jurnal bronkiolitis

Click here to load reader

download jurnal bronkiolitis

of 30

  • date post

    14-Dec-2014
  • Category

    Documents

  • view

    238
  • download

    32

Embed Size (px)

description

presentasi jurnal bronkiolitis

Transcript of jurnal bronkiolitis

JENNY PRIMA ARHITA 01.208.5691

Bronkiolitis akut adalah penyakit saluran pernafasan bawah akut yang ditandai dengan adanya inflamasi pada bronkiolus. Etiologi : Respiratory syncytial virus(RSV) tersering parainfluenza dan infleuenza virus, Eaton agent (mycoplasma pneumoniae), Adenovirus, Human metapneumovirus rhinovirus tetapi belum ada bukti kuat bahwa bronkhiolitis disebabkan oleh bakteri.(1,4)

Infeksi oleh respiratory syncitial Bronkiolitis merupakan infeksi saluran virus (RSV) memiliki morbiditas respiratory tersering pada bayi. Paling dan mortalitas yang tinggi sering terjadi pada usia 2 24 bulan, terutama pada anak dengan resiko puncaknya pada usia 2 8 bulan. tinggi (bayi prematur, penyakit Penyakit ini menyebabkan 90.000 kasus jantung kongenital) dan imunokompromise. perawatan di rumah sakit dan menyebabkan 4500 kematian setiap Faktor resiko terjadinya bronkiolitis adalah jenis kelamin tahunnya. laki-laki, status sosial ekonomi Insiden terbanyak terjadi pada musim rendah, jumlah anggota keluarga dingin atau musim hujan di negarayang besar, perokok pasif, berada negara tropis. pada tempat penitipan anak atau ke tempat-tempat umum yang Cara penularan melalui droplet ramai, rendahnya antibodi infection maternal terhadap RSV, dan bayi yang tidak mendapatkan air susu ibu.

single stranded RNA virus yang berukuran sedang (80-350nm), termasuk paramyxovirus. Terdapat dua glikoprotein permukaan yang merupakan bagian penting dari RSV untuk menginfeksi sel, yaitu protein G (attachment protein )yang mengikat sel dan protein F (fusion protein) yang menghubungkan partikel virus dengan sel target dan sel tetangganya. Kedua protein ini merangsang antibodi neutralisasi protektif pada host. Terdapat dua macam strain antigen RSV yaitu A dan B. Masa inkubasi RSV 2 - 5 hari. Virus bereplikasi di dalam nasofaring kemudian menyebar dari saluran nafas atas ke saluran nafas bawah melalui penyebaran langsung pada epitel saluran nafas dan melalui aspirasi sekresi nasofaring.

Terjadi kolonisasi dan replikasi tahanan aliran udara berbanding terbalik dengan diameter virus pada mukosa bronkus dan penampang saluran pernafasan, bronkiolus nekrosis sel epitel maka sedikit saja penebalan mukosa akan memberikan siliaedema submukosa dan hambatan aliran udara yang pelepasan debris dan fibrin ke besar. dalam lumen bronkiolus. Resistensi pada bronkiolus Infeksi virus pada epitel bersilia meningkat selama fase inspirasi dan ekspirasi, tetapi karena bronkus respon inflamasi radius saluran respiratori lebih akut, obstruksi bronkiolus kecil selama ekspirasi, maka akan akibat edema, sekresi mucus, menyebabkan air traping dan timbunan debris selular/sel-sel hiperinflasi. mati yang terkelupas, kemudian Ateletaksis dapat terjadi pada saat terjadi obstruksi total dan diikuti dengan infiltrasi limfosit udara yang terjebak diabsorbsi peribronkial dan edema total. submukosa.

Jadi, bronkiolus menjadi sempit karena kombinasi dari : proses inflamasi, edema saluran nafas, akumulasi sel-sel debris dan mukus serta spasme otot polos saluran napas

Anamnesis Usia yang mengenai anak usia maksimal 24 bulan yang lebih banyak terkena adalah usia dibawah 12 bulan.(7) Gejala awal pilek ringan, batuk dan demam. Satu hingga dua hari kemudian timbul batuk yang disertai dengan sesak nafas. Selanjutnya dapat ditemukan wheezing, merintih, nafas berbunyi, muntah setelah batuk, rewel dan penurunan nafsu makan.(1,4,7) Adanya riwayat kontak dengan penderita infeksi saluran pernafasan atas.(13) Kriteria bronkiolitis terdiri dari: (1) wheezing pertama kali, (2) umur 24 bulan atau kurang, (3) pemeriksaan fisik sesuai dengan gambaran infeksi virus misalnya batuk, pilek, demam dan (4) menyingkirkan pneumonia atau riwayat atopi yang dapat menyebabkan wheezing.(10)

