osteoporosis skripsi

download osteoporosis skripsi

of 44

  • date post

    07-Mar-2016
  • Category

    Documents

  • view

    6
  • download

    0

Embed Size (px)

description

osteoporosis referat, skripsi osteoporosis, referat osteoporosis

Transcript of osteoporosis skripsi

58

BAB IPENDAHULUAN

1.1 Latar BelakangOsteoporosis adalah penyakit tulang sistemik yang ditandai oleh penurunan densitas massa tulang dan perburukan mikroarsitektur tulang sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Pada tahun 2001, National Institute of health (NIH) mengajukan definisi baru osteoporosis sebagai penyakit tulang sistemik yang ditandai oleh compromised bone strength sehingga tulang mudah patah (setyohadi, 2006). Osteoporosis sering disebut sebagai the silent disease karena proses kepadatan tulang berkurang secara perlahan dan berkembang secara progresif selama bertahun-tahun tanpa menimbulkan gejala sampai terjadi patah tulang. (Hadi, 2009).Menurut WHO (1994), angka kejadian patah tulang (fraktur) akibat osteoporosis di seluruh dunia mencapai angka 1,7 juta orang dan diperkirakan angka ini akan terus meningkat hingga mencapai 6,3 juta orang pada tahun 2050 dan 71% angka kejadian ini akan terdapat di negara-negara berkembang (Tana,2005). Indonesia termasuk salah satu negara berkembang yang memiliki angka kejadian osteoporosis cukup besar. Berdasarkan analisa data yang dilakukan oleh Puslitbang Gizi Depkes pada 14 provinsi menunjukkan bahwa masalah Osteoporosis di Indonesia telah mencapai pada tingkat yang perlu diwaspadai yaitu 19,7%. Lima proviinsi dengan resiko osteoporosis lebih tinggi adalah Sumatera Selatan (27,7%). Jawa Tengah (24,02%), DI Yogyakarta (23,5%), Sumatera Utara (22,82%), Jawa Timur (21,42%), dan Kalimantan Timur (10,5%). (DepKes RI, 27 september 2004).

Pada tahun 2006, hasil analisis data dan resiko osteoporosis yang dilakukan Departemen Kesehatan RI, setiap 2 dari 5 penduduk Indonesia memiliki resiko untuk terkena osteoporosis. Hal ini lebih tinggi dari prevalensi dunia yang hanya 1 dari 3 beresiko osteoporosis (Era Baru News,2008).

Osteoporosis seringkali tidak menunjukkan gejala yang dapat cepat diketahui, sehingga diagnosisnya secara klinis sulit dilakukan. Oleh karena itulah sebagian besar penderita osteoporosis datang berobat sudah dalam tahap osteoporosis lanjut dengan gejala patah tulang, punggung yang semakin membungkuk, hilangnya tinggi badan, dan nyeri punggung.

Perlu ditegakkan secepat mungkin untuk mencegah osteoporosis. Dalam prakteknya, berarti mendeteksi rendahnya massa tulang sebelum terjadi patah tulang. Pengukuran massa tulang biasanya dilakukan pada tulang belakang, pinggul, dan pergelangan tangan. Alasan pengukuran massa tulang untuk memberi informasi kemungkinan mengalami patah tulang. Sampai saat ini densitometri adalah cara paling akurat untuk mendiagnosa osteooporosis.Terdapat beberapa faktor penyebab osteoporosis antara lain usia, jenis kelamin, riwayat keluarga, ras, indeks massa tubuh, dan penggunaan obat kortikosteroid. Penelitian Tedy Ghazali menemukan profil penderita osteoporosis pada 23 orang dengan presentase yaitu usia 50-59 tahun (40,9%), wanita (59,1%), riwayat keluarga (18,2%), daerah asal sumatera selatan (90,8%), kategori kurus (54,6%), konsumsi obat kortikosteroid (68,2%) yang dilakukan di Graha Spesialis RSUP Dr. Mohammad hoesin Palembang tahun 2009.Berdasarkan beda waktu dan subjek penelitian, maka dilakukan penelitian ini untuk memperbaharui data angka kejadian dan faktor risiko penderita osteoporosis di Graha Spesialis RSUP Dr. Mohammad hoesin Palembang.1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana deskripsi faktor resiko pada penderita osteoporosis yang berobat jalan di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang ?

1.3 Tujuan Penelitian1.3.1 Tujuan Umum

Mendeskripsikan faktor risiko pada penderita osteoporosis yang berobat jalan di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang.1.3.2 Tujuan Khusus

1. Mengetahui profil penderita osteoporosis di RSUP Dr. Mohammad hoesin Palembang.2. Mencari faktor risiko pada penderita osteoporosis di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1Manfaat secara akademikHasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan dasar ilmu pengetahuan terutama dalam hal osteoporosis.

1.4.2Manfaat secara praktis

Dengan mengetahui faktor risiko osteoporosis diharapkan penelitian ini dapat dijadikan rujukan dalam menyusun program tindakan pencegahan yang teratur dan terarah sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup dan menurunkan angka kejadian osteoporosis.

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

2.1Osteoporosis2.1.1Definisi OsteoporosisWorld Health Organization (WHO) dan konsensus ahli mendefinisikan osteoporosis sebagai penyakit yang ditandai dengan rendahnya massa tulang dan memburuknya mikrostruktural jaringan tulang, menyebabkan kerapuhan tulang sehingga meningkatkan risiko terjadinya fraktur. Dimana keadaan tersebut tidak memberikan keluhan klinis, kecuali apabila telah terjadi fraktur (Consensus development conference, 1994).

Tulang adalah jaringan yang hidup dan terus bertumbuh. Tulang mempunyai struktur, pertumbuhan dan fungsi yang unik. Bukan hanya memberi kekuatan dan membuat kerangka tubuh menjadi stabil, tulang juga terus mengalami perubahan karena berbagai stres mekanik dan terus mengalami pembongkaran, perbaikan dan pergantian sel. Untuk mempertahankan kekuatannya, tulang terus menerus mengalami proses penghancuran dan pembentukan kembali. Tulang yang sudah tua akan dirusak dan digantikan oleh tulang yang baru dan kuat. Proses ini merupakan peremajaan tulang yang akan mengalami kemunduran ketika usia semakin tua. Pembentukan tulang paling cepat terjadi pada usia akil balik atau pubertas, ketika tulang menjadi makin besar, makin panjang, makin tebal, dan makin padat yang akan mencapai puncaknya pada usia sekitar 25-30 tahun. Berkurangnya massa tulang mulai terjadi setelah usia 30 tahun, yang akan makin bertambah setelah diatas 40 tahun, dan akan berlangsung terus dengan bertambahnya usia, sepanjang hidupnya. Hal inilah yang mengakibatkan terjadinya penurunan massa tulang yang berakibat pada osteoporosis (Tandra, 2009).

2.1.2 Epidemiologi

Osteoporosis dapat dijumpai tersebar di seluruh dunia dan sampai saat ini masih merupakan masalah dalam kesehatan masyarakat terutama di negara berkembang. Di amerika serikat osteoporosis menyerang 20-25 juta penduduk, 1 diantara 2-3 wanita postmenopause dan lebih dari 50% penduduk diatas umur 75-80 tahun. Dari pasien-pasien tersebut diatas 1,5 juta mengalami fraktur setiap tahunnya, yang antara lain mengenai tulang femur bagian proksimal sebanyak 250.000 pasien dan fraktur vertebra menerang 500.000 pasien. Fraktur panggul, merupakan keadaan yang paling berat pada pasien osteoporosis dan akan mengakibatkan kematian pada sebanyak 10-15% setiap tahunnya. Lebih dari 50% pasien fraktur panggul terancam mengalami ketergantungan (tidak dapat melakukan sesuatu) sehingga 25% diantaranya memerlukan bantuan perawat terlatih.

Dari beberapa penelitian yang dilakukan, didapat bahwa satu diantara tiga wanita diatas usia 50 tahun menderita osteoporosis, penderita osteoporosis di Eropa, Jepang, Amerika Serikat sebanyak 75 juta penduduk, sedangkan China 84 juta penduduk, ada 200 juta penderita osteoporosis di seluruh dunia, dan ternyata risiko kematian akibat patah tulang pinggul sama dengan kanker payudara (Studi Cummings et al, 1989).

Di Indonesia ternyata prevalensi osteoporosis untuk umur kurang dari 70 tahun untuk wanita sebanyak 18-36%, sedangkan pria 20-27%, untuk umur diatas 70 tahun untuk wanita 53,6%, pria 38%. Lebih dari 50% keretakan osteoporosis pinggang di seluruh dunia kemungkinan terjadi di Asia pada 2050 (Yayasan Osteoporosis Internasional).

Peluang kejadian osteoporosis yang begitu tinggi yaitu satu dari tiga perempuan dan satu dari lima pria di Indonesia terserang osteoporosis atau keretakan tulang (Yayasan Osteoporosis Internasional), dua dari lima orang Indonesia memiliki risiko terkena penyakit osteoporosis (DEPKES, 2006) dan jumlah penderita osteoporosis di Indonesia jauh lebih besar dari data terkhir Depkes, yang mematok angka 19,7% dari seluruh penduduk dengan alasan perokok di negeri ini urutan ke-2 dunia setelah China. Dengan tingginya peluang tersebut, sangat diperlukan perhatian khusus untuk membuat suatu program, baik itu program pencegahan ataupun program penatalaksanaan yang baik terhadap penderita osteoporosis.

2.1.3 EtiologiOsteoporosis merupakan penyakit dengan etiologi multifaktorial, sehingga terdapat beberapa klaifikasi berdasarkan penyebabnya.

a. Osteoporosis Primer

Osteoporosis primer dapat terjadi pada tiap kelompok umur. Dihubungkan dengan faktor risiko meliputi kekurangan hormon dan kenaikan usia atau penuaan. Osteoporosis jenis ini merupakan osteoporosis yang paling sering, yaitu mencapai 80% kasus.

Terdapat beberapa tipe osteoporosis primer, yaitu :

1) Osteoporosis tipe 1 (osteoporosis pascamenopause)

Osteoporisis tipe ini terjadi akibat kurangnya hormon estrogen (hormon utama pada wanita), yang memiliki salah satu fungsi untuk membantu pengangkutan kalsium ke dalam tulang. Biasanya gejala timbul pada perempuan yang berusia antara 51-75 tahun, namun tidak menutup kemungkinan dapat muncul lebih cepat atau lebih lambat. Hal ini tergantung pada jumlah kadar estrogen pada seseorang (Michaelson, 2004).

2) Osteoporosis tipe II (osteoporosis senilis)

Osteoporosis tipe ini mungkin merupakan akibat dari kekurangan kalsium yang berhubungan dnegan usia dan ketidakseimbanagn antara kecepatan hancurnya tulang (osteoklas) dan pembentukan tulang baru (osteoblas). Senilis memiiliki arti bahwa keadaan ini hanya terjadi pada orang dengan usia lanjut, umumnya diatas 70 tahun dan 2 kali lebih sering menyerang wanita (Michaelson, 2004).3) Osteoporosis Idiopatik

Osteoporosis tipe ini merupakan jenis osteoporosis yang penyebabnya tidak diketahui. Hal ini umumnya terjadi pada anak-anak dan dewasa muda yang memiliki kadar dan fungsi hormon serta vitamin yang normal, sehingga penyebab dari kerapuhan tulang yang terjadi pada keadaan i