Lambas Manik

download Lambas Manik

of 171

  • date post

    18-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    155
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Lambas Manik

Menempatkan SDM sebagai Human CapitalOleh : Merza Gamal | 27-Okt-2007, 02:08:06 WIB KabarIndonesia - Seiring berkembangnya era ekonomi baru, berkembang pula budaya yang menitikberatkan pada bottom line yang mengandung arti bahwa laba hari ini bukan laba jangka panjang, sehingga ketika menghadapi masalah maka perusahaan perlu mengambil tindakan cepat dan menentukan. Mempertahankan pekerja pada saat perusahaan bermasalah, saat ini, dipandang sebagian pihak sebagai tindakan lemah hati dan rendah pikiran. Oleh karena itu, memiliki "pekerja tetap" dianggap merugikan dibandingkan dengan outsourcing, sehingga pekerja tidak lebih dari sebuah obyek sewa pelengkap produksi. Lebih jauh lagi, telah muncul idiom baru yang berbunyi "pecat pegawai anda begitu tidak dibutuhkan lagi, karena mereka selalu bisa disewa lagi nanti saat diperlukan". Di samping itu menahan pekerja yang ingin keluar dari perusahaan juga dianggap sebagai akan membuat "besar kepala" seorang pekerja, sehingga muncul idiom yang berbunyi "biarkan satu pekerja anda pergi, karena masih ada seribu lamaran dengan gaji yang lebih rendah akan datang menggantikan". Akan tetapi, bagi perusahaan yang ingin menjadi sebuah perusahaan jangka panjang dan bertahan dari masa ke masa, maka tindakan di atas adalah merupakan sebuah tindakan melemahkan pembangunan loyalitas Sumber Daya Manusia (SDM). Tindakan tersebut akan menyebabkan tingginya cost of employee turn-over. SDM adalah faktor sentral dalam suatu organisasi. Apapun bentuk serta tujuannya, organisasi dibuat berdasarkan berbagai visi untuk kepentingan manusia dan dalam pelaksanaan misinya dikelola dan diurus oleh manusia. Jadi, manusia merupakan faktor strategis dalam semua kegiatan institusi/organisasi. Selanjutnya, Manajemen SDM (MSDM) berarti mengatur, mengurus SDM berdasarkan visi perusahaan agar tujuan organisasi dapat dicapai secara optimal. Peran SDM bagi sebuah perusahaan yang ingin berumur panjang merupakan suatu hal strategis. Oleh karena itu, untuk menangani SDM yang handal harus dilakukan sebagai human capital. Para manajer harus mengaitkan pelaksanaan MSDM dengan strategi organisasi untuk meningkatkan kinerja, mengembangkan budaya korporasi yang mendukung penerapan inovasi dan fleksibilitas. Peran strategis SDM dalam organisasi bisnis dapat dielaborasi dari segi teori sumber daya. Fungsi perusahaan adalah mengerahkan seluruh sumber daya atau kemampuan internal untuk menghadapi kepentingan pasar sebagai faktor eksternal utama. Sumber daya sebagaimana disebutkan di atas, adalah SDM strategis yang memberikan nilai tambah (added value) sebagai tolok ukur keberhasilan bisnis. Kemampuan SDM ini merupakan competitive advantage dari perusahaan. Dengan demikian, dari segi sumber daya, strategi bisnis adalah mendapatkan added value yang maksimum yang dapat mengoptimumkan competitive advantage. Adanya SDM ekspertis: manajer strategis (strategic managers) dan SDM yang handal yang menyumbang dalam menghasilkan added value tersebut merupakan value added perusahaan. Value added adalah SDM strategis yang menjadi bagian dari human capital perusahaan. Manajemen sekarang telah banyak berubah dari keadaan 20-30 tahun lampau, di mana human capital menggantikan mesin-mesin sebagai basis keberhasilan kebanyakan perusahaan. Peter Drucker (1998), pakar manajemen terkenal bahkan mengemukakan bahwa tantangan bagi para manajer sekarang adalah tenaga kerja kini cenderung tak dapat diatur seperti tenaga kerja generasi yang lalu. Titik berat pekerjaan kini bergerak sangat cepat dari tenaga manual dan clerical ke knowledge-worker yang menolak menerima perintah ("komando") ala militer, sebagaimana cara yang diadopsi oleh dunia bisnis 100 tahun yang lalu. Kecenderungan yang kini berlangsung adalah, angkatan kerja dituntut memiliki pengetahuan baru (knowledge-intensive, high tech-knowledgeable), high techknowledgeable) yang sesuai dinamika perubahan yang tengah berlangsung. Tenaga kerja di sektor jasa di negara maju (kini sekitar 70 persen) dari tahun ke tahun semakin meningkat, dan tenaga paruh waktu (part-timer) juga semakin meningkat.

Pola yang berubah ini menuntut "pengetahuan" baru dan "cara penapenanganan" (manajemen) yang baru. Moskowitz, R. and Warwick D. (1996) berpendapat, bahwa Human capital yang mengacu kepada pengetahuan, pendidikan, latihan, keahlian, dan ekspertis tenaga kerja perusahaan kini menjadi sangat penting, dibandingkan dengan waktu-waktu lampau. Malcolm Baldrige, menyatakan bahwa penanganan SDM sebagai Human Capital telah berhasil jika MSDM sudah merencanakan penerapan dan intergrasi pertumbuhan pegawai secara penuh, mencakup program pelatihan, alur pengembangan karier, penilaian/proses kesadaran pribadi, kompensasi, pemberian wewenang, dan hasil terukur. Di samping itu manajemen senior dan madya terlibat secara penuh dan mendukung serta turut berlatih bersama untuk membangun perkembangan organisasi dan pegawai. Semua personalia dalam organisasi sudah merasakan bekerja dalam kelompok (bukan hanya sebagai individu). Setiap unit kerja sudah menguasai pegawai mereka melalui kelompok fungsional dan pembagian informasi yang sesuai dengan fungsi masing-masing. Perusahaan sebagai organisasi telah mempunyai suatu rencana menyeluruh dan secara penuh terhadap pengembangan sumber daya manusia dengan memberikan pengakuan dan penghargaan terhadap penigkatan kualitas secara penuh. Dan, setiap pegawai mendapatkan reward untuk setiap prestasi. Untuk mencapai penanganan SDM sebagai Human Capital dapat dinilai dari komponen-komponen sebagai berikut:

1. Perencanaan dan Pengelolaan SDM a. Seberapa jauh perencanaan SDM dikaitkan dengan strategi; b. Seberapa jauh SDM dikaitkan dengan tujuan peningkatan kualitas; c. Seberapa besar penggunaan data pegawai untuk peningkatan pengelolaan SDM. 2. Peningkatan Pegawai a. Seberapa besar insentif bagi keterlibatab pegawai dalam peningkatan kualitas; b. Seberapa besar wewenang yang diberikan kepada pegawai dalam area kerja mereka; c. Bagaimana pengukuran dan pemantauan pegawai dalam peningkatan kualitas; d. Bagaimana indicator monitoring keterlibatan pegawai pada semua tingkatan. 3. Pendidikan dan Pelatihan a. Bagaimana sistematika pengembangan program pelatihan dan pendidikan; b. Bagaimana mengukur kaitan pelatihan dan pendidikan dengan pekerjaan pegawai; c. Seberapa jauh pengaruh hasil pelatihan berhubungan dengan area pekerjaan pegawai; d. Bagaimana mengukur pelatihan pegawai dengan kategori pekerjaan 4. Kinerja Pegawai dan Pengakuan a. Seberapa jauh reward program mendukung tujuan peningkatan mutu; b. Bagaimana intensitas organisasi meninjau ulang dan meningkatan reward program; c. Bagaimana pengelolaan data dan bukti pengenalan setiap pegawai; d. Bagaimana keberlanjutan peningkatan program untuk mencapai kepuasan pegawai. 5. Kepuasan Pegawai a. Seberapa jauh program pengembangan pelayanan kepada pegawai; b. Bagaimana system penilaian & evaluasi kepuasan pegawai; c. Bagaimana kelengkapan data dalam peningkatan dan pelayanan pegawai.

Dengan demikian, human capital, bukanlah memposisikan manusia sebagai modal layaknya mesin, sehingga seolah-olah manusia sama dengan mesin, sebagaimana teori human capital terdahulu. Namun setelah teori ini semakin meluas, maka human capital justru bisa membantu pengambil keputusan untuk memfokuskan pembangunan manusia dengan menitikberatkan pada investasi pendidikan (termasuk pelatihan) dalam rangka peningkatan mutu organisasi sebagi bagian pembangunan bangsa. Penanganan SDM sebagai human capital menunjukkan bahwa hasil dari

investasi non fisik jauh lebih tinggi dibandingkan investasi berupa pembangunan fisik. Islam sebagai sebuah way of life, mengajarkan dan mengatur bagaimana menempatkan SDM pada sebuah syirkah (perusahaan). Islam sangat peduli terhadap hukum perlindungan hak-hak dan kewajiban mutualistik antara pekerja dengan yang mempekerjakan. Etika kerja dalam Islam mengharuskan, bahwa gaji dan bayaran serta spesifikasi dari sebuah pekerjaan yang akan dikerjakan harus jelas dan telah disetujui pada saat adanya kesepakatan awal, dan pembayaran telah dilakukan pada saat pekerjaan itu telah selesai tanpa ada sedikitpun penundaan dan pengurangan. Para pekerja juga mempunyai kewajiban untuk mengerjakan pekerjaannya secara benar, effektif, dan effisien. Al Quran mengakui adanya perbedaan upah di antara pekerja atas dasar kualitas dan kuantitas kerja yang dilakukan sebagaimana yang dikemukakan dalam Surah Al Ahqaaf ayat 19, Surah Al Najm ayat 39-41. Sungguh sangat menarik apa yang ada dalam Al Quran yang tidak membedakan perempuan dengan laki-laki dalam tataran dan posisi yang sama untuk masalah kerja dan upah yang mereka terima, sebagaimana yang terungkap dalam Surah Ali' Imran ayat 195. Islam juga menganjurkan, untuk melakukan tugas-tugas dan pekerjaan tanpa ada penyelewelengan dan kelalaian, dan bekerja secara efisien dan penuh kompentensi. Ketekunan dan ketabahan dalam bekerja dianggap sebagai sesuatu yang mempunyai nilai terhormat. Suatu pekerjaan kecil yang dilakukan secara konstan dan professional lebih baik dari sebuah pekerjaan besar yang dilakukan dengan cara musiman dan tidak professional. Hal ini sesuai dengan Sabda Rasullulah yang berbunyi "Sebaik-baiknya pekerjaan adalah yang dilakukan penuh ketekunan walaupun sedikit demi sedikit." (H.R. Tirmidzi). Kompentensi dan kejujuran adalah dua sifat yang membuat seseorang dianggap sebagai pekerja unggulan sebagaimana yang dinyatakan dalam Surah Al Qashash ayat 26. Standard Al Quran untuk kepatutan sebuah pekerjaan adalah berdasarkan pada keahlian dan kompetensi seseorang dalam bidangnya. Ini merupakan hal penting, karena tanpa adanya kompentensi dan kejujuran, maka bisa dipastikan tidak akan lahir efisiensi dari seseorang. Oleh karena itu, merupakan kewajiban bagi manajemen sebuah organisasi (perusahaan) untuk menempatkan seseorang sesuai dengan kompetensinya. Berdasarkan ayat-ayat di atas, dapat disimpulkan, bahwa Islam mengajarkan SDM dalam sebuah perusahaan merupakan salah satu capital bukan sebagai cost unit.

