HUBUNGAN KEBIASAAN MAKAN DENGAN STATUS GIZI …

of 40/40
HUBUNGAN KEBIASAAN MAKAN DENGAN STATUS GIZI PADA REMAJA PUTRI DI SEKOLAH MENENGAH ATAS COKROAMINOTO SUKARESMI KABUPATEN CIANJUR TAHUN 2019 SKRIPSI Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat ASTRI NURMALIA RIDWAN NPM. BK 1.115.003 UNIVERSITAS BHAKTI KENCANA PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT BANDUNG 2019
  • date post

    14-Nov-2021
  • Category

    Documents

  • view

    2
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of HUBUNGAN KEBIASAAN MAKAN DENGAN STATUS GIZI …

PADA REMAJA PUTRI DI SEKOLAH MENENGAH ATAS
COKROAMINOTO SUKARESMI KABUPATEN
CIANJUR TAHUN 2019
Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat
BANDUNG
2019
i
ii
iii
iv
ABSTRAK
Kekurangan Energi Kronik (KEK) pada usia remaja di Indonesia terdapat 33,5%.
KEK terjadi karena beberapa faktor, salah satunya kebiasaan makan yang terdiri
dari frekuensi makan dan porsi makan. Tujuan penelitian adalah melihat hubungan
kebiasaan makan dengan status gizi pada remaja putri di SMA Cokroaminoto
Sukaresmi. Desain penelitian menggunakan deskriptif korelasional dengan
pendekatan Cross Sectional. Populasi adalah siswa kelas 11-12 sebanyak 62 siswa
remaja putri, total sampling. Alat ukur yang digunakan adalah pita ukur untuk
mengukur lingkar lengan atas, kuesioner dan alat peraga isi piringku untuk
mengukur kebiasaan makan. Hasil penelitian menunjukan terdapat 69,4% remaja
memiliki status gizi kurang dan 77,4% remaja dengan kebiasaan makan yang
kurang baik. Uji hubungan kebiasaan makan dengan status gizi pada remaja
didapatkan p value >0,05 (1,000) yang artinya tidak ada hubungan signifikan
antara kebiasaan makan dengan status gizi pada remaja putri di SMA
Cokroaminoto Sukaresmi. Berdasarkan hasil penelitian diharapkan remaja dapat
membiasakan makan teratur sesuai dengan menu porsi makan seimbang dan bagi
peneliti lain untuk meneliti variabel lain yang mempengaruhi status gizi.
Kata Kunci : status gizi, remaja, kebiasaan makan
Daftar Pustaka : 46 (Tahun 2007-2018).
v
ABSTRACT
There are 33.5% of Chronic Energy Deficiency (KEK) in Indonesia adolescents.
KEK occurs due to several factors, one of which is eating habits consisting of
frequency of eating and eating portions. The purpose of this study was to look at
the relationship between eating habits and nutritional status in teenage girl at
Cokroaminoto Sukaresmi senior high school. The study design used descriptive
correlational with Cross Sectional approach. The population was students in
grades 11-12 consist of 62 female students, a total sampling. The measuring
instrument used was measuring tape to measure the circumference of the upper
arm, questionnaire and visual aid with the contents of my plate to measure eating
habits. The results showed there were 69.4% of adolescents had malnutrition and
77.4% of adolescents with poor eating habits. The relation test of eating habits
with nutritional status in adolescents obtained p value> 0.05 (1,000) which means
there was no significant relationship between eating habits and nutritional status
in teenage girls at Cokroaminoto Sukaresmi senior high school. Based on the
results of the study, it is expected that adolescents can get used to eating regularly
in accordance with the balanced meal portion menu and for other researchers to
examine other variables that affect nutritional status.
Keywords : nutritional status, adolescents, eating habits
References : 46 (2007-2018).
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat illahi rabbi, Alloh SWT yang telah
memberikan rahmat dan karuniaNya sehingga saya sebagai penyusun dapat
menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Tidak lupa saya panjatkan shalawat serta
salam bagi junjungan kita Nabi Muhammad SAW.
Dalam kesempatan ini saya sebagai penulis sangat berbahagia karena telah
dapat meyelesaikan skripsi ini dengan judul “HUBUNGAN KEBIASAAN
MAKAN DENGAN STATUS GIZI PADA REMAJA PUTRI DI SEKOLAH
MENENGAH ATAS COKROAMINOTO SUKARESMI KABUPATEN
CIANJUR TAHUN 2019”.
Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana
Kesehatan Masyarakat (SKM) di Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat.
