Politik islam dan masyarakat madani

25
BAB I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Indonesia merupakan sebuah Negara yang mayoritas penduduknya memeluk Agama Islam. Bahkan jumlah umat Islam di Indonesia merupakan yang terbanyak diantara negara-negara di dunia sekarang ini. dalam konteks politik, Indonesia mengalami kesulitan yang cukup serius dalam membangun hubungan politik antar Agama (Islam) dengan Negara. Hal ini juga terjadi di negara-negara lain yang mayoritas penduduknya agama Islam, seperti Maroko, Aljazair, Libia, Pakistan, dan Turki. Hubungan politik antara Islam dan Negara di negara-negara tersebut ditandai oleh ketegangan- ketegangan yang tajam, jika bukan permusuhan (Bahtiar Effendy, 1998:2). Secara umum kesulitan hubungan tersebut dapat di lihat dalam dua perdebatan pokok. Pertama, kelompok yang menghendaki adanya kaitan formal antara Islam dan negara baik dalam bentuk negara Islam, Islam sebagai agama negara, atau negara yang memberlakukan ajaran Islam. Kedua, kelompok yang menentang kaitan antara Islam dan negara dalam bentuk 1

Transcript of Politik islam dan masyarakat madani

Page 1: Politik islam dan masyarakat madani

BAB I.

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Indonesia merupakan sebuah Negara yang mayoritas penduduknya memeluk

Agama Islam. Bahkan jumlah umat Islam di Indonesia merupakan yang terbanyak

diantara negara-negara di dunia sekarang ini. dalam konteks politik, Indonesia mengalami

kesulitan yang cukup serius dalam membangun hubungan politik antar Agama (Islam)

dengan Negara. Hal ini juga terjadi di negara-negara lain yang mayoritas penduduknya

agama Islam, seperti Maroko, Aljazair, Libia, Pakistan, dan Turki. Hubungan politik

antara Islam dan Negara di negara-negara tersebut ditandai oleh ketegangan-ketegangan

yang tajam, jika bukan permusuhan (Bahtiar Effendy, 1998:2).

Secara umum kesulitan hubungan tersebut dapat di lihat dalam dua perdebatan

pokok. Pertama, kelompok yang menghendaki adanya kaitan formal antara Islam dan

negara baik dalam bentuk negara Islam, Islam sebagai agama negara, atau negara yang

memberlakukan ajaran Islam. Kedua, kelompok yang menentang kaitan antara Islam dan

negara dalam bentuk apapun. Konstruksi paradigma keagamaan yang berbeda tersebut

dapat membentuk sistem aplikasi dalam konteks politik yang berbeda pula.

Perkembangan selanjutnya muncul dua kelompok yang dikenal dengan kelompok

tradisional dan kelompok modernis. Itulah permasalahan penting ketika kita berbicara

tentang sitem negara atau sistem politik Islam.

Sementara itu, politik Islam di Indonesia sekarang diwarnai dengan implementasi

model masyarakat yang disebut “masyarakat madani”. Sejak kekuasaan Soeharto

memasuki masa-masa akhir pemerintahannya, istilah masyarakat madani cukup populer

dikalangan masyarakat Indonesia. Konsep itu lebih populer lagi setelah pemerintahan

1

Page 2: Politik islam dan masyarakat madani

Soeharto tumbang dan diganti dengan masa baru yang bertekad ingin mewujudkan

masyarakat madani di tengah-tengah masyarakat Indonesia.

Secara umum masyarakat madani sering di pahami sebagai masyarakat sipil (civil

society). Memang sejak masa reformasi, masyarakat sipil mulai mendapatkan angin segar

untuk banyak berkiprah di pemerintahan dan dapat menduduki berbagai jabatan penting

di negara ini. Namun, di sisi lain hasil yang dicapai dari pencanangan masyarakat madani

ini sudah tidak sesuai dengan prinsip awalnya. Yang tampak hanyalah kebebasan warga

sipil untuk melakukan apa saja tanpa harus memperhatikan prinsip-prinsip masyarakat

madani yang sesungguhnya, yakni yang memiliki prinsip-prinsip dasar tersendiri.