Human Capital * oleh Gary S. Becker ** Untuk kebanyakan orang modal berarti rekening bank, seratus lembar saham IBM saham, jalur perakitan, atau pabrik baja di daerah Chicago. Ini semua adalah bentuk modal dalam arti bahwa mereka adalah aset yang menghasilkan pendapatan dan output yang berguna lainnya selama jangka waktu yang lama. Tapi bentuk-bentuk nyata dari modal bukan satu-satunya. Sekolah, kursus pelatihan komputer, pengeluaran perawatan medis, dan kuliah tentang nilai-nilai ketepatan waktu dan kejujuran juga modal. Itu karena mereka meningkatkan pendapatan, meningkatkan kesehatan, atau menambah kebiasaan baik seseorang atas sebagian besar masa hidupnya. Oleh karena itu, ekonom menganggap pengeluaran pendidikan, pelatihan, perawatan medis, dan sebagainya sebagai investasi modal manusia. Mereka disebut modal manusia karena orang tidak dapat dipisahkan dari pengetahuan, keterampilan, kesehatan, atau nilai-nilai dalam cara mereka dapat dipisahkan dari aset keuangan dan fisik. Pendidikan dan pelatihan adalah investasi yang paling penting dalam modal manusia. Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa sekolah tinggi dan pendidikan tinggi di Amerika Serikat sangat meningkatkan pendapatan seseorang, bahkan setelah jaring keluar biaya langsung dan tidak langsung dari sekolah, dan bahkan setelah disesuaikan untuk fakta bahwa orang dengan pendidikan yang lebih cenderung memiliki IQ yang lebih tinggi dan lebih baik berpendidikan dan orang tua kaya. Bukti serupa sekarang tersedia selama bertahun-tahun dari lebih dari seratus negara dengan budaya yang berbeda dan sistem ekonomi. Pendapatan orang yang lebih berpendidikan yang hampir selalu jauh di atas rata-rata, meskipun keuntungan yang umumnya lebih besar di negaranegara kurang berkembang. Pertimbangkan perbedaan dalam pendapatan rata-rata antara perguruan tinggi dan lulusan sekolah tinggi di Amerika Serikat selama lima puluh tahun terakhir. Sampai awal tahun enam puluhan lulusan perguruan tinggi memperoleh sekitar 45 persen lebih dari lulusan sekolah tinggi. Pada tahun enam puluhan ini premium dari pendidikan tinggi ditembak hingga hampir 60 persen, tapi jatuh kembali di tahun tujuh puluhan sampai di bawah 50 persen. Jatuhnya selama tujuh dipimpin

beberapa ekonom dan media untuk khawatir tentang "Amerika overeducated." Memang, pada tahun 1976 ekonom Harvard Richard Freeman menulis sebuah buku berjudul The Overeducated Amerika. Penurunan tajam dalam kembali ke investasi dalam modal manusia menempatkan konsep modal manusia itu sendiri ke dalam kehinaan beberapa. Antara lain disebabkan keraguan tentang apakah pendidikan dan pelatihan benar-benar meningkatkan produktivitas atau hanya memberikan sinyal ("mandat") tentang bakat dan kemampuan. Namun keuntungan moneter dari pendidikan perguruan tinggi meningkat tajam lagi selama tahun delapan puluhan, ke tingkat tertinggi dalam lima puluh tahun terakhir. Ekonom Kevin M. Murphy dan Finis Welch telah menunjukkan bahwa premi untuk mendapatkan pendidikan tinggi pada tahun delapan puluhan adalah lebih dari 65 persen. Pengacara, akuntan, insinyur, dan profesional lainnya mengalami kemajuan pesat terutama dalam penghasilan. Keuntungan pendapatan lulusan sekolah tinggi di atas putus sekolah yang tinggi juga sangat meningkat. Bicara tentang Amerika overeducated telah menghilang, dan telah digantikan oleh kekhawatiran tentang apakah sekali lagi Amerika Serikat memberikan kualitas yang memadai dan kuantitas pendidikan dan pelatihan lainnya. Ruang untuk Catatan Becker, Ensiklopedia Esai tentang Human Capital 2 Kekhawatiran ini dibenarkan. Tingkat upah riil kaum muda putus sekolah yang tinggi telah turun lebih dari 25 persen sejak awal tahun tujuh puluhan, penurunan yang benar-benar luar biasa. Entah karena masalah sekolah, ketidakstabilan keluarga, atau faktor lain, orang muda tanpa suatu perguruan tinggi atau pendidikan sekolah penuh tinggi tidak cukup siap untuk bekerja di perekonomian modern. Berpikir tentang pendidikan tinggi sebagai investasi dalam modal manusia membantu kita memahami mengapa sebagian kecil dari lulusan SMA yang pergi ke perguruan tinggi dan menurun meningkat dari waktu ke waktu. Ketika manfaat gelar sarjana jatuh pada tahun tujuh puluhan, misalnya, fraksi putih lulusan SMA yang mulai kuliah jatuh, dari 51 persen pada tahun 1970 menjadi 46 persen pada tahun 1975. Banyak pendidik diharapkan untuk terus menurun pendaftaran pada tahun delapan puluhan, sebagian karena jumlah delapan belas tahun-usia menurun, tetapi juga karena biaya kuliah meningkat pesat. Mereka salah tentang kulit putih. Fraksi putih lulusan SMA yang memasuki perguruan tinggi meningkat terus pada tahun delapan puluhan, mencapai 60 persen

pada tahun 1988, dan menyebabkan peningkatan mutlak dalam jumlah yang mendaftar kulit putih meskipun sejumlah kecil usia kuliah orang. Hal ini masuk akal. Manfaat dari pendidikan tinggi, sebagaimana dicatat, meningkat pada tahun delapan puluhan. Dan kuliah dan biaya, meskipun mereka naik sekitar 39 persen 1980-1986 secara real, istilah disesuaikan dengan inflasi, tidak hanya biaya untuk pergi ke perguruan tinggi. Memang, untuk mahasiswa kebanyakan mereka tidak bahkan biaya besar. Rata-rata, tiga-perempat dari swasta biaya-biaya ditanggung oleh siswa dan oleh keluarga-dari siswa pendidikan perguruan tinggi adalah pendapatan yang mahasiswa menyerah dengan tidak bekerja. Ukuran baik dari ini "biaya kesempatan" adalah pendapatan yang yang baru dicetak lulusan sekolah tinggi bisa mendapatkan dengan bekerja penuh waktu. Dan selama tahun delapan puluhan ini pendapatan yang hilang, tidak seperti kuliah, tidak bangkit secara riil. Oleh karena itu, bahkan kenaikan 39 persen dalam biaya kuliah nyata diterjemahkan ke dalam peningkatan hanya 10 persen dalam total biaya untuk siswa pendidikan tinggi. Ekonomi modal manusia juga menjelaskan penurunan fraksi hitam lulusan SMA yang melanjutkan ke perguruan tinggi di awal tahun delapan puluhan. Sebagai ekonom Harvard Thomas J. Kane telah menunjukkan, biaya naik lebih untuk mahasiswa kulit hitam daripada kulit putih. Itu karena persentase yang lebih tinggi dari orang kulit hitam dari keluarga berpenghasilan rendah dan, karenanya, telah disubsidi oleh pemerintah federal. Pemotongan hibah federal untuk mereka di awal tahun delapan puluhan substansial biaya mereka mengangkat pendidikan tinggi. Menurut "Laporan Komisi Sarjana Pendidikan" 1982 di University of Chicago, perkiraan kuliah demografi berbasis pendaftaran telah menandai luas selama dua puluh tahun sebelum waktu itu. Hal ini tidak mengejutkan untuk sebuah "kapitalis manusia." Prakiraan seperti mengabaikan perubahan insentif-di sisi biaya dan pada sisi manfaat-untuk mendaftar di perguruan tinggi. Ekonomi modal manusia telah membawa perubahan sangat dramatis dalam insentif bagi perempuan untuk berinvestasi dalam pendidikan tinggi dalam beberapa dekade terakhir. Sebelum tahun enam puluhan perempuan Amerika lebih mungkin dibandingkan pria untuk lulus dari sekolah tinggi tetapi kurang mungkin untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Wanita yang tidak pergi ke perguruan tinggi dijauhi atau dikeluarkan dari matematika, ilmu pengetahuan, ekonomi, dan hukum, dan tertarik ke arah pengajaran, ekonomi rumah, bahasa asing, dan sastra. Karena perempuan yang sudah menikah relatif sedikit terus bekerja untuk membayar, mereka rasional memilih pendidikan yang membantu dalam "produksi rumah tangga"-dan tidak diragukan lagi juga

di pernikahan pasar dengan meningkatkan keterampilan sosial mereka dan kepentingan budaya. Semua ini telah berubah secara radikal. Peningkatan besar dalam partisipasi tenaga kerja Becker, Ensiklopedia Esai tentang Human Capital 3 perempuan menikah adalah kerja paling penting memaksa perubahan selama dua puluh lima tahun terakhir. Banyak wanita sekarang mengambil sedikit waktu off dari pekerjaan mereka bahkan memiliki anak. Akibatnya nilai untuk perempuan keterampilan pasar telah meningkat sangat besar, dan mereka melewati tradisional "perempuan" field untuk akuntansi, hukum, kedokteran, teknik, dan mata pelajaran lain yang membayar dengan baik. Memang, wanita sekarang terdiri dari satu sepertiga atau lebih dari partisipasi di hukum, bisnis, dan sekolah kedokteran, dan ekonomi rumah banyak departemen telah baik ditutup atau menekankan "ekonomi rumah baru." Perbaikan dalam posisi ekonomi perempuan kulit hitam telah sangat cepat, dan sekarang mereka mendapatkan hampir sebanyak perempuan kulit putih. Tentu saja, pendidikan formal bukan satu-satunya cara untuk berinvestasi dalam modal manusia. Pekerja juga belajar dan dilatih di luar sekolah, terutama pada pekerjaan. Bahkan lulusan perguruan tinggi tidak sepenuhnya siap untuk pasar tenaga kerja ketika mereka meninggalkan sekolah, dan dilengkapi ke dalam pekerjaan mereka melalui program pelatihan formal dan informal. Jumlah on-the-job berkisar pelatihan dari satu jam atau lebih pada pekerjaan sederhana seperti pencuci piring sampai beberapa tahun pada tugas-tugas rumit seperti rekayasa di pabrik mobil. Data terbatas yang tersedia menunjukkan bahwa di-the-job training merupakan sumber penting dari peningkatan yang sangat besar dalam pendapatan yang pekerja mendapatkan karena mereka mendapatkan pengalaman yang lebih besar di tempat kerja. Perkiraan tebal terakhir oleh ekonom Universitas Columbia menunjukkan bahwa alat pecincang Yakub total investasi dalam onthe-job training dapat lebih dari $ 100 miliar per tahun, atau hampir 2 persen dari GNP. Tidak ada diskusi modal manusia dapat menghilangkan pengaruh keluarga pada pengetahuan, keterampilan, nilai, dan kebiasaan anak-anak mereka. Orang tua mempengaruhi pencapaian pendidikan, stabilitas perkawinan, kecenderungan untuk merokok dan untuk mendapatkan untuk bekerja tepat waktu, serta dimensi lain dari kehidupan anak-anak mereka. Pengaruh besar keluarga tampaknya akan menyiratkan hubungan yang sangat erat antara pendapatan, pendidikan, dan pekerjaan orang tua dan anak-anak. Oleh karena itu, agak mengejutkan bahwa hubungan positif antara pendapatan orang tua dan anak tidak kuat, meskipun hubungan antara tahun-tahun sekolah orang tua dan anak-anak lebih kuat. Sebagai contoh, jika

ayah mendapatkan 20 persen di atas rata-rata generasi mereka, anak-anak pada usia yang sama cenderung memperoleh sekitar 8 persen di atas rata-rata mereka. Hubungan sama berlaku di negara-negara Eropa Barat, Jepang, Taiwan, dan banyak tempat lainnya. Pepatah lama "dari kemeja untuk kemeja di tiga generasi" adalah mitos tidak; pendapatan cucucucu dan kakek hampir tidak terkait. Rupanya, kesempatan yang disediakan oleh ekonomi modern, bersama dengan dukungan publik yang luas pendidikan, memungkinkan mayoritas dari mereka yang berasal dari latar belakang berpenghasilan rendah untuk melakukan cukup baik di pasar tenaga kerja. Kesempatan yang sama yang mendorong mobilitas bagi masyarakat miskin membuat jumlah yang sama mobilitas ke bawah bagi mereka yang naik lebih tinggi di tangga penghasilan. Pertumbuhan berkelanjutan dalam pendapatan per kapita di banyak negara selama abad kesembilan belas dan kedua puluh sebagian karena perluasan pengetahuan ilmiah dan teknis yang meningkatkan produktivitas tenaga kerja dan input lainnya dalam produksi. Dan peningkatan ketergantungan industri pada pengetahuan yang canggih sangat meningkatkan nilai pendidikan, sekolah teknis, on-the-job training, dan modal manusia lainnya. Kemajuan teknologi baru jelas nilai kecil ke negara-negara yang memiliki sangat sedikit pekerja terampil yang tahu bagaimana menggunakannya. Pertumbuhan ekonomi erat tergantung pada sinergi antara pengetahuan baru dan modal manusia, itulah sebabnya mengapa peningkatan yang besar dalam pendidikan dan pelatihan telah disertai kemajuan besar dalam pengetahuan teknologi di semua negara yang telah mencapai pertumbuhan ekonomi yang signifikan. Becker, Ensiklopedia Esai tentang Human Capital 4 Catatan ekonomi yang beredar dari Jepang, Taiwan, dan negara Asia lainnya dalam beberapa dekade terakhir secara dramatis menggambarkan pentingnya modal manusia untuk pertumbuhan. Kekurangan sumber daya alam impor-mereka hampir semua energi mereka, misalnya-dan menghadapi diskriminasi terhadap ekspor mereka oleh Barat, ini disebut Macan Asia tumbuh pesat dengan mengandalkan tenaga kerja yang terlatih, terdidik, pekerja keras, dan teliti yang membuat sangat baik penggunaan teknologi modern. * Dari Encyclopedia Concise Ekonomi, bagian dari Perpustakaan Ekonomi dan Liberty, (tidak ada tanggal) Asli versi: http://www.econlib.org/library/Enc/HumanCapital.html Bacaan lebih lanjut Becker, Gary S. Human Capital. 1975.

