LANSIA DENGAN GGK

download LANSIA DENGAN GGK

of 22

  • date post

    17-Feb-2015
  • Category

    Documents

  • view

    130
  • download

    2

Embed Size (px)

Transcript of LANSIA DENGAN GGK

Learning Task Gagal Ginjal Kronis dengan Hemodialisa 1. Jelaskan pengertian, penyebab/faktor resiko, epidemiology patofisiology, tindakan/pengobatan Gagal Ginjal Kronis (Fokus ke lansia) 2. Jelaskan perubahan fisik, psikologis, dan social yang terjadi akibat dari penyakit Gagal Ginjal Kronis yang diderita lansia dan akibat dari program hemodialisa 3. Jelaskan pengkajian (riwayat kesehatan, keluhan, LIngkungan, dan pemeriksaan fisik) yang perlu dilakukan pada lansia dengan Gagal Ginjal Kronis 4. Sebutkan dan jelaskan diagnose keperawatan (fisik dan psikososial) yang mungkin muncul pada lansia dengan Gagal Ginjal Kronis dengan Hemodialisa 5. Sebutkan dan jelaskan Tindakan keperawatan yang perlu dilakukan untuk merawat dan meningkatkan kualitas hidup lansia dengan Gagal Ginjal Kronis dengan Hemodialisa 6. Apa Teaching (pendidikan) yang perlu dilakukan kepada pasien dan keluarga pasein dengan Gagal Ginjal Kronis yang menjalani program Hemodialisa 7. Dukungan apa yang dibutuhkan oleh lansia dengan Gagal Ginjal Kronis dengan Hemodialisa yang menjalani perawatan di rumah sakit/tempat perawatan lansia dan dirumah dan darimana dukungan itu berasal 8. Modifikasi lingkungan yang bagaimana yang dibutuhkan oleh lansia dengan Gagal Ginjal Kronis dengan Hemodialisa

PEMBAHASAN

1. Pengertian, penyebab/faktor resiko, epidemiology, patofisiology, tindakan/pengobatan Gagal Ginjal Kronis (Fokus ke lansia) a. Definisi Gagal ginjal kronis atau penyakit renal tahap akhir (ESRD) merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversible dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit, menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah) (Smeltzer, 2002:1448).

-

Gagal ginjal kronis adalah destruksi struktur ginjal yang progresif dan terusmenerus (Corwin, 2009:729).

-

Gagal ginjal kronis merupakan kegagalan fungsi ginjal (unit nefron) yang berlangsung pelahan-lahan karena penyebab berlangsung lama dan menetap yang mengakibatkan penumpukan sisa metabolit (toksik uremik) sehingga ginjal tidak dapat memenuhi kebutuhan biasa lagi dan menimbulkan gejala sakit (Hudak & Gallo, 1996). Penyakit gagal ginjal lebih sering dialami mereka yang berusia

dewasa, terlebih pada kaum lanjut usia, perubahan pada fungsi ginjal seiiring dengan penuaan meningkatkan kerentanan lansia untuk mengalami gangguan fungsi dan gagal ginjal. Gagal ginjal kronik merupakan perkembangan gagal ginjal yang progresif dan lambat, biasanya berlangsung beberapa tahun (Price, 2005). b. Etiologi / Faktor Resiko Penurunan fungsi ginjal mulai terjadi pada saat seseorang mulai memasuki usia 30 tahun dan pada 60 tahun fungsi ginjal menurun sampai 50% yang diakibatkan karena berkurangnya jumlah nefron dan tidak adanya kemampuan untuk regenerasi. Pada lansia banyak fungsi yang mengalami kemunduran, contohnya laju filtrasi, ekskresi, dan reabsorbsi oleh ginjal sehingga merupakan predisposisi untuk penyebab terjadinya gagal ginjal. Selain itu, pada lansia terjadi penurunan beberapa fungsi tubuh secara fungsional misalnya fungsi jantung, pembuluh darah, serta paru-paru yang menyebabkan penurunan aliran darah dan oksigen ke ginjal sehingga merupakan predisposisi untuk penyebab terjadinya gagal ginjal. Kejadian penyakit seperti kekakuan pembuluh darah, hipertensi, gagal jantung, dan diabetes meningkat seiring dengan bertambahnya usia, menyebabkan lansia rentan terhadap penyakit ginjal yang diakibatkannya. Infeksi misalnya pielonefritis kronik, glomerulonefritis. Penyakit vaskuler hipertensif misalnya nefrosklerosis benigna, nefrosklerosis maligna, stenosis arteria renalis. Penyakit metabolik misalnya DM, gout, hiperparatiroidisme, amiloidosis. Nefropati toksik misalnya penyalahgunaan analgesik, nefropati timbal. Nefropati obstruktif misalnya saluran kemih bagian atas: kalkuli neoplasma, fibrosis netroperitoneal. Saluran kemih bagian bawah: hipertropi prostat, striktur uretra, anomali kongenital pada leher kandung kemih dan uretra. Batu saluran kencing yang menyebabkan hidrolityasis.

