Riset dalam Bimbingan dan Konseling di Singapura--Edit

Click here to load reader

  • date post

    10-Jun-2015
  • Category

    Documents

  • view

    2.553
  • download

    8

Embed Size (px)

description

Riset dalam Bimbungan dan Konseling , merupakan tugas presentasi dari matakuliah BK di program pasca sarjana MMP-Uksw

Transcript of Riset dalam Bimbingan dan Konseling di Singapura--Edit

PENELITIAN DALAM BIMBINGAN DAN KONSELINGLUI HAH WAH ELENA CHENG YUANSHAN LIM KAM MING

Bab ini memfokuskan pada penelitian dalam bimbingan dan konseling di lingkungan pendidikan Singapura. Bab ini mempresentasikan konsep-konsep penting, proses-proses dan metode-metode penelitian, statistik dasar, sejarah singkat penelitian lokal dalam bimbingan dan konseling, dan contoh-contoh penelitian lokal tentang berbagai aspek bimbingan dan konseling. Tujuan utama bab ini adalah untuk memberikan informasi dan bimbingan mengenai konsep-konsep dasar dan prosedur-prosedur penelitian bagi para guru-konselor yang tertarik untuk melakukan penelitian berbasis-sekolah dalam bimbingan dan konseling.TUJUAN PENELITIAN

Penelitian pada dasarnya merupakan aktivitas pemecahan masalah yang berkaitan dengan suatu isu atau perhatian, menguji hipotesis atau menjelaskan fenomena. Penelitian adalah upaya sistematis untuk meberikan jawaban atas pertanyaanpertanyaan. Penelitian mungkin memberikan jawaban-jawaban yang umum dan abstrak, seperti yang sering diberikan oleh penelitian dasar, atau mungkin memberikan jawaban-jawaban yang spesifik dan sangat konkret, seperti yang sering diberikan oleh bukti konklusif atau penelitian terapan (Tuckman, 1999; 4). Di lingkungan pendidikan, penelitian terapan digunakan untuk memeriksa kembali praktik-praktik dalam mengajar, menyelidiki proses belajar, mengevaluasi kurikulum dan program-program di sekolah, dan memberikan rekomendasi untuk perubahan-perubahan dalam kebijakan dan sistem di tingkat lokal dan nasional. Di masa sepuluh tahun yang lalu, action research (penelitian tindakan) telah menjadi populer (sangat disukai) di antara para guru-peneliti, para ahli kurikulum, para pemimpin pendidikan dan para guru-pendidik baik untuk tujuan akademik maupun tujuan profesional. Istilah action research itu diciptakan oleh Kurt Lewin pada awal 1940-an. Setelah memperoleh serangkaian pengalaman praktis, dia mengembangkan sebuah teori mengenai action research seperti sebuah spiral tahapan-tahapan yang mencakup perencanaan, pencarian fakta dan pelaksanaan. Selanjutnya, proses ini secara gradual berkembang menjadi lingkaran action research yang mencakup merencanakan, melakukan, mengamati dan merefleksikan. Action research didefinisikan sebagai suatu proses yang mempercayai perkembangan kemampuan untuk berpikir reflektif, berdiskusi, memutuskan dan kemampuan bertindak dari orang-orang biasa yang berpartisipasi dalam penelitian kolektif tentang masalah-masalah pribadi yang mereka miliki bersama (Adleman, 1993: 8). Action research di dalam pendidikan sering digunakan oleh para guru dan stakeholder (pengambil kebijakan) lainnya untuk mengumpulkan informasi mengenai belajar-mengajar di sekolah untuk tindakan reflektif dan untuk peningkatan pedagogi. Penelitian dalam bimbingan dan konseling di sekolah adalah proses ilmiah untuk menemukan atau menjelaskan apa, bagaimana dan mengapa orang melakukan, berpikir dan merasakan di dalam kelas, di dalam tutorial bimbingan dan konseling pastoral (pastoral care), di dalam aktivitas bimbingan kelompok, di dalam pertemuan konseling dan di dalam situasi-situasi lainnya. Action research di dalam bimbingan dan konseling itu bersifat proaktif dan rensponsif. Action research dapat digunakan untuk mengembangkan dan menguji program-program atau produk-produk baru untuk bimbingan dan konseling (pastoral care). Action research dapat juga digunakan untuk memerika/meninjau kembali

1

dan mengevaluasi tindakan-tindakan yang sedang dilakukan dalam bimbingan, konseling, disiplin siswa dan manajemen kasus. METODE-METODE PENELITIAN Metode penelitian pada umumnya dikelompokkan menjadi penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Penelitian kuantitatif menggunakan survei atau alat lain untuk mengumpulkan data dan ukuran-ukuran numerikal untuk menyelidiki hubungan antara atau di antara variabel-variabel, atau perbedaan di dalam kelompok-kelompok. Penelitian kualitatif menggunakan observasi dan pendekatan naratif atau deskriptif untuk mengumpulkan informasi agar dapat memahami fenomena (apa yang sedang terjadi) dan menemukan maknanya. Membandingkan kedua pendekatan itu, Linn (1986) berpendapat bahwa metode kuantitatif pada umumnya berhubungan dengan pengukuran sistematis, metode eksperimental dan metode quasi-eksperimental, analisis statistik dan model matematis. Sedangkan, metode kualitatif berhubungan dengan observasi naturalistik, studi kasus, etnografi dan laporan naratif. Namun haruslah diketahui bahwa batas-batas antara kedua metode tersebut kadang-kadang menjadi kabur/tidak jelas. Dalam praktiknya, kedua pendekatan itu saling melengkapi, bukan bertentangan, dan temuan-temuan penelitian yang didasarkan pada kedua metode tersebut biasanya memberikan kontribusi yang lebih valid dan lebih bermakna bagi praktik-praktik konseling dan pedagogik. Hal ini menjelaskan mengapa banyak peneliti menggabungkan metode kuantitatif dan kualitatif untuk menjamin kualitas dan akurasi penelitian. Metode penelitian yang paling sering digunakan oleh para peneliti lokal dalam pendidikan, bimbingan dan konseling adalah penelitian deskriptif dan korelasional. Yang kurang sering digunakan adalah studi kasus dan rancangan kuasi-eksperimental. Oleh karena keterbatasan waktu, penelitian longitudinal jarang digunakan dalam penelitian akademik. Bab ini menjelaskan beberapa dari metode penelitian yang lebih sering digunakan Penelitian Deskriptif Penelitian deskriptif menggunakan pendekatan yang berusaha untuk menjelaskan data baik dengan metode kuantitatif maupun metode kualitatif. Deskripsi kuantitatif biasanya didasarkan pada analisis statistik dari data yang dikumpulkan menurut berbagai jenis variabel. Variabel adalah karakteristik yang bisa mempunyai berbagai nilai, misalnya nilai nominal, nilai ordinal, nilai interval atau nilai rasio. Deskripsi kualitatif meliputi catatan wawancara, bagian naratif, catatan kasus, catatan diskusi kelompok, etnografi tentang perilaku tertentu, nilai, kepercayaan, kejadian, atau fenomena dalam suatu keadaan. Penelitian Korelasional Penelitian korelasional menyelidiki hubungan antara variabel-variabel. Penelitian itu mencakup perhitungan koefisien korelasi ukuran tingkat bervariasinya variabel dengan cara sama terhadap ukuran tersebut. Korelasi positif adalah korelasi dimana sebuah skor yang lebih tinggi pada 1 (satu) variabel berhubungan dengan sebuah skor yang lebih tinggi pada suatu variabel yang lain. Dalam korelasi negatif, 1 (satu) variabel bertambah sedangkan satu variabel yang lainnya berkurang. Sebagai contoh, penelitian-penelitian telah menunjukkan korelasi positif antara prestasi akademik siswa dan keyakinan terhadap kemampuan akademiknya. Para peneliti telah menemukan juga korelasi negatif antara prestasi akademik siswa dan ketidakhadiran siswa. Multi korelasi menggabungkan2

dua variabel bebas atau lebih untuk memperbaiki hubungan dengan sebuah variabel terikat. Penelitian Eksperimental Penelitian eksperimental memanipulasi satu variabel atau lebih agar dapat mengamati dan mencatat pengaruh intervensi atau perlakuan. Variabel yang dipilih oleh peneliti untuk dimanipulasi dalam sebuah eksperimen disebut variabel bebas. Variabel terikat adalah variabel dalam sebuah eksperimen yang berubah sebagai akibat dari perlakuan. Agar dapat menunjukkan pengaruh perlakuan, maka hasil pengujian terhadap sebuah kelompok kontrol digunakan untuk dibandingkan dengan hasil pengujian terhadap kelompok eksperimental. Sebagai contoh, seorang guru melibatkan sekelompok siswa dalam sebuah tes percobaan terhadap sebuah CD-ROM baru untuk olahraga fisik. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah olahraga fisik (perlakuan) dan variabel terikatnya adalah skor kebugaran fisik siswa. Para siswa yang dipilih secara acak untuk menggunakan CD-ROM ini membentuk kelompok eksperimental. Para siswa dengan jumlah yang sama, yang juga dipilih secara acak, ditetapkan sebagai kelompok kontrol yang tidak melakukan olahraga fisik. Hipotesis guru adalah bahwa skor kebugaran fisik para siswa di dalam kelompok eksperimental akan meningkat setelah menggunakan CD-ROM, sedangkan skor kebugaran fisik para siswa dalam kelompok kontrol tidak akan meningkat. Biasanya, penelitian kuasi-eksperimental hanya digunakan di dalam penelitian terapan oleh karena keterbatasan-keterbatasan untuk mengontrol variabel-variabel di dalam situasi kehidupan real, misalnya situasi kelas. Ketika menguji pengaruh dari alat bantu mengajar atau intervensi/penanganan konseling, ada banyak faktor lain yang dapat mempengaruhi hasil perlakuan. Beberapa contoh dari faktor-faktor ini adalah kemampuan siswa, pengajaran guru, dinamika kelas dan lingkungan sekolah, semua faktor tersebut tidak dapat dikontrol oleh peneliti. Bila ada perubahan yang diobservasi, kemungkinan besar peneliti tidak dapat mengklaim bahwa perlakuan itu merupakan satu-satunya penyebab perubahan, karena beberapa dari faktor-faktor lain ini bisa juga memberikan kontribusi pada perubahan tersebut. PROSES PENELITIAN Proses penelitian biasanya dimulai dengan pemilihan topik penelitian. Kemudian diikuti dengan menyatakan masalah penelitian, tujuan dan signifikansi penelitian, serta menulis pertanyaan dan hipotesis penelitian. Setelah tujuan ditetapkan, tahap berikutnya meliputi mengkaji literatur yang relevan, membuat konsep model atau rancangan penelitian, menentukan skopa penelitian (populasi dan masalah), memilih metode pengumpulan dan analisis data, merancang atau memilih instrumen untuk pengumpulan data, bekerja sesuai jadual penelitian, batas waktu dan anggaran, dan jika perlu membentuk panitia atau tim penelitian. Tahap ketiga mencakup melaksanakan rencana kegiatan, mengajukan permohonan pembiayaan jika perlu, mendapatkan ijin untuk pengumpulan data, mempredeksikan masalah-masalah etis dan melakukan survei, wawancara, diskusi kelompok fokus, studi kasus, dan seterusnya. Tahap keempat memeriksa analisis dan interpretasi data, diskusi mengenai lim