Mola Putra

download Mola Putra

of 31

  • date post

    30-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    84
  • download

    5

Embed Size (px)

description

asal

Transcript of Mola Putra

MOLA HIDATIDOSA PENDAHULUAN

Kejadian kehamilan pada wanita berumur 50 tahun atau lebih sangat jarang. Apabila hal tersebut terjadi, maka kehamilan biasanya berakhir dengan suatu kehamilan abnormal. Stanton memperkirakan kejadian abortus sekitar 80% pada wanita lebih dari 47 tahun dan meningkat 20 kali pada insidensi mola hidatidosa pada wanita lebih dari 45 tahun.1Penyakit trofoblastik gestasional adalah sekelompok penyakit yang berasal dari korion janin. Ini termasuk mola komplit atau parsial, tumor plasenta trofoblastik gestasional, koriokarsinoma, dan mola invasif. Kehamilan mola secara histologis ditandai dengan kelainan vili korionik yang terdiri dari proliferasi trofoblas dengan derajat bervariasi dan edema stroma vilus. Mola biasanya terletak di rongga uterus, namun kadang-kadang terletak di tuba fallopi dan bahkan ovarium. Mola hidatidosa merupakan bentuk jinak dari penyakit trofoblas gestasional dan dapat mengalami transformasi menjadi bentuk ganasnya yaitu koriokarsinoma.2Insidensi PTG di UK adalah 1,54 per 1000 kelahiran hidup. Proporsi besar kehamilan mola sebelum resolusi spontan tetapi 7-8% pasien mengalami penyakit yang persisten dan memerlukan kemoterapi.3 Mola hidatidosa merupakan penyakit trofoblas gestasional terbanyak. Frekuensi mola umumnya pada wanita di Asia lebih tinggi (1 per 120 kehamilan) daripada wanita di negara-negara Barat ( 1 per 2000 kehamilan). Karena estimasi insidensi mola hidatidosa adalah 1 per 1200 kehamilan di USA, sejumlah studi telah mendokumentasikan peningkatan risiko pada wanita usia reproduktif yang ekstrim. Walaupun wanita muda usia 15 tahun memiliki risiko yang meningkat, namun risiko terbesar pada wanita usia 50 tahun dan usia lebih tua. Sebagai tambahan, karena wanita-wanita tersebut diharapkan menjadi menopause, diagnosis kehamilan mola sering terlambat atau tertunda. Biopsi endometrium untuk mengevaluasi perdarahan perimenopause sering menjadi prosedur pertama yang dilakukan. Karena biopsi biasanya menunjukkan penyakit trofoblastik jika ada, kadang-kadang hanya ditemukan bekuan darah, debris nekrotik, desidua, atau hasil patologi lainnya. Manajemen mola hidatidosa termasuk evakuasi bedah sejalan dengan pengawasan tertutup serum level -hCG untuk evaluasi.4DEFINISIMola hidatidosa adalah plasenta dengan vili korialis yang berkembang tidak sempurna dengan gambaran adanya pembesaran, edema dan vili vesikuler sehingga menunjukkan berbagai ukuran trofoblas proliferative tidak normal. Mola hidatidosa terdiri atas: mola hidatidosa komplit dan mola hidatidosa parsial; perbedaan antara keduanya adalah berdasarkan morfologi, gambaran klinikopatologi, dan sitogenetik.5,6Mola hidatidosa digolongkan kepada GTN (Gestational Trofoblastic neoplasma).Tabel 1. Klasifikasi Penyakit Trofoblas Gestasional7

INSIDEN

Mola hidatidosa mempengaruhi 1-3 pada setiap 1000 kehamilan. Sekitar 10% mola hidatidosa bertransformasi menjadi salah satu bentuk penyakit trofoblas gestasional. Insidensi kehamilan pada wanita perimenopause sangat rendah.7 Hiroaki soma et al menyatakan bahwa insidensi mola hidatidosa pada wanita usia diatas 45 tahun sangat tinggi walaupun jumlah kehamilan pada usia tersebut rendah. Peningkatannya dapat mencapai 45 kali pada pasien usia tua. Delapan dari 27 kasus usia diatas 45 tahun berkembang kemudian menjadi keganasan. Tingkat perkembangan keganasan menjadi koriokarsinoma atau mola invasive adalah 66% pada wanita usia 45 tahun dibandingkan dengan 15% pada usia dibawah 44 tahun. Oleh karena itu, wanita berusia 45 tahun atau lebih cenderung memiliki peningkatan risiko koriokarsinoma atau mola invasive. 4,4 kali lebih tinggi.8Yen dan MacMahon menyatakan bahwa risiko mola hidatidosa pada wanita berumur 45 tahun atau lebih kira-kira 25 kali lebih tinggi daripada wanita yang berumur 40 tahun. Shiina dan Ichinoe melaporkan bahwa insidensi mola hidatidosa pada wanita lebih dari 45 tahun adalah 25 kali lebih tinggi daripada wanita berumur dibawah 34 tahun. Mereka juga menyatakan bahwa kejadian mola invasive dan koriokarsinoma setelah mola hidatidosa meningkat secara signifikan setelah usia 35 tahun. Jequier dan Winterton mengulas literature dunia dan ditemukan 106 kasus penyakit trofoblas pada wanita usia 50 tahun dan ditambah dengan 3 kasus dari mereka sendiri.1Di Asia, insiden mola hidatidosa komplit tertinggi adalah di Indonesia yaitu 1 dari 77 kehamilan dan 1 dari 57 persalinan. Di Indonesia (RS Hasan Sadikin Bandung) berturut-turut antara tahun 1971-77; 1978-83; 1988-91 adalah 16,4; 21,18 dan 10,64 per 1000 kehamilan. Insidens kehamilan mola di Asia Tenggara, Mexico dan Filipina lebih tinggi 8 kali dibandingkan dengan wanita kulit putih di Amerika Serikat. Insidens mola hidatidosa dengan janin hidup dinyatakan terjadi pada 1/20.000 1/100.000 kehamilan. Vejerslev menyatakan bahwa ada 113 laporan kehamilan dengan mola dan janin antara tahun 1903-1989. Dari 87 ibu yang ingin melanjutkan kehamilannya 36 dari bayinya selamat dengan sehat.5,6FAKTOR RESIKO Usia ibu

Risiko keganasan pada kehamilan mola meningkat seiring dengan usia ibu yang lanjut. Usia ibu yang ekstrim di yakini meningkatkan resiko terjadinya mola hidatidosa. Ibu di usia remaja dan ibu di usia 36-40 tahun memiliki resiko 2 kali lebih besar. Pasien dengan usia lebih dari 40 tahun memiliki resiko 7 kali lebih tinggi dan hal ini sering dijumpai pada wanita di usia 45 tahun. Salah satu penjelasan yang mungkin adalah karena sel telur pada wanita usia tua sering terjadi fertilisasi yang abnormal.9Berikut adalah tabel yang menggambarkan meningkatnya risiko terjadinya mola hidatidosa pada usia yang lebih tua.10Tabel 2. Hubungan antara Usia dengan Risiko Terjadinya Mola Hidatidosa10UsiaRisiko

< 20 tahun1.53

20-241.17

25-291

30-341.04

35-391.33

40-442.66

45-4924.89

>5080.76

Riwayat persalinan

Pasien dengan riwayat kehamilan yang gagal meningkatkan resiko terjadinya penyakit trofoblas ini, sebagai contoh pada pasien dengan riwayat abortus spontan pada kehamilan sebelumnya memiliki resiko 2 kali lipat untuk terkena mola hidatidosa. Sudah pasti demikian juga pada pasien dengan riwayat mola hidatidosa sebelumnya, dengan resiko kemungkinan berulang 10 kali lipat. Lebih jauh lagi, jika seorag pasien memiliki riwayat keluarga dengan mola, juga memiliki resiko tinggi mengalami mola hidatidosa.9 RasInsiden kehamilan mola beragam diantara kelompok-kelompok etnis dan biasanya tertinggi pada negara-negara Amerika Latin, Timur Tengah, dan Asia.9 Faktor lain

Pada beberapa kasus, telah diteliti kontrasepsi oral kombinasi ternyata memiliki hubungan terjadinya mola hidtidosa. Palmer 1999 dan Parazzinni 2002 menambahkan bahwa lama pengunaan jenis kontrasepsi ini juga ikut berperan. Wanita yang sedang mengunakan kontrasepsi oral kombinasi namun terjadi kehamilan, dia memiliki resiko 4 kali untuk terkena mola hidatidosa.9PATOFISIOLOGIMola hidatidosa merupakan kehamilan abnormal dimana villi korealis mengalami mengalami proliferasi dan edema. Mola hidatidosa terbagi atas mola komplit dan mola parsial. Penelitian sitogenik menunjukan adanya abnormalitas dalam perkembangan kedua jenis mola hidatidosa ini. Setelah kehamilan mola, dilaporkan risiko kehamilan mola berulang sekitar 0,-2%, meskipun satu studi di Korea dilaporkan lebih dari 3,1% (dua dari 65 wanita yang menjadi hamil). Hal ini 10-20 kali lebih tinggi daripada risiko pada populasi pada umumnya, dimana 0,1-0,2% tergantung pada regi berbeda. Setelah dua atau lebih kehamilan, risiko meningkat menjadi 5-28%. 9,11Tabel 3. Gambaran Mola Hidatidosa Komplit dan Mola Hidatidosa Parsial6

Mola Komplit

Secara klasik, mola komplit dibedakan dari mola parsial melalui kariotipenya, gambaran histologi dan gambaran klinis. Mola komplit pada umumnya memiliki karyotipe diploid yang lengkap dan 85% adalah 46XX, namun seluruh kromosomnya berasal dari paternal. Disini ovum yang kosong kromosom DNA-nya dibuahi oleh sperma yang haploid dan menduplikasi kromosomnya sendiri melalui proses miosis. Walaupun pada umumnya 46XX, namun jika terjadi pembuahan oleh 2 sperma dapat menghasilkan 46XY. Secara mikroskopik mola komplit menunjukan pembesaran, edema dari villi dan proliferasi abnormal dari trofoblas yang menyebar diseluruh plasenta. Secara makroskopik gambaran ini menunjukan perubahan villi korionik dalam kelompok vesikel dengan ukuran yang berbeda. Sehingga disebut hydatifrom mole atau seikat anggur. Pada mola komplit ini tidak dihasilkan janin atau air ketuban, yang ada hanyalah jaringan mola yang memenuhi seluruh rongga endometrium.9,12 Mola parsial

Mola parsial adalah triploid dimana berasal dari 2 set kromosom paternal dan 1 set kromosom maternal. Secara makroskopik tipe mola disertai dengan hasil konsepsi nromal yaitu embrio yang biasanya mati pada usia kehamilan 8-9 minggu. Histologi menunjukan pembengkakan villi yang sedikit dibandingkan dengan mola komplit, perubahan biasanya bersifat lokal.

Pasien dengan mola parsial memiliki gejala dan tanda yang sama dengan abortus inkomplit atau missed abortion. Gejala yang sering timbul adalah perdarahan pervaginam yang hilang timbul.9,12

Gambar 1 : Asal genetik dari mola hidatidosa9Tabel 4. Gambaran Klinikopatologis Pada Penyakit Trofoblas Gestasional13

DIAGNOSIS

Gejala & Tanda

Pada permulaannya gejala mola hidatidosa tidak seberapa berbeda dengan kehamilan biasa yaitu mual, muntah, pusing dan lain-lain, hanya saja derajat keluhannya sering lebih hebat. Selanjutnya perkembangan lebih pesat, sehingga pada umumnya besar uterus lebih besar dari umur kehamilan.

Gejala utamanya adalah pedarahan pervaginam (73 %). Pembesaran uterus & preeklampsia hanya muncul pada 4-11 % dan 1-4 % kasus. Dan kista teka lutein, hyperemesis dan hypertiroid jarang muncul. Diperkirakan sekitar 8-20 % pasien dengan mola hidatidosa komplit berkembang menjadi keganasa