Nadis Good Governance

Click here to load reader

  • date post

    03-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    287
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Nadis Good Governance

Penyusunan Kerangka Kebijakan Good Governance

SCBD Kota Meda n

BAB I PENDAHULUAN1.1 Latar BelakangDalam rangka menjamin terciptanya Pemerintahan yang bersih, jujur dan transparan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, diperlukan program Pembinaan Produk Hukum Daerah yang dapat menjadi media kontrol & akses masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan kota termasuk terwujudnya pemerintahan yang amanah. Hal ini diwujudkan melalui kegiatan menyusun Kerangka Kebijakan Penyelenggaraan pemerintah yang bersih sesuai prinsip-prinsip clean government yang melibatkan SKPD terkait secara terkoordinasi. Undang- Undang Dasar 1945 menurut para penyusunnya mengandung perintah yang mewajibkan pemerintah/penyelenggara negara untuk memelihara budi pekerti kemanusiaan yang luhur dan memegang teguh cita-cita moral rakyat yang luhur. Ketenteraman tersebut sebagai konsekuensi dari pokok-pokok pikiran yang termuat dalam Pembukaan UUD itu, ialah negara berdasarkan atas asas Ketuhanan Yang Maha Esa menurut dasar Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Sejak diberlakukannya UUD 1945 sampai terjadinya gerakan reformasi telah ada beberapa ketetapan MPR dan peraturan perundang-undangan lain yang dapat dianggap sebagai aturan pelaksanaan dari ketentuan konstitusional itu, seperti perundang-undangan Pidana Umum, Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi, TAP MPR tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila, Undang-undang Pokok Kepegawaian, Peraturan Pemerintah tentang Disiplin Pegawai Negeri dan lain-lain, tetap pelaksanaannya tidak mencapai sasaran secara optimal, malah korupsi dan penyalahgunaan wewenang terus meluas sehingga akhimya timbul gerakan rakyat berupa reformasi total yang sampai saat ini awal tahun 2000 belum tuntas. Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) hasil awal reformasi telah menetapkan Kebijakan Nasional tentang upaya mewujudkan penyelenggaraan negara yang bersih dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN): a. Dalam konsiderans Tap MPR No. XI/MPR/1998 ditentukan bahwa MPR mengkonstatir terjadinya penyelenggaraan negara dengan pemutusan kekuasaan, wewenang dan tanggung jawab pada Presiden Mandataris MPR yang berakibat tidak berfungsinya lembaga-lembaga tinggi negara serta tidak berkembangnya partisipasi masyarakat dalam memberikan kontrol sosial dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bemegara. MPR juga berpendapat bahwa tuntutan hati nurani rakyat menghendaki adanya penyelenggara negara yang mampu menjalankan fungsi dan

1

Penyusunan Kerangka Kebijakan Good Governance

SCBD Kota Meda n

tugasnya secara bersungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab agar reformasi pembangunan dapat berdayaguna dan berhasilguna. b. Di samping itu MPR menyatakan keyakinannya bahwa dalam penyelenggaraan negara telah terjadi praktik usaha yang lebih menguntungkan sekelompok tertentu yang menyuburkan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme yang melibatkan para pejabat negara dengan para pengusaha, sehingga merusak sendi-sendi penyelenggaraan negara dalam berbagai aspek kehidupan nasional. Dalam rangka merehabilitasi seluruh kehidupan nasional yang berkeadilan, dibutuhkan penyelenggaraan negara yang dapat dipercaya, melalui usaha pemeriksaan harta kekayaan para pejabat negara dan mantan pejabat negara serta keluarganya yang diduga berasal dari praktik Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Sidang tahunan MPR yang diselenggarakan tanggal 10 sampai dengan 13 Nopember 1998, telah membahas masalah Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, yang bahan-bahannya disiapkan oleh Badan Pekerja MPR dan pada hari itu juga ditetapkan Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1998. Berdasarkan TAP MPR tersebut, penyelenggaraan negara pada lembaga-lembaga legislatif, eksekutif dan yudikatif, harus melaksanakan fungsi dan tugasnya dengan baik dan bertanggungjawab kepada masyarakat, bangsa dan negara. Dalam menjalankan fungsi dan tugas, penyelenggara negara harus jujur, adil, terbuka dan terpercaya serta mampu membebaskan dari praktik Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Menghindarkan praktik-praktik Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, seseorang yang terpercaya menjabat suatu jabatan dalam penyelenggaraan negara, harus bersumpah sesuai dengan agamanya, harus mengumumkan dan bersedia diperiksa kekayaannya sebelum dan setelah menjabat. Upaya pemberantasan tindak pidana korupsi, dilakukan secara tugas dengan melaksanakan secara konsisten undang-undang tindak pidana korupsi. Pemberantasan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme harus dilakukan secara tegas terhadap siapapun juga, baik pejabat negara, mantan pejabat negara, kelompok dan kroninya maupun pihak swasta/konglomerat dengan tetap memperhatikan prinsip praduga tak bersalah dan hak-hak asasi manusia. Penyelenggara negara mempunyai peran penting dalam mewujudkan cita-cita perjuangan bangsa. Hal ini secara tegas dinyatakan dalam penjelasan UndangUndang Dasar 1945 yang menentukan bahwa yang sangat penting dalam pemerintahan dan dalam hal hidupnya negara ialah semangat para penyelenggara negara dan pemimpin pemerintahan. Dalam kenyataannya, penyelenggara negara tidak dapat menjalankan tugas dan fungsinya secara optimal, sehingga penyelenggara negara tidak berjalan sebagaimana mestinya, hal itu terjadi karena adanya pemusatan kekuasaan, wewenang dan tanggungjawab pada Presiden/Mandataris Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia. Di samping itu, masyarakat pun belum sepenuhnya berperan serta dalam menjalankan fungsi kontrol sosial yang efektif terhadap penyelenggaraan negara.2

Penyusunan Kerangka Kebijakan Good Governance

SCBD Kota Meda n

Pemusatan kekuasaan, wewenang dan tanggungjawab tanpa memerhtikan kepentingan para pemangku kepentingan akan berdampak negatif pada seluruh sendi-sendi pemerintahan, baik di bidang politik, maupun di bidang ekonomi dan moneter. Pengaruh negatif ini tentunya akan menguntungkan bagi penyelenggara negara dan kelompoknya dan memberi peluang terhadap tumbuhnya Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme. Wewenang yang tanpa batas itu akhirnya akan merugikan masyarakat dan Negara dan merusak sendi-sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bemegara, serta membahayakan eksistensi negara. Dalam rangka penyelamatan dan normalisasi kehidupan nasional sesuai tuntutan reformasi, diperlukan kesamaan visi, persepsi, dan misi dari seluruh penyelenggara negara dan masyarakat. Kesamaan visi, persepsi, dan misi tersebut harus sejalan dengan tuntutan hati nurani rakyat yang menghendaki terwujudnya penyelenggara negara yang mampu menjalankan tugas dan fungsinya secara sungguh-sungguh, penuh rasa tanggung jawab yang dilaksanakan secara efektif, efisien bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme, sebagaimana diamanatkan oleh Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/ 1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN). Ketentuan tersebut di atas memuat ketentuan yang berkaitan langsung atau tidak langsung dengan penegakan hukum terhadap tindak pidana Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme yang khusus ditunjukan kepada para penyelenggara negara dan pejabat lain yang memiliki fungsi strategis dalam kaitannya dengan penyelenggara negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Undang-undang Nomor 28 Tahun 1999 itu, merupakan bagian atau sub-sistem dari peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan penegakan hukum terhadap perbuatan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Sasaran pokok undang-undang ini meliputi para penyelenggara negara, pejabat negara pada lembaga tertinggi negara dan atau pejabat lain yang memiliki fungsi strategis dalam kaitannya dengan penyelenggaraan negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Mewujudkan penyelenggaraan negara yang bersih dan bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, dalam undang-undang ini, ditetapkan asas-asas umum penyelenggaraan negara yang meliputi asas kepastian hukum, asas tertib penyelenggaraan negara yang meliputi asas kepastian hukum, asas tertib penyelenggaraan negara, asas kepentingan umum, asas keterbukaan, asas proporsionalitas, asas profesionalitas, dan asas akuntabilitas. Pengaturan tentang peran serta masyarakat dalam undang-undang ini dimaksud untuk memberdayakan masyarakat dalam rangka mewujudkan penyelenggara negara yang bersih dan bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme. Berdasarkan hak dan kewajiban yang dimiliki, masyarakat diharapkan dapat lebih bergairah melaksanakan kontrol sosial secara optimal terhadap penyelenggaraan negara dengan tetap menaati rambu-rambu hukum yang berlaku. Agar undang-undang termaksud dapat mencapai sasaran secara efektif maka diatur pembentukan Komisi Pemeriksa yang bertugas dan berwenang melakukan pemeriksaan harta kekayaan pejabat negara, sebelum, selama dan setelah menjabat, termasuk meminta keterangan, baik dari mantan pejabat negara, keluarga dan kroninya

3

Penyusunan Kerangka Kebijakan Good Governance

SCBD Kota Meda n

maupun para pengusaha, dengan tetap memperhatikan prinsip praduga tak bersalah dan hak asasi manusia. Susunan keanggotaan Komisi Pemeriksa terdiri atas unsur pemerintah dan masyarakat mencerminkan independensi atau kemandirian dari lembaga ini. Dalam undang-undang diatur tentang kewajiban para penyelenggara negara, antara lain menggumumkan dan melaporkan harta kekayaannya sebelum dan setelah menjabat ketentuan tentang sanksi dalam undang-undang ini berlaku bagi penyelenggara negara, masyarakat dan Komisi Pemeriksa sebagian upaya prepentif dan refresif serta berfungsi sebagai jaminan atas ditaatinya ketentuan tentang asas umum penyelenggara negara, hak dan kewajiban penyelenggara negara dan ketentuan lainnya, sehingga dapat diharapkan memperkuat norma kelembagaan moralitas dan sosial. Mengabaikan asas-asas moral dan budi pekerti kemanusiaan yang luhur seperti diperintahkan oleh UUD 45, akan berarti tidak "bersih" dilihat dari segi moral dan atau etika. Keharusan untuk mewujudkan pemerintah yang "bersih" merupakan kaidah yang normatif konstitusional. Sifat bersih akan mempunyai daya tarik yang simpatik, mengandung sikap berpartisipasi. Sebaliknya sifat kotor, menimbulkan sifat negatif, karena akan menjauhkan sikap simpati, malah mengundang sikap masa bodoh dari pihak-pihak yang seharusnya berpartisipasi. Pemerintah yang bersih dari kolusi, korupsi dan nepotisme menjadi idaman setiap warga Negara. Untuk menanggapi keinginan itu, maka Pemerintah didorong untuk melaksanakan prinsip-prinsip atau asas-asas yang dianggap mampu mendorong Pemerintah menjadi institusi yang tanggap terhadap kepentingan rakyatnya. Prinsip-prinsip Good Governance dalam organisasi publik menurut Komisi Nasional Kebijakan Governance/KNKG (2008, 13-18) adalah prinsip demokrasi, prinsip transparansi, prinsip akuntabilitas, prinsip budaya hukum, prinsip kewajaran dan kesetaraan. Prinsip-prinsip ini selaras dengan amanah UU No. 28/1999. Meskipun konsep Good Governance di Pemerintahan masih tergolong muda, namun dorongan kuat masyarakat dan Peraturan Perundang-undangan mendorong Pemerintah harus melakukan prinsip-prinsip Good Governance di setiap level Institusi Pemerintah, baik Pemerintah pusat maupun Pemerintah Daerah. Pemerintah Kota Medan juga turut berpartisipasi dalam mempercepat adopsi dan implementasi prinsip-prinsip good governance, hal ini dapat dilihat dari agenda pembangunan Kota Medan 2006- 2010 dimana salah satu adalah Menciptakan Tata Pemerintahan yang Baik dan Efektif dan keikutsertaan Pemerintah Kota Medan dalam proyek SCBD. Peningkatan Kapasitas bagi Desentralisasi atau Sustainable Capacity Building for Decentralization (SCBD) merupakan kegiatan pengembangan kapasitas bagi pemerintah daerah, untuk meningkatkan kemampuan operasional pemerintah daerah dalam : penyediaan pelayanan masyarakat sesuai dengan standar pelayanan minimum; pemeliharaan fasilitas-fasilitas umum yang penting; pengenalan pengembangan ekonomi yang adil; dan pengelolaan program pengurangan kemiskinan.