Freeman, Richard. Para Overeducated Amerika. 1976. Kane, Thomas J. "College Masuknya Black sejak tahun 1970:. Peran kuliah, Bantuan Keuangan, Kondisi Ekonomi Lokal, dan Latar Belakang Keluarga" Naskah tidak diterbitkan, 1990. Murphy, Kevin M., dan Finis Welch. "Upah Premi untuk College Lulusan: Pertumbuhan terbaru dan Penjelasan Kemungkinan." Peneliti Pendidikan 18 (1989): 17-27. "Laporan Komisi Sarjana Pendidikan." University of Chicago Rekam 16, tidak ada. 2 (3 Mei 1982): 67-180. Tentang Penulis Gary S. Becker adalah Profesor Universitas Ekonomi dan Sosiologi di University of Chicago dan Rose-Marie dan Jack R. Anderson Senior Fellow Stanford Hoover Institution. Dia adalah seorang pionir dalam studi modal manusia. Ia memenangkan Hadiah Nobel 1992 di bidang ekonomi. (Lihat juga: Biografi:. Gary S. Becker) ** ** Biografi Gary S. Becker (dari sumber yang sama seperti di atas) Gary S. Becker memenangkan Hadiah Nobel 1992 di bidang ekonomi untuk "memiliki memperpanjang domain teori ekonomi untuk aspek perilaku manusia yang sebelumnya telah ditangani dengan-jika sama sekali-dengan disiplin ilmu sosial lainnya seperti sosiologi, demografi dan kriminologi." Aplikasi yang sangat luas Becker ekonomi dimulai dini. Pada tahun 1955 ia menulis disertasi doktornya di Universitas Chicago pada ekonomi diskriminasi. Antara lain, Becker berhasil menantang pandangan Marxis bahwa diskriminasi membantu orang yang mendiskriminasikan. Becker mengatakan bahwa jika majikan menolak untuk mempekerjakan seorang pekerja yang produktif hanya karena warna kulitnya, majikan yang kehilangan keluar pada kesempatan yang berharga. Singkatnya, diskriminasi mahal untuk orang yang mendiskriminasikan. Becker menunjukkan diskriminasi yang akan kurang meresap dalam industri lebih kompetitif karena perusahaan yang mendiskriminasikan akan kehilangan pangsa pasar untuk perusahaanperusahaan yang tidak. Dia juga disajikan bukti bahwa diskriminasi lebih meresap di lebih diatur dan, karena itu, industri yang kurang kompetitif. Ide bahwa diskriminasi mahal untuk diskriminator adalah akal sehat di kalangan ekonom saat ini, dan itu adalah karena Becker. Pada awal tahun enam puluhan Becker pindah ke daerah yang masih muda modal manusia. Salah satu pendiri konsep (yang sedang lainnya Theodore Schultz), Becker menunjukkan apa lagi tampak seperti akal sehat tetapi baru pada saat itu: pendidikan adalah investasi. Pendidikan menambah

modal manusia kita seperti lainnya Becker, Ensiklopedia Esai tentang Human Capital 5 investasi modal fisik menambah. (Untuk lebih lanjut tentang ini, lihat artikel Becker, Human Capital, di ensiklopedia ini.) Salah satu wawasan Becker adalah bahwa biaya utama investasi dalam pendidikan adalah waktu seseorang. Mungkin wawasan menuntunnya untuk daerah berikutnya utamanya, studi tentang alokasi waktu dalam sebuah keluarga. Menerapkan konsep ekonom biaya kesempatan, Becker menunjukkan bahwa sebagai upah pasar naik, biaya untuk wanita yang sudah menikah tinggal di rumah akan naik. Mereka akan ingin bekerja di luar rumah dan menghemat pada tugas-tugas rumah tangga dengan membeli peralatan lebih banyak dan makanan cepat saji. Bahkan kejahatan yang melarikan diri pemikiran yang tajam analitik Becker. Pada akhir tahun enam puluhan dia menulis sebuah artikel jejak-nyala yang bekerja asumsi adalah bahwa keputusan untuk melakukan kejahatan adalah fungsi dari biaya dan manfaat kejahatan. Dari asumsi ini ia menyimpulkan bahwa cara untuk mengurangi kejahatan adalah untuk meningkatkan kemungkinan hukuman atau membuat hukuman lebih berat. Wawasan Nya ke dalam kejahatan, seperti wawasan tentang diskriminasi dan modal manusia, membantu menelurkan cabang baru ekonomi. Dalam tujuh puluhan Becker diperpanjang wawasan pada alokasi waktu dalam sebuah keluarga. Dia menggunakan pendekatan ekonomi untuk menjelaskan keputusan untuk memiliki anak dan untuk mendidik mereka, dan keputusan untuk menikah dan bercerai. Becker seorang profesor di Universitas Columbia 1957-1969. Kecuali untuk periode itu, ia telah menghabiskan seluruh karirnya di University of Chicago. Dia memegang janji bersama di departemen ekonomi dan sosiologi. Becker memenangkan John Bates Clark dari Penghargaan American Economic Association pada tahun 1967 dan adalah presiden dari bahwa asosiasi pada tahun 1987.

MODAL MANUSIA Modal manusia adalah persediaan atribut kompetensi, pengetahuan dan kepribadian diwujudkan dalam kemampuan untuk melakukan kerja sehingga menghasilkan nilai ekonomi. Ini adalah atribut yang diperoleh oleh seorang pekerja melalui pendidikan dan pengalaman. [1] Banyak teori-teori ekonomi awal menyebutnya hanya sebagai tenaga kerja, salah satu dari tiga faktor produksi, dan mempertimbangkan untuk menjadi sumber daya sepadan - homogen dan mudah dipertukarkan. Konsepsi lain dari tugas ini membuang asumsi ini. Isi [Sembunyikan] [Sunting] Latar Belakang Justin Bunuhlah mendefinisikan empat jenis modal tetap (yang ditandai sebagai yang affords pendapatan atau keuntungan tanpa beredar atau mengubah master). Empat jenis adalah: 1. berguna mesin, instrumen dari perdagangan; 2. bangunan sebagai sarana pengadaan pendapatan; 3. perbaikan tanah; 4. yang diperoleh dan kemampuan yang berguna dari seluruh penduduk atau anggota masyarakat. Adam Smith modal manusia didefinisikan sebagai berikut: "Keempat, dari kemampuan diperoleh dan bermanfaat dari semua penduduk atau anggota masyarakat. Akuisisi bakat seperti itu, oleh pemeliharaan pengakuisisi selama pendidikan, penelitian, atau magang, selalu biaya pengeluaran nyata, yang merupakan modal tetap dan menyadari, seakan-akan, dalam pribadi-Nya. Bakat-bakat, karena mereka membuat bagian dari kekayaannya, jadi jangan mereka juga yang dari masyarakat yang ia milik. Ketangkasan peningkatan pekerja mungkin dipertimbangkan dalam cahaya yang sama sebagai mesin atau instrumen perdagangan yang memfasilitasi dan abridges tenaga kerja, dan yang, meskipun biaya beban tertentu, melunasi bahwa biaya dengan keuntungan ".. [2] Oleh karena itu, Smith berpendapat, tenaga produktif kerja keduanya tergantung pada pembagian kerja: "Peningkatan terbesar dalam kekuatan produktif tenaga kerja, dan sebagian besar keterampilan, ketangkasan, dan penilaian dengan yang diarahkan adalah setiap tempat, atau diterapkan, tampaknya telah efek dari pembagian kerja". Ada hubungan yang kompleks antara pembagian tenaga kerja dan modal manusia. [Sunting] Asal istilah AW Lewis dikatakan telah dimulai bidang Pembangunan Ekonomi dan akibatnya ide modal manusia ketika ia menulis di tahun 1954, "Pengembangan Ekonomi dengan Kebutuhan Unlimited

Buruh." "Modal manusia" istilah tidak digunakan karena nada negatif sampai pertama kali dibahas oleh Arthur Cecil Pigou: "Ada hal-hal seperti investasi dalam modal manusia serta investasi dalam modal materi Jadi segera setelah ini diakui,. . perbedaan antara ekonomi dalam konsumsi dan ekonomi investasi menjadi kabur Sebab, sampai titik tertentu, konsumsi adalah investasi dalam kapasitas produksi pribadi Hal ini terutama penting dalam kaitannya dengan anak-anak:. untuk mengurangi pengeluaran konsumsi terlalu mereka sangat dapat menurunkan efisiensi mereka dalam setelah kehidupan. Bahkan untuk orang dewasa, setelah kita turun jarak tertentu sepanjang skala kekayaan, sehingga kita berada di luar wilayah kemewahan dan "tidak perlu" kenyamanan, sebuah cek untuk konsumsi pribadi juga memeriksa untuk investasi. [3 ] Penggunaan istilah ini dalam literatur ekonomi modern neoklasik tanggal kembali ke "Investasi di Human Capital dan Distribusi Pendapatan Pribadi" artikel alat pecincang Yakub dalam The Journal of Political Economy pada tahun 1958. Kemudian T.W. Schultz yang juga memberikan kontribusi bagi pengembangan materi pelajaran. Aplikasi yang paling terkenal dari ide "modal manusia" dalam ilmu ekonomi adalah bahwa alat pecincang dan Gary Becker dari "Sekolah Chicago" ekonomi. Becker buku berjudul Human Capital, yang diterbitkan pada tahun 1964, menjadi referensi standar selama bertahun-tahun. Dalam pandangan ini, modal manusia adalah serupa dengan "sarana fisik produksi", misalnya, pabrik dan mesin: satu dapat berinvestasi dalam modal manusia (melalui pendidikan pengobatan, pelatihan medis) dan output seseorang tergantung sebagian pada tingkat pengembalian manusia satu modal memiliki. Jadi, modal manusia merupakan alat produksi, di mana investasi tambahan menghasilkan keluaran tambahan. Modal manusia adalah disubstitusikan, tetapi tidak dipindahtangankan seperti tanah, tenaga kerja, atau modal tetap. Teori pertumbuhan modal manusia modern melihat sebagai faktor pertumbuhan penting. Penelitian lebih lanjut menunjukkan relevansinya untuk demokrasi atau AIDS. [4] [Sunting] Kompetensi dan modal Pengantar dijelaskan dan dibenarkan oleh karakteristik unik dari kompetensi (pengetahuan hanya sering digunakan). Tidak seperti pekerjaan fisik (dan faktor-faktor produksi lainnya), kompetensi adalah: * Menghasilkan diupgrade dan diri dengan menggunakan: sebagai dokter mendapatkan pengalaman lebih, dasar kompetensi mereka akan meningkat, karena akan endowmen mereka modal manusia. Ekonomi kelangkaan digantikan oleh ekonomi diri generasi. * Transportable dan dibagikan: kompetensi, khususnya pengetahuan, dapat dipindahkan dan berbagi. Transfer ini tidak mencegah penggunaannya oleh pemegang asli. Namun, transfer pengetahuan dapat mengurangi nilai-kelangkaan nya bagi pemiliknya aslinya. Contoh Seorang atlet bisa mendapatkan modal manusia melalui pendidikan dan pelatihan, dan kemudian mendapatkan modal melalui pengalaman dalam permainan yang sebenarnya. Seiring waktu, seorang atlet yang telah bermain untuk waktu yang lama akan mendapatkan begitu banyak pengalaman (banyak seperti dokter dalam contoh di atas) bahwa modal manusia yang telah meningkat banyak. Sebagai contoh: point guard keuntungan modal manusia melalui pelatihan dan pembelajaran dasar-dasar permainan pada usia dini. Dia terus melatih pada tingkat perguruan tinggi sampai ia disusun. Pada saat itu, modal manusia yang diakses dan jika ia memiliki cukup ia