c. Epidemiology Angka prevalensi gagal ginjal kronis meningkat akhir-akhir ini terutama pada populasi lanjut usia. Data menunjukkan bahwa saat program pengobatan penderita

gagal ginjal tahap akhir (ESRD) didirikan pada tahun 1973 banyak populasi yang datang dari kalangan pemuda, orang sehat, berpendidikan, dan memliki motivasi yang tinggi. Berbeda pada empat dekade setelahnya dimana populasi berumur > 60 tahun justru banyak datang untuk mengikuti program terapi tersebut. Negara berkembang bahkan negara maju sekalipun seperti Amerika Serikat mengalami kenaikan prevalensi pada populasi usia lanjut mengenai kejadian gagal ginjal kronik (Stevens, 2010). Organisasi yang menaungi masalah ginjal di Inggris melaporkan 100 dari satu juta penderita penyakit ginjal kronis (CKD) memerlukan terapi pengganti ginjal dan meningkat jumlahnya sekitar 4% setiap tahunnya (Daugherty & Webb, 2010). Indonesia sendiri belum memiliki sistem registri yang lengkap di bidang penyakit ginjal, namun di Indonesia diperkirakan 100 per sejuta penduduk atau sekitar 20.000 kasus baru dalam setahun. Sekarang ditemukan > 300.000 pasien menderita penyakit ginjal kronik di negara Amerika Serikat. Di negara negara berkembang lainnya, insiden ini diperkirakan sekitar 40 - 60 kasus perjuta penduduk per tahunnya. Selain itu mahalnya tindakan hemodialisis masih merupakan masalah besar dan diluar jangkauan sistem kesehatan. d. Patofisiologi Ginjal akan mengalami penurunan fungi ketika seseorag telah memasuiki umur 30 tahun. Pada usia 60 tahun yang telah akan memasuki masa lansia, fungsi ginjalnya akan menurun sampai 50% karena berkurangnya julan nefron dan kemampuan untuk berdegenerasi telah tidak ada. Hal ini yang akan mengakibatkan penurunan pada prses filtrasi, reabsorpsi, dan sekresi pada ginjal. Selain itu, adany apenrunan fungsi dari berbagai system seperti jantung dan pembuluh darah pada lansia yaitu akan mengalami penurunan kekuatan pompa jantung. Proses menua juga akan mengakibatkan elatisitas jaringan paru dan dining dada akan berkurang. Kedua hal inilah yang akan menyababkan suplai darah dan O2 ke ginjal akan berkurang yang pada akhirnya akan mengganggu fungsi ginjal. Fungsi renal menurun, produk akhir metabolisme protein (yang normalnya diekskresikan ke dalam urin) tertimbun dalam darah. Terjadi uremia dan mempengaruhi setiap sistem tubuh. Semakin banyak timbunan produk sampah maka

gejala akan semakin berat. Banyak gejala uremia membaik setelah dialisis. (Smeltzer, 2002:1448). Pada CKD akan terjadi : Penurunan GFR