4

Penyusunan Kerangka Kebijakan Good Governance

SCBD Kota Meda n

1.2 Permasalahan yang DihadapiUU & PP yang berkaitan dengan penyelenggaraan good governance belum dapat diimplementasikan secara optimal karena ketiadaan petunjuk yang menjadi pedoman pelaksanaan Bagaimana prosedur dan mekanisme yang implementatif penyelenggaraan good governance dan pemerintahan yang baik? dalam

Apa usaha-usaha yang harus dilakukan dalam meningkatkan pemahaman seluruh komponen stake holders tentang good governance?

1.3 Tujuan Kegiatan:Memberikan acuan/pedoman kebijakan bagi Penyelenggaraan governance (terutama pelaksanaan atas UU No. 28/99) good

Untuk memahami prosedur dan mekanisme yang implementatif dalam penyelenggaraan good governance dan pemerintahan yang baik. Untuk mengetahui usaha-usaha yang dilakukan dalam meningkatkan pemahaman seluruh komponen stake holders tentang good governance dan pemerintahan yang baik

1.4 Output Kegiatan:Draft Perwal Kerangka Kebijakan implementasi Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah yang berkaitan dengan pelaksanaan good governance

1.5 Outcome Kegiatan:Perwal Kerangka Kebijakan good Governance agar mekanisme pelaksanaan serta penerapan tentang penyelenggaraan good governance dapat segera terealisasikan di Pemko Medan.

1.6 Tenaga AhliTenaga ahli dalam implementasi kegiatan ini adalah: Ahli Hukum Tata Negara,Kualifikasi S3, Pengalaman 8 tahun. Ahli Administrasi Negara, Kualifikasi S2, Pengalaman 8 tahun. Ahli Ekonomi Pembangunan dan Keuangan, Kualifikasi S2, Exp 8 tahun.

5

Penyusunan Kerangka Kebijakan Good Governance

SCBD Kota Meda n

1.7 Waktu KegiatanKegiatan Penyusunan Kerangka Kebijakan Pemerintahan Yang Bersih direncanakan selama 4 bulan. Penyelenggaraan

6

Penyusunan Kerangka Kebijakan Good Governance

SCBD Kota Meda n

BAB II HARMONISASI PERUNDANG-UNDANGAN2.1 Dasar Hukum Governance kerangka kebijakan Good

Pelaksanaan kebijakan good governance mengacu kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dasar hukum kerangka kebijakan Good governance adalah: 1. Undang-Undang Nomor 8 Drt Tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonom Kota-kota Besar dalam Lingkungan Daerah Propinsi Sumatera Utara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1956 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1092); 2. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 Tentang Pokok-Pokok Kepegawaian sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 Tentang Pokok-Pokok Kepegawaian; 3. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Pemerintahan yang Bebas Kolusi, Korupsi dan Nepotisme; 4. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi; 5. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389); 6. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah; 7. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1973 tentang Perluasan Daerah Kotamadya Medan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1973 Nomor 28, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3005);

7

Penyusunan Kerangka Kebijakan Good Governance

SCBD Kota Meda n

8. Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 1999 Tentang Tata Cara Pelaksaanaan Peran Serta Masyarakat Dalam penyelenggaraan Negara; 9. Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2000 Tentang Tata Cara Pelaksanaan Peran serta Masyarakat dan Pemberian Penghargaan Dalam pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi; 10. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737); 11. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 89, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4741); 12. 13. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah; Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 2 Tahun 2009 tentang Urusan Pemerintahan Kota Medan (Lembaran Daerah Kota Medan Tahun 2009 Nomor 2); Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 3 Tahun 2009 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah Kota Medan (Lembaran Daerah Kota Medan Tahun 2009 Nomor 3, Tambahan Lembaran Daerah Kota Medan Nomor 2); Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 8 Tahun 2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Kota Medan tahun 2006-2025 (Lembaran Daerah Kota Medan Tahun 2009 Nomor 8);

14.

15.

2.2 Good Governance dan Pemerintahan yang bersihKetetapan Majelis Permusyawaratan rakyat (MPR) No. XI/MPR/1998 telah mengamanatkan Penyelenggaraan Negara yang bersih dari kolusi, korupsi dan nepotisme. Hal ini dilanjutkan dengan mengeluarkan Undang-Undang no. 28/1999 tentang hal yang sama. Dari kedua peraturan itu jelas terlihat bahwa masyarakat melihat perlu pembenahan penyelenggaraan Negara terutama untuk menghindari Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme (KKN). Penyakit ini sudah lama menjadi penyakit kronis bangsa Indonesia Karena tidak ada payung hukum untuk memberantasnya. Undang-Undang No. 28/1999 dan Peraturan Pemerintah yang berkaitan merupakan payung hukum untuk memberantas Korupsi Kolusi dan Nepotisme yang sudah mewabah di Indonesia. Undang-Undang ini menetapkan pemangku kepentingan (stakeholders) dalam mewujudkan Penyelenggaraan Negara yang bebas KKN, yaitu Penyelenggara Negara, Masyarakat dan Komisi Pemeriksa.

8

Penyusunan Kerangka Kebijakan Good Governance

SCBD Kota Meda n

Karena sasarannya adalah penyelenggara Negara, maka Undang-Undang ini dimulai dengan Penyelenggara Negara. Penyelenggara Negara yang dimaksud Undang-Undang ini adalah: 1. Pejabat Negara pada Lembaga Tertinggi Negara. 2. Pejabat Negara pada Lembaga Tinggi Negara. 3. Menteri. 4. Gubernur. 5. Hakim. 6. Pejabat Negara lain sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. 7. Pejabat lain yang memiliki fungsi yang strategis dalam kaitannya dengan penyelenggaraan Negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Semua penyelenggara Negara itu diharapkan menjadi pelaksana UndangUndang sehingga bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN). Untuk itu, setiap Penyelenggara Negara tersebut diharapkan melaksanakan tugas penyelenggaraan Negara dengan memerhatikan asas-asas: 1. Asas Kepastian hukum, yaitu pelaksanaan fungsi-fungsi kenegaraan harus dilandasi peraturan perundang-undangan, kepatutan, dan keadilan,terutama ketika melakukan kebijakankebijakan. 2. Asas tertib Penyelenggaraan Negara, yaitu asas yang menjadi landasan keteraturan, keserasian, dan keseimbangan dalam pengendalian penyelenggaraan Negara 3. Asas keterbukaan, yaitu asas yang membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memeroleh informasi yang benar, jujur, dan tidak diskriminatif tentang penyelenggaraan negaradengan tetap memerhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi, golongan, dan rahasia Negara. 4. Asas Proporsionalitas, yaitu asas yang mengutamakan keseimbangan antara hak dan kewajiban penyelenggaraan Negara. 5. Asas Profesionalitas, yaitu asas yang mengutamakan keahlian yang berlandaskan kode etik dan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku. 6. Asas Akuntabilitas, yaitu asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir dari kegiatan penyelenggaraan Negara harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi Negara. Selain menetapkan asas-asas penyelenggaraan Negara, UU No. 28/1999 juga mengatur hak dan kewajiban penyelenggara Negara serta hubungan antara

9

Penyusunan Kerangka Kebijakan Good Governance

SCBD Kota Meda n

lembaga penyelenggara negara. Stakeholder yang lain adalah masyarakat. Undang-undang ini mengatur bagaimana peran serta masyarakat dalam mewujudkan penyelenggaraan Negara yang bebas KKN. Hak warga Negara mencakup hak memeroleh dan memberikan informasi, memeroleh pelayanan, menyampaikan saran, dan memeroleh perlindungan hukum terkait penyelenggaraan Negara oleh penyelenggara Negara. Komisi Pemeriksa juga menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan Negara yang bersih dari KKN. Komisi Pemeriksa merupakan lembaga yang independen yang langsung bertanggungjawab kepada Presiden. Fungsi utama Komisi Pemeriksa, menurut Undang-Undang, adalah memeriksa harta kekayaan penyelenggara Negara dan menerima serta meneliti pengaduan masyarakat tentang adanya tindak KKN pada penyelenggara Negara, melakukan penyelidikan dan penyidikan atas informasi dari masyarakat. Komisi Pemeriksa merupakan pemantau penyelenggara Negara agar tidak melakukan Korupsi, Kolusi dan nepotisme. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 juga mengemukakan asas-asas penyelenggaraan pemerintahan yang terdiri atas: a) b) c) d) e) f) g) h) i) Asas kepastian hukum. Asas tertib penyelenggara Negara. Asas kepentingan umum. Asas keterbukaan. Asas proporsionalitas. Asas profesionalitas. Asas akuntabilitas. Asas efisiensi, dan Asas efektivitas.

Kemunculan TAP MPR, Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah tentang penyelenggaraan Negara yang bebas korupsi, kolusi dan nepotisme dan tentang pemerintahan daerah merupakan momentum Governance di Indonesia. Semangat peraturan perundang-undangan itu selaras dengan semangat penegakan Good Governance. Tujuan dari Good Governance adalah suatu institusi Negara yang melakukan fungsi-fungsinya dengan baik dalam koridor peraturan perundang-undangan yang berlaku sekaligus bisa dimonitor oleh semua pihak dalam melakukan fungsinya. Tujuan yang lebih besar dari penerapan Good governance, dengan dilandasi etika dan moralitas pelaksananya, adalah kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Kemakmuran dan kesejahteraan rakyat merupakan cita-cita luhur bangsa Indonesia yang tercantum di pembukaan UUD 1945, namun sangat sulit dicapai karena praktik Kolusi, korupsi dan nepotisme.

1 0

Penyusunan Kerangka Kebijakan Good Governance

SCBD Kota Meda n

2.2 Etika dalam penyelenggaraan Negara yang bebas KKNEtika dalam penyelenggaraan Negara diatur melalui peraturan perundangundangan yang berlaku. Salah satu Undang-Undang yang mengatur etika dalam penyelenggaraan Negara adalah Undang-Undang Nomor. 28 Tahun1999, dimana Undang-undang ini mengatur hak dan kewajiban penyelenggara Negara dan sanksi yang diberikan apabila melanggar aturan yang sudah ditulis di Undang-undang itu. Hak penyelenggara Negara menurut Undang-undang adalah: 1. menerima gaji, tunjangan, dan fasilitas lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku; 2. menggunakan hak jawab terhadap setiap teguran, tindakan dari atasannya, ancaman hukuman, dan kritik masyarakat; 3. menyampaikan pendapat di muka umum secara bertanggungjawab sesuai dengan wewenangnya; dan 4. mendapatkan hak-hak lain sesuai perundang-undangan yang berlaku. dengan ketentuan peraturan

Sementara kewajiban setiap penyelenggara Negara adalah: 1. mengucapkan sumpah atau janji sesuai dengan agamanya sebelum memangku jabatannya. 2. bersedia diperiksa menjabat. kekayaannya sebelum, selama, dan setelah

3. melaporkan dan mengumumkan kekayaan sebelum dan setelah menjabat. 4. tidak melakukan perbuatan korupsi, kolusi, dan nepotisme. 5. melaksanakan tugas tanpa membeda-bedakan suku, agama, tas, dan golongan. 6. melaksanakan tugas dengan penuh rasa tanggungjawab dan tidak melakukan perbuatan tercela, tanpa pamrih baik untuk kepentingan pribadi, keluarga, kroni, maupun kelompok, dan tidak mengharapkan imbalan dalam bentuk apapun yang bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku; dan 7. bersedia menjadi saksi dalam perkara korupsi, kolusi, dan nepotisme serta dalam perkara lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Aturan hak dan kewajiban penyelenggara Negara ini juga dilengkapi dengan sanksi apabila tidak melaksanakan hak dan kewajiban seperti tertera dalam Undang-undang itu. Sanksi diberikan dalam bentuk sanksi administrasi, sanksi1 1

