ANALISIS KELAYAKAN USAHA CAFÉ MARTABAK MINI FAWWAZ …

of 111 /111
i ANALISIS KELAYAKAN USAHA CAFÉ MARTABAK MINI FAWWAZ DI KOTA KARAWANG SKRIPSI Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Diajukan Oleh: DIANA CRUSITA RANI NIM : 111510088 PROGRAM STUDI MANAJEMEN UNIVERSITAS PELITA BANGSA BEKASI 2019

Embed Size (px)

Transcript of ANALISIS KELAYAKAN USAHA CAFÉ MARTABAK MINI FAWWAZ …

FAWWAZ DI KOTA KARAWANG
Guna Memperoleh Gelar
Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya ajukan ini adalah
hasil karya sendiri yang belum disampaikan untuk mendapatkan gelar pada
Program Sarjana ini ataupun pada program lain. Karya ini adalah milik Saya,
karena itu pertanggung jawabannya berada di pundak saya. Apabila dikemudian
hari ternyata pernyataan ini tidak benar, maka Saya bersedia untuk ditinjau dan
menerima sanksi sebagaimana mestinya.
Bekasi, 17 Oktober 2019
BANGSA
MARTABAK MINI FAWWAZ DI KOTA
KARAWANG
FAWWAZ DI KOTA KARAWANG
NIM : 111.510.088
Telah dipertahankan di depan dewan Penguji pada hari Kamis tanggal 17
Oktober 2019 dan dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diterima sebagai
Skripsi Program Studi Manajemen Universitas Pelita Bangsa
Ketua Tim Penguji Tanda Tangan
Nama : DR. Anna Wulandari.,S.E.,M.M
v
ABSTRAK
Bisnis kuliner merupakan salah satu bisnis yang sedang berkembang di karawang.
Tidak hanya makanan, beberapa cafe juga menyajikan makanan dan minuman
sebagai produk utamanya. Akan tetapi masih sedikit cafe yang menyajikan
martabak dengan olahan susu sebagai produk utama. Café Martabak mini fawwaz
merupakan salah satu cafe yang menyajikan olahan susu sebagai menu utama.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan usaha Café Martabak Mini
Fawwaz. Analisis kualitatif digunakan untuk menganalisis kelayakan aspek non
finansial seperti aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen dan hukum, serta
aspek sosial ekonomi dan lingkungan. Analisis kuantitatif digunakan untuk
menganalisis kelayakan berdasarkan kriteria investasi. Aspek finansial
menunjukkan NPV sebesar Rp 38.453.727, Net B/C sebesar 2.57, IRR sebesar
17.7 persen, dan payback period selama 3 tahun. Hasil analisis kelayakan ini
menunjukkan bahwa Café Martabak Mini Fawwaz layak berdasarkan aspek pasar,
aspek teknis, aspek manajemen, aspek sosial ekonomi dan lingkungan, serta aspek
finansial. Namun usaha ini belum layak berdasarkan aspek hukum.
Kata kunci: analisis nilai pengganti, aspek non finansial, kriteria investasi
vi
ABSTRACT
The culinary business is one of the growing businesses in Karawang. Not only
food, some cafes also serve food and drinks as their main products. But there are
still a few cafes that serve martabak with processed milk as the main product.
Mini Martawak Café Fawwaz is one of the cafes that serve dairy products as the
main menu. This study aims to analyze the business feasibility of Café Martabak
Mini Fawwaz. Qualitative analysis is used to analyze the feasibility of non-
financial aspects such as market aspects, technical aspects, management and legal
aspects, as well as socio-economic and environmental aspects. Quantitative
analysis is used to analyze eligibility based on investment criteria. The financial
aspect shows the NPV of IDR 38.453.727, Net B / C of 2.57, IRR of 17.7 percent,
and payback period for 3 years. The results of this feasibility analysis indicate that
Café Martabak Mini Fawwaz is feasible based on market aspects, technical
aspects, management aspects, social economic and environmental aspects, and
financial aspects. However, this business is not feasible based on legal aspects.
Keywords: replacement value analysis, non-financial aspects, investment criteria
vii
Alhamdulilah, puji syukur yang sedalam – dalamnya penulis panjatkan
kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayahnya sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini dengan judul : ANALISIS KELAYAKAN USAHA
CAFÉ MARTABAK MINI FAWWAZ DI KOTA KARAWANG
Tujuan daripada rancangan Skripsi adalah untuk memenuhi syarat dalam
mencapai gelar Sarjana Ekonomi pada Program Studi Manajemen Universitas
Pelita Bangsa.
penghargaan dan ucapan terima kasih yang sebesar – besarnya kepada :
1. Bapak Junedi.,SE.,MM, yang telah memberikan arahan dan bimbingan
dalam penyusunan Skripsi ini.
Universitas Pelita Bangsa.
Universitas Pelita Bangsa.
angkatan 2015.
semangat.
Penulis menyadari penyusunan skripsi (laporan praktek kerja nyata) ini
masih jauh dari sempurna, untuk itu saran serta kritik yang membangun sangat
kami harapkan. Semoga karya akhir ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Bekasi,17 Oktober 2019
DIANA CRUSITA RANI
2.2.3 Aspek-Aspek Kelayakan Usaha ........................................................... 14
BAB III METODE PENELITIAN
3.3Kerangka Konsep ......................................................................................... 23
4.1 Profil Café………………………………………………………………….32
4.1.1 Sejarah Café………………………………………………………….32
4.2 Gambaran Umum Konsumen Café………………………………………...41
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1 Hasil Penelitian…………………………………………………………….43
5.1.2 Hasil Pengujian Analisis Data………………………………………..50
5.2 Pembahasan………………………………………………………………..63
5.2.2 Pembahasan Atas Uji Analisis Data………………………………….65
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan………………………………………………………………..71
6.2 Saran………………………………………………………………………72
Daftar Pustaka……………………………………………………………………74
2 Format laporan laba rugi
3 Format laporan arus kas
4 Jumlah karyawan Café Martabak Mini Fawwaz
5 Hasil analisis laporan laba rugi Café Martabak Mini Fawwaz
6 Data penerimaan Café Martabak Mini Fawwaz bulan juni sampai
Desember 2013
7 Proyeksi penerimaan Café Martabak Mini Fawwaz tahun ke -2
Sampai ke-5
9 Format Cash flow umur ekonomis
10 Format Net present value
11 Hasil analisis kriteria investasi Café Martabak Mini Fawwaz
DAFTAR GAMBAR
fawwaz
2 Omset penjualan Café martabak mini fawwaz pada bulan Juni-Desember
2013
4 Struktur organisasi Café Martabak Mini Fawwaz
xi
2 Kondisi actual dan proyeksi kegiatan operasional Café Martabak Mini
Fawwaz
4 Rincian komponen biaya investasi dan reinvestasi Café Martabak Mini
Fawwaz
1
wisatawan domestik maupun mancanegara. Obyek wisata yang terdapat di Kota
karawang sangat beragam baik obyek wisata bersejarah seperti, museum-museum,
maupun obyek wisata yang sudah modern. Selain kunjungan ke obyek-obyek
wisata tersebut, aktivitas kunjungan wisata ke Kota karawang juga tercermin dari
keramaian di pusat-pusat perdagangan makanan jajanan dan buah-buahan serta
factory outlet pakaian dan tas seperti di Jalan taman bencong, Siliwangi, tuparev,
dan jajur terutama pada hari Sabtu, Minggu, dan hari-hari libur.
Dari berbagai bisnis yang ada di kota karawang, bisnis kuliner merupakan
salah satu bisnis yang sedang berkembang. Beragamnya bisnis kuliner di Kota
karawang menjadikan para wisatawan memperoleh berbagai alternatif makanan
dan minuman yang akan dikonsumsi. Namun disisi lain, dengan berkembangnya
usaha bisnis kuliner tersebut juga memicu persaingan yang ketat antara bisnis
kuliner yang satu dengan yang lainnya. Perkembangan bisnis kuliner di Kota
karawang ditunjukkan dengan beragamnya tempat makan (restoran dan rumah
makan) yang ada di kota ini.
Sejak tahun 2006 sampai 2012, jumlah tempat makan di kota karawang
cenderung berfluktuatif. Adanya peningkatan dan penurunan jumlah tempat
makan menunjukkan adanya persaingan yang ketat dalam bisnis kuliner.
2
Akibatnya, para pesaing yang tidak mampu bertahan dalam bisnis ini pun terpaksa
gulung tikar. Data perkembangan jumlah tempat makan di Kota karawang dapat
dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1 Jumlah tempat makan di Kota karawang tahun 2006-2012
Tahun Rumah makan Restoran Total
Jumlah % Jumlah % Jumlah &
Sumber : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Karawang 2013 .
Berdasarkan data pada Tabel 1 jumlah tempat makan di Kota karawang
cenderung berfluktuatif. Pada tahun 2008 jumlah tempat makan di karawang
mengalami penurunan yang cukup besar yaitu sejumlah 57 unit atau sekitar 21.27
persen. Akan tetapi pada tahun 2009 jumlah tempat makan di Kota karawang
mengalami peningkatan sejumlah 14 unit atau sekitar 6.64 persen. Kemudian pada
tahun 2010 jumlah tempat makan di Kota karawang sama seperti tahun
sebelumnya. Pada tahun 2011 dan 2012 jumlah tempat makan di Kota karawang
3
kembali mengalami penurunan namun penurunannya hanya sedikit yaitu masing-
masing 2.67 persen dan 0.91 persen. Penurunan yang terjadi dikarenakan adanya
kenaikan harga barang termasuk barang pangan akibat kenaikan bahan bakar
minyak dan persaingan usaha dibidang kuliner. Hal ini mengakibatkan beberapa
tempat makan di Kota karawang mengalami kebangkrutan.
Pajak restoran menjadi pemasukan tertinggi bagi PAD Kota karawang dari
sektor pariwisata bila dibandingkan dengan pajak hotel maupun pajak hiburan.
Selain itu, pajak restoran mengalami peningkatan setiap tahunnya sejak tahun
2010 sampai tahun 2012. Hal ini mengindikasikan bahwa restoran di Kota
karawang semakin berkembang dan memiliki peran yang cukup besar terhadap
perekonomian di daerah ini. Pemasukan pajak bagi PAD Kota karawang dari
sektor pariwisata dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2 Pemasukan pajak bagi Pendapatan Asli Daerah Kota karawang
dari sektor pariwisata dalam rupiah tahun 2010-2012
Jenis pendapatan 2010 2011 2012
Pajak restoran 19 393 960 174 27 252 809 195 39 510 789 644
Pajak hotel 6 403 876 082 15 704 258 353 27 528 683 203
Pajak hiburan 6 964 692 407 8 686 143 286 13 707 405 648
Total 32 762 528 663 51 643 203 834 80 746 878 495
Sumber : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota karawang 2013.
Berdasarkan data pada Tabel 2, pemasukan pajak restoran bagi PAD Kota
karawang dari sektor pariwisata meningkat sebesar 40.52 persen dari tahun 2010
ke tahun 2011. Kemudian meningkat kembali dari tahun 2011 ke tahun 2012
4
sebesar 44.98 persen. Secara keseluruhan pada tahun 2012, pajak restoran
memberikan kontribusi sebesar 48.93 persen terhadap PAD Kota karawang dari
sektor pariwisata. Pajak hotel dan pajak hiburan memberi kontribusi masing-
masing sebesar 34.09 persen dan 16.97 persen bagi PAD Kota karawang di tahun
2012.
Cafe yang terdapat di Kota karawang tidak hanya terfokus pada produk
makanan yang beragam. Banyak pula restoran yang lebih menonjolkan produk
minuman sebagai menu andalannya. Selain Starbucks yang sudah terkenal di Kota
karawang, banyak juga cafe yang berbentuk kedai atau café dengan menyajikan
minuman sebagai produk andalan seperti Tea and Coffee, dan lain sebagainya.
Akan tetapi umumnya usaha dengan produk utama minuman tersebut berbahan
dasar teh ataupun kopi.
Komoditas yang tergolong masih jarang untuk dijadikan bahan dasar
dalam pembuatan produk makanan ringan adalah martabak mini. Usaha café di
kota karawang yang menjadikan matabak mini sebagai produk utama tergolong
sedikit. Di Kabupaten karawang terdapat restoran dengan produk unggulan ayam
geprek yang sudah cukup dikenal masyarakat karawang dan sekitarnya.
Sedangkan di Kota karawang, usaha café dengan produk utama makanan ringan
yaitu café martabak mini fawwaz yang terletak di daerah pangahkaran. Meskipun
skala usaha café martabak mini fawwaz belum sebesar café lawang, namun usaha
ini sudah mulai berkembang dan dikenal oleh masyarakat Kota karawang.
5
Dengan skala usaha café martabak mini fawwaz yang belum sebesar café
lawang, menjadikan pemilik usaha menentukan segmen dan target pasar yang
berbeda pula. Kecenderungan pelajar dan mahasiswa yang membutuhkan hiburan
selain dari rekreasi, menjadi peluang pasar untuk café martabak mini fawwaz.
Pelajar dan mahasiswa merupakan konsumen yang dinilai memiliki selera
tersendiri dalam memilih cafe yang akan dikunjungi. Umumnya, mereka mencari
cafe yang menyajikan makanan dan minuman yang unik, lokasi yang dekat
dengan sekolah atau kampus, tempat yang nyaman, serta harga produk yang
terjangkau.
Pada awal berdirinya di tahun 2013, produk martabak mini dipasarkan
dengan membuka booth di lokasi seperti sekolah. Pemilihan cara memasarkan
produk dengan menggunakan booth dikarenakan modal pemilik usaha saat itu
masih terbatas serta dirasakan lebih mudah dan praktis. Sampai saat ini jumlah
booth martabak mini fawwaz yang masih beroperasi hanya tersisa 1 saja
dikarenakan beberapa booth sebelumnya tidak memberikan keuntungan sesuai
target.
penjualan maka pemilik usaha melakukan pengembangan usaha dengan membuka
cabang baru. Cabang baru tersebut tidak berbentuk booth melainkan berbentuk
cafe yang terletak di daerah pangahkaran kota karawang. cafe ini baru berjalan
selama 7 bulan sejak Juni hingga Desember 2013 sampai sekarang dan sudah
memiliki penjualan yang cukup baik. Pemilik usaha juga lebih mudah untuk
menjangkau target pasar dengan memperkenalkan café martabak mini fawwaz
6
martabak mini sebelumnya melalui booth yang dimiliki.
Kondisi lingkungan yang sangat dinamis dan intensitas persaingan yang
semakin ketat membuat seorang pengusaha tidak cukup hanya mengandalkan
pengalaman dan intuisi saja dalam memulai usahanya (Suliyanto 2010). Seorang
pelaku usaha harus melakukan analisis kelayakan terhadap ide bisnis yang akan ia
jalankan. Hal ini dilakukan untuk melihat keuntungan yang akan diperoleh atas
besarnya investasi yang telah dikeluarkan. Begitu juga dengan café martabak mini
fawwaz yang masih tergolong bisnis baru dimana diperlukan analisis kelayakan
untuk melihat seberapa besar keuntungan yang akan diperoleh serta sebagai bahan
pertimbangan bagi para investornya.
Berdasarkan pemaparan dan uraian diatas, maka penelitian ini diberi judul
“ANALISIS KELAYAKAN USAHA CAFE MARTABAK MINI FAWWAZ DI
KOTA KARAWANG”
dengan aspek finansial terlihat pada laporan keuangan bisnis tersebut.
Aspek pasar memiliki keterkaitan dengan nilai proyeksi penjualan.
Sedangkan aspek teknis, manajemen dan hukum, serta aspek ekonomi
sosial lingkungan memiliki keterkaitan dengan proyeksi biaya pada
laporan laba rugi perusahaan. Proyeksi penjualan dikurangi dengan
proyeksi biaya menghasilkan proyeksi laba rugi. Proyeksi penjualan akan
berkaitan dengan proyeksi kas masuk pada laporan arus kas, sedangkan
7
proyeksi biaya akan berkaitan dengan proyeksi kas keluar. Proyeksi aliran
kas masuk dikurangi proyeksi aliran kas keluar akan menghasilkan
proyeksi aliran kas bersih. Aliran kas bersih inilah yang digunakan untuk
melakukan analisis kelayakan pada aspek keuangan.
Dari uraian latar belakang di atas dapat disimpulkan 3
permasalahan yaitu:
lingkungan?
berdasarkan aspek finansial dengan berdasarkan kriteria investasi
seperti Net Present Value (NPV), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C),
Internal Rate of Return (IRR), dan Payback Period (PP)?
3. Seberapa besar perubahan maksimum yang boleh terjadi pada peningkatan
harga input susu pasteurisasi dan penurunan tingkat penjualan produk pada
usaha Café Martabak mini fawwaz agar masih tetap layak untuk
dijalankan?
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Menganalisis kelayakan usaha Café martabak mini fawwaz
berdasarkan aspek non finansial seperti aspek pasar, aspek teknis,
8
lingkungan.
berdasarkan aspek finansial dengan berdasarkan kriteria investasi
seperti NPV, Net B/C, IRR, dan Payback Period.
3. Menganalisis besar perubahan maksimum yang boleh terjadi pada
peningkatan harga input susu pasteurisasi dan penurunan tingkat
penjualan produk pada usaha Café martabak mini fawwaz agar
masih tetap layak untuk dijalankan.
1.3 Manfaat Penelitian
yang membutuhkannya yakni:
Café martabak mini fawwaz.
2. Sebagai media bagi peneliti untuk belajar dan menambah pengalaman
serta penerapan ilmu yang didapatkan semasa kuliah.
3. Sebagai bahan referensi bagi mahasiwa yang akan melakukan
penelitian dalam hal analisis kelayakan usaha.
9
pada aturan sistematika yang sudah ditetapkan oleh Program Studi
Manajemen STIE Pelita Bangsa (Surya Bintarti, 2015:38-48), sehingga
dapat diuraikan sebagai berikut :
belakang, perumusan masalah, batasan penelitian, tujuan penelitian,
manfaat/kegunaan penelitian, dan sistematika penulisan skripsi
- Bab Kajian pustaka, dimana pada bab ini menjelaskan tentang landasan
teori meliputi pengertian kompetensi dan indikatornya, pengertian
motivasi dan indikatornya, pengertian kinerja guru dan indikatornya,
selanjtnya menjelaskan tentang penelitian terdahulu yang relevan dan
hipotesis.
- Bab metodologi penelitian, dimana pada bab ini menjelaskan tentang jenis
penelitian, tempat dan waktu penelitian, kerangka konsep yang meliputi
desain penelitian dan deskripsi operasional variabel penelitian,
selanjutnya menjelaskan tentang populasi dan sampel, metode
pengumpulan data, metode analisis data yang meliputi tahap pengolahan
data kuantitatif dan tahap pengujian instrumen penelitian.
- Bab gambaran umum obyek penelitian, dimana pada bab ini menjelaskan
tentang obyek penelitian yang meliputi visi, misi, target, sasaran,
selanjutnya menjelaskan tentang struktur organisasi yang terdiri dari
gambar struktur organisasi.
- Bab hasil penelitian dan Pembahasan, dimana pada bab ini menjelaskan
tentang hasil analisis data meliputi uji validitas, uji reliabilitas, uji
asumsi klasik, uji regresi, dan uji hipotesis, dijelaskan pula interpretasi
data/pembahasan.
- Bab penutup, dimana pada bab ini menjelaskan kesimpulan dan saran bagi
pihak-pihak yang terkait.
konsep studi kelayakan bisnis serta aspek-aspek yang dikaji dalam studi
kelayakan bisnis. Teori tersebut dikaitkan dengan penelitian terdahulu
yang memiliki topik yang serupa yaitu studi kelayakan usaha cafe. Aspek
yang dikaji dalam studi kelayakan bisnis meliputi aspek pasar, teknis,
manajemen dan hukum, ekonomi sosial lingkungan, serta aspek finansial.
Aspek finansial dikaji dengan menganalisis laporan laba rugi, analisis arus
kas, serta analisis sensitivitas. Selain itu kelayakan usaha berdasarkan
aspek finansial pada masing-masing penelitian terdahulu dianalisis dengan
menggunakan kriteria investasi diantaranya Net Present Value, Net B/C,
IRR, dan Payback Period.
Persaingan dalam dunia bisnis yang semakin ketat membuat pelaku usaha
tidak bisa hanya mengandalkan pengalaman maupun intuisi bila ingin
membuat bisnis baru ataupun mengembangkan usahanya (Suliyanto 2010).
Pelaku usaha harus menganalisis kelayakan terhadap usahanya dari
berbagai aspek. Studi kelayakan bisnis merupakan penelitian yang
bertujuan untuk memutuskan apakah sebuah ide bisnis layak untuk
dilaksanakan atau tidak (Suliyanto 2010). Menurut Umar (2005), studi
kelayakan bisnis merupakan penelitian terhadap rencana bisnis yang tidak
12
hanya menganalisis layak atau tidak layak bisnis dibangun, tetapi juga saat
dioperasionalkan secara rutin dalam rangka pencapaian keuntungan yang
maksimal untuk waktu yang tidak ditentukan.
menurut Nurmalina et al. (2010) studi kelayakan bisnis merupakan
penelaahan atau analisis tentang apakah suatu kegiatan investasi
memberikan manfaat atau hasil bila dilaksanakan. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa studi kelayakan bisnis adalah suatu analisis terhadap
bisnis baru maupun pengembangan sebuah bisnis yang bertujuan untuk
melihat apakah bisnis tersebut dapat memberikan manfaat bila
dilaksanakan dalam waktu yang tidak ditentukan.
Untuk memperoleh kesimpulan yang kuat tentang dijalankan atau
tidaknya sebuah ide bisnis, studi kelayakan bisnis yang mendalam perlu
dilakukan pada beberapa aspek kelayakan bisnis (Suliyanto 2010).
Suliyanto (2010) membagi aspek-aspek studi kelayakan bisnis menjadi 6
aspek diantaranya aspek hukum, lingkungan, pasar dan pemasaran, teknis
dan teknologi, manajemen dan sumberdaya manusia, dan keuangan. Umar
(2005), membagi aspek-aspek studi kelayakan bisnis menjadi 3 aspek
diantaranya aspek pasar, aspek internal 7 perusahaan (terdiri dari aspek
pemasaran, teknik dan teknologi, manajemen, sumberdaya manusia, dan
keuangan), serta aspek lingkungan (terdiri dari politik, ekonomi dan sosial,
lingkungan industri, yuridis, dan lingkungan hidup). Sedangkan Nurmalina
et al. (2010) membagi aspek-aspek studi kelayakan bisnis menjadi 6 aspek
13
yaitu aspek pasar, teknis, manajemen dan hukum, sosial ekonomi budaya,
lingkungan, dan finansial.
penelitian yang membahas mengenai analisis kelayakan usaha pada bisnis
yang bergerak dibidang kuliner. Beberapa penelitian terdahulu yang
melakukan analisis kelayakan usaha diantaranya dilakukan oleh
Heidyningsih (2009), Reakara (2009), Maulana (2010), dan Jeineiva
(2011). Keempat penelitian ini memiliki kesamaan yaitu sama-sama ingin
melihat kelayakan pada usaha dibidang kuliner yang dijalankan yang
berlokasi di daerah jakarta. Analisis kelayakan usaha yang mereka lakukan
tidak hanya dari sisi aspek finansial saja tetapi juga dari aspek non
finansial.
2.1 Kajian Studi Kelayakan Usaha berdasarkan Aspek Non Finansial
Aspek non finansial yang dikaji pada penelitian Reakara (2009)
dan Jeineiva (2011) ini cenderung sama antara satu dengan yang lain yaitu
aspek pasar, teknis, manajemen, serta aspek ekonomi sosial lingkungan.
1. Aspek pasar
kelayakan bisnis (Nurmalina et al. 2010). Pada tahap ini terdapat
beberapa hal yang perlu dianalisis seperti permintaan dan
penawaran produk, harga, program pemasaran yang mencakup
bauran pemasaran dan siklus kehidupan produk, serta market share
14
analisis aspek pasar menganalisis jenis produk yang akan
diproduksi serta permintaan dan penawaran akan produk tersebut.
Sedangkan aspek pemasaran menganalisis apakah produk yang
dihasilkan dapat memberikan nilai yang lebih tinggi kepada
konsumen dibandingkan produk pesaing. Apabila harga produk
lebih tinggi dan kualitasnya lebih rendah dibandingkan dengan
pesaing maka produk tersebut akan ditinggalkan oleh konsumen.
Sedangkan menurut Umar (2005), aspek pasar dianalisis dengan
proyksi permintaan dan penawaran produk, identifikasi siklus
kehidupan produk, perkiraan penjualan yang dapat dicapai
perusahaan, serta perkiraan market share yang bisa dikuasai
perusahaan. Kemudian aspek pemasaran dianalisis dengan
menentukan segmentasi, sasaran dan posisi pasar, strategi bersaing,
dan bauran pemasaran.
penelitian Reakara (2009) pada usaha Restoran Soto Kudus Di
Jalan Garuda Kemayoran Jakarta Pusat dikatakan layak untuk
dijalankan. Potensi pasar dan pangsa pasar dinilai berpotensi untuk
pemasaran produk. Jumlah permintaan soto kudus di Jabotabek
khususnya Jakarta Pusat sangat tinggi sedangkan penawarannya
masih rendah, sehingga permintaan pasar akan soto kudus sangat
potensial. Jika dilihat dari bauran pemasaran, produk yang
15
yang ditetapkan juga setara dengan pesaing, lokasi usaha strategis,
serta promosi yang sudah tepat dengan menyebarkan brosur dan
kupon gratis. Begitu juga pada penelitian Jeineiva (2011), usaha
Restoran Pastel Pizza and Rijsttafel dikatakan layak karena jumlah
permintaan produk yang meningkat sejak tahun 2008 sampai 2010
meskipun yang membeli hanyalah konsumen yang loyal terhadap
restoran tersebut. Produk yang ditawarkan juga bervariasi sehingga
konsumen tidak akan merasa cepat bosan. Selain itu strategi
pemasaran yang dilakukan oleh restoran ini juga baik dimana harga
yang ditawarkan bervariasi serta adanya promosi dengan
melakukan penyebaran brosur, pemberian discount harga, serta
mempublikasikan produk di internet. Hasil analisis dari kedua
penelitian tersebut dapat ditarik sebuah indikator bahwa layaknya
usaha dibidang kuliner dari segi aspek pasar masih adanya
permintaan yang tinggi dari output yang dihasilkan serta strategi
pemasaran yang tepat untuk dapat menarik minat konsumen.
2. Aspek teknis
proses pembangunan bisnis secara teknis dan pengoperasiannya
setelah bisnis tersebut selesai dibangun (Nurmalina et al. 2010).
Hal-hal yang perlu dianalasis dalam aspek bisnis seperti lokasi
usaha, besarnya skala, pemilihan mesin dan peralatan, proses
16
diketahui rancangan awal penaksiran biaya investasi termasuk
biaya eksploitasinya. Serupa dengan teori tersebut, Suliyanto
(2010) mengemukakan bahwa hal-hal yang perlu dianalisis pada
aspek teknis dan teknologi adalah kelima hal yang sudah
disebutkan sebelumnya. Menurut Suliyanto (2010), meskipun
berdasarkan aspek pasar dan pemasaran suatu bisnis layak untuk
dijalankan, tetapi secara teknis tidak dapat dijalankan dengan baik
maka investasi sebaiknya ditunda terlebih dahulu. Hal ini
dikarenakan bisnis sering kali mengalami kegagalan karena tidak
mampu menghadapi masalah-masalah teknis. Menurut Umar
(2005), pengawasan kualitas produk perlu dianalisis dalam aspek
teknis selain dari kelima variabel yang telah disebutkan
sebelumnya. Kualitas produk perlu ditentukan karena perusahaan
perlu menyesuaikan kualitas produk dengan harapan konsumen.
Berdasarkan hasil penelitian Reakara (2009), usaha
Restoran Soto Kudus Di Jalan Garuda Kemayoran Jakarta Pusat
telah memilih lokasi yang tepat karena letaknya yang strategis.
Selain itu ruangan yang tersedia cukup memadai untuk sebuah
restoran. Sarana dan prasarana pendukung yang tersedia sangat
mendukung kelancaran operasional produksi. Oleh karena itu,
usaha Restoran Soto Kudus layak dijalankan dilihat dari aspek
teknis. Sedangkan pada penelitian Jeineiva (2011), pemilihan
17
kedekatan dengan lokasi pembelian bahan baku serta lokasi
produksi yang 1 bangunan dengan penjualan produk, mendukung
jalannya usaha. Tata letak telah diatur sedemikan rupa sehingga
dapat memperlancar kegiatan usaha. Sarana dan fasilitas yang
tersedia membantu kelancaran produksi. Kegiatan-kegiatan yang
dilakukan dalam usaha ini diatur dengan baik dan dapat
berproduksi secara optimal karena peralatan dan perlengkapan
bahan baku merupakan faktor penting untuk memproduksi produk
restoran ini. Oleh karena itu usaha ini juga dikatakan layak untuk
dijalankan berdasarkan aspek teknis. Berdasrkan hasil analisis
aspek teknis dari kedua penelitian, indikator yang dikaji pada suatu
usaha umumnya dilihat dari lokasi usaha, sarana dan prasarana,
tata letak, dan kegiatan yang dilakukan. Apabila seluruh indikator
tersebut mendukung jalannya usaha, maka usaha tersebut dapat
dikatakan layak berdasarkan aspek teknis.
3. Aspek manajemen dan hukum
Pihak pengelola (manajemen) merupakan pihak yang
mengelola seluruh faktor produksi perusahaan sehingga bisnis
secara keseluruhan dapat mencapai berbagai macam tujuan yang
dikehendaki oleh berbagi pihak yang terlibat dalam kegiatan bisnis
(Nurmalina et al. 2010). Aspek manajemen mempelajari tentang
manajemen dalam masa pembangunan bisnis dan manajemen
18
dipelajari adalah siapa pelaksana bisnis, bagaimana jadwal
penyelesaian bisnis, dan siapa yang melakukan studi masing-
masing aspek kelayakan bisnis tersebut. Sedangkan manajemen
dalam operasi hal yang dipelajari adalah bagaimana bentuk
organisasi atau badan usaha yang dipilih, struktur organisasi,
deskripsi masing-masing jabatan, jumlah tenaga kerja, dan
menetukan siapa anggota direksi dan tenaga inti.
Bisnis seringkali mengalami kegagalan karena terbentur
masalah hukum atau tidak memperoleh izin dari pemerintah daerah
setempat (Suliyanto 2010). Oleh karena itu, sebelum ide bisnis
dilaksanakan, aspek hukum perlu dianalisis secara mendalam.
Aspek hukum mengkaji legalitas usaha yang dijalankan, ketepatan
bentuk badan hukum dengan ide bisnis, kemampuan bisnis yang
akan diusulkan dalam memenuhi persyaratan perizinan, serta
jaminan-jaminan yang bisa disediakan jika bisnis akan dibiayai
dengan pinjaman. Selain keempat hal tersebut, Nurmalina et al.
(2010) mengemukakan bahwa aspek hukum dari suatu kegiatan
bisnis diperlukan dalam hal mempermudah dan memperlancar
kegiatan bisnis pada saat menjalin jaringan kerjasama dengan
pihak lain. Sedangkan Umar (2005) menambahkan bahwa dalam
aspek hukum perlu juga mempertimbangkan hak dan kewajiban
19
baik dari sisi konsumen maupun pelaku usaha serta sanksi hukum
bagi pelaku usaha.
menunjukkan bahwa Restoran Soto Kudus Di Jalan Garuda
Kemayoran Jakarta Pusat dikatakan layak untuk dijalankan.
Restoran ini merencanakan untuk membangun badan usaha berupa
Perseroan Terbatas untuk pengembangan usahanya yakni bekerja
sama dengan catering dan menjadi restoran waralaba. Struktur
organisasi yang sederhana memudahkan tugas, wewenang, dan
tanggung jawab setiap bagian dalam perusahaan. Sistem
ketenagakerjaan yang diterapkan perusahaan dinilai cukup
memadai. Begitu juga dengan Restoran Pastel and Pizza Rijsttafel
pada penelitian Jeineiva (2011) dimana struktur organisasi dan
jenis-jenis pekerjaan tiap pekerja telah diatur dengan baik.
Pengaturan kegiatan digambarkan pada struktur organisasi yang
sederhana dengan tujuan memudahkan tugas, wewenang, serta
tanggung jawab dari masing-masing divisi. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa usaha ini layak untuk dijalankan berdasarkan
aspek manajemen. Indikator layak atau tidaknya suatu usaha pada
kedua penelitian berdasarkan aspek manajemen, dapat dilihat dari
struktur organisasinya. Meskipun struktur organisasi pada usaha
yang dijalankan sederhana, namun apabila para pegawai telah
20
manajemen usaha tersebut dapat dikatakan layak.
4. Aspek sosial ekonomi dan lingkungan
Sebagai titik tolak untuk melakukan analisis kelayakan bisnis,
diperlukan informasi lingkungan luar perusahaan untuk mengetahui
seberapa jauh lingkungan luar dapat memberi peluang atau ancaman
bagi bisnis tersebut (Umar 2005). Oleh karena itu analisis aspek sosial
ekonomi dan lingkungan dibutuhkan untuk menjawab pertanyaan
tersebut. Menurut Nurmalina et al. (2010), aspek sosial yang
dipelajari adalah apakah suatu bisnis dapat memberi efek bagi
perluasan penambahan kerja, pemerataan kesempatan kerja, serta
memperhatikan manfaat dan pengorbanan sosial yang mungkin
dialami oleh masyarakat sekitar lokasi bisnis. Selain itu, Umar (2005)
mengemukakan bahwa dalam aspek sosial perlu mengemban sisi
sosial kemasyarakatan agar bisnis dan masyarakat dapat hidup saling
menguntungkan.
peluang peningkatan pendapatan masyarakat setempat, pendapatan
asli daerah, pendapatan dari pajak, dan menambah aktivitas
ekonomi (Nurmalina et al. 2010). Sedangkan menurut Umar
(2005), aspek ekonomi juga menganalisis bagaimana suatu bisnis
memberi kontribusi pada pembangunan nasional, nilai tambah dari
suatu bisnis yang berdampak bagi pihak yang terkait dengan bisnis
tersebut, hambatan dibidang ekonomi, serta dukungan dari
21
hal-hal yang perlu dianalisis dalam aspek ekonomi apakah secara
sempit atau luas.
menganalisis bagaimana pengaruh bisnis terhadap lingkungan
sekitar apakah dengan adanya bisnis menciptakan lingkungan
semakin baik atau buruk. Umar (2005), menganalisis aspek
lingkungan dengan menghubungkan bisnis dengan AMDAL
(Analisis Mengenai Dampak Lingkungan). Suliyanto (2010),
menganalisis lingkungan bisnis tidak hanya dihubungkan dengan
faktor alam dengan kegiatan bisnis saja. Secara lebih kompleks
juga menganalisis lingkungan operasional yang dihubungkan
dengan pesaing dan pihak yang terkait dengan bisnis serta
lingkungan industri.
Soto Kudus Di Jalan Garuda Kemayoran Jakarta Pusat, sistem
yang digunakan dalam memproduksi suatu produk menggunakan
sistem konsumsi yang sehat dan aman. Selain itu perusahaan ini
juga merekrut tenaga kerja yang berasal dari masyarakat sekitar
lokasi usaha. Restoran ini juga menaati peraturan pemerintah
dengan membayar pajak secara rutin. Sama seperti usaha Restoran
Pastel and Pizza Rijsttafel pada penelitian Jeineiva (2011),
kedekatan sosial antara perusahaan dan masyarakat dengan
22
menyerap tenaga kerja yang masih menganggur serta memberikan
beasiswa pendidikan bagi pegawai yang berprestasi dan loyalitas
tinggi terhadap perusahaan. Oleh karena itu, kedua usaha tersebut
dikatakan layak berdasarkan aspek sosial ekonomi dan lingkungan.
Dari kedua penelitian tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa
layaknya usaha berdasarkan aspek sosial ekonomi dan lingkungan
dilihat dari dampak yang ditimbulkan dari adanya usaha yang
dijalankan, penyerapan tenaga kerja dari adanya usaha, serta
bagaimana pengelolaan limbah yang dihasilkan dari usaha tersebut.
Apabila suatu usaha telah memenuhi ketiga faktor tersebut, maka
usaha dapat dikatakan layak berdasarkan aspek sosial ekonomi dan
lingkungan.
Aspek keuangan merupakan aspek yang paling akhir
disusun dalam sebuah penyusunan studi kelayakan bisnis karena
memerlukan informasi yang berkaitan dengan aspek sebelumnya
(Suliyanto 2010). Menurut Nurmalina et al. (2010) hal yang perlu
dikaji dalam aspek finansial adalah jumlah dana yang diperlukan,
sumber pendanaan, seberapa besar laba yang dapat diperoleh, dan
peranan bisnis dalam menyumbang pembangunan ekonomi dan
sosial daerah sekitar. Umar (2005), mengemukakan bahwa hal lain
23
aspek finansial juga menganalisis kelayakan usaha dengan
berdasarkan kriteria investasi dengan menggunakan laporan arus
kas.
dan Maulana (2010) melakukan analisis pada aspek finansial.
Kedua penelitian ini melakukan perhitungan semua biaya yang
dikeluarkan dan penerimaan yang diperoleh dari penjualan usaha
tersebut. Biaya yang dikeluarkan dan penerimaan yang diperoleh
dimasukkan ke dalam arus kas (cash flow) dimana terdapat
komponen arus pengeluaran (outflow) serta arus penerimaan
(inflow). Hasil dari perhitungan arus kas tersebut akan dilakukan
analisis aspek finansial melalui analisis laba rugi, analisis kriteria
kelayakan investasi yaitu Net Present Value (NPV), Net B/C,
Internal Rate of Return (IRR), dan Payback Period (PP), serta
dilakukan analisis nilai pengganti (switching value).
1. Analisis laporan laba rugi
Perhitungan laba rugi setiap tahunnya digunakan untuk
melihat pendapatan bersih sebuah usaha setelah dikurangi dengan
pengeluaran dan pajak. Heidyningsih (2009), melakukan analisis
finansial pada usaha Death by Chocolate & Spageti Restaurant
Kota Bogor, Jawa Barat. Penjualan produk per bulan dari restoran
24
diperoleh meningkat dari tahun 2007 ke tahun 2008. Berdasarkan
hasil penelitiannya, diperoleh rata-rata laba bersih pada tahun 2007
sebesar Rp22 534 460 per bulan. Pada tahun 2008 rata-rata laba
bersih meningkat menjadi Rp32 980 482 per bulan. Jika
dibandingkan dengan penelitian Maulana (2010) pada Rumah
Makan Waroeng Sederhana Kota Bogor, rata-rata laba bersih per
bulan yang diperoleh rumah makan ini lebih kecil daripada Death
by Chocolate & Spageti Restaurant. Berdasarkan hasil penelitian
Maulana (2010), rata-rata laba bersih yang diperoleh Rumah
Makan Waroeng Sederhana di tahun pertama yaitu Rp65 375 per
bulan. Sedangkan pada tahun kedua sebesar Rp2 172 200 dan pada
tahun ke-3 sebesar Rp5 279 919. Rata-rata laba bersih per bulan
Rumah Makan Waroeng Sederhana memang meningkat dari tahun
pertama hingga tahun ke-3, namun nilainya lebih kecil dibadingkan
dengan Death by Chocolate & Spageti Restaurant. Faktor
perbedaan laba bersih yang diperoleh dari kedua usaha ini yaitu
variasi dan penetapan harga produk yang disesuaikan dengan
segementasi pasar usaha tersebut. Laba bersih yang diperoleh pada
kedua penelitian tersebut merupakan keuntungan yang diperoleh
setelah dikurangi nilai pajak. Nilai pajak tersebut nantinya akan
dimasukkan kedalam analisis cashflow.
Analisis kriteria kelayakan usaha diperoleh dari hasil
perhitungan cashflow. Penelitian Heidyningsih (2009) dan
Maulana (2010) melakukan analisis kriteria kelayakan usaha
dengan melihat hasil Net Present Value (NPV), Net B/C, Internal
Rate of Return (IRR), dan Payback Period (PP). Berdasarkan
analisis kriteria kelayakan finansial, Death by Chocolate & Spageti
Restaurant dikatakan layak untuk dijalankan (Heidyningsih 2009).
Pada tingkat diskonto 7 persen, diperoleh nilai NPV sebesar Rp632
626 892 atau lebih besar dari 0, Net B/C sebesar 3 yang
menunjukkan bahwa setiap pengeluaran biaya Rp 1 satuan unit
akan menghasilkan manfaat sebesar 3 kali dari biaya yang
dikeluarkan, nilai IRR sebesar 27 persen yang lebih besar
dibandingkan dengan tingkat diskonto artinya proyek yang
dilakukan oleh perusahaan memiliki tingkat pengembalian proyek
terhadap investasi yang dikeluarkan sebesar 27 persen, sedangkan
hasil analisis tingkat pengembalian investasi memperlihatkan
bahwa untuk memperoleh kembali nilai investasi yang telah
dilakukan perlu waktu selama 6 tahun 7 bulan dimana waktu ini
lebih singkat dibandingkan dengan umur usaha yaitu 10 tahun.
Begitu juga dengan penelitian Maulana (2010) pada Rumah Makan
Waroeng Sederhana yang dikatakan layak berdasarkan analisis
kriteria kelayakan finansial. Hal ini dikarenakan pada tingkat
26
diskonto 12 persen diperoleh nilai NPV sebesar Rp55 796 582
yang lebih besar dari 0, Net B/C sebesar 3.9 yang lebih besar dari
1, IRR 109 persen yang lebih besar dari tingkat diskonto 12 persen,
serta tingkat pengembalian investasi (payback period) selama 1
tahun 6 bulan yang lebih singkat dibandingkan dengan umur usaha
yaitu 3 tahun.
3. Analisis sensitivitas
maka selanjutnya dilakukan analisis sensitivitas untuk mengetahui
kelayakan suatu usaha. Pada penelitian Heidyningsih (2009),
analisis sensitivitas dilakukan berdasarkan faktor masa lampau
yang sudah pernah terjadi sebelumnya pada Death by Chocolate &
Spageti Restaurant seperti kenaikan harga BBM tahun 2007 yang
berdampak pada kenaikan harga input seperti bahan baku, biaya
transportasi, dan biaya lain sebesar 7 persen, serta adanya
penurunan jumlah output karena tingkat pembelian produk
berkurang sebesar 7 persen. Selain itu perusahaan melakukan
penurunan output sebesar 5 persen yang mengakibatkan produksi
tetap tetapi harga yang ditawarkan turun sebesar 5 persen.
Berdasarkan hasil analisis sensitivitas pada penelitian Heidyningsih
(2009), diperoleh kesimpulan bahwa Death by Chocolate &
Spageti Restaurant tidak sensitif terhadap kenaikan harga input,
penurunan jumlah output, serta penurunan harga ouput karena
27
Sedangkan pada penelitian Maulana (2010), analisis sensitivitas
dilakukan dengan menggunakan 2 skenario. Skenario I apabila
terjadi penurunan rata-rata penjualan sebesar 10 persen yang
menunjukkan bahwa faktor ini sangat sensitif terhadap kelayakan
usaha. Skenario II apabila terjadi kenaikan harga bahan baku
sebesar 6 persen yang menjadikan usaha Rumah Makan Waroeng
Sederhana tetap layak untuk dijalankan.
Penelitian ini mengambil topik yang serupa dengan kajian
penelitian terdahulu yaitu analisis kelayakan usaha. Subyek
penelitian ini serupa dengan penelitian terdahulu yaitu usaha cafe.
Perbedaannya dengan kajian penelitian terdahulu terletak pada
lokasi tempat dilaksanakannya. Penelitian ini dilakukan di café
martabak mini fawwaz yang berlokasi di pangahkaran Kota
karawang.
sama dengan penelitian terdahulu. Aspek non finansial yang akan
dianalisis diantaranya aspek pasar, teknis, manajemen dan hukum,
serta aspek sosial ekonomi dan lingkungan. Sedangkan pada aspek
finansial, jika penelitian terdahulu menggunakan analisis
sensitivitas maka penelitian ini akan menggunakan analisis nilai
pengganti (switching value) yang akan digunakan untuk melihat
besarnya perubahan maksimal yang boleh terjadi pada variabel-
28
variabel penting agar usaha tetap layak untuk dilaksanakan. Hal ini
dikarenakan berdasarkan data empirik pengeluaran cafe, harga
input susu pasteurisasi yang digunakan cenderung tidak mengalami
peningkatan yang signifikan.
usaha untuk melakukan kegiatan bisnis. Hal ini tentu menuntut
pelaku usaha untuk menilai sejauh mana kegiatan dan kesempatan
tersebut mampu memberikan keuntungan bila bisnis dijalankan.
Studi kelayakan bisnis merupakan penelaahan atau analisis apakah
suatu kegiatan investasi memberikan laba atau hasil apabila
dilaksanakan. Studi kelayakan bisnis dapat menjadi dasar untuk
menilai apakah kegiatan investasi atau suatu bisnis layak untuk
dijalankan. Dengan kata lain kelayakan dapat diartikan bahwa
usaha yang dijalankan akan memberikan keuntungan non finansial
dan finansial sesuai dengan tujuan yang mereka inginkan.
Kegiatan penyusunan studi kelayakan bisnis tidak hanya
dilakukan pada saat ide untuk merintis bisnis yang benar-benar
baru, tetapi studi kelayakan juga diperlukan ketika pelaku bisnis
akan melakukan hal-hal berikut (Suliyanto 2010):
29
studi kelayakan bisnis dilakukan untuk mengetahui apakah
usaha yang akan dirintis layak atau tidak untuk dijalankan.
2. Ketika pelaku bisnis akan mengembangkan usaha, studi
kelayakan bisnis dilakukan untuk mengetahui apakah ide
pengembangan bisnis layak atau tidak untuk dijalankan.
3. Seringkali investor dan pelaku bisnis dihadapkan pada
masalah untuk menentukan pilihan jenis bisnis atau
investasi/proyek karena terbatasnya biaya untuk investasi.
Agar pilihan investasi dapat optimal maka diperlukan
adanya studi kelayakan bisnis untuk menentukan pilihan
dari berbagai alternatif investasi yang ada.
Menurut Nurmalina et al. (2010), tujuan yang ingin dicapai
dari konsep studi kelayakan bisnis tidak hanya memberikan
keuntungan bagi pihak perusahaan saja, namun juga pihak-pihak
terkait lain yang diantaranya:
akan memperhatikan prospek bisnis tersebut
terutama tingkat keuntungan yang diharapkan. Oleh karena
itu, studi kelayakan bisnis dapat menjadi masukan bagi investor
untuk menilai apakah modal yang ditanamkan akan memberi
30
studi kelayakan. Dengan demikian, investor dapat membuat
keputusan investasi secara objektif.
penilaian terhadap segi keamanan dana yang dipinjamkan,
apakah bisnis mempunyai kemampuan untuk
mengembalikan atau tidak. Perhatian kreditor tidak hanya
pada aspek kelayakan namun juga periode pengembalian
investasi atau pinjaman.
berguna dan dapat dipakai sebagai penunjang kelancaran
tugas-tugasnya dalam melakukan penilaian suatu bisnis
baru, pengembangan bisnis atau menilai kembali bisnis
yang sudah ada.
suatu peluang untuk meningkatkan kesejahteraan dan
perekonomian rakyat baik yang terlibat langsung maupun
muncul diakibatkan adanya nilai tambah sebagai akibat dari
adanya bisnis tersebut.
pengembangan sumberdaya baik pemanfaatan sumberdaya
31
biaya pendaftaran dan administrasi, dan lainnya yang layak
diterima sesuai ketentuan yang berlaku. Dari sudut pandang
makro, pemerintah dapat mengetahui apakah bisnis tersebut
dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah ataupun
nasional sehingga tercapai pertumbuhan PDRB dan
kenaikan pendapatan per kapita.
setiap pelaku usaha membutuhkan sejumlah uang yang harus
dikeluarkan untuk membiayai kegiatan operasional maupun
investasi. Pelaku usaha tentu mengharapkan bahwa uang yang
dikeluarkan tersebut nantinya dapat memberikan laba bagi bisnis
tersebut. Sejumlah uang yang dikeluarkan untuk keperluan bisnis
harus diperhitungkan agar pelaku usaha dapat melihat apakah
bisnis tersebut memberikan laba atau tidak. Oleh karena itu, studi
kelayakan bisnis dilakukan untuk menilai sejauh mana laba yang
dapat diperoleh salama umur usaha tertentu. Penentuan panjangnya
umur usaha dapat berdasarkan tingkat kemampuan kegiatan bisnis
dapat dilihat dengan 3 cara (Nurmalina et al. 2010):
32
yang sering dipakai, ditetapkan berdasarkan jangka waktu
(periode) yang kira-kira sama dengan umur ekonomis dari
aset terbesar yang ada dibisnis.
2. Umur teknis suatu bisnis merupakan ukuran untuk
memudahkan perhitungan, biasanya digunakan untuk bisnis
yang besar atau bergerak diberbagai bidang sehingga akan
lebih mudah menggunakan umur teknis dari unsur-unsur
investasi. Umur teknis umumnya lebih panjang dari umur
ekonomis. Tetapi hal ini tidak berlaku apabila terjadi
keusangan teknologi.
3. Untuk bisnis yang umur teknis/ekonomis lebih dari 25 tahun
biasanya umur usaha ditentukan selama 25 tahun karena nilai-
nilai sesudah 25 tahun jika di discount rate dengan tingkat
suku bunga lebih besar dari 10 persen maka present value
akan kecil sekali karena nilai discount rate yang medekati nol.
Penilaian dalam studi kelayakan bisnis dilakukan secara
menyeluruh dari berbagai aspek sehingga diperlukan berbagai
informasi atau pengetahuan dari berbagai unsur atau disiplin ilmu.
Aspek yang perlu diperhatikan dalam studi kelayakan terbagi
dalam 2 kelompok yaitu aspek non finansial dan aspek finansial.
Aspek non finansial terdiri dari aspek pasar, aspek teknis, aspek
manajemen dan hukum, aspek sosial ekonomi dan lingkungan.
Banyaknya aspek yang perlu dikaji disesuaikan dengan
33
bisnis tidak berdiri sendiri melainkan harus saling berkaitan. Oleh
karena itu, kesalahan atau ketidakcermatan pada satu aspek akan
berpengaruh terhadap hasil analisis studi kelayakan secara
keseluruhan (Suliyanto 2010).
perusahaan, akses ke keuangan dan pertumbuhan
Sementara bagian sebelumnya telah menunjukkan
bahwa mungkin sulit untuk membenarkan fokus UKM dengan
alasan pembangunan ekonomi dan pengentasan kemiskinan,
mereka bertanggung jawab atas sebagian besar perusahaan dan
‘‘ UKM adalah sektor swasta yang muncul di negara-negara
miskin, dan dengan demikian membentuk dasar untuk
pertumbuhan yang dipimpin sektor swasta '(Hallberg, 2001).
Ayyagari et al. (dalam pers) menunjukkan bahwa pekerjaan di
UKM, didefinisikan sebagai perusahaan dengan hingga 250
karyawan, merupakan lebih dari 60% dari total lapangan kerja
di bidang manufaktur di banyak negara (Gbr. 2). Lebih lanjut,
defisiensi finansial dan institusional dapat mencegah
pertumbuhan UKM untuk ukuran optimal mereka dan dengan
demikian menjelaskan kurangnya hubungan sebab akibat
empiris antara UKM dan pembangunan ekonomi. Karena itu,
penting untuk memahami hambatan operasi UKM dan
34
negara.
perusahaan kecil ternyata kurang akses ke keuangan eksternal
dan untuk lebih dibatasi dalam operasi dan pertumbuhan
mereka (Berger dan Udell, 1998; Galindo dan Schiantarelli,
2003). Survei tingkat perusahaan lintas negara baru-baru ini
telah memungkinkan para peneliti untuk tidak hanya
mengeksplorasi perbedaan perusahaan di negara-negara
tertentu, tetapi juga untuk membandingkan perusahaan di
seluruh negara dan menghubungkan perbedaan dengan
karakteristik negara seperti pengembangan keuangan dan
kelembagaan. Survei Lingkungan Bisnis Dunia (WBES)
adalah survei tingkat perusahaan unik yang dilakukan pada
tahun 1999 dan 2000 untuk lebih dari 10.000 perusahaan di
Indonesia lebih dari 80 negara. Pertama, database ini
memberikan informasi tentang hambatan yang dirasakan oleh
perusahaan dan memungkinkan peneliti untuk menghubungkan
hambatan ini dengan pertumbuhan perusahaan yang
sebenarnya. Kedua, database berisi informasi tentang
penampang luas berbagai jenis perusahaan, termasuk sejumlah
besar perusahaan kecil dan menengah, perusahaan yang
berbeda kepemilikan dan struktur organisasi.
35
Aspek Studi Kelayakan Usaha yang digunakan sebagai bahan
evaluasi pada analisis kelayakan investasi, yaitu :
1. Aspek Pasar & Pemasaran
bisnis hendaknya dilakukan analisis terhadap aspek pasar yang
akan dimasuki oleh perusahaan. Hal ini dilakukan untuk
mengetahui keberadaan pasar potensial yang dimaksud atau bisnis
akan mencoba menciptakan pasar potensialnya sendiri sehingga
produk dapat menjadi leader. Dari segi pemasaran kegiatan bisnis
dapat diharapkan beroperasi secara sehat bilamana produk yang
dihasilkan mampu mendapat tempat di pasaran serta menghasilkan
jumlah yang memadai dan menguntungkan. Oleh karena itu, agar
suatu bisnis dapat dikatakan layak secara aspek pasar maka
berbagai hal yang bersangkutan dengan pasar dan pemasaran
produk perlu ditelaah. Beberapa hal yang perlu dipelajari pada
aspek pasar dan pemasaran diantaranya:
a. Permintaan, baik secara total maupun terperinci menurut
daerah, jenis konsumen, dan perlu diperkirakan tentang
proyeksi permintaan tersebut.
yang berasal dari impor. Faktor-faktor yang mempengaruhi
penawaran ini seperti jenis barang yang bisa menyaingi,
kebijakan dari pemerintah, dan sebagainya perlu
diperhatikan.
harga para pesaing serta dilihat dari harga pokok produksi.
d. Program pemasaran, mencakup strategi pemasaran yang
akan dipergunakan
pengoperasiannya setelah bisnis tersebut selesai dibangun.
Berdasarkan analisis ini pula dapat diketahui rancangan awal
penaksiran biaya investasi termasuk biaya eksploitasinya. Hal-hal
yang penting untuk dikaji menyangkut aspek teknis adalah
(Nurmalina et al. 2010):
untuk pertimbangan lokasi, apakah potensial untuk
didirikannya suatu bisnis.
mencapai suatu tingkatan ekonomis.
serta konsep dari yang akan didirikan.
d. Cara proses produksi dilakukan untuk menghasilkan output
yang berkualitas.
Menurut Nurmalina et al. (2010), aspek manajemen
mempelajari tentang manajemen dalam masa pembangunan bisnis
dan manajemen dalam masa operasi. Dalam masa pembangunan
bisnis, hal yang dipelajari adalah siapa pelaksana bisnis, bagaimana
jadwal penyelesaian bisnis, dan siapa yang melakukan studi
masing-masing aspek kelayakan bisnis. Manajemen dalam operasi
mempelajari bentuk organisasi/badan usaha yang dipilih,
bagaimana struktur organisasi, jumlah tenaga kerja yang
digunakan, serta deskripsi pekerjaan masing-masing jabatan. Perlu
diketahui bahwa mengevaluasi aspek manajemen lebih sulit
dilakukan dengan aspek lain karena sifatnya yang tidak kasat mata
serta cenderung kepada hal-hal kualitatif.
38
mempelajari tentang bentuk badan usaha yang akan digunakan dan
mempelajari jaminan-jaminan yang bisa disediakan bila akan
menggunakan sumber dana yang berupa pinjaman, berbagai akta,
sertifikat, dan izin. Disamping itu aspek hukum diperlukan dalam
mempermudah dan memperlancar kegiatan bisnis pada saat
menjalin jaringan kerjasama dengan pihak lain.
4. Aspek Sosial Ekonomi dan Lingkungan
Menurut Nurmalina et al. (2010), aspek sosial yang
dipelajari yaitu penambahan kesempatan kerja atau pengurangan
pengangguran. Selain itu, aspek ini juga mempelajari pemerataan
kesempatan kerja dan bagaimana pengaruh bisnis tersebut bagi
lingkungan sekitar lokasi bisnis. Aspek sosial memperhatikan
manfaat dan pengorbanan sosial yang mungkin dialami oleh
masyarakat di sekitar lokasi bisnis. Pertimbangan-pertimbangan
sosial lain harus dipikirkan secara cermat agar dapat menentukan
apakah suatu bisnis yang diusulkan tanggap terhadap keadaan
sosial tersebut.
suatu bisnis dapat memberikan peluang peningkatan pendapatan
masyarakat, pendapatan asli daerah, pendapatan dari pajak, dan
dapat menambah aktivitas ekonomi. Sebuah bisnis tidak akan
39
member kesejahteraan. Menurut Nurmalina et al. (2010), aspek
lingkungan mempelajari bagaimana pengaruh bisnis terhdap
lingkungan, apakah dengan adanya bisnis dapat menciptakan
lingkungan yang semakin baik atau semakin merusak lingkungan.
Pertimbangan tentang sistem alami dam kualitas lingkungan dalam
analisis suatu bisnis justru akan menunjang kelangsungan suatu
bisnis sendiri, sebab tidak ada bisnis yang mampu bertahan lama
apabila tidak dapat bersahabat dengan lingkungan.
5. Aspek Financial
dalam analisis keuangan dapat disebabkan karena salah dalam
memproyeksikan pendapatan, biaya investasi, maupun kesalahan
dalam memproyeksikan biaya operasional. Oleh karena itu, analisis
aspek keuangan dapat dipisahkan dari analisis pada aspek non
finansial. Menurut Suliyanto (2010) analisis pada aspek hukum
berkaitan dengan biaya untuk mengurus perizinan, aspek
lingkungan berkaitan dengan biaya sosial yang harus dikeluarkan
dalam rangka menjalin hubungan antara perusahaan dengan
lingkungan sekitar, analisis aspek pasar dan pemasaran berkaitan
dengan proyeksi penjualan/pendapatan, analisis aspek teknis dan
40
peralatan dan teknologi, dan analisis aspek manajemen berkaitan
dengan biaya operasional untuk membayar tenaga kerja.
Menurut Nurmalina et al. (2010), aspek finansial
mempelajari berapa jumlah dana yang dibutuhkan untuk
membangun dan kemudian mengoperasikan kegiatan bisnis.
Setelah diketahui jumlah dana yang dibutuhkan kemudian
dipelajari darimana kemungkinan dana tersebut diperoleh. Berapa
banyak investor yang bersedia menanamkan dananya dalam
kegiatan bisnis, darimana dan dalam jumlah berapa pinjaman yang
dapat diperoleh bila dana dari investor tindak mencukupi,
bagaimana persyaratan peminjaman, dan sejauh mana kemampuan
bisnis untuk memenuhi persyaratan di masa yang akan datang.
2.1 Penelitian Terdahulu
terdahulu yang memberikan informasi terkait dengan metode
penelitian, hasil, pembahasan yang digunakan sebagai dasar
perbandingan dengan penelitian yang dilakukan, penelitian
terdahulu dari penelitian ini adalah sebagai berikut
1) Gerry Anugrah Dwiputra dalam artikel yang berjudul Analisis
Pengembangan Usaha Rumah makan Krebo Jantan, terbit di Jurnal
41
Sistem dan Manajemen Industri Vol 1 No 2 Desember 2017, 85-90
p-ISSN 2580-2887, e-ISSN 2580-2895 dengan mendapatkan
kesimpulan : Sesuai dengan Analisa SWOT yang telah dilakukan,
maka dari Aspek Pasar menunjukkan bahwa Rumah Makan Krebo
Jantan telah mampu memaksimalkan kekuatan (strength), dengan
memiliki Chef handal, kualitas karyawan yang handal serta tempat
yang nyaman. Menutupi kelemahan (weaknesses) dengan
mempersiapkan seluruh bisnis proses berdasarkan SOP, dan
Marketing Process perlu ditingkatkan kembali. Memanfaatkan
peluang (oppurtinities) dengan memanfaatkan peluang investasi
besar di daerah Cilegon dengan UMK yang besar, dan menawarkan
jenis keragaman makanan terhadap pelanggan. Menangkal semua
ancaman (threats) dengan menganalisa calon pesaing dan
menerapkan perbaikan secara terus menerus. Berdasarkan hasil
analisis Finansial menunjukkan bahwa semua kriteria kelayakan
secara Finansial sudah terpenuhi, maka penanaman modal untuk
pengembangan Rumah Makan Krebo Jantan adalah Layak untuk
dilaksanakan dengan kondisi yang masih normal.
2) Penelitian Abidatul Afiyah Muhammad dan Saifi Dwiatmanto
dalam artikel yang berjudul Analisis Studi Kelayakan Usaha
Pendirian Home Industri terbit dijurnal Administrasi Bisnis (JAB)
Vol. 23 No. 1 Juni 2015 dengan mengasilkan kesimpulan: 1)
Analisis pasar dan pemasaran menunjukkan bahwa prospek Home
42
peningkatan jumlah permintaan setiap tahun. Ketersediaan bahan
baku dan bahan pembantu yang memadai, dan strategi terkait
bauran pemasaran yang cukup bagus. 2) Analisis teknis dan
produksi meninjukkan bahwa kondisi tempat serta perlatan
produksi tetap bersih dan terjaga kualitasnya, serta memenuhi
kapasitas produksi. 3) Analisis organisasi dan manajemen
menunjukkan bahwa pemilik usaha telah menjalankan fungsi-
fungsi manajemen dengan cukup baik, dimulai dari perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian. Bentuk struktur
organisasi garis atau lini menunjukkan pemilik usaha berupaya
untuk menjalin hubungan yang baik dengan karyawan, dan
membina solidaritas yang tinggi antar karyawan. 4) Analisis
finansial dengan menggunakan 100% modal sendiri dikatakan
layak berdasarkan hasil perhitungan kelayakan investasi yang
meliputi Payback Period (PP), Net Present Value (NPV), Internal
Rate of Return (IRR), dan Profitability Index (PI), karena masing-
masing perhitungan memenuhi kriteria investasi, dimana nilai PP
atau jangka waktu pengembalian modal kurang dari umur investasi
(5 tahun), nilai NPV yang positif atau lebih besar dari nol, nilai
IRR yang lebih besar dari tingkat suku bunga deposito (7,75%),
dan nilai PI yang lebih besar dari satu.
43
Mokodompit dalam artikel yang berjudul Financial feasibility
analysis, small business farm beef cattle livestock in Gorontalo
District terbit di jurnal Perspektif Pembiayaan dan Pembangunan
Daerah Vol. 5. No.2, October – December 2017 ISSN: 2338-4603
(print); 2355-8520 dengan menghasilkan kesimpulan: 1)
Pengembangan bisnis sapi potong adalah industri agribisnis
dilapangan dalam kegiatan yang tidak terbatas, usaha ternak sapi
menyatakan budidaya ini dipotong untuk membawa keuntungan
tinggi. Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya kesejahteraan
masyarakat, dalam bisnis ini juga tidak memerlukan biaya yang
besar dari segi teknis (biaya sarana dan prasarana). 2) Berdasarkan
hasil analisa aspek keuangan ternak sapi perah yang layak untuk
dikembangan karena nilai NPV yang lebih tinggi (>) daripada hasil
analisa 1, IRR yang didapatkan lebih besar dari jumlah yang
ditentukan sebesar 12%. Sedangkan untuk nilai rasio R/C juga >1.
Adapun periode payback, waktu terpanjang ada;ah pada skala 3-4
sapi yaitu 8 tahun 11 bulan 26 hari.
4) Penelitian Abidatul Afiyah Muhammad dan Saifi Dwiatmanto
dalam artikel yang berjudul Analisis Studi Kelayakan Usaha
Pendirian Home Industri terbit dijurnal Administrasi Bisnis (JAB)
Vol. 23 No. 1 Juni 2015 dengan mengasilkan kesimpulan: 1)
Analisis pasar dan pemasaran menunjukkan bahwa prospek Home
44
peningkatan jumlah permintaan setiap tahun. Ketersediaan bahan
baku dan bahan pembantu yang memadai, dan strategi terkait
bauran pemasaran yang cukup bagus. 2) Analisis teknis dan
produksi meninjukkan bahwa kondisi tempat serta perlatan
produksi tetap bersih dan terjaga kualitasnya, serta memenuhi
kapasitas produksi. 3) Analisis organisasi dan manajemen
menunjukkan bahwa pemilik usaha telah menjalankan fungsi-
fungsi manajemen dengan cukup baik, dimulai dari perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian. Bentuk struktur
organisasi garis atau lini menunjukkan pemilik usaha berupaya
untuk menjalin hubungan yang baik dengan karyawan, dan
membina solidaritas yang tinggi antar karyawan. 4) Analisis
finansial dengan menggunakan 100% modal sendiri dikatakan
layak berdasarkan hasil perhitungan kelayakan investasi yang
meliputi Payback Period (PP), Net Present Value (NPV), Internal
Rate of Return (IRR), dan Profitability Index (PI), karena masing-
masing perhitungan memenuhi kriteria investasi, dimana nilai PP
atau jangka waktu pengembalian modal kurang dari umur investasi
(5 tahun), nilai NPV yang positif atau lebih besar dari nol, nilai
IRR yang lebih besar dari tingkat suku bunga deposito (7,75%),
dan nilai PI yang lebih besar dari satu.
45
yang dignakan untuk meneliti pada objek alamiah, dimana peneliti
merupakan instrumen kunci (Sugiono,2005). Hal tersebut berdasarkan
pada judul yang di teliti yaitu “ ANALISIS KELAYAKAN USAHA
CAFE MARTABAK MINI FAWWAZ “
Penelitian dilakukan di Café Martabak Mini Fawwaz yang
berlokasi di Jalan Pangahkaran Kota Karawang. Pemilihan lokasi
penelitian dilakukan secara purposive (sengaja) dengan pertimbangan
bahwa usaha Café Martabak Mini Fawwaz baru berjalan Desember 2013
sampai sekarang , namun ingin diidentifikasi apakah sudah memenuhi
kriteria kelayakan usaha. Dan waktu penelitian dilaksanakan di pada bulan
maret sampai dengan agustus 2019 dengan tabel sebagai berikut :
46
berwirausaha untuk mengembangkan usahanya sehingga menciptakan
persaingan yang semakin ketat. Pangahkaran adalah di sebuah kota
Karawang, Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan usaha
Martabak Mini Fawwaz . Terdapat 2 aspek yang akan diteliti, yaitu aspek
non finansial dan aspek finansial. Aspek non finansial meliputi aspek
pasar, teknis, manajemen dan hukum, serta aspek sosial ekonomi dan
lingkungan. Aspek pasar dapat dilihat dari potensi dan target pasar serta
startegi pemasaran yang dilakukan pihak pengelola. Aspek teknis dapat
dilihat dari lokasi bisnis, proses produksi, dan tata letak Usaha Martabak
Mini Fawwaz.
Gambar 3 Kerangka pemikiran operasional analisis kelayakan usaha Café Martabak
Mini Fawwaz di Pangahkaran Kota Karawang.
3.4 Metode pengumpulan data dan Pengolahan data
Metode pengumpulan data primer yang digunakan dalam
penelitian ini yaitu langsung ke lokasi cafe dengan melakukan
wawancara dengan pemilik cafe, manajer operasional, dan manajer
keuangan café martabak mini. Sedangkan pengumpulan data sekunder
ANALISIS KELAYAKAN USAHA CAFÉ MARTABAK
MINI FAWWAZ
1. Analisi laporan
Implementasi
Kota karawang, penelusuran literatur dari berbagai sumber buku dan
artikel.
finansial yaitu aspek pasar, teknis, manajemen dan hukum, serta
aspek sosial ekonomi dan lingkungan. Sedangkan data kuantitatif
dianalisis berdasarkan aspek finansial dengan kriteria kelayakan
investasi dan analisis nilai pengganti.
3.6 Metode Analisis Data
Subyek yang akan diteliti yaitu Café Martabak Mini
Fawwaz dengan tujuan untuk memperoleh gambaran kelayakan
usahanya melalui aspek non finansial dan finansial. Analisis
kelayakan aspek non finansial akan mengkaji kelayakan usaha dari
berbagai aspek yaitu aspek pasar, teknis, manajemen dan hukum,
serta aspek ekonomi sosial, dan aspek lingkungan. Pada aspek
pasar, variabel yang akan dianalisis meliputi potensi dan target
pasar serta strategi pemasaran yang dilakukan pihak pengelola.
Pada aspek teknis, variabel yang akan dianalisis meliputi lokasi
bisnis, proses produksi, dan tata letak Café Martabak Mini
49
dianalisis adalah bentuk badan usaha, struktur organisasi, deskripsi
pekerjaan masing-masing pegawai, dan sistem penggajian pegawai.
Sedangkan pada aspek ekonomi sosial dan lingkungan, variabel
yang akan dianalisis yaitu bagaimana dampak dari keberadaan
Café Martabak Mini Fawwaz terhadap lingkungan sekitar lokasi
cafe dan apakah keberadaan usaha menciptakan lingkungan yang
semakin baik atau semakin rusak.
2. Analisis Kelayakan Finansial
Fawwaz mengggunakan laporan laba rugi dan arus kas. Dasar
penilaian kriteria kelayakan finansial menggunakan metode kriteria
kelayakan investasi yaitu Net Present Value (NPV), Net Benefit
Cost Ratio (Net B/C), Internal Rate of Return (IRR), Payback
Period (PP), serta analisis nilai pengganti untuk melihat kondisi
kelayakan finansial usaha jika terjadi peningkatan harga input susu
pasteurisasi dan penurunan harga jual produk Martabak Mini.
3. Laporan laba rugi
pengelolaan bisnis adalah menyusun laporan laba rugi yang berisi
tentang total penerimaan pengeluaran dan kondisi keuntungan yang
diperoleh suatu perusahaan dalam satu tahun akuntansi atau
50
menggambarkan kinerja perusahaan dalam upaya mencapai
tujuannya selama periode tertentu. Laporan laba rugi merupakan
ringkasan dari 4 jenis kegiatan dalam suatu bisnis. Keempat jenis
kegiatan tersebut terdiri dari pendapatan dari penjualan produk dan
jasa, beban produksi untuk mendapatkan barang atau jasa yang
akan dijual, beban yang timbul dalam memasarkan dan
mendistribusikan produk atau jasa kepada konsumen, serta beban
keuangan dalam menjalankan bisnis. Format penyusunan laporan
laba rugi dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3 Format laporan laba rugi
No Uraian Keterangan
Penerimaan usaha B
4 Biaya tetap F
6 Bunga (1%) H
8 Pajak (1%) J
aJumlah bunga yang dibayarkan = r% x total hutang
bJumlah pembayaran pajak = t% x laba sebelum pajak
51
Menurut Nurmalina et al. (2010) aliran penerimaan dan pengeluaran
dalam bisnis dikenal dengan istilah aliran kas (cash flow), yakni aktivitas
keuangan yang mempengaruhi posisi/kondisi kas pada suatu periode tertentu.
Cash flow disusun untuk menunjukkan perubahan kas dalam satu periode tertentu
serta memberikan alasan mengenai perubahan kas tersebut dengan menunjukkan
darimana sumber-sumber kas dan penggunaan-penggunanaanya. Pada studi
kelayakan bisnis, cash flow menjadi bagian terpenting yang harus diperhatikan
oleh pihak manajemen, investor, konsultan, dan stakeholder lainnya untuk
memperhitungakan kelayakan berdasarkan kriteria kelayakan investasi yang ada.
Penyusunan cash flow berbeda dari satu bisnis dengan bisnis lainnya karena
dipengaruhi oleh jenis bisnis itu sendiri, proses kegiatan produksi, serta keadaan
kesiapan dimulainya suatu bisnis. Unsur yang terdapat dalam laporan arus kas
yaitu inflow (arus penerimaan), outflow (arus pengeluaran), laba bersih, dan laba
bersih tambahan bila diperlukan. Tabel 4 menggambarkan penyusunan laporan
arus kas.
No Uraian Tahun
I Arus kas masuk
(1+i)t
Sumber : Nurmalina et al.2010
B. Kriteria Kelayakan Investasi
Net Present Value adalah selisih atara total present value laba
dengan total present value biaya, atau jumlah present value dari laba
bersih selama umur usaha (Nurmalina et al. 2010). Nilai yang dihasilkan
dari perhitungan NPV adalah dalam satuan mata uang. Rumus menghitung
NPV adalah sebagai berikut:
NPV = = 1 = = 1 = = 1
Sumber : Nurmalina et.al. 2010
t = Tahun kegiatan bisnis (t = 0, 1, 2, …., n)
i = Tingkat DR (%)
53
a) NPV=0, artinya usaha tersebut mampu mengembalikan persis sebesar
modal sosial opportunities cost faktor produksi normal, dengan kata lain,
usaha tersebut tidak untung dan tidak rugi.
b) NPV>0, artinya suatu usaha sudah dinyatakan menguntungkan dan
dapat dilaksanakan.
c) NPV<0, artinya usaha tersebut tidak menghasilkan nilai biaya yang
dipergunakan, dengan kata lain usaha tersebut merugikan dan sebaiknya
tidak dilaksanakan.
Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) merupakan angka perbandingan antara
jumlah nilai sekarang yang bernilai positif dengan jumlah nilai sekarang yang
bernilai negatif (Nurmalina et al. 2010). Rumus untuk menghitung Net B/C
adalah:
n = Jumlah tahun
i = tingkat DR (%)
Kriteria investasi berdasarkan Net B/C adalah:
a) Net B/C=1, maka NPV=0, usaha tidak untung dan tidak rugi.
b) Net B/C>1, maka NPV>0, usaha menguntungkan.
c) Net B/C<1, maka NPV<0, usaha merugikan.
54
Internal Rate of Return (IRR) adalah tingkat rata-rata keuntungan internal
tahunan bagi perusahaan yang melakukan investasi dan dinyatakan dalam satuan
persen (Nurmalina et al. 2010). Tingkat IRR mencerminkan tingkat suku bunga
maksimal yang dapat dibayar oleh usaha untuk sumberdaya yang digunakan.
Suatu usaha dianggap layak apabila nilai IRR lebih besar dari tingkat suku bunga
yang berlaku dan sebaliknya jika nilai IRR lebih kecil dari tingkat suku bunga
yang berlaku, maka usaha tidak layak untuk dilaksanakan. Rumus untuk
menghitung IRR adalah:
Keterangan :
NPV1 = NPV yang bernilai positif
NPV2 = NPV yang bernilai negative
4. Payback Period (PP)
Payback Period (PP) atau tingkat pengembalian investasi adalah salah satu
metode dalam menilai kelayakan suatu usaha yang digunakan untuk mengukur
periode jangka waktu pengembalian modal. Bila nilai PP lebih pendek
dibandingkan dengan jangka waktu umur ekonomi usaha maka investasi yang
ditanamkan layak, begitu juga sebaliknya. Rumus yang digunakan untuk
menghitung jangka pengembalian investasi adalah :
55
Keterangan :
Ab = Manfaat bersih yang dapat diperoleh pada setiap tahunnya
5. Analisis Nilai Pengganti (Switching Value)
Menurut Nurmalina et al. (2010), analisis nilai pengganti merupakan
perhitungan untuk mengukur perubahan maksimum dari perubahan suatu
komponen inflow (penurunan harga output atau penurunan produksi) atau
perubahan komponen outflow (peningkatan harga input atau peningkatan harga
produksi) yang masih ditoleransi agar bisnis masih tetap layak. Maka dari itu,
perubahan yang terjadi jangan melebihi nilai tersebut. Bila melebihi maka bisnis
menjadi tidak layak untuk dijalankan. Perhitungan ini mengacu kepada berapa
besar perubahan yang terjadi sampai dengan NPV sama dengan nol (NPV=0).
Analisis switching value dapat dilakukan dengan menghitung secara coba-coba
perubahan maksimum yang boleh terjadi akibat perubahan didalam komponen
inflow atau outflow.
FAWWAZ
Martabak Mini Fawwaz yang berlokasi di pangahkaran kota
.karawang oleh Wawan Hermawan. yang awal mulanya berjualan di booth
dan kemudian martabak mini fawwaz terus berkembang membuka dan
menjadikan Café Martabak Mini Fawwaz semakin luas.
Bentuk usaha yang digunakan oleh Café Martabak Mini Fawwaz
adalah usaha perorangan dan masih tergolong dalam kategori Usaha Kecil
Menengah .Modal berasal dari modal pribadi dan investor, Modal awal
yang dibutuhkan untuk membangun cafe ini sekitar 300 juta rupiah.
Keseluruhan biaya yang dikeluarkan untuk membangun cafe ini dibantu
dengan adanya 3 investor dengan kepemilikan saham yang berbeda-beda
diantaranya Ratu 37.6 persen, Riki 1.4 persen, dan Yadi 0.6 persen.
Sebagian keuntungan yang diperoleh cafe akan dibagikan kepada para
investor sesuai dengan besarnya saham yang dimiliki oleh investor
tersebut. Para investor ini tidak memiliki hak untuk mengelola cafe,
mereka hanya berperan sebatas dalam penyediaan modal saja.
57
keterbatasan modal yang dimiliki. Pemilik bangunan merupakan kerabat
dari pemilik cafe yang sekaligus dijadikan sebagai sekretariat Himpunan
Pengusaha Muda Indonesia. Lokasi ini dipilih karena letaknya yang
strategis dimana tempat yang cukup dikenal masyarakat sebagai salah satu
pusat wisata kuliner Kota Karawang. Selain itu, kawasan ini juga
berdekatan dengan sekolah dan kampus sehingga semua kalangan dapat
dengan mudah mengakses cafe ini.
cafe ini memiliki desain yang bertema klasik ,produk utama cafe
yaitu martabak mini dengan susu. Bagian bangunan yang dijadikan
sebagai cafe tidak secara utuh melainkan hanya bagian teras bangunan
saja. Teras tersebut diubah sesuai dengan tema klasik dengan teras dibuat
dari bambu serta pada bagian bar dibuat dari kayu. Selain disesuaikan
dengan tema, pemilihan material pada bangunan cafe yang demikian juga
dikarenakan modal yang terbatas. Luas bangunan yang disewa yaitu seluas
185 m2 yang terdiri dari ruang makan, dapur, ruang cuci, dan kamar
mandi. Kapasitas dari ruang makan adalah 40 orang, terdiri dari 10 meja
dan masing-masing 4 bangku untuk setiap meja.
58
1. Visi Martabak Mini Fawwaz
• Menjadi kuliner yang digemari semua usia dan kalangan
masyarakat.
2. Misi Café Martabak Mini Fawwaz
• Mengutamakan kualitas dalam hal rasa, penyajinan
makanan dan pelayanan.
Berbagai ide kretaif dilakukan pengelola untuk menumbuhkan
loyalitas dan kenyamanan konsumen terhadap Cafe Martabak Mini
Fawwaz tersebut. Untuk menghindari kejenuhan konsumen, pemilik
melakukan berbagai promosi unik serta menawarkan produk-produk yang
umumnya sudah dikenal konsumen namun disajikan dengan tampilan yang
berbeda dari yang lain. Pelayanan yang ramah juga menjadi salah satu
kunci pihak pemilik untuk menumbuhkan citra cafe yang baik dimata
konsumenya.
Pemilik usaha mencoba sesuatu yang baru untuk menghadapi
persaingan dibidang kuliner. Ditengah beragamnya usaha kuliner dikota
59
karawang. Pemilik juga menyajikan beberapa makanan seperti chicken
rice dan steak dan kuliner lainya , dengan produk unggulan tetap Martabak
mini.
Cafe Martabak Mini Fawwaz beroprasi pada hari senin sampai
minggu mulai pukul 10.00 s/d 21.00 WIB. ini menyajikan menu andalan
nya yaitu martabak dengan berbagai varian rasa serta beragam makanan
dan minuman lainya.
4.4 Struktur Organisasi
saat ini masih sederhana. Akan tetapi dengan adanya Struktur Organisasi
maka tugas,wewenang, dan tanggung jawab setiap bagian dalam
perusahaan dapat dilihat dengan jelas.
Struktur Organisasi Martabak Mini Fawwaz dapat dilihat pada Gambar 2.
60
Owner
Operational
Sumber : Martabak Mini Fawwaz 2019
Kebijakan dan keputusan besar dipegang oleh pemilik cafe (owner).
Owner hanya bertindak sebagai evaluator dan pemegang kontrol serta pengambil
keputusan dengan melakukan rapat atau musyawarah dengan tim manajemen.
Owner tidak turun tangan langsung dalam kegiatan operasional namun akan
mendapatkan laporan operasional setiap bulan dari manajer operasional. Manajer
operasional bertanggung jawab atas semua kegiatan operasional di cafe termasuk
mengawasi kinerja pelayan, barista, serta bagian dapur produksi. Selain itu
61
melalui media sosial.
Manajer operasional bertanggung jawab atas bagian pelayanan, barista,
dan dapur produksi. Para pelayan (waiter) dikepalai oleh seorang kepala pelayan.
Para pelayan bertugas melayani para konsumen, mulai dari pemesanan menu
sampai penyajiannya serta memastikan kerapian dan kebersihan meja dan kursi.
Selain itu, pelayan juga berkewajiban menyampaikan informasi mengenai menu
spesial dan merekomendasikan menu favorit di cafe. Sedangkan bagian barista
bertugas untuk membuat minuman sesuai pesanan juga berkewajiban untuk
menjaga kebersihan dan umur pakai dari bar. Bagian dapur produksi dikepalai
oleh seorang kepala koki. Bagian ini bertugas untuk membuat makanan sesuai
dengan pesanan konsumen serta menjaga kualitas dan kehigienisan makanan.
Didalam bagian dapur produksi juga terdapat pegawai yang bertugas untuk
membersihkan peralatan makan dan dapur (steward).
Manajer keuangan bertugas untuk mengatur, memeriksa, dan bertanggung
jawab atas alur kas baik penerimaan maupun pengeluaran. Manajer keuangan juga
bertanggung jawab atas kinerja kasir serta bagian pembelian bahan baku. Kasir
bertugas dalam menerima transaksi pembayaran dari konsumen. Sedangkan
bagian pembelian bahan baku (storeman) bertugas untuk mencatat persediaan
bahan baku yang diperlukan dan membeli bahan baku yang diperlukan untuk
kegiatan operasional. Untuk bagian keamanan, petugas keamanan berasal dari
masyarakat sekitar namun tidak tergabung kedalam manajemen cafe.
62
1. Analisis Aspek pasar
menempati urutan pertama dalam studi kelayakan usaha. Pada tahap ini
besar permintaan produk serta kecenderungan perkembangan permintaan
selama masa kehidupan bisnis yang akan datang perlu diperkirakan
dengan cermat. Dari segi pemasaran kegiatan bisnis diharapkan dapat
beroperasi secara sehat bilamana produk yang dihasilkan mampu
mendapat tempat di pasaran serta menghasilkan penjualan yang memadai
dan menguntungkan.
para pemasar menggunakan instrument yang dikenal dengan bauran
pemasaran (Laksana, 2008). Bauran pemasaran (Marketing Mix) meliputi
produk, harga, tempat, dan promosi.
a. Produk
adalah berbagai olahan susu. Namun disamping itu, terdapat pula berbagai
minuman lain serta berbagai varian makanan. Presentasi makanan yang
disajikan di cafe ini tergolong unik karena menggunakan alat makan
seperti, talenan kayu yang digunakan untuk menyajikan roti bakar, gelas
63
cantik yang digunakan untuk menyajikan beberapa minuman lain. Hal ini
dikarenakan banyak konsumen yang mencari sesuatu yang unik dan
mewah saat berwisata kuliner. Pemilihan penggunaan alat makan ini juga
disesuaikan dengan tema cafe yaitu klasik. Penggunaan alat makan
tersebut termasuk kedalam strategi cafe disamping menjaga kualitas dan
melakukan inovasi terhadap produk-produk yang ditawarkan.
Gambar 5 Penyajian beberapa produk Café Martabak Mini Fawwaz Sumber: Café Martabak Mini Fawwaz 2019
Untuk menjaga agar konsumen tidak bosan dengan produk yang
ditawarkan, manajemen melakukan inovasi dengan menawarkan produk baru.
Inovasi produk didasarkan atas permintaan dari konsumen, apabila permintaan
tinggi maka tidak menutup kemungkinan produk tersebut akan dijadikan menu
tetap di cafe. Selama beroperasi rcafe ini telah melakukan 2 kali inovasi produk.
Pertama, martabak mini yang ditambahkan dengan produk terkenal seperti Beng-
64
beng, Cadburry, dan Milo. Kedua, produk yang diberi nama Angry Fruit yaitu
susu dengan buah yang melimpah.
b. Harga
harga berdasarkan harga pesaing di lingkungan sekitar cafe yaitu Sop
Buah Pak udin. Hal ini dikarenakan lokasi kedua cafe yang berdekatan
serta segmen pasar yang dituju serupa. Akan tetapi setelah dilakukan
perhitungan berdasarkan besarnya biaya produksi dan bahan baku,
diketahui bahwa penetapan harga awal tersebut tidak mampu memberikan
keuntungan maksimal sesuai target. Oleh karena itu, pihak manajemen
menaikan harga untuk beberapa produk makanan sekitar Rp1 000 sampai
Rp2 000. Khusus untuk Chicken Cordon Bleu terjadi kenaikan harga dari
Rp20 000 menjadi Rp26 000. Kenaikan harga ini disesuaikan dengan
harga Chicken Cordon Blue di pasaran dan pihak manajemen merasa harga
yang mereka tetapkan masih tergolong dibawah harga rata-rata makanan
tersebut. Kenaikan harga ini terjadi setelah 4 bulan café beroperasi.
Harga yang ditawarkan untuk makanan dan minuman di Café
Martabak Mini bervariasi (Lampiran 1). Untuk makanan berkisar antara
Rp11 000 sampai Rp26 000. Harga yang ditawarkan untuk cemilan
berkisar antara Rp6 000 sampai Rp17 500. Untuk produk minuman susu
seperti Freshmilk, Hot Milk dan Milkshake harga yang ditawarkan berkisar
65
antara Rp5 000 sampai Rp16 500. Sedangkan untuk minuman lainnya
berkisar antara Rp3 000 sampai Rp16 000.
c. Tempat
karawang. Alasan pemilihan lokasi ini dikarenakan lokasi ini masih berada
di dalam kawasan ramai Kota karawang. Selain itu kawasan ini juga dekat
dengan kampus dan sekolah sehingga dapat dengan mudah diakses oleh
mahasiswa dan pelajar yang merupakan target pasar utama cafe ini.
5.1.1 Hasil Analisis Aspek pasar
Berdasarkan analisis aspek pasar, Café Martabak Mini Fawwaz
dinilai memiliki potensi pasar yang baik, melihat jumlah café di kota
karawang yang menyajikan produk minuman berbahan dasar susu masih
sedikit. Selain itu, potensi cafe ini juga terlihat dari rata-rata peningkatan
penjualan produk selama bulan Juni hingga Desember 2015 sebesar 17.18
persen. Segmentation, targeting, dan positioning dari cafe ini juga sudah
ada. Dilihat dari strategi pemasarannya, cafe ini mampu menciptakan
produk yang kreatif, menawarkan harga yang terjangkau, pemilihan
tempat yang strategis, serta melakukan berbagai promosi yang unik dan
menarik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada aspek pasar, Café
Martabak Mini Fawwaz layak untuk dijalankan.
66
Pada aspek teknis, dapat diketahui tahapan atau proses bagaimana suatu
produk dihasilkan. Aspek ini juga berhubungan dengan proses pembangunan
bisnis secara teknis dan pengoperasiannya setelah bisnis itu dibangun (Nurmalina
et al. 2010). Beberapa bagian utama yang akan dianalisis pada aspek teknis
diantaranya lokasi bisnis, proses produksi, serta tata letak (layout) Café Martabak
Mini Fawwaz.
a. Lokasi Bisnis
Penelitian ini dilakukan di Café Martabak Mini Fawwaz yang terletak di
Jalan pangahkaran kota karawang dengan luas bangunan yang digunakan seluas
185 m2. Beberapa variabel utama yang dalam penentuan lokasi suatu bisnis antara
lain ketersediaan bahan baku, suplai tenaga kerja, tenaga listrik dan air, fasilitas
transportasi, dan letak pasar utama (Nurmalina et al. 2010).
b. Suplai tenaga kerja
dikelola oleh seorang manajer operasional dan seorang manajer keuangan.
Manajer operasional bertanggung jawab atas kinerja bagian pelayanan, barista,
dapur produksi, serta graphic designer. Sedangkan manajer keuangan
bertanggung jawab atas kinerja bagian pembelian bahan baku dan kasir.
Pembagian jabatan dan jumlah pegawai pada Café Martabak Mini dapat dilihat
pada Tabel 5.
67
Tabel 5 Jumlah karyawan Café Martabak Mini Fawwaz berdasarkan jabatan dan
jenis kelamin.
kelamin Kelamin
Accounting Manager 1 0 1 Co. Cashier 0 1 1
Graphic Designer 1 0 1 Cashier 0 2 2
Head Chef 1 0 1 Captain 1 0 1
Asistent Chef 1 0 1 Waiters 6 3 9
Cook 7 1 8 Storeman 1 0 1
Co. Barista 0 1 1 Steward 3 0 3
Sumber : Café Martabak Mini Fawwaz 2019
Berdasarkan data pada Tabel 5 diketahui bahwa terdapat 24 orang pegawai
laki-laki dan 10 orang pegawai perempuan. Sehingga total keseluruhan jumlah
pegawai di Café Martabak Mini Fawwaz adalah 34 orang. Hampir 40 persen
pegawai di Cafe merupakan pegawai yang berasal dari masyarakat yang
berdomisili di sekitar lokasi usaha. Pegawai tersebut menjabat pada bagian
pelayanan dan keamanan. Tidak ada kualifikasi khusus seperti tingkat pendidikan
bagi mereka, hal yang diutamakan adalah mau bekerja sama, memiliki loyalitas
yang tinggi, dan mampu bekerja dibawah tekanan.
c. Tenaga listrik dan air
Sumberdaya listrik dan air yang digunakan Café Martabak Mini Fawwaz
berasal dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan Perusahaan Daerah Air Minum
(PDAM). Kapasitas maksimal penggunaan listrik yang dapat digunakan yaitu 4
68
000 watt dengan biaya jumlah yang harus dikeluarkan per bulannya Rp3 200 000.
Sistem pembayaran listrik di cafe ini merupakan sistem prabayar dimana
pembelian voucher dilakukan di Alfamart. Sedangkan untuk penggunaan air
PDAM, biaya yang dikeluarkan per bulannya sebesar Rp1 400 000. Sistem
pembayaran air PDAM dilakukan secara tunai yang dibayarkan langsung ke loket
PDAM.
d. Fasilitas Transportasi
Cafe ini memiliki fasilitas transportasi berupa 1 unit sepeda motor yang
digunakan untuk mengangkut bahan mentah dari pasar menuju cafe. Selain itu
sepeda motor ini juga berguna untuk mengantar pesanan konsumen menuju
alamat yang dituju (delivery order). Pemilihan alat transportasi ini karena dirasa
lebih efisien dan memudahkan di dalam perjalanan pegawai baik untuk membeli
bahan baku serta mengantar makanan yang dipesan konsumen.
5.1.2 Hasil Analisis Aspek Teknis
Analisis aspek teknis menunjukkan bahwa usaha Café Martabak Mini
Fawwz layak untuk dijalankan. Hal ini berdasarkan pada lokasi cafe yang
mendukung jalannya usaha, proses produksi dan tempat penjualan produk juga
berada didalam satu tempat yang sama. Tata letak telah diatur sedemikian rupa
dengan baik sehingga dapat memperlancar kegiatan usaha (Lampiran 2). Sarana
dan fasilitas yang tersedia juga menunjang kegiatan produksi. Selain itu kedekatan
cafe dengan tempat pembelian bahan baku juga dapat memperlancar kegiatan
produksi sekaligus dapat menjaga kualitas dan kesegaran bahan baku.
69
Menurut Nurmalina et al. (2010), aspek manajemen mempelajari tentang
manajemen dalam masa pembangunan bisnis dan dalam masa operasi. Selain itu,
bagi usaha yang baru dibangun diperlukan juga perizinan yang lengkap untuk
mempermudah dan memperlancar kegiatan bisnis. Pengelolaan usaha Café
Martabak Mini Fawwaz dalam manajemen dan hukum akan menganalisis bentuk
badan hukum usaha, struktur organisasi, deskripsi pekerjaan masing-masing
pegawai, dan sistem penggajian tenaga kerja.
a. Bentuk badan usaha
Bentuk badan usaha di Café Martabak Mini Fawwaz ini adalah perusahaan
perseorangan dan masih tergolong dalam kategori Usaha Kecil Menengah
(UKM). Pemilik cafe juga merencanakan untuk membangun sebuah badan usaha
berupa Perseroan Terbatas (PT). Salah satu tujuan pemilik cafe ini membentuk
badan usaha ini dikarenakan adanya investor yang menanamkan modal di café
martabak mini fawwaz. Selain itu dengan mendirikan badan usaha Perseroan
Terbatas, cafe ini