Good Environmental Governance

download Good Environmental Governance

of 8

  • date post

    08-Mar-2016
  • Category

    Documents

  • view

    39
  • download

    0

Embed Size (px)

description

Sekilas Tentang Pengertian dan Prinsip Tata Kelola Lingkungan Yang Baik

Transcript of Good Environmental Governance

Good Environmental Governance

Prinsip Tata Kelola Lingkungan Yang Baik

Good Environmental Governance

Usaha pelestarian lingkungan hidup yang selama ini didominasi oleh kerangka pikir manajemen telah membuat usaha ini tidak mencapai hasil yang diinginkan. Keterbatasan kerangka manajemen telah membuat usaha tersebut terjebak pada ketergantungannya terhadap pemerintah. Kerangka pikir manajemen melihat lingkungan hidup hanya sebagai obyek manajemen. Sementara itu kita tahu bahwa misi dari manajemen adalah pemuasan kepentingan para subyeknya: manusia. Sehingga lingkungan menjadi tidak memiliki makna atau nilai (value), dan membuatnya tak lebih dari sekedar alat pemuas umat manusia.

Maka dari itu, Purwo Santoso dalam makalahnya yang berjudul Environmental Governance: Filosofi Alternatif Untuk Berdamai dengan Lingkungan Hidup, menawarkan konsep governance untuk digunakan sebagai kerangka pikir baru dalam upaya pelestarian lingkungan hidup. Penggunaan konsep governance ini mengajak kita untuk mengedepankan pola interaksi pihak-pihak yang berkepentingan, bukan hanya efisiensi atau efektifitas kerjanya saja seperti yang ada dalam konsep manajemen.

Penggunaan konsep governance dalam upaya mengatasi persoalan lingkungan hidup juga pernah diungkapkan oleh Kotchen dan Young yang menyatakan bahwa, Governance systems can be considered as institutional filters, mediating between human actions and biophysical processes. Menurut mereka governance dapat digunakan untuk memfilter dan memediasi hubungan antara kegiatan manusia dan lingkungan. Dalam penggunaan konsep governance ini, sistem Governance harus berjalan untuk menghasilkan tiga kelompok utama yang sekarang saling berinteraksi terhadap lingkungan yakni negara, masyarakat, dan swasta.

Konsep governance dalam lingkungan atau bisa disebut dengan environmental governance, melihat negara dan masyarakat sebagai obyek sekaligus subyek pada usaha pelestarian lingkungan. Negara sebagai suatu organisasi yang memiliki kontrol terhadap sumberdaya dan kekuasaan, memiliki kemampuan mengubah kondisi alam dalam skala yang masif. Oleh karena itu, nasib lingkungan hidup sangat ditentukan oleh kemampuan menertibkan perilaku negara agar konsisten dengan kaidah-kaidah ekologis. Melalui konsep governance ini maka environmental governance dipahami sebagai kerangka pikir pengelolaan negara dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup melalui interaksinya dengan rakyatnya. Tapi perlu diingat bahwa peran negara disini adalah untuk memastikan arah dan derajat perubahan sesuai dengan yang bisa ditolerir oleh ekosistem, bukan kemampuan negara mengubah kondisi bio-fisik.

Konsep environmental governance perlu dibangun diatas sebuah premis sentral bahwa sistem sosial dan ekosistem dari waktu ke waktu terlibat dalam interaksi (aksi-reaksi) yang tidak berkesudahan. Interaksi antar kelompok yang berkembang dalam konsep governance telah membuat hubungan antara negara, masyarakat, dan swasta berdiri sejajar. Governance pada konsep environmental governance digunakan pada keperluan untuk memahami dan mengelola hubungan timbal balik antara sistem sosial dengan ekosistem. Lebih dari itu, pengelolaan sistem sosial perlu dikelola dengan mengedepankan nilai-nilai ekologis, dan sebaliknya, ketahanan ekosistem bisa dipelihara melalui pengelolaan sistem sosial yang terbimbing oleh kaidah-kaidah ekologis.

Lahirnya konsep environmental governance ini tidak bisa lepas dari berkembangnya konsep governance yang telah menjadi ibu dari beberapa konsep lainnya tentang tata kelola pemerintahan atau organisasi yang baik. Perkembangan yang pesat tersebut telah membuat kita mengenal adanya istilah good governance sekarang ini. Konsep good ini disematkan pada pelaksanaan governance yang sudah sesuai dengan prinsip dan karakteristiknya. Sehingga governance dikatakan baik jika pelaksanaannya telah memuat nilai-nilai governance seperti transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi.

Pada konsep environmental governance, konsep good ataupun bad pada dasarnya adalah persoalan pijakan atau keberpihakan pada nilai-nilai tertentu. Jika disepakati bahwa penilaian good ataupun bad perlu dilakukan dalam bingkai penghormatan terhadap kedaulatan ekosistem, maka environmental governance dikatakan good jika ia berpihak pada nilai-nilai lingkungan atau ekosistem. Pemaknaan good atau bad pada environmental governance harus dilihat dari kacamata ekosistem, bukan kacamata manusia (antroposentris). Sehingga intinya, konsep environmental governance ini ingin mengarahkan cara pandang kita untuk melihat segala persoalan dari sudut pandang lingkungan. Lingkungan menjadi pertimbangan utama dalam setiap keputusan yang kita ambil dan laksanakan.