Penyusunan Kerangka Kebijakan Good Governance

SCBD Kota Meda n

pidana dan denda paling sedikit Rp. 200.000.000 dan paling banyak Rp. 1.000.000.000. Meskipun Undang-undang telah merumuskan etika yang harus diikuti penyelenggara Negara, namun sampai saat ini masih juga berlangsung Korupsi, Kolusi dan Nepotisme dalam penyelengaraan Negara di Pusat maupun di daerah. Hal ini bisa dijelaskan dari sisi etika professional dan etika individual yang sama sekali tidak mendukung (tidak selaras) dengan etika dalam organisasi. Etika individual dibentuk dari keluarga, pekerjaan, organisasi sosial atupun organisasi keagamaan. Agar etika individual selaras dengan etika sosial yang dirumuskan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku maka etika individu pemimpin organisasi sangat memengaruhi etika organisasi secara keseluruhan. Proses rekrutmen yang baik terhadap pejabat publik yang memiliki filosofi dan gaya operasi yang selaras dengan peraturan perundang-undangan akan membuat seluruh unsur organisasi akan melaksanakan aturan etika itu dengan baik. Dalam rangka pengelolaan keuangan Negara yang efektif, efisien, transparan dan akuntabel sesuai dengan Undang-Undang Nomor 1 tahun 2004, maka Pemerintah mengeluarkan PP Nomor 60 Tahun 2008 tentang sistem pengendalian intern Pemerintah. Sistem Pengendalian Intern dimaksudkan untuk mendorong pengelolaan keuangan Negara sehingga bisa mendorong ketaatan terhadap peraturan, menjaga aset pemerintah, mendorong keandalan pelaporan keuangan, dan mendorong efisiensi dan efektifitas operasi. Dengan demikian, sistem pengendalian intern diharapkan bisa menciptakan pemerintah yang bersih dan beretika serta mendorong good governance.

1 2

Penyusunan Kerangka Kebijakan Good Governance

SCBD Kota Meda n

BAB III LANDASAN KONSEPTUAL3.1 Pengertian Good GovernanceGovernance adalah sebuah kata benda yang sangat diminati dan menjadi pusat perhatian para pembuat kebijakan di institusi privat maupun publik dan para akademisi. Sudah banyak kajian yang dilakukan para ahli kebijakan publik, ahli manajemen, ahli hukum, badan pengatur atau komisi-komisi bentukan Negara atau lembaga-lembaga internasional untuk mendefenisikan kata benda yang bernama Governance. Tidak begitu jelas awal pemakaian kata governance dalam sektor privat atau sektor publik, namun menurut catatan ensiklopedia Wikipedia, Richard Eells pada tahun 1960 menggunakan kata Coorporate Governance untuk pertama sekali. Istilah Governance semakin menjadi pembahasan karena banyak skandalskandal korporasi dan skandal-skandal publik terjadi dan berdampak pada penurunan kondisi perekonomian. Skandal-skandal publik mencakup kejadiankejadian korupsi, kolusi dan nepotisme yang menyebabkan kerugian Negara, perlambatan proses pembangunan, terjadinya bencana alam dan peningkatan angka kemiskinan. Kesadaran terhadap Governance seolah-olah menyingkap kebobrokan yang selama ini tertutupi karena kekuasaan digunakan tidak mempertimbangkan kepentingan pihak-pihak lain. Sebelumnya, Kekuasaan dianggap sebagai sarana untuk memperkaya diri sendiri dan pihaknya dan seolah-oleh mengganggap Negara adalah pemimpinnya. Pelaksanaan governance secara konsisten dan berkesinambungan diharapkan semakin meningkatkan keperdulian terhadap kepentingan para pemangku kepentingan dan di sisi lain akan menurunkan kecenderungan penyalahgunaan wewenang (abuse of power) oleh pihak-pihak yang memiliki wewenang. Beberapa institusi mengajukan pengertian Governance dari sudut pandang masing-masing. Bank Dunia (Wikipedia, 2008) mendefenisikan governance sebagai berikut: the exercise of political authority and the use of institutional resources to manage society's problems and affairs Bank dunia mengartikan governance sebagai pelaksanaan otoritas politik dan penggunaan sumber daya organisasi untuk mengelola/mengatasi masalahmasalah masyarakat. Sedangkan UNDP (Loina, 2003) mendefenisikan Governance sebagai penggunaan wewenang ekonomi politik dan administrasi guna mengelola urusan-urusan negara pada semua tingkat. Tata pemerintahan mencakup seluruh mekanisme, proses dan lembaga-lembaga dimana warga dan kelompok-kelompok masyarakat mengutarakan kepentingan mereka, menggunakan hak hukum, memenuhi kewajiban dan menjembatani perbedaanperbedaan diantara mereka. Bank Dunia mengartikan Governance sebagai1 3

Penyusunan Kerangka Kebijakan Good Governance

SCBD Kota Meda n

penggunaan otoritas/wewenang politik dan pemanfaatan sumberdaya institusional untuk mengatasi masalah-masalah publik, sedangkan UNDP memandang Governance sebagai penggunaan wewenang ekonomi, politik, dan administrasi. UNDP's Regional Project on Local Governance for Latin America (Wikipedia, 2008) mendefenisikan Governance sebagai berikut: Governance has been defined as the rules of the political system to solve conflicts between actors and adopt decision (legality). It has also been used to describe the "proper functioning of institutions and their acceptance by the public" (legitimacy). And it has been used to invoke the efficacy of government and the achievement of consensus by democratic means (participation). Defenisi ini memandang governance sebagai aturan- aturan dari suatu sistem politik yang digunakan untuk mengatasi konflik antara para pelaku dalam sistem politik dan keputusan yang diadopsi. Governance juga digunakan untuk pelaksanaan fungsi-fungsi institusi publik secara baik dan penerimaan publik atas fungsi yang dijalankan institusi publik (legitimasi). Governance juga digunakan untuk menuntut keberhasilan pemerintah dan pencapaian konsensus dengan cara-cara yang demokratis (partisipasi). Dari beberapa defenisi itu bisa disimpulkan bahwa Governance merupakan aturan-aturan (sistem dan prosedur) dalam suatu sistem politik, ekonomi dan administrasi yang dapat digunakan untuk: (1) mengatasi masalahmasalah publik, (2) mengatasi konflik antara pemerintah, publik, dan peraturan-peraturan perundang-undangan, (3) pelaksanaan fungsi-fungsi atau aktivitas lembaga Negara (eksekutif, legislatif dan yudikatif) sehingga publik bisa menerima kinerja dari setiap lembaga Negara, (4) mengawasi pelaksanaan fungsi-fungsi lembaga Negara apakah sesuai dengan consensus yang sudah disepakati. Agar Governance bisa berjalan dengan baik (Good Governance) maka interaksi dari beberapa pemangku kepentingan publik (Stakeholder) sangat diperlukan. Rerangka Good Governance bisa digambarkan dengan skema sebagai berikut:

1 4

Penyusunan Kerangka Kebijakan Good Governance

SCBD Kota Meda n

Publik (Masyarakat)

ETIKA

ETIKA Institusi Publik(Eksekutif)

ETIKA

Yudikatif

Legislatif

Gambar 1: Skema Good Publik Governance Setiap institusi (Eksekutif, legislative, dan Yudikatif) harus melakukan Good Governance dengan diliputi etika dan nilai-nilai kejujuran dalam melakukan fungsi masing-masing. Tanpa etika mustahil prinsip-prinsip good governance bisa dilaksanakan. Masing-masing lembaga publik ini juga saling berhubungan dalam hal kewenangan mereka oleh undang-undang diharuskan saling bekerjasama. Hubungan antar ketiga lembaga publik harus dilandasi prinsip transparansi dan ketaatan terhadap hukum dan perundang-undangan yang berlaku. Hubungan ketiga lembaga publik ini kepada masyarakat adalah wujud dari akuntabilitas publik dan transparansi. Masyarakat juga harus tetap melakukan pemantauan terhadap aktivitas atau fungsi dari masing-masing lembaga ini. Publik diwakili oleh masyarakat individual ataupun lembagalembaga non pemerintah (Ornop/LSM) dan dunia usaha. Mekanisme ini, apabila berlangsung dengan baik, membawa perubahan dalam mekanisme kerja internal masing-masing lembaga publik. Mentalitas dilayani akan berubah menjadi pelayan publik, sehingga hantaran pelayanan kepada publik dapat berlangsung baik. Banyak istilah dan pengertian yang dikemukakan oleh para pakar, dari kalangan akademis, birokrat sampai dengan praktisi bisnis. Kata governance ini sering digabungkan dengan ungkapan lain seperti : o o o o o o Good Publik Governance; Good Government Governance; Good Nation Governance; Good Corporate Governance; Good Civil Governance; Good Local Governance.

Tiga elemen governance yang terkait dan tidak terpisahkan dalam satu sistem negara adalah elemen penyelenggara negara, elemen pelaku bisnis, dan elemen1 5

Penyusunan Kerangka Kebijakan Good Governance

SCBD Kota Meda n

masyarakat. Ketiga elemen tersebut dapat kita sebut sebagai suatu trilogi. Masing-masing elemen memiliki karakter tersendiri tetapi ketiganya tidak akan mampu berdiri dan berkembang sendiri-sendiri. Mereka mengarah pada satu tujuan yaitu kehidupan yang lebih baik bagi setiap insan.

1. Elemen Penyelenggara Negara Governance dari sudut penyelenggara negara diartikan sebagai pelaksanaan kewenangan politik, ekonomi, dan administratif untuk mengelola urusan-urusan bangsa, mengelola mekanisme, proses, dan hubungan yang kompleks antar warga negara dan kelompok-kelompok yang mengartikulasikan kepentingannya (yang menghendaki agar hak dan kewajibannya terlaksana) dan menengahi atau memfasilitasi perbedaan-perbedaan di antara mereka. Ada tiga pilar atau kaki dari good government governance (atau good governance) ini, yaitu economic governance, political governance, dan administrative governance. Economic governance ini mencakup proses pembuatan keputusan yang mempengaruhi langsung atau tidak langsung aktivitas ekonomi negara. Political governance mengacu pada proses pembuatan keputusan dan implementasi kebijakan negara secara legitimate dan authoritative. Ini terdiri dari elemen legislatif, eksekutif, dan judikatif. Administrative governance adalah sistem implementasi kebijakan yang memungkinkan sektor publik berjalan secara efisien, tidak memihak, akuntabel, dan terbuka. Seringkali orang mengutip kata good government governance (good governance) tetapi hal tersebut sebenarnya hanya mengacu pada pengertian sempit administrative governance.Hal ini dapat dimengerti karena elemen tersebut bersinggungan sangat erat dengan kehidupan bisnis dan masyarakat luas dimana komunitas bisnis dan masyarakat akan langsung merasakan dampaknya bila kebijakan sektor publik di suatu negara penuh dengan ketidak terbukaan, tidak efisien, dan tidak akuntabel. 2. Elemen Pelaku Bisnis

Pelaku bisnis dimaksud dalam hal ini adalah kumpulan perusahaan yang bergerak di berbagai bidang, baik bidang industri barang maupun jasa. Perusahaan-perusahaan tersebut memiliki pengaruh terhadap kebijakankebijakan sosial, politik, dan ekonomi yang dapat menciptakan lingkungan yang lebih kondusif bagi pasar dan perusahaan-perusahaan itu sendiri. Sejalan dengan globalisasi dimana setiap perusahaan tidak lagi kebal terhadap batasanbatasan tradisional geografis dan negara. Tuntutan dan tanggung jawab1 6