Karena itu, pada bagian ini akan di kaji apa sebenarnya politik Islam itu dab

bagaimana dasar-dasarnya serta siapa saja tokoh-tokoh yang banyak menyumbangkan

pemikirannya tentang politik Islam. Selanjutnya akan di kemukakan juga konsep

masyarakat Madinah pada masa Nabi Muhammad Saw. Dan bagaimana mewujudkan

masyarakat madani di Indonesia.

B. BATASAN MASALAH

1. Menjelaskan defenisi Politik secara umum.

2. Politik dalam perspektif Islam.

3. Menjelaskan tentang prinsip-prinsip Dasar Politik Islam.

4. Menjelaskan tentang defenisi, konsep, dan prinsip-prinsip masyarakat madani.

5. Isi dari Piagam Madinah.

2

Page 3: Politik islam dan masyarakat madani

BAB II.

PEMBAHASAN

A. DEFENISI POLITIK SECARA UMUM

Secara Etimologi (bahasa) Politik berasal dari bahasa Belanda politiek dan bahasa

Inggris politics, yang masing-masing bersumber dari bahasa Yunani τα

πολιτικά (politika - yang berhubungan dengan negara) dengan akar

katanya πολίτης (polites - warga negara) dan πόλις (polis - negara kota). kata "politik"

masih berhubungan dengan polisi, kebijakan. Kata "politis" berarti hal-hal yang

berhubungan dengan politik. Kata "politisi" berarti orang-orang yang menekuni hal

politik.

Secara Terminologi politik adalah proses pembentukan dan

pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan

keputusan, khususnya dalam negara. Pengertian ini merupakan upaya penggabungan

antara berbagai definisi yang berbeda mengenai hakikat politik yang dikenal dalam ilmu

politik. Politik adalah seni dan ilmu dalam meraih kekuasaan secara konstitusional

maupun secara nonkonstitusional.

Dari sumber lain, defenisi politik adalah (1) pengetahuan mengenai

ketatanegaraan atau kenegaraan (seperti tentang sistem pemerintahan, dasar

pemerintahan), (2) segalah urusan dan tindakan (kebijakan, siasat, dsb), (3) cara bertindak

(dalam mengatasi atau menangani suatu masalah); kebijaksanaan.

B. POLITIK DALAM PERSPEKTIF ISLAM

Politik di dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah siyasah. Oleh sebab itu, di

dalam buku-buku para ulama salafush shalih dikenal istilah siyasah syar’iyyah, misalnya.

3

Page 4: Politik islam dan masyarakat madani

Dalam Al Muhith, siyasahberakar kata sâsa - yasûsu. Dalam kalimat Sasa addawaba

yasusuha siyasatan berarti Qama ‘alaiha wa radlaha wa adabbaha (mengurusinya,

melatihnya, dan mendidiknya). Bila dikatakan sasa al amra artinya

dabbarahu (mengurusi/mengatur perkara).

Jadi, asalnya makna siyasah (politik) tersebut diterapkan pada pengurusan dan

pelatihan gembalaan. Lalu, kata tersebut digunakan dalam pengaturan urusan-urusan

manusia; dan pelaku pengurusan urusan-urusan manusia tersebut

dinamai politikus (siyasiyun). Dalam realitas bahasa Arab dikatakan bahwa ulil

amri mengurusi (yasûsu) rakyatnya saat mengurusi urusan rakyat, mengaturnya, dan

menjaganya. Begitu pula dalam perkataan orang Arab dikatakan : ‘Bagaimana mungkin

rakyatnya terpelihara (masûsah) bila pemeliharanya ngengat (sûsah)’, artinya bagaimana

mungkin kondisi rakyat akan baik bila pemimpinnya rusak seperti ngengat yang

menghancurkan kayu. Dengan demikian, politik merupakan pemeliharaan (ri’ayah),

perbaikan (ishlah), pelurusan (taqwim), pemberian arah petunjuk (irsyad), dan pendidikan

(ta`dib).

Rasulullah SAW sendiri menggunakan kata politik (siyasah) dalam sabdanya :

"Adalah Bani Israil, mereka diurusi urusannya oleh para nabi (tasusuhumul anbiya).

Ketika seorang nabi wafat, nabi yang lain datang menggantinya. Tidak ada nabi

setelahku, namun akan ada banyak para khalifah" (HR. Bukhari dan Muslim). Teranglah

bahwa politik atau siyasah itu makna awalnya adalah mengurusi urusan masyarakat.