Pemeriksaan Fisik TTV takipnea, takikardia, dan peningkatan suhu diatas 38,5 0C dan bisa mencapai suhu 41 0C. Selain itu dapat juga ditemukan konjungtivitis ringan faringitis, dan otitis media.(4,7) Obstruksi saluran respiratori bawah akibat respon inflamasi akut akan menimbulkan gejala ekspirasi memanjang hingga wheezing. Usaha-usaha pernafasan yang dilakukan anak untuk mengatasi obstruksi akan menimbulkan nafas cuping hidung dan retraksi interkostal. Selain itu dapat juga ditemukan ronki dari pemeriksaan auskultasi paru. Sianosis dapat terjadi dan bila gejala menghebat dapat terjadi apnea, terutama pada bayi berusia < 6 minggu.(4,7) Selain itu ditemukan pernafasan yang pendek dan saturasi O2 yang rendah dan tanda dehidrasi.(13)

LABORATORIUM Tes laboratorium rutin tidak spesifik. Hitung lekosit dan elektrolit dbn Pada pasien dengan peningkatan lekosit biasanya didominasi oleh PMN dan bentuk batang Analisa gas darah (AGD) diperlukan untuk anak dengan gangguan pernafasan berat, khususnya yang membutuhkan ventilator mekanik, gejala kelelahan dan hipoksia.(4,7) Analisa gas darah dapat menunjukkan adanya hipoksia akibat V/Q mismatch dan asidosis metabolik jika terdapat dehidrasi.(10) Untuk menemukan RSV dilakukan kultur virus, rapid antigen detection test (direct immunofluoresence assay dan enzyme linked immunosorbant assay. ELISA). Atau polimerase chain reaction (PCR), dan pengukuran titer antibody pada fase akut dan konvalesens.(4) Untuk menentukan penyebab bronkiolitis, dibutuhkan pemeriksaan aspirasi atau bilasan nasofaring. Pada bahan ini dapat dilakukan kultur virus tetapi memerlukan waktu yang lama, dan hanya memberikan hasil positif pada 50% kasus.(10)

RADIOLOGI Gambaran radiologik mungkin masih normal bila bronkiolitis ringan. Umumnya terlihat paru-paru mengembang (hyperaerated). Bisa juga didapatkan bercak-bercak yang tersebar, atau pneumonia (patchy infiltrates). Tetapi gambaran ini tidak spesifik dan dapat ditemukan pada asma, pneumonia viral atau atipikal, dan aspirasi. Dapat pula ditemukan gambaran ateletaksis terutama saat konvalesens akibat secret pekat bercampur sel-sel mati yang menyumbat, air trapping, diafragma datar, dan peningkatan diameter anteroposterior. Pada x-foto lateral, didapatkan diameter AP yang bertambah dan diafragma tertekan ke bawah. Pada pemeriksaan x-foto dada, dikatakan hyperaerated apabila kita mendapatkan: siluet jantung yang menyempit, jantung terangkat, diafragma lebih rendah dan mendatar, diameter anteroposterior dada bertambah, ruang retrosternal lebih lusen, iga horisontal, pembuluh darah paru tampak tersebar.

asma bronkiale serangan pertama, bronkhitis, gagal jantung kongestif, edema paru, pneumonia, aspirasi benda asing, GERD kistik fibrosis, miokarditis, pneumothorak, pertussis.

Bronkiolitis ringan rawat jalan dengan pemberian cairan peroral yang adekuat Bronkiolitis sedang berat rawat inap, terlebih jika mengalami resiko tinggi seperti : berusia kurang dari 3 bulan, prematur, kelainan jantung, kelainan neurologi, penyakit paru kronis, defisiensi imun, distres napas. Tujuan perawatan di rumah sakit adalah terapi suportif, mencegah dan mengatasi komplikasi, atau bila diperlukan pemberian antivirus.

PENGOBATAN SUPORTIF Pengawasan pulse oksimetri Oksigenasi Pengaturan cairan iv PENGOBATAN MEDIKAMENTOSA Antivirus (ribavirin) Bronkodilator Kortikosteroid Antibiotik jika ada infeksi sekunder

gangguan fungsi paru yang menetap, dimana timbulnya whezing berulang dan hiperaktifitas bronkial Komplikasi seperti otitis media akut, pneumonia bakterial dan gagal jantung jarang dijumpai. Beberapa studi kohort menghubungkan infeksi bronkiolitis akut berat pada bayi akan berkembang menjadi asma.

imunisasi aktif dan pasif serta menghindari penyebaran virus RSV

Prognosis tergantung dari : berat ringannya penyakit, cepatnya penanganan, dan penyakit latar belakang (penyakit jantung, defisiensi imun, prematuritas).

Bronchiolitis merupakan penyakit saluran pernapasan bawah tersering pada anak-anak