Penyusunan Kerangka Kebijakan Good Governance

SCBD Kota Meda n

perusahaan tidak lagi pada penciptaan keuntungan bagi pemilik modal saja, tetapi meluas pada bagaimana perusahaan secara seimbang memberikan nilai tambah yang berkesinambungan bagi pemegang saham dan stakeholders-nya. Governance dari sudut pelaku bisnis sering juga disebut sebagai good corporate governance (GCG) diartikan secara lengkap sebagai struktur, sistem, dan proses yang digunakan oleh organ perusahaan. Ini untuk memberikan nilai tambah perusahaan yang berkesinambungan dalam jangka panjang bagi pemegang saham, dengan tetap memperhatikan stakeholders lainnya berdasarkan peraturan perundangan dan norma yang berlaku. Mengapa GCG didefinisikan sebagai struktur, sistem, dan proses? Karena sebagai struktur GCG itu berperan mengatur hubungan antara Dewan Komisaris, Direksi, Pemegang Saham, dan Stakeholders lainnya. Sementara sebagai sistem, GCG menjadi dasar mekanisme pengecekan dan perimbangan (check and balances) kewenangan atas pengendalian perusahaan yang dapat membatasi peluang pengelolaan yang salah, dan peluang penyalahgunaan aset perusahaan. Dan sebagai proses, GCG memastikan tranparansi dalam proses perusahaan atas penentuan tujuan perusahaan, pencapaian, dan pengukuran kinerjanya. 3. Elemen Masyarakat Governance dari sudut masyarakat kadang-kadang disebut societal governance atau society saja. Masyarakat atau society terdiri atas individual maupun kelompok (baik teroganisir maupun tidak) yang berinteraksi secara sosial, politik, dan ekonomi dengan aturan formal maupun informal. Society meliputi lembaga swadaya masyarakat, organisasi profesi, dan lain-lain. Terwujudnya pembangunan manusia yang berkelanjutan bukan hanya tergantung pada negara yang mampu memerintah dengan baik dan komunitas bisnis yang mampu menyediakan pekerjaan dan penghasilan. Tetapi juga tergantung pada organisasi masyarakat sipil (civil society organizations) yang memfasilitasi interaksi sosial dan politik dan yang memobilisasi berbagai kelompok di dalam masyarakat untuk terlibat dalam aktivitas sosial, ekonomi, dan politik. Organisasi masyarakat sipil tidak hanya melakukan check and balances terhadap kewenangan kekuasaan pemerintah dan komunitas bisnis. Tetapi, mereka juga dapat memberikan kontribusi dan memperkuat kedua unsur utama yang lain tersebut.

3.2 Prinsip-prinsip Governance

(Asas-asas)

Good

Publik

Agar Good Governance bisa diterapkan, maka salah satu pilar utama adalah prinsip-prinsip dasar (asas). Prinsip-prinsip dasar berguna sebagai landasan atau pijakan bagi institusi dalam memilih aktivitas-aktivitas yang harus dilakukan dalam penerapan Good governance. Dengan berpegang pada prinsip-prinsip Good Governance di sektor publik maka berbagai aktivitas yang dilakukan institusi dapat bersinergi untuk mencapai tujuan Good Governance. Selain itu, Prinsip-Prinsip Dasar bisa menjadi sarana komunikasi bagi unsur Governance di sektor publik.1 7

Penyusunan Kerangka Kebijakan Good Governance

SCBD Kota Meda n

Setiap lembaga yang mengembangkan kebijakan Governance membuat prinsipprinsip dasar pelaksanaan Governance supaya bisa berlangsung dengan baik. Beberapa prinsip-prinsip yang melandasi Good Governance ditawarkan oleh World bank, Masyarakat Transparansi Indonesia, Asian Development Bank, The Independent Commision on Good Governance in Public Services, FIRST INTERNASIONAL CONFERENCE OF NEW RESTORED DEMOCRATIES (MANILA, JUNI 1998), Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG). 1. World Bank World bank (Loina, 2003) mengajukan prinsip-prinsip dasar Good Governance di sektor publik adalah: a. b. d. e. Masyarakat sipil yang kuat dan parsipatoris, terbuka Pembuatan Kebijakan yang bisa diprediksi Birokrasi yang professional Aturan hukum

c.Eksekutif yang bertanggungjawab

2. Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI) Menurut MTI (Loina, 2003), prinsip-prinsip dasar Good Governance di sektor publik adalah: 1. 2. 3. 4. Transparansi Akuntabilitas Kewajaran dan kesetaraan Kesinambungan

3. Asian Development Bank (ADB) Asian Development Bank mengemukakan prinsip-prinsip dasar Good Governance di sektor publik (Loina, 2003): 1. 2. 3. 4. Accountability Transparency Predictability Participation

4. The Independent Commision on Good Governance in Publik Services

1 8

Penyusunan Kerangka Kebijakan Good Governance

SCBD Kota Meda n

The Independent Commision on Good Governance in Publik Services mengemukakan prinsip-prinsip dasar Good Governance di sektor publik (Cipfa, 2008): 1. Focusing on the purpose of the authority and on outcomes for the community including citizens and services users and creating and implementing a vision for the local area 2. Members and Officers working together to achieve a common purpose with clearly definen function and roles 3. Promoting the values of the authority and demonstrating the values of good governance through behavior 4. Taking informed and transparent decisions which are subject to effective scrutiny and managing risk 5. Developing the capacity and capability of members to be effective and ensuring that officersalso have the capability and capacity to deliver effectively 6. Engaging with local people an other stakeholders to ensure robust local publik accountability. 5. FIRST INTERNASIONAL CONFERENCE OF NEW RESTORED DEMOCRATIES (MANILA, JUNI 1998) FIRST INTERNASIONAL CONFERENCE OF NEW RESTORED DEMOCRATIES (MANILA, JUNI 1998) mengemukakan prinsipprinsip dasar Good Governance di sektor publik (Nazar, 2007): 1. 2. 3. 4. 5. 6. Transparancy (Keterbukaan) Accountability (Bertanggung jawab) Eguity (Adil) Responsiveness (Cepat dan Tanggap ) Civil Society Role (Peran dan Partipasi Masyarakat ) Rule of Law ( Penegakan Hukum )

6. Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) Pada tahun 1999 didirikan Komite Nasional Kebijakan Corporate Governance (KNKCG) dan pada tahun 2004 diubah menjadi Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) yang terdiri dari Sub-Komite Publik dan Sub-Komite Korporasi. KNKCG telah menerbitkan Pedoman Umum Good Corporate Governance (Pedoman Umum GCG) pada tahun 1999. Pedoman tersebut telah beberapa kali disempurnakan, terakhir oleh KNKG pada tahun 2006.1 9

Penyusunan Kerangka Kebijakan Good Governance

SCBD Kota Meda n

Sejak Pedoman Umum GCG diterbitkan pada tahun 1999, semangat menerapkan GCG di kalangan dunia usaha dirasakan ada peningkatan. Namun, peningkatan tersebut belum efektif mengingat ketiga pilar yaitu negara, dunia usaha dan masyarakat belum menjalankan good governance sebagaimana yang diharapkan. Sementara itu secara internasional, penerapan good publik governance (GPG) merupakan salah satu prasyarat dalam rangka meningkatkan daya saing Indonesia secara global. Oleh karena itu, peningkatan pelaksanaan good publik governance merupakan hal yang sangat penting. Untuk dapat melaksanakan good governance sebagaimana diharapkan, dipandang perlu untuk melengkapi pedoman yang dapat dipakai sebagai acuan dalam pelaksanaan good governance di sektor publik. Asas Good Public Governance menurut KNKG (KNKG, 2008) adalah: 1. Demokrasi Demokrasi mengandung tiga unsur pokok yaitu partisipasi, pengakuan adanya perbedaan pendapat dan perwujudan kepentingan umum. Asas demokrasi harus diterapkan baik dalam proses memilih dan dipilih sebagai penyelenggara Negara maupun dalam proses penyelenggaraan negara. Pedoman Pelaksanaan 1.1. Pemilihan penyelenggara negara oleh rakyat dilakukan secara bertanggungjawab berdasarkan kesadaran dan pemahaman politik masyarakat. 1.2. Pemilihan penyelenggara negara oleh penyelenggara negara yang dipilih oleh rakyat, dilakukan atas dasar kepentingan negara dan masyarakat. 1.3. Penyelenggara negara harus mampu mendengar, memilah, memilih dan menyalurkan aspirasi rakyat dengan berpegang pada kepentingan negara dan masyarakat. 1.4. Penyusunan peraturan perundang-undangan dan kebijakan publik dengan mengikutsertakan partisipasi masyarakat dan dunia usaha secara bertanggungjawab (rule-making rules). 1.5 Peraturan perundang-undangan dan kebijakan publik harus disusun dalam rangka mewujudkan kepentingan umum.

1.6 Penyelenggara negara harus menerapkan prinsip partisipasi dalam melaksanakan fungsi, tugas dan kewenangannya. 2.2 0

Transparansi

Penyusunan Kerangka Kebijakan Good Governance

SCBD Kota Meda n

Tranparansi mengandung unsur pengungkapan (disclosure) dan penyediaan informasi yang memadai dan mudah diakses oleh pemangku kepentingan. Transparansi diperlukan agar pengawasan oleh masyarakat dan dunia usaha terhadap penyelenggaraan negara dapat dilakukan secara obyektif. Untuk itu, diperlukan penyediaan informasi melalui sistem informasi dan dokumentasi yang dapat diakses dengan mudah tentang pola perumusan dan isi peraturan perundang-undangan dan kebijakan publik serta pelaksanaannya oleh masing-masing lembaga negara. Transparansi juga diperlukan dalam rangka penyusunan dan penggunaan anggaran. Asas transparansi ini tidak mengurangi kewajiban lembaga negara serta penyelenggara negara untuk merahasiakan kepentingan negara sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku dan harus menolak memberikan informasi yang berkaitan dengan keselamatan negara, hak-hak pribadi dan rahasia jabatan.

Pedoman Pelaksanaan 2.1 Lembaga negara harus menyediakan informasi proses penyusunan peraturan perundang-undangan dan kebijakan publik agar masyarakat dan dunia usaha dapat berpartisipasi dalam proses penyusunannya. 2.2 Lembaga negara harus mengumumkan secara terbuka peraturan perundangundangan dan kebijakan publik agar pemangku kepentingan dapat memahami dan melaksanakannya. 2.3 Lembaga negara harus menyediakan informasi yang mudah diakses dan dipahami oleh masyarakat dan dunia usaha mengenai proses penetapan perundang-undangan dan kebijakan publik serta pelaksanaannya. 2.4 Lembaga negara juga harus menyediakan informasi mengenai penyusunan rencana strategis, program kerja dan anggaran serta pelaksanaannya. 2.5 Kelengkapan penyediaan informasi oleh lembaga negara dinilai dan diawasi oleh masyarakat sebagai bagian dari kontrol sosial. 3. Akuntabilitas

Akuntabilitas mengandung unsur kejelasan fungsi dalam organisasi dan cara mempertanggungjawabkannya. Akuntabilitas diperlukan agar setiap lembaga Negara dan penyelenggara2 1

