Editan Sip Markotop

download Editan Sip Markotop

of 14

  • date post

    19-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    104
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Editan Sip Markotop

1

PENDAHULUAN Latar belakang Polusi atau pencemaran lingkungan adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan, atau berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam sehingga kualitas lingkungan turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya (Undang-undang Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup No. 4 Tahun 1982). Salah satu polusi atau pencemaran lingkungan adalah polusi suara. Polusi suara atau pencemaran suara adalah gangguan pada lingkungan yang diakibatkan oleh bunyi atau suara yang mengakibatkan ketidaktentraman makhluk hidup di sekitarnya. Pencemaran suara diakibatkan suara-suara bervolume tinggi yang membuat daerah sekitarnya menjadi bising dan tidak menyenangkan. Penilaian terhadap suara yang muncul sebagai polusi atau tidak merupakan sesuatu yang subjektif. Kerusakan yang diakibatkan pencemaran suara bersifat setempat, tidak seperti polusi udara maupun polusi air. Menurut World Health Organization, polusi suara atau disebut juga kebisingan merupakan jenis polusi paling berbahaya setelah polusi udara dan air. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya polusi suara atau kebisingan diantaranya adalah semakin majunya teknologi, perkembangan peralatan yang digunakan manusia semakin meningkat. sarana transportasi yang semakin banyak dan kompleks. Sarana transportasi yang semakin meningkat dari tahun ke tahun menyebabkan tingkat polusi bising/polusi suara menjadi masalah yang tak terelakan bagi masyarakat. Sebagian besar polusi suara terjadi di jalan raya ataupun tempat-tempat keramaian. Kebisingan yang terjadi di jalan raya diakibatkan oleh sarana transportasi yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Akibat dari kebisingan tersebut terjadinya gangguan keseimbangan, gangguan psikologis, gangguan pendengaran, gangguan komunikasi dan sebagainya. Solusi yang pernah dikembangkan untuk mengurangi kebisingan adalah dengan menggunakan pemasangan barrier baik secar alami maupun secara buatan. Solusi yang ditawarkan hanya menyangkut sistem terbuka. Artinya hanya bagian luar dari suatu sistem jalan raya. Optimalisasi dari solusi yang ada tidak menyangkut pada efisiensi reduksi bising di jalan raya. Dari hal tersebut diperlukannya suatu solusi untuk mereduksi kebisingan yang terjadi di jalan raya. Tujuan 1. Untuk mengetahui peredam bising alami yang dapat digunakan untuk mereduksi bising di jalan raya dengan tingkat reduksi yang tinggi. 2. Untuk mengetahui peredam bising buatan yang dapat digunakan untuk mereduksi bising di jalan raya dengan tingkat reduksi yang tinggi 3. Untuk mengetahui bahan campuran alami pada peredam bising buatan yang dapat digunakan untuk mereduksi bising di jalan raya dengan tingkat reduksi yang tinggi 4. Untuk merumuskan konsep sebagai solusi atas polusi suara yang terjadi di jalan raya

2

Manfaat 1. Sebagai solusi atas pencemaran suara/polusi suara di jalan raya sehingga polusi suara atau kebisingan suara dapat direduksi dan tidak menimbulkan dampak negatif bagi manusia. 2. Sebagai referensi mengenai bahan alami yang dapat digunakan sebagai bahan campuran pada peredam bising buatan 3. Dengan ditanamnya bambu pringgodani dapat memberikan keindahan pada jalan raya serta kebersihan jalan raya. GAGASAN Kondisi kekinian pencetus gagasan Polusi atau pencemaran lingkungan adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat energi, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan, atau berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam sehingga kualitas lingkungan turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya (Undang-undang Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup No. 4 Tahun 1982). Syarat-syarat suatu zat disebut polutan bila keberadaannya dapat menyebabkan kerugian terhadap makhluk hidup. Sehingga seberapa kecil atau seberapa haluspun suara jika tidak diinginkan akan disebut bising dan mengganggu (Santoso dan Prayitno, 1986). Suatu zat dapat disebut polutan apabila: jumlahnya melebihi jumlah normal, berada pada waktu yang tidak tepat, berada pada tempat yang tidak tepat.

Gambar 1.1 Sumber Pencemaran Lingkungan Sumber: http://netsains.com/wp-content

Pencemaran suara atau polusi suara adalah suara yang tidak dikehendaki dan mengganggu manusia (Lord, Gatley dan Evensen, 1980; Magrad, 1982). Polusi suara disebabkan oleh suara bising kendaraan bermotor, kapal terbang, deru mesin pabrik, radio/tape recorder yang berbunyi keras sehingga mengganggu pendengaran.

3

Salah satu sumber utama polusi suara atau kebisingan adalah bunyi lalu lintas kendaraan bermotor. Bunyi lalu lintas adalah bunyi yang tidak konstan tingkat suaranya. Tingkat gangguan bising dari bunyi lalu lintas dipengaruhi oleh tingkat suaranya, kekerapan kehadirannya dalam satu satuan waktu, serta frekuensi bunyi yang dihasilkannya (Magrad, 1982). Bising lalu lintas ditimbulkan oleh bising yang dihasilkan dari kendaraan bermotor. Dimana bising kendaraan bermotor itu sendiri bersumber dari mesin kendaraan, bunyi pembuangan kendaraan, serta burryi yang dihasilkan oleh interaksi antara roda dengan jalan. Truk (kendaraan berat, termasuk bus) dan mobil merupakan sumber bising utama di jalan raya. (AASHTO, 1993) Mobil (kendaraan ringan) pada umumnya relatif tidak bising, tetapi karena jumlahnya yang banyak maka kebisingan yang dihasilkan menjadi cukup besar. Sumber bising utama dari mobil adalah bunyi pembakaran mesin serta bunyi gesekan antara ban dengan lapisan perkerasan jalan raya. Pada saat mesin mobil dinyalakan serta saat melakukan percepatan maksimum, bising terutama dihasilkan oleh bunyi mesin, sedangkan saat mobil melaju dengan kecepatan ringgi, sumber bising terbesar adalah bunyi gesekan roda dan perkerasan jalan (AASHTO, 1993).

Gambar 1.1 Kepadatan kendaraan bermotor (Sumber : http://nustaffsite.gunadarma.ac.id) Truk (kendaraan berat), terutama yang bemesin diesel, karena ukuran dan tenaga yang dihasilkan oleh mesinnya, dapat menghasilkan tingkat bising lebih besar 15 dBA daripada mobil (kendaraan ringan). Bunyi pembakaran dalam mesin truk memberikan kontribusi bising yang besar terhadap kebisingan jalan raya, terutama saat truk melakukan percepatan, dan saat truk mencapai kecepatan diatas 80 km/jam (AASHTO, 1993). Kebisingan jalan raya {road traffic) memberikan proporsi frekuensi kebisingan yang paling mengganggu jika dibandingkan dengan kebisingan lapangan terbang (aircraft), anak-anak, manusia, hewan, kereta api maupun faktor-faktor lainnya (Croome, 1982). Standar Dan Kriteria Kebisingan Lalu Lintas Tingkat kebisingan yang dihasilkan oleh lalu Iintas selalu berubah setiap waktu, sehingga diperlukan sebuah standar dan kriteria kebisingan yang dapat digunakan untuk menilai tingkat kebisingan sebuah lingkungan, sebagai dasar perhitungan teknik untuk disain kontrol kebisingan, dan sebagai dasar evaluasi kontrol kebisingan secara berkala (Lord, Gatley dan Evensen, 1980).

4

Standar kebisingan adalah sebuah metode, prosedur, atau spesifikasi yang berhubungan dengan aspek-aspek kebisingan (metode pengukuran, efek bising pada manusia, level yang diijinkan) (Lord, Gatley dan Evensen, 1980). Sedangkan kriteria kebisingan adalah ukuran kuantitatif (besaran) atau hubungan, yang digunakan untuk menggambarkan pengaruh ringkat kebisingan, variasi perubahan, lamanya bising berlangsung dan menjadi ukuran dari gangguan yang ditimbulkan terhadap manusia (Lord, Gatley dan Evensen, 1980). Pada umiunnya standar dan kriteria kebisingan ditetapkan oleh komite perdagangan dan industri, lembaga ilmu pengetahuan dan teknologi, dan pihak pemerintah yang berkepentingan dan bergerak di bidang akustik. Badan yang membuat standar kriteria kebisingan antara lain American Assocation ofState Highway and Transportation Offwials (AASHTO), National Cooperative Highway Research Program (NCHRP), The Federal HighwayAdministration (FHWA). Standar dan kriteria untuk mengevaluasi kebisingan lingkungan dibuat untuk kepentingan kesehatan dan kesejahteraan manusia, sehingga pada kondisi lingkungan yang berbeda digunakan besaran dan skala yang berbedajuga (Lord, Gatley dan Evensen,1980). Besaran dan skala yang dipakai contohnya Noise and Number Index (NNI) dipakai untuk mengevaluasi kebisingan pada lapangan terbang, Corrected Noise Level (CNL) unruk kebisingan didaerah industri dan instalasi, Leq dB(A) untuk kebisingan lalu lintas, kereta api, tempat-tempat konstruksi dan daerah pengurangan kebisingan, dan Lw dB(A) untuk kebisingan lalu lintas. (Croome, 1982) Tingkat bising yang dihasilkan oleh lalu lintas akan menunjukkan variabilitas perubahan tingkat suara terhadap waktu yang besar. Oleh karena itu dibutuhkan perhitungan statistik yang dapat mencakup variabilitas yang besar tersebut. Alat standar untuk pengukuran kebisingan adalah sound level meter (SLM) (Lampiran M). SLM dapat mengukur tiga jenis karakter respon frekuensi, yang ditunjukkan dalam skala A, B, dan C. Skala C dapat menangkap suara dengan frekuensi dari 50 sampai 5000 Hz, sedangkan skala Take Home Quiz Sistem Transportasi | Polusi Suara 8 A dan B hanya akan menangkap suara dengan frekuensi 1000 Hz keatas.

Gambar 1.2 Sound Level Meter (Sumber : http://t2.gstatic.com/images)

5

Skala A ditemukan paling mewakih batasan pendengaran manusia dan respons telinga terhadap bising, termasuk bising lalu lintas serta bising yang dapat menimbulkan kekilangan pendengaran. Skala A dinyatakan dalam satuan dBA (AASHTO, 1974; Croome, 1977; Lord, Gatley, dan Evensen,1980). 3. Akibat-akibat dari Kebisingan Kebisingan memiliki efek terhadap kesehatan. Efek kebisingan terhadap kesehatan terbagi menjadi 2 yaitu efek terhadap pendengaran dan efek terhadap non pendengaran. Masing-masing efek tersebut adalah efek terhadap pendengaran terdiri dari pergeseran nilai ambang b