Laporan IKM Manajemen Puskesmas

of 77 /77
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang Kesehatan merupakan salah satu unsur kesejahteraan yang sangat penting di Indonesia. Paradigma sehat yang ada di Indonesia lebih mengedepankan upaya promotif dan preventif tanpa meninggalkan usaha kuratif dan rehabilitatif dengan harapan dapat mengurangi pengeluaran negara untuk pembiayaan kesehatan. 1 Puskesmas merupakan salah satu sarana kesehatan yang ada di masyarakat. Peningkatan kualitas Puskesmas dapat meningkatkan angka kesehatan yang ada di Indonesia. Puskesmas mempunyai peranan penting dalam bidang kesehatan karena jangkauan pelayanan Puskesmas lebih ditekankan pada masyarakat kecil. Fungsi Puskesmas mengacu kepada konsep “Paradigma Sehat” yaitu pembangunan kesehatan yang memberikan prioritas utama pada upaya pelayanan peningkatan kesehatan (promotif) dan pencegahan penyakit (preventif) dibandingkan upaya pelayanan penyembuhan/pengobatan (kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif) secara menyeluruh dan terpadu dan berkesinambungan. 1 1

Embed Size (px)

description

manajemen puskesmas ilmu kesehatan masyarakat

Transcript of Laporan IKM Manajemen Puskesmas

Page 1: Laporan IKM Manajemen Puskesmas

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kesehatan merupakan salah satu unsur kesejahteraan yang sangat penting di

Indonesia. Paradigma sehat yang ada di Indonesia lebih mengedepankan upaya

promotif dan preventif tanpa meninggalkan usaha kuratif dan rehabilitatif dengan

harapan dapat mengurangi pengeluaran negara untuk pembiayaan kesehatan.1

Puskesmas merupakan salah satu sarana kesehatan yang ada di masyarakat.

Peningkatan kualitas Puskesmas dapat meningkatkan angka kesehatan yang ada di

Indonesia. Puskesmas mempunyai peranan penting dalam bidang kesehatan karena

jangkauan pelayanan Puskesmas lebih ditekankan pada masyarakat kecil. Fungsi

Puskesmas mengacu kepada konsep “Paradigma Sehat” yaitu pembangunan

kesehatan yang memberikan prioritas utama pada upaya pelayanan peningkatan

kesehatan (promotif) dan pencegahan penyakit (preventif) dibandingkan upaya

pelayanan penyembuhan/pengobatan (kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif) secara

menyeluruh dan terpadu dan berkesinambungan.1

Sejak tahun 2011 Kementrian Kesehatan Republik Indonesia mempunyai visi

dan misi yang berbeda dengan tahun sebelumnya. Visi Kementrian Kesehatan saat ini

adalah “Masyarakat sehat yang mandiri dan berkeadilan”, sedangkan Kementrian

Kesehatan mempunyai empat misi yang harus dicapai yaitu meningkatkan kesehatan,

melindungi kesehatan masyarakat, menjamin ketersediaan sumber daya kesehatan

dan menciptakan tata kelola pemerintahan yang baik.2

Puskesmas dapat melakukan upaya yang dikelompokan menjadi dua bagian,

yaitu upaya kesehatan wajib dan upaya pengembangan. Upaya kesehatan wajib antara

lain, upaya promosi kesehatan, upaya kesehatan lingkungan, upaya kesehatan ibu dan

anak serta keluarga berencana, upaya perbaikan gizi masyarakat, upaya pencegahan

dan pemberantasan penyakit menular, upaya pengobatan.3

1

Page 2: Laporan IKM Manajemen Puskesmas

Tuberkulosis adalah penyakit menular yang masih menjadi perhatian WHO

hingga saat ini. Indonesia menempati urutan kelima setelah India, China, Afrika

Selatan, dan Nigeria. Insidensi TB pada tahun 2009 di Indonesia mencapai 0,35-0,52

juta kasus dengan prevalensi mencapai 0,28-1,1 juta kasus dan dengan angka

kematian yang mencapai 36-95 ribu jiwa. Oleh karena itu TB masih menjadi masalah

kesehatan yang membutuhkan penanganan. Di antara usaha penanganan masalah

tersebut adalah deteksi dini/penemuan kasus yang termasuk dalam salah satu program

upaya kesehatan wajib khususnya bidang pemberantasan penyakit menular.

Kurangnya cakupan dari penemuan kasus TB yang disebebkan oleh beberapa faktor

dapat berakibat pada meningkatnya angka kejadiaan TB dan keterlambatan dalam

penanganan karena TB tidak terdeteksi secara dini. Hal ini tentunya dapat menjadi

salah satu penyebab gagalnya pencapaian derajat kesehatan yang merupakan tujuan

utama pembangunan kesehatan. 4,5

Berdasarkan masalah tersebut, maka perlu dilakukan penelitian mengenai

upaya penemuan kasus TB sebagai salah satu program pemberantasan penyakit

menular. Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Kajoran II sebagai tempat pelayanan

kesehatan di daerah Kajoran yang bertanggung jawab menjalankan program

penemuan kasus Tuberkulosis BTA (+). Dengan adanya penelitian ini diharapkan

akan dapat menemukan masalah yang menjadi penyebab kurang berhasilnya upaya

penemuan kasus TB dan memberikan solusi atas masalah tersebut. Penelitian ini juga

diharapkan dapat membantu upaya perbaikan manajemen program dan mutu

pelayanan Puskesmas, khususnya Kajoran II Magelang.

2.2 Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Mahasiswa mampu mengetahui, menganalisis, dan mendeskripsikan

pelaksanaan manajemen program dan pelayanan di Puskesmas Kajoran II

2

Page 3: Laporan IKM Manajemen Puskesmas

periode Januari-September 2012 serta memberikan alternatif pemecahan

masalah dalam rangka upaya perbaikan kinerja Puskesmas.

2. Tujuan Khusus

Mahasiswa mampu mengidentifikasi masalah manajemen pelayanan di

Puskesmas Kajoran II ( Januari-September 2012)

Mahasiswa mampu menentukan prioritas masalah yang ditemukan di

Puskesmas Kajoran II ( Januari-September 2012)

Mahasiswa mampu menganalisis penyebab masalah dari prioritas masalah

yang ditemukan di Puskesmas Kajoran II ( Januari-September 2012)

Mahasiswa mampu menentukan alternatif penyelesaian masalah dari

masalah yang ditemukan di Puskesmas Kajoran II ( Januari-September

2012)

Mahasiswa mampu menentukan pengambilan keputusan dari alternatif

pemecahan masalah di Puskesmas Kajoran II ( Januari-September 2012)

Mahasiswa mampu membuat Plan of Action dari masalah terpilih di

Puskesmas Kajoran II ( Januari-September 2012)

2.3 Metodologi

Laporan penelitian ini disusun berdasarkan data primer dan data sekunder

yang didapatkan di Puskesmas Kajoran II.

Data primer berupa pelaksanaan proses manajemen (P1.P2,P3) diperoleh dari

wawancara dengan Kepala Puskesmas, dokter, pemegang program dan staf

Puskesmas.

Data sekunder diperoleh dari data tertulis yang ada di Puskesmas Kajoran II.

Dari segi manajemen puskesmas, data yang diperoleh yaitu data hasil kegiatan

sampai dengan bulan berjalan. Hasil cakupan dibandingkan dengan target tahun 2012

didapatkan pencapaian. Masalah didapatkan jika pencapaian kurang dari 80%.

Kemudian ditentukan prioritas masalah dengan Hanlon kuantitatif. Dari prioritas

3

Page 4: Laporan IKM Manajemen Puskesmas

masalah tersebut dilakukan analisis penyebab masalah dengan pendekatan sistem.

Kemudian analisis faktor penyebab masalah tersebut dimasukkan ke dalam Fish Bone

Analysis. Penyebab masalah yang ada kemudian diprioritaskan dengan paired

comparison. Dengan menggunakan tabel dan diagram Pareto, dipilihlah penyebab

masalah yang akan diintervensi. Penyebab masalah yang telah terpilih kemudian

dicari alternatif pemecahan masalah secara sistematis yang paling mungkin

dilakukan. Kemudian dilakukan pengambilan keputusan mengenai pemecahan

masalah mana yang akan diusulkan dan dibuat plan of action.6,7

4

Page 5: Laporan IKM Manajemen Puskesmas

BAB 2

ANALISIS SITUASI

2.1 Lingkungan

1. Data Wilayah

Situasi wilayah kerja Puskesmas Kajoran II

Wilayah Kajoran terdiri dari 14 desa, dan 70 dusun.

