Modul Good Governance

download Modul Good Governance

of 35

  • date post

    03-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    113
  • download

    5

Embed Size (px)

Transcript of Modul Good Governance

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUMDirektorat Jenderal Cipta Karya

MODUL KHUSUS PEMDAPelatihan Dasar

P01

Good Governance

PNPM Mandiri Perkotaan

Modul 1

Good Governance Diskusi Kelompok Analisa Sewindu Reformasi Indonesia Diskusi Good Governance

1 2 4

Kegiatan 1: Kegiatan 2:

Modul 1Topik: Good Governance

Peserta memahami dan menyadari: 1. paradigma governance dan good governance. 2. hubungan antara masalah good governance dengan kemiskinan 3. masalah masalah yang terjadi dalam pencapaian good governance

Kegiatan 1: Diskusi Kelompok Analisa Sewindu Reformasi Indonesia. Kegiatan 2 : Diskusi Good Governance

4 Jpl ( 180 )

Bahan Bacaan : 1. Good Governance 2. Pengertian Masyarakat Warga Dan Hubungan Masyarakat Dengan Negara Dan Swasta (Modal) Media Bantu - Good Governance Lembar Kasus Sewindu Reformasi

Kerta Plano, Kuda-kuda untuk Flip-chart LCD Metaplan, Spidol, selotip kertas dan jepitan besar Papan Tulis dengan perlengkapannya

1

Diskusi Kelompok Analisa Sewindu Reformasi Indonesia1) Buka pertemuan dengan salam singkat dan uraikan kepada peserta bahwa kita akan memulai modul Good Governance, dan apa yang menjadi tujuan modul ini, yaitu : Peserta memahami paradigma governance dan good governance Peserta mengetahui hubungan antara masalah good governance dengan kemiskinan Memahami masalah masalah yang terjadi dalam pencapaian good governance 2) Jelaskan kepada peserta bahwa kita akan memulai kegiatan 1, yaitu berdiskusi mengenai permasalahan dan kondisi pembangunan di Indonesia saat ini. 3) Bagikan bahan diskusi Sewindu Reformasi, Mencari Visi Indonesia 2030 kepada seluruh peserta. Mintalah mereka membacanya selama 15 menit. 4) Bagi seluruh peserta ke dalam 4 kelompok. Jelaskan bahwa setiap kelompok akan membahas bahan diskusi yang telah mereka baca dari bidang yang berlainan : Kelompok 1 : Membahas masalah kesehatan Kleompok 2 : Membahas masalah pendidikan Kelompok 3 : Membahas masalah kehutanan dan pertanian Kelompok 4 : membahas masalah ekonomi 5) Beri waktu 30 40 menit kepada setiap kelompok untuk berdiskusi menjawab pertanyaan pertanyaan pokok berikut : Apa gambaran masalah dalam bidang kesehatan/pendidikan/pertaniankehutanan/ekonomi? Apakah ada keterkaitan antara masalah yang satu dengan masalah lainnya? Apa yang menjadi penyebab permasalahan permasalahan yang terjadi? Apakah dari keempat masalah yang dibahas ada penyebab yang sama? Apakah ada implikasinya terhadap kemiskinan ? Apakah ada perubahan perubahan sebelum reformasi dan pasca reformasi? (apa saja yang berubah dan apa yang tidak berubah?) Mengapa demikian? Faktor faktor apa saja yang harusnya berubah untuk mencapai Masyarakat Indonesia yang Sejahtera? 6) Setelah semua kelompok selesai berdiskusi, mintalah mereka secara bergilir untuk menyajikan hasil diskusi kelompok masing masing. Setiap satu kelompok selesai menyajikan hasil diskusinya beri kesempatan kepada kelompok lain untuk bertanya. 7) Catat pokok pokok hasil diskusi setiap kelompok di kertas plano (papan tulis) dan ajak peserta untuk mengidentifikasi : Faktor faktor yang mempengaruhi lambannya perubahan pasca reformasi (politik, sosial, sikap, perilaku, kepemimpinan, dan lain sebagainya). Faktor utama apa yang menyebabkan semua persoalan yang terjadi? Apa yang harus diperbaiki? Siapa saja yang seharusnya berubah? (masyarakat, pemerintah atau pihak swasta) 2