Berkecimpung dalam politik berarti memperhatikan kondisi kaum muslimin dengan cara

menghilangkan kezhaliman penguasa pada kaum muslimin dan melenyapkan kejahatan

musuh kafir dari mereka. Untuk itu perlu mengetahui apa yang dilakukan penguasa dalam

rangka mengurusi urusan kaum muslimin, mengingkari keburukannya, menasihati

pemimpin yang mendurhakai rakyatnya, serta memeranginya pada saat terjadi kekufuran

4

Page 5: Politik islam dan masyarakat madani

yang nyata (kufran bawahan) seperti ditegaskan dalam banyak hadits terkenal. Ini adalah

perintah Allah SWT melalui Rasulullah SAW. Berkaitan dengan persoalan ini Nabi

Muhammad SAW bersabda :

"Siapa saja yang bangun pagi dengan gapaiannya bukan Allah maka ia bukanlah

(hamba) Allah, dan siapa saja yang bangun pagi namum tidak memperhatikan urusan

kaum muslimin maka ia bukan dari golongan mereka." (HR. Al Hakim).

Rasulullah ditanya oleh sahabat tentang jihad apa yang paling utama. Ia menjawab :

"Kalimat haq yang disampaikan pada penguasa" (HR. Ahmad).

Berarti secara ringkas Politik Islam memberikan pengurusan atas urusan seluruh

umat Muslim. Namun, realitas politik demikian menjadi pudar saat terjadi kebiasaan

umum masyarakat dewasa ini baik perkataan maupun perbuatannya menyimpang dari

kebenaran Islam yang dilakukan oleh mereka yang beraqidahkan sekularisme, baik dari

kalangan non muslim atau dari kalangan umat Islam. Jadilah politik disifati dengan

kedustaan, tipu daya, dan penyesatan yang dilakukan oleh para politisi maupun penguasa.

Penyelewengan para politisi dari kebenaran Islam, kezhaliman mereka kepada

masyarakat, sikap dan tindakan sembrono mereka dalam mengurusi masyarakat

memalingkan makna lurus politik tadi. Bahkan, dengan pandangan seperti itu jadilah

penguasa memusuhi rakyatnya bukan sebagai pemerintahan yang shalih dan berbuat baik.

Hal ini memicu propaganda kaum sekularis bahwa politik itu harus dijauhkan dari agama

(Islam). Sebab, orang yang paham akan agama itu takut kepada Allah SWT sehingga

tidak cocok berkecimpung dalam politik yang merupakan dusta, kezhaliman,

pengkhianatan, dan tipu daya. Cara pandang demikian, sayangnya, sadar atau tidak

memengaruhi sebagian kaum muslimin yang juga sebenarnya ikhlas dalam

memperjuangkan Islam. Padahal propaganda tadi merupakan kebenaran yang digunakan

5

Page 6: Politik islam dan masyarakat madani

untuk kebathilan (Samih ‘Athief Az Zain, As Siyasah wa As Siyasah Ad Dauliyyah, hal.

31-33). Jadi secara ringkas Islam tidak bisa dipisahkan dari politik.

C. PRINSIP-PRINSIP DASAR POLITIK ISLAM

1. Teori Politik Islam dan Tokoh-tokohnya

Sebagian pemeluk Islam mempercayai bahwa Islam mencakup cara hidup

yang total, bahkan sebagaian lagi melangkah lebih jauh dari hal ini. mereka

menekankan bahwa Islam adalah sebuah totalitas yang padu yang menawarkan

pemecahan terhadap semua masalah. Nazi Ayubi (dalam Bahtiar Effendy, 1988:7)

mengatakan bahwa umat Islam percaya akan sifat Islam yang sempurna dan

menyeluruh, sehingga menurut mereka Islam meliputi din (agama), dunya (dunia),

dan dalwah (negara). Karena itu, Islam adalah sebuah totalitas yang padu yang

menawarkan pemecahan terhadap semua masalah kehidupan. Islam harus diterima

dalam keseluruhannya dan harus di terapkan dalam kehidupan keluarga, ekonomi,

dan politik.