Gambar 1 . Peta wilayah kerja puskesmas Kajoran II.

a) Batas-batas wilayah Puskesmas Kajoran II adalah :

Utara : Kabupaten Wonosobo

Selatan : Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang

Barat : Kecamatan Salaman dan Kabupaten Purworejo

Timur : Puskesmas Kajoran I

b) Luas wilayah kerja

5

Page 6: Laporan IKM Manajemen Puskesmas

Wilayah kerja Puskesmas Kajoran II adalah seluas 37,77 km2 . Terdiri atas 14

desa yaitu :

Tabel 1. Luas wilayah kerja Puskesmas

Desa Luas Wilayah (Km2)1. Wuwuharjo 7,192. Wonogiri 3,153. Kwaderan 2,914. Madukoro 0,775. Bumiayu 1,356. Ngargosari 0,757. Lesanpuro 1,758. Ngendrosari 1,049. Sambak 3,3310. Bambusari 2,7711. Pandansari 3,9012. Pandanretno 4,9413. Mangurejo 2,3514. Krumpakan 1,57

Total 37,77

c) Transportasi :

Jarak Puskesmas – kantor dinas kabupaten : 20 km

Jarak Puskesmas – kantor Kecamatan : 25 km

Jarak Puskesmas – desa terjauh : 20 km

Sarana Kesehatan :

Ambulance 1 unit

Mobil pusling 1 unit

d) Sarana komunikasi

Sarana komunikasi yang terdapat di wilayah kerja Puskesmas Kajoran II

antara lain radio, surat kabar, dan telepon.

e) Data kesehatan lingkungan

1. Sarana pelayanan air bersih (tahun 2011)

6

Page 7: Laporan IKM Manajemen Puskesmas

Tabel 2. Sarana Pelayanan Air Bersih

No.Sarana Pelayanan Air

Bersih

Σ

SaranaΣ Pemakai Persentase

1. Sumur gali 458 458 11.6 %

2. Perlindungan mata air 18 0 0.0 %

3. Pipa sambungan rumah 3493 2004 50.6 %

4. Kran umum 13 1489 37.6 %

5. Lain-lain 0 0 0.0 %

Sumber data : Data profil puskesmas 2011

Dari data di atas terlihat bahwa sebagian besar penduduk di wilayah kerja

Puskesmas Kajoran II menggunakan pipa sambungan rumah sebagai

sumber air bersih dengan persentase 50.6 %.

2. Sarana jamban (tahun 2011)

Tabel 3. Sarana Jamban

No. Sarana Jamban Σ Sarana Σ Pemakai Persentase

1. Jamban keluarga 1934 1934 37.9 %

2. Jamban umum 19 3163 62.1%

Sumber data : Data profil puskesmas 2011

Dari data di atas terlihat bahwa penggunaan jamban keluarga dalam

masyarakat yang berada di wilayah kerja Puskesmas Kajoran II masih

jauh dari profil Jateng (58.9 %).

3. Sarana pembuangan air limbah

Dari 6421 rumah terdapat 2358 rumah (36.7%) yang memiliki saluran

pembuangan air limbah.

f) Situasi Puskesmas

- Jumlah tempat tidur : 4 tempat tidur

Ruang KIA-KB : 1 tempat tidur

Ruang BP : 2 tempat tidur

7

Page 8: Laporan IKM Manajemen Puskesmas

Ruang imunisasi : 1 tempat tidur

- Jumlah kursi gigi : 1 buah

- Jumlah ruangan :

Apotek : 1 ruang

Laboratorium : 1 ruang

BP gigi : 1 ruang

UGD : 1 ruang

BP Umum : 1 ruang

Ruang Gizi : 1 ruang

Ruang pendaftaran : 1 ruang

Ruang KB-KIA : 1 ruang

Ruang Kesling : 1 ruang

Ruang Imunisasi : 1 ruang

Ruang gizi : 1 ruang

Aula : 1 ruang

Gudang farmasi : 1 ruang

g) Sarana kesehatan :

- Posyandu : 47 buah

- Pustu : 2 buah

- Pusling : 1 buah

- Pos Kesehatan Desa : 7 buah

- Pos Obat Desa : 7 buah

2. Keadaan Penduduk

- Jumlah penduduk tahun 2012 : 23.230 jiwa

- Laki-laki : 9.722 jiwa

- Perempuan : 12.379 jiwa

- Kepadatan penduduk : 615,04 per km2

- Jumlah pasangan usia subur : 3541 pasangan

8

Page 9: Laporan IKM Manajemen Puskesmas

- Balita : 1736 jiwa

Dari data yang kami peroleh, dapat disimpulkan bahwa kepadatan penduduk di

kecamatan Kajoran masih rendah bila dibandingkan dengan profil Jateng.

Data penduduk berdasarkan umur tampak pada tabel sebagai berikut :

Tabel 4. Komposisi penduduk berdasarkan golongan umur di wilayah kerja

Puskesmas Kajoran II

No. Umur (Tahun) Laki-laki Perempuan1. 0 – 4 870 11532. 5 – 17 2073 26033. 18 – 24 828 10664. 25 – 59 4784 60465. ≥60 1167 1511TOTAL 9722 12379

Sumber data : kecamatan kajoran II dalam angka 2012

Komposisi penduduk menurut produktivitas :

- 0 ─ 14 tahun : 6699

- 15 ─ 64 tahun : 12724

- > = 65 tahun : 2678

Angka ketergantungan = Jumlah penduduk (0-14 th)+(> 65 th) x 100%

Jumlah penduduk umur (15-64 th)

= 9377 x 100%

12724

= 73,7 %

9

Page 10: Laporan IKM Manajemen Puskesmas

Tabel 5. Komposisi penduduk per desa di wilayah Puskesmas Kajoran II

No. Nama Desa Laki-laki Perempuan Total1. Kuwaderan 1034 1060 20942. Wuwuharjo 1907 1873 37803. Pandansari 748 738 15864. Pandanretno 670 860 15305. Bambusari 433 819 12526. Sambak 936 987 19237. Madukoro 525 526 10518. Wonogiri 837 997 18349. Mangunrejo 374 435 80910. Krumpakan 449 485 93411. Bumiayu 482 462 94412. Ngendrosari 309 317 62613. Ngargosari 290 287 57714. Lesanpuro 728 639 1367Total 9722 12379 23230

Sumber data : kecamatan kajoran tahun 2012

d. Sosial Ekonomi

Tabel 6. Mata pencaharian penduduk di wilayah kerja Puskesmas Kajoran II

Mata Pencaharian Jumlah Persentase

Pertanian 13858 69,1 %

Tambang 2658 12,9 %

Industri 19 0,2 %

Konstruksi 608 2,9 %

Dagang 3071 14,9 %

TOTAL 100 %

Sumber : kecamatan kajoran dalam angka 2012

Sarana perekonomian

- KUD : 2 buah

- Bank : 1 buah

10

Page 11: Laporan IKM Manajemen Puskesmas

- Pasar : 2 buah

- Rumah makan : 1 buah

- Warung makan : 7 buah

- Warung mie : 6 buah

- Kantin : 2 buah

- Huller : 17 buah

- Industri makanan : 15 buah

2.2 Komponen Masukan (Input)

1. Ketenagaan

Tabel 7. Tenaga kerja di wilayah kerja Puskesmas Kajoran II

Tenaga Kerja Status JumlahDokter umum PNS 2Dokter gigi

Bidan PuskesmasBidan DesaBidan Desa

PNSPNSPNSPTT

1357

Perawat kesehatan PNS 4Perawat gigi PNS 1

Sanitarian (SPPH) PNS 1Ahli gizi PNS 1

Tenaga laboratorium PNS 1Pengelola obat

(asisten apoteker)PNS 1

Tenaga administrasi Kesehatan PNS 1Tenaga administrasi umum

Petugas Kebersihan

Penjaga

Juru Malaria Desa

PNSWiyataBhaktiWiyata BhaktiWiyata Bhakti

-

32

1

1

3Sumber : Data Puskesmas Kajoran II tahun 2012

11

Page 12: Laporan IKM Manajemen Puskesmas

2. Sarana

a. Sarana Fisik

Gedung Puskesmas meliputi: Apotek, laboratorium, BP gigi, UGD, BP

Umum, ruang Gizi, ruang pendaftaran, ruang KB-KIA, ruang kesling, ruang

imunisasi, ruang gizi, aula, gudang farmasi.

b. Sarana Penunjang Medis

- Dental unit dan dental chair: dalam keadaan lengkap (1 unit).

- Perlengkapan medik umum : KIA set dan KB, poliklinik set, alat-alat

penyuluhan kesehatan, IUD kit, peralatan surgical, alat UGD, Obsetri dan

neonatal, imunisasi kit dalam keadaan lengkap, perlengkapan laboratorium,

alat-alat pemeriksaan.

c. Sarana Obat

- Jumlah obat cukup, jenis terbatas, dalam keadaan baik.

- Obat-obat berasal dari obat DAU Kabupaten, DAU propinsi, JPS-BK

Pusat, Askes. Disamping itu ada dana obat dari APBD Kabupaten untuk

suplemen.

- Disuplai dari gedung farmasi setiap tiga bulan sekali dan kemudian

didistribusikan ke unit-unit.

d. Sarana Penunjang

- Mobil ambulance : 1 buah

- Mobil : 1 buah

- Sepeda motor : 4 buah

- Komputer : 3 buah

- Laptop : 1 buah

- Mesin ketik : 1 buah

- Printer : 2 buah

- LCD : 1 buah

- Lemari es : 3 buah

12

Page 13: Laporan IKM Manajemen Puskesmas

- Alat Komunikasi medik : flexiphone dan alat-alat penyuluhan

3. Sumber dan Penggunaan Dana

a. APBD II

Tarif Puskesmas berdasarkan Perda Kabupaten Magelang No.3 tahun 2012 dan

surat dari kepala dinas kesehatan Magelang No.910/836/21/2012 adalah sebesar

Rp. 6000 untuk pasien dalam daerah dan Rp. 10.000 untuk pasien luar daerah.