Penyusunan Kerangka Kebijakan Good Governance

SCBD Kota Meda n

negara melaksanakan tugasnya secara bertanggungjawab. Untuk itu, setiap penyelenggara negara harus melaksanakan tugasnya secara jujur dan terukur sesuai dengan ketentuan perundang-undangan dan kebijakan publik yang berlaku serta menghindarkan penyalahgunaan wewenang. Pedoman Pokok Pelaksanaan 3.1 Lembaga negara harus menetapkan rincian fungsi, tugas serta wewenang dan tanggungjawab masing-masing penyelenggara negara yang selaras dengan visi, misi dan tujuan lembaga negara yang bersangkutan. 3.2 Lembaga negara maupun individu penyelenggara negara harus memiliki ukuran kinerja serta memastikan tercapainya kinerja tersebut. 1.3 Dalam rangka mempertanggungjawabkan kinerjanya, setiap penyelenggara negara harus melaksanakan tugasnya secara jujur serta memenuhi prinsip akuntabilitas baik yang terkait dengan kepatuhan terhadap hukum, proses pengambilan keputusan atau penetapan kebijakan maupun penyusunan dan pelaksanaan program 1.4 Pertanggungjawaban harus disampaikan secara berkala sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Untuk itu, masing-masing lembaga Negara harus memastikan adanya periode waktu pertanggungjawaban. 1.5 Lembaga negara harus menindak-lanjuti setiap keluhan atau pengaduan yang disampaikan oleh pemangku kepentingan yang disertai identitas, mengenai penyelenggaraan pelayanan kepada publik. Untuk itu, lembaga negara harus menyusun tata cara pengelolaan keluhan dan pengaduan berdasarkan prinsip penyelesaian yang cepat, tuntas dan transparan. 1.6 Lembaga negara harus melakukan evaluasi terhadap kinerja setiap penyelenggara negara secara berkala. 1.7 Pertanggungjawaban lembaga negara dan penyelenggara negara diawasi oleh masyarakat dan lembaga yang diberikan kewenangan melakukan pengawasan. 4. Budaya Hukum Budaya hukum mengandung unsur penegakan hukum (law inforcement) secara tegas tanpa pandang bulu dan ketaatan terhadap hukum oleh masyarakat berdasarkan kesadaran. Budaya Hukum harus dibangun agar lembaga negara dan penyelenggara negara dalam melaksanakan tugasnya selalu2 2

Penyusunan Kerangka Kebijakan Good Governance

SCBD Kota Meda n

didasarkan pada keyakinan untuk berpegang teguh pada ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Untuk itu, setiap lembaga negara dan penyelenggara negara berkewajiban untuk membangun sistim dan budaya hukum secara berkelanjutan baik dalam proses penyusunan dan penetapan perundang-undangan serta kebijakan publik maupun dalam pelaksanaan dan pertanggungjawabannya. Penetapan perundang-undangan dan kebijakan publik harus dilakukan atas dasar kepentingan umum dan dilaksanakan secara konsekuen. Pedoman Pelaksanaan 4.1 Penyusunan serta penetapan perundang-undangan dan kebijakan publik harus dilakukan secara terkoordinasi, dengan mengedepankan asas-asas transparansi, akuntabilitas dan perlindungan hak asasi manusia.

4.2 Peraturan perundang-undangan dan kebijakan publik harus mengandung nilai-nilai yang mendukung terwujudnya supremasi hukum demi terciptanya kepastian hukum bagi dunia usaha dan masyarakat. 4.3 Dalam melaksanakan peraturan perundang-undangan dan kebijakan publik, setiap penyelenggara negara harus menjalankan tugas dan kewajibannya secara profesional , jujur dan taat asas, sehingga terhindar dari praktek kolusi, korupsi, dan nepotisme. 4.4 Lembaga negara harus memastikan berfungsinya lembaga hukum, sumberdaya manusia dan perangkat hukum agar menjamin terwujudnya penyelenggaraan negara yang bersih dan sesuai dengan prinsip-prinsip negara hukum. Sanksi terhadap pelanggaran perundang-undangan dan kebijakan publik harus dilaksanakan secara taat asas sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 5. Kewajaran dan Kesetaraan Kewajaran dan kesetaraan mengandung unsur keadilan dan kejujuran sehingga dalam pelaksanaannya dapat diwujudkan perlakuan setara terhadap pemangku kepentingan secara bertanggungjawab. Kewajaran dan kesetaraan diperlukan untuk dapat mewujudkan pola kerja lembaga negara dan penyelenggara negara yang lebih adil dan bertanggungjawab. Kewajaran dan kesetaraan juga diperlukan agar pemangku kepentingan dan masyarakat menjadi lebih mentaati hukum dan dihindari terjadinya benturan kepentingan. Untuk mencapai tujuan tersebut, dalam melaksanakan fungsi dan tugasnya lembaga negara dan penyelenggara negara harus senantiasa memperhatikan2 3

Penyusunan Kerangka Kebijakan Good Governance

SCBD Kota Meda n

kepentingan dan memberikan pelayanan kepada masyarakat berdasarkan asas kewajaran dan kesetaraan. Pedoman Pelaksanaan 5.1 Setiap lembaga negara yang memiliki kewenangan untuk menetapkan dan atau melaksanakan peraturan perundangundangan dan kebijakan publik harus mengutamakan dan melindungi hak-hak masyarakat dengan berbasis kewajaran dan kesetaraan. 5.2 Untuk melaksanakan pelayanan kepada publik dengan berbasis kewajaran dan kesetaraan, lembaga negara beserta perangkatnya harus menerapkan standar pelayanan yang berkualitas. 5.3 Standar pelayanan yang berkualitas disusun sesuai dengan sifat dan jenis pelayanan yang diselenggarakan dengan memperhatikan lingkungan, kepentingan dan masukan dari masyarakat. 5.4 Pelaksanaan standar pelayanan yang berkualitas oleh lembaga negara dan penyelenggara negara diawasi masyarakat serta lembaga yang diberikan kewenangan melakukan pengawasan. 5.5 Setiap lembaga negara harus menerapkan kebijakan rekruitmen dan karier penyelenggara negara serta pegawai dan prajurit dalam lingkungannya, atas dasar kewajaran dan kesetaraan, tanpa membedakan agama, suku, kelompok dan golongan yang bersangkutan.

3.3 Peranan Etika Dalam Mewujudkan Good Publik Governance3.3.1 Pengertian etika Etika merupakan suatu sistem nilai atau kode yang mengarahkan perilaku individual (Gibson, 2003). Dalam konteks organisasi, etika dibutuhkan ketika individu dihadapkan pada situasi pengambilan keputusan. Etika dalam organisasi terbentuk atau produk dari etika sosial, etika professional dan etika individual (Jones, 2001). Etika sosial merupakan etika dari masyarakat dimana organisasi berada. Etika masyarakat merupakan nilai-nilai moral yang diformalkan dalam sistem hukum masyarakat, kebiasaan-kebiasaan, atau norma-norma tidak tertulis. Kebanyakan orang secara otomatis mengikuti norma dan nilai etika dimana dia tinggal karena interaksi dengan anggota masyarakat lainnya. Ketika etika sosial dikodifikasi menjadi sistem hukum, maka organisasi yang berada di masyarakat itu harus mematuhinya dan berhubungan dengan masyarakat dalam koridor hukum yang berlaku.2 4

Penyusunan Kerangka Kebijakan Good Governance

SCBD Kota Meda n

Etika Profesional merupakan nilai-nilai moral yang dikembangkan sekelompok orang-orang terlatih sama untuk mengendalikan kinerja pekerjaan atau kinerja penggunaan sumberdaya. Orang-orang menginternalisasi aturan dan nilai-nilai profesionalnya ketika melakukan pekerjaan sesuai dengan keahliannya. Beberapa organisasi memiliki beberapa kelompok karyawan professional sesuai dengan bidangnya, misalnya perawat, akuntan, peneliti, ahli hukum yang mana perilaku mereka diarahkan oleh etika professional. Biasanya, organisasi profesi membuat kode perilaku etik (ethical conduct) untuk ditaati masing-masing anggota profesi. Etika Individual merupakan nilai moral pribadi yang digunakan masing-masing orang untuk mengatur hubungannya dengan orang lain. Etika individual diperoleh melalui pendidikan sejak kecil dan berpangkal dari keluarga, teman, keanggotaan keagamaan, atau organisasi social lainnya. Perilaku etis bagi seseorang mungkin bukan perilaku etis bagi orang lain. Sepanjang perilaku seseorang tidak melanggar aturan atau tidak illegal, maka orang-orang bisa saja setuju atau tidak setuju terhadap keyakinan etikanya. Individu-individu pada umumnya akan berusaha membuat keyakinan etikanya menjadi aturan dalam organisasi, sehingga apabila seseorang melanggar aturan itu akan dikenai sanksi. Karena etika individu sangat memengaruhi tindakan seseorang dalam organisasi, maka kultur organisasi sangat dipengaruhi oleh orang yang menduduki posisi untuk menetapkan nilai-nilai etika organisasi. Etika sangat berperan dalam perjalanan organisasi sektor privat maupun sektor publik. Setiap organisasi akan selalu membuat keputusan berkaitan dengan alokasi sumberdaya organisasi sehingga mencapai tujuan organisasi. Kualitas pembuatan keputusan dalam suatu organisasi tergantung pada pemilihan tujuan dan mengidentifikasi bagaimana cara mencapai tujuan itu (Gibson, 2003). Setiap pembuatan keputusan selalu menyangkut kepentingan banyak pihak, sehingga etika sangat penting dalam pembuatan keputusan terutama ketika dihadapkan pada beberapa masalah, situasi atau kesempatan-kesempatan yang membutuhkan pilihan dari beberapa alternatif. Pembuatan keputusan manajerial menyerap beberapa isu-isu terkait dengan etika. Manajer memiliki kekuasaan dan otoritas dan ketika factor-faktor ini ada maka terjadi kecenderungan untuk salah atau benar, baik atau buruk. Beberapa indikasi yang menunjukkan keputusan manajerial terkait dengan etika adalah (Anderson, 1997 dalam Gibson, 2003): a. b. c. d. Pembuatan keputusan yang memengaruhi hidup, karir, dan kenyamanan orang Pembuatan keputusan yang melibatkan alokasi sumberdaya yang terbatas Perancangan, implementasi, dan evaluasi aturan, kebijakan, program dan prosedur Pembuat keputusan menunjukkan kepada pihak lain moral dan nilai pribadinya ketika membuat keputusan.

2 5

Penyusunan Kerangka Kebijakan Good Governance

SCBD Kota Meda n

3.3.2 Masalah-masalah Etika yang Berkembang Saat ini1 Unsur-unsur etika seperti bersikap jujur, sifat tanpa pamrih dalam saling menghargai, saling mencintai, dan saling menolong, budaya malu, kepedulian tinggi dalam memberikan pelayanan kepada publik, kerja keras, kesadaran menghargai dan melestarikan lingkungan hidup, dan lain-lain selalu muncul dalam uraian mengenai etika pemerintahan. Sebagaimana pelaksanaan dari prinsip-prinsip good governance, pelaksanaan unsur etika pemerintahan ini nampaknya masih sulit untuk diterapkan, mengingat resistensi para penyelenggara negara dan pemerintahan dewasa ini boleh dikatakan sudah membudaya. Dikatakan membudaya, karena sudah bukan merupakan barang baru lagi apabila pungli sebagai salah satu contoh perilaku etika diluar prinsip etika, masih merebak dan dianggap biasa oleh masyarakat. Hal bahwa pungli dianggap biasa oleh masyarakat dikuatkan oleh hasil survey yang dilakukan oleh Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gajah Mada (PSKK UGM), dimana kebanyakan pengguna layanan publik justru merasa lega ketika diminta membayar pungli dan mereka kebanyakannya (lebih dari 80 %) membayar sebagaimana tertera pada tabel dibawah ini:Prosentase (%) Kota 4,9 15,7 15,3 18,7

Reaksi masyarakat

Menganggap pungli sebagai hal yang wajar tetapi tidak mau bayar Marah dan menolak utk membayar Merasa lega karena dengan demikian pekerjaan akan cepat selesai Merasa keberatan tetapi tetap membayar Menganggap pungli sebagai hal yang wajar sehingga 46,8 46,5 membayarnya Sumber: Agus Dwiyanto, Mewujudkan Good Governance melalui Pelayanan Public, Gajah University Press, 2006

Desa 4,5 12,1 15,7 21

Total 4,7 13,9 15,5 19,9 46,1 Mada

Gambaran diatas menunjukan bahwa prinsip-prinsip etika seperti budaya malu sudah dikesampingkan; kepedulian dalam kewajiban melayani publik diabaikan; baru mau kerja keras bila ada pamrih; tidak adanya keseimbangan dalam pelaksanaan kewajiban warga (yang cenderung transparan) dengan pelaksanaan hak warga (yang cenderung tidak transparan); dan begitu seterusnya yang kesemuanya merupakan potret budaya kerja yang menyimpang dari prinsip-prinsip etika pemerintahan yang secara normatif telah disepakati bersama. Secara konsep, etika pemerintahan, demokrasi dan good governance sangat erat kaitannya dengan ilmu pengetahuan tentang kesusilaan atau moral. Sedangkan moral itu sendiri adalah hal-hal yang mendorong manusia untuk melakukan tindakan-tindakan yang baik sebagai kewajiban atau norma dan sebagai sarana untuk mengukur benar tidaknya tindakan manusia. Ilmu pengetahuan tentang kesusilaan atau moral juga berkaitan dengan ilmu yang mempelajari nilai-nilai yang dianut oleh manusia beserta pembenarannya serta nilai-nilai hidup dan hukum-hukum yang mengatur tingkah laku manusia.1