Pandangan seperti itu mengemuka dalam praktiknya di berbagai Negara yang

penduduknya mayoritas Islam terutama di Indonesia, namun gerakan-gerakan

mengenai pandangan yang di bawakan oleh sebagain golongan tersebut masih

bersifat eksklusif. Karena kendala bahwa di Indonesia memiliki dasar Negara

Pancasila yang mengakomodasi semua agama yang tumbuh dan berkembang di

Indonesia, sehingga sangatlah sulit untuk mengekspresikan ajaran suatu agama

(baca: Islam) dalam pentas politik secara total dan mengabaikan kepentinga

agama-agama lainnya.

Pandangan holistik terhadap Islam seperti di atas mempunyai beberapa

implikasi. Salah satunya, pandangan tersebut telah mendorong lahirnya sebuah

kecenderungan untuk memahami Islam secara “literal” yang hanya menekankan

6

Page 7: Politik islam dan masyarakat madani

dimensi luar (exterior)-nya. Kecenderungan sperti ini terkadang menyebabkan

terabaikannya dimensi “kontekstual” dan dalam (interior) dari prinsip-prinsip

Islam.

Harus diakui bahwa pemahaman Islam baik dalam masalah teologi, fikih,

maupun filsafat menunjukkan adanya variasi interpretasi (multi interpretatif). Hal

ini ditunjukkan dengan munculnya berbagai aliran (mahzab) dalam ketiga domain

Islam tersebut. Background dan pengalaman dari masing-masing pemikir sangat

mempengaruhi variasi pemikiran mereka.

Politik Islam tidak bisa dilepaskan dari sejarah Islam yang multi interpretatif

tersebut. Dari perjalanan wacana intelektual dan historis pemikiran dan praktek

politik Islam, ada beberapa pendapat yang berbeda-beda, beberapa bahkan saling

bertentangan mengenai hubungan yang sesuai antara Islam dan Negara. Dalam

satu bukunya, Islam dan Tata Negara: Ajaran, Sejarah, dan Pemikiran (1993),

Munawir Sadzali menguraikan pemikiran politik Islam dari beberapa pemikir

Muslim mulai dari masa klasik sampai dengan masa modern, seperti pemikiran

Ibnu Abi Rabi’, al-Farabi, al-Mawardi, al-Ghazali, Ibnu Taimiyah, Ibnu Khaldun

(masa klasik dan pertengahan), Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh,

Muhammad Rasyid Ridla, Ali Abdul Raziq, al-Ikhwan al-Muslimun, al-Maududi,

dan Muhammad Husain Haikal (Masa Modern).

Dari pikiran-pikiran mereka, Munawir Sadzali mengklasifikasikannya menjadi

tiga model atau aliran pemikiran. Aliran pertama berpendirian bahwa Islam

bukanlah semata-mata agama dalam pengertian barat, yakni hanya menyangkut

hubungan antara manusia dan Tuhan, akan tetapi sebaliknya Islam adalah suatu

agama yang sempurna dan lengkap dengan pengaturan bagi segalah aspek

kehidupan manusia, termasuk kehidupan ber Negara. Tokoh-tokoh utama aliran

7

Page 8: Politik islam dan masyarakat madani

ini antara lain adalah Hasan Al-Banna, Sayyid Quttub, Muhammad Rasyid Ridla,

Al-Maududi. Aliran kedua berpendirian bahwa Islam adalah agama dalam

pengertian barat, yakni agama tidak mempunyai hubungan dengan urusan

kenegaraan. Tokoh-tokoh terkemuka dari aliran ini antara lain Ahmad Lutfi

Sayyid, Ali Abdul Raziq, dan thaha Husain. Sedang aliran ketiga berpendirian

bahwa dalam islam tidak terdapat sistem ketatanegaraan, tetapi terdapat

seperangkat tata nilai etika bagi kehidupan ber Negara. Aliran ke tiga ini menolak

pendirian kedua aliran sebelumnya yang sangat ekstrim. Di antara tokoh dari

aliran ini adalah Muhammad Husain Haikal (Munawwir sadzali, 1993:1-2)

Terlepas dari ketiga bentuk aliran pemikiran di atas, kenyataannya ada dua

bentuk praktek politik Islam di negara-negara yang mayoritas penduduknya

beragama Islam, yaitu ada yang secara legal-formal menjadikan Islam sebagai

dasar Negara. Syariah (hukum Islam) di jadikan sebagai konstitusi negara.