Sebanyak 80% tarif tersebut dikembalikan ke puskesmas. Sebanyak 15% dana

masuk ke pemerintah daerah, dan 5% untuk dinas kesehatan. Biaya tersebut

digunakan untuk operasional Puskesmas.

b. ASKES

Dana yang didapat dari ASKES terdiri dari jasa sarana yang digunakan untuk

operasional dan jasa pelayanan yang digunakan untuk pembiayaan sarana.

c. Jamkesmas

d. Bantuan Operasional Kesehatan dari Dinas Kesehatan.

Secara umum pendanaan Puskesmas Kajoran II tersedia tepat waktu dengan jumlah

yang memadai untuk pelaksanaan program. Namun, untuk pengembalian retribusi

dari Pemerintah Daerah beberapa kali mengalami keterlambatan sehingga untuk

memenuhi keperluan operasional di Puskesmas digunakan tabungan dari honor

pelayanan.

4. Kebijakan Pemerintah Daerah dan Pusat

Peraturan-peraturan yang mengatur Puskesmas :

- UU No. 23 Th 1992 tentang Kesehatan

- UU No. 22 Th 1999 tentang Otonomi Daerah

- UU No. 25 Th 1999 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah

13

Page 14: Laporan IKM Manajemen Puskesmas

- Peraturan Daerah No 15 tahun 2000 tentang Kenaikan Tarif Puskesmas Di

Kabupaten Magelang.

- Surat Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang no. 974/2283/12/X/ 2003

tentang mulai berlakunya kenaikan tarif di Kabupaten Magelang.

- Surat Keputusan Bupati Kepala Daerah Magelang no. 1884/492/kep/13.2002

tentang organisasi puskesmas

Sementara itu, Keputusan Menteri Kesehatan no.128/MENKES/II/SK/2004

tentang Kebijakan Dasar Pusat Kesehatan Masyarakat belum sepenuhnya

disosialisasikan.

2.3 Manajemen

1. Visi dan Misi Puskesmas Kajoran II

Manajemen yang diterapkan oleh puskesmas Kajoran II tidak terlepas dari visi dan

misi yang dianutnya, yaitu :

Visi :

Menjadi Puskesmas terdepan dan terpercaya dalam pelayanan kesehatan.

Misi :

1. Mengutamakan profesionalisme

2. Memberikan pelayanan prima

3. Melestarikan lingkungan kerja yang sehat

Dimensi Mutu

1. Kompetensi teknis

2. Hubungan antar manusia

3. Efektifitas

4. Efisien

5. Keamanan

6. Kesinambungan

7. Kenyamanan

14

Page 15: Laporan IKM Manajemen Puskesmas

8. Keterjangkauan

9. Informasi

2. Perencanaan

Tim perencana terdiri dari Kepala puskesmas dan staf, dimana sumber data

didapat dari data statistik tingkat kecamatan, yaitu berdasarkan sosial ekonomi, mata

pencaharian, dan jumlah tenaga kesehatan yang tersedia. Laporan akhir tahun

memuat hasil kegiatan dari 6 upaya kesehatan pokok yang dilaksanakan di

Puskesmas Kajoran II. Data yang ada dianalisis dibandingkan dengan target. Masalah

timbul jika pencapaian kegiatan tidak memenuhi target yang ditetapkan.

3. Pelaksanaan dan pengendalian

Pengorganisasian

Puskesmas Kajoran II mempunyai struktur organisasi sebagai berikut :

1. Pimpinan : Kepala Puskesmas

2. Pembantu Pimpinan

a. Kelompok fungsional : Dokter, bidan

b. Tata Usaha : Umum, Kepegawaian, Inventaris, Obat,

c. Urusan Keuangan : Bendahara rutin, Bendahara penerima,

Bendahara Jamkesmas, Bendahara BOK

3. Unit – unit penggerak pembangunan kesehatan :

a. Penyehatan lingkungan, P2M, UKS

b. Puskesmas pembantu : Wuwuharjo, Ngendonsari

c. Pendaftaran, rawat jalan, penunjang (laborat, ruang obat)

15

Page 16: Laporan IKM Manajemen Puskesmas

KEPALA PUSKESMASDR. SUNARYO

KELOMPOK JABATAN FUNGSIONALENDANG SULISTYOWATI

BIDES KUWADERAN : SUPRIH MULANIBIDES WUWUHARJO : INDAH LESTARI

BIDES PANDANSARI : ATIK LESTARIBIDES PANDANRETNO : SUMARTI RONDIYAH

BIDES BAMBUSARI : YUANITA WABIDES SAMBAK : MARFUATUN

BIDES MADUKORO : DINA WANITABIDES WONOGIRI : SUGIYATI

BIDES MANGUNREJO : NOVIKASARI KBIDES KRUMPAKAN : SULISTIYANIBIDES BUMI AYU : NUR RAHMA

BIDES NGENDROSARI : -BIDES NGARGOSARI : RIZKA AMALIA

BIDES LESANPURO : DEWI CAHYANI

KASUBAG TATA USAHAMARWOTO DWI SETYO

ADMINISTRASI UMUMJAMIATUN ADAWIYAH

ADMINISTRASI KEPEGAWAIANITA USWATUN CHASANAH

ADMINISTRASI OBATDAELANI

ADMINISTRASI BARANGENDANG SRI LESTARI

PETUGAS KEBERSIHANHERY WIDIHARTO

PENGEMUDISLAMET SULAIMANPENJAGA MALAM

CHAFID

URUSAN KEUANGAN

BENDAHARA RUTINHIDAYATI NURROHMAH

BENDAHARA KHUSUS PENERIMAANMUMFAIDAH

BENDAHARA JAMKESMASESTININGSIH

BENDAHARA BOKDrg. LISTIANI

UNIT PELAYANAN KESEHATANRAWAT JALAN

BP UMUM: dr. EVIE LUSITABP GIGI: drg. LISA ANDRIYANI

BASORILABORATORIUM:SUTINA DARIYATI

KIA/KB: ENDANG SULITYOWATI SOLICHA

PENUNJANGPENDAFTARAN:

SRI ARDANINGSIHJAMIATUN ADAWIYAH

LABORATORIUM:SUTINA DARIYATI

UNIT PENGGERAK PEMBANGUNANPENYEHATAN LINGKUNGAN

MUMFAIDAHP2P

ARNI MARSTUTI NUGRAHENY

PUSKESMAS PEMBANTU (PUSTU)PUSTU WUWUHARJO : ARNI MN

PUSTU NGRENDOSARI: SLAMET SURYONO

16

Page 17: Laporan IKM Manajemen Puskesmas

Pengorganisasian dapat dilihat dari struktur organisasi Puskesmas Kajoran

II. Kepala Puskesmas berfungsi sebagai manager, konsultan medis dan penggerak

masyarakat. Sebagai manager pimpinan mendelegasikan tugas – tugas kepada staf

sesuai kemampuannya. Pengisian staf dilakukan berdasarkan pada kebutuhan tiap

unit, kemudian diinventarisasikan sesuai dengan jenis tenaga yang dibutuhkan.

Setiap staf yang mengalami kesulitan dapat berhubungan langsung dengan kepala

puskesmas.

Karena kurangnya SDM, ada beberapa petugas yang merangkap jabatan.

Penyelenggaraan kegiatan dari upaya 6 kesehatan wajib dilakukan dengan jadwal

kegiatan yang disusun oleh masing-masing penanggung jawab dengan koordinasi

dengan kepala puskesmas. Tiap kegiatan yang diselenggarakan, dicatat dan

dibukukan. Penyelenggaraan kegiatan dilaksanakan dengan kerjasama lintas

program maupun lintas sektoral oleh masing-masing penanggungjawab program.

Setiap awal dan akhir tahun, dilakukan pertemuan rutin internal

puskesmas. Pada pertemuan ini dibahas bagaimana kinerja Puskesmas Kajoran II,

bagaimana kendali mutu dan kendali biaya. Pelaksanaan masing-masing program

dikoordinasikan langsung oleh pemegang program dengan kepala puskesmas.

Koordinasi lintas program dilakukan oleh masing-masing pemegang program

yang terkait. Telaah eksternal dilakukan dengan melibatkan kerjasama lintas

sektoral yang dilaksanakan oleh masing-masing program dengan sektor yang

terkait.

4. Pengawasan dan Pertanggungjawaban

Pengawasan terdiri atas pengawasan internal dari atasan langsung (Kepala

Puskesmas) terhadap seluruh staf dan pengawasan eksternal yang dilakukan

sebagian masyarakat dan dinas kesehatan terhadap kegiatan yang dilaksanakan

puskesmas, dengan ruang lingkup administratif, keuangan, teknis pelayanan yang

dilakukan di Puskesmas Kajoran II.

Pertanggungjawaban dilakukan melalui laporan pertanggungjawaban

tahunan yang berisi tentang pelaksanaan kegiatan, perolehan sumber daya

(keuangan) dan penggunaan sumberdaya. Laporan pertanggungjawaban dibuat

oleh kepala Puskesmas pada setiap akhir tahun anggaran. Laporan tersebut

17

Page 18: Laporan IKM Manajemen Puskesmas

mencakup pelaksanaan kegiatan serta perolehan dan penggunaan berbagai sumber

daya termasuk keuangan, disampaikan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota

serta pihak – pihak terkait lainnya, termasuk masyarakat.

2.4 Keluaran

Puskesmas : Kajoran II

Kecamatan : Kajoran

Kabupaten : Magelang

Periode : 2011

Jumlah penduduk : 23.230 jiwa

2.5 Dampak

1. Data Kelahiran tahun 2012

Jumlah kelahiran hidup dalam 1 tahun = 354 jiwa

Jumlah lahir mati dalam 1 tahun = 2 jiwa

Angka kelahiran kasar (Crude Birth Rate/CBR) :

= Jumlah kelahiran total (lahir hidup + lahir mati) dalam 1 tahun x 1000

Jumlah penduduk

= 356 x 1000 = 13,44 ‰ (standar nasional= 35)

26483

Hal ini berarti bahwa angka kelahiran kasar di wilayah kerja Puskesmas

Kajoran II masih berada di bawah standar nasional.8

2. Data Kematian tahun 2012

Jumlah kematian bayi dalam 1 tahun = 1 jiwa

Jumlah kematian ibu bersalin dalam 1 tahun = 0 jiwa

(a) Angka kematian bayi (IMR) tahun 2012

IMR = Jumlah kematian bayi dalam 1 tahun x 1000

Jumlah kelahiran hidup dalam 1 tahun

= 1 x 1000

354

= 2,82 ‰ (profil Jawa Tengah tahun 2007= 26 ‰)

18

Page 19: Laporan IKM Manajemen Puskesmas

Angka kematian bayi di wilayah kerja puskesmas kajoran II lebih

rendah dibandingkan dengan angka kematian bayi Jawa Tengah.8

(b) Angka Kematian Ibu 2012

MMR = Jumlah kematian ibu bersalin dalam 1 tahun x 100.000

Jumlah kelahiran hidup dalam 1 tahun

= 0 x 100.000

354

= 0/100.000 KLH (profil Jateng = 116/ 100.000 KLH)

Dari data kematian yang didapat di wilayah kerja Puskesmas

Kajoran II dapat disimpulkan bahwa angka kematian di wilayah kerja

Puskesmas Kajoran II masih berada di bawah standar nasional.8

3. Status Gizi Balita

(a) Angka balita dengan status gizi baik 2011

= jumlah balita dengan status gizi baik x 100%

jumlah balita dalam 1 tahun

= 1585 x 100 %

1630

= 97,2% → profil Jateng 2010 (78,1%)8

(b) Angka balita dengan status gizi kurang 2011

= jumlah balita dengan status gizi kurang x 100%

jumlah balita dalam 1 tahun

= 29 x 100 %

1630

= 1,77 % → profil Jateng 2010 (12,4%)8

(c) Angka balita dengan status gizi buruk

= jumlah balita dengan status gizi buruk x 100%

jumlah balita dalam 1 tahun

= 7 x 100 %

1630

= 0,43 % → profil Jateng 2010 (3,3%)8

19

Page 20: Laporan IKM Manajemen Puskesmas

Bila dibandingkan dengan profil Jateng 2010 maka angka balita dengan

status gizi baik di wilayah kerja Puskesmas Kajoran II lebih tinggi.

Sedangkan angka balita dengan gizi kurang dan gizi buruk lebih rendah

dibandingkan profil Jateng 2010.8

4. Data Penyakit

Pola penyakit penderita rawat jalan di Puskesmas Kajoran II

Kabupaten Magelang untuk semua golongan umur pada tahun 2011

ditampilkan pada tabel 10.

Dari tabel di bawah dapat disimpulkan bahwa penyakit terbanyak

selama tahun 2011 adalah infeksi akut lain pada saluran pernapasan bagian

atas, kemudian disusul dengan gastritis, serta penyakit rheumatoid arthritis

lainnya.

Tabel 8. Pola 10 Besar Penyakit Tahun 2011

No.

Nama Penyakit Jumlah Penderita Persentase

1.

2.3.4.5.6.7.8.9.10.

Infeksi akut lain pd saluran pernafasan bag atasGastritisRheumatoid arthritis lainHipertensiPenyakit pulpa & jar periapikal FaringitisInfluenzaDiare non spesifikDemamPenyakit kulit alergi

290

138132102706460575543

28,6%

13,6%13,0%10,1%6,9%6,3%5,9%5,6%5,4%4,2%

TOTAL 1011 100 %Sumber : Data Puskesmas Kajoran II tahun 2011

20

Page 21: Laporan IKM Manajemen Puskesmas

BAB 3

IDENTIFIKASI MASALAH

3.1 Analisis Hasil

Berdasarkan data pencapaian kegiatan 6 program berdasarkan Standar

Pelayanan Minimal (SPM) Puskesmas Kajoran II periode Januari sampai

September 2012, diperoleh hasil beberapa program yang pencapaiannya kurang

dari 80%. Program-program tersebut disajikan dalam table 11.

Tabel 9. Daftar Program Pokok Puskesmas Kajoran II periode Januari –

September 2012 dengan pencapaian target kurang dari 80%

MASALAH PENCAPAIANABCDEFGH

I

Suspek TB Suspek TB BTA (+)Jumlah bumil yang mendapat TT1Jumlah bumil yang mendapat TT2T2PM yang memenuhi syarat sanitasiPenduduk yang memanfaatkan jambanJumlah kunj ke posyandu seluruhnyaDeteksi dini tumbuh kembang anak balita dan pra sekolahRumah yang mempunyai SPAL

47,5%55,6%76%77%

40,1%52,2%7,5%28,9%

60,2%

3.2 Prioritas Masalah

Berdasarkan data di atas ditemukan adanya sembilan masalah kesehatan

Puskesmas Kajoran II. Dari sembilan masalah kesehatan tersebut dibuat prioritas

masalah dengan menggunakan metode Hanlon Kuantitatif yang meliputi empat

kriteria: (A) Besarnya masalah, (B) Kegawatan masalah, (C) Kemudahan dalam

penanggulangan, dan (D) PEARL Factor.

1. Penentuan besarnya masalah

Penentuan besar masalah dapat dilihat dari skor pencapaian Standar

Pelayanan Minimal (SPM) Puskesmas. Penetapan rentang berdasarkan selisih

dari persentase besar masalah tertinggi dan terendah dibagi jumlah kolom.

21

Page 22: Laporan IKM Manajemen Puskesmas

Tabel 10. Daftar Besar Masalah

MASALAH PENCAPAIAN BESAR MASALAH

ABCDEFGH

I

Suspek TB Suspek TB BTA (+)Jumlah bumil yang mendapat TT1Jumlah bumil yang mendapat TT2T2PM yang memenuhi syarat sanitasiPenduduk yang memanfaatkan jambanJumlah kunj ke posyandu seluruhnyaDeteksi dini tumbuh kembang anak balita dan pra sekolahRumah yang mempunyai SPAL

47,5%55,6%76%77%

40,1%52,2%7,5%28,9%

60,2%

52,5%44,4%24%23%

59,9%24%

47,8%71,1%

39,8%

a. Menentukan Kelas

K = 1+3,3Log N

K = 1+3,3Log 9

K = 4,15 4

b. Menentukan Interval Kelas

R (nilai besar – nilai kecil)

Interval Kelas = -----------------------------------

Jumlah Kelas

= 71,1 -2 3 = 12,025 12 4

Tabel 11. Pembagian Interval Kelas

Kelas Interval Nilai1 23-34% 12 35-46% 23 47-58% 44 >58% 6

22

Page 23: Laporan IKM Manajemen Puskesmas

Tabel 12. Kriteria A: Besarnya Masalah

MASALAHBesarnya masalah per 10.000 penduduk NILAI

23-34%(1)

35-46%(2)

47-58%(4)

>58%(6)

A X 4B X 2C X 1D X 1E X 6F X 2G X 4H X 6I X 2

2. Menentukan Kegawatan Masalah

Keganasan dalam interval skor 1-5, yaitu:

1 : tidak ganas

2 : agak ganas

3 : cukup ganas

4 : ganas

5 : sangat ganas

Urgensi dalam interval skor 1-5, yaitu:

1 : tidak mendesak

2 : agak mendesak

3 : cukup mendesak

4 : mendesak

5 : sangat mendesak

Biaya dalam interval skor 1-5, yaitu:

1 : Sangat mahal

2 : mahal

3 : agak mahal

4 : murah

5 : sangat murah

23

Page 24: Laporan IKM Manajemen Puskesmas

Tabel 13. Kriteria B (Kegawatan Masalah)

Masalah kesehatan

Keganasan Tingkat urgency

Biaya yang dikeluarkan

Nilai

A 4 3 2 9B 4 3 3 10C 2 1 3 6D 2 1 3 6E 1 1 1 3F 1 1 1 3G 1 1 1 3H 3 2 4 9I 2 2 4 8

3. Menentukan Kemudahan dalam penanggulangan

Bobot penilaian antara 1-5 yaitu :

1 2 3 4 5

Sangat sulit ditanggulangi Sangat mudah

ditanggulangi

Tabel 14. Kriteria C (Kemudahan Penanggulangan)

Masalah Kesehatan

I II III IV Nilai

A 4 4 4 4 4B 4 4 3 3 3,5C 3 4 4 4 3,75D 3 4 4 4 3,75E 1 2 1 1 1,25F 1 2 1 1 1,25G 1 1 1 1 1H 3 4 4 4 3,75I 3 4 4 4 3,75

4. Faktor PEARL

Terdiri dari beberapa faktor yang saling menentukan dapat atau tidaknya

suatu program dilaksanakan, faktor-faktor tersebut adalah :

1. P : Propriate (Kesesuaian dengan program nasional/kesepakatan dunia/

24

Page 25: Laporan IKM Manajemen Puskesmas

program daerah)

2. E : Economic (Secara ekonomi murah, kegiatan tersebut untuk

dilaksanakan)

3. A : Acceptable (Dapat diterima oleh masyarakat, Pemda, dll)

4. R : Resource (Tersedianya sumber daya yang mendukung kegiatan)

5. L : Legality (Ada landasan hukum/etika kedokteran, dll)

Bobot nilai bila dijawab ”ya” bernilai 1 dan bila dijawab ”tidak” bernilai 0.

Hasil maksimal dari perhitungan rumus Hanlon tersebut adalah 100, semakin

tinggi nilai angka perhitungan maka masalah tersebut akan diprioritaskan untuk

ditanggulangi.

Tabel 15. Kriteria D (PEARL Factor)

MASALAH

P E A R L HASIL KALI

A 1 1 1 1 1 1B 1 1 1 1 1 1C 1 1 1 1 1 1D 1 1 1 1 1 1E 1 0 1 1 1 0F 1 0 1 1 1 0G 1 0 1 1 1 0H 1 1 1 1 1 1I 1 1 1 1 1 1

5. Prioritas Masalah Kegiatan Pelayanan Kesehatan

Penentuan prioritas masalah pelayanan kesehatan adalah suatu proses oleh

kelompok secara bersama - sama dalam menentukan suatu masalah dari yang

paling penting sampai masalah yang kurang penting.

Setelah nilai kriteria A, B, C dan D didapatkan, nilai tersebut dimasukkan

ke dalam formula sebagai berikut :

Nilai Prioritas Dasar (NPD) : (A + B) C

Nilai Prioritas Total (NPT) : (A + B) C x D

25

Page 26: Laporan IKM Manajemen Puskesmas

Tabel 16. Urutan Prioritas Masalah

MASALAH NPDNILAI PEARL

NPT PRIORITAS

A 52 1 52 1B 42 1 42 2C 26,25 1 26,25 4D 26,25 1 26,25 4E 11,25 1 11,25 5F 6,25 0 0 6G 7 0 0 6H 56,25 0 0 6I 37,5 1 37,5 3

Berdasarkan hasil perhitungan secara Hanlon kuantitatif di atas, dari 8

masalah didapatkan urutan prioritas sebagai berikut:

1. Penemuan kasus suspek TB

2. Penemuan kasus suspek TB BTA (+)

3. Deteksi dini tumbuh kembang anak balita dan pra sekolah

4. Cakupan jumlah bumil yang mendapat TT1

5. Cakupan jumlah bumil yang mendapat TT2

6. T2PM yang memenuhi syarat sanitasi

7. Penduduk yang memanfaatkan jamban

8. Rumah yang mempunyai SPAL

9. Jumlah kunjungan bayi dan balita ke posyandu seluruhnya

Berdasarkan metode Hanlon Kuantitatif, didapatkan bahwa prioritas

masalah yang pertama adalah Penemuan kasus suspek TB Paru . Setelah

dikonfirmasi kepada Kepala Puskesmas Kajoran II dipilih prioritas utama masalah

adalah Penemuan Cakupan TB Paru di wilayah kerja Puskesmas Kajoran II,

dimana pada Januari-September 2012 cakupan hasil kegiatan masih kurang dari

target, yaitu 52,5% dari target.

26

Page 27: Laporan IKM Manajemen Puskesmas

INPUTMan

MoneyMethodMachineMaterial

PROSESP1P2P3

OUTCOMEMutu

OUTPUTCakupan

DAMPAKKesakitanKematian

LINGKUNGAN

Fisik Non fisik

3.3 Analisis Penyebab Masalah

Tahap selanjutnya setelah penentuan prioritas masalah adalah identifikasi

penyebab dari masalah tersebut. Dalam identifikasi masalah rendahnya penemuan

cakupan TB periode Januari-Februari 2011 di Puskesmas Kajoran ini, digunakan

metode pendekatan sistem yang menganalisis penyebab masalah ditinjau dari segi

input, proses dan lingkungan. Proses pendekatan dijelaskan dalam bagan berikut:

Gambar 2. Bagan Pendekatan Sistem

Menggunakan pendekatan tersebut dapat dilakukan analisis hal-hal yang

menyebabkan rendahnya cakupan Penemuan TB di Puskesmas Kajoran II periode

Januari-September 2012.

1. Penyebab Masalah Manajemen Puskesmas Dianalisis dengan Pendekatan

Sistem

Untuk menganalisis penyebab masalah manajemen secara menyeluruh

digunakan pendekatan sistem yang meliputi input, lingkungan, proses, output,

outcome, serta dampak. Dengan pola pemecahan masalah berdasarkan sistem

27

Page 28: Laporan IKM Manajemen Puskesmas

tersebut dapat ditelusuri ke belakang hal-hal yang dapat menyebabkan munculnya

permasalahan.

Dari tahap ini didapatkan hasil asumsi penyebab masalah sbb:

Tabel 17. Identifikasi Kemungkinan Penyebab Masalah

Tahap Analisis Pendekatan Sistem

Komponen Kekurangan KelebihanInput

Man

Terbatasnya jumlah petugas kesehatan yang menangani penjaringan suspek TB

Adanya rangkap jabatan Petugas kesehatan lapangan

mempunyai beban kerja yang terlalu banyak

Kurangnya koordinasi antar pemegang program di puskesmas dan kerja sama dengan bidan desa dan kader.

Kurangnya motivasi pada kader desa untuk melakukan penjaringan suspek TB

Adanya pemanfaatan kader desa untuk menjaring suspek TB

Adanya petugas pemeriksa sputum

Terdapat pelatihan untuk kader TB dan pemegang program

Money

Pemanfaatan dana belum optimal

Ada anggaran biaya pemeriksaan dan pengobatan pasien TB dari pemerintah, Global fund AIDS, TB, Malaria (GFATM),dan dari BOK

Method

Belum ada SOP khusus di Puskesmas mengenai penjaringan suspek TB (menggunakan Pedoman Nasional TB)

-

Machine

Media promosi (poster/pamphlet) TB terbatas di lingkup puskesmas

Tidak tersedianya alat peraga untuk penyuluhan TB

Sudah tersedia alat transportasi untuk melakukan penjaringan ke rumah warga

Material Materi/bahan penyuluhan TB ke masyarakat belum tersedia

Tersedianya buku panduan tentang pemberantasan TB

Lingkungan

Beberapa lokasi desa sulit terjangkau oleh petugas

Kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri ke puskesmas masih kurang

Adanya dukungan dari perangkat desa dan tokoh masyarakat setempat

28

Page 29: Laporan IKM Manajemen Puskesmas

Proses

P1

Perencanaan Tingkat Puskesmas belum ada

Rencana tertulis untuk meningkatkan cakupan suspek TB tidak ada

P2

Lokakarya mini lintas program dan lintas sektor tidak terlaksana

Jadwal terinci kegiatan penjaringan suspek belum tersedia

Kerjasama lintas program kurang, kurangnya dukungan dari pemegang program lain

Terdapat kerjasama antara program P2M dengan Perawatan Kesehatan Masyarakat untuk kunjungan rumah

Terdapat kerjasama penjaringan suspek dengan Puskesmas Salaman II untuk pemeriksaan laboratorium

P3

Belum ada evaluasi keberhasilan pelaksanaan penjaringan TB tingkat puskesmas

Pelaporan pencapaian sasaran penjaringan suspek TB dilaksanakan secara reguler

2. Penyebab Mutu Pelayanan (Simple Problem)

Penilaian mutu dilakukan berdasarkan pengamatan pada petugas di BP

umum, di laboratorium, dan di bagian pendaftaran, yang disesuaikan dengan SOP.

SOP Puskesmas Kajoran II sudah lama tidak digunakan sebagai acuan dalam

pelayanan puskesmas, sehingga penilaian simple problem tidak dapat dilakukan.

3. Penyebab Masalah Mutu Pelayanan (Complex Problem)

Penilaian mutu pelayanan Puskesmas salah satunya dilakukan melalui

pendekatan complex problem, yaitu dengan menggunakan 9 dimensi mutu.

Kuesioner ditanyakan pada dua pasien TB yang datang ke Puskesmas untuk

kontrol.

29

Page 30: Laporan IKM Manajemen Puskesmas

Tabel 18. Kuesioner untuk menilai dimensi mutu

No Masalah Ya Tidak % Pencapaian

1

2

3

Technical Competence (Kompetensi teknis)Apakah petugas menjelaskan perihal penyakit TB dengan jelas?Apakah petugas memberikan saran terhadap penyakit anda?Apakah petugas menjelaskan tentang obat yang anda gunakan?Apakah pelayanan dari Puskesmas sudah memuaskan?Access to Service (Akses terhadap pelayanan)Apakah anda mengerti bahwa pemberian OAT di Puskesmas tersebut tidak dipungut biaya?Apakah petugas pernah melakukan kunjungan rumah untuk menilai status kesehatan dan kondisi lingkungan anda?Apakah anda mudah menjangkau Puskesmas?Apakah sarana transportasi ke Puskesmas terjangkau?Apakah anda sering memeriksakan diri ke Puskesmas?Apakah anda mengetahui jenis-jenis layanan di Puskesmas?Apakah anda sering menggunakan fasilitas Puskesmas keliling?Apakah ada fasilitas Puskesmas pembantu di daerah anda?

Effectiveness (Kesangkilan)Apakah ada kader kesehatan yang menyarankan anda untuk berobat?Menurut anda apakah pelayanan di Puskesmas sudah optimal dalam program TB?

1

2

2

2

1

2

2

1

2

1

1

2

1

1

2

2

2

1

50%

100%

100%

100%

0%

50%

100%

100%

50%

0%

0%

0%

100%

50%

30

Page 31: Laporan IKM Manajemen Puskesmas

4

5

6

Apakah anda puas dengan pelayanan yang ada? Alasan ?Menurut anda apakah kegiatan dan pelayanan di Puskesmas sudah merata ?Apakah masyarakat sudah berperan aktif dalam bidang kesehatan?Apakah masyarakat berperan serta dalam bidang kesehatan dan pencegahan TB?Efficiency (Kemangkusan)Apakah anda merasa terpenuhi tujuan ke Puskesmas?Apakah keluhan yang anda rasakan berkurang dan atau hilang dengan berobat?Apakah anda perlu menunggu lama untuk mendapatkan pelayanan?Apakah pengambilan obat di Puskesmas memerlukan waktu yang lama?Interpersonal Relation (Hubungan antar individu)Apakah petugas memberi salam / sapaan pada awal pertemuan dan memperkenalkan diri sebelum memulai pemeriksaan?Apakah petugas tersenyum selama melayani saudara?Apakah petugas ramah dan sopan selama pelayanan?Apakah petugas menggunakan bahasa yang mudah dan dimengerti pasien?Apakah petugas mendengarkan dengan seksama keluhan pasien?Apakah pelayan kesehatan memberi penjelasan yang jelas tentang sakit yang anda derita dan penanganannya?Apakah pelayan kesehatan memberi kesempatan anda untuk bertanya dan mereka memberi jawaban yang jelas?Apakah anda diberi penjelasan cara minum obat yang diberikan di apotik dengan jelas?Continuity (Kesinambungan)Apakah Anda dianjurkan atau diminta

2

1

1

2

2

2

2

2

2

2

2

1

2

1

0

2

1

1

2

2

1

1

100%

0%

0%

50%

100%

100%

100%

100%

100%

100%

100%

100%

100%

100%

50%

100%

50%

31

Page 32: Laporan IKM Manajemen Puskesmas

7

8

untuk kontrol ulang ke Puskesmas?Apakah Anda diberi informasi / edukasi mengenai yang harus dilakukan jika obat habis?Apakah Anda pernah dirujuk oleh Puskesmas ke tempat pelayanan kesehatan yang lebih lengkap?Apakah Anda pernah dirujuk oleh Puskesmas untuk melakukan pemeriksaan laboratorium?Apakah Anda pernah disurvei/wawancara kesehatan oleh petugas Puskesmas?Apakah Anda diberi edukasi / informasi mengenai pencegahan penularan penyakit kepada anggota keluarga serumah dan orang yang satu tempat tinggal?Apakah Anda pernah mengikuti penyuluhan yang diadakan oleh Puskesmas?Apakah penyuluhan masyarakat tentang penyakit menular khususnya TB dilakukan secara rutin?Apakah anda bersedia periksa kembali ke Puskesmas bila penyakitnya belum sembuh atau kambuh?Apakah kader puskesmas pernah mengontrol kesehatan keluarga anda?Safety (Keamanan)Apakah anda merasa aman saat berada di Puskesmas?Apakah anda merasa aman saat menuju ke Puskesmas?Apakah anda merasa aman terhadap kerahasiaan pribadi anda?Apakah anda merasa aman terhadap setiap tindakan medis yang dilakukan?Apakah anda merasa aman terhadap obat yang diberikan?Amenities (Kenyamanan)Apakah anda merasa nyaman dengan ruang

1

1

1

1

2

1

2

2

2

2

2

1

1

2

2

1

2

1

2

1

50%

50%

0%

0%

50%

0%

50%

0%

100%

50%

100%

100%

100%

100%

100%

32

Page 33: Laporan IKM Manajemen Puskesmas

9

tunggu di puskesmas?Apakah anda merasa nyaman berada di ruang pemeriksaan?Apakah anda nyaman dengan pelayanan petugas kesehatan?Apakah anda merasa nyaman dengan lingkungan sekitar puskesmas?Apakah anda merasa nyaman dengan suasanan kamar mandi?Apakah anda merasa nyaman saat mendapatkan tindakan medis ?Information (Informasi)Apakah anda merasa sakit atau adakah keluhan tentang kesehatan anda?Apakah anda mengetahui tentang TB? Gejala TB?Apakah anda mengetahui bahwa TB menular? Lewat apa?Apakah anda mengetahui bahaya dan komplikasi TB?Apakah anda mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh dalam penularan TB?Apakah di Puskesmas terdapat media informasi tentang TB?Apakah media atau gambar – gambar yang terpajang (pamflet) mengenai TB cukup memberikan informasi?Apakah anda mendapatkan informasi yang memadai tentang penyakit TB anda dari petugas Puskesmas?Apakah anda mengetahui prosedue-prosedur dan makna setiap prosedur dalam menegakkan TB?Apakah anda mendapat penjelasan tentang proses dalam pengobatan TB?Apakah anda mengerti pemakaian OAT yang benar dan efek OAT?Apakah anda mengetahui cara-cara pencegahan TB?Apakah anda mengetahui kegiatan-

2

2

2

2

2

2

1

1

2

2

1

2

1

2

2

2

2

2

2

2

100%

100%

100%

100%

100%

100%

0%

0%

50%

0%

100%

0%

0%

0%

0%

0%

0%

0%

33

Page 34: Laporan IKM Manajemen Puskesmas

kegiatan yang dilakukan Puskesmas dalam mencegah dan menangani TBC?Apakah anda pernah mendapat penyuluhan tentang TBC dari Puskesmas?

1 150%

34

Page 35: Laporan IKM Manajemen Puskesmas

Lokasi desa sulit dijangkauMedia promosi (-)

Alat peraga (-)Bahan penyuluhan (-) Lokmin tidak terlaksana

PTP (-)

Kesadaran masy << Evaluasi keberhasilan program (-)

Jadwal keg (-)

Kerja sama lintas program (-)

Gambar 3. Fish Bone QA Complex Problem

35

Cakupan penjaringan suspek TB rendah

Man

Jumlah tenaga kes <<

Rangkap jabatan

Koordinasi dan komunikasi <<

Motivasi kader desa <<

Money

Pemanfaatan danabelum optimal

Method

SOP (-)

Material Machine Lingkungan Proses

Page 36: Laporan IKM Manajemen Puskesmas

Daftar inventarisasi penyebab masalah yang didapatkan dari pendekatan sistem,

QA simple, dan QA kompleks dan telah dikonfirmasikan dengan koordinator

program Penanggulangan Penyakit Menular di Puskesmas Kajoran II:

Tabel 19. Penyebab masalah tahap analisis pendekatan sistem setelah

dikonfirmasi

Masalah NO PenyebabCakupan penjaringan suspek TB rendah

ABC

DEFGHIJKL

Jumlah tenaga kesehatan kurang (hanya 1)Kurangnya motivasi kader untuk menjaring suspek TBKoordinasi dan komunikasi antar pemegang program serta bidan desaPemanfaatan dana belum optimalBelum ada SOP khusus mengenai penjaringan suspek TBBelum ada bahan penyuluhan kepada masyarakatBelum ada media promosi dan alat peraga penyuluhanLokasi desa sulit dijangkauKesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri kurangTidak ada perencanaan tingkat puskesmasLokmin tidak terlaksanaEvaluasi keberhasilan program (-)

Penyebab masalah tersebut selanjutnya akan diurutkan berdasarkan

prioritas dengan menggunakan paired comparison.

36

Page 37: Laporan IKM Manajemen Puskesmas

3.4 Prioritas Penyebab Masalah

Tabel 20. Paired comparison

A B C D E F G H I J K L HORIZONTAL

A + + + + + + + - + + + 10

B + - - - - - - + + - 3

C - - - - - - + + - 2

D - + + - - + + + 5

E + + - - + + + 5

F + - - + + + 4

G - - + + + 3

H - + + + 3

I + + + 3

J - - 0

K - 0

L 0

Vertikal 0 0 0 2 3 2 2 6 8 0 1 4

Horizon 10 3 2 5 5 4 3 3 3 0 0 0

Jumlah 10 3 2 7 8 6 5 9 11 0 1 4

37

Page 38: Laporan IKM Manajemen Puskesmas

Tabel 21. Tabel Pareto

NO Masalah N % N Kumulatif

% Kumulatif

I Belum ada media promosi dan alat peraga penyuluhan

11 16,7 11 16,7

A Jumlah tenaga kesehatan kurang (hanya 1)

10 15,2 21 31,8

H Lokasi desa sulit dijangkau 9 13,6 30 45,5E Belum ada SOP khusus

mengenai penjaringan suspek TB

8 12,1 38 57,6

D Pemanfaatan dana belum optimal

7 10,6 45 68,2

F Belum ada bahan penyuluhan kepada masyarakat

6 9,1 51 77,3

G Kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri kurang

5 7,6 56 84,8

L Evaluasi keberhasilan program (-)

4 6,1 60 90,9

B Kurangnya motivasi kader untuk menjaring suspek TB

3 4,5 63 95,5

C Kurangnya koordinasi dan komunikasi antar petugas pemegang program serta petugas lintas sektoral terkait

2 3,0 65 98,5

K Lokmin tidak terlaksana 1 1,5 66 100,0J Tidak ada perencanaan

tingkat puskesmas0 0,0 66 100,0

38

Page 39: Laporan IKM Manajemen Puskesmas

Gambar 4. Diagram Pareto

Dari hasil analisis Pareto didapatkan bahwa dengan mengatasi enam

penyebab masalah, dianggap masalah dapat diselesaikan. Penyebab masalah

tersebut adalah:

1. Tidak ada perencanaan tingkat puskesmas2. Lokmin tidak terlaksana3. Kurangnya koordinasi dan komunikasi antar petugas pemegang program

serta petugas lintas sektoral terkait4. Kurangnya motivasi kader untuk menjaring suspek TB5. Evaluasi keberhasilan program (-)6. Kurangnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri

39

Page 40: Laporan IKM Manajemen Puskesmas

3.5Alternatif Pemecahan Masalah

Untuk mengatasi penyebab masalah diatas, alternatif pemecahan masalah yang dapat dilakukan adalah sebagai

berikut:

Tabel 22. Alternatif pemecahan masalah

Masalah Penyebab Tujuan Sasaran Alternatif Pemecahan MasalahCakupan TB paru yang ditemukan rendah

Tidak ada perencanaan tingkat puskesmas

Mengadakan perencanaan tingkat puskesmas

Petugas puskesmas

Mengadakan pertemuan awal tahun untuk membahas perencanaan program yang harus dilakukan

Mengaktifkan kembali lokmin riap bulanan dan tiap tiga bulanan

Lokmin tidak terlaksana

Mengadakan lokmin secara reguler

Kepala puskemas, Petugas puskesmas, pejabat lintas program yang terkait

Menggiatkan kembali lokmin tiap bulan dan tiap tiga bulanan

Kurangnya koordinasi dan komunikasi antar petugas pemegang program serta petugas lintas sektoral terkait

Meningkatkan koordinasi dan komunikasi antar petugas pemegang program serta petugas lintas sektoral terkait

Petugas puskesmas dan petugas lintas sektoral

Menggiatkan kembali lokmin tiap bulan dan tiap tiga bulanan

Kurangnya motivasi kader untuk menjaring

Meningkatkan motivasi kader untuk menjaring

Kader kesehatan desa, tokoh masyarakat

Meningkatkan kesadaran kader dengan mengadakan pelatihan kepada kader secara rutin minimal satu tahun sekali

40

Page 41: Laporan IKM Manajemen Puskesmas

suspek TB suspek TB dan mengadakan penyuluhan Memberikan penghargaan kepada kader-

kader yang menjalankan tugasnya dengan baik

Mengadakan lomba cerdas cermat antar kader

Bekerjasama dengan tokoh masyarakat untuk mengadakan supervisi ke kader

Evaluasi keberhasilan program (-)

Mengadakan evaluasi keberhasilan program

Kepala puskemas, Petugas puskesmas, pejabat lintas program yang terkait

Menggiatkan kembali lokmin tiap bulan dan tiap tiga bulanan

Membuat SPM

Kurangnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri

Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri

Masyarakat desa Mengadakan penyuluhan mengenai penyakit TB

Menyediakan media informasi tentang TB di tempat-tempat strategis

Mengadakan kunjungan rumah di daerah pasien dengan suspek TB

Mengangkat isu kesehatan di dalam kelompok pertemuan warga, contohnya PKK

41

Page 42: Laporan IKM Manajemen Puskesmas

3.6 Pengambilan Keputusan

Setelah kita mengembangkan berbagai alternatif untuk memecahkan masalah,

maka kegiatan selanjutnya adalah berupa penyaringan kegiatan dan menggunakan

pertimbangan (kriteria mutlak) berupa input dan output, serta pertimbangan kriteria

keinginan berupa proses kegiatan.

Pengambilan keputusan merupakan teknik memilih cara terbaik (kegiatan atau

program) untuk mencapai tujuan (sasaran yang ditetapkan) secara efektif dan efisien.

Proses pengambilan keputusan menggunakan kriteria mutlak dan kriteria

keinginan dilakukan melalui 8 langkah, yaitu:

1. Menetapkan tujuan atau sasaran keputusan (sejauh mungkin kuantitatif)

2. Menentukan kriteria mutlak dan kriteria keinginan bagi tercapainya tujuan

3. Menetapkan bobot kriteria keinginan (angka bobot 1 – 10)

4. Inventarisasi alternatif, yaitu kemungkinan–kemungkinan cara untuk

mencapai tujuan

5. Menguji alternatif-alternatif tersebut pada butir ke-4 ke dalam :

a. Matrik kriteria mutlak : alternatif yang tidak lulus segera dikeluarkan,

sedangkan yang lulus ditampilkan ke dalam kriteria keinginan.

b. Matrik kriteria keinginan :

- Pada matrik ini setiap alternatif secara urut diberi nilai terhadap

kriteria keinginan yang ada. Angka nilai setiap alternatif tidak

boleh melebihi bobot kriteria yang bersangkutan.

- Menjumlahkan nilai-nilai setiap alternatif yang telah digandakan

terlebih dahulu dengan kriteria yang bersangkutan.

- Dua alternatif yang memiliki jumlah tertinggi merupakan

keputusan sementara.

6. Menetapkan keputusan sementara.

7. Inventarisasi konsekuensi, yaitu akibat-akibat negatif yang timbul apabila

keputusan sementara dilaksanakan

42

Page 43: Laporan IKM Manajemen Puskesmas

8. Penentuan keputusan tetap, yakni setelah mempertimbangkan :

- Tingginya jumlah nilai alternatif.

- Kemampuan untuk mengatasi konsekuensi.

Masalah yang menempati prioritas pertama dari hasil kegiatan Puskesmas

Kajoran II adalah cakupan penjaringan suspek penderita TB paru yang ditemukan di

Puskesmas masih rendah.

Keputusan dilakukan sebagai berikut:

1. Tujuan keputusan adalah meningkatkan cakupan penjaringan suspek penderita

TB paru yang ditemukan di wilayah kerja Puskesmas Kajoran II.

2. Kriteria mutlak dan kriteria keinginan yang dipakai antara lain:

a. Kriteria mutlak

Tenaga: 1. Dokter

2. Perawat

3. Kader kesehatan

Dana : 1. Dana pemerintah

2. Swadana puskesmas

Sarana : 1. Puskesmas Kajoran II

2. Alat bantu pelaksanaan program

b. Kriteria keinginan

1. Biaya operasional murah

2. Teknis pelaksanaan mudah

3. Efektif

3. Kriteria keinginan dan bobot

1. Biaya operasional murah : 6

2. Teknis pelaksanaan mudah : 8

3. Efektif : 10

4. Beberapa alternatif pemecahan masalah tersebut antara lain:

A. Mengadakan pertemuan awal tahun untuk membahas perencanaan

43

Page 44: Laporan IKM Manajemen Puskesmas

program yang harus dilakukan

B. Mengaktifkan kembali lokmin tiap bulanan dan tiap tiga bulanan

C. Meningkatkan kesadaran kader dengan mengadakan pelatihan kepada

kader secara rutin minimal satu tahun sekali dan mengadakan

penyuluhan

D. Memberikan penghargaan kepada kader-kader yang menjalankan

tugasnya dengan baik

E. Mengadakan lomba cerdas cermat antar kader

F. Bekerjasama dengan tokoh masyarakat untuk mengadakan supervisi ke

kader

G. Membuat SPM

H. Mengadakan penyuluhan kepada masyarakat mengenai penyakit TB.

I. Menyediakan media informasi tentang TB di tempat-tempat strategis.

J. Mengadakan kunjungan rumah di daerah pasien dengan suspek TB.

K. Mengangkat isu kesehatan di dalam kelompok pertemuan warga,

contohnya PKK.

Alternatif-alternatif tersebut selanjutnya diuji ke dalam matriks kriteria mutlak

dan matriks kriteria keinginan sebagai berikut:

Tabel 23. Matriks kriteria mutlak

Masalah Tenaga Dana Sarana Total L / TL

ABCDEFGHIJK

11110111101

11111111111

11111110111

11111111111

LLLL

TLLL

TLL

TLL

Tabel 24. Matriks kriteria keinginan

44

Page 45: Laporan IKM Manajemen Puskesmas

Masalah Efektif(10)

Mudah(8)

Murah(6)

Total Prioritas

ABCDFGIK

8x10 = 808x10 = 809x10 = 908x10 = 807x10 = 707x10 = 708x10 = 807x10 = 70

5x8 = 40 5x8 = 40

7x8 = 568x8 = 647x8 = 567x8 = 567x8 = 565x8 = 40

8x6 = 488x6 = 486x6 = 365x6 = 306x6 = 365x6 = 306x6 = 368x6 = 48

168168182174162156172158

IVVIIIVI

VIIIIIIVII

Alternatif pada matriks keinginan tersebut yang mempunyai keinginan tertinggi adalah: meningkatkan kesadaran kader dengan mengadakan pelatihan kepada kader secara rutin minimal satu tahun sekali dan mengadakan penyuluhan.

Langkah selanjutnya adalah inventarisasi konsekuensi terhadap keputusan

sementara.

a. Faktor penghambat

Membutuhkan biaya dan waktu yang banyak.

Perlu kedisiplinan dari kader.

Kegiatan harus dilakukan secara rutin dan berkelanjutan

Memerlukan tenaga untuk memberikan pelatihan

b. Faktor pendorong

Adanya perkembangan pengetahuan tentang penyakit TB.

Kurangnya pengetahuan kader terhadap TB.

Dengan keterlibatan kader dalam penjaringan suspek TB dapat

meningkatkan efektivitas kerja.

Cakupan penjaringan suspek TB lebih luas dengan adanya kader.

45

Page 46: Laporan IKM Manajemen Puskesmas

3.7 Rencana Kegiatan (Plan of Action / PoA)

No Kegiatan Tujuan Sasaran Tempat Indikator hasil1.

2.

Persiapan Perkenalan dan ijin Survey tempat Pendataan jumlah kader Membuat jadwal Sosialisasi kepada kader

dan masyarakat bahwa akan dilakukan pelatihan dan penyuluhan

Mengkonfirmasi tempat dan waktu pelaksanaan kepada kepala desa dan pelatih/penyuluh

Pelaksanaan Konfirmasi ulang tempat Mengumumkan kepada

kader bahwa akan dilakukan pelatihan dan penyuluhan

Persiapan sarana dan prasarana

Pelaksanaan pelatihan dan penyuluhan mengenai TB

Pelaksanaan pelatihan pengambilan spesimen sputum

Agar kegiatan pelatihan dan penyuluhan lebih terorganisir

Meningkatnya cakupan penemuan TB dengan peningkatan pengetahuan dan kemampuan kader untuk dapat mendeteksi dini kejadian TB Untuk merubah perilaku masyarakat serta meningkatkan

Kepala puskesmas, Bidan puskesmas, bidan desa, kader, perawat

kader kesehatan

Puskesmas kajoran II

Lokasi balai desa

SK panitia Jadwal

Kader mampu mengenali gejala dan tanda TB, melaporkan pada Puskesmas dan mampu mengambil sputum orang yang dicurigai TB untuk dibawa ke laboratorium Puskesmas

46

Page 47: Laporan IKM Manajemen Puskesmas

3. Evaluasi Penilaian apakah waktu

pelaksanaan terlaksana tepat waktu

Penilaian apakah tempat pelaksanaan sudah cukup kondusif

Penilaian apakah panitia dapat melaksanakan tugas masing-masing dengan baik dan tidak rangkap tugas

Penilaian apakah sasaran telah tercapai

Penilaian pengetahuan dengan pre test dan post test

pengetahuan masyarakatAgar kekurangan selama perencanaan dan pelaksanaan dapat menjadi pelajaran untuk kegiatan-kegiatan selanjutnya

Panitia pelaksana kegiatan

Puskesmas Kajoran II

Terbentuk laporan pertanggungjawaban

47

Page 48: Laporan IKM Manajemen Puskesmas

BAB 4

SIMPULAN DAN SARAN

4.1 Simpulan

Pelaksanaan manajemen puskesmas di Kajoran II Januari- September 2012 meliputi 6

upaya wajib Puskesmas. Adapun data pencapaiannya dievaluasi dengan Standar Pelayanan

Minimal dari Dinkes Kab. Megelang. Setelah didapatkan data, maka dilakukan identifikasi

dan prioritas masalah pada Puskesmas Kajoran II. Berdasarkan metode Hanlon Kuantitatif,

didapatkan bahwa prioritas masalah yang pertama adalah Cakupan penjaringan suspek TB

yang kurang dari target. Setelah dikonfirmasi kepada Kepala Puskesmas Kajoran II dipilih

prioritas utama masalah adalah cakupan penjaringan suspek TB yang kurang dari target di

wilayah kerja Puskesmas Kajoran II, dimana pada Januari-September 2012 cakupan hasil

kegiatan masih kurang dari target, yaitu hanya 47,5% dari yang seharusnya dalam SPM

sebesar 80%.

Berdasarkan analisis dan konfirmasi penyebab masalah yang menjadi prioritas adalah

sebagai berikut :

1. Jumlah tenaga kesehatan kurang (hanya 1)

2. Kurangnya motivasi kader untuk menjaring suspek TB

3. Koordinasi dan komunikasi antar pemegang program serta bidan desa

4. Pemanfaatan dana belum optimal

5. Belum ada SOP khusus mengenai penjaringan suspek TB

6. Belum ada bahan penyuluhan kepada masyarakat

7. Belum ada media promosi dan alat peraga penyuluhan

8. Lokasi desa sulit dijangkau

9. Kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri kurang

10. Tidak ada perencanaan tingkat puskesmas

11. Lokmin tidak terlaksana

12. Evaluasi keberhasilan program (-)

Alternatif pemecahan masalah yang diusulkan adalah :

A. Mengadakan pertemuan awal tahun untuk membahas perencanaan

program yang harus dilakukan

B. Mengaktifkan kembali lokmin tiap bulanan dan tiap tiga bulanan

C. Meningkatkan kesadaran kader dengan mengadakan pelatihan kepada

kader secara rutin minimal satu tahun sekali dan mengadakan

48

Page 49: Laporan IKM Manajemen Puskesmas

penyuluhan

D. Memberikan penghargaan kepada kader-kader yang menjalankan

tugasnya dengan baik

E. Mengadakan lomba cerdas cermat antar kader

F. Bekerjasama dengan tokoh masyarakat untuk mengadakan supervisi ke

kader

G. Membuat SPM

H. Mengadakan penyuluhan kepada masyarakat mengenai penyakit TB.

I. Menyediakan media informasi tentang TB di tempat-tempat strategis.

J. Mengadakan kunjungan rumah di daerah pasien dengan suspek TB.

K. Mengangkat isu kesehatan di dalam kelompok pertemuan warga,

contohnya PKK.

Dengan melakukan pengambilan keputusan menggunakan kriteria mutlak dan kriteria

keinginan, alternatif pemecahan masalah yang dipilih adalah pelatihan dan penyuluhan kader

kesehatan desa untuk meningkatkan cakupan penjaringan suspek TB.

4.2 Saran

1. Kepada pihak Puskesmas:

Memfungsikan Puskesmas pembantu dan puskesmas keliling dalam penemuan

penderita

Menggiatkan kembali Lokakarya Minimal dan rapat kerja Puskesmas

Membuat standar operasional prosedur penjaringan suspek TB tingkat wilayah

kerja puskesmas

Melakukan penyuluhan secara rutin

Membuat media informasi tentang TB paru

Memberikan penghargaan kepada kader kesehatan yang memiliki kinerja baik

Optimalisasi tenaga kesehatan puskesmas dalam penjaringan suspek TB

2. Kepada pihak kader kesehatan desa :

Mengikuti penyuluhan dan pelatihan yang diselenggarakan oleh puskesmas

Aktif menjaring suspek TB dari warga di sekitar tempat tinggal

3. Kepada dinas kesehatan:

Usulan kepada Dinas Kesehatan atau Kepala Puskesmas untuk menambah tenaga

kesehatan.

49

Page 50: Laporan IKM Manajemen Puskesmas

Menyelenggarakan evaluasi rutin terhadap kegiatan puskesmas dan

pencapaiannya.

50

Page 51: Laporan IKM Manajemen Puskesmas

DAFTAR PUSTAKA

1. Departemen Kesehatan RI. Indikator Indonesia Sehat 2010 dan Pedoman Penetapan

Provinsi Sehat dan Kabupaten / Kota Sehat. Depkes RI. 2003 [cited on March 2011].

Available from: www.litbang. Depkes.go.id

2. Departemen Kesehatan RI.Indikator Indonesia Sehat 2010. 2010 [cited on March 2011].

Available from http://www.depkes.go.id/index.php/profil/visimisi.html

3. Balai Pelatihan Kesehatan Salaman. Pedoman Praktis Pelaksanaan Kerja di Puskesmas.

Magelang: Podorejo. 2000

4. WHO. Indonesian Tuberculosis Profile. Diunduh dari: http//:www.who.int / tb/data.

2010.

5. Koordinator statistik kecamatan Kajoran. Kecamatan Kajoran Dalam Angka 2009. Edisi

1. Magelang : Badan Pusat Statistik. 2009

6. Sastroasmoro S. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis. Edisi 2. Jakarta: Sagung

Seto. 2002

7. Dahlan S. Statistik Untuk Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta: Arkans. 2004

8. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Profil Data Kesehatan Indonesia. Diunduh

dari: http://www.dinkesjateng.go.id. 2011

51