Tugas Laporan Kasus PHK

download Tugas Laporan Kasus PHK

of 49

  • date post

    17-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    1.691
  • download

    8

Embed Size (px)

Transcript of Tugas Laporan Kasus PHK

1. 15 Ribu Buruh Tangerang di PHK Jakarta - Sebanyak 84 kasus Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dilakukan puluhan industri terhadap 15.000 pekerja atau buruh di Kabupaten Tangerang, sejak Januari hingga Agustus 2010. Penyebab utama PHK dikarenakan tidak sehatnya manajemen perusahaan, keuangan yang pailit hingga terjadi bangkrut. Kepala Bidang Hubungan Industrial dan Kesejahteraan Pekerja Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Tangerang, Monang Panjaitan mengatakan, data yang diterima Disnakertrans bulan Januari hingga Agustus 2010, jumlah PHK terhadap ribuan pekerja cukup mengejutkan. "Sejak awal tahun sampai bulan lalu terdapat 84 kasus PHK," ungkap Monang kepada Jurnal Nasional, Rabu (15/9). Dia mengungkapkan, dari jumlah 84 kasus itu, terdapat 54 kasus kesepakatan bersama dan 27 kasus anjuran, sementara sisanya merupakan kasus usaha perorangan. Kasus kesepakatan bersama di mana Disnakertrans memfasilitasi antara pekerja dan perusahaan dengan memberikan hak dari kesepakatan bersama yang sebelumnya telah disepakati untuk membayarkan gaji pekerja bila perusahaan itu bangkrut. Adapun, untuk kasus anjuran yang terdapat perselisihan, Disnakertrans mengeluarkan surat anjuran agar pembayaran gaji pegawai oleh perusahaan diselesaikan di meja pengadilan bila tidak bisa diselesaikan dengan musyawarah. "Untuk kasus PHK perorangan diselesaikan secara kekeluargaan," kata dia. Monang menjelaskan, di Kabupaten Tangerang terdapat sebanyak 4.000 perusahaan yang bergerak dari berbagai bidang baik jasa maupun industri.Dari 4.000 perusahaan itu mempekerjakan 400.000 karyawan. Namun, memasuki sembilan bulan selama tahun 2010 terdapat sekitar 15.000 pekerja yang di PHK oleh perusahaan lantaran pailit atau manajemennya tidak sehat. Kasus terbaru di bulan Agustus di mana dua perusahaan di Kabupaten mengalami kebangkrutan karena tersandung persoalan tersebut.PT Gemilang Selaras mem-PHK sebanyak 924 karyawannya, begitupun dengan PT Tridinamika Makmur yang memberhentikan sekitar 233 pekerja. Kondisi itu akan diperparah dengan terancam di PHK-nya sebanyak 198 karyawan di PT Bintang Lima yang kondisi perusahaan itu sedang goyang. "Ini saja belum kita rekap semua.Karena hanya perusahaan besar dan kecil yang kita data, belum lagi usaha perorangan yang belum dilaporkan kepada Disnakertrans," kata Monang. (Jurnalnasional.com)

2. BEKASI SELATAN-Angka kasus pemutusan hubungan kerja (PHK) sepihak masih tinggi di Kota Bekasi. Dari persoalan sengketa antara tenaga pekerja dan perusahaan, PHK menempati peringkat paling atas, dengan 31 kasus.

PHK sepihak menduduki posisi pertama, yakni sebanyak 31 kasus.Sedangkan sisanya 8 kasus, yaitu terkait hak-hak pekerja, papar Kasi Perselisihan Hubungan Kerja Industri, Sudirman, kemarin.

Dari 39 kasus tersebut, lanjut Sudirman, 10 di antaranya berhasil diselesaikan.Sementara 21 kasus selesai di Pengadilan Perselisihan Industrial, dan sisanya diselesaikan secara bipartite antar keduabelah pihak.

Menurutnya, angka tersebut tergolong rendah dibanding dengan daerah lain seperti Kabupaten Bekasi, Karawang dan Purwakarta serta daerah industri lain di Jawa Barat. Apalagi dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Angka itu tergolong rendah bagi daerah industri, lebih rendah dibanding daerah lain di Jawa Barat. Tahun 2008 ke bawah, angka kasus di atas 100 per tahun, tambahnya.

Penurunan tersebut menurut Sudirman karena Disnaker yang senantiasa melakukan deteksi dini hingga akhirnya persoalan yang akan berakibat menuai konflik bisa terselesaikan.

Intinya dalam memecahkan segala sengketa, kami akan selalu berada dalam posisi penengah hingga akhirnya mendapatkan solusi winwin solusion baik itu bagi perusahaan maupun untuk pekerja,pungkasnya.

Terpisah, anggota komisi D DPRD Kota Bekasi, Arwis Sembiring mengatakan, sebagai salah satu pihak yang memiliki peranan dalam mengatasi persoalan tenaga kerja di Kota Bekasi, Depnaker masih perlu banyak evaluasi dalam memecahkan persoalan persengketaan antara pengusaha industri dengan para tenaga kerjanya. Dengan demikian lanjutnya, akhirnya tidak banyak persoalan perselisihan yang terkatungkatung hingga mengorbankan banyak tenaga kerja.

Masih banyak kami temukan pengaduan-pengaduan persoalan PHK yang ternyata hingga saat ini masih belum menemui jalan keluar.

Bahkan, lagi-lagi PHK ini akhirnya sangat merugikan tenaga kerja saja, karena persoalan hak yang tidak terpenuhi.Bukan itu saja, dalam persoalan perlindungan tenaga kerja ini, kami akan mengusulkan pengkajian payung hukum yang bisa

dikeluarkan oleh daerah,pungkas politisi Demokrat yang juga menjabat sebagai Ketua Badan Legislasi DPRD Kota Bekasi ini. (rif)

3. Gresik (ANTARA News) - Selama kurun waktu Januari 2008-Maret 2009, korban pemutusan hubungan kerja (PHK) di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, tercatat sebanyak 759 pekerja.

Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Gresik, Saputro ketika dikonfirmasi, Minggu, memperkirakan angka itu naik pada periode April-Mei 2009, menyusul adanya laporan 16 kasus PHK dari sejumlah perusahaan yang diterima Disnaker.

Ia menyebutkan, pada bulan Januari tercatat enam kasus, Februari 10 kasus dengan jumlah total 10 pekerja. "Enam pekerja lainnya telah diselesaikan oleh Disnaker," katanya.

Sementara itu, kasus PHK pada tahun lalu tercatat 205 kasus dengan 749 pekerja menjadi korban PHK.Puncaknya terjadi pada bulan September 21 kasus, Oktober 28 kasus, dan November 27 kasus.

Sebelumnya, lanjut dia, pada tahun 2007, PHK mencapai 153 kasus perselisihan hubungan industrial.

Kasus PHK oleh perusahaan di Gresik, kata Saputro, kebanyakan disebabkan permasalahan kerja antara pengusaha dengan buruh, baik perselisihan hak, perselisihan kepentingan, maupun kebijakan perusahaan yang mengurangi produksi akibat ketidakmampuan keuangan di tengah dampak krisis ekonomi.

Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Serikat Buruh Muslim Indonesia (Sarbumusi), Muhammad Agus mengatakan, sistem "outsourcing" (pengalihluaran atau melakukan kontrak dengan perusahaan lain) oleh perusahaan yang menyebabkan posisi pekerja rawan di-PHK.

"Buntunya komunikasi antarkedua belah pihak juga salah satu pemicu terjadinya konflik perselisihan hubungan industrial hingga tahun ini. Bahkan, hingga Maret 2009 sekitar 200-an pekerja di-PHK," katanya.

Ia lantas menyebutkan sejumlah perusahaan yang telah mem-PHK pekerjanya, antara lain PT Saint, PT Rimba Jaya, PT Sanko Remaja Indonesia, PT Komutex, PT Minded Prima, PT Hari Esok Cemerlang, dan PT Krene.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Gresik, Zumanto mengutarakan, pemicu permasalahan PHK di Gresik salah satunya akibat tidak puasnya pekerja terhadap kebijakan perusahaan.

Oleh karena itu, dia memandang perlu lebih meningkatkan komunikasi bipartit antara pekerja dan perusahaan.Sementara posisi anggota legislatif sebatas sebagai fasilitator.

"Kami tidak berwenang untuk mengintervensi, baik perusahaan maupun pekerja.Intinya, kalau komunikasi masih buntu bisa melibatkan Disnaker.Kalau masih buntu juga, ya, diselesaikan melalui pengadilan hubungan industrial," katanya.

Menanggapi meningkatnya kasus PHK, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kabupaten Gresik, Triyandi Suprihartono mengatakan, pihaknya telah mengambil tiga langkah untuk meminimalkan jumlah kasus PHK.

Tiga langkah yang dimaksudkan itu, antara lain memperkuat konsep kerja sama bipartit, membuka lapangan kerja baru untuk menyerap tenaga kerja, dan mencari tenaga kerja terselubung untuk mencocokan antara pekerja dengan keahliannya.

"Masalahnya, selama ini banyak pekerja yang tidak sesuai keahliannya.Misalnya, lulusan sarjana tehnik bekerja di luar bidangnya,"katanya.

Dengan beberapa konsep tersebut, Apindo optimistis bisa menyerap sedikitnya 25 persen jumlah pengangguran di Gresik. "Kami optimistis sebanyak 25 ribu dari 120 ribu pengangguran bisa dipekerjakan lagi," katanya.(*)

4. KASUS PHK DI PT UNITEX WEWENANG PEMKAB BEKASI Jakarta, 30/3/2010 (Kominfo-Newsroom) Penyelesaian kasus pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 24 karyawan PT Unitex Indo System, Bekasi, merupakan kewenangan Pemerintah Kabupaten Bekasi, sehingga Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi tidak bisa ikut campur terlalu jauh atau mengambil keputusan, karena sifatnya hanya koordinatif.

Penjelasan itu dikemukakan staf Direktorat Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial (PPHI) Kemenakertrans RI, Jafar Sodikin, ketika menerima perwakilan tiga pengurus Serikat Pekerja (SP) PT Unitex Indo System, PT Kereta Api Indonesia Divisi Jabodetabek dan pekerja Jakarta International Container Terminal (JICT) Tanjung Priok yang berunjukrasa di Kantor Kemenakertrans RI, Jakarta, Selasa (30/3).

Ratusan pekerja dari tiga serikat pekerja itu sejak Senin (29/3) berunjukrasa dan menginap di Kantor Kemnakertrans RI di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, setelah Kemnakertans tidak bisa memberikan keputusan.

Menurut Jaafar, Direktorat PPHI Ditjen PHI Jamsos Kemnakertrans RI pada intinya merespon dan mengambil sikap positif atas penyampaian aspirasi para pekerja, namun tetap ada prosedur dan mekanisme yang harus diperhatikan sesuai mekanisme dan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Saat memberikan penjelasan, Jaafar antara lain didampingi Kepala Pusat Humas Kemnakertrans RI Budi Hartawan, staf dari Ditjen Pembinaan dan Pengawasan Ketenagakerjaan Kemnakertrans, dan aparat kepolisian dari Polres Jakarta Selatan.

Penyelesaian kasus PHK karyawan Unitex sebenarnya sudah diproses dan sedang dalam penanganan Disnaker Pemkab Bekasi. Apabila salah satu pihak atau dua pihak tidak setuju, maka mekanismenya kemudian dapat menempuh langkah yang sesuai dengan UU No 2/2004, katanya.

Dikemukakan bahwa Kantor Kemnakertrans Ri dan Disnaker Kabupaten Bekasi bersama-sama me