8) Simpulkan hasil pembahasan kelas bersama sama, dengan penekanan pada hal hal berikut :

Permasalahan permasalahan yang terjadi di setiap bidang pada dasarnya terjadi karena berbagai persoalan yang relatif sama yaitu : Sentralisasi kekuasaan baik di tingkat pusat dan daerah maupun pada masing masing pelaku pembangunan. Legislatif saat ini mempunyai power politik yang lebih kuat dibandingkan dengan eksekutif, sektor swasta yang mempunyai modal lebih kuat dibandingkan dengan masyarakat sipil. Kekuatan kekuatan ini kemudian cenderung diselewengkan, kerjasama yang terjadi berbentuk kolusi dan nepotisme yang merugikan banyak pihak terutama kaum marginal. Belum terbukanya ruang bagi publik untuk berkiprah dalam penentuan keputusan dan kebijakan. Pembangunan masih ditentukan oleh pihak yang paling kuat. Masyarakat mempunyai posisi yang paling lemah. Hal ini berhubungan dengan partisipasi dan demokrasi, yang artinya menafikan hak asasi manusia. Hak asasi manusia adalah esensi dari demokrasi. Hak asasi manusia itu pula yang menjadi tolok ukur seseorang atau suatu kelompok bisa menghargai manusia lainnya. Membangun demokrasi sama dengan melawan kecenderungan otoriter dalam diri setiap manusia. Terjadi eksploitasi dari pihak pihak yang mempunyai kekuasaan dan akses kepada kekuasaan, sehingga makin memiskinkan pihak pihak yang lemah. Krisis kepemimpinan, pemimpin saat ini masih banyak yang lebih mementingkan diri sendiri, dibanding mengayomi masyarakat. Sehingga pemimpin bukan menjadi pelayan masyarakat akan tetapi ingin dilayani oleh masyarakat. Bagaimana mungkin mengharapkan keadilan dari pemimpin pemimpin seperti ini? Etos bangsa masih rendah, hal ini menunjukkan sumberdaya manusia Indonesia yang masih rendah. Apabila kita refleksikan lebih jauh semua permasalahan tadi bermuara pada sikap dan perilaku para pelaku pembangunan. Eksploitasi terjadi karena keserakahan dan mementingkan diri sendiri, ini yang menjadi sumber ketidakadilan. Manusia sudah menafikan hati nuraninya, sehingga tidak lagi peduli pada penderitaan pihak lain yang ditimbulkan olehnya. Padahal tanpa perubahan sikap mental pada tataran individual, tidak akan menimbulkan transformasi di masyarakat ke arah yang lebih baik. Bagaimana mungkin partisipasi dan demokrasi bisa terjadi apabila masing masing pihak masih mementingkan diri sendiri? Bagaimana mungkin keadilan bisa terjadi apabila masing masing pihak masih serakah? Bagaimana mungkin kue kekuasaan harus dibagikan apabila kekuasaan dipandang sebagai alat untuk mencapai kepentingan individual? Ujung dari semua permasalahan yang ada adalah terjadinya kemiskinan. Artinya tanpa perubahan sikap mental, Indonesia masa depan seperti yang diharapkan adalah omong kosong belaka.

3

Diskusi Good Governance1) Jelaskan kepada peserta bahwa kita akan memulai kegiatan 2 dalam modul ini, yaitu mendiskusikan good governance dan good local governance. 2) Ingatkan kembali peserta pada pembelajaran yang diperoleh dari kegiatan 1, bahwa harus terjadi perubahan di dalam pembangunan termasuk dalam pelayanan publik. Perubahan perubahan ini sebenarnya juga terjadi dalam tataran global bukan hanya di Indonesia, hanya saja kedalamannya berbeda beda. Perubahan paradigma penyelenggaraan pemerintahan pada dekade ini adalah terjadinya transformasi dari government ke governance. 3) Pakailah Media Bantu yang telah disediakan untuk menjelaskan mengenai transformasi yang terjadi dan menjelaskan good governance kepada peserta. 4) Setelah selesai menjelaskan, bahas bersama peserta dan simpulkan bersama

4

Bahan diskusi ini merupakan rangkuman dari berbagai tulisan dalam Harian Kompas, Jumat 19 Mei 2006 ditambah oleh pengayaan dari perangkum.