Penyusunan Skripsi ini tak lepas dari dukungan dan dorongan semangat dari
berbagai pihak, sehingga saya sebagai penulis dapat menyelesaikan skripsi ini
dengan tepat waktu. Oleh karena itu, saya mengucapkan terimakasih yang sebesar-
besarnya kepada :
1. Bapak H. Mulyana SH., MPd selaku Ketua Yayasan Adhi Guna Kencana.
2. Dr. Entris Sutrisno, MH.Kes., Apt selaku Rektor Universitas Bhakti
Kencana
3. Ibu Dr. Ratna Dian K., M.Kes, selaku Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Bhakti Kencana
4. Ibu Nova Oktavia, SKM., MPH selaku ketua Program studi S1 Kesehatan
Masyarakat.
vii
5. Ibu Dra. Tuti Surtimanah, MKM selaku pembimbing utama yang telah
memberikan pengarahan dan bimbingannya dalam penyelesaian siding
akhir ini.
6. Bapak Agung Sutriyawan, SKM., M.Kes selaku pembimbing kedua yang
telah memberikan pengarahan dan bimbingan dalam penyusunan skripsi
ini.
penyusunan proposal penelitian ini.
8. Ibu Hj. Siti Muftiah selaku petugas gizi yang telah memberikan dukungan
pada saat studi pendahuluan.
9. Seluruh rekan-rekan S1 Kesehatan Masyarakat angkatan 2015 yang sedang
sama-sama berjuang dan saling memberikan dukungan untuk kelancaran
dalam penyusunan skripsi ini.
Banyak terimakasih yang setulus-tulusnya kepada kedua orang tua saya yang
kusayangi yang telah mencurahkan segenap cinta dan kasih sayang serta perhatian
moril dan material dan tidak pernah berhenti mendoakan. Semoga Allah SWT
selalu melimpahkan rahmat, kesehatan dan karunia di dunia dan akhirat.
Penulis menyadari bahwa dalam menyusun skripsi ini masih banyak
kekurangan, sehingga penulis mengharapkan kritik dan saran demi perbaikan dan
kesempurnaan skripsi ini.
Bandung, Juli 2019
Astri Nurmalia Ridwan
2.1. Remaja ..................................................................................................... 9
2.1.1. Pengertian .................................................................................... 9
2.2.3. Jenis Parameter ......................................................................... 15
2.3. Kebutuhan Gizi Pada Remaja ............................................................... 16
2.3.1. Gizi dan Remaja ...................................................................... 16
2.3.2. Kebutuhan Gizi pada Usia Remaja ........................................... 17
2.4. Faktor- Faktor Yang Mempengatruhi Status Gizi Remaja ................... 19
2.5. Kebiasaan Makan Remaja .................................................................... 25
2.5.1. Pengertian Kebiasaan Makan ................................................... 25
2.5.2. Frekuensi Makan ...................................................................... 25
2.5.3. Isi Piringku ............................................................................... 26
3.1. Rancangan Penelitian .......................................................................... 28
3.2. Paradigm Penelitian .............................................................................. 28
3.3. Hipotesa Penelitian ............................................................................... 32
3.4. Variabel Penelitian ............................................................................... 32
3.4.1. Variabel Independen ................................................................. 32
3.4.2. Variabel Dependen ................................................................... 33
3.5.1. Definisi Konseptual .................................................................. 33
3.7.3. Instrumen Penelitian ................................................................. 38
3.8.2. Analisa Data ............................................................................. 40
3.9. Etika Penelitian ..................................................................................... 43
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ................................. 46
4.1 Hasil Penelitian ......................................................................................... 46
5.1. Kesimpulan ......................................................................................... 53
5.2. Saran .................................................................................................. 53
Tabel 3.1. Definisi Operasional ........................................................................... 34
Tabel 4.1 Distribusi frekuensi status gizi remaja putri ........................................ 46
Tabel 4.2 Distribusi kebiasaan makan remaja putri ............................................ 47
Tabel 4.3 Hubungan kebiasaan makan dengan status gizi remaja putri .............. 47
Tabel 4.4 Hubungan kebiasaan makan dengan status gizi remaja putri .............. 48
xii
xiii
Lampiran 2 Surat balasani Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur
Lampiran 3 Surat Balasan Sekolah
Lampiran 4 Kisi-kisi dan Instrumen Penelitian
Lampiran 5 Hasil Uji Univariat
Lampiran 6 Hasil Uji Bivariat
Lampiran 7 Master Tabel
Lampiran 9 Dokumentasi Penelitian
Lampiran 10 Lembar bimbingan
Lampiran 11 Lembar Oponen
Gizi merupakan salah satu indikator yang dapat menilai kesehatan di
suatu wilayah, yang ada pada program SDGs atau Sustainable Development
Goals yaitu ada 17 tujuan yang akan dicapai dan ada beberapa tujuan yang
berkaitan erat dengan kesehatan seperti pada halnya dalam memperkuat
ketahanan pangan dan peningkatan gizi, maka diperlukan beberapa aspek
yang dapat menunjang keberhasilan dalam pencapaian SDGs dengan
banyaknya masalah gizi yang ada di masyarakat, terdapat berbagai macam
masalah gizi yang ada salah satunya adalah masalah gizi yang berkaitan
dengan remaja (BPS, 2014).
pertama kali ia menunjukan tanda-tanda seksual sekundernya (pubertas)
sampai saat ia mencapai kematangan seksual. Pada masa ini individu
mengalami perkembangan dari anak-anak menjadi dewasa (WHO, 2015).
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 25 tahun 2014,
remaja adalah penduduk dalam rentang usia 10-18 tahun dan menurut Badan
Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) rentang usia remaja
adalah 10-24 dan belum menikah. Jumlah penduduk usia 10-24 tahun di
Indonesia ini mencapai sekitar 66,3 juta jiwa atau sekitar 25,6% dari total
2
jumlah penduduk di Indonesia. Ini berarti 1 diantara 4 penduduk adalah
remaja (BKKBN, 2015).
pemerintahan Indonesia, khususnya remaja putri. Remaja putri merupakan
salah satu kelompok yang rawan menderita malnutrisi, adanya kekurangan
gizi akibat terlalu menjaga makan atau diet merupakan salah satu
penyebabnya (Mandilik, 2015).
beraneka ragam. Remaja perlu diperkenalkan variasi, baik jenis maupun rasa
makanan, misalnya untuk karbohidrat tidak hanya sepiring nasi, tetapi juga
terdapat semangkuk mie, setangkup roti, sepiring irisan kentang goreng dan
lain-lain, kemudian dibiasakan untuk menyukai berbagai macam sayur dan
buah (Dedeh, et al., 2014).
Kebiasaan makan adalah suatu istilah untuk menggambarkan
kebiasaan dan perilaku yang berhubungan dengan makanan dan makan,
seperti tata krama makan, menu makanan, frekuensi dan porsi makanan dan
penerimaan terhadap makanan (rasa suka atau tidak suka terhadap makanan),
cara pemilihan bahan makanan yang hendak dimakan (Adriani, 2013).
Kebiasaan makan yang diperoleh remaja akan berdampak pada
kesehatan selanjutnya, yaitu dewasa dan lanjut usia. Buruknya kebiasaan
makan remaja akan menimbulkan berbagai macam permasalahan gizi
diantaranya anemia gizi besi dengan jumlah di Indonesia 21,7%, overweight,
3
13,6% , obesitas 21,6% dan kekurangan energi kronis atau KEK 36,3%
(Riskesdas, 2018).
disebabkan karena adanya ketidakseimbangan asupan gizi antara energi dan
protein, sehingga zat gizi yang dibutuhkan tubuh tidak cukup. KEK pada
wanita apabila tidak tertangani dengan baik dari semenjak remaja
berdasarkan dengan lingkar lengan atas (LILA) yang disesuaikan dengan
umur dapat berkelanjutan pada saat dewasa nanti (Simbulon, et al., 2018).
KEK adalah suatu keadaan dimana lingkar lengan atas kurang dari
23,5 cm. Proporsi wanita dengan KEK di Indonesia sebesar 31,8%, pada usia
remaja (15-19 tahun) sebesar 36,3% lebih besar dibandingkan dengan
kelompok dewasa (20-24 tahun) sebesar 23,3% (Riskesdas, 2018).
Berdasarkan data yang ada di Provinsi Jawa Barat, proporsi jumlah
yang mengalami KEK di Kabupaten Cianjur lebih besar dibandingkan
dengan Kota Bandung. Pada tahun 2017 jumlah wanita subur yang
mengalami KEK di Kota Bandung 983 kasus sedangkan di Kabupaten
Cianjur mencapai 4346 kasus (Mulyani, 2017).
Kabupaten Cianjur terdiri dari 45 Puskesmas. Jumlah KEK di
kabupaten Cianjur pada tahun 2016 sebanyak 2697 kasus, pada tahun 2017
sebanyak 5211 kasus dan pada tahun 2018 sebanyak 4346 kasus. Puskesmas
yang paling tertinggi adanya kasus KEK pada tahun 2017 yaitu Puskesmas
Sukanagalih 37,70%, yang kedua Puskesmas Cikondang 37,34% dan yang
ketiga Puskesmas Sukaresmi dengan jumlah 26,32%. Pada tahun 2018
4
Puskesmas Cikalongkulon dengan jumlah 1,99% (Dinkes Cianjur, 2018).
Puskesmas Sukaresmi merupakan salah satu Puskesmas yang berada
di Kabupaten Cianjur dengan jumlah KEK pada wanita setiap tahunnya
meningkat, pada tahun 2016 sebanyak 143 pada tahun 2017 sebanyak 315
atau sekitar 26,32% dan pada tahun 2018 sebanyak 350 atau sekitar 29,24%.
Setelah melakukan observasi pada hari jumat tanggal 14 Juni 2019
kepada anak remaja (15-18 tahun) di 3 daerah Cianjur, yang pertama Sekolah
Menegah Atas (SMA) di daerah kecamatan Cipanas terdapat 8 dari 12 anak
remaja terbukti ukuran LILA < 23,5 cm atau sebesar 66% remaja berisiko
KEK. Yang kedua SMA yang berada di daerah kecamatan Karangtengah
terdapat 8 dari 14 anak remaja terbukti ukuran LILA < 23,5 cm atau sebesar
57% remaja berisiko KEK. Dan yang ketiga pada remaja di SMA daerah
Pacet terdapat 9 dari 12 anak remaja terbukti ukuran LILA < 23,5 cm atau
sebesar 74% remaja berisiko KEK.
Dengan adanya permasalahan berisiko KEK pada remaja, maka
peneliti ingin mengetahui hubungan kebiasaan makan dilihat dari frekuensi
makan, selingan makan dan porsi makan (isi piring) dengan keadaan status
gizi dengan cara pengukuran lingkar lengan atas (LILA) pada remaja putri di
Sekolah Menengah Atas Cokroaminoto Sukaresmi yang berada di wilayah
Puskesmas Sukaresmi Kabupaten Cianjur.
usia remaja lebih tinggi permasalahannya dari usia wanita dewasa, sehingga
dapat dirumuskan masalah penelitian yaitu apakah ada hubungan kebiasaan
makan dengan keadaan status gizi pada remaja putri di SMA Cokroaminoto
Sukaresmi yang berada di wilayah Puskesmas Sukaresmi Kabupaten Cianjur.
1.3. Tujuan
status gizi pada remaja putri di Sekolah Menengah Atas
Cokroaminoto Sukaresmi.
Menengah Atas Cokroaminoto Sukaresmi.
Sekolah Menengah Atas Cokroaminoto Sukaresmi.
3. Untuk mengidentifikasi hubungan kebiasaan makan dengan status
gizi pada remaja putri di Sekolah Menengah Atas Cokroaminoto
Sukaresmi.
6
kesehatan masyarakat khususnya mengenai status gizi KEK yang
dapat dilakukan pada saat remaja sebagai upaya pencegahan KEK.
1.4.2. Manfaat praktik
dan perencanaan untuk pelaksanaan cek rutin kesehatan untuk
remaja di sekolah dalam upaya mewujudkan sekolah yang sehat
dalam menunjang peningkatan kualitas pendidikan.
2. Bagi Remaja
wawasan bagi remaja putri terkait masalah kesehatan dan keadaan
status gizi untuk upaya pencegahan KEK.
3. Bagi Puskesmas
dan cek kesehatan remaja dalam rangka peningkatan
pembangunan siswa-siswi yang berkualitas.
Hasil penelitian ini dapat bermanfaat untuk menambah
kepustakaan baru yang kiranya dapat memanfaatkan informasi dan
7
kesehatan status gizi bagi remaja.
5. Bagi peneliti lain
ilmu serta sebagai bahan referensi yang dapat dijadikan bahan
penelitian selanjutnya.
yaitu hal yang bersifat eksternal adanya perubahan lingkungan dan hal
yang bersifat internal pada karakteristik didalam diri remaja yang
membuat remaja relative lebih aktif dibandingkan dengan masa
perkembangan lainnya (Suandi, 2008).
Masa remaja juga masa transisi yang ditandai oleh adanya
perubahan fisik, emosi dan fiksi. Masa remaja yakni antara usia 10-19
tahun suatu periode masa pematangan organ reproduksi manusia dan
sering disebut masa pubertas (Widyastuti, 2009).
2.1.2. Karakteristik Remaja
fisik dulu kemudian diikiuti perubahan psikis pada remaja. Perubahan
yang mencolok pada remaja laki-laki dan perempuan umumnya terjadi
saat usia 9 – 19 tahun. perubahan yang terjadi bukan hanya bertambah
tinggi dan besar saja, tetapi juga terjadi perubahan organ reproduksi
sehingga mereka bisa menghasilakn keturunan. Perubahan tersebut
9
dewasa. Remaja perempuan ditandai dengan datangnya menstruasi,
sedangkan pada remaja laki-laki ditandai dengan mimpi basah (Ali,
2014).
melewati beberapa tahap yang mungkin dipengaruhi oleh kontak
dengan lingkungan sekitarnya. Fase remaja dibagi dalam beberapa
tahap perkembangan remaja diantaranya :
Pada fase ini remaja merasa dan tampak lebih dekat dengan
teman sebaya, menginginkan kebebasan, mulai tampak berfikir
khayal terhadap bentuk tubuh.
