ASKEP HIPERTENSI

download ASKEP HIPERTENSI

of 41

  • date post

    26-Nov-2015
  • Category

    Documents

  • view

    45
  • download

    12

Embed Size (px)

description

ASKEP HIPERTENSI \

Transcript of ASKEP HIPERTENSI

BAB I

BAB I

KONSEP DASAR

A. Penyakit Hipertensi

1. Pengertian

Hipertensi adalah tekanan darah sistolik lebih dari atau sama dengan 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari atau sama dengan 90 mmHg. Atau apabila pasien memakai obat anti hipertensi. (Arif Mansjoer, 1999 : 5/8).

Pengukuran dilakukan rata-rata dua atau lebih pada waktu yang berbeda ( Engram, 1998 : 368 ). Pada populasi lansia, batasan hipertensi pada tekanan sistolik diatas 160 mmHg dan tekanan diastolik diatas 90 mmHg ( Boughman dan Hackley, 2000 : 216 ). Tekanan darah tinggi adalah suatu peningkatan tekanan darah didalam arteri, Secara umum hipertensi suatu keadaan dimana tanpa gejala dimana tekanan abnormal tinggi didalam arteri menyebabkan meningkatkan resiko terhadap resiko Aenurisma, gagal jantung, serangan dan kerusakan ginjal (www.medisostore.com. Sabtu, 13 Agustus 2005, 09.30 pm).

Berdasarkan definisi diatas penulis dapat mengambil kesimpulan mengenai definisi hipertensi. Hipertensi adalah tekanan darah tinggi yang bersifat abnormal, diukur pada dua waktu yang berbeda, untuk usia dewasa tekanan darah lebih dari atau sama dengan 140/90 mmHg. Untuk usia lanjut adalah lebih dari atau sama dengan 160/90 mmHg, tanpa gejala didalam arteri menyebabkan meningkatkan resiko terhadap resiko aneurisma, gagal jantung dan kerusakan ginjal.

2. Etiologi

Menurut (Arif Mansjoer, 1999 : 518) berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi dua golongan yaitu pertama hipertensi esensial atau primer, tidak diketahui penyebabnya terdapat sekitar 95 % kasus. Faktor-faktor yang mempengaruhi seperti genetik, lingkungan (stres, kurang olah raga, abesitas). Hiperaktifitas susunan saraf simpatis, sistem renin angiotensin, detek dalam ekskresi Na, peningkatan Na dan Ca Infraseluler. Faktor dari hipertensi primer meliputi usia paling tinggi pada 30-40 tahun, jenis kelamin komplikasi meningkat pada laki-laki, renin lipid, diet tinggi sodium, lemak dan kalori serta merokok. Depkes RI (1996 : 194 )

Kedua hipertensi sekunder atau hipertensi renal terdapat sekitar 5 % kasus. Penyebab spisifisiknya diketahui, seperti penggunaan estrogen, penyakit ginjal, hipertensi, vaskular renal, hiperal deronisme primer dan sindrom cushing, pembuluh darah terjadi hipertrofi dinding, sedangkan pada jantung terjadi penebalan dinding Intraventrikuler (Slamet, 2003 : 456 ).

Garam merupakan hal yang sangat sentral dalam patofisioligi. Pengaruh asupan garam, terhadap individu menimbulkan hipertensi primer, terjadi melalui peningkatan volume plasma, curah jantung dan tekanan darah. Faktor faktor lingkungan seperti stres plikososial, obesitas, kurang olah raga juga berpengaruh terhadap timbulnya hipertensi primer. Berdasarkan penyelidikan epidemiologis dibuktikan bahwa kegemukan merupakan ciri khas pada populasi hipertensi. Dibuktikan bahwa curah jantung dan sirkulasi volume darah penderita obesitas lebih tinggi. Stres mempengaruhi aktivitas saraf simpatis yang dapat meningkatkan tekanan darah secara intermitten, pada gilirannya melemah dan merusak pembuluh darah, menyediakan tempat bagi mengendapnya lipid sehingga terbentuk plak kholesterol. Akhirnya lumen menyempit tahanan perifer meningkat dan tekanan darah naik, vertical menebal sehingga memerlukan banyak oksigen. Stres emosional meningkat produksi epinephrine yang menyebabkan tukhikardi dan kardiak output sehingga tekanan darah meningkat. Oleh raga banyak dihubungkan dengan pengobatan hipertensi karena olah raga teratur dan Isotonik dapat menurunkan tahanan perifer, sehingga menurunkan tekanan darah (Price dan Wilson, 1995 : 534 ; Slamet, 2003 : 457 459).

Merokok tergantung pada jumlah yang diisap setiap hari. Yang menjadi penyebab adalah nikotin dan karbonmonoksida. Nikotin merupakan Vasokonstriktor yang menyebabkan arteri menyempit oleh atherosclerous. Nikotin juga membebaskan katekolamin yang mempunyai efek terhadap ujung saraf adrenergik yang menyebabkan peningkatan denyut jantung dan tekanan darah. Keadaan ini cenderung terjadi pada penderita lansia dengan penyakit arteri dimana saja. Kafein dalam minuman kopi, teh dan coklat dalam jumlah berlebihan dapat menyebabkan terjadinya kardiak discritmia, takhikardi dan ekstrasystole.

( Depkes RI, 1996 : 62 67 ; Price dan Wilson 1995 : 534 ).

Penggunaan alkohol jangka lama menyebabkan perubahan Sclerosis, fibrosis dalam arteri kecil yang dapat menunjukan adanya mikro Infark, dimana alkohol juga menyebabkan pengentalan Lipoprotein (Depkes RI, 1996 : 67).

Mekanisme terjadinya hipertensi adalah melalui terbentuknya angiotensin II dari angiotensin I oleh angiotensin I. Converting Enzyme ( ACE ). ACE memegang peran fisiologis penting dalam mengatur tekanan darah. Darah mengandung angiotensinogen yang diproduksi dihati. Selanjutnya oleh hormon, renin ( diproduksi oleh ginjal ) akan diubah menjadi angitensin I. Oleh ACE yang terdapat diparu-paru. Angiotensin I diubah menjadi II. Angiotensin II inilah yang memiliki peranan kunci dalam menaikan tekanan darah melalui dua aksi utama .Aksi pertama adalah meningkatkan sekresi hormon antidiuretik (ADH ) dan rasa haus. ADH diproduksi di hipotalamus ( kelenjar pituitary ) dan bekerja pada ginjal untuk mengatur osmolalitas dan volume urine. Dengan meningkatkan ADH .Sangat sedikit hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan. Berbagai faktor diduga turut berperan sebagai penyebab hipertensi primer seperti bertambahnya umur, stres psikologis, dan hereditas. Dan hipertensi sekunder yang penyebabnya boleh dikatakan telah pasti, misalnya ginjal yang tidak berfungsi, pemakaian kontrasepsi oral dan terganggunya keseimbangan hormon yang nerupakan faktor pengatur tekanan darah. Pada tanggal 13 Agustus 2005, 09.30 WIB didapatkan dari (www.depkes.go.id /Indek. php?Option = artides & tack = viewartide & artid =20 & Itemid = 3)

3. Patofisiologi

Peran faktor genetic terhadap hipertensi primer dibuktikan dengan berbagai kenyataan yang dijumpai. Adanya bukti bahwa kejadian hipertensi lebih banyak dijumpai pada penderita kembar monozigot dari pada heterozigot pada tahap awal hipertensi primer, curah jantung meninggi sedangkan tahanan normal. Curah jantung meningkat terjadi konstriksi perifer prekapiler, yang mengakibatkan penurunan curah jantung dan peninggian tahanan perifer kelainan hemodinamis tersebut diikuti pula kelainan struktural mengenai urine yang diekskresikan keluar tubuh ( antidiurisis ), sehingga menjadi pekat tinggi osmolalitasnya. Untuk mengencerkannya, volume cairan ekstraseluler akan ditingkatkan dengan cara menarik cairan dari bagian intraseluler. Akibatnya, volume darah meningkat, yang pada akhirnya akan meningkatkan tekanan darah. Aksi kedua adalah menstimulasi sekresi aldosteron dari kortek adrenal. Aldosteron merupakan hormon steroid yang memiliki peranan penting pada ginjal. Untuk mengatur volume ekstra seluler, aldosteron akan mengurangi ekskresi Na Cl ( garam ) dengan cara mereabsorpsinya dari tubulus ginjal. Naiknya konsentrasi NaCl akan diencerkan kembali dengan cara meningkatkan volume cairan ekstraseluler yang pada gilirannya akan meningkatkan volume dan tekanan darah ( www Depkes.go.id / indek. php.sabtu, 13 Agustus 2005, 09.30 WIB )

Sistem renin anglotensin dan aldosteron diketahui berperan terhadap timbulnya hipertensi. Produksi renin dipengaruhi berbagai hal antara lain stimulasi saraf simpatis. Renin berperan pada konversi angiotensin I menjadi angiotensin II yang mempunyai efek vasokontriksi. Dengan adanya Angiotensin II, sekresi aldosteron meningkat, menyebarkan retensi natrium dan air mempengaruhi terjadinya hipertensi (Slamet, 2003 : 458)

4. Tanda dan Gejala

Peninggalan tekanan darah kadang kadang merupakan satu-satunya gejala. Bila demikian gejala baru muncul setelah komplikasi pada ginjal, mata, otak atau jantung. Gejala lain yang sering ditemukan adalah sakit kepala, epistaksis, marah, telinga berdenging rasa berat ditengkuk, sukar tidur, mata berkunang kunang, kesemutan pada ekstremitas, penglihatan kabur, ayunan langkah tidak mantap, nokturia, pembengkakan ( Corwin, 2000 : 359 ; Engram, 1998 : 370; Arif Mansjoer, 1999 : 518 ).

Gejala dari hipertensi antara lain pusing. Muka merah sakit kepala, epistaksis, tengkuk terasa pegal. Dampak yang dapat ditimbulkan oleh hipertensi adalah kerusakan ginjal, pendarahan pada selaput bening (retina mata), pecahnya pembuluh darah diotak, serta kelumpuhan. (www, Depkes. go.id / Indek..Php 16 Agustus 2005, pukul 21.00 pm)

5. Penatalaksanaan

Menurut ( Arif Mansjoer 1999 : 519 520 ) tujuan deteksi dan penatalaksanaan hipertensi adalah menurunkan resiko penyakit kardiovaskuler dan mortalitas serta morbiditas yang berkaitan. Tujuan terapi adalah mencapai dan mempertahankan tekanan sistolik dibawah 140 mmHg dan tekanan Diastolik 90 mmHg dan mengontrol faktor resiko. Hal ini dapat dicapai melalui modifikasi gaya hidup saja atau dengan obat anti hipertensi. Langkah langkah yang dianjurkan antara lain : menurunkan berat badan jika ada kelebihan berat badan, membatasi konsumsi alkohol, meningkatkan aktifitas olah raga + 30 40 menit perhari, mengurangi asupan natrium mempertahankan asupan Kalsium yang adekuat, mempertahankan asupan kalsium dan magnesium yang adekuat, berhenti merokok dan mengurangi asupan lemak jenuh dan kolesterol dalam makanan. Penatalaksanaan dengan obat anti hipertensi bagi sebagian besar penderita dimulai dengan dosis rendah kemudian ditingkatkan secara titrasi sesuai dengan umur dan kebutuhan. Beberapa obat yang dimaksud adalah Diuretik, Inhibitor ACE ( Angiotensin Converting Enzim ), Alpha, Beta dan Alphabeta Adrenergic Blocker, Calcium Chanel Blocker (Bangun, 2002 : 22 23).

B. Keperawatan Keluarga

1. Pengertian Keperawatan Keluarga

Perawatan kesehatan keluarga (Family Health Nursing) adalah tingkat perawatan kesehatan masyarakaat yang di