HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN PERILAKU PROSOSIAL PADA REMAJA semakin rendahnya sikap...

download HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN PERILAKU PROSOSIAL PADA REMAJA semakin rendahnya sikap prososial

If you can't read please download the document

  • date post

    18-Jan-2021
  • Category

    Documents

  • view

    0
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN PERILAKU PROSOSIAL PADA REMAJA semakin rendahnya sikap...

  • i

    i

    HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN

    PERILAKU PROSOSIAL PADA REMAJA

    OLEH

    GUNEVIELLA FEBRELIAN WINNIARTHY

    802008008

    TUGAS AKHIR

    Diajukan Kepada Fakultas Psikologi Guna Memenuhi Sebagian Dari Persyaratan

    Untuk Mencapai Gelar Sarjana Psikologi

    Program Studi Psikologi

    FAKULTAS PSIKOLOGI

    UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA

    SALATIGA

    2015

  • i

    i

  • ii

  • iii

  • iv

    HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN

    PERILAKU PROSOSIAL PADA REMAJA

    Guneviella Febrelian Winniarthy

    Berta Esti Ari Prasetya

    Enjang Wahyuningrum

    Program Studi Psikologi

    FAKULTAS PSIKOLOGI

    UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA

    SALATIGA

    2015

  • i

    i

    ABSTRAK

    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara kecerdasan emosi

    dengan perilaku prososial. Sampel yang digunakan adalah pelajar SMA Kristen Satya

    Wacana salatiga dan berusia 15 – 18 tahun. Teknik sampling yang digunakan incidental

    sampling. Jumlah sampel yang digunakan berjumlah 172 orang (kelas X dan kelas XI).

    Metode pengumpulan data pada variable kecerdasan emosi diadopsi dari Schutte (1998)

    yang didasarkan pada teori Salovey (2007) yang memiliki lima aspek kecerdasan emosi

    yaitu kesadaran diri, pengaturan diri, motivasi diri, empati dan keterampilan sosial. Pada

    variable perilaku prososial di adopsi berdasarkan skala yang di susun oleh Carlo dan

    Randall (2002). Adapun aspek perilaku prososial dari Carlo dan Randall (2002)

    diantaranya altruism, compliance, emotional, dire, anonymous dan public. Hasil

    penelitian ini diperoleh nilai korelasi product moment rxy = 0,466 ; p = 0,000 (p < 0,05)

    yang berarti terdapat hubungan positif dan signifikan antara kecerdasan emosi terhadap

    perilaku prososial pada remaja. Nilai koefisien determinasi sebesar 21,8 % artinya

    kecerdasan emosi memberikan sumbangan terhadap munculnya perilaku prososial

    remaja sebesar 21,8 % dan sisanya 78,2 % ditentukan oleh faktor-faktor lain.

    Kata kunci : Perilaku prososial, kecerdasan emosional.

  • ii

    ABSTRACT

    This study aims to investigate the relationship between emotional intelligence and

    prosocial behavior. The sample used was a high school student Kristen Satya Wacana

    Discourse Salatiga and aged 15-18 years. The sampling technique used incidental

    sampling. The number of samples used were 172 people (class X and XI). The method

    of collecting data on emotional intelligence variable adopted from Schutte (1998) which

    is based on the theory Salovey (2007) which has five aspects of emotional intelligence

    is self-awareness, self-regulation, self-motivation, empathy and social skills. The

    variable prosocial behavior in the adoption by the scale collated by Carlo and Randall

    (2002). The prosocial behavior aspects of Carlo and Randall (2002) including altruism,

    compliance, emotional, dire, anonymous and public. The results of this study showed

    the value of the product moment correlation r xy = 0.466 ; p = 0.000 (p < 0.05), which

    means that there is a positive and significant relationship between emotional

    intelligence on prosocial behavior in adolescents. Value of determination coefficient of

    21.8 % means that emotional intelligence contributes to the emergence of adolescence

    prosocial behavior by 21.8 % and the remaining 78.2 % is determined by other factors.

    Keywords : Prosocial behaviour, emotional intelligence.

  • 1

    1

    PENDAHULUAN

    Latar Belakang Masalah

    Saat ini kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa masyarakat

    pada kehidupan yang serba praktis dan individual, sehingga kepedulian sosial antar

    individupun menjadi berkurang. Sears (1991) menyatakan bahwa masing-masing

    individu bukanlah semata-mata makhluk tunggal yang mampu hidup sendiri, melainkan

    sebagai makhluk sosial yang sangat bergantung pada individu lain. Seseorang dikatakan

    berperilaku prososial jika individu tersebut menolong individu lain tanpa

    memperdulikan motif-motif si penolong, timbul karena adanya penderitaan yang

    dialami oleh orang lain dalam bentuk aktivitas: saling membantu, saling menghibur,

    persahabatan, penyelamatan, pengorbanan, kemurahan hati, dan saling membagi.

    Fenomena menurunnya perilaku prososial ini juga terjadi pada remaja di

    lingkungan SMA Kristen Satya Wacana Salatiga. Berdasarkan hasil wawancara peneliti

    di bulan Juli 2014 dengan 10 siswa di SMA Kristen Satya Wacana, semisal saat ada

    seorang teman yang berkeinginan meminjam buku catatan, tidak ada teman yang

    meminjamkan buku catatan yang diinginkan, dengan alasan dirinya bukanlah teman

    dekatnya. Selain itu juga rendahnya perilaku prososial remaja di sana juga ditunjukkan

    saat ada temannya yang sakit hanya teman-teman terdekat saja yang menjenguknya,

    sedangkan lainnya tidak perduli. Hal tersebut bila tidak diatasi maka bisa menyebabkan

    semakin rendahnya sikap prososial remaja terhadap orang lain.

    Eisenberg dan Wang (dikutip Santrock, 2007) mengemukakan bahwa seseorang

    dikatakan memiliki perilaku prososial bila dirinya 1memiliki kepedulian terhadap

    keadaan dan hak orang lain, perhatian dan empati pada orang lain serta berbuat sesuatu

  • 2

    yang memberikan manfaat bagi orang lain. Perilaku prososial dapat memberikan

    pengaruh bagaimana individu melakukan interaksi sosial.

    Sears (1991) memberikan pemahaman mendasar bahwa masing-masing individu

    bukanlah semata-mata makhluk tunggal yang mampu hidup sendiri, melainkan sebagai

    makhluk sosial yang sangat bergantung pada individu lain, individu tidak dapat

    menikmati hidup yang wajar dan bahagia tanpa lingkungan sosial. Seseorang dikatakan

    berperilaku prososial jika individu tersebut menolong individu lain tanpa

    memperdulikan motif-motif si penolong, timbul karena adanya penderitaan yang

    dialami oleh orang lain yang meliputi saling membantu, saling menghibur,

    persahabatan, penyelamatan, pengorbanan, kemurahan hati, dan saling membagi.

    Individu yang memiliki kecenderungan yang tinggi untuk melakukan tindakan

    prososial, biasanya memiliki karakteristik kepribadian salah satunya yakni memiliki

    kecerdasan emosi (Wilson dan Petruska dalam Dayakisni & Hudaniah, 2006).

    Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi munculnya perilaku prososial adalah

    kecerdasan emosional yang dimiliki oleh individu. Hal ini sejalan dengan hasil

    penelitian Sabiq dan Djalali (2012), ada hubungan yang signifikan antara kecerdasan

    emosi, kecerdasan spiritual dengan perilaku prososial. Hal ini juga dibuktikan dengan

    hasil penelitian Asih dan Pratiwi (2010) bahwa kecerdasan emosi dan empati sangat

    mempengaruhi perilaku prososial seseorang. Seseorang yang secara emosional cerdas

    akan cepat dapat mengenali emosi yang sedang dialaminya, dan dengan segera dapat

    mengelola emosi yang muncul (Mathews dkk, 2002). Potensi tersebut akan berdampak

    pada kemampuan menyelesaikan permasalahan dengan baik dan memaksimalkan

    kemampuan penyesuaian diri dengan lingkungan. Sedangkan tidak adanya kompetensi

    tersebut dapat menyebabkan kekacauan dalam kejiwaan yang dapat berupa depresi

  • 3

    (Smith dan Blackwood, 2004). Ketidakmampuan mengelola emosi akan menyebabkan

    seseorang jatuh pada keadaan emosi negatif, hal ini terkait erat dengan peningkatan

    derajat depresi (Verstraeten, 2008). Berdasarkan dari hasil-hasil penelitian sebelumnya,

    peneliti ingin membuktikan bagaimana kaitan antara kecerdasan emosi dengan perilaku

    prososial yang terjadi pada remaja awal usia 15 - 18 tahun di SMA Kristen Satya

    Wacana ini. Rendahnya perilaku prososial yang ditunjukkan para remaja di SMA

    tersebut, maka peneliti berkeinginan mengambil sampel pada remaja awal. Pada usia

    ini diasumsikan remaja memasuki tahapan identitas dan kekacauan diri yang merupakan

    tahapan dalam psikososial dari Erik Erikson dimana pada tahap ini sebagai penentu

    perkembangan emosi di masa dewasa nantinya. Dengan kata lain kecerdasan emosi

    yang dimiliki pada remaja awal cenderung masih rendah.

    Kartono (1995) mengartikan kecerdasan emosi sebagai suatu keadaan atau kondisi

    mencapai tingkat kedewasaan dari perkembangan emosional. Oleh karena itu, pribadi

    yang bersangkutan tidak lagi menampilkan perilaku emosional seperti pada masa kanak-

    kanak. Arbadiati dan Kurniati (2007) mengatakan bahwa individu yang memiliki

    kecerdasan emosi pasti memiliki kemampuan dalam merasakan emosi, mengelola dan

    memanfaatkan emosi secara tepat sehingga memberikan kemudahan dalam menjalani

    kehidupan sebagai makhluk sosial. Oleh karena itu peneliti berkeinginan untuk meneliti

    lebih jauh bagaimana hubungan kecerdasan emosi dengan perilaku prososial pada

    remaja awal di SMA Kristen Satya Wacana Salatiga.

    Rumusan Masalah

    Berdasarkan pada uraian latar belakang di atas, p