Pada masa ini remaja mulai mencari jati diri ada keterkaitan
terhadap lawan jenis, ingin berkencan, mulai merasakan cinta
yang mendalam, kemampuan berfikir abstraknya semakin
berkembang dan berimajinasi tentang seksual.
c. Fase remaja akhir (17-19 tahun )
Remaja pada fase ini mulai menampakan kebebasan dirinya,
lebih selektif dalam mencari teman, mulai memiliki citra diri
terhadap dirinya dan mampu untuk mengungkapkan perasaan
cintanya sehingga mampu berfikir abstrak atau khayal.
10
yang dapat dilihat dari makanan yang dikonsumsi dan penggunaan
zat-zat gizi didalam tubuh.
kebutuhan fisik terhadap energi dan zat-zat gizi yang diperoleh dari
pangan dan makanan yang dampak fisiknya dapat diukur (Suhardjo,
2008).
tubuh dan energi yang dikeluarkan dari luar tubuh sesuai dengan
kebutuhan individu. Energi yang masuk kedalam tubuh dapat berasal
dari karbohidrat, protein, lemak dan zat gizi lainnya (Nix, 2005).
Status gizi kurang sering disebut undernutiron merupakan
keadaan gizi seseorang dimana jumlah energi yang masuk lebih
sedikit dari energi yang dikeluarkan. Hal ini dapat terjadi karena
jumlah energi yang masuk lebih sedikit dari anjuran kebutuhan
individu (Wardlaw, 2007).
seorang dimana jumlah energy yang masuk kedalam tubuh lebih
besar dari jumlah energi yang dikeluarkan. Hal ini terjadi karena
jumlah energi yang masuk melebihi kecukupan energi yang
11
gemuk.
untuk menemukan suatu populasi atau individu yang memilki risiko
status gizi kurang maupun gizi lebih (Supariasa, 2012).
1. Penilaian langsung
status gizi yang berhubungan dengan ukuran tubuh yang
disesuaikan dengan umur dan tingkat gizi seseorang. Pada
umumnya ini untuk mengukur dimensi dan komposisi tubuh
seseorang. Pemeriksaan antropometri yang dapat dilakukan
seperti pengukuran lingkar kepala pada anak sampai umur 3
tahun, tebal lipatan kulit yang merupakan penanda sebuah
cadangan lemak subkutan dan lemak tubuh total,
pengukuran lingkar lengan atas (LILA) pada remaja atau
wanita usia subur dan ibu hamil, pengukuran indeks masa
tubuh (IMT).
gizi berdasarkan perubahan yang terjadi yang berhubungan
erat dengan kekurangan maupun kelebihan asupan zat gizi.
Pemeriksaan klinis dapat dilihat pada jaringan epitel yang
terdapat dimata, kulit, rambut, dan organ yang dekat dengan
permukaan tubuh.
c. Biokimia
laboraturium. Pemeriksaan biokimia pemeriksaan yang
digunakan untuk mendeteksi adanya defiensi zat gizi pada
kasus yang lebih parah lagi, dimana dilakukan pemeriksaan
dalam suatu bahan biopsi sehingga dapat diketahui kadar zat
gizi atau adanya simpanan di jaringan yang paling sensitive
terhadap deplesi.
d. Biofisik
status gizi dengan melihat kemampuan fungsi jaringan dan
melihat perubahan struktur jaringan yang dapat digunakan
dalam keadaan tertentu, seperti kejadiaan buta senja.
13
penilaian status gizi dengan melihat jumlah, porsi, frekuensi
dan jenis makanan yang sering dikonsumsi oleh remja.
Kebiasaan makan merupakan kebiasaan yang
dilakukan remaja berkaitan dengan konsumsi makanan yang
mencakup jenis makanan, jumlah, frekuensi mengkonsumsi
makanan, distribusi makanan dalam keluarga dan cara
memilih makanan yang dapat diperoleh berdasarkan
lingkungannya.
kematian, dan angka penyakit infeksi yang berkaitan dengan
kekurangan gizi.
ekologi karena masalah gizi dapat terjadi karena interaksi
beberapa faktor ekologi, seperti faktor biologis, faktor fisik,
dan lingkungan budaya. Penelitian berdasarkan faktor
14
malnutrion disuatu masyarakat yang nantinya akan sangat
berguna untuk melakukan intervensi gizi.
2.2.3. Jenis Parameter
tunggal dari tubuh manusia seperti lingkar lengan atas (LILA).