Penurunan GFR dapat dideteksi dengan mendapatkan urin 24 jam untuk pemeriksaan klirens kreatinin. Akibt dari penurunan GFR, maka klirens kretinin akan menurun, kreatinin akn meningkat, dan nitrogen urea darh (BUN) juga akan meningkat. Gangguan klirens renal

Banyak maslah muncul pada gagal ginjal sebagai akibat dari penurunan jumlah glumeruli yang berfungsi, yang menyebabkan penurunan klirens (substansi darah yang seharusnya dibersihkan oleh ginjal)

Retensi cairan dan natrium

Ginjal kehilangan kemampuan untuk mengkonsentrasikan atau mengencerkan urin secara normal. Terjadi penahanan cairan dan natrium; meningkatkan resiko terjadinya edema, gagal jantung kongestif dan hipertensi. e. Penanganan 1. Therapy / Tindakan Penanganan Penatalaksanaan keperawatan pada pasien dengan CKD dibagi tiga yaitu : a. Konservatif Dilakukan pemeriksaan lab.darah dan urin Observasi balance cairan Observasi adanya odema Batasi cairan yang masuk

b. Dialysis peritoneal dialysis biasanya dilakukan pada kasus kasus emergency. Sedangkan dialysis yang bisa dilakukan dimana saja yang tidak bersifat akut adalah CAPD ( Continues Ambulatori Peritonial Dialysis ) Hemodialisis

Yaitu dialisis yang dilakukan melalui tindakan infasif di vena dengan menggunakan mesin. Pada awalnya hemodiliasis dilakukan melalui daerah femoralis namun untuk mempermudah maka dilakukan : AV fistule : menggabungkan vena dan arteri Double lumen : langsung pada daerah jantung ( vaskularisasi ke jantung )

c. Operasi Pengambilan batu transplantasi ginjal

f. Pathway Terlampir

2. Perubahan fisik, psikologis, dan social yang terjadi akibat dari penyakit Gagal Ginjal Kronis yang diderita lansia dan akibat dari program hemodialisa Pasien yang menjalani HD mengalami berbagai masalah yang timbul akibat tidak berfungsinya ginjal. Hal tersebut muncul setiap waktu sampai akhir kehidupan. Hal ini menjadi stresor fisik yang berpengaruh pada berbagai dimensi kehidupan pasien yang meliputi bio psiko sosio spiritual.

-

Perubahan fisik Perubahan fisik yang biasanya terjadi pada lansia yang menjalani HD adalah kelemahan fisik yang dirasakan seperti mual, muntah, nyeri, lemah otot, oedema. Selain itu hemodialisa dapat menyebabkan masalah fisik lainnya yaitu hipotensi, hipertensi, kram, demam, kedinginan, infeksi, gangguan, cardio pulmoner, anemia, penyakit tulang, masalah kardio vaskuler, toksisitas alumunium, hiperkalemia, perdarahan, hiponatremia dan hipernatremia, emboli udara, pruritus, mual, muntah.

-

Perubahan psikologis Ketidakberdayaan serta kurangnya penerimaan diri pasien menjadi faktor psikologis yang mampu mengarahkan pasien pada tingkat stres, cemas bahkan depresi (Stuart dan Sundeen, 1998). Lansia yang harus menjalani hemodialisa beberapa kali namun memiliki ekonomi menengah kebawah , maka itu akan menjadi beban bagi mereka. Jika hal ini tidak dapat di selesaikan maka akan menambah beban mental dari lansia sehingga mereka akan merasa stress. Begitu juga dengan penyakit yang diderita lansia. Pengobatan yang diberikan tentunya akan membuat lansia cemas. Rasa cemas ini akan semakin memberat jika pengobatan yang dilakukan tidak berhasil atau bahkan keluhan yang di alami lansia semakin parah. Hal ini akan semakin membuat lansia cem