Policy Paper Lembaga Pangan

download Policy Paper Lembaga Pangan

of 13

  • date post

    15-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    128
  • download

    1

Embed Size (px)

description

Policy Paper Lembaga Pangan - Indonesian Human Rights Committe For Social Justice (IHCS)

Transcript of Policy Paper Lembaga Pangan

  • 0

    POLICY PAPER

    Maret 2014

  • 1

    Tentang Kelembagaan Pangan

    Policy Paper

    Maret 2014

    Writing Panel : Gunawan

    IHCS Indonesian Human Rights Committee for Social Justice Jl. Pancoran Barat II No. 38A Pancoran Jakarta Selatan 12780 Tel : 021 32592007 Fax : 021 791 92 092 Email : ihcs@ihcs.or.id Web : www.ihcs.or.id

  • 2

    I. Pengantar

    Salah satu mandat dari Undang-Undang Pangan yang baru adalah dibentuknya lembaga yang menjalankan tugas pemerintahan di bidang pangan, yang mana pembentukan lembaga tersebut akan dilakukan melalui Peraturan Presiden. Tentunya Peraturan Presiden tentang lembaga pangan tersebut dalam upaya penyusunan perlu melakukan evaluasi atas kelembagaan negara terkait pangan, sebut saja Kementerian Pertanian, Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian, BPPOM (Badan Pengawan Peredaran Obat dan Makanan), BULOG (Badan Urusan Logistik), DKP (Dewan Ketahanan Pangan), Staf Khusus Presiden Bidang Pangan, dan lain-lain serta berbagai instansi terkait, seperti Kementerian Perdagangan, BPN (Badan Pertanahan Nasional), Kementerian Kehutanan, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Kesehatan, Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat dan Kementerian Koordinator Perekonomian. Organisasi masyarakat jauh hari sebelum Perubahan Undang-Undang No. 7 Tahun 1996 tentang Pangan masuk ke dalam agenda Prolegnas (Progam Legislasi Nasional) Tahun 2010-2014, telah memberikan gambaran problematika sektoralisme kelembagaan pangan dan usulan alternatif kelembagaan pangan.1 Di dalam konteks pengaturan hak atas pangan, kendala pemerintah adalah tidak singkronnya kebijakan bahkan terjadi situasi yang kontradiktif. Di level nasional ketidaksingkronan tersebut dapat dilihat dari: Pertama. Problem hukum. Produk peraturan perundangan yang terkait persoalan agraria pada umumnya dan pertanian serta pangan pada khususnya, justru mengakibatkan akses masyarakat kepada sumber-sumber agraria dan pangan terhalangi, tetapi justru mengintegrasikan sumber-sumber agraria dan sumber-sumber pangan dengan internasionalisasi modal lewat liberalisasi, privatisasi, dan komersialisasi yang membawa dampak alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian maupun kriminalisasi petani produsen pangan. Kedua. Tidak singkronnya badan-badan pemerintahan yang berwenang mengelola pertanahan, pertanian, perkebunan, kehutanan, pertambangan, perindustrian dan perdagangan serta keuangan. Kebijakan yang saling berbeda antara Badan Pertanahan Nasional, Kementerian Kehutanan dan Kementerian Pertanian dalam memandang Progam Pembaruan Agraria Nasional (PPAN) adalah salah satu contoh ketidaksingkronan antar instansi terkait, atau ketidaksingkronan antara Kementerian dengan Kementerian Perdagangan dalam kebijakan pangan nasional, khususnya dalam kasus impor pangan. Ketiga. Sebagai negara pihak dalam kontradiksi internasional. Di internasional telah terjadi ketidaksingkronan instrumen dan mekanisme dalam mekanisme di PBB (UN

    1 Lihat Naskah Akademik dan Legal Draft Pergantian Undang-Undang Nomor 7 Tahun 196 tentang Pangan Versi Organisasi Masyarakat, Desember 2008

  • 3

    Mechanism) di mana Indonesia turut menjadi negara peserta, yaitu antara instrumen pelindung hak atas pangan dengan instrumen pelanggar hak atas pangan. Badan-badan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa/United Nations-UN Bodies) terlibat dalam blunder ini. Intrumen konstruktif hak atas pangan meliputi satu kovenan induk, Kovenan Internasional Hak Ekonomi, Sosial, Budaya (International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights) 16 Desember 1966. Beberapa yang diinisiasi oleh FAO (Food and Agricultural Organization/Organisasi Pangan dan Pertanian), seperti World Conference on Agrarian Reform and Rural Development tahun 1979 yang melahirkan Peasants Charter, World Food Summit setiap lima tahun mulai tahun 1996, Voluntary Guidelines to Support the Progressive Realization of the Right to Adequate Food in the Context of National Food Security (Pedoman Sukarela untuk Mendukung Realisasi Progresif Pemenuhan Hak Atas Pangan secara Layak dalam Kerangka Ketahanan Pangan Nasional) tahun 2004, dan International Conference on Agrarian Reform and Rural Development tahun 2007. Ada juga Pelapor Khusus Hak Atas Pangan (Special Rapporteur on the right to food) yang dibentuk oleh Commission on Human Rights bersandar resolution 2000/10 of 17 April 2000 dan resolution 2001 0f 20 April 2001, Hak atas pangan juga muncul dalam UN Millenium Development Goals tahun 2000. Sedangkan yang destruktif dengan hak atas pangan misalnya perjanjian-perjanjian dalam WTO (World Trade Organization/Organisasi Perdagangan Internasional), proyek-proyek World Bank (Bank Dunia) dan IMF (International Monertary Fund). Mencermati situasi tersebut di atas, menjadi perlu diidentifikasikan pembagian

    tanggung-jawab instansi-instansi negara, dan masyarakat serta apa tanggung-jawab

    dari kelembagaan pangan

    Pengalokasian tanggung jawab insitusi dari lembaga-lembaga negara dan

    pemerintahan, perusahan dan usaha bisnis lainya, serta organisasi masyarakat sipil

    adalah sebagai berikut :

    Pemerintah mempunyai kewajiban untuk kerja sama internasional bantuan pangan,

    pelaporan di badan-badan PBB dan mendukung usaha-usaha provinsi, kabupaten/kota

    dan lembaga negara atau lembaga pemerintah lainya serta masyarakat dalam

    perlindungan dan pemenuhan hak atas pangan

    Pemerintah dalam setiap tingkatan harus menjaga transparansi sehingga masyarakat

    dapat mengakses informasi dan sarana bagi masyarakat memanfaatkan pengaduan

    administratif, upaya gugatan di pengadilan dan pengaduan ke Komisi Nasional Hak

    Asasi manusia.

    Aparatur pemerintahan yang terkait dengan penegakan hukum, ketertiban umum, dan

    keamanan dalam negeri hendaknya pro aktif terhadap pelanggaran hak atas pangan.

  • 4

    Pemerintah Daerah berkewajiban memaksimalkan sumber daya yang ada di wilayahnya

    guna pemenuhan hak atas pangan.

    DPR bersama pemerintah bertanggung jawab untuk menghasilkan kerangka kerja

    legislatif dalam rangka penghormatan, perlindungan dan pemenuhan hak atas pangan

    yang memberikan dasar hukum bagi pemerintah.

    Pengadilan mempunyai tanggung jawab untuk menerima kasus-kasus pelanggaran hak

    atas pangan yang diajukan masyarakat.

    Komisi Hak Asasi Manusia mempunyai tanggung jawab untuk menyelesaikan

    pengaduan-pengaduan masyarakat mengenai hak atas pangan, dan menjalankan fungsi

    pemantauan, pelaporan, mediasi serta penyadaran hak atas pangan.

    Organisasi masyarakat sipil memiliki tanggungjawab pemajuan dan pembelaan hak atas

    pangan di level nasional maupun internasional

    Perusahaan dan usaha bisnis lainnya memiliki tanggungjawab HAM, untuk itu aktivitas

    bisnis berkewajiban menghormati hak atas pangan dan aktivitas bisnisnya tidak

    menghalangi akses kepada bahan pangan yang layak

    Lembaga negara di bidang pangan memiliki tanggung-jawab : (1). Merumuskan

    kebijakan di bidang pangan, yang meliputi aspek ketersediaan, distribusi, dan konsumsi

    serta mutu, gizi, dan keamanan pangan; (2). Melakukan pemantauan dan pengawasan

    terhadap ketersediaan, distribusi, dan konsumsi serta mutu, gizi, dan keamanan

    pangan; (3). Melakukan pemberdayaan produsen pangan skala kecil: (4). Melakukan

    penyelidikan dan penyidikan terhadap pelanggaran hak atas pangan.

    Hari Kamis, tanggal 18 Oktober 2012, DPR mensahkan Undang-Undang Nomor 18

    Tahun 2012 tentang Pangan, yang mengamanatkan dibentuknya lembaga pangan, yang

    diatur di dalam beberapa pasal sebagaimana berikut di bawah ini :

    Pasal 32 (1) Pemerintah menugasi kelembagaan Pemerintah yang bergerak di bidang Pangan untuk mengelola Cadangan Pangan Pemerintah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (2) Kelembagaan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didukung dengan sarana, jaringan, dan infrastruktur secara nasional Pasal 126 Dalam hal mewujudkan Kedaulatan Pangan, Kemandirian Pangan, dan Ketahanan Pangan nasional, dibentuk lembaga Pemerintah yang menangani bidang Pangan yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. Pasal 127

  • 5

    Lembaga Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 126 mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang Pangan. Pasal 128 Lembaga Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 127 dapat mengusulkan kepada Presiden untuk memberikan penugasan khusus kepada badan usaha milik negara di bidang Pangan untuk melaksanakan produksi, pengadaan, penyimpanan, dan/atau distribusi Pangan Pokok dan Pangan lainnya yang ditetapkan oleh Pemerintah. Pasal 129 Ketentuan lebih lanjut mengenai organisasi dan tata kerja lembaga Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 126 sampai Pasal 128 diatur dengan Peraturan Presiden.

    Merespon disahkan Undang-Undang Pangan yang baru, organisasi masyarakat telah berkumpul dan menyusun pandangan guna memberikan masukan terkait lembaga pangan.2 Adapun masukannya adalah sebagai berikut :

    Tugas atau Fungsi bagi Lembaga Pangan: 1. Mengakhiri sektoralisasi, kesemerawutan dalam koordinasi kebijakan pangan; 2. Tanggung-gugat terhadap terjadinya pelanggaran hak atas pangan; 3. Menjalankan tujuan kedaulatan pangan dengan memperkuat peran perempuan dan

    produsen pangan skala kecil (masyarakat adat, petani, nelayan, peternak); 4. Memiliki kebijakan di alat produksi pangan (tanah dan air) 5. Mengaturan distribusi pangan

    Bentuk Lembaga Pangan 1. Berlandaskan pemenuhan dan perlindungan hak atas pangan warga negara; 2. Berstruktur kecil, efisien dan efektif; 3. Operasionalnya meliputi produksi, distribusi, konsumsi, informasi dan

    kampanye/pe