Bagian ini dikutip seluruhnya dari Depdagri & LAN, Dikla t Te kn is Ke pe me rin t ah an yan g Ba ik d an Et ika Pe me rin ta h , Jun i 2 00 7 2 6

Penyusunan Kerangka Kebijakan Good Governance

SCBD Kota Meda n

Moral (yang artinya cara hidup atau kebiasaan) dalam pengertiannya yang umum menaruh penekanan pada karakter dan sifat-sifat individu yang khusus di luar ketaatan pada peraturan, maka moral merujuk pada tingkah laku yang bersifat spontan, seperti rasa kasih, kemurahan hati, kebesaran jiwa, dan lain-lain. Etika berkenaan dengan moralitas yang mengandung pertimbangan-pertimbangan yang jauh lebih tinggi tentang kebenaran dan keharusan yang mempunyai sanksi-sanksi hukum yang bersifat internal seperti isyarat-isyarat verbal, rasa bersalah, sentimen atau rasa malu. Etika tidak berhenti pada tataran konsep-konsep dasar moral tetapi juga berlanjut pada bagaimana kita mengimplementasikannya. Implementasi dalam sistem politik atau organisasi publik selalu berhubungan dengan apa yang menurut mereka benar atau salah sehingga moral dalam mengekspresikan nilai-nilai tertentu yang mengekspresikan komitmen mereka terhadap mana yang benar dan mana yang salah.Dengan demikian etika adalah suatu usaha untuk menjadikan pengalaman moral individu dan masyarakat tertentu dengan cara tertentu untuk menentukan aturan-aturan yang mengatur perilaku manusia. Lembaga eksekutif sebagai institusi administrasi negara merupakan lembaga pelaksana salah satu fungsi administrasi negara. Dengan demikian pelaksanaan etika dalam pemerintahan sangat ditentuhan oleh adanya niat baik pemerintah untuk melaksanakan amanat undang-undang dan menciptakan kondisi good governance, yang diwujudkan melalui berbagai tindakan hukum di bidang administrasi negara. 3.3.3 Standar Etika Pemerintahan Untuk memberikan bobot moral pada pelaksanaan hukum perlu dibarengi dengan strategi pengembangan etika pemerintahan dalam kegiatan penyelenggaraan pemerintahan antara lain melalui: a. Penyusunan standar etika pemerintahan yang jelas dimana para aparat pemerintahan perlu mengetahui standar dan prinsip dasar yang harus mereka terapkan dalam pelaksanaan tugas mereka. b. Pencantuman standar etika dalam peraturan perundang- undangan. c. Pensosialisasian etika pemerintahan secara teratur oleh tenagatenaga profesional untuk membantu aparat pemerintah menerapkannya dalam situasi konkrit. d. Perlindungan kepada aparat pemerintah atas hak dan hewajibannya Adanya komitmen politik akan memperkuat pelaksanaan etika di kalangan aparat pemerintah. e. Pengambilan keputusan berdasar prinsip transparansi yang sejalan dengan hak publik untuk mengetahui bagaimana lembaga-lembaga publik melaksanakan kekuasaan yang dipercayakan kepada mereka. Selain itu harus difasilitasi proses-proses demokratis untuk terlaksananya sosial kontrol dan pengawasan legislatif.2 7

Penyusunan Kerangka Kebijakan Good Governance

SCBD Kota Meda n

f.

Penyediaan pedoman yang jelas untuk interaksi antara sektor publik dengan sektor swasta.

g. Pelaksanaan keteladanan dari para pernimpin dalam melaksanakan etika pemerintahan. h. Pelaksanaan komitmen dari instansi pemerintah untuk menegakkan etika dan sanksi, baik dalam kebijakan,prosedur dan tindakan. i. Pelaksanaan mekanisme akuntabilitas yang memadai yang difokuskan kepada kepatuhan pada peraturan dan prinsip-prinsip etika serta pada pencapaian hasil.

3.3.2 Nilai-nilai etika dan pedoman perilaku Untuk mewujudkan dan menjaga kredibilitas negara dan lembaga negara, pelaksanaan Good Public Governance harus dilandasi oleh nilai-nilai sebagai pegangan moral bagi penyelenggara negara, pegawai dan prajurit. Untuk itu, diperlukan etika dan pedoman perilaku yang dapat menjadi acuan bagi penyelenggara Negara dan pegawai dalam menerapkan nilai-nilai yang disepakati. Etika penyelenggara negara harus diterapkan secara konsisten dan berkelanjutan agar dapat menjadi bagian dari budaya penyelenggaraan Negara (KNKG,2008). a. Nilai-nilai menggambarkan sikap moral penyelenggara negara, pegawai dan prajurit dalam menjalankan amanah serta tanggung jawabnya dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. b. Etika merupakan acuan bagi penyelengara negara dalam melaksanakan tugasnya termasuk dalam berinteraksi dengan pemangku kepentingan dan masyarakat. c. Nilai-nilai dan etika dijabarkan lebih lanjut dalam pedoman perilaku sehingga menjadi panduan bagi penyelenggara negara, pegawai dan prajurit dalam melaksanakan tugasnya. Pedoman Pokok Pelaksanaan 1. Nilai-nilai Nilai-nilai bermakna sebagai perilaku yang dijunjung tinggi dan merupakan kekuatan organisasi mencapai tujuannya. Nilai-nilai yang menjadi pegangan moral penyelenggara negara, pegawai dan prajurit adalah integritas, professional, mengutamakan kepentingan masyarakat dan negara serta berwawasan kedepan. 1.1. Integritas Berpikir, berkata dan berperilaku yang didasari oleh kejujuran, keadilan dan disiplin.

2 8

Penyusunan Kerangka Kebijakan Good Governance

SCBD Kota Meda n

1.2. Professional. Berkomitmen untuk menyelesaikan tugasnya secara tuntas dan akurat atas dasar kompetensi yang dilaksanakan dengan penuh tanggungjawab. 1.3. Mengutamakan kepentingan masyarakat dan negara. Bekerja atas dasar semangat untuk melayani kepentingan masyarakat dan Negara diatas kepentingan pribadi, kelompok atau golongan. 1.4. Berwawasan kedepan. Berpikir kedepan untuk selalu menyempurnakan prestasi yang sejalan dengan kepentingan masyarakat dan negara. 2. Etika Penyelenggaraan Negara Etika harus diterapkan oleh setiap penyelenggara negara, baik yang menjalankan fungsi legislatif, eksekutif, yudikatif maupun lembaga non struktural. Etika juga harus diterapkan oleh pegawai dan prajurit. Etika penyelenggara negara mencakup perilaku individu, perlindungan terhadap harta milik negara, penyelenggaraan negara serta kepentingan pribadi. Untuk itu, setiap lembaga negara harus menyusun pedoman etika penyelenggaraan negara bagi jajarannya. 2.1. Perilaku individu Dalam hal perilaku individu, penyelenggara negara, pegawai dan prajurit harus: a. Menjunjung tinggi hukum, moral, memiliki harga diri dan disiplin yang kuat b. Menjaga integritas pribadi dan memiliki komitmen untuk menjaga citra dan reputasi negara c. Menyandarkan segala sesuatu dan perilaku kepada hati nurani d. Mencegah praktik diskriminasi dan menghindari pelecehan terhadap harga diri dan kondisi fisik. e. Menghindarkan diri dari segala bentuk benturan kepentingan

2.2. Perlindugan terhadap harta milik negara Dalam rangka melindungi harta milik negara, penyelenggara negara, pegawai dan prajurit harus: a. Selalu memelihara dan melindungi harta milik negara dan tidak menggunakannya untuk kepentingan pribadi, kepentingan politik dan kepentingan lain yang bertentangan dengan kepentingan negara.2 9

Penyusunan Kerangka Kebijakan Good Governance

SCBD Kota Meda n

b. Selalu menjaga hak intelektual milik negara dan mendedikasikan kompetensi yang dimilikinya untuk kepentingan negara. c. Melindungi informasi yang bersifat rahasia dan mencegahnya dari kehilangan, penyalahgunaan, kebocoran dan pencurian. d. Membuat catatan yang akurat dan lengkap tentang harta negara dan harta intelektual negara yang ada dalam pengawasannya. 2.3. Penyelenggaraan negara Untuk dapat melakukan penyelenggaraan penyelenggara Negara harus: negara secara tertib,

a. Menghindari terjadinya misrepresentasi dalam berhubungan dengan pihak lain. Untuk itu : penyelenggara negara dapat mewakili negara atau lembaga negara sesuai dengan kapasitas dan wewenangnya. penyelenggara negara yang mewakili negara atau lembaga negara harus dapat menunjukkan kewenangan hukum dan laporan yang benar. b. Dalam melaksanakan tugasnya, penyelenggara negara, pegawai dan prajurit harus: mengutamakan kepentingan masyarakat dan negara menerapkan prinsip profesionalisme, adil dan selalu beritikad baik. mencegah terjadinya KKN dan citra negatif menghindari tindakan-tindakan kesalahpahaman pihak lain c. yang dapat menimbulkan

Penyelenggaraan negara harus mempunyai pandangan jauh kedepan dan mandiri.

2.4. Kepentingan pribadi Penyelenggara negara, pegawai dan prajurit harus mengutamakan negara diatas kepentingan pribadi. Untuk itu, penyelenggara negara, pegawai dan prajurit hendaknya: a. Tidak menggunakan waktu, fasilitas, sumber daya dan peralatan negara untuk kepentingan pribadi. b. Tidak menggunakan akses, pengetahuan dan jabatannya untuk halhal yang merugikan negara. c. Bebas dari pengaruh yang memungkinkan terjadinya benturan kepentingan.

3 0

Penyusunan Kerangka Kebijakan Good Governance

SCBD Kota Meda n

d. Tidak menjadi rekanan dari lembaga negara, baik langsung maupun tidak langsung. 2.5. Pedoman etika penyelenggaraan negara Setiap lembaga negara harus menyusun pedoman perilaku bagi penyelenggara negara, pegawai dan prajurit lembaga negara yang bersangkutan. Pedoman memuat antara lain: a. b. Latar belakang, maksud dan tujuan serta landasan hukum Rumusan pedoman etika penyelenggaraan negara.

c. Ketentuan pelaksanaan yang memuat hal-hal yang harus dilakukan oleh penyelenggara negara, pegawai dan prajurit serta sanksi pelanggaran. 3. Pedoman Perilaku Pedoman perilaku mencakup panduan tentang benturan kepentingan, pemberian dan penerimaan hadiah, kepatuhan terhadap peraturan, kerahasiaan informasi, pelaksanaan kewenangan serta hak dan kewajiban dalam pengungkapan tindakan penyimpangan(whistleblower). 3.1. Benturan kepentingan a. Benturan kepentingan adalah keadaan dimana terdapat perbedaan kepentingan antara kewajiban pemenuhan tugas untuk kepentingan negara dan rakyat dengan kepentingan pribadi, keluarga, kroni, kelompok, golongan atau afialiasi lainnya. Penyelenggara negara tidak diperkenankan memegang jabatan lain yang dapat menimbulkan potensi terjadinya benturan kepentingan. Pada saat seseorang mulai menjabat, dan selama masa jabatan sebagai penyelenggara negara dalam hal ada perubahan kepentingan, harus membuat pernyataan yang meliputi tetapi tidak terbatas pada kepentingan dalam kegiatan diluar tugasnya sebagai penyelenggara negara, kepemilikan saham pada perusahaan dan kepemilikan aset serta kepentingan keuangan lainnya dari penyelengara negara yang bersangkutan serta istri/suami beserta anaknya. Dalam hal penyelenggara negara memiliki benturan kepentingan, maka penyelenggara negara tidak diperkenankan untuk turut serta, secara langsung atau tidak langsung, dalam pembahasan dan pengambilan keputusan mengenai masalah yang terkait. Penyelenggara negara tidak diperkenankan untuk menyalahgunakan informasi maupun sumberdaya milik negara untuk kepentingan diluar kepentingannya sebagai penyelenggara negara, dan menerima sesuatu dari pihak manapun yang dapat berpengaruh kepada

b. c.

d.

e.

3 1

Penyusunan Kerangka Kebijakan Good Governance

SCBD Kota Meda n

kinerjanya sebagai penyelenggara negara maupun lembaga negara dimana penyelenggara negara menjabat. f. Penyelenggara negara tidak diperkenankan untuk mengeluarkan kebijakan yang bertujuan menguntungkan kepentingan pribadi, keluarga, kroni, kelompok, golongan atau afiliasi lainnya. Penyelenggara negara tidak diperkenankan menggunakan jabatannya untuk kepentingan pribadi, keluarga, kroni, kelompok, golongan atau afiliasi lainnya. Setiap penyelenggara negara diharuskan setiap tahun membuat pernyataan tidak memiliki benturan kepentingan dan telah melaksanakan pedoman perilaku yang ditetapkan oleh lembaga negara yang bersangkutan.

g.

h.

3.2. Pemberian dan penerimaan hadiah a. Setiap penyelenggara negara, pegawai dan prajurit tidak diperkenankan meminta atau menerima sesuatu, baik langsung maupun tidak langsung, baik dalam bentuk hadiah atau jasa berupa uang, natura, maupun bentuk lainnya yang dapat menimbulkan benturan kepentingan. Dalam pengertian menerima termasuk memperoleh sesuatu sebagai ungkapan penghargaan atau ucapan terima kasih atas jasanya dalam melakukan tugas administrasi penyelenggaraan negara. b. Setiap penyelenggara negara tidak diperkenankan memberi sesuatu, baik langsung ataupun tidak langsung, baik dalam bentuk hadiah atau jasa berupa uang, natura, maupun bentuk lainnya yang dapat menimbulkan benturan kepentingan. Dalam pengertian memberi termasuk memberikan sesuatu sebagai ungkapan penghargaan atau ucapan terima kasih atas jasanya dalam menunjang tugas administrasi penyelenggaraan negara. c. Dalam situasi dimana penyelenggara negara telah menerima kemudahan ataupun menerima sesuatu oleh karena jabatannya sebagai penyelenggara negara, harus melaporkannya kepada pihak yang berwenang untuk menangani masalah tersebut di masing-masing institusi, ataupun kepada lembaga yang telah dibentuk dan ditunjuk oleh negara. d. Donasi oleh penyelenggara negara kepada partai politik, hanya boleh dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. e. Setiap penyelenggara negara diharuskan setiap tahun membuat pernyataan tidak memberikan sesuatu dan atau menerima sesuatu sebagaimana diatur pada huruf a dan b.

3 2

Penyusunan Kerangka Kebijakan Good Governance

SCBD Kota Meda n

f. Setiap pemberian suatu aset kepada lembaga negara harus diumumkan dan dicatat sebagai aset negara. 3. 3. Kepatuhan terhadap peraturan a. Penyelenggara negara, pegawai dan prajurit harus memahami dengan baik peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan fungsi dan tugasnya. b. Penyelenggara negara, pegawai dan prajurit harus melaksanakan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan fungsi dan tugasnya secara efektif dan konsisten. c. Penyelenggara negara, pegawai dan prajurit tidak diperkenankan menyalahgunakan peraturan perundang-undangan untuk kepentingan pribadi, keluarga, kroni, kelompok, golongan atau afiliasi lainnya. 3.4. Kerahasiaan informasi a. Penyelenggara negara, pegawai dan prajurit harus menjaga kerahasiaan informasi lembaga negara sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan ketentuan internal lembaga yang bersangkutan. b. Setiap penyelenggara negara, pegawai dan prajurit tidak diperkenankan menyalahgunakan informasi yang berkaitan dengan lembaga negara untuk kepentingan pribadi, keluarga, kroni, kelompok, golongan atau afiliasi lainnya. c. Setiap mantan penyelenggara negara, pegawai dan prajurit tidak diperkenankan menggunakan informasi yang diperolehnya selama menjabat sebagai penyelenggara negara sampai informasi dimaksud diklasifikasikan sebagai informasi yang tidak rahasia. d. Setiap mantan penyelenggara negara, pegawai dan prajurit tidak diperkenankan menyalahgunakan informasi rahasia yang diperolehnya selama bertugas sebagai penyelenggara negara, pegawai dan prajurit untuk kepentingan pribadi, keluarga, kroni, kelompok, golongan atau afiliasi lainnya. 3.5. Pelaksanaan kewenangan a. Setiap penyelenggara negara harus melaksanakan tugas dan kewenangannya dengan berpedoman pada asas-asas GPG. b. Setiap penyelenggara negara melaksanakan tugas dan kewenangannya sesuai dengan uraian tugas yang berlaku baginya.

3 3

Penyusunan Kerangka Kebijakan Good Governance

SCBD Kota Meda n

c. Setiap penyelenggara negara tidak diperkenankan menyalahgunakan tugas dan kewenangannya untuk kepentingan pribadi, keluarga, kroni, kelompok, golongan atau afiliasi lainnya. 3.6. Pengungkapan (whistleblower) dan pelaporan tindakan penyimpangan

a.

Penyelenggara negara harus memahami hak dan kewajibannya dalam mengungkapkan tindakan penyimpangan atau pelanggaran terhadap etika penyelenggaraan negara, yang telah terjadi ataupun yang diduga terjadi dalam penyelenggaraan negara. Lembaga negara harus menyusun suatu peraturan yang jelas dan didukung dengan prosedur yang memadai serta memungkinkan dilakukannya pelaporan terhadap tindakan penyimpangan dan mekanisme penanganan serta pihak-pihak yang bertanggung jawab dalam melakukan penanganan tersebut. Pelapor tindakan penyimpangan dapat berasal dari penyelenggara negara, pegawai dan prajurit maupun dari masyarakat. Baik penyelenggara negara, pegawai dan prajurit maupun masyarakat perlu memahami perlindungan apa yang tersedia dan diberikan kepada mereka dalam pengungkapan tindakan penyimpangan. Untuk itu, perlu disusun sebuah peraturan yang menjamin perlindungan terhadap individu yang melaporkan terjadinya tindakan penyimpangan.

b.

c.

3.4 Best Practices Good Publik Governance untuk Pemerintah DaerahGovernance di pelayanan publik selalu diamati karena kebijakan governance di sektor publik memengaruhi seluruh sektor pelayanan kepada publik. Pemerintah Daerah memiliki peran yang besar untuk menghantarkan layanan publik berkualitas tinggi, atau untuk berkomunikasi kepada publik dan dunia usaha. Peranan Pemerintah Daerah sebagai ujung tombak dalam melayani masyarakat semakin diperjelas dalam Undang-undang no. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang no.33 tahun 2004 tentang perimbangan keuangan pusat dan daerah. Kedua Undang- Undang ini memberikan wewenang yang luas kepada Pemerintah Daerah untuk memanfaatkan potensi daerah dan menggali sumberdaya-sumberdaya yang diperlukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan dalam pemberian layanan publik. Wewenang atau otoritas yang diberikan kedua Undang-Undang itu merupakan pelimpahan Governance Pemerintah kepada Pemerintah Daerah, sehingga apabila tidak dikelola dengan baik akan menyebabkan penyalahgunaan kekuasaan (abuse of powers). Good Governance memungkinkan Pemerintah Daerah mencapai visinya secara efektif dan juga menyokong visi itu dengan mekanisme kendali dan manajemen3 4

Penyusunan Kerangka Kebijakan Good Governance

SCBD Kota Meda n

risiko (Cipfa, 2008). Pemerintah Daerah yang efektif akan mengandalkan kepercayaan publik kepada Bupati/walikota dan kepala SKPD yang ditunjuk. Fungsi Good Governance meyakinkan bahwa Pemerintah daerah memenuhi tujuan mereka dan mencapai outcome yang diinginkan mereka untuk warga Negara dan pengguna jasa dan beroperasi dalam cara-cara yang ekonomi, efisien dan efektif. Good Governance akan membawa pada Good Management, Good Performance, Good Stewardship of Publik Money, Good Public Engagement, dan Good Outcomes for Citizens and services users. Beberapa panduan pelaksanaan good governance di Pemerintah Daerah adalah (KNKG, 2008): Asas Demokrasi a. Peraturan perundang-undangan dan kebijaksanaan publik yang diterbitkan dalam rangka pelaksanaan fungsi dan tugasnya, harus dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan. b. Penyusunan program kerja harus memperhatikan kepentingan umum dan dilakukan dengan melibatkan masyarakat. c. Penyelenggara negara eksekutif harus secara aktif mendorong masyarakat untuk menyampaikan pendapat atau penilaian yang berkaitan dengan pelaksanaan peraturan perundang-undangan dan program kerja. Asas Transparansi a. Rancangan peraturan perundang-undangan dan program kerja harus diumumkan secara terbuka dan luas kepada masyarakat dan disediakan dengan cara yang mudah diakses oleh masyarakat. b. Proses pembahasan peraturan perundang-undangan dan kebijaksaan publik harus terbuka untuk umum sehingga memungkinkan pemangku kepentingan berpartisipasi secara bertanggungjawab. c. Peraturan perundang-undangan dan program kerja harus disosialisasikan secara luas kepada masyarakat. d. Pelayanan publik harus dilaksanakan berdasarkan standar prosedur operasi yang diumumkan secara terbuka. Asas Akuntabilitas a. Setiap penyelenggara negara eksekutif harus memiliki rincian tugas dan kinerja yang jelas dan dapat diukur. b. Setiap penyelenggara negara eksekutif harus mempunyai pola pikir, pola sikap dan pola tindak untuk melaksanakan tugasnya dengan baik dan mempertanggungjawabkannya kepada masyarakat sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.3 5

Penyusunan Kerangka Kebijakan Good Governance

SCBD Kota Meda n

c. Setiap penyelenggara negara eksekutif harus membuat pertanggungjawaban atas pelaksanaan tugasnya dan lembaga negara yang dipimpinnya, setahun sekali. d. Setiap penyelenggara negara eksekutif tidak diperkenankan menerima pemberian dalam bentuk apapun yang dapat menimbulkan benturan kepentingan. Pelaksanaan tugas dan laporan pertanggung jawaban penyelenggara negara eksekutif harus dinilai oleh lembaga yang berwenang sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. e. Setiap penyelenggara negara eksekutif diharuskan setiap tahun membuat pernyataan tidak menerima sesuatu dari atau memberikan sesuatu kepada pihak manapun. Asas Budaya Hukum a. Peraturan perundang-undangan harus dilaksanakan atas dasar prinsip penegakan hukum secara benar, adil dan taat asas. b. Setiap penyelenggara negara eksekutif harus memastikan bahwa seluruh aparat yang dipimpinnya melaksanakan peraturan perundangundangan secara benar, adil dan taat asas. c. Setiap pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan harus dikenakan sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku secara konsisten dan konsekuen. d. Dalam melaksanakan tugas, penyelenggara negara eksekutif harus bersikap profesional, jujur dan taat asas serta menghindarkan praktek korupsi, kolusi dan nepotisme. Asas Kesetaraan dan Kewajaran a. Peraturan perundang-undangan dan pelayanan publik harus dilaksanakan bagi semua pihak, tanpa ada perbedaan dan keberpihakan serta dihindari adanya benturan kepentingan. b. Pelayanan publik harus dilaksanakan secara berkualitas dan amanah. c. Dalam melaksanakan tugasnya pejabat negara eksekutif harus mengutamakan kepentingan umum. Beberapa Pemerintah Daerah sudah menerapkan prinsip-prinsi good governance dalam pelayanan public dan pengelolaan sumberdayasumberdaya public. Beberapa contoh best practices Good Governance di Pemerintah Daerah adalah:

3 6

Penyusunan Kerangka Kebijakan Good Governance

SCBD Kota Meda n

1. Asas Demokrasi/partisipasi: a. Mempublikasikan rencana kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (selanjutnya disingkat SKPD) untuk menerima masukan dari pemangkukepentingan; melakukan penjaringan, artikulasi, dan agregasi aspirasi masyarakat dalam penyusunan rencana kerja SKPD; memfasilitasi pembentukan kelembagaan masyarakat yang berminat dan aktif memberikan masukan terhadap pelayanan publik; menerima, menindaklanjuti dan mempublikasikan setiap informasi dari masyarakat terkait keluhan/masukan dan saran sehingga dapat diakses masyarakat secara luas; membuat kotak saran dan menempatkannya pada tempat yang mudah diakses untuk menampung aspirasi pemangkukepentingan tentang pelayanan publik; membuat nomor telepon bebas pulsa dan email untuk menerima keluhan/masukan dan saran atas pelayanan publik; membuat kolom konsultasi di media massa untuk mendorong peningkatan peran serta dan partisipasi masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian suatu kebijakan; membuat formulir feed back yang dapat diisi oleh masyarakat atau perusahaan yang menerima pelayanan publik untuk mendapatkan keluhan/masukan dan saran terhadap pelayanan publik yang diselenggarakan; merencanakan, melaksanakan dan mengendalikan anggaran berdasarkan prinsip dan asas anggaran; dan apabila dianggap perlu, SKPD bisa memberikan penghargaan kepada masyarakat/kelompok masyarakat yang melaksanakan kewajibannya sebagai warga negara.

b. c. d.

e.

f. g.

h.

i. j.

2. Asas Transparansi a. b. c. d. menyediakan media informasi yang mudah diakses oleh masyarakat dan dunia usaha untuk berbagai informasi dan kebijakan pembangunan kota; mengumumkan prosedur pelayanan publik di lokasi pelayanan umum, media massa, website pemerintah daerah atau SKPD atau media-media lainnya; mengumumkan kinerja SKPD kepada masyarakat dengan cara-cara yang mudah diakses; menyediakan informasi proses penyusunan kebijakan publik agar pemangkukepentingan dapat berpartisipasi dan memberi tanggapan; dan

3 7

Penyusunan Kerangka Kebijakan Good Governance

SCBD Kota Meda n

e.

menyediakan informasi mengenai penyusunan rencana strategis, program kerja dan anggaran serta pelaksanaannya. 3. Asas Transparansi

a. b.

SKPD menyelenggarakan standar pelayanan minimum. SKPD menyelenggarakan Sistem Pengendalian Internal (SPI) meliputi lingkungan pengendalian, pemantauan risiko, aktivitas pengendalian, informasi dan komunikasi, dan pemantauan. SKPD menyelenggarakan analisis jabatan selaras dengan dengan visi, misi, tujuan dan sasaran pembangunan kota yang telah ditetapkan. SKPD maupun penyelenggara pemerintah daerah wajib memiliki target kinerja, melakukan pemantauan dan pengukuran serta mengevaluasi dan melaporkan pencapaian target kinerja yang ditetapkan. Dalam rangka mempertanggungjawabkan kinerjanya, penyelenggara pemerintah daerah melaksanakan tugas dan fungsinya secara jujur, adil, tidak diskriminatif, mengutamakan kepentingan umum serta memenuhi asas pertanggungjawaban. Pertanggungjawaban kinerja disusun dan disampaikan secara periodik kepada Walikota serta diinformasikan kepada masyarakat. SKPD menindaklanjuti keluhan/masukan, saran atau pengaduan yang disampaikan oleh pemangkukepentingan yang disertai identitas, mengenai penyelenggaraan pelayanan publik. SKPD menyusun dan menetapkan tata cara pengelolaan keluhan/masukan, saran dan pengaduan berdasarkan asas pertanggungjawaban yang cepat, tuntas dan transparan. Penyelenggara pemerintah daerah memberikan ruang bagi terselenggara dan efektifnya kontrol sosial. 4. Asas Budaya Hukum a. b. Pemerintah daerah menindaklanjuti setiap indikasi pelanggaran hukum yang dilakukan oleh penyelenggara pemerintah daerah. Pejabat struktural dan fungsional dalam batas hirarki tertentu yang ditetapkan perlu membuat komitmen untuk: Melaksanakan tugas dan fungsinya dengan baik sesuai dengan uraian jabatan yang ditetapkan; Tidak akan menerima hadiah atau pemberian apapun yang terindikasi KKN dan menyebabkan perbenturan kepentingan; dan3 8

c. d.

e.

f. g.

h.

i.

Penyusunan Kerangka Kebijakan Good Governance

SCBD Kota Meda n

Menerima sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku apabila terbukti melanggar disiplin. c. SKPD dalam ruang pelayanan publik membuat pernyataan yang berbunyi : Kami tidak menerima hadiah atau pemberian apapun yang terindikasi KKN dan bisa menimbulkan perbenturan kepentingan. d. SKPD membuat dan menempel media informasi atas sanksi administrasi, perdata maupun pidana untuk setiap penyalahgunaan kewenangan dan pelanggaran peraturan perundang-undangan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi yang diselenggarakan.

5. Asas Kesetaraan dan Kewajaran a. Manajemen sumberdaya kepegawaian diterapkan atas dasar kewajaran dan kesetaraan, tanpa membedakan agama, gender, suku, kelompok dan golongan yang bersangkutan. b. Pertimbangan sistem karir didasarkan kepada kriteria integritas dan kompetensi penyelenggara pemerintah daerah yang dapat dinilai secara wajar. c. Dalam penyelenggaraan pelayanan umum, apabila dipandang perlu, SKPD penyelenggara membuat nomor antrian urutan pelayanan kepada pengguna jasa pelayanan untuk menciptakan budaya tertib, nyaman dan kesetaraan pelayanan. d. Apabila dipandang perlu, penyediaan prasarana dan sarana pelayanan umum dapat mempertimbangkan penyediaan fasilitas untuk usia lanjut, penyandang cacat dan gender. e. Penyusunan rancangan formulasi tarif retribusi daerah memperhatikan kemampuan masyarakat dan dunia usaha untuk memastikan tidak memunculkan ekonomi biaya tinggi. f. SKPD menyusun, menetapkan dan melaksanakan Prosedur Pengoperasian Standar (standard operating procedure atau SOP) untuk mewujudkan kesetaraan dan kewajaran pelayanan umum

3 9

Penyusunan Kerangka Kebijakan Good Governance

SCBD Kota Meda n

BAB IV METODOLOGI

4.1 . Jenis PenelitianJenis penelitian yang digunakan dalam kajian ini adalah penelitian deskriptif, yaitu penelitian yang bertujuan memeroleh deskripsi data yang mampu menggambarkan komposisi dan karakteristik dari unit yang diteliti (Kuncoro, 2003).

4.2. Metode Pengumpulan Data4.2.1 Data Penelitian Metode pengumpulan data dilakukan dengan survey. Data yang dikumpulkan pada penelitian ini adalah data primer. Jenis data yang dibutuhkan adalah data kualitatif mengenai pelaksanaan good governance di Pemerintah Kota Medan dan persepsi aparatur terhadap nilai-nilai, etika dan pedoman perilaku yang mendukung pelaksanaan good governance di Pemerintah Kota Medan. 4.2.2 Instrumen penelitian Pengumpulan data primer dilakukan dengan menggunakan instrumen kuisioner. 4.2.3 Populasi penelitian Populasi yang menjadi obyek penelitian adalah seluruh SKPD yang ada di Pemerintah Kota Medan. Jumlah SKPD di Pemerintah Kota Medan sampai tahun 2008 sebanyak 57 SKPD. Untuk setiap SKPD ditetapkan 1 subyek penelitian sehingga disebarkan 57 eksemplar kuisioner untuk setiap SKPD.

4.3. Operasionalisasi Konsep/Variabela. Good Governance, yaitu suatu sistem dan prosedur untuk menjamin interaksi antara pemerintah daerah, masyarakat sipil dan dunia usaha dapat berjalan dengan baik. b. Asas-asas good governance adalah prinsip-prinsip dasar yang berguna sebagai landasan atau pijakan bagi institusi dalam memilih aktivitas-aktivitas yang harus dilakukan dalam penerapan good governance.4 0

Penyusunan Kerangka Kebijakan Good Governance

SCBD Kota Meda n

c. Etika adalah nilai-nilai sebagai pegangan moral bagi penyelenggara daerah.

4.4. Metode AnalisisAnalisis data menggunakan analisis deskriptif, yaitu dengan cara: 1. Hasil kuisioner ditabulasi untuk setiap jawaban responden. 2. Hasil tabulasi kuisioner disajikan dalam bentuk persentase dan disajikan dalam bentuk diagram. 3. Menarik kesimpulan tentang penerapan good governance di Pemerintah Kota Medan dan persepsi aparatur kota Medan tentang penerapan nilai etika dan pedoman perilaku.

4 1

Penyusunan Kerangka Kebijakan Good Governance

SCBD Kota Meda n

BAB V GAMBARAN UMUM GOOD GOVERNANCE DI PEMERINTAH KOTA MEDAN5.1. Sekilas Sejarah Kota MedanSekitar lima abad yang lalu atau tepatnya pada 1590, suatu masa yang dirujuk sebagai awal usianya, kota Medan masih berupa sebuah kampung kecil yang bernama Medan Puteri (Si Sepuluh Dua Kuta). Kampung kecil ini, yang dibuka oleh seorang bernama Guru Patimpus Sembiring Pelawi, terletak di pertemuan Sungai Babura dan Sungai Deli, yaitu dua sungai besar yang membelah kota ini. Pada perkembangan selanjutnya, keberadaan Medan dikaitkan dengan kedatangan Panglima Aceh, Gocah Pahlawan yang mendirikan beberapa negeri di tahun 1612 dan berhasil meluaskan wilayahnya hingga di Kecamatan Medan Deli saat ini. Medan akhirnya menjadi Kesultanan Deli pada tahun 1669 yang diproklamirkan oleh Panglima Perungit yang pada waktu itu memindahkan kedudukan kerajaan ayahnya Gocah Pahlawan dari Delitua menuju Kampung Medan Deli. Kemudian di Masa Sultan Deli yang ke tiga, Tuanku Panglima Paderap, pusat kerajaan Deli berada di Kampung Pulo Brayan yang berjarak sekitar 5 km di sebelah hilir kampung Medan Deli. Selanjutnya setelah masa Tuanku Panglima Pasutan (Sultan ke empat), Labuhan dijadikan pusat pemerintahan Kerajaan Deli hingga masa pemerintahan Sultan Makmun Alrasyid Perkasa Alam (1857). Pada masa periode 1862 1863, di Kampung Medan yang kecil mulai didirikan kantor-kantor perusahaan perkebunan, seperti Deli Maatschappij, seiring dengan dibukanya kebun tembakau di Deli tahun 1863. Medan mulai berkembang menjadi pusat perekonomian (Koestoro dkk 2006). Medan telah ditetapkan menjadi sebuah kotapraja pada tahun 1886 oleh Pemerintah Hindia Belanda dan didirikan berbagai perkantoran. Pada tanggal 3 Maret 1887, Medan dijadikan ibukota Keresidenan Sumatera Timur. Pada tahun 1891, kesultanan Deli berpindah ke Istana Maimoon dan pada tanggal 4 April 1909, Medan diberi status Pemerintahan Otonom. Pada tahun 1915, Keresidenan Sumatera Timur ditingkatkan kedudukannya menjadi Gubernemen, dan Gouverneur pertama adalah HJ Crijzen. Pada tahun 1937, Medan telah menjadi pusat kegiatan administrasi pemerintahan dan ekonomi (Pelly 1994 dalam Koestoro dkk 2006). Pada tah