Sebagai contih, bisa di lihat praktik politik Islam di Iran dan beberapa negara

Islam di Timur Tengah. Di samping itu, ada juga negara-negara yang tidak secara

legal-formal menjadikan islam sebagai dasar negaranya dan syariah sebagai

konstitusinya, tetapi prinsip-prinsip atau nilai-nilai Islam yang umum dan

universal ikut mewarnai praktik politik di negara-negara tersebut. Aliran ini lebih

menekankan substansi daripada bentuk Negara yang legal-formal. Indonesia

secara umum menerapkan praktik politik dengan model aturan aliran yang ke dua

dengan kekhasan yang tentunya berbeda dari negara-negara lain.

2. Prinsip-prinsip Politik Dalam Islam

rinsip-prinsip politik Islam, terutama terkait dengan kepemimpinan, di

tinjau dari perspektif Al-Quran dan Hadist bisa dijelaskan seperti berikut ini :

8

Page 9: Politik islam dan masyarakat madani

a. Tidak memilih orang kafir sebagai pemimpin (QS. An-Nisa’ (4):144), orang-

orang yahudi dan nasrani (QS. Al-Maidah (5):51-53), orang-orang yang

mempermainkan agama dan mempermainkan shalat (QS. Al-Maidah (5):56-

57), musuh Allah Swt. Dan musuh orang mukmin (QS. Al-Mumtahanah

(60):1), dan orang-orang yang lebih mencintai kekufuran dari pada iman (QS.

At-Taubah (9):23).

b. Setiap kelompok harus memilih pemimpin sebagaimana di jelaskan dalam

hadist: “jika tiga orang melakukan suatu perjalanan, angkat salah seorang di

antara mereka sebagai pemimpin” (HR. Abu Daud).

c. Pemimpin haruslah orang-orang yang dapat diterima, sebagaimana di jelaskan

dalam hadist :” sebaik-baiknya pemimpin adalah mereka yang kamu cintai dan

mencintai kamu, kamu berdoa untuk mereka dan mereka berdoa untukmu.

Seburuk-buruk pemimpinmu adalah mereka yang kamu benci dan mereka

membencimu, kamu melaknati mereka dan melaknati kamu” (HR. Muslim).

d. Pemimpin yang maha mutlak hanyalah Allah Swt. Sebagaimana di jelaskan

dalam Al-Quran: “Maha Suci Tuhan yang di tangan-nyalah segalah kerajaan

dan Dia maha kuasa atas segalah sesuatu” (QS. Al-Mulk (67):1); “dan

kepunyaan Allah lah kerajaan antar keduanya” (QS. Al-Maidah (5):18).

e. Kepemimpinan Allah Swt. Terhadap alam ini sebagian di delegasikan kepada

manusia, sesuai yang dikehendakiNya:” Katakanlah Wahai Tuhan yang

mempunyai kerajaan Engkau berikan kerajaan kepada orang yang engkau

kehendaki” (QS. Ali Imran (3):26). Status kepemimpinan manusia hanya

sebagai amanah dari Allah Swt. Yang sewaktu-waktu diberikan kepada

seseorang dan diambil dari seseorang.

9

Page 10: Politik islam dan masyarakat madani

f. Memperhatikan kepentingan kaum Muslimin. Prinsip ini di dasarkan pada

sabda Nabi Saw. : “siapa yang memimpin, sedangkan ia tidak memperhatikan

urusan kaum muslimin, tidaklah ia termasuk dalam golongan mereka” (HR.

Al-Bukhari).

D. MASYARAKAT MADANI

1. Pengertian Masyarakat Madani

Istilah ‘Madani” berasal dari bahasa Arab ‘madaniy’. Kata ‘madaniy’ berakar

pada kata kerja ‘madana’ yang artinya mendiami, tinggal, atau membangun.

Dalam bahasa Arab kata ‘madaniy’ mempunyai beberapa arti, di antaranya yang

beradab, orang kota, orang sipil, dan yang bersifat sipil atau perdata (Munawwir,

1997:1320). Dari kata ‘madana’ juga muncul kata ‘madany’ yang berarti

urbanisme (paham masyarakat kota). Secara kebetulan atau dengan sengaja bahasa

arab menangkap persamaan yang sangat esensial di antara peradaban dan

urbanisme. Dengan mengetahui makna kata ‘madani’ maka istilah masyarakat

madani ( al-mujtama’ al-madniy) secara mudah bisa dipahami sebagai masyarakat

yang beradab, masayarakat sipil, dan masyarakat yang tinggal di suatu kota atau

yang berpaham masyarakat kota yang akrab dengan masalah pluralisme. Dengan

demikian masyarakat madani merupakan suatu bentuk tatanan masyarakat yang

bercirikan hal-hal seperti itu yang tercermin dalam kehidupan bermasyarakat,

berbangsa, dan ber negara.

Istilah masyarakat madani dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah civil

society pertama kali dikemukan oleh Cicero dalam filsafat politiknya dengan

istilah societies civilis yang identik dengan negara. Dalam perkembangannya

istilah civil society dipahami sebagai organisasi-organisasi masyarakat yang

10

Page 11: Politik islam dan masyarakat madani

terutama bercirikan kesukarelaan dan kemandirian yang tinggi berhadapan dengan

negara serta keterikatan dengan nilai-nilai atau norma hukum yang dipatuhi

masyarakat.

Bangsa Indonesia berusaha untuk mencari bentuk masyarakat madani yang pada

dasarnya adalah masyarakat sipil yang demokrasi dan agamis/religius. Dalam

kaitannya pembentukan masyarakat madani di Indonesia, maka warga negara

Indonesia perlu dikembangkan untuk menjadi warga negara yang cerdas,

demokratis, dan religius dengan bercirikan imtak, kritis argumentatif, dan kreatif,

berfikir dan berperasaan secara jernih sesuai dengan aturan, menerima semangat

Bhineka Tunggal Ika, berorganisasi secara sadar dan bertanggung jawab, memilih

calon pemimpin secara jujur-adil, menyikapi mass media secara kritis dan

objektif, berani tampil dan kemasyarakatan secara profesionalis,berani dan

mampu menjadi saksi, memiliki pengertian kesejagatan, mampu dan mau silih

asah-asih-asuh antara sejawat, memahami daerah Indonesia saat ini, mengenal

cita-cita Indonesia di masa mendatang dan sebagainya.

2. Karakteristik Masyarakat Madani

Karakteristik masyarakat madani adalah sebagai berikut :

Free public sphere (ruang publik yang bebas), yaitu masyarakat memiliki

akses penuh terhadap setiap kegiatan publik, mereka berhak melakukan kegiatan

secara merdeka dalam menyampaikan pendapat, berserikat, berkumpul, serta

mempublikasikan informasikan kepada publik.

Demokratisasi, yaitu proses untuk menerapkan prinsip-prinsip demokrasi

sehingga muwujudkan masyarakat yang demokratis. Untuk menumbuhkan

demokratisasi dibutuhkan kesiapan anggota masyarakat berupa kesadaran pribadi,

11

Page 12: Politik islam dan masyarakat madani

kesetaraan, dan kemandirian serta kemampuan untuk berperilaku demokratis

kepada orang lain dan menerima perlakuan demokratis dari orang lain.

Demokratisasi dapat terwujud melalui penegakkan pilar-pilar demokrasi yang

meliputi : Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Pers yang bebas, Supermasi

Hukum, Prguruan Tinggi, Partai Politik.

Toleransi, yaitu kesediaan individu untuk menerima pandangan-

pandangan politik dan sikap sosial yang berbeda dalam masyarakat, sikap saling

menghargai dan menghormati pendapat serta aktivitas yang dilakukan oleh

orang/kelompok lain.

Pluralisme, yaitu sikap mengakui dan menerima kenyataan mayarakat

yang majemuk disertai dengan sikap tulus, bahwa kemajemukan sebagai nilai

positif dan merupakan rahmat dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Keadilan sosial (social justice), yaitu keseimbangan dan pembagian yang

proporsiaonal antara hak dan kewajiban, serta tanggung jawab individu terhadap

lingkungannya.

Partisipasi sosial, yaitu partisipasi masyarakat yang benar-benar bersih

dari rekayasa, intimidasi, ataupun intervensi penguasa/pihak lain, sehingga

masyarakat memiliki kedewasaan dan kemandirian berpolitik yang

bertanggungjawab.

Supremasi hukum, yaitu upaya untuk memberikan jaminan terciptanya

keadilan. Keadilan harus diposisikan secara netral, artinya setiap orang memiliki

kedudukan dan perlakuan hukum yang sama tanpa kecuali.

