Lap Farmako

download Lap Farmako

of 28

  • date post

    12-Feb-2015
  • Category

    Documents

  • view

    218
  • download

    19

Embed Size (px)

Transcript of Lap Farmako

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGIPENGARUH OBAT TERHADAP JANTUNG

Asisten: Alfian Tagar A. D G1A009064

Kelompok 3 : TESA AGRAWITA INDRASTI BANJARANSARI MAYUNDA RIANI A ANGKAT PRASETYA A.N DANNY AMANATI AISYA YUNI PURWATI LINA SUNAYYA PROVITA RAHMAWATI DICKY BRAMANTYO A.P. G1A010002 G1A010020 G1A010022 G1A010038 G1A010050 G1A010059 G1A010075 G1A010082 G1A010113

BLOK KARDIOVASKULER JURUSAN KEDOKTERAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PURWOKERTO 2012

LEMBAR PENGESAHAN

Oleh : Kelompok 3 Tesa Agrawita Indrasti Banjaransari Mayunda Riani A Angkat Prasetya A.N Danny Amanati Aisya Yuni Purwati Lina Sunayya Provita Rahmawati Dicky Bramantyo A.P. G1A010002 G1A010020 G1A010022 G1A010038 G1A010050 G1A010059 G1A010075 G1A010082 G1A010113

disusun untuk memenuhi persyaratan mengikuti ujian praktikum Farmakologi Blok Kardiovaskuler Jurusan Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto

diterima dan disahkan Purwokerto, 24 April 2012 Asisten,

Alfian Tagar A. D NIM. G1A009064

BAB I PENDAHULUAN

I.

JUDUL PRAKTIKUM Pengaruh Obat Terhadap Jantung

II.

WAKTU PRAKTIKUM Hari/tanggal Waktu : Sabtu, 21 April 2012 : Pukul 07.00 09.00

III.

TUJUAN INSTRUKSIONAL 1. Umum Menjelaskan pengaruh obat sulfas atropin terhadap jantung katak. 2. Khusus Menjelaskan perubahan-perubahan yang terjadi pada jantung katak setelah dilakukan pemberian sulfas atropin.

IV.

DASAR TEORI Pemeliharaan homeostasis bergantung pada zat-zat esensial, misalnya Oksigen dan nutrien yang secara terus menerus diserap dari lingkungan eksternal dan disalurkan ke sel dan pada pengeluaran zat-zat sisa yang berlangsung kontinyu. Homeostasis juga bergantung pada pemindahan hormon, yang merupakan zat perantara kimiawi penting, dari tempat produksinya ke tempat kerjanya. Sistem sirkulasi, yang berperan dalam homeostasis dengan berfungsi sebagai sistem transportasi tubuh, terdiri jantung, pembuluh darah dan darah. Semua jaringan tubuh selalu bergantung pada aliran darah yang disalurkan kepada mereka oleh kontraksi atau denyut jantung (Sherwood, 2001).

Faktor-faktor yang mempengaruhi denyut jantung diantaranya : 1. Usia Frekuensi denyut jantung pada berbagai usia, dengan usia antara bayi sampai dengan usia dewasa. Denyut jantung paling tinggi ada pada bayi kemudian frekuensi denyut jantung menurun seiring dengan pertambahan usia. Usia < 1 bulan Frekuensi Jantung (Denyut / Menit) 90 170 80 160 80 120 75 115 70 110 65 100 60 100

< 1 tahun

2 tahun

6 tahun

10 tahun

14 tahun

> 14 tahun Sumber : Evelyn C. Pearce 2004

Frekuensi jantung secara bertahap akan menetap memenuhi kebutuhan oksigenselama pertumbuhan. Pada masa remaja, denyut jantung menetap dan iramanya teratur. Pada orang dewasa efek fisiologi usia dapat berpengaruh pada sistem kardiovaskuler. Pada usia yang lebih tua lagi dari usia dewasa penentuan jantung kurang dapat dipercaya. 2. Jenis Kelamin Denyut jantung yang tepat dicapai pada kerja maksimum sub maksimum padawanita lebih tinggi dari pada pria. Pada laki-laki muda dengan kerja 50% maksimalrata-rata jantung kerja mencapai 128 denyut