akan bisa bermain segera. Melalui bermain dia keuntungan pengalaman di lapangan dan dengan demikian meningkatkan modalnya. Sebuah point guard veteran mungkin memiliki pelatihan kurang dari point guard muda tetapi mungkin memiliki lebih banyak modal manusia secara keseluruhan karena pengalaman dan pengetahuan bersama dengan pemain lain. Kompetensi, kemampuan, keterampilan atau pengetahuan? Seringkali istilah "pengetahuan" yang digunakan. "Kompetensi" adalah lebih luas dan mencakup kemampuan berpikir ("kecerdasan") dan kemampuan lebih lanjut seperti kemampuan motorik dan artistik. "Keterampilan" singkatan sempit kemampuan, domain-spesifik. Istilah yang lebih luas "kompetensi" dan "kemampuan" yang saling dipertukarkan. Pengetahuan ekuitas (= modal pengetahuan - pengetahuan kewajiban) ditambah modal emosional (= modal emosional - kewajiban emosional) sama dengan goodwill atau imaterial / nilai intangible perusahaan. Nilai intangible perusahaan (goodwill) ditambah (bahan) ekuitas sama dengan nilai total perusahaan. [Sunting] analisis Marxis Sebuah iklan untuk kerja dari Sabah dan Sarawak, terlihat di Jalan Petaling, Kuala Lumpur. Dalam beberapa cara, gagasan tentang "modal manusia" adalah serupa dengan konsep Karl Marx tenaga kerja: ia pikir pada pekerja kapitalisme menjual tenaga kerja mereka dalam rangka untuk menerima penghasilan (upah dan gaji). Tapi lama sebelum alat pecincang atau Becker menulis, Marx menunjuk "dua tak setuju fakta frustasi" dengan teori-teori yang menyamakan upah atau gaji dengan bunga atas modal manusia. 1. Pekerja benar-benar harus bekerja, mengerahkan pikirannya dan tubuh, untuk mendapatkan ini "bunga." Marx sangat dibedakan antara kapasitas seseorang untuk bekerja, kekuasaan Tenaga Kerja, dan aktivitas kerja. 2. Seorang pekerja bebas tidak dapat menjual modal manusia di satu pergi, itu adalah jauh dari menjadi aset cair, bahkan lebih likuid daripada saham dan tanah. Dia tidak menjual keahliannya, tetapi kontrak untuk memanfaatkan keterampilan-keterampilan, dengan cara yang sama bahwa industrialis menjual produk, bukan mesin nya. Pengecualian di sini adalah budak, modal manusia yang dapat dijual, meskipun budak tidak mendapatkan penghasilan sendiri. Majikan harus menerima keuntungan dari operasinya, sehingga para pekerja harus memproduksi apa yang Marx (di bawah teori nilai kerja) dianggap sebagai nilai lebih, yaitu, melakukan pekerjaan di luar yang diperlukan untuk mempertahankan tenaga kerja mereka [5]. Meskipun memiliki "modal manusia" memberikan beberapa manfaat pekerja, mereka masih tergantung pada para pemilik kekayaan non-manusia untuk mata pencaharian mereka. Istilah ini muncul dalam artikel Marx dalam artikel New-York Tribune Harian "Pertanyaan Emansipasi," Januari 17 dan 22, 1859, meskipun ada istilah ini digunakan untuk menggambarkan manusia yang bertindak seperti modal ke produsen, bukan di modern pengertian "modal pengetahuan" diberkahi untuk atau diperoleh oleh manusia. [6]

[Sunting] Pentingnya Human Capital Konsep modal Manusia telah relatif lebih penting di sektor-kelebihan negara. Negara-negara ini secara alami dikaruniai dengan lebih tenaga kerja karena tingkat kelahiran yang tinggi di bawah kondisi iklim yang diberikan. Kerja surplus negara-negara ini adalah sumber daya manusia yang tersedia dalam kelimpahan lebih dari sumber daya modal yang nyata. Sumber daya manusia dapat diubah menjadi modal manusia dengan masukan yang efektif nilai-nilai pendidikan, kesehatan dan moral. Transformasi sumber daya manusia mentah menjadi sumber daya manusia sangat produktif dengan input adalah proses pembentukan modal manusia. Masalah kelangkaan modal yang nyata di negara-negara surplus tenaga kerja dapat diatasi dengan mempercepat laju pembentukan modal manusia dengan investasi baik swasta dan publik di sektor pendidikan dan kesehatan ekonomi nasional mereka. Modal keuangan yang nyata merupakan instrumen yang efektif untuk mempromosikan pertumbuhan ekonomi bangsa. Modal manusia berwujud, di sisi lain, merupakan instrumen untuk mempromosikan pembangunan yang komprehensif bangsa karena modal manusia secara langsung terkait dengan pembangunan manusia, dan ketika ada pembangunan manusia, kemajuan kualitatif dan kuantitatif bangsa tidak bisa dihindari [7] . Ini pentingnya modal manusia adalah eksplisit dalam pendekatan berubah PBB [8] terhadap evaluasi komparatif dari perkembangan ekonomi negara yang berbeda dalam ekonomi Dunia. PBB menerbitkan Human Development Report [9] pada pembangunan manusia di berbagai negara dengan tujuan mengevaluasi tingkat pembentukan modal manusia di negara-negara ini. Indikator statistik memperkirakan Pembangunan Manusia di setiap negara Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Ini adalah kombinasi dari "Indeks Harapan Hidup", "Indeks Pendidikan" dan "Indeks Penghasilan". Indeks Harapan Hidup mengungkapkan standar kesehatan penduduk di negara ini; indeks pendidikan mengungkapkan standar pendidikan dan rasio melek huruf penduduk; dan indeks pendapatan mengungkapkan standar hidup penduduk. Jika semua indeks memiliki tren meningkat selama jangka waktu yang panjang, hal ini tercermin dalam tren kenaikan IPM. Human Capital dikembangkan oleh kesehatan, pendidikan dan kualitas Standar hidup. Oleh karena itu, komponen IPM yaitu, Indeks Harapan Hidup, Indeks Pendidikan dan Indeks Pendapatan secara langsung terkait dengan pembentukan Human Capital dalam negara. IPM adalah indikator korelasi positif antara pembentukan modal manusia dan pembangunan ekonomi. Jika meningkatkan IPM, ada tingkat lebih tinggi dari pembentukan modal manusia sebagai respon terhadap standar yang lebih tinggi pendidikan dan kesehatan. Demikian pula, jika meningkatkan IPM, pendapatan per kapita bangsa juga meningkat. Secara implisit, IPM mengungkapkan bahwa tinggi pembentukan modal manusia karena standar yang baik kesehatan dan pendidikan, tinggi adalah pendapatan per kapita bangsa. Proses perkembangan manusia adalah dasar yang kuat dari proses yang berkelanjutan pembangunan ekonomi bangsa untuk jangka waktu yang panjang. Ini signifikansi konsep modal manusia dalam menghasilkan jangka panjang pembangunan ekonomi bangsa tidak bisa diabaikan. Diharapkan bahwa kebijakan Ekonomi Makro dari semua bangsa yang menjadi fokus terhadap peningkatan pembangunan manusia dan pembangunan ekonomi selanjutnya. Modal manusia adalah tulang punggung Pembangunan Manusia dan pembangunan ekonomi di setiap negara. [Sunting] Pertumbuhan Kumulatif Human Capital Human Capital jelas berbeda dari ibukota moneter nyata karena karakteristik yang luar biasa dari Human Capital untuk tumbuh secara kumulatif selama periode waktu yang lama [10]. Pertumbuhan modal moneter yang nyata tidak selalu linier karena guncangan siklus bisnis. Selama

periode kemakmuran, modal moneter tumbuh pada tingkat yang relatif lebih tinggi sementara selama periode resesi dan depresi, ada perlambatan modal moneter. Di sisi lain, Human Capital telah merata meningkatnya laju pertumbuhan selama periode waktu yang lama karena dasar ini Human Capital yang ditetapkan oleh input pendidikan dan kesehatan [11]. Generasi saat ini adalah kualitatif yang dikembangkan oleh input efektif pendidikan dan kesehatan [12]. Generasi masa depan yang lebih diuntungkan oleh penelitian lanjutan di bidang pendidikan dan kesehatan, dilakukan oleh generasi sekarang. Oleh karena itu, input pendidikan dan kesehatan menciptakan dampak yang lebih produktif pada generasi masa depan dan generasi masa depan menjadi lebih unggul dari generasi sekarang. Dengan kata lain, kapasitas produktif dari generasi masa depan yang lebih meningkat daripada generasi sekarang. Oleh karena itu, tingkat pembentukan modal manusia di generasi masa depan terjadi menjadi lebih dari tingkat pembentukan modal manusia di generasi sekarang. Ini adalah pertumbuhan kumulatif pembentukan Human Capital kualitas unggul dihasilkan oleh tenaga kerja pada generasi berikutnya dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Di India, tingkat pembentukan Human Capital telah secara konsisten meningkat setelah kemerdekaan karena perbaikan kualitatif dalam setiap generasi. Pada dekade kedua abad ke-21, generasi ketiga dari populasi India adalah aktif dalam tenaga kerja India. Ini generasi ketiga secara kualitatif sumber daya manusia yang paling unggul di India. Ini telah mengembangkan sektor jasa di India dengan ekspor jasa keuangan, jasa perangkat lunak [13], pelayanan pariwisata dan meningkatkan keseimbangan Terlihat Neraca pembayaran India. Pesatnya pertumbuhan ekonomi India dalam menanggapi perbaikan dalam sektor jasa adalah bukti pertumbuhan kumulatif dari Human Capital di India. [Sunting] Perdebatan tentang konsep Beberapa ekonom tenaga kerja telah mengkritik teori Chicago-sekolah, mengklaim bahwa ia mencoba untuk menjelaskan semua perbedaan dalam upah dan gaji dalam hal modal manusia. Konsep modal manusia dapat tak terhingga elastis, termasuk variabel terukur seperti karakter pribadi atau hubungan dengan orang dalam (melalui keluarga atau persaudaraan). Teori ini memiliki porsi yang signifikan dari belajar di bidang membuktikan bahwa upah bisa lebih tinggi bagi karyawan pada aspek lain dari modal manusia. Beberapa variabel yang telah diidentifikasi dalam literatur beberapa dekade terakhir meliputi, jenis kelamin dan perbedaan kelahiran upah, diskriminasi di tempat kerja, dan status sosial ekonomi. Namun, ekonom Austria Walter Blok berteori bahwa variabel ini bukan penyebab kesenjangan gender upah. Thomas J. DiLorenzo merangkum teori Blok 's juga: "pernikahan mempengaruhi pria dan wanita sangat berbeda dalam hal kemampuan masa depan mereka produktif, dan karena itu merupakan penyebab penting dari kesenjangan upah laki-laki / perempuan" [14] Blok menuduh bahwa ada. tidak ada kesenjangan upah antara laki-laki belum menikah dan wanita, tetapi pria menikah gaji biasanya lebih dari wanita menikah. Upah ini, ia berpendapat, adalah biaya kesempatan menjadi seorang ibu dan membesarkan anak [15]. Prestise credential mungkin sama pentingnya dengan pengetahuan yang diperoleh dalam menentukan nilai dari pendidikan. Hal ini menunjukkan adanya ketidaksempurnaan pasar seperti kelompok non-bersaing dan tenaga kerja-segmentasi pasar. Dalam pasar tenaga kerja tersegmentasi, yang "pengembalian modal manusia" berbeda antara comparably pasar tenaga kerja terampil kelompok atau segmen. Sebuah contoh dari ini adalah diskriminasi terhadap minoritas atau karyawan perempuan.