Penggunaan konsep governance dalam lingkungan telah membuat nilai-nilai yang ada pada governance juga diterapkan dan disesuaikan dengan kepentingan lingkungan. Atas dasar itu maka United Nations Development Programme (UNDP), United Nations Environment Programme (UNEP), World Bank, dan World Resources Institute menyebutkan dalam publikasinya yang berjudul A Guide to World Resources, ada tujuh elemen yang dimiliki oleh environmental governance. Ketujuh elemen tersebut adalah sebagai berikut. 1. Institusi dan hukum. Siapa yang membuat dan menegakkan peraturan untuk menggunakan sumber daya alam? Apa saja aturan-aturan dan hukum apabila peraturan tersebut dilanggar? Siapa yang akan memutuskan bila ada perselisihan?

2. Hak-hak partisipasi dan keterwakilan. Bagaimana publik dapat mempengaruhi atau memperjuangkan peraturan mengenai sumber daya alam? Siapa yang akan mewakili mereka yang menggunakan atau tergantung pada sumber daya alam ketika kebijakan terhadap sumber daya alam tersebut dibuat?

3. Tingkatan kewenangan. Pada tingkatan atau skala apa: lokal, regional, nasional, internasional, kewenangan terhadap sumber daya alam berada?

4. Akuntabilitas dan transparansi. Bagaimana mereka-mereka yang mengawasi dan mengelola sumber daya alam dapat menjawab untuk kebijakan-kebijakan yang mereka buat dan kepada siapa? Bagaimana proses pembuatan kebijakan terbuka untuk dikaji?

5. Hak kepemilikan dan kedudukan. Siapa yang memiliki sebuah sumber daya alam atau memiliki hak yang sah untuk mengawasi?

6. Aliran pasar dan finansial. Bagaimana praktik finansial, kebijakan ekonomi dan perilaku pasar mempengaruhi kewenangan atas sumber daya alam?

7. Ilmu pengetahuan dan risiko. Bagaimana ekologi dan ilmu sosial yang digabungkan dalam kebijakan terjhadap sumber daya alam digunakan untuk mengurangi risiko terhadap masyarakat dan ekosistem serta mengidentifikasikan peluang-peluang baru?

Selain tujuh elemen yang disebutkan dalam A Guide to World Resources, dalam hubungan dengan upaya good environmental governance, Indonesian Center For Environment Law (ICEL) juga menyebutkan ada beberapa kriteria yang harus di integrasikan dalam setiap kebijakan yang memiliki urgensi untuk mewujudkan kebijakan pembangunan berwawasan lingkungan yang terkait dengan berbagai hal, yaitu:

1. Pemberdayaan, pelibatan masyarakat dan akses publik terhadap informasi

2. Transparansi

3. Desentralisasi yang demokrasi

4. Pengakuan terhadap daya dukung ekosistem dan berkelanjutan

5. Pengakuan terhadap masyarakat adat dan masyarakat setempat

6. Konsistensi dan harmonisasi

7. Kejelasan (clarity), dan

8. Daya penegakan.

Dengan demikian, kriteria di atas sebagai parameter yang mendorong terciptanya pemerintahan yang baik, terutama melalui penguatan masyarakat sipil. Pemberdayaan masyarakat dan transparansi serta desentralisasi yang bersifat demokrasi sebagai elemen-elemen pokok untuk mewujudkan pemerintah yang baik, sedangkan pengakuan terhadap keterbatasan daya dukung dan ekosistem dan aspek keberlanjutan, serta pengakuan hak masyarakat adat dan masyarakat setempat sebagai elemen-elemen pokok dari prinsip keberlanjutan ekologis.

Melalui pemikiran environmental governance, diharapkan bisa dirumuskan pembaruan penyelenggaraan kepentingan publik dengan mengacu atau mengedepankan nilai-nilai ekologis. Baik-buruknya penyelenggaraan pemerintahan tidak hanya dilihat dari kualitas hubungan negara dengan rakyatnya, namun juga dari kualitas interaksi ekologisnya, dan dari segi komitmennya untuk menjunjung tinggi kaidah-kaidah ekologis.

2/6/2016

Anam Hady Nugroho

Environmental governance

Sumber: Purwo Santoso 2001

Interaksi dalam sistem sosial

Interaksi dalam sistem bio-fisik (ekosistem)

good governance

Manajemen lingkungan

Gambar 1.1

Kaitan Antara konsep governance, manajemen lingkungan hidup dan environmental governance

Purwo santoso, Environmental Governance: Filosofi Alternatif Untuk Berdamai Dengan Lingkungan Hidup, hlm. 9, diakses dari HYPERLINK "http://elisa1.ugm.ac.id/files/PSantoso_Isipol/ odufQlMY/GOOD%20ENVIRONMENTAL%20GOVERNANCE2.doc" http://elisa1.ugm.ac.id/files/PSantoso_Isipol/ odufQlMY/GOOD%20ENVIRONMENTAL%20GOVERNANCE2.doc, pada tanggal 6 November 2013.

Ibid., hlm. 2.

Kotchen dan Young dalam UNEP. 2006. Interlinkages: Governance for Sustainability, hlm. 375, diakses dari HYPERLINK "http://www.unep.org/geo/geo4/report/08_Interlinkages_Governance_for_a_ Sustainable_Earth.pdf" http://www.unep.org/geo/geo4/report/08_Interlinkages_Governance_for_a_ Sustainable_Earth.pdf, pada tanggal 4 April 2014 pukul 20.05 WIB.

Purwo santoso, loc. Cit., hlm. 15.

Ibid., hlm. 20.

Ibid., hlm. 18.

Ibid.

Lilin Budiati, op. Cit., hlm. 63-64.

Ibid., hlm. 71.

Ibid.

Purwo santoso, loc. Cit., hlm. 21.

3