per menit, pada wanita 138 denyut per menit.Pada kerja maksimal pria rata-rata jantung kerja mencapai 154 denyut per menit dan padawanita 164 denyut per menit (Astrand and Rodahl, 2006). 3. Ukuran Tubuh Ukuran tubuh yang penting adalah berat badan untuk ukuran tubuh seseorang yaitu dengan menghitung IMT (Indeks Masa Tubuh) dengan Rumus :BB(Kg)IMT=TB(m) X TB(m)Keteranan :IMT = Indek Masa Tubuh BB = Berat BadanTB = Tinggi Badan (Supariasa, 2001). 4. Kehamilan Frekuensi jantung meningkat secara progresif selama masa kehamilan danmencapai maksimal sampai masa aterm yang frekuensinya berkisar 20% diataskeadaan sebesar hamil (Ganong, 2003). 5. Keadaan Kesehatan Pada orang yang tidak sehat dapat terjadi perubahan irama atau frekuensi jantung secara tidak teratur. Kondisi seseorang yang baru sembuh dari sakit maka frekuensi jantungnya cenderung meningkat (Mahawati, 2004). 6. Riwayat kesehatan Riwayat seseorang berpenyakit jantung, hipertensi, atau hipotensi akan mempengaruhi kerja jantung. Demikian juga pada penderita anemia akan mengalami peningkatan kebutuhan oksigen sehingga Cardiac output meningkat yang mengakibatkan peningkatan denyut jantung (Mahawati, 2004). 7. Rokok dan Kafein Rokok dan kafein juga dapat meningkatkan denyut jantung. Pada suatu studi pada orang yang merokok sebelum bekerja denyut jantungnya meningkat 10 sampai 20 denyut permenit dibanding dengan orang yang dalam bekerja tidak didahului merokok. Sedangkan pada konsumsi kafein, secara statistik tidak ada perubahan yang signifikan pada variable metabolic kardiovaskuler kerja maksimal dan sub maksimal (Astrand and Rodahl, 2006).

8. Intensitas dan Lama Kerja Berat atau ringannya intensitas kerja berpengaruh terhadap denyut jantung. Lama kerja, waktu istirahat, dan irama kerja yang sesuai dengan kapasitas optimal manusia akan ikut mempengaruhi frekuensi jantung sehingga tidak melampaui batas maksimal. Batas kesanggupan kerja sudah tercapai bila bilangan jantung kerja (rata-rata jantung selama kerja) mencapai angka 30 denyut per menit dan di atas bilangan jantungistirahat. Sedang jantung kerja tersebut tidak terus menerus menanjak dan sehabis kerjapulih kembali pada jantung istirahat sesudah 15 menit (Astrand dkk, 2006) 9. Sikap Kerja Posisi atau sikap kerja juga mempengaruhi tekanan darah. Posisi berdiri mengakibatkan ketegangan sirkulasi lebih besar dibandingkan dengan posisi kerja duduk (Ganong, 2003). 10. Faktor Fisik dan Kondisi Psikis Kebisingan merupakan suatu tekanan yang merusak pendengaran. Selama itu dapat meningkatkan denyut jantung, dan mempengaruhi parameter fisiologis yang lain yang dapat menurunkan kemampuan dalam kerja fisik. Selain itu, penerangan yang buruk juga dapat menimbulkan ketegangan mata, hal ini mengakibatkan kelelahan mata yang berakibat pada kelelahan mental dan dapatmemperberat beban kerja (Sumamur, 1989). Cuaca kerja baik cuaca kerja panas atau dingin juga akan mempengaruhi sistem sirkulasi dan denyut jantung. Cuaca kerja panas dapat menyebabkan beban tambahan pada jantung dan sirkulasi darah. Pada waktu melakukan pekerjaan fisik yang berat dilingkungan panas, maka darah akan mendapat beban tambahan karena harus membawa oksigen ke bagian otot yang sedang bekerja. Disamping itu, jantung juga harus membawa panas dari dalam tubuh ke permukaan kulit. Hal demikian juga merupakan beban tambahan bagi jantung yang harus memompa darah lebih banyak lagi. Akibat dari pekerjaan ini, maka

frekuensi denyut jantung pun akan lebih banyak lagi atau meningkat (Santoso, 2005).