Setelah Becker, literatur modal manusia sering membedakan antara "spesifik" dan "umum" modal manusia. Modal manusia yang spesifik mengacu pada keterampilan atau pengetahuan yang berguna hanya untuk perusahaan yang sama atau industri, sedangkan modal manusia umum (seperti melek huruf) adalah berguna untuk semua majikan. Ekonom memandang perusahaan modal manusia tertentu sebagai berisiko, karena biro penutupan atau penurunan industri menyebabkan keterampilan yang tidak dapat ditransfer (bukti tentang pentingnya modal kuantitatif perusahaan tertentu yang belum terpecahkan). Modal manusia adalah pusat perdebatan tentang kesejahteraan, pendidikan, perawatan kesehatan, dan pensiun .. [Sunting] Mobilitas antara negara-negara Individu terpelajar sering bermigrasi dari negara-negara miskin ke negara kaya mencari kesempatan. Gerakan ini memiliki efek positif bagi kedua negara: ibukota negara-negara kaya memperoleh masuknya tenaga kerja, dan tenaga kerja negara-negara kaya menerima modal ketika migran mengirimkan uang ke rumah. Hilangnya tenaga kerja di negara tua juga meningkatkan tingkat upah bagi mereka yang tidak berhijrah. Ketika pekerja bermigrasi, perawatan dan pendidikan awal mereka umumnya menguntungkan negara di mana mereka bergerak untuk bekerja. Dan, ketika mereka memiliki masalah kesehatan atau pensiun, perawatan dan pensiun pensiun biasanya akan dibayar di negara baru. Negara Afrika telah dipanggil argumen ini sehubungan dengan perbudakan, lain dijajah orang telah dipanggil dengan hormat ke "brain drain" atau "penerbangan modal manusia" yang terjadi ketika individu yang paling berbakat (yang dengan modal paling individu) berangkat untuk pendidikan atau kesempatan kepada negara penjajah (historis, Inggris dan Perancis dan Amerika Serikat). Bahkan di Kanada dan negara-negara maju lainnya, hilangnya modal manusia dianggap sebagai masalah yang hanya dapat diimbangi dengan lebih mengacu pada modal manusia negara-negara miskin melalui imigrasi. Dampak ekonomi dari imigrasi ke Kanada umumnya dianggap positif. Selama abad ke-20 ke-19 dan awal, modal manusia di Amerika Serikat menjadi jauh lebih berharga sebagai kebutuhan untuk tenaga kerja terampil datang dengan kemajuan teknologi yang baru ditemukan. Abad ke-20 ini sering dipuja sebagai "abad modal manusia" oleh para sarjana seperti Claudia Goldin. Selama periode ini gerakan massa baru terhadap pendidikan menengah membuka jalan bagi transisi ke pendidikan massa yang lebih tinggi. Teknik baru dan proses yang diperlukan pendidikan yang lebih jauh dari norma sekolah dasar, yang dengan demikian menyebabkan terciptanya pendidikan yang lebih formal di seluruh bangsa. Kemajuan ini menghasilkan kebutuhan untuk lebih banyak tenaga kerja terampil, yang menyebabkan upah pekerjaan yang membutuhkan pendidikan lebih jauh menyimpang dari upah orang yang dibutuhkan kurang. Perbedaan ini menciptakan insentif bagi individu untuk menunda memasuki pasar tenaga kerja untuk mendapatkan pendidikan yang lebih. "Sekolah tinggi Gerakan" telah mengubah sistem pendidikan bagi kaum muda di Amerika. Dengan keterlibatan negara kecil, gerakan sekolah tinggi mulai di tingkat akar rumput, khususnya masyarakat dengan populasi yang paling homogen. Sebagai tahun di sekolah tinggi menambahkan lebih dari sepuluh persen pendapatan individu, pasca-pendaftaran sekolah dasar dan tingkat kelulusan meningkat secara signifikan selama abad 20. Sistem pendidikan AS ditandai untuk sebagian besar abad ke-20 oleh

pendidikan massa didanai publik sekunder yang terbuka dan memaafkan [rujukan?], Akademis namun praktis [rujukan?], Sekuler [rujukan?], Jenis kelamin netral, dan didanai oleh kecil , fiskal independen kabupaten. Ini wawasan awal menjadi kebutuhan untuk pendidikan diperbolehkan untuk melompat signifikan di AS produktivitas dan kemakmuran ekonomi, bila dibandingkan dengan pemimpin dunia lainnya pada saat itu. Hal ini disarankan oleh beberapa ekonom, bahwa ada korelasi positif antara tingkat pendaftaran sekolah tinggi dan PDB per kapita. Negara-negara berkembang belum membuat seperangkat institusi mendukung kesetaraan dan peran pendidikan untuk massa dan karena itu telah mampu berinvestasi di saham modal manusia yang diperlukan untuk pertumbuhan teknologi. Hak-hak dan kebebasan individu untuk perjalanan dan kesempatan, meskipun beberapa pengecualian sejarah seperti blok Soviet dan "Tirai Besi", tampaknya secara konsisten melampaui negara-negara di mana mereka dididik. Kita juga harus ingat bahwa kemampuan untuk memiliki mobilitas berkaitan dengan mana orang ingin pindah dan bekerja adalah bagian dari modal manusia mereka. Mampu untuk berpindah dari satu area ke area berikutnya adalah kemampuan dan manfaat dari memiliki modal manusia. Untuk membatasi orang dari melakukannya akan inheren rendah modal manusia mereka. Perdebatan ini menyerupai, dalam bentuk, bahwa tentang modal alam. [Sunting] Klasifikasi Modal manusia merupakan aset tidak berwujud karena tidak dimiliki oleh perusahaan yang mempekerjakan itu. Pada dasarnya, modal manusia tiba di 9:00 dan berangkat jam 17:00. Modal manusia bila dilihat dari perspektif waktu memakan waktu dalam salah satu kegiatan utama: 1. Pengetahuan (kegiatan yang melibatkan salah satu karyawan), 2. Kolaborasi (kegiatan yang melibatkan lebih dari 1 karyawan), 3. Proses (kegiatan khusus difokuskan pada pengetahuan dan kegiatan kolaboratif yang dihasilkan oleh struktur organisasi - seperti dampak silo, politik internal, dll) dan 4. Ketidakhadiran (cuti tahunan, cuti sakit, liburan, dll). [Sunting] Risiko Ketika modal manusia dinilai oleh aktivitas berbasis biaya melalui alokasi waktu menjadi mungkin untuk menilai risiko modal manusia. Modal risiko manusia terjadi ketika organisasi beroperasi di bawah tingkat dicapai keunggulan operasional. Sebagai contoh, jika sebuah perusahaan cukup dapat mengurangi kesalahan dan pengerjaan ulang (komponen Proses modal manusia) dari 10.000 jam per tahun untuk 2.000 jam dengan teknologi dicapai, perbedaan 8.000 jam adalah risiko modal manusia. Ketika biaya upah yang diterapkan pada perbedaan (yang 8.000 jam) menjadi mungkin untuk nilai risiko finansial modal manusia dalam perspektif organisasi. Manusia modal risiko terakumulasi dalam empat kategori utama: 1. Adanya kegiatan (kegiatan yang berhubungan dengan karyawan tidak muncul untuk bekerja seperti cuti sakit, aksi industri, dll). Tidak dapat dihindari ini disebut sebagai Wajib Absen. Semua kategori lain dari tidak adanya yang disebut "Absennya Controllable";

2. Kegiatan kolaboratif terkait dengan pengeluaran waktu antara lebih dari satu karyawan dalam konteks organisasi. Contoh meliputi: pertemuan, telepon, instruktur pelatihan yang dipimpin, dll; 3. Kegiatan pengetahuan yang terkait dengan pengeluaran waktu dengan satu orang dan termasuk menemukan / mengambil informasi, penelitian, email, messaging, blogging, analisis informasi, dll, dan 4. Kegiatan proses adalah pengetahuan dan kolaboratif kegiatan yang hasil karena konteks organisasi seperti kesalahan / pengerjaan ulang, petunjuk transformasi data, stres, politik, dll

Home My Profile Skycode Personal

Pengembangan Sumber Daya ManusiaFeeds: Posts Comments

PEEMECAHAN MERETAS KESENJANGAN (3) DAN (4)July 20, 2011 by suaraatr2025

3. BELAJAR DARI PENGALAMAN GERAKAN MAHASISWA DAN PEMIKIR Gejolak ketidak puasan, yang menginginkan perubahan dengan cepat, yang tidak mungkin kita capai, siapapun dia. Tapi gelombang perubahan tidak dapat dibendung yang selalu dimotori oleh MAHASISWA yang telah menunjukkan hasil perubahan berbentuk tumbangnya kekuasaan orde lama yang melahirkan orde baru, sekali lagi tidak ada perubahan mindset untuk keluar dari ketidak mampuan meninggalkan kepentingan individu dan kelompok yang memliki dampak yang luas lagi sampai tahun 1995. Begitulah kenyataan yang kita hadapi harus gelombang ketidak kepercayaan bergulir dengan kekuatan mahasiswa sebagai penggerak ketidak puasan disana sini dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kekuatan MAHASISWA harus ditafsirkan dari haruf menjadi kata kedalam untaian kalimat, artinya kata MAHASISWA terdiri dari (M)anusia ; (A)mbisi ; (H)ati) ; (A)kal ; (S)ehat ; (I)ntelektual ; (S)asaran ; (W)awasan ; (A)ngkatan. Jadi MAHASISWA adalah (M)anusia yang memiliki (A)mbisi yang digerakkan oleh cahaya mata (H)ati dengan keputusan (A)kal yang (S)ehat dengan landasan (I)nteletual sebagai (S)arana untuk menumbuh kembangkan (W)awasan ke dalam (A)ngkatan penggerak dalam pembaharuan dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, MAHASISWA sebagai angkatan penggerak dalam revolusi berpikir, maka apakah tidak ada arti pengalaman untuk mengajarkan perubahan tingkat kesadaran kepemimpinan dari

masa lalu ke masa kini menuju ke masa depan dimana letak kesenjangan itu terjadi. Kesenjangan itu terus bergulir seperti hidup ini dikejar bayangan ketidak pastian dari seluruh aspek kehidupan. Kalau begitu keadaannya, apakah kita menyadari pentingnya meletakkan landasan dalam revolusi berpikir, agar kita mampu menyesuaikan dengan tuntutan perubahan itu sendiri. Dengan kondisi itu, dari mana kita memulai-nya ? Apakah perlu kita mengungkit semua penyakit yang timbul karena sikap dan perilaku individu dan kelompok yang telah menyebabkan ketidak mampuan kita untuk tumbuh dan berkembang. Mampukah kita bajar dari pengalaman masa lampau dan masa kini untuk menangkap perubahan berpikir menuju ke masa depan. Masih perlu kita pertanyakan kepada diri kita masing-masing, tapi ada bukti bahwa kekuasaan dapat mempengaruhi kesadaran seseorang bisa merubah mempengaruhi perubahan dari kesadaran tauhid (paling tinggi), berubah mejadi kesadaran spiritual (tingkat ketiga), berubah menjadi kesadaran rasional / ilimiah (tingkat kedua) dan akhirnya terbentuk menjadi kesadaran inderawi (tingkat pertama / terendah). Begitulah perjalanan hidup ini, ternyata yang diutamakan kepentingan pribadi dan kelompok sangat sulit menangkap perubahan apa yang sedang bergerak, sehingga ucapan tidak sama dengan perbuatan yang menggambarkan jiwa dengan topeng kepalsuan.

4. MENYAMAKAN POLA PIKIR Bertitik tolak dari pemikiran diatas, maka diperlukan satu pendekatan agar terwujud kebersamaan dalam memandang masa depan agar dapat memberikan daya dorong bagi semua pihak yang dapat memberikan sumbangan pemikiran agar wujud berbangsa dan bernegara dapat kita realisasikan dari kehidupan masa kini ke masa depan melalui perubahan berpikir secara radikal dalam memecahkan masalah-masalah yang kita hadapi. Pendekatan yang dipergunakan adalah melaksanakan demokrasi dan manusia dalam pemahaman secara utuh. Sejalan dengan pemikiran tersebut, maka apa yang telah kita ungkapkan diatas agar kita dapat memahami untuk melaksanakan pendekatan tersebut dengan tujuan :