Lingkar lengan atas dewasa ini memang merupakan salah satu
pilihan untuk penentuan status gizi, karena mudah dilakukan dan tidak
memerlukan alat-alat yang sulit diperoleh dengan harga yang lebih
murah.
a. Tetapkan posisi bahu dan siku
b. Letakan pita antara bahu dan siku
c. Tentukan titik tengah lengan
d. Lingkarkan pita LILA pada tengah lengan
e. Pita jangan terlalu longgar
f. Pita jangan terlalu ketat
g. Cara pembacaan skala yang benar.
Hal- hal yang perlu diperhatikan dalam pengukuran LILA
adalah pengukuran dilakukan dibagian tengah anytara bahu dan siku
lengan kiri (kecuali orang kidal kita ukur lengan kanan). Lengan harus
15
dalam posisi bebas, lengan baju dan otot lengan dalam keadaan tidak
tegang atau kencang. Alat pengukur dalam keadaan baik dalam arti
kusut atau sudah dilipat-lipat sehingga permukaannya sudah tidak rata
(Adisty, 2012).
antropometri dan puslitbang gizi dibagi menjadi tiga, yaitu :
a. Gizi baik, dengan ukuran LILA 20.5 cm - 24.5 cm
b. Gizi kurang, dengan ukuran LILA 19.5 cm – 20.4 cm
c. Gizi buruk, dengan ukuran LILA kurang dari 19.5 cm
(Supariasa, et al., 2016).
2.3.1. Gizi dan Remaja
pandang biologi, psikologi, dan dari sudut pandang social. Secara biologis
kebutuhan nutrisi mereka selaras dengan aktivitas mereka. Remaja
membutuhkan lebih banyak protein, vitamin, dan mineral per unit dari setiap
energy yang mereka konsumsi dibanding dengan anak yang belum
mengalami pubertas (Merryana, 2014).
16
mempengaruhi kebutuhan gizi dan makanan mereka.
Kecepatan puncak pertambahan tinggi badan untuk anak laki-laki
adalah pada usia 13,5 tahun dan anak perempuan pada usia 11,5 tahun.
Perubahan komposisi tubuh pada usia remaja merupakan factor penting yang
mempengaruhi kebutuhan gizi pada usia remaja (Moehji, 2013).
2.3.2. Kebutuhan Gizi pada Usia Remaja
Tingginya kebutuhan energy dan nutrient pada remaja dikarenakan
perubahan dan pertambahan berbagai dimensi tubuh (berat badan, tinggi
badan) massa tubuh serta komposisi sebagai berikut:
Tinggi badan
a. Sekitar 15 – 20% tinggi badan dewasa dicapai pada masa remaja
b. Percepatan tumbuh anak lelaki terjadi lebih belakangan serta
puncak percepatan lebih tinggi dibanding anak perempuan.
Pertumbuhan linear dapat melambat atau terhambat bila
kecukupan makanan / energi sangat kurang.
Berat badan
a. Sekitar 25 - 50% final berat badan ideal dewasa dicapai pada
masa remaja.
dipengaruhi asupan makanan atau energi.
17
a. Pada masa pra-pubertas proporsi jaringan lemak dan otot maupun
massa tubuh tanpa lemak pada anak lelaki dan perempuan sama.
b. Anak lelaki yang sedang tumbuh pesat, penambahan jaringan otot
lebih banyak daripada jaringan lemak secara proporsional,
demikian pula massa tubuh tanpa lemak disbanding anak
perempuan
c. Jumlah jaringan lemak tubuh pada orang dewasa normal adalah
23% pada perempuan dan 15% pada lelaki
d. Sekitar 45% tambahan massa tulang terjadi pada masa remaja dan
pada akhir dekade kedua kehidupan 90% masa tulang tercapai
(Sandra, Ahmad and Arinda, 2012).
Tabel berikut ini memuat perkiraan kebutuhan berbagai zat gizi pada
usia remaja
Jenis
kelamin
Umur
(tahun)
Berat
(Kg)
18
Sumber : Gizi Indonesia, Vol. XVIII, No. 1-2
2.4. Faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi remaja
Faktor- faktor yang mempengaruhi status gizi pada remaja putri ada dua,
yaitu faktor yang langsung dan faktor yang tidak langsung, adapun
penjelasannya sebagai berikut :
1. Faktor langsung
a. Konsumsi makanan
berpengaruh langsung terhadap keadaan gizi seseoarang karena
konsumsi makan yang tidak sesuai dengan kebutuhan tubuh, baik
kualitas maupun kuantitas dapat menimbulkan masalah gizi. Hal
ini tergantung pula pada pendapatan, agama, kebiasaan makan,
dan adat yang bersangkutan (Suandi, 2008).
Kebiasaan makan merupakan salah satu yang
memepengaruhi kebiasaan makan seorang remaja. Kebiasaan
makan adalah sebagai cara individu dan kelompok
mengkonsumsi dan menggunakan makanan yang tersedia yang
didasarkan kepada faktor-faktor sosial dan budaya dimana
mereka hidup (Kadir, 2011).
statistik spearman rho diketahui bahwa nilai p value (0,000) <
alpha (0,01) sehingga ada hubungan antara pola konsumsi makan
19
akan mempengaruhi asupan makanan yang akan berdampak
terhadap status gizi. Sedangkan menurut hasil penelitian oleh
(Pujiati, 2015) uji statistik dengan derajat kemaknaan alpha =
0,05 diperoleh hasil p value 0,331 yang berarti tidak ada
hubungan antara perilaku makan dengan status gizi pada remaja
putri di RW 5 kelurahan cinta raja kota Pekanbaru.
b. Infeksi / penyakit
masuknya bibit penyakit. Antara infeksi dan status gizi kurang
terdapat interaksi bolak-balik. Infeksi dapat menimbulkan gizi
kurang melalui berbagai mekanismenya. Yang penting adalah
efek langsung dari infeksi sistemik pada katabolisme jaringan.
Walaupun hanya terhadap infeksi ringan sudah menimbulkan
kehilangan nitrogen.
harus diperhatikan, karna sangat erat hubungannya antara infeksi
dengan malnutrisi. Interaksi yang sinergis antara malnutrisi
dengan infeksi penyakit, dan juga infeksi akan mempengaruhi
status gizi mempercepat malnutrisi. Mekanisme patologisnya
dapat bermacam-macam, baik secara sendiri-sendiri maupun
bersamaan, yaitu :
menurunnya absorpsi, dan kebiasaan mengurangi makanan
pada saat sakit.
dan pendarahan yang terus-menerus
akibat sakit dan parasite dalam tubuh.
2. Faktor tidak langsung
uang yang akan dibelanjakan oleh keluarga dalam bentuk
makanan. Kemiskinan sebagai penyebab gizi kurang menduduki
posisi pertama pada kondisi yang umum. Hal ini harus mendapat
perhatian serius karena keadaan ekonomi ini relative mudah
diukur dan berpengaruh besar terhadap konsumen pangan.
Berdasarkan hasil analisis data pada penelitian (Rompas,
2016) dengan menggunakan uji korelasi spearman , tingkat
pendidikan ayah r=0,085 dengan nilai p = 0,415 (>0,05)
pendidikan ibu r=0,129 dengan nilai p=0,214(>0,05), jumlah
tanggungan keluarga r=0,034 dengan nilai p= 0,745 (>0,05),
jumlah pendapatam keluarga r=0,424 dengan nilai p= 0,000
(<0,05). Terdapat hubungan yang bermakna antara pendapatan
keluarga dan tidak ada hubungan yang bermakna antara
21
dengan status gizi.
daya beli memadai tetapi karena kekurangan pengetahuan ini bisa
menyebabkan keluarga tidak menyediakan makanan
beranekaragam dan bergizi setiap hari bagi keluarganya.
Berdasarkan hasil penelitian (Santi, 2018) bahwa tidak
terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan siswi tentang status
gizi remaja putri SMA Muhamadiyah Sragen ditunjukan dengan
nilai sig (0,082) > 0,05. Sedangkan berdasarkan hasil uji korelasi
ganda oleh (Laenggeng and Lumalang, 2015) terdapat hubungan
yang sangat rendah anatra pengetahuan gizi dan sikap memilih
jajanan dengan status gizi siswa di SMPN 1 Palu (nilai R = 0,131)
namun uji signifikan menunjukan tidak terdapat hubungan yang
signifikan karena Fhitung < Ftabel yaitu Fhitung (0,585) dan
Ftabel (3,31).
pertumbuhan anak baik secara fisik maupun psikis. Orang tua
memberikan dorongan bagi anak dengan mengubah tingkah laku,
22
mandiri, tumbuh serta berkembang secara sehat.
Pola asuh makan orang tua kepada anak atau parenatal
feeding adalah perilaku orang tua yang menunjukan bahwa mereka
memberikan makan pada anaknya baik dengan pertimbangan atau
tanpa pertimbangan (Anugra, 2007).
parenatal feeding style dikelompokan menjadi 4 yaitu :
1) Emotional feeding
tenang, merupakan salah satu tipe pola asuh makan
dimana orang tua memberikan makanan agar anaknya
tenang saat si anak merasa marah, cemas, menangis dan
lain-lain.
reward berupa makanan jika anak berperilaku baik atau
melakukan hal yang diperintahkan oleh orang tua.
3) Prompting or encouragement to eat
Merupakan tipe pola asuh makan dimana orangtua
mendorong anaknya untuk makan dan menguji jika
anaknya memakan makanan yang telah disediakan.
23
memakan makanannya.
anaknya makan, menentukan makanan baik jenis dan
jumlah makanannya, serta orang tua menentukan kapan
anak harus makan dan berhenti makan.
d. Pelayanan Kesehatan
yang diampu Dinas Kesehatan di tingkat Kabupaten/kota, untuk
melayani kesehatan remaja. Program yang dijalankan meliputi
konseling yang kontak dengan petugas kesehatan, pendidikan
keterampilan hidup sehat, pemberian informasi dan edukasi. Di
pelananan kesehatan remaja juga terdapat program gizi remaja
yang meliputi pengertian gizi, zat gizi, gizi seimbang yang di
dalamnya ada pesan khusus gizi seimbang untuk remaja,
menyusun menu gizi seimbang, cara menilai status gizi, dan
masalah gizi pada remaja.
hubungan peran tenaga kesehatan (nilai p=0,032), dukungan
24
keluarga (nilai p= 0,025), dan tingkat pengetahuan (nilai p=0,002)
dengan status gizi pada remaja SMP. Dapat dismimpulkan bahwa
tenaga kesehatan, keluarga, dan tingkat pengetahuan berperan
dalam keadaan status gizi remaja.
2.5. Kebiasaan Makan Remaja
2.5.1. Pengertian Kebiasaan Makan
terhadap situasi tertentu untuk di pelajari oleh seorang individu dan
yang di lakukan secara berulang untuk hal yang sama. Kebiasaan
adalah pola perilaku yang diperoleh dari pola praktik yang terjadi.
Kebiasaan makan yaitu suatu pola kebiasaan konsumsi yang
diperoleh karena terjadi berulang-ulang (Khumaidi, 2008).
Kebiasaan makan adalah cara individu atau kelompok
individu memilih pangan apa yang dikonsumsi sebagai reaksi
terhadap pengaruh fisiologis, psikologi dan social budaya. Kebiasaan
makan bukanlah bawaan sejak lahir tetapi merupakan hasil belajar
(Suhardjo, 2010).
meliputi makan pagi, makan siang, makan malam dan makan selingan
(Kemenkes, 2013). Sedangkan menurut (Suhardjo, 2016) frekuensi
makan merupakan berulang kali makan sehari dengan jumlah 3 kali
25
makan pagi, makan siang, dan makan malam. Frekuensi makan ini
disesuaikan dengan waktu pengosongan lambung yakni 3-4 jam.
Dalam kebiasaan makan sehari-hari biasanya frekuensi
makan sering tidak teratur seperti terlambat makan atau menunda
waktu makan bahkan tidak makan dapat membuat perut mengalami
kekosongan dalam jangka waktu yang lama. Frekuensi makan yang
tidak teratur tentunya akan dapat menyerang lambung. Frekuensi
makan malam juga tidak boleh terlalu dekat dengan waktu tidur
(Adriani, 2013).
Republik Indoneisa untuk menggantikan slogan 4 sehat 5 sempurna
yang sudah tak relevan lagi dengan perkembangan zaman saat ini.
Pelaksanaan program ini didukung sepenuhnya oleh Danone Indonesia
karena sejalan dengan gerakan Alimentation Revolution atau Revolusi
Pangan Danone. Karena pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi anak
sangat penting, maka asupan makanan anak di dalam isi piring
makanya seluruh nutrisi bisa terpenuhi dengan baik.
Porsi isi piringku yang dianjurkan Kemenkes adalah :
1. Makanan pokok (sumber karbohidrat; singkong, beras,
mie/bihun, jagung, sagu, kentang) dengan porsi 2/3 dari ½
piring.
26
2. Lauk pauk (sumber protein hewani; ikan dan hasil laut lainnya,
ayam, sapi, telur, susu dan produk olahnnya. Sumber protein
nabati; tempe, tahu, kacang-kacangan) dengan porsi 1/3 dari ½
piring.
bayam, salada air, lobak, bayam, brokoli, tomat dll) dengan
porsi 2/3 dari ½ piring
4. buah-buahan (sumber vitamin dan mineral; pisang, mangga,
pepaya, apel, jambu, jeruk, dukuh dll) dengan porsi 1/3 dari ½
piring
dengan konsep 4 sehat 5 sempurna, yang membedakan ialah dalam
hal porsi makanan serta komponen susu yang di hilangkan, karena
susu merupakan salah satu makanan sumber protein sehingga susu di
masukan ke dalam kelompok lauk pauk (Manjilala, 2019).