Faktor lain yang dapat mempengaruhi irama jantung antara lain (1) sistem konduktivitas jantung. Pada umumnya gangguan sistem listrik jantung akan menimbulkan perubahan irama jantung menjadi terlalu lambat (bradiaritmia,Jantung berdenyut kurang dari 60 kali permenit) atau terlalu cepat (takiaritmia), Jantung berdenyut lebih dari 100 kali permenit), dan (2) saraf simpatis dan parasimpatis. Irama jantung dapat meningkat karena rangsangan simpatis atau obat yang bekerja sinergistik denganya, sebaliknya akan menurun bila karena rangsangan

parasimpatis atau obat yang memiliki efek seperti parasimpatis, seperti neostigmin dan lain-lainnya (Price, 2006). Heart rate recovery (HRR) merupakan prediktor independen kematian pada pasien penyakit jantung. Faktor-faktor yang mempengaruhi HRR pada pasien yang menjalani uji latih jantung dan beban adalah usia, jenis kelamin, ada tidaknya hipertensi, konsumsi penyekat reseptor beta, antagonis kalsium dan aspirin, serta hasil uji itu sendiri (Jurnal Kardiologi Indonesia, 2007). Terdapat korelasi negatif antara usia dengan HRR, dimana makin tinggi usia, semakin rendah HRR pasca latihan. Laki-laki juga menunjukkan HRR yang lebih rendah dibanding wanita.Ada hubungan bermakna pada hipertensi dan HRR. Aktivasi sistem renin-angiotensin pada penderita hipertensi yang terjadi diduga menimbulkan gangguan HRR (Jurnal Kardiologi Indonesia, 2007). Kadar kolesterol HDL, LDL, dan trigliserida berhubungan bermakna dengan HRR. Gula darah puasa yang abnormal menjadi prediktor kematian karena resistensi insulin yang sudah menimbulkan gangguan fungsi saraf otonom (Jurnal Kardiologi Indonesia, 2007). Gagal jantung merupakan suatu sindroma klinik yang kompleks akibat kelainan struktural dan fungsional jantung yang mengganggu kemampuan ventrikel untuk diisi dengan darah atau untuk mengeluarkan darah. Manifestasi gagal jantung yang utama adalah (1) sesak napas dan rasa lelah yang membatasi kemampuan melakukan

kegiatan fisik, dan (2) retensi cairan yang menyebabkan kongesti paru dan edema perifer (FKUI, 2007). New York Heart Association (NYHA) membuat gradasi keparahan gagal jantung dalam 4 kelas fungsional berdasarkan jumlah aktivitas fisik yang diperlukan untuk menimbulkan gejala-gejalanya, sebagai berikut : Kelas 1 : Tidak ada limitasi aktivitas fisik. Tidak timbul sesak napas, rasa

lelah, atau palpitasi dengan aktivitas fisik biasa. Kelas 2 : Sedikit limitasi aktivitas fisik. Timbul rasa lelah, paslpitasi, dan sesak

napas dengan aktivitas fisik biasa, tetapi nyaman ketika beristirahat. Kelas 3 : Aktivitas fisik sangat terbatas. Aktivitas fisik kurang dari biasa sudah

menimbulkan gejala, tetapi nyaman sewaktu beristirahat. Kelas 4 : Gejala-gejala sudah ada sewaktu istirahat, dan aktivitas fisik sedikit

saja akan memperberat gejala (FKUI, 2007).

Pada pengobatan gagal jantung, tujuan primernya adalah mencegah terjadinya gagal jantung dengan cara mengobati kondisi-kondisi yang menuju terjadinya gagal jantung, terutama hipertensi dan/atau penyakit arteri koroner. Obat- obat gagal jantung yang sering digunaka