Adapun yang masih menjadi kendala dalam mewujudkan masyarakat madani di

Indonesia diantaranya :

1. Kualitas SDM yang belum memadai karena pendidikan yang belum merata

12

Page 13: Politik islam dan masyarakat madani

2. Masih rendahnya pendidikan politik masyarakat

3. Kondisi ekonomi nasional yang belum stabil pasca krisis moneter

4. Tingginya angkatan kerja yang belum terserap karena lapangan kerja yang

terbatas

5. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sepihak dalam jumlah yang besar

6. Kondisi sosial politik yang belum pulih pasca reformasi

3. Prinsip-Prinsip Dasar Masyarakat Madani

prinsip dasar masyarakat madani dalam konsep politik Islam sebenarnya di

dasarkan pada prinsip kenegaraan yang dijalankan pada masyarakat Madinah di

bawah kepemimpinan Nabi Muhammad Saw. Masyarakat madinah adalah

masyarakat yang plural yang terdiri dari berbagai suku, golongan, dan Agama.

Islam datang ke Madinah dengan bangunan konsep ketatanegaraan yang mengikat

aneka ragam suku, konflik, dan perpecahan. Islam mampu membawa perubahan

radikal dalam kehidupan individual dan sosial Madinah karena kemampuannya

mempengaruhi kualitas seluruh aspek kehidupan (al-Umari, 1995:51).

Menurut al-Umari (1995:63-120), ada beberapa prinsip dasar yang bisa di

identifikasi dalam pembentukan masyarakat Madani, dimana ke lima prinsip dasar

ini di buat oleh Nabi untuk mengatur masyarakat Madinah yang tertuang dalam

suatu piagam yang kemudian dikenal dengan piagam Madinah, di antaranya

adalah (1) adanya sistem Muakhah (persaudaraan), (2) ikatan Iman, (3) ikatan

cinta, (4) persamaan si kaya dan si miskin, dan (5) toleransi umat beragama.

Prinsip-prinsip masyarakat madani seperti itu sangat ideal untuk di terapkan di

negara dan masyrarakat manapun, tetnunya dengan penyesuaian-penyesuaian

13

Page 14: Politik islam dan masyarakat madani

denga kondisi dengan kondisi lokal dan keyakinan serta budaya yang di miliki

oleh masyarakat tersebut.

14

Page 15: Politik islam dan masyarakat madani

BAB III

KESIMPULAN

Politik dan moral. Bagi kebanyakan kita, mungkin dua kata itu terkesan kontradiktif,

saling bertentangan. Politik, pada satu sisi menurut pandanga kebanyakan orang merupakan

sesuatu yang rendah, kotor, penuh intrik, dan menghalalkan segalah cara. Sedangkan moral,

di sisi lain, merupakan sesuatu agung yang luhur.

Di tangan Imam Ali, politik dan moral adalah merupakan saudara kembar, tak

terpisahkan satu sama lain. Kepemimpinannya adalah politik, sedangkan dirinya adalah

moral. Politiknya adalah produk dari moralnya, tentunya Ali mentauladani cara berpolitik

Rasulullah Muhammad SAW. Di mata Ali “ pemerintah dan kekuasaan yang tidak

mempraktikkan kebenaran dan tidak melenyapkan kebohongan adalah makhluk terburuk di

dunia.

Masyarakat madani yang merupakan satu tatanan masyarakat ideal di tegakkan atas

dasar dua semangat, yakni semangat rabbaniyah dan semangat insaniyah. Hal lain yang di

tuntut demi tegaknya masyarakat madani adalah masalah keterbukaan dan kebersamaan serta

persamaan hak bagi semua orang untuk terlibat dalam urusan kenegaraan dan pemerintahan.

15

Page 16: Politik islam dan masyarakat madani

DAFTAR PUSTAKA

Sudrajat, Ajat dkk, 2008, Din Al-Islam “pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi

Umum”, Yogyakarta: UNY Press.

Jafri, Syed Husain Muhammad, 2003, Moralitas Politik Islam, Jakarta: Pustaka Zahra.

SUMBER DARI INTERNET

http://www.crayonpedia.org/mw/Ciri-Ciri_Masyarakat_Madani

http://id.wikipedia.org/wiki/Politik

http://id.wikipedia.org/wiki/Politik_Islam

16