemiologiInsiden hipertensi makin meningkat dengan meningkatnya usia. Ini sering disebabkan oleh perubahan alamiah di dalam tubuh yang mempengaruhi jantung, pembuluh darah dan hormon. Hipertensi pada yang berusia kurang dari 35 tahun akan menaikkan insiden penyakit arteri koroner dan kematian prematur (Tambayong, 2000). Hipertensi merupakan salah satu penyebab utama kematian di Amerika Serikat. Sekitar seperempat jumlah penduduk dewasa menderita hipertensi, dan insidennya lebih tinggi dikalangan Afro-Amerika setelah usia remaja. Penderita hipertensi tidak hanya beresiko tinggi menderita penyakit jantung, tetapi juga menderita penyakit lain seperti penyakit saraf, ginjal dan pembuluh darah. Makin tinggi tekanan darahnya, makin besar risikonya (Price & Wilson, 2006)Berdasarkan hasil penelitian tahun 2009 di Indonesia dan di setiap Provinsi didapatkan hasil Prevalensi tertinggi ditemukan di Provinsi Kalimanta Selatan (39,6%), sedangkan terendah di papua barat (20,1%). Prevalensi hipertensi nasional berdasarkan pengukuran saja adalah 28,3%; Provinsi dengan prevalensi tertinggi tetap kalimantan selatan (35,00), yang terendah juga tetap Papua Barat (17,6%). Berdasarkan jenis kelamin, proporsi laki-laki pada kelompok hipertensi lebih tinggi dibandingkan kontrol dan laki-laki secara bermakna berisiko hipertensi 1,25 kali daripada perempuan. Berdasarkan prilaku merokok, responden yang dulu pernah merokok setiap hari pada hipertensi lebih tinggi (4,9%) daripada kelompok yang tidak merokok dan risiko prilaku pernah merokok ini secara bermakna ditemukan sebesar 1,11 kali dibandingkan yang tidak pernah merokok. (Ekowati,2009)

3. PenyebabBerdasarkan penyebab, hipertensi dibagi menjadi dua golongan yaitu hipertensi esensial atau hipertensi primer yang tidak diketahui penyebabnya dijumpai lebih kurang 90 % dan hipertensi sekunder yang penyebabnya diketahui yaitu 10 % dari seluruh hipertensi. Menurut Sunarta Ann dan peneliti lain, berdasarkan penyebabnya hipertensi dapat dikelompokkan dalam dua kategori besar, yaitu:a. Hipertensi PrimerArtinya hipertensi yang belum diketahui penyebabnya dengan jelas. Berbagai faktor yang diduga turut berperan sebagai penyebab hipertensi primer seperti bertambahnya umur, stress psikologis, dan hereditas (keturunan). Sekitar 90 % pasien hipertensi diperkirakan termasuk dalam kategori ini. Pengobatan hipertensi primer sering dilakukan adalah membatasi konsumsi kalori bagi mereka yang kegemukan (obes), membatasi konsumsi garam, dan olahraga. Obat antihipertensi mungkin pula digunakan tetapi kadang-kadang menimbulkan efek samping seperti meningkatnya kadar kolesterol, menurunnya kadar natrium (Na) dan kalium (K) didalam tubuh dan dehidrasi.b. Hipertensi SekunderArtinya penyebab boleh dikatakan telah pasti yaitu hipertensi yang diakibatkan oleh kerusakan suatu organ. Yang termasuk hipertensi sekunder seperti : hipertensi jantung, hipertensi penyakit ginjal, hipertensi penyakit jantung dan ginjal,