SEWINDU REFORMASI MENCARI VISI INDONESIA 2030Pengantar RedaksiHarian Kompas pada tanggal 8 dan 9 Mei 2006 di Jakarta menyelenggarakan diskusi dengan tema Sewindu Reformasi Mencari Visi 2030. Paparan para panelis, pendapat para peserta diskusi, ditambah pengayaan dari para wartawan Kompas, dituangkan dalam lembaran khusus terbitan Jumat (19/5) 32 halaman serta terbitan Sabtu (20/5) 24 halaman. Tulisan tersebut juga dimuat dalam laporan khusus KOMPAS Cyber Media. Untuk itu kami mengundang pengunjung situs kami berpartisipasi dengan memberikan komentar atau saran setelah membaca laporan tersebut. Kami menyediakan form tempat memberi komentar/saran yang akan kami tayangkan mengiringi laporan tersebut.Panelis dan Moderator: Ahmad Syafii Maarif (pengamat politik, Jakarta), Ignas Kleden (pakar budaya, Jakarta), Moeslim Abdurrahman (pakar budaya, Yogyakarta), Nirwan Arsuka (budayawan, Jakarta), Budi Susanto (filsafat sosial, Yogyakarta), Darma Putra (pengamat budaya, Denpasar), Wiku Adi Sasmito (konsultan pendidikan, Jakarta), Fasli Jalal (birokrat pendidikan, Jakarta), Nanang Fattah (pakar pendidikan, Bandung), Azyumardi Azra (pakar pendidikan, Jakarta), Anita Lie (pengamat pendidikan, Surabaya), Miftahul Thoha, Mochtar Pabottingi (pengamat politik, Jakarta), Amin Abdullah (sejarawan, Jakarta), Francisia SSE Seda (pengamat ekonomi, Jakarta), Denny Indrayana (hukum tata negara, Yogyakarta), Yusny Saby (pendidik, DI Aceh), Johanes Gluba Gebze (Bupati Merauke, Papua), Mestika Zed (sosiologi politik, Padang), Gregor Neonbasu (pengamat sosial, Kupang), Ruhaini Dzulhayatin (pengamat masalah jender, Yogyakarta), Yusuf Serang Kasim (Wali Kota Tarakan), Ari Kuncoro (ekonom, Jakarta), Sudhamek Agung WS (pelaku ekonomi, Jakarta), Rasoeli Moeloek (pelaku ekonomi, Jakarta), Revrisond Baswir (pengamat ekonomi, Yogyakarta), Siswono Yudo Husodo (pengusaha, Jakarta), Yohanes Surya (pengajar Olimpiade Fisika, Jakarta), Philip S Purnama (pengusaha, Jakarta), Retno Sulistyowati (eksportir, Surabaya), Edy Suandi Hamid (pendidik, Yogyakarta), Wiranto (mantan Panglima ABRI, Jakarta), Akbar Tandjung (mantan Ketua DPR, Jakarta), Moerdiono (mantan Menteri Sekretaris Negara, Jakarta), dan Adnan Buyung Nasution (ahli hukum, Jakarta). Adapun bertindak selalu moderator adalah Masdar F Masudi (Jakarta), Komarrudin Hidayat (Jakarta), Ikrar Nusa Bhakti (Jakarta), Daniel Sparringa (Surabaya), AB Susanto (Jakarta), Chatib Basri (Jakarta), dan Eros Djarot (Jakarta).

5

Ketika gelombang reformasi berhasil memaksa Presiden Soeharto membacakan pidato pengunduran dirinya di Istana Merdeka pada tanggal 21 Mei 1998, harapan bangsa ini untuk membangun masa depan yang lebih baik, lebih adil, lebih makmur, dan lebih sejahtera langsung membumbung tinggi. S