9 SISTEM CARDIO VAS

download 9 SISTEM CARDIO VAS

of 38

  • date post

    30-Jun-2015
  • Category

    Documents

  • view

    466
  • download

    10

Embed Size (px)

Transcript of 9 SISTEM CARDIO VAS

TUBERCULOSIS PARU

A. KONSEP DASAR 1. Pengertian TB Paru adalah penyakit infeksi kronis, akut atau sub akut yang disebabkan oleh bacillus tuberculosis, yang ditandai dengan pembentukan tuberkel/granuloma di paru. Dan kebanyakan mengenai struktur alveolar paru, presentasi klinisnya bervariasi berkisar sinkromatik dengan hanya menunjukan test positif sampai meliputi pulmoner luas dan sistemik. (soeparman, suwarto. PD IV 1990). 2. Etiologi Penyebab tuberculosis adalah kuman tahan asam mycobacterium tuberculosis. Sedangkan spesies lain kuman ini yang dapat memberikan infeksi pada manusia adalah: 1. Micobacterium bovis 2. Micobacterium intra seluler 3. Micobacterium sensori Sebagian besar kuman terdiri dari asam lemak (lipid). Lipid ini hilang yang membuat kuman lebih tahan terhadap gangguan kimia dan fisik. Kuman dapat tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin (dapat hidup bertahun-tahun dalam lemari es). Selain tahan asam sifat kuman ini menunjukkan bahwa kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi kandungan oksigen. 3. Patofisiologi Tiga pintu masuk kuman TB: a. Saluran nafas: batuk, bersin b. Saluran cerna: jenis govin c. Luka terbuka pada kulit Patofisiologi dibagi atas: a. Tuberculosis primer Adalah orang yeng pertama kali terinfeksi oleh kuman TB. Pertama-tama kkuman TB masuk pada paru-paru orang yang belum dijangkiti adalah pada puncak paru-paru (apex) kedua-duanya. Dengan melewati pembuluh limfe, Basil dapat berpindah kebagian paru-paru yang lain atau kejaringan tubuh lainnya, di tempat ini kuman bersarang di dalam jaringan paru-paru kelihatan biji-biji kecil sebesar kepala jarum yang dinamakan tuberkel. Tuberkel lamakelamaan bertmabah besar dan bergabung dan menjadi satu. Lama kelamaan timbul nekrose, jaringan yang mati ini di keluarkan pada waktu penderita batuk kemudian ditempat tersebut terbentukCaverne dan apabila di dalam caverne itu ada pembuluh darah yang pecah maka penderita akan haemaptoe. b. Tuberkel sekunder Adalah lanjutan dari tuberculosis primer yang mana kuman yang dortmand akan muncul bertahun-tahun kemudian dimulai dengan serangan dini yang berlokasi di regio atas paru-paru (bagian atas posterior lobus superior atau inferior). Infasnya adalah kedaerah parenkim paru-paru (bagian apical posterior llobus superior atau inferior). Infasnya adalah kedaerah parenkim paru-paru, serangan ini mula-mula berbentuk eneumonia kecil, dalam 3-10 minggu serangan ini menjadi tuberkel yakni suatu gram, ioma.

Secara keseluruhan akan terdapat tiga macam serangan, yakni: 1) Serangan yang sudah sembuh: tidak perlu pengobatan lagi. 2) Serangan aktif eksudat: perlu pengobatan lengkap dan sempurna. 3) Serangan yang berada antara aktif dan kembali dapat sembuh spontan dengan pengobatan lengkap dan sempurna. 4. Manifestasi Klinik Tanda umum dari penderita a. Batuk dengan tanpa dahak lebih dari dua minggu b. Demam ragam c. Berat badan menurun d. Pusing, lemah anovelusia e. Nyeri dada f. Keluar keringat dingin pada malam hari g. Pada stadium akhir disertai dengan kemaptoe 5. Pemeriksaan Diagnostik Rx Radiologis Px Lab: a. Darah : leukosit meningkat led meningkat b. Sputum : TBA 3x c. Test tubekulin (mantoux) 6. a. b. c. 7. a. 1) 2) 3) 4) 5) b. 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) Komplikasi Kp (khok pulmo) : Arthritis : Asteomyelitis : TBC Ginjal TBC Kellenjar Menigitis

Pengobatan Obat primer Isoniatis Rifampisin Prazinamia Steptomyisin Ethambutol Obat sekunder Enanamia Protonamia Sikloseria Kanamrin Tia setazon Viomizin Kapriomizin

8. Penatalaksanaan Keperawatan Pemberian oksigen a. Pemberian oksigen b. Memberikan posisi semi powler c. Melatih abtuk efektif dan panas dalam d. postural drainage e. Lakukan saktion jika batuk efektif f. pemeberian diet tinggi kalori tinggi protein g. memberikan minuman air hangat

h. menganjurkan klien untuk banyak istirahat i. penempatan pasien di ruang khusus j. menyediakan tempat yang ada desinfektan untuk menampung sputum 9. Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul a. Tidak efektifnya kebersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan produksi sputum. b. Gangguan pertrukaran gas berhubungan dengan sekrer yang kental. c. Gangguan pemenuhan kebutuhan kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat. d. Kurang pengetahuan tentang penyakitnya berhubungan dengan kurang informasi.

B. ASUHAN KEPARAWATAN 1. Pengkajian Gejala : Kelelahan,nafas pendek,kesulitan tidur pada malam hari, demam pada malam hari,menggigil. Tanda : Takikardi, tachypnea, dysnea, ketika aktivitas kehilangan otot, nyeri dan sesak (Tahap lanjut). Integritas Ego Gejala : adanya faktor faktor yang menyebabkan stres, perasaan tidak berdaya atau tidak ada harapan. Tanda : Menyakal, anxietas, ketakutan, iritable. Makan \cairan Gejala : Kehilangan nafsu makan, tidak dapat mencerna, penurunaan berat badan. Tanda : Tugor kulit buruk, kering atau bersisik, kehilangan perkembangan otak, hilang lemak subkutan. Nyeri dan Rasa nyaman Gejala : Nyeri dad meningkat,karena batuk berulang. Tanda : berhati- hati pada area yang sakit,tehnik distraksi. Pernapasan Gejala : Batuk produktif atau tidak produktif, nafas pendek, riwayat tidak tuberkuiosis. Tanda : peningkatan frekuensi pernapasan (penyakit mekias) atau fibrosis perenkim paru dan pleura, pengembangan pernapasan tidak simetris,perkusi dan penurunan fremitus. Bunyi nafas menurun atau tak ada secara birateral atau unirateral. Keamanan Gejala : adanya kondisi penekanan imun. Tanda : Demam atau sakit panas akut. Interaksi sosial Gejala : Perasan isolasi atau penolakan karena penyakit menular. Penyuluhan Gejala : Riwayat keluarga TB status kesehatan buruk.

a. Aktivitas/istirahat

b.

c.

d. e.

f. g. h.

2. Dignosa Keperawatan a. Resiko tinggi infeksi (penyebaran \aktivitas ulang) berhubungan kerusakan jaringan.

b. Tidak efektifnya bersihan jalan nafas berhubungan dengan penumpukan sekret. c. Resiko tinggi kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan penurunan permukaan efektif paru. d. Gangguan pemenuhan kebutuhan kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat. e. Kurang pengetahuan tentang penyakitnya berhubungan dengan kurang informasi. Intervensi a. DX : Resiko tinggi infeksi (penyebaran/aktivitas ulang) berhubungan kerusakan jaringan. Intervensi 1) Kaji patologi penyakit dan potensial penyebaran infeksi melalui droplet udara selama batuk, bersin, meludah, bicara. 2) identifikasi orang lain yang beresiko. 3) Anjurkan pasen untuk menutup mulutnya ketika batuk \bersin. 4) kaji tindakan kontrol infeksi sementara,contoh: kolasi pernapasan 5) Awasi suhu sesuai indikasi. 6) Tekankan pentingnya tidak menghentikan terapi obat. b. DX : Tidak efektifnya bersihan jalan nafas berhubungan dengan penumpukan sekret. Intervensi : 1) Kaji bunyi nafas,kecepatan,irama dan kedalaman serta penggunan otototot bantu pernapasan. Kaji kemampuan pasen untuk mengeluarkan sputum. Kaji karakterisik sputum. Berikan pasen posisi semi power. Anjurkan pasen untuk bantuan dan latihan nafas dalam. c. DX :Resiko tinggi kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan penurunan permukaan efektif paru. Intervensi : 1) Kaji tingkat pernapasan pasen. 2) Kaji upaya perapasan pasen. 3) Evaluasi perubahan pada tingkat kesadaran. 4) Catat perubahan pada warna tingkat kesadaran. 5) Anjurkan pasen untuk tirah baring. 6) Batasi aktivitas dan bantuan aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan. d. DX :Gangguan pemenuhan kebutuhan kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat. Inetervensi : 1) Catat status nutrisi pasen. 2) Kaji tugor kulit,integritas mukosa oral. 3) Kaji kemampuan atau ketidak mampuan menelan. 4) Pastikan pola diet biasa pasen yang disukai. 5) Anjurkan pasien makan sedikit tapi sering. 6) Jelaskan arti pentingnya makanan dalam penyembuhan. e. Kurang pengetahuan tentang penyakitnya berhubungan dengan kurang informasi. Intervensi : 1) Kaji tingkat pengetahuan pasien. 2) Berikan penkes tentang proses penyakit, cara pencegahan, pengobatan dan juga perawatannya. 3) Beri kesempatan pada pasien untuk bertanya. 3.

2) 3) 4) 5)

4) Evaluasi penkes pada pasien untuk menjelaskannya kembali

ASMA BRONKIAL

A. KONSEP DASAR 1. Pengertian Penyakit asma bronkial adalah penyakit yang ditandai dengan adanya peningkatan respon trakea dan bronkus terhadap berbagai macam stimulus berupa sesak nafas yang disebabkan oleh penyempitan saluran nafas (Barbara c. long hal 508 ,th 1983 ). Penyakit asma bronkial adalah suatu gangguan jalan nafas pada bronkus yang menyebabkan spasme bronkus. Asma merupakan reaksi-reaksi hipersensitif yang disebabkan oleh biokimia, imonologi, infeksi, endokrin, dan faktor fsikologi (lukman and Sorensens, hal 1021, Th 1991) 2. Etiologi Sampai saat ini etiologinya terjadinya asma bronkial belum diketahui meskipun demikian yang jelas saluran pernapasan penderita asma bronkial memiliki sifat yang peka terhadap rangsangan, faktor keturunan dan faktor lingkungan mempunyai peranan dalam terjadinya asma bronkial hal ini dapat dibuktikan bahwa lebih kurang seperempat penderita asma bronkial, keluarga dekatnya juga menderita asma dan seperempatnya lagi mempunyai penyakit alergi. Adapun factor-faktor pencetus asa yang sering dijumpai antaralain allergen infiksi saluran nafas, tekanan jiwa, kegiatan jasmani, obat-obatan, polusi udara, lingkungan kerja dan factor lain. a. Faktor allergen Alergen merupakan factor pencetus asma yang sering dijumpai pada penderita Asma. Adapun jenis allergen itu diantaranya debu rumah, spora jamur, srapih kulit, bulu kucing, anjing dan sebagainya. Alergan-alergan tersebut biasanya berupa allergen hirupan dan kadang-kadang makanan dan minuman dapat menimbulkan serangan.reaksi allergen terjadi beberapa menit sampai 6-8jam, setelah kontak dengan allergen. Begitu juga lama serangan asma dapat berlangsung hanya 1/2jam, bahkan sampai berjam-jam, tetapi mungkin juga berhari-hari b