Memberikan peluang untuk kita bisa bertukar pikiran tentang pe menyatukan kesamaan visi dalam bersikap dan misi dalam berperilaku. Menyatukan kesamaan pandangan dalam merumuskan masalah yang kita hadapi terhadap pelaksanaan demokrasi dan manusia secara utuh. Mengembangkan kebersamaan dalam komitmen untuk mewujudkan keseimbangan kepentingan berbangsa dan bernegara. Merumuskan pemikiran pemecahan untuk tumbuh dan berkembang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kalaulah kita sependapat dengan pemikiran diatas, maka harapan dalam persfektif untuk memecahkan kesenjangan model berpikir masa lampau menuju ke model berpikir ke masa baru,

kita harus pertama-tama meyakinkan diri sendiri bahwa kita bisa berubah sesuai dengan tuntutan perubahan yang kita kehendaki bersama. Tanpa niat dengan keinginan yang ikhlas tidak mungkin kita dapat menemukan titik pandang yang sama untuk mewujudkan cita-cita yang termuat dalam mukadimah UUD 1945. Bertitik tolak dari hal-hal yang kita kemukakan diatas, marilah kita secara terbuka untuk mengungkapkan jalan pikiran kita sehingga kita mampu berpikir untuk menyatukan pandangan yang sama bagaimana sebaiknya sikap dan perilaku individu dan kelompok mencari bentuk dalam memanfaatkan demokrasi dan manusia seutuhnya. Dari jejak perjalanan maka perjuangan mahasiswa dari orde lama ke orde baru ke orde reformasi terkesan suatu perjuangan yang berlatar belakang situasi yang menimbulkan masalah ketidak puasan dari para pelaku peran dalam lembaga eksekutif, legislatif dan judikatif serta pelaku ekonomi tidak mampu merubah pola pikir yang berlandaskan kesadaran inderawi yang mendewakan materialisme dalam kehiupan. Keadaan tersebut mendorong Negara dan bangsa Indonesia tidak bisa keluar dari daur hidup yang terpuruk yang disebut dengan masalah yang komplek dan penyakit yang kita sebut dengan KEMISKINAN dan situasi tersebut yang dikehendaki pihak ketiga agar Negara dan Bangsa Indonsia dengan berpenduk hamper 90 % memeluk Agama Islam dianggap menjadi pendobrak dunia masa depan. Kenyataan tersebut terus berlangsung dimana angkatan muda dan mahasiswa diadu domba dengan angkatan tua dan tak jarang pula tokoh Islam juga terlibat. Untuk menambah wawasan Bacalah buku Islam Demokrasi Atas Bawah, polomik strategi perjuangan ummat model Gus Dur dan Amien Rais ; Fakta Diskrimansi Rezim Soehato terhadap Ummat Islam. Begitu juga buku-buku dermokrasi banyak ditulis Seperti Soekarno, Hatta, Gus Dur Amin Rais, Mochtar Lubis, Soedjatmoko, dan sebagainya. Tak jarang pula memberi arti tersendiri bila membaca seperti Dibawah bendera oposisi, pembelaan alhilal dalam perkara mahasiswa Indonesia di pengadilan Negeri kelas 1 Bandung ; Hati Nurani Seorang Demonstran, Hariman Siregar ; Jalur Baru Sesudah runtuhnya ekonomi terpimpin ; Opini Masyarakat, Reformasi Kehidupan Negara Menggugat masa lalu, menggagas masa depan ekonomi Indonesia Dialog Indonesia kini dan esok Menuju masyarakat baru Indonesia, antisipasi terhadap tantangan abad XXI Membangun Indonesia Baru Kapan Badai Akan Berlalu dan banyak lagi buku-buku seperti untuk membangun inspirasi. Lihat pula pada kenyataan setelah Mantan Presiden Soeharto wafat, fihak ketiga sangat mudah sekali mengadu dombakan fihak-pihak yang pro dan kontra sehingga kita terjerat kepada bukan mencari pemecahan masalah tapi menimbulkan masalah baru, biarlah situasi berjalan sebagai mana mestinya, tapi dibalik itu marilah menyusun dan mencurahkan pikiran serta energi kita untuk melihat kemasa depan kedalam satu konsep pemahaman demokrasi seabagai sistem yang hendak ditegakkan, aplikasi konsep dari sub-sistemnya dan menuangkan kedalam GBHN yang akan menjadi bagi calon pemimpin nasional yang terpilih.

Garis Garis Besar Haluan Negara (GBHN) haruslah di pandang sebagai suatu konsep Manajemen Persfektif artinya ada sesuatu yang ingin kita ungkapkan mengenai apa yang harus dilakukan dan mengapa, bagaimana melaksanakan, dan keinginan mau melakukan. Rangkaian konsep tersebut merupakan kebutuhan bagi setiap pemimpin masa depan untuk menggerakkan kemampuan berpikir dalam kerangka persfektif dari hasil analisis strategis yang yang dituangkan dalam apa yang kita sebut GBHN. Jadi GBHN dalam pandangan manajemen persfektif adalah haluan negara sebagai pedoman untuk menyusun rencana pembangunan lima tahunan berdasarkan persfektif 25 tahun kedepan dengan mendapatkan persetujuan setiap lima tahun dari MPRRI melalui DPRRI Dengan merumuskan GBHN dalam persfektif 25 tahun akan terjadi rencana yang berkesinambungan dengan maksud dan tujuan sebagai brikut :

Adanya pedoman yang dapat dipergunakan untuk menyusun rencana lima tahun kedalam GBHN. Terwujudnya kesinambungan dalam pembangunan berdasarkan arah yang telah ditetapkan. Dalam kehidupan demokrasi bahwa kepemimpinan nasional hanya berlaku dalam dua kali jabatan, sehingga harus tetap dipertahankan dalam pencapaian tujuan pembangunan. Setiap masa jabatan dalam kemimpinan nasional yang terpilih, ditetapkan ukuran-ukuran keberhasilan berdasarkan GBHN

Posted in Uncategorized | Leave a Comment

PEMECAHAN MERETAS KESENJANGAN (2)July 20, 2011 by suaraatr2025

2. KONSEPSI DEMOKRASI, POLITIK DAN KEKUASAAN DALAM MELAKSANAKAN REFORMASI Pertama, demokrasi dengan arah persfektif: Apa yang terjadi setelah orde reformasi berjalan sampai saat ini dengan begitu maraknya kebebasan berpikir dan berpendapat, tapi justru inilah yang dikehendaki oleh pihak ketiga agar bangsa Indonesia tidak dapat menemukan jati dirinya sendiri karena apa yang dipikirkannya selalu bertolak belakang dengan harapan dari perubahan pola pikir karena mereka yang berperan dalam kekuasaan telah dibutakan mata hatinya dimana hati yang mati karena tidak menambah ilmu, pengetahuan dan niat di jalan yang lurus, sebaliknya hati yang hidup yaitu hati yang ada iman. Oleh karena itu, membangun kebersamaan dalam melaksanakan pemberdayaan demokrasi diperlukan suatu pendekatan sistem yang mengungkapkan kebutuhan dari sisi prosesnya, tapi tidak berarti kita keluar dari sisi kontennya, sehingga dalam mensiati jiwa manusia sebagai sistem, maka

bagaimana kita mampu untuk menintergrasikan manusia kedalam sub-sistem yang ada dan memiliki sifat ketergantungannya yang sangat dipengaruhi oleh kebiasaan pemikiran jiwa subjektif dan jiwa objektif, itulah pentingnya melihat dari proses. Jadi manusia yang memiliki kemampuan berpikir akan berusaha melihat proses mengintergrasikan sub-sistem dari manusia itu sendiri yang dirumuskan bersama berdasarkan kebutuhan. Untuk memberikan daya dorong kedalam pola pikir yang radikal dalam kebersamaan untuk membahas manusia dalam sub-sistem maka dibawah ini kita mencoba mengungkapkan dari huruf menjadi kata bermakna sebagai unsur yang harus mendapatkan perhatian kedalam pola pikir yang mempengaruhi proses pikiran untuk menyatukan titik temu bila terjadi silang pendapat. Untuk melaksanakan pemberdayaan Demokrasi bila kita uraikan dari unsur kata yang bermakna sbb. Kata D menjadi (D)ewasa Kata E menjadi (E)mosional Kata M menjadi (M)emahami Kata O menjadi (O)rang Kata K menjadi (K)erjasama Kata R menjadi (R)asional Kata A menjadi (A)kal Kata S menjadi (S)sistem Kata I menjadi (I)ntergritas (D)ewasa dalam Demokrasi adalah pengaruh kekuatan jiwa dalam proses berpikir yang tidak ditentukan oleh umur manusia tapi lebih banyak dipengaruhi oleh kebiasaan dari manusia itu sendiri. Jadi muda dan atau tua dalam bersikap dan berperilaku sangat dipengaruhi oleh kedewaasan berpikir yang bersangkutan sehingga terlihat dari ucapannya dengan perbuatan. Dengan demikian Dewasa dalam berpikir juga ditentukan oleh peran lingkungan anda berada tapi tergatung pula prinsip hidup yang anda jalankan. (E)mosional dalam Demokrasi adalah pengaruh kekuatan jiwa dalam proses mengendalikan emosi yang mempengaruhi sikap dan perilaku sangat tergatung kepada kemampuan mereka dalam meningkatkan arti kecerdasan emosional pada potensi manusia sebagai penuntun dalam bersikap dan berperilaku.

(M)emahami dalam Demokrasi adalah pengaruh kekuatan jiwa dalam proses kemampuan peran anda dalam mempengaruhi orang lain dalam bersikap dan berperilaku (O)rang dalam Demokrasi adalah manusia yang secara terus menerus berkemauan untuk memahami arti keberadaannya dalam suatu komunitas dalam memahami siapa, darimana dan kemana. (K)erjasama dalam Demokrasi adalah pangkal usaha bersama untuk membangkitkan impian menjadi suatu kenyataan, tanpa itu tidak akan tumbuh kemajuan dalam membangun kebiasaan dalam bersikap dan berperilaku. (R)asional dalam Demokrasi adalah dorongan dari pengalaman yang dapat mengungkapkan kebutuhan yang didasarkan pada pikiran yang logis yang ditunjukkan hasil analisis yang seksama dan cermat dari pikiran yang sehat, tertib, dan teratur. (A)kal dalam Demokrasi adalah pengaruh kekuatan jiwa dalam memanfaatkan alat pikiran untuk menggerakkan proses dalam membuat keputusan, bagaimana seharusnya dijalankan dengan proses kesadran dan kecerdasan manusia itu sendiri. (S)istem dalam Demokrasi adalah pedalaman suatu paham yang menjurus kepada penataan kehidupan dalam berbangsa dan bernegara seharusnya kekuatan pikiran yang diaktualisasikan atas dasar sistem yang yang memiliki unsur sebagai sub-sistem yang saling keterkaitan satu sama lain sehingga membentuk suatu totalitas. (I)ntergritas dalam Demokrasi adalah membangun kebersamaan dalam sikap dan perilaku kedalam komitmen yang datang dari diri sendiri bukan sesuatu yang dipaksakan menjadi kebiasaan dalam membentuk keutuhan, keterpaduan dan kebulatan. Dengan pemahaman unsur kata demokrasi menjadi untaian kalimat yang bermakna diatas diharapkan menjadi daya dorong kedalam apa dan bagaimana proses berpikir itu terbangun agar wujud pemberdayaan demokrasi menjadi suatu kenyataan sebagai alat penyatu kepentingan ummat manusia bukan tujuan merebut kekuasaan. Mampukah kita menarik dari kesusahan dapat pengalaman, dari kesalahan dapat kesempurnaan dari kekhilafan dapat kesadaran. Hal ini diharapkan memperkuat daya kemauan, apabila semuanya ini dilakukan dengan segala keinsyafan, maka rasa tanggung jawab akan tertanam didalam dadanya. Dari pengalaman telah menunjukkan bahwa dalam masa era reformasi tidak ada perubahan yang terjadi untuk meletakkan landasan yang kuat untuk membangun demokrasi seperti apa yang diharapkan. Bahkan konflik terus berkembang sebagai suatu situasi yang diciptakan untuk mempertahankan status quo disatu sisi dan disisi lain KKN terus berkembang ke seluruh pelosok kehidupan berbangsa dan bernegara setelah otonomi daerah dijalankan.

