Tentir Modul Respirasi Part I (Landscape)

download Tentir Modul Respirasi Part I (Landscape)

If you can't read please download the document

  • date post

    26-Sep-2015
  • Category

    Documents

  • view

    110
  • download

    57

Embed Size (px)

description

fkua

Transcript of Tentir Modul Respirasi Part I (Landscape)

  • TTENTIR MODUL RRESPIRASI 2011

    PART I

    T-01 Anatomi

    Kevin Schroder

    Hasna Afifah

    Rynaldo Partogi

    T-02 Histologi

    M. Reynalzi Yugo

    T-03 Fisiologi

    Evan Regar

    Adam Prabata

    T-04 Sesak Nafas

    Hasna Afifah

    T-07 Inflamasi dan Infeksi

    Arcci Pradessatama

    DAFTAR ISI

    T-01 Anatomi Sistem Respirasi . 1

    T-02 Histologi Sistem Respirasi .... 31

    T-03 Fisiologi Sistem Respirasi .. 38

    T-04 Sesak Nafas ... 70

    T-07 Tanda Inflamasi dan Infeksi ... 81

  • 1

    T-01 ANATOMI SALURAN PERNAFASAN ATAS Halo, teman-teman. Selamat datang di tentir anatomi sistem respirasi part I. nah, di dalam tentir ini akan dibahas anatomi saluran pernafasan atas. Sebenarnya, sumber utama merujuk pada buku buatan dr. Santoso G. Ga jauh2 beda sih, cuma dibuat lebih ringkas. Semoga bisa membantu yah. Oh ya, kalau kalian merasa tulisan ini kurang jelas atau kurang lengkap, silahkan buka buku dr. Santoso yaaa sangat lengkap di sana. Oke mulai!

    Gambar 1. Saluran napas atas1

    Sistem pernafasan sebagai salah satu sistem penting bagi tubuh tersusun atas beberapa organ, yaitu hidung, rongga hidung/ cavum nasal, faring, laring, trakea, bronkus dan percabangannya, serta paru-paru. Saluran nafas atas sendiri hanya mencakup daerah dari hidung hingga laring.1 A. HIDUNG DAN SINUS PARANASALIS

    Hidung luar Secara penampakan luar, bentuk hidung dibentuk oleh os nasal, prosesus frontalis maxillae, dan os frontalis pars nasal pada bagian dasar hidung. Bagian sisanya dibentuk oleh kartilago, yaitu kartilago septi nasi yang membentuk bagian anterior septum nasalis, kartilago nasi lateralis yang terletak inferior terhadap os nasalis, dan kartilago ala nasi mayor dan minor yang membentuk bagian cuping yang tersusun atas kartilago hialin.

    2

    Gambar 2. Susunan tulang hidung3

    Terdapat tiga fungsi utama yang diperankan oleh hidung, yaitu (1) menyaring, melembabkan, dan menghangatkan udara yang masuk, (2) sebagai organ pembau, dan (3) resonansi suara. Otot yang terdapat pada hidung adalah m. nasalis dan m. depressor septi nasi.3 Untuk perdarahannya, arteri yang memperdarahi hidung adalah a. facialis, a.ophtalmica, dan a. maxillaries interna. Untuk perdarahan baliknya, vena terpenting adalah v. facialis dan v. ophtalmica. Secara khusus, otot hidung dipersarafi oleh n.facialis, tetapi untuk kulit sisi medial hidung dipersarafi oleh N.ophtalmicus (N.V1) dan pada bagian lateral dipersarafi oleh N.maxillaris (N.V2).2

    Gambar 3. Persarafan hidung4

  • 3

    Rongga hidung

    Gambar 4. Rongga hidung5

    Rongga hidung memiliki dua lubang penting, yaitu lubang pada bagian anterior yang menghubungkan dengan dunia luar yang dinamakan sebagai nostril/ nares dan pada bagian posterior yang memisahkan dengan nasofaring, yaitu choana/ apertura nasi posterior. Rongga hidung sendiri terbagi atas tiga bagian, yaitu (1) vestibulum yang terbentuk atas pelebaran nostril dan berisi bulu hidung, (2) regio penghidu yang dimulai dari limen nasi atau tepi atas kartilago ala nasi mayor, dan (3) regio pernafasan yang dimulai dari chonca nasalis superior.

    Pada dinding lateral rongga hidung, terdapat tiga elevasi penting, yaitu chonca nasalis superior, medius, dan inferior. Inferior dari setiap chonca dapat ditemukan meatus yang sesuai dengan nama chonca-nya, yaitu meatus nasi superior, medius, dan inferior.2-5

    Meatus nasi superior merupakan muara dari sinus ethmoidalis posterior. Sedangkan meatus nasi medius pada bagian anterior berhubungan dengan fossa dangkap pada cranial vestibulum dan limen nasi yang dinamakan atrium meatus nasi medius yang pada bagian cranial ditemukan sebuah rigi bernama agger nasi.2

    4

    Gambar 5. Muara sinus ethmoidalis dan maksillaris2

    Pada bagian meatus nasi medius ini bula terdapat pembengkakan yang dinamakan sebagai bulla ethmoidalis akibat pembengkakan sinus ethmoidalis medius. Di bawah bulla ini, ditemukan cekungan yang meluas hingga bagian depan dan atas yang dinamakan hiatus semilunaris.2 Ke arah depan, hiatus akan menjadi infundibulum ethmoidalis yang merupakan muara dari sinus ethmoidalis anterior (sinus infundibular) dan bersambungan dengan duktus nasofrontalis. Sinus maksillaris yang berada di bawahnya bermuara pada titik terendah dari hiatus semilunaris.2

    Septum nasi tersusun atas kartilago septi nasi, os vomer, dan lamina perpendicularis os ethmoidalis. Bilamana terjadi penyatuan yang tidak sempurna dari ketiga tulang tersebut akan menyebabkan deviasi dari septum nasi.2 Sinus paranasalis

    Gambar 6. Potongan sagital sinus paranasalis2

  • 5

    Gambar 7. Potongan frontal sinus paranasalis2

    Sinus paranasalