Longcase Meningioma Tn D (Repaired).doc

download Longcase Meningioma Tn D (Repaired).doc

of 23

  • date post

    03-Mar-2016
  • Category

    Documents

  • view

    222
  • download

    2

Embed Size (px)

Transcript of Longcase Meningioma Tn D (Repaired).doc

BAB I

LAPORAN KASUSA. IDENTITAS PASIEN

Nama

: Tn. DUmur

: 40 TahunJenis Kelamin

: Laki-Laki

Alamat

: Agama

: Islam

Pendidikan

:

Status

: Sudah Menikah

Masuk RS

: 30 Juli 2015B. ANAMNESISAnamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal Keluhan Utama

:Lemah separuh badan 3 bulan SMRS.

Riwayat Perjalanan Penyakit :

Os mengeluhkan lemah separuh badan kiri sejak 3 bulan SMRS. Hal ini terjadi perlahan-lahan. Os juga merasakan sakit kepala hebat 6 bulan yang lalu kemudian hilang timbul hingga pasien masuk ke rumah sakit, dan sakit kepala yang terjadi tidak sembuh dengan mengkonsumsi obat sakit kepala. Sebelumnya juga pasien mengalami penurunan kesadaran 3 minggu yang lalu kemudian di rawat di RSAB selama satu minggu yaitu pada tanggal 23 Juli 2015 dan pasien mengatakan penurunan kesadaran ini baru terjadi pertama kali. Riwayat Mual (-) Muntah (-) Demam (-), Batuk (-), Pilek (-). BAB normal, BAK Normal

Riwayat Penyakit Dahulu :

Riwayat Darah Tinggi disangkal

Riwayat Trauma kepala disangkal

Riwayat mengalami sakit yang sama sebelumnya disangkal Riwayat Operasi sebelumnya (-)C. PEMERIKSAAN FISIK

Status Generalisata:

Keadaan Umum: Tampk sakit sedang, LemahKesadaran

: Compos mentis

Tekanan Darah: 120/70 mmHgNadi

: 92 x/menit

Pernapasan

: 20 x/menit

Suhu

: 370C

Kepala : Conjungtiva anemis (-/-), Sklera ikterik (-/-), pupil midriasis (-), lensa jernih, refleks cahaya (+/+)Telinga: Sekret (-/-), serumen (-/-)

Hidung: Septum di tengah, sekret (-/-), clotting (-/-)Mulut: Mukosa basah, bibir merah mudaLidah: Tidak kotorTenggorok: Tonsil tidak hiperemis, faring tidak hiperemis, dinding rata.Leher: JVP 5-2 cm H2O, trakea medial, struma (-), pembesaran KGB (-), Kaku kuduk (-) Thorax :Cor : I: Ictus cordis tidak tampak

P: Ictus cordis teraba di ICS V linea midclavikula sinistra

P: Batas jantung normal

A: BJ I-II regular, murmur (-), gallop (-)

Pulmo: I: Simetris kanan-kiri

P: Vocal fremitus Kanan=Kiri

P: Sonor di kedua lapang paru

A: Vesikuler normal, rhonki (-/-), wheezing (-/-). Abdomen :

I: Datar, tidak ada lesi kulit.

A: Bising Usus ( + ) Normal.

P: Lunak, nyeri tekan (-), H/L tidak teraba.

P: Timpani

Tulang Belakang : Tidak tampak skoliosis, kifosis, dan lordosis

Anus

: Tidak diperiksa Genitalia

: Tidak diperiksa

555443

555443

Kulit

: Kuning langsat, turgor kulit baik, tidak ikterik, tidak ada ulkus.

Ektremitas

: Akral hangat, kekuatan motorik

Status NeurologisKesadaran : GCS E4 M6 V5 = 15Kepala: Bentuk: Normosefal, Nyeri tekan : (-), Simetris : (+) Nervus Kranialis

: N. I ( Olfactorius ) : tidak ada kelainan N.II ( Opticus )

Kanan KiriTajam penglihatan :

Lapang pandang :

Baik

Baik N.III (Occulomotorius) Kanan

KiriPupil

: 3 mm 3 mmBentuk

:

bulat bulatReflek cahaya :

+ +Diplopia : - -

Strabismus : -

-Nistagmus :

-

- N.IV (Trochlearis)Pergerakan bulbus :

Normal

Normal N.V (Trigeminus) Membuka mulut :

(+)

Mengunyah :

(+)

Menggigit :

(+)

Reflek kornea:

+

- Sensibilitas muka : (+) N.VI (Abdusens) Pergerakan mata : + N.VII (Facialis)Mengerutkan dahi

: +

+ Menutup mata : (-) +Memperlihatkan gigi: +

+ N.VIII (Vestibulocochlearis) tidak dilakukan pemeriksaan N.IX (Glossopharyngeus) Perasaan lidah belakang: tidak dilakukan pemeriksaan Sensibilitas faring

: reflek batuk & muntah (+) N.X (Vagus) Arkus faring

: simetris Menelan

: NBerbicara

: N N.IX (Accesorius)Mengangkat bahu

: +Memalingkan kepala: + N.XII (hypoglossus) Pergerakan lidah

: Bebas, tidak ada lateralisasi Tremor lidah

: - Artikulasi (disatria): Jelas Deviasi

: -

Ekstremitas

Superior

Inferior

Motorik

Pergerakan

+

+

Kekuatan

5/4

5/4

Tonus

+ +

Trofi

E

E

Reflek fisiologis

+ N

+ N

Reflek Patologis

(-)

(-) Klonus

Sensibilitas

Superior

Inferior

Nyeri

+

+

Taktil

+

+

Thermal

tidak dilakukan tidak dilakukan

Lokasi

+

+

Sensibilitas : dalam batas normal

Vegetatif : Miksi: dalam batas normal

Defekasi: dalam batas normal

Gerakan-gerakan abnormal

:

Tremor

: (-)

Athetosis

: (-)

Miokloni

: (-)

Khorea

: (-)

Tanda Rangsang Meningeal

: Kaku kuduk

: (-)

Perasat Brudzinski I: (-)

Perasat Brudzinski II: (-)

Perasat Kernig

: (-)

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG : Hasil Laboratorium Darah Lengkap:HGB

: 16.4 g/dlRBC

: 5.31 106/mm3

HCT

: 47.3 %WBC

: 17.72 H 103/mm3

PLT

: 301 H 103/mm3

GDS

: 110 mg/dl

LED

: 7 mm/jam

E. DIAGNOSA : SOL susp Meningioma F. PEMERIKSAAN ANJURAN : CT-Scan KepalaG. PENATALAKSANAAN :

IVFD NaCl 0.9% 60ml/Jam Inj. Ikaneuron 3 X 1 gr

Inj. Ranitidin 2 X 50 mg

Inj. Dexamethason 3x 1 amp Inj. Citicholin 3 X 500 mg

Manitol 3 X 100 CC bila TD > 100/70 mmHg

H. SARAN : Konsul Bedah Saraf Konsul MataFollow up

TanggalPerjalanan PenyakitTherapi

30/7/15S : lemah separuh badanO : KU : Tampak sakit sedang Kes : Compos Mentis

TD : 120/70 mmHg

N : 92 x/m RR : 20 x/m T : 370C GCS : 15A : SOLP : Rencana CT Scan

IVFD NaCl 0.9% 500cc per 8 Jam

Inj. Ranitidin 2 X 50 mg

Inj. Dexamethason 3x5 mg

Inj. Ikaneuron 3 x 1g

31/7/15S : Lemah separuh badanO : KU : Tampak sakit sedang

Kes : Compos Mentis

Tanda vital : dbn GCS : 15A : SOL

P : Rencana CT Scan Kepala 4/8/15 IVFD NaCl 0.9% 500cc per 8 Jam

Inj. Ranitidin 2 x 50 mg

Inj. Dexamethason 3x5 mg

Inj. Ikaneuron 3 x 1gTambahan terapi

Cerfac 3 x 1gr

1/8/15S : Lemah separuh badanO : KU : Tampak sakit sedang

Kes : Compos Mentis

Tanda vital : dbn GCS : 15A : SOL

P : Rencana CT Scan Kepala 4/8/15 IVFD NaCl 0.9% 500cc per 8 Jam

Inj. Ranitidin 2 x 50 mg

Inj. Dexamethason 3x5 mg

Inj. Ikaneuron 3 x 1g Cerfac 3 x 1gr

2/8/15S : Lemah separuh badanO : KU : Tampak sakit sedang

Kes : Compos Mentis

Tanda vital : dbn GCS : 15A : SOL

IVFD NaCl 0.9% 500cc per 8 Jam

Inj. Ranitidin 2 x 50 mg

Inj. Dexamethason 3x5 mg

Inj. Ikaneuron 3 x 1g

5/8/15S : lemah separuh badan, belum bisa BAB 6 hariO : KU : Tampak sakit berat Kes : Compos Mentis

TD : 110/70 mmHg

N : 80 x/m RR : 20 x/mGCS : 15

Abdomen : I : tampak datar

P : supel, tidak terdapat pembesaran organ, NT (-)

P : timpani

A : BU (+)A : SOL IVFD NaCl 0.9% 500cc per 8 Jam

Inj. Ranitidin 2 x 50 mg

Inj. Dexamethason 3x5 mg

Inj. Ikaneuron 3 x 1gTambahan terapi

Laxadine syr 3 x 1

BAB IITINJAUAN PUSTAKA2.1 Tumor Otak Secara Umum

Tumor otak adalah suatu lesi ekspansif yang bersifat jinak (benigna) ataupun ganas (maligna), membentuk massa dalam ruang tengkorak kepala (intra cranial) atau di sumsum tulang belakang (medulla spinalis). Neoplasma pada jaringan otak dan selaputnya dapat berupa tumor primer maupun metastase. Apabila sel-sel tumor berasal dari jaringan otak itu sendiri, disebut tumor otak primer dan bila berasal dari organ-organ lain (metastase) seperti ; kanker paru, payudara, prostate, ginjal dan lain-lain, disebut tumor otak sekunder. 1Tumor otak merupakan penyakit yang sukar terdoagnosa secara dini, karena pada awalnya menunjukkan berbagai gejala yang meragukan tapi umumnya berjalan progresif.

Manifestasi klinis tumor otak dapat berupa:Gejala Tekanan Tinggi Intrakranial 1. Nyeri Kepala

Diperkirakan 1% penyebab nyeri kepala adalah tumor otak dan 30% gejala awal tumor otak adalah nyeri kepala. Sedangkan gejala lanjut diketemukan 70% kasus. Sifat nyeri kepala bervariasi dari ringan dan episodik sampai berat dan berdenyut, umumnya bertambah berat pada malam hari dan pada saat bangun tidur pagi serta pada keadaan dimana terjadi peninggian tekanan tinggi intrakranial. Adanya nyeri kepala dengan psikomotor asthenia perlu dicurigai tumor otak.2. MuntahTerdapat pada 30% kasus dan umumnya meyertai nyeri kepala. Lebih sering dijumpai pada tumor di fossa posterior, umumnya muntah bersifat proyektif dan tak disertai dengan mual.3. Kejang Bangkitan kejang dapat merupakan gejala awal dari tumor otak pada 25% kasus, dan lebih dari 35% kasus pada stadium lanjut. Diperkirakan 2% penyebab bangkitan kejang adalah tumor otak. Bangkitan kejang ditemui pada 70% tumor otak dikorteks, 50% pasen dengan astrositoma, 40% pada pasen meningioma, dan 25% pada glioblastoma.Gejala spesifik tumor otak yang berhubungan dengan lokasi:

1. Lobus frontal Menimbulkan gejala perubahan kepribadian

Bila tumor menekan jaras motorik menimbulkan hemiparese kontra lateral, kejang fokal

Bila menekan permukaan media dapat menyebabkan inkontinentia

Bila tumor terletak pada basis frontal menimbulkan sindrom foster kennedy

Pada lobus dominan menimbulkan gejala afasia

2. Lobus parietal Dapat menimbulkan gejala modalitas sensori kortikal hemianopsi homonym

Bila terletak dekat area motorik dapat timbul kejang fokal dan pada girus angularis menimbulkan gejala sindrom gerstmanns

3. Lobus temporal

Akan menimbulkan gejala hemianopsi, bangkitan psikomotor, yang didahului dengan aura atau halusinasi

Bila letak tumor lebih dalam menimbulkan gejala afasia dan hemiparese

Pada tumor yang terletak sekitar basal ganglia dapat diketemukan gejala choreoathetosis, parkinsonism.

4. Lobus oksipital Menimbulkan bangkitan kejang yang dahului dengan gangguan penglihatan

Gangguan penglihatan yang permulaan bersifat quadranopia berkembang menjadi hemianopsia, objeckagnosia

5. Tumor di ventrikel ke III Tumor biasanya bertangkai sehingga pada pergerakan kepala menimbulkan obstruksi dari cairan serebrospinal dan terjadi peninggian tekanan intrakranial mendadak, pasen tiba-tiba nyeri kepala, penglihatan kabur, dan penurunan kesadaran

6. Tumor di cerebello pontin angie Tersering berasal dari N VIII yaitu acustic neurinoma

Dapat dibedakan dengan tumor jenis lain karena gejala awalnya berupa gangguan fungsi pendengaran

Gejala lain timbul bila tumor telah membesar dan keluar dari daerah pontin angel

7. Tumor Hipotalamus Menyebabkan gejala TTIK akibat oklusi dari foramen Monroe

Gangguan fungsi hipotalamus menyebabkan gejala: gangguan perkembangan seksuil pada anak-anak, amenorrhoe,dwarfism, gangguan cairan dan elektrolit, bangkitan

8. Tumor di cerebelum Umumnya didapat gangguan berjalan dan gejala TTIK akan cepat erjadi disertai dengan papil udem

Nyeri kepala khas didaerah oksipital yang menjalar keleher dan spasme dari otot-otot servikal

9. Tumor fosa posterior Diketemukan gangguan berjalan, nyeri kepala dan muntah disertai dengan nystacmus, biasanya merupakan gejala awal dari medulloblastoma

2.2 Meningioma

Meningioma adalah tumor meningen di susunan saraf pusat yang berasal dari neuroektoderm, yaitu muncul dari sel-sel meningoendotelial yang banyak terkonsentrasi di vili arachnoid.22.3 Epidemiologi dan Insidensi

Tumor ini mewakili satu per tiga dari semua neoplasma intrakranial dan tumor medulla spinalis. Meningioma biasanya jinak, tetapi bisa kambuh setelah diangkat. Tumor ini lebih sering ditemukan pada wanita dari pada laki-laki dengan rasio 3:1 dan biasanya insidennya meningkat sesuai dengan bertambahnya usia, biasanya muncul pada usia 40-60 tahun, dan jarang timbul pada anak-anak. Dari studi terdahulu didapatkan bahwa lebih dari 90% kasus meningioma merupakan meningioma grade I, sisanya 5% meningioma grade II dan 3% meningioma grade III. Meningioma malignant dapat terjadi pada wanita dan laki-laki, meningioma benign lebih banyak terjadi pada wanita.2,32.4 Etiologi

Penyebab meningioma sampai saat ini belum diketahui secara pasti, namun beberapa teori telah diteliti dan sebagian besar menyetujui bahwa kromoson yang jelek yang meyebabkan timbulnya meningioma. Para peneliti sedang mempelajari beberapa teori tentang kemungkinan asal usul meningioma. Di antara 40% sampai 80% dari kasus meningiomas terdapat abnormalitas dari kromosom 22 abnormal pada lokus gen neurofibromatosis 2 (NF2). NF2 merupakan gen supresor tumor pada 22Q12.4

Kromosom ini biasanya terlibat dalam menekan pertumbuhan tumor. Penyebab kelainan ini tidak diketahui. Meningioma juga sering memiliki salitan tambahan dari platelet-derived growth factor (PDFGR) dan epidermal growth factor receptors (EGFR) yang memberikan kontribusi pada pertumbuhan tumor ini. Sebelumnya radiasi ke kepala, riwayat kanker payudara, atau neurofibromatosis tipe 2 merupakan faktor risiko terjadinya meningioma. Multiple meningioma terjadi pada 5% sampai 15% dari pasien, terutama mereka dengan neurofibromatosis tipe 2. Beberapa meningioma memiliki reseptor yang berinteraksi dengan hormon seks progesteron, androgen, dan estrogen. 2.5 Anatomi

Meningen adalah suatu selaput jaringan ikat yang membungkus enchepalon dan medulla spinalis. Terdiri dari duramater, arachnoid dan piamater, yang letaknya berurutan dari superficial ke profunda. Duramater terdiri dari jaringan fibrous yang kuat, berwarna putih, terdiri dari lamina meningialis dan lamina endostealis. Pada medulla spinalis lamina endostealis melekat erat pada dinding kanalis vertebralis, menjadi endosteum (periosteum), sehingga di antara lamina meningialis dan lamina endostealis terdapat spatium ekstraduralis (spatium epiduralis) yang berisi jaringan ikat longgar, lemak dan pleksus venosus. Pada enchepalon lamina endostealis melekat erat pada permukaan interior kranium, terutama pada sutura, basis krania dan tepi foramen occipitale magnum. Lamina meningialis mempunyai permukaan yang licin dan dilapisi oleh suatu lapisan sel, dan membentuk empat buah septa, yaitu: 41. Falx cerebri

2. Tentorium cerebella

3. Falx cerebella

4. Diaphragma sellae

Antara duramater dan arachnoid terdapat spatium subdural yang berisi cairan limf. Arachniod adalah suatu selubung tipis, membentuk spatium subdurale dengan duramater.

Anatomi lapisan otak2.6 Patofisiologi

Seperti banyak kasus neoplasma lainnya, masih banyak hal yang belum diketahui dari meningioma. Tumor otak yang tergolong jinak ini secara histopatologis berasal dari sel pembungkus arakhnoid (arakhnoid cap cells) yang mengalami granulasi dan perubahan bentuk. Patofisiologi terjadinya meningioma sampai saat ini masih belum jelas.42.7 Klasifikasi

WHO mengembangkan sistem klasifikasi untuk beberapa tumor yang telah diketahui, termasuk meningioma. Tumor diklasifikasikan melalui tipe sel dan derajat pada hasil biopsi yang dilihat di bawah mikroskop. Penatalaksanaannya pun berbeda-beda di tiap derajatnya.7a. Grade I

Meningioma tumbuh dengan lambat, jika tumor tidak menimbulkan gejala, mungkin pertumbuhannya sangat baik jika diobservasi dengan MRI secara periodik. Jika tumor semakin berkembang, maka pada akhirnya dapat menimbulkan gejala, kemudian penatalaksanaan bedah dapat direkomendasikan. Kebanyakan meningioma grade I diterapi dengan tindakan bedah dan observasi yang berkelanjutan. 7b. Grade II

Meningioma grade II disebut juga meningioma atypical. Jenis ini tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan grade I dan juga mempunyai angka kekambuhan yang lebih tinggi. Pembedahan adalah penatalaksanaan awal pada tipe ini. Meningioma grade II biasanya membutuhkan terapi radiasi setelah pembedahan.7c. Grade III

Meningioma berkembang dengan sangat agresif dan disebut meningioma malignan atau meningioma anaplastik. Meningioma malignan terhitung kurang dari 1 % dari seluruh kejadian meningioma. Pembedahan adalah penatalaksanaan yang pertama untuk grade III diikuti dengan terapi radiasi. Jika terjadi rekurensi tumor, dapat dilakukan kemoterapi.7Meningioma juga diklasifikasikan berdasarkan lokasi dari tumor :

a. Meningioma falx dan parasagital (25% dari kasus meningioma). Falx adalah selaputyang terletak antara dua sisi otak yang memisahkan hemisfer kiri dan kanan. Falx cerebri mengandung pembuluh darah besar. Parasagital meningioma terdapat di sekitar falx.

b. Meningioma Convexitas (19%). Tipe meningioma ini terdapat pada permukaan atas otak.

c. Meningioma Sphenoid (17%) Daerah Sphenoidalis berlokasi pada daerah belakang mata. Banyak terjadi pada wanita.

d. Meningioma Olfactorius (8%). Tipe ini terjadi di sepanjang nervus yang menghubungkan otak dengan hidung.

e. Meningioma fossa posterior (4%). Tipe ini berkembang di permukaan bawah bagian belakang otak.

f. Meningioma suprasellar (10%). Terjadi di bagian atas sella tursica, sebuah kotak pada dasar tengkorak dimana terdapat kelenjar pituitari.

g. Spinal meningioma (kurang dari 10%). Banyak terjadi pada wanita yang berumur antara 40 dan 70 tahun. Akan selalu terjadi pda medulla spinbalis setingkat thorax dan dapat menekan spinal cord. Meningioma spinalis dapat menyebabkan gejala seperti nyeri radikuler di sekeliling dinding dada, gangguan kencing, dan nyeri tungkai.

h. Meningioma Intraorbital (kurang dari 1-2%). Tipe ini berkembang paa atau di sekitar mata cavum orbita.

i. Meningioma Intraventrikular (2%). Terjadi pada ruangan yang berisi cairan di seluruh bagian otak.

2.8 Gambaran Histopatologi

Meningioma intrakranial banyak ditemukan di regio parasagital, selanjutnya di daerah permukaan konveks lateral dan falx cerebri. Di kanalis spinalis meningioma lebih sering menempati regio torakal. Pertumbuhan tumor ini mengakibatkan tekanan hebat pada jaringan sekitamya, namun jarang menyebar ke jaringan otak. Kadang-kadang ditemukan fokus-fokus kalsifikasi kecil-kecil yang berasal dari psammoma bodies, bahkan dapat ditemukan pembentukan jaringan tulang baru.4Secara histologis, meningioma biasanya berbentuk globuler dan meliputi dura secara luas. Pada permukaan potongan, tampak pucat translusen atau merah kecoklatan homogen serta dapat seperti berpasir. Dikatakan atipikal jika ditemukan proses mitosis pada 4 sel per lapangan pandang elektron atau terdapat peningkatan selularitas, rasio small cell dan nukleus sitoplasma yang tinggi, uninterupted patternless dan sheet-like growth. Sedangkan pada anaplastik akan ditemukan peningkatan jumlah mitosis sel, nuklear pleomorphism, abnormalitas pola pertumbuhan meningioma dan infiltrasi serebral. Imunohistokimia dapat membantu diagnosis meningioma. Pada pasien dengan meningioma, 80% menunjukkan adanya epithelial membrane antigen (EMA) yang positif. Stain negatif untuk anti-Leu 7 antibodi (positif pada Schwannomas) dan glial fibrillary acidid protein (GFAP).3

2.9 Diagnosa

Gejala meningioma dapat bersifat umum (disebabkan oleh tekanan tumor pada otak dan medulla spinalis) atau bisa bersifat khusus (disebabkan oleh terganggunya fungsi normal dari bagian khusus dari otak atau tekanan pada nervus atau pembuluh darah). 6,7

Gejala umumnya seperti : Sakit kepala Perubahan mental Kejang Mual muntah

Gejala dapat pula spesifik terhadap lokasi tumor : Meningioma falx dan parasagittal : lemah tungkai

Meningioma Convexitas

: kejang, sakit kepala, defisit neurologis fokal, perubahan status mental

Meningioma Sphenoid

: kurangnya sensibilitas wajah, gangguan lapangan pandang, kebutaan, dan penglihatan ganda.

Meningioma Olfactorius

: kurangnya kepekaan penciuman, masalah visus.

Meningioma fossa posterior : nyeri tajam pada wajah, mati rasa, dan spasme otot-otot wajah, berkurangnya pendengaran, gangguan menelan, gangguan gaya berjalan

Meningioma suprasellar

: pembengkakan diskus optikus, masalah visus

Spinal meningioma

: nyeri punggung, nyeri dada dan lengan

Meningioma Intraorbital

: penurunan visus, penonjolan bola mata

Meningioma Intraventrikular: perubahan mental, sakit kepala, pusing

2.10 Pemeriksaan RadiologiUmumnya pada banyak pasien, tidak ditemukan kelainan pada pemeriksaan radiografi. Foto polos kepala dapat memberikan gambaran kalsifikasi karena ada meningioma pada dasar tulang kepala dengan bentuk yang konveks. Meningioma dapat mengakibatkan reaktif hyperostosis yang tidak berhubungan dengan ukuran tumor.8Pemeriksaan foto polos kepala sebagai penunjang penyakit meningioma masih memiliki derajat kepercayaan yang tinggi. Gambaran yang sering terlihat plak yang hyperostosis.a. Foto polos Otak

Hiperostosis adalah salah satu gambaran mayor dari meningioma pada foto polos. Foto polos diindikasikan untuk tumor pada meninx. Tampak erosi tulang dan dekstruksi sinus sphenoidales, kalsifikasi dan lesi litik pada tulang tengkorak. Pembesaran pembuluh darah meninx menggambarkan dilatasi arteri meninx yang mensuplai darah ke tumor. Kalsifikasi terdapat pada 20-25% kasus dapat bersifat fokal maupun difus.6,7,8b. Computed Tomography (CT scan)

Karena CT-Scan dapat menampilkan perbedaan halus absorbsi sinar X berbagai jaringan intracranial, maka dapat dengan jelas menampilkan sistem ventrikel dan sistem otak, struktur substansia grisea dan substansia alba serta jaringan lesi, sangat membantu dalam diagnosis tumor intrakranial.7

CT-scan kontras dan CT-scan tanpa kontras memperlihatkan paling banyak meningioma. Tampak gambaran isodense hingga hiperdense pada foto sebelum kontras, dan gambaran peningkatan densitas yang homogen pada foto kontras. Tumor juga memberikan gambaran komponen kistik dan kalsifikasi pada beberapa kasus. Udem peritumoral dapat terlihat dengan jelas. Perdarahan dan cairan intratumoral sampai akumulasi cairan dapat terlihat.5,6

Gambaran CT-Scan pada meningioma adalah sebagai berikut :9 Tanpa kontras gambaran meninioma 75% hiperdens dan 14,4% isodens

Gambaran spesifik dari meninioma berupa enchancement dari tumor dengan pemberian kontras. Meninioma tampak sebagai masa yang homogen dengan densitas tinggi, tepi bulat dan tegas.

Dapat terlihat juga adanya hiperostosis kranialis, destruksi tulang, udem otak yang terjadi sekitar tumor, dan adanya dilatasi ventrikel.c. Magnetic Resonance Imaging (MRI)

MRI merupakan pencitraan yang sangat baik digunakan untuk mengevaluasi meningioma. MRI memperlihatkan lesi berupa massa, dengan gejala tergantung pada lokasi tumor berada, gambaran meningioma 62-70 terdapat dural tail.6d. Ultrasonografi (USG)

Ultrasonografi dapat memberikan gambaran lokasi dari intratumoral hemorrhage, perubahan kista yang terdapat di bagian dalam dan luar massa tumor, kalsifikasi, invasi parenkim oleh meningioma malignan, dan massa lobus atau multi lobules yang hanya dapat digambarkan dengan ultrasonografi.

[ CLOSE WINDOW ]

Brain meningioma. Parasellar meningioma. Lateral projection from internal carotid angiography shows multiple opacified tumoral vessels in a radial distribution. Circumferential narrowing of the supraclinoid carotid portion is depicted.

2.11 Penatalaksanaan

Penatalaksanaan meningioma tergantung dari lokasi dan ukuran tumor itu sendiri. Terapi meningioma masih menempatkan reseksi operatif sebagai pilihan pertama. Beberapa faktor yang mempengaruhi operasi removal massa tumor ini antara lain lokasi tumor, ukuran dan konsistensi, vaskularisasi dan pengaruh terhadap sel saraf, dan pada kasus rekurensi, riwayat operasi sebelumnya dan atau radioterapi. Lebih jauh lagi, rencana operasi dan tujuannya berubah berdasarkan faktor resiko, pola, dan rekurensi tumor. Tindakan operasi tidak hanya mengangkat seluruh tumor tetapi juga termasuk dura, jaringan lunak, dan tulang untuk menurunkan kejadian rekurensi.5,6,7

Rencana preoperatif

Pada pasien dengan meningioma supratentorial, pemberian antikonvulsan dapat segera diberikan, deksametason diberikan dan dilindungi pemberian H2 antagonis beberapa hari sebelum operasi dilaksanakan. Pemberian antibiotik perioperatif digunakan sebagai profilaksis pada semua pasien untuk organisme stafilokokkus, dan pemberian cephalosporin generasi III yang memiliki aktifitas terhadap organisem pseudomonas, serta pemberian metronidazol (untuk organisme anaerob) ditambahkan apabila operasi direncanakan dengan pendekatan melalui mulut, sinus paranasal, telinga, atau mastoid.5,6,7

Klasifikasi Simpson dari ukuran reseksi pada meningioma intracranial

2.12Radioterapi

Penggunaan external beam irradiation pada meningioma semakin banyak dipakai untuk terapi. External beam irradiation dengan 5000-6000 cGy dilaporkan efektif untuk melanjutkan terapi operasi meningioma reseksi subtotal, kasus-kasus rekurensi baik yang didahului dengan operasi sebelumnya ataupun tidak. Pada kasus meningioma yang tidak dapat dioperasi karena lokasi yang sulit, keadaan pasien yang buruk, atau pada pasien yang menolak dilakukan operasi, external beam irradiation masih belum menunjukkan keefektifitasannya. Teori terakhir menyatakan terapi external beam irradiation tampaknya akan efektif pada kasus meningioma yang agresif (atyppical, malignan), tetapi informasi yang mendukung teori ini belum banyak dikemukakan.

Efektifitas dosis yang lebih tinggi dari radioterapi harus dengan pertimbangan komplikasi yang ditimbulkan terutama pada meningioma. Saraf optikus sangat rentan mengalami kerusakan akibat radioterapi. Komplikasi lain yang dapat ditimbulkan berupa insufisiensi pituitari ataupun nekrosis akibat radioterapi 12.

Kemoterapi

Modalitas kemoterapi dengan regimen antineoplasma masih belum banyak diketahui efikasinya untuk terapi meningioma jinak maupun maligna. Kemoterapi sebagai terapi ajuvan untuk rekuren meningioma atipikal atau jinak baru sedikit sekali diaplikasikan pada pasien, tetapi terapi menggunakan regimen kemoterapi (baik intravena atau intraarterial cis-platinum, decarbazine (DTIC) dan adriamycin) menunjukkan hasil yang kurang memuaskan (DeMonte dan Yung), walaupun regimen tersebut efektifitasnya sangat baik pada tumor jaringan lunak. Laporan dari Chamberlin pemberian terapi kombinasi menggunakan cyclophosphamide, adriamycin, dan vincristine dapat memperbaiki angka harapan hidup dengan rata-rata sekitar 5,3 tahun. Pemberian obat kemoterapi lain seperti hydroxyurea sedang dalam penelitian. Pertumbuhan sel pada meningioma dihambat pada fase S dari siklus sel dan menginduksi apoptosis dari beberapa sel dengan pemberian hydroxyurea.

Pemberian hormon antogonis mitogen telah juga dilakukan pada kasus dengan meningioma. Preparat yang dipakai biasanya tamoxifen (anti estrogen) dan mifepristone (anti progesteron). Tamoxifen (40 mg/m2 2 kali/hari selama 4 hari dan dilanjutkan 10 mg 2 kali/hari) telah digunakan oleh kelompok onkolologi Southwest pada 19 pasien dengan meningioma yang sulit dilakukan reseksi dan refrakter. Terdapat pertumbuhan tumor pada 10 pasien, stabilisasi sementara pertumbuhan tumor pada 6 pasien, dan respon minimal atau parsial pada tiga pasien.5,6,72.13PrognosisDAFTAR PUSTAKA1. Sadewo Wismaji. Sinopsis Ilmu Bedah Saraf. Cetakan pertama. : Departemen Bedah Saraf FKUI-RSCM; Jakarta. 2011. Hal 145

2. Mardjono M, Sidharta P. Dalam: Neurologi klinis dasar. : Fakultas Kedokteran Universtas Indonesia; 2003. Hal 393-394.

3. Luhulima JW. Menings. Dalam: Anatomi susunan saraf pusat. Makassar: Bagian Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin; 2003.

4. Anonim. Makalah Radio. (diakses tanggal). Diunduh dari : http://www.abta.org/meningioma.pdf5. Wan Dosen. Buku Ajar Onkologi Klinis. Edisi 2. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: Jakarta; 2008. Hal 320-324

http://www.neurosurgic.com/index.php?option=com_content&view=article&id=846:simpson-grading-system-for-removal-of-meningeomas&catid=152:usefulinfo&Itemid=603http://neurosurgery.mgh.harvard.edu/cranialbasecenter/mening1.htm#RadiationBrian Ragel, MD, Randy L. Jensen, MD, PhD . New Approaches for the Treatment of Refractory Meningiomas. Cancer Control: Journal of the Moffitt Cancer Center..2003;10(2)Tew Jhon Mcmahon Nancy. Meningiomas. 2013. Mayfield clinic and spine institute Avaiable at https://www.mayfieldclinic.com/PDF/PE-Meni.pdfNeurosurg Focus 23 (4):E1, 2007

Intracranial meningiomas: an overview of diagnosis and

treatment

JASON ROCKHILL, M.D., PH.D.,1,2 MACIEJ MRUGALA, M.D., PH.D., M.P.H.,2,3

AND MARC C. CHAMBERLAIN, M.D.2,3 treatment patof, diagNeurosurg Focus 30 (5):E6, 2011

The molecular genetics and tumor pathogenesis of

meningiomas and the future directions of meningioma

treatments

Winward Choy, B.A.,1 Won Kim, M.D.,1 Daniel Nagasawa, B.A.,1

Stephanie Stramotas, B.A.,1 Andrew Yew, M.D.,1 Quinton Gopen, M.D.,2

Andrew T. Parsa, M.D., Ph.D.,3 and Isaac Yang, M.D.1Lumenta C B, Rocco C Di, Haase J, Mooij J J A. Neurosurgery. Springer. 2009

2010 K.W. Lindsay, I. Bone, G. Fuller. NEUROLOGY AND NEUROSURGERY ILLUSTRATED ed 5. Elsevier 24