Pasca pemilu 2004, dikatakan proses demokratisasi berjalan pada jalur dan arah yang benar kedalam transformasi kehidupan sosial politik. Inilah satu kesalahan besar yang ditunjukkan dalam kebebasan berkehendak yang tidak bertanggung jawab yang berdampak masyarakat dan Negara makin menuju daur hidup kematian demokrasi dengan tingkat kemiskinan yang terus menerus bertambah. Apakah masih ada peluang bangsa dan Negara ini untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan cita-cita yang tertuang dalam UUD 1945 yang telah empat kali berubah dengan isu perubahan kelima yang digagas oleh Presiden RI. Bagaimana bila sebuah kesempatan datang untuk melaksanakan perubahan setelah pemilu 2009 muncul ditangan orang yang berperan tidak memiliki kompetensi yang sejalan dengan tuntutan dari perubahan abad ini dalam menuju masyarakat pengetahuan sedangkan tantangan begitu besar bagi bangsa dan negara Indonesia dalam abad jahiliyah modern, dimana manusia Indonesia sangat mengagungkan atas kesadaran inderawi masa kini. Itulah suatu bukti dari pengalaman yang mengajarkan kepada kita masa lampau bahwa demokrasi dijadikan tujuan hanya untuk merebut kekuasaan demi kepentingan individu dan kelompok, sehingga tidak ada usaha konstribusi dalam usaha melaksanakan pemberdayaan demokrasi sebagai alat untuk menyatukan dalam usaha agar bersikap dan berperilaku yang dituntun oleh kebersamaan dan keseimbangan kepentingan. Dengan situasi tersebut diatas, marilah kita bersama-sama untuk memberikan konstribusi pemikiran agar perubahan dalam pola pikir secara radikal dapat dilaksanakan sebagai suatu kebutuhan yang mendesak bila kita ingin membangun kerjasama membuat impian menjadi satu kenyataan melalui pelaksanaan demokrasi kedalam satu sistem yang mendorong manusia kedalam sub-sistem sesuai dengan kebutuhan dalam pembangunan yang terintergrasi dan konsisten menjalankan konsep dari paham pandangan yang disetujui bersama. Kedua, politik dengan arah persfektif: Politik adalah seperangkat ilmu pengetahuan mengenai ketatanegaraan seperti sistem pemerintahan, dasar-dasar pemerintahan. Oleh karena itu setiap politikus adalah ahli politik dan ahli kenegaraan sehingga ia harus mampu menunjukkan keteladanannya dalam cara bertindak. Dalam praktek politik tidak dapat dipisahkan dengan kekuasaan sebagai alat untuk mencapai tujuan dalam memecahkan semua persoalan, tapi pengalaman juga mnunjukkan bahwa mnjadi politikus lebih menekankan untuk kepentingan kelompok dan individu, dengan kebiasaankebiasaan tersebut maka tumbuh dan berkembang kebiasaan menjadi manusia yang kiblat kepada manusia bukan kepada prestasi yang dikehendaki oleh Allah Swt. Sejalan dengan itu banyak politikus lupa sebagai manusia, siapa, darimana dan kemana. Itulah satu kenyataan yang kita hadapi dalam kehidupan abad jahiliyah modern. Mampukah anda keluar dari peran sebagai politikus yang tidak mampu merubah dari pengaruh kesadaran Inderawi untuk benar-benar bisa menjalankan makna unsur demokrasi sebagai alat pemersatu dalam bersikap dan berperilaku.

Dengan merenung apa yang tersuradiutarakan diatas, maka pahamilah dan belajarlah dari ahklak dan beberapa sifat nabi Muhammad s.aw. untuk mengungkit kesadaran agar setiap peran sebagai politikus dapat memahmi, menghayati dan mengamalkan makna yang terungkap diatas sebagai sesuatu kekuatan daya kemauan untuk berubah. Oleh karena itu, diperlukan suatu pendekatan untuk membangun jiwa tanpa topeng kepalsuan dengan meretas jalan melalui pemahaman atas unsur kata dalam politik itu sendiri sebagai berikut : Kata P menjadi (P)embela dalam Politik Kata O menjadi (O)rang dalam Politik Kata L menjadi (L)indungan dalam Politik Kata I menjadi (I)ngkar dalam Politik Kata T menjadi (T)anggung jawab dalam Politik Kata I menjadi (I)ngat dalam Pilitik Kata K menjadi (K)arunia dalam Politik (P)embela dalam politik adalah peran politikus untuk memperjuangkan keharusan adil dan tidak memihak dalam menetapkan hukum yang harus dijalankan. Jadi harus mampu untuk mengambil keseimbangan dalam kepentingan. (O)rang dalam politik adalah manusia yang secara ikhlas melakukan aktivitas politik bukan sekedar bayangan mimpi yang tidak jelas. (L)indungan dalam politik adalah tugas dan tanggung jawab yang harus diberikan kepada siapa saja yang membutuhkannya. (I)ngkar dalam politik adalah ucapan dan perbuatan tidak sejalan dalam bersikap dan berperilaku. (T)anggung jab dalam politik adalah ucapan dan perbuatan sejalan dengan tanggung jawab yang dibebankan dan oleh karena itu melaksanakan kekuasaan dengan bijaksana. (I)ngat dalam politik adalah suatu peringatan kepada kematian untuk memberikan daya dorong untuk memperbaiki sikap dan perilaku dan cinta pada orang miskin. (K)arunia dalam politik adalah apapun yang terjadi sebagai seorang politikus menyadari sepenuhnya makna manusia sebagai siapa, darimana dan kemana untuk meletakkan kekuatan karunia dalam prjalanan hidup.

Dengan pemahaman unsur kata politik menjadi untaian kalimat yang bermakna diatas diharapkan menjadi daya dorong kedalam apa dan bagaimana proses berpikir itu terbangun agar wujud pemberdayaan politik menjadi suatu kenyataan sebagai alat penyatu kepentingan ummat manusia bukan tujuan merebut kekuasaan belaka. Walaupun kita sadari saat ini, telah tumbuh partai yang begitu banyak, dimana demokrasi telah disalah gunakan kedalam demokrasi politik, telah menyebabkan manusia yang memilki peran hanya sekedar untuk mengejar kepentingan individu dan kelompok, mereka tidak sadar diadu dombakan oleh kepentingan pihak ketiga dalam abad jahiliyah modern, sehingga kita tidak dapat membayangkan apa yang terjadi dalam kabinet presidensial yang tidak produktip. Saat ini mereka, hanya memikirkan kepentingan pribadi untuk merebut jabatan Presiden dan wakil presiden sebagai politikus, tapi tidak pernah membayangkan dengan kekuatan pikirannya untuk memerangi zaman jahiliyah modern, bahkan mereka terseret untuk mempertahankan pola pikir kapitalieme. Ketiga, kekuasaan dengan arah persfektif Kekuasaan dalam berpolitik merupakan satu kesatuan yang akan terkait dalam tanggung jawab, wewenang, standar yang terbaik, pelatihan dan pengembangan, pengetahuan dan informasi, umpan balik, pengakuan, kepercayaan, kegagalan, harapan. Hal-hal yang disebutkan diatas merupakan prinsip-prinsip dasar yang harus menjadikan kekuatan pikiran dalam bersikap dan berperilaku. Untuk mendorong prinsip-prinsip tersebut dijalankan sesuai dengan arah persfektif, maka diperlukan suatu pendekatan melalui pemahaman unsur huruf dalam kata kekuasaan itu sendiri. Oleh karena itu, diperlukan suatu pendekatan untuk membangun jiwa tanpa topeng kepalsuan dengan meretas jalan melalui pemahaman atas unsur kata dalam kekuasaan itu sendiri sebagai berikut : Kata K menjadi (K)elola dalam Kekuasaan Kata E menjadi (E)ksper dalam Kekuasaan Kata K menjadi (K)olaborasi dalam Kekuasaan Kata U menjadi (U)mat dalam Kekuasaan Kata A menjadi (A)manah dalam Kekuasaan Kata S menjadi (S)ombong dalam Kekuasaan Kata A menjadi (A)ngkuh dalam Kekuasaan Kata A menjadi (A)zab dalam Kekuasaan

Kata N menjadi (N)iat dalam Kekuasaan (K)elola dalam Kekuasaan adalah pemain peran harus mampu mengelola kekuasaan yang terkait tanggung jawab untuk setiap perbuatan yang dibuatnya. (E)kper dalam Kekuasaan adalah pemain peran dengan keahlian untuk menjalankan kekuasaan melalui pelimpahan wewenang yang sejalan dalam struktur. (K)olaborasi dalam Kekuasaan adalah pemain peran melaksanakan kerja sama yang sejalan dengan standar yang terbaik (U)mat dalam Kekuasaan adalah pemain peran mendorong setiap orang untuk menikuti pelatihan dan pengembangan. (A)manah dalam Kekuasaan adalah pemain peran disatu sisi mampu memanfaatkan pengetahuan dan informasi dan disisi lain memilki kemampuan untuk memberikan umpan balik dari pelaksanaan keputusan. (S)ombong dalam Kekuasaan adalah pemain peran dalam bersikap dan berperilaku sejalan dengan pengakuan dirinya. (A)ngkuh dalam Kekuasaan adalah pemain peran dalam bersikap dan berperilaku sejalan dengan keercayaan yang diberikan. (A)zab dalam Kekuasaan adalah pemain peran dalam bersikap dan berperilaku akan selalu menerima kegagalan sebagai sesuatu pelajaran. (N)iat dalam Kekuasaan adalah pemain peran dalam bersikap dan berperilaku haruslah sejalan dengan kebiasaan yang dilandasai oleh niat yang benar. Dengan pemahaman unsur kata kekuasaan menjadi untaian kalimat yang bermakna diatas diharapkan menjadi daya dorong kedalam apa dan bagaimana proses berpikir itu terbangun agar wujud pemberdayaan keuasaan menjadi suatu kenyataan sebagai alat penyatu kepentingan ummat manusia bukan tujuan menjalankan kekuasaan yang tidak sejalan dengan arah yang ditetapkan. Oleh karena itu, pemimpin masa depan haruslah mampu menjalankan kekuasaan secara bijaksana yang akan terkait dalam tanggung jawab, wewenang, standar yang terbaik, pelatihan dan pengembangan, pengetahuan dan informasi, umpan balik, pengakuan, kepercayaan, kegagalan, harapan sebagai suatu ukuran keberhasilan. Dengan memperhatikan uraian diatas, maka bila unsur kata tersebut disusun menjadi untaian kalimat yang bermakna dalam demokrasi, politik dan kekuasaan akan menjadikan satu sarana dalam menggugah pola pikir sebagai suatu kekuatan untuk memikirkan kemungkinan perubahan sikap dan perilaku, dengan demikian pemahaman kita dengan membangun jiwa tanpa topeng kepaluan diharapkan menjadi suatu kebiasaan baru dalam menghayati, memahami dan mengamalkan makna DEMOKRASI, POLITIK dan KEKUASAAN sebagai berikut

DEMOKRASI adalah suatu paham yang dapat menggugah jiwa menjadi manusia (D)ewasa dalam berpikir agar dapat menuntun kecerdasan (E)mosional untuk mendorong potensi (M)emahami suatu komunitas (O)rang dalam organisasi yang membutuhkan (K)erjasama membuat impian menjadi kenyataan berdasarkan analisa fakta secara (R)asional dan diputuskan dengan (A)kal yang sehat kedalam suatu (S)istem yang mendukung komitmen kedalam (I)ntergritas. POLITIK adalah suatu paham yang dapat menggugah jiwa menjadi manusia (P)embela dalam mewujudkan (O)rang dalam berdemokrasi dengan melaksanakan (L)indungan dalam arah berorganisasi agar iklim (I)ngkar, (T)anggung jawab, (I)ngat menjadi suatu kewajiban untuk disyukuri sebagai (K)arunia dalam usaha meretas jalan menjadi jati diri sendiri. KEKUASAAN adalah suatu paham yang dapat menggugah jiwa manusia dalam usaha (K)elola sebagai (E)ksper untuk melakukan (K)olabrasi dalam rangka pemberdayaan peran (U)mmat untuk menjalankan (A)manah dengan sikap dan perilaku tidak (S)ombong dan (A)ngkuh serta (A)zab yang datang bila keinginan yang tidak berdasarkan (N)iat untuk melaksanakan tanggung jawab, wewenang, standar yang terbaik, pelatihan dan pengembangan, pengetahuan dan informasi, umpan balik, pengakuan, kepercayaan, kegagalan, harapan sebagai suatu ukuran keberhasilan Bertolak dari pemahaman diatas, maka timbul pertanyaan mengapa lahirnya begitu banyak PARTAI di Indonesia karena mereka pemimpin masa kini hanya berpikir sesaat untuk kepentingan individu dan kelompok dengan mengabaikan kepentingan bangsa dan negara yang saat ini berada dalam posisi zaman jahiliyah modern. Bila mereka memiliki prinsip kepemimpnan masa depan, mungkin partai dalam arah posisi masa depan cukup tiga sampai lima partai saja sehingga demokrasi, politik dan kekuasaan lebih sederhana untuk diaplikasikan kedalam pola pikir kebersamaan untuk mencari penyelesaian masalah.

Posted in Uncategorized | Leave a Comment

PEMECAHAN ATAS MERETAS KESENJANGANJuly 20, 2011 by suaraatr2025

REFORMASI MENUNTASKAN KEMISKINANDALAM PERSFEKTIF 2025 DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR 1. PENDAHULUAN 2. KONSEPSI DEMOKRASI, POLITIK DAN KEKUASAAN DALAM MELAKSANAKAN REFORMASI 3. BELAJAR DARI PENGALAMAN GERAKAN MAHASISWA DAN PEMIKIR 4. MENYAMAKAN POLA PIKIR 5. SUATU PEMIKIRAN GBHN DALAM PERSFEKTIF 2025 6. GBHN DAN KONSEPSI BUDAYA 7. APLIKASI BUDAYA BERBANGSA DAN BERNEGARA 8. STRUKTUR ORGANISASI KABINET 9. PRINSIP MODEL PENYUSUNAN APBN TAHUNAN 10. P E N U T U P

KATA PENGANTAR Kegelisahan yang dituangkan Meretas Kesenjangan Dalam Kehidupan Berbangsa Dan Bernegara oleh M. Fauzan Rachman selaku Ketua Umum G.M.B.I (Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia) memperkuat daya kemauan dan kebiasaan sebagai daya dorong untuk mengingat kembali agar pihak-pihak yang berkepentingan supaya membentuk ingatan yang kuat dengan pikiran yang terang bahwa reformasi dalam kehidupan dan bernegara melahirkan begitu besar peran Economic Hit Man selaku agen pihak ketiga baik disadari maupun tidak untuk menghancurkan kehidupan berbangsa dan bernegara. Sejalan dengan pikiran diatas, agar kegelisahan dan atau ketidakpuasan terjadi dalam masyarakat sehingga menjadi racun kehidupan harus dapat digerakkan menjadi kecemasan sebagai kekuatan untuk melaksanankan reformasi ke jalan yang benar dalam meletakkan konsepsi Demokrasi, Politik dan Kekuasaan dengan menggerakkan kekuatan pikiran kedalam makna KAYA (Kebenaran, Agama, Yakin, Amanah) mejadi satu kekuatan pikiran kedalam Ketaatan dan Berpikir positip Sudah saatnya kita bersyukur dengan segala nikmat yang telah Allah berikan atas Ilmu, Waktu, Kekayaan, pada bangsa Indonesia memulai hidup baru karena tidak ada gunanya menangisi yang telah berlalu dengan segala Musibah yang telah diingatkan oleh Allah Swt.

Jawabannya ia tuangkan kembali sebagai pemikiran untuk mengangkat revolusi berpikir kedalam Reformasi Menuntaskan Kemiskinan Dalam Persfektif 2025 sebagai usaha menggugah hati melawan kezaliman. Bandung, 10 Juni 2011.

1. PENDAHULUAN

Apa yang terpikirkan oleh kita dalam berbangsa dan bernegara menjelang pemilu 2014 dimana kita telah dihadapkan kepada gelombang perubahan yang komplek dan cepat dalam abad 21, bila kita tidak dapat menangkap perubahan itu berarti kita akan kehilangan peluang untuk membangun kehidupan berbangsa dan bernegara dalam NKRI, jangan sampai kita kehilangan napas karena bila kita salah melangkah dalam dahur hidup kematian demokrasi.

Bertitik tolak dari pemikiran diatas, maka dituntut dalam era reformasi ini, untuk membangun jiwa tanpa topeng kepalsuan agar kekuatan pikiran dapat menuntun perubahan sikap dan perilaku secara radikal sehingga dapat meretas jalan menjadi diri sendiri, inilah kita maksudkan perubahan pola pikir secara radikal.

Seandainya anda seorang muslim, coba renungkan perintah seperti yang termuat dalam Q.S. 3 : 165 Dan mengapa kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu ( pada peperangan Badar) kamu berkata : Darimana datangnya (kekalahan) ini ?. Katakanlah : Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Oleh karena itu jauhilah sifat orang-orang munafik dan sejalan dengan itu, coba pula renungkan pepatah yang mengatakan Siapa mengenal dirinya , tentu ia akan mengenal Tuhannya. Jadi itulah

kekuatan pikiran yang dapat menggugah jiwa anda dalam tingkat kesadaran inderawi yang paling rendah dalam usaha menemukan diri sendiri.

Untuk mendapat kepribadian manusia yang bertanggung jawab atas kebebasan berkehendak diperlukan perubahan pola pikir secara radikal artinya orang yang mampu menemukan tentang dirinya, maka ia akan selalu bertindak yang sejalan dengan apa yang diperlukan oleh tuntutan perubahan

dalam melaksanakan demokrasi yang bertolak dari kerjasama dalam membuat impian menjadi suatu kenyataan.

Apa yang terjadi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dimana dalam masa orde reformasi, pemimpin hanya memikirkan bagaimana merebut kekuasaan dengan begitu banyaknya lahir partaipartai baru, tapi terbayangkah olehnya mengenai pemberdayaan demokrasi politik berlandaskan pola pikir yang radikal yang diberikan Agama kepada ummatnya dalam menata hidup dengan kebebasan berpolitik.

Inilah suatu kenyataan yang dihadapi bangsa Indonesia dengan peran pemimpin yang memiliki jiwa dengan banyak topeng kepalsuan yang ditunjukkan oleh kebiasaan dalam berpolitik untuk mendapatkan hasil kekuasaan, setelah itu mereka tidak pula berkeingin merubah kesadaran inderawinya, itu berarti tidak mampu berbuat sesuatu memperkuat daya kemauan dalam menangkap karunia Ilahi. Mampukah kita keluar dari ancaman abad jahilaiyah modern ini ?

Jadi keadaan lingkungan hidup bangsa dan negara kita seperti yang kita kemukakan diatas adalah keadaan yang diciptakan terus menerus oleh pihak ketiga agar bangsa ini dengan kekayaan alam yang luar biasa di karunia oleh Allah Swt, tidak akan bisa bangkit walaupun telah ditunjukkan dengan azab oleh yang maha kuasa, karena mereka tidak dapat merasakan pahitnya perjalanan hidup bangsa ini karena mereka telah diracuni oleh pemikiran neoliberalisme sebagai kenderaan globalisasi dengan doktrin liberalisasi, privatisasi, deregulasi sebagai sarana imperialisme.

Sangat menarik bagi pemimpin masa depan untuk membaca kembali Indonesia menggugat pledoi Bung Karno di depan pengadilan kolonial 18 Agustus 1930.

Posted in Meretas Kesenjangan | Tagged Meretas kesenjangan-reformasi | Leave a Comment

MEMBANGUN AKHLAK BAG. III DIMULAI DARI HURUP M (54-55)July 11, 2011 by suaraatr2025 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR 54. MENAHAN DIRI (dari kekejian) 55. MERENDAHKAN DIRI 56. MUSIBAH 57. MARAH 58. MENCELA / MEMAKI 59 MELEBIHI YANG PATUT 60. MABUK 61. MUBADZIR / ROYAL 62. MEMELACURKAN 63. MEMBERI GELAR 64. MENCURI 65. MASA TUA 66. NAFSU SEKSUAL 67. NIAT

KATA PENGANTAR Pada Bag. I mengungkapkan Kata A-J dan Bag. II mengungkapkan kata K, dengan memanfaatkan pendekatan 7 M (Membaca, menterjemahkam, Meneliti, Mengkaji, Menghayati, Memaghami, Mengamalkan), maka ada kekuatan kebiasaan pikiran untuk terus mengetuk dinding jiwa, sebagai alat untuk menemukan jati diri. Belajar dari pengalaman diatas, maka pada Bag. III, diungkapkan kata M dan N, agar jiwa ini memberikan satu kekuatan agar dapat memberikan cahaya yang berkelanjutan kedalam HATI. Dengan hati yang selalu disinari cahaya kebesaran Allah Swt, maka disitu terletak kekuatan pikiran yang menuntun menjadi kebiasaan dalam menuntun sikap dan perilaku yang sejalan dengan kekuatan ISLAM dan IMAN kita yakini. Oleh karena itu, kembangkan secara berkelanjutan usaha-usaha untuk meningkatkan kedewasaan berpikir sepanjang perjalanan hidup kita, maka disitu pula terletak kekuatan-kekuatan yang akan mempengaruhi seberapa jauh kita mampu menemukan jati diri yang berlandaskan kekuatan akhlak. Sejalan dengan pikiran diatas, maka dengan kebiasaan dengan kedewasaan berpikir dalam rohaniah, sosial, emosional dan intelektual akan menjadi dorongan yang kuat untuk kita bisa berubah dalam bersikap dan berperilaku. Jadi dengan memahami makna kata M dan N membrikan daya dorong yang kuat sebagai benihbenih pikiran untuk menuntun kepribadian kita yang berlandaskan akhlak. 54. MENAHAN DIRI (dari kekejian) Benih pikiran yang kita sebut dengan Menahan Diri merupakan satu kekuatan pikiran yang dapat mempengaruhi kedalam usaha-usaha meningkatkan kedewasaan berpikir emosional untuk mengetuk dinding jiwa. Dengan kedewaan berpikir itu perlu ditumbuh kembangkan kekuatan menahan diri yang terkait dengan kekejian, maka disitu terletak kekuatan kebiasaan yang mampu menuntun kepribadian. Sejalan dengan pikiran diatas tingkatkan kedewasaan rohaniah dengan mendalami makna yang terkandung dalam surat dan ayat yang disebut dibawah ini : QS. 23 :1Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, QS. 23 : 3 dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, QS. 24 : 60 Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

QS. 25 : 72 Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya. QS. 25 : 75 Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya, KESIMPULAN Dengan memahami, menghayati dan mengamalkan benih jiwa yang kita sebut MENAHAN DIRI (dari kekejian) diharapkan terdapat satu kekuatan yang mendorong keinginan meningkatkan kedewasaan berpikir rohaniah yang terkait dengan :

Sifat yang menjadikan orang-orang mumim beruntung Pedoman pergaulan dalam rumah tangga Sifat-sifat hamba Allah yang mendapat kemuliaan.

Sejalan dengan pikiran diatas, maka pengaruhnya akan mampu mendorong kedewasaan emosional yang dimainkan dalam peran setiap manusia. Oleh karena itu tumbuh kembangkan kekuatan kebiasaan dalam kedewasaan berpikir, dengan begitu sikap dan perilaku ini akan selalu tertuntun olehnya. 55. MERENDAHKAN DIRI Salah satu kekuatan untuk meningkatkan kedewasaan berpikir adalah selalu mengingat dalam jiwa bahwa orang yang berbudi tinggi selalu berpedoman pada keadilan dan selalu berusaha untuk menjalankan kewajibannya, oleh karena itu dimaksudkan merendahkan diri bukanlah satu ungkapan sikap dan perilaku dalam proses berbikir yang bersifat negatif. Sejalan dengan pikiran diatas, maka untuk menuntun jalan pikiran kita, renungkapn surat dan ayat dibawah ini : QS. 24 : 30 Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. QS. 25 : 63 Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. QS. 31 : 18 Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. KESIMPULAN

Dengan mendalami apa-apa yang terungkap dalam surat dan ayat diatas maka untuk menjalankan ketaatan dalam bersikap dan berperilaku untuk menuntun kita dalam mengamalkan makna :

Pedoman pergaulan antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram Sifat-sifat hamba allah yang mendapat kemuliaan Nasehat Luqman kepada anaknya

Berpegang kepada kemampuan kita mengamalkan hal-hal yang kita sebutkan diatas, diharapkan menjadi satu kekuatan kedewasaan berpikir dalam menuntun membangun akhlak melalui kekuatan merendahkan diri. Jadi ungkapan merendah diri tidak sama dengan rendah diri sebagai satu penyakit bagi oarang-orang yang tidak berbudi oleh karena itu ingat pula bahwa ketaatan menuntun manusia yang berbudi tinggi da oleh karena itu tidak heran ia bersikap dan berperilaku sebagai orang di belakang layar tetapi sebenarnya ia ada di tempat yang paling depan.

Posted in Membangun Akhlak Bag.III | Leave a Comment

BAGIAN III MEMBANGUN AKHLAK RENUNGAN PADA HURUF MJuly 10, 2011 by suaraatr2025 56. MUSIBAH Musibah berarti malapetaka atau bencana. Jadi suatu peristiwa dari setiap peristiwa kehidupan manusia dimana kedatangannya tak diinginkan dan tak dinanti-nanti, oleh karena itu tidak ada orang yang dapat menghalangi kedatangannya karena setiap musibah yang menimpa manusia sudah ditetapkan kedatanggannya di Lauh Mahfuzh, jauh sebelum Allah menciptakan manusia dan alam semesta ini. Hanya atas izin dan kehendak-Nyalah semua itu dapat terjadi. Di dalam Al-Quran dalam beberapa istilah dan penamaan yang berbeda seperti yang kita ungkapkan pada surat2 dan ayat dibawah ini : Kata Musibah : QS. 2 : 156 (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun QS. 3 : 165 Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar)

kamu berkata: Dari mana datangnya (kekalahan) ini? Katakanlah: Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. QS. 4 : 62 Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu mushibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna. QS. 5 : 49 dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. QS. 30 : 36 Dan apabila Kami rasakan sesuatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira dengan rahmat itu. Dan apabila mereka ditimpa sesuatu musibah (bahaya) disebabkan kesalahan yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka itu berputus asa. QS. 41 : 49 Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan. , 51 Dan apabila Kami memberikan ni`mat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka maka ia banyak berdo`a. QS. 42 ; 30 Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabk