LP Hipertensi (di dalam terdapat teknik pengurangan resiko stroke pada klien hipertensi)

download LP Hipertensi (di dalam terdapat teknik pengurangan resiko stroke pada klien hipertensi)

of 29

  • date post

    07-Aug-2015
  • Category

    Documents

  • view

    75
  • download

    12

Embed Size (px)

Transcript of LP Hipertensi (di dalam terdapat teknik pengurangan resiko stroke pada klien hipertensi)

1

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Masalah Hipertensi merupakan peningkatan dari tekanan darah systolik diatas standar (Yasmin, 1993). Hipertensi termasuk penyakit dengan angka kejadian (angka prevalensi) yang cukup tinggi dan dikaitkan dengan kematian dari hampir 14 ribu pria di Amerika setiap tahunnya. Hipertensi ikut berperan dalam kematian ribuan orang lain karena penyakit ikutannya yang berbahanya seperti: stroke, serangan jantung, gagal jantung, dan gagal ginjal (Leila, 2002). Hipertensi membuka peluang 12 kali lebih besar bagi penderitanya untuk menderita stroke. Di Amerika diperkirakan sekitar 64 juta lebih penduduknya yang berusia diantara 18 75 tahun menderita hipertensi (Lany. S., Dkk 2004). Hipertensi adalah faktor resiko paling penting untuk timbulnya stroke karena perdarahan atau steroemboli. Kekerapan dari stroke bertambah dengan setiap kenaikan tingkat tekanan darah ( Ismudianti, 1996). Penyakit Hipertensi adalah penyakit yang makin banyak dijumpai di Indonesia terutama di kota kota besar, ia merupakan faktor resiko langsung terhadap timbulnya infark miokard akut dan CVA (Cerebro Vaskuler Accident) ( Tambayong, 2000). Di Indonesia, sesuai dengan survey yang dilakukan dalam masyarakat selama ini yang telah dikumpulkan angka angkanya, prevalensi hipertensi

2

berkisar 6 15 % dari seluruh penduduk di Indonesia (Soeparman, 2005). Sedangkan data dari Medical Record RS Roemani Semarang tahun 2005 didapatkan 1790 pasien menderita hipertensi yang dirawat diruang rawat inap dan dari angka tersebut 210 pasien terkena stroke. Berdasarkan data tersebut dapat di simpulkan bahwa pasien yang menderita hipertensi mempunyai faktor resiko terkena stroke. Serangan stroke dapat terjadi tiba tiba, umumnya karena pasien tidak mengetahui gejala terjadinya serangan stroke dan tidak melakukan upaya yang tepat untuk mengurangi stroke. Upaya untuk mengurangi stroke dapat dilakukan dengan olah raga secara teratur, diet teratur, perubahan pola hidup, dapat mengurangi terjadinya serangan stroke. Agar seorang pasien hipertensi dapat mengurangi serangan stroke diperlukan pengetahuan yang cukup tentang cara pengelolaan dan perawatan hipertensi yang benar. Mengingat pengetahuan dan upaya untuk mengurangi stroke pada pasien hipertensi sangat penting maka perlu dilakukan penelitian tentang hubungan antara tingkat pengetahuan dengan upaya mengurangi serangan stroke pada pasien hipertensi. Penelitian ini dilakukan di RS Roemani karena 11 % kasus stroke di RS Roemani karena hipertensi. B. Perumusan Masalah Masalah keperawatan yang dapat dirumuskan dari penelitian ini adalah bagaimana tingkat pengetahuan tentang upaya mengurangi serangan stroke pada pasien hipertensi di rawat inap RS Roemani Semarang.

3

C. Tujuan Penelitian1. Tujuan Umum Mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dengan upaya mengurangi

serangan stroke pada pasien hipertensi 2. Tujuan Khusus a. Mendeskripsikan tingkat pengetahuan pasien hipertensi untuk mengurangi stroke. b. Mendeskripsikan upaya-upaya untuk mengurangi upaya serangan stroke pada pasien hipertensi. c. Menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan dengan upaya mengurangi serangan stroke pada pasien hipertensi di RS Roemani Semarang.

D. Manfaat Penelitian1. Bagi Rumah Sakit Sebagai sumber informasi mengenai pengetahuan tentang upaya mengurangi serangan stroke pada pasien hipertensi dan upaya untuk mengurangi serangan stroke yang dilakukan. 2. Bagi Akademik

4

Menambah bahan pustaka mata ajar tindakan keperawatan yang berhubungan dengan masalah kesehatan. 3. Bagi Profesi Keperawatan Memberikan informasi tentang tingkat pengetahuan pasien dan upaya yang dilakukan untuk mengurangi serangan stroke sebagai bahan pertimbangan dalam pengkajian pasien sehingga perawat dapat melakukan pengelolaan asuhan keperawatan.

E. Bidang ilmuBerdasarkan segi keilmuwan, penelitian ini merupakan bidang medikal bedah yang memfokuskan pada bidang perawatan, khususnya mengurangi stroke pada penderita hipertensi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengetahuan1. Pengertian Menurut Peorwodarminto (1976) pengetahuan adalah segala apa yang terjadi.

5

Menurut Soekidjo Notoadmodjo. (2002) Pengetahuan atau knowledge adalah hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu.. Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia yakni melalui indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, raba sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Menurut Notoadmodjo (2002), yang mengutip dari Bloom tingkatan pengetahuan didalam domain kognitif meliputi : a. Tahu (know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari. Sebelumnya termasuk kedalam pengetahuan dalam tingkat ini adalah mengingat kembali (recall). Sesuatu yang spesifik dan seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang diterima. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain mampu menyebutkan, menguraikan mendefinisikan, dan 5 sebagainya. Sebagai contoh dapat mendefinisikan arti penyakit stroke, mampu menyebutkan tanda dan gejala penyakit stroke, mampu menyebutkan etiologi penyakit stroke. b. Memahami (compherensif ) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan dapat mengintepretasikan materi tersebut dengan benar. Orang yang telah paham terhadap obyek atau materi harus dapat menjelaskan, menyimpulkan dan sebagainya terhadap obyek yang dipelajari.

6

c. Penerapan (aplication) Penerapan diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi nyata sebelumnya. d. Analisis (analysa) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi suatu obyek kedalam komponen-komponen, tetapi masih didalam satu struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain. e. Sintesis (syntesa) Menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau

menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. f. Evaluasi (evaluation) Ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau obyek penelitian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau berdasarkan kriteria yang sudah ada.

B. Hipertensi1. Pengertian dan Klasifikasi Hipertensi adalah tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg menetap atau tekanan darah diastolik lebih tinggi dari 90 mmHg (Barbara. E, 1993). Menurut Tambayong. J. (2000) hipertensi juga sering digolongkan berdasarkan tekanan diastolik yaitu: a. b. Hipertensi ringan bila tekanan diastolik 95 104 mmHg Hipertensi sedang bila tekanan diastolik 105 114 mmHg

7

c.

Hipertensi berat bila tekanan diastolik > 115 mmHg

2. Jenis Hipertensi Menurut Lily Ismudianti. R. (1996) jenis hipertensi dibedakan menjadi 2 yaitu Hipertensi Primer dan hipertensi sekunder. Hipertensi Primer

Penyebabnya belum di ketahui dan ini menyangkut +

90 % dari kasus

hipertensi. Hipertensi Sekunder Penyebabnya diketahui dan ini menyangkut + 10 % dari kasus hipertensi.

3. Patofisiologi Kerja jantung terutama ditentukan oleh besarnya curah jantung dan tekanan perifer. Kelainan hipertensi terutama pada peningkatan tahanan perifer, kenaikan tahanan perifer terutama disebabkan oleh vasokonstriksi arteriol akibat naiknya tonus otot polos pada pembuluh darah tersebut. Bila hipertensi sudah berjalan cukup lama maka akan dijumpai perubahan struktural pada pembuluh darah arteriol berupa penebalan tunika intima dan hipertropi tunika media. Kerja jantung pada penderita hipertensi akan bertambah berat karena naiknya tahanan perifer. Lambat jauh akan berakibat terjadinya hipertensi ventrikel kiri. Bila hipertensi sudah melampaui batas maka sel-sel jantung tidak hanya bertambah ukuran (hipertropi) tetapi juga akan bertambah selnya (hiperplasi). Dengan terjadinya hipertropi dan hiperplasi maka sirkulasi darah dalam otot jantung tidak mencukupi lagi sehingga terjadi anoxia relatif. Keadaan ini diperberat dengan adanya sklerosis koroner. Akhirnya akan dan di

8

ikuti dilatasi ventrikel kiri, bila berlangsung terus-menerus maka akan di ikuti hipertropi dan dilatasi jantung kanan dan akhirnya jantung kanan juga akan mengalami dekompensasi (I. Siaw. S., 1994).

4. Etiologi Menurut Tambayong. (2000) dan Yasmin (1993) faktor predisposisi dari hipertensi terdiri dari : a. Usia : Insiden hipertensi makin meningkat dengan meningkatnya usia. Hipertensi pada yang berusia kurang dari 35 tahun dengan jelas menaikkan insiden penyakit arteri koroner dan kematian prematur. b. Jenis kelamin : Pada umumnya insiden pada pria lebih tinggi dari pada wanita sehingga pada usia diatas 65 tahun insiden wanita lebih tinggi. c. Ras : Hipertensi pada ras yang berkulit hitam lebih sedikit 2 kalinya pada yang berkulit putih. d. Pola hidup : Penghasilan rendah, tingkat pendidikan rendah dan kehidupan atau pekerjaan yang penuh stres agaknya berhubungan dengan insiden hipertensi yang tinggi, obesitas di pandang sebagai resiko utama, merokok di pandang sebagai faktor resiko tinggi bagi hipertensi. e. Obesitas : Meningkatnya berat badan pada masa anak anak atau usia pertengahan, resiko terjadinya hipertensi meningkat.

9

f.

Diet: Meningkatnya resiko dengan diet stadium tinggi resiko meninggi pada masyarakat industri dengan tinggi lemak, diet tinggi kalori.

g.

Merokok: Resiko dihubungkan dengan jumlah rokok lamanya berapa tahun merokok.

h. i.

Riwayat keluarga: % hipertensi mempunyai riwayat keluarga hipertensi. Aktifitas : Aktifitas yang berlebihan, istirahat yang kurang dapat meningkatkan resiko terjadinya hipertensi.

j.

Hipertensi Sekunder terjadi karena adanya penyakit atau kondisi lain dalam tubuh yaitu: 1). Kelainan parenkim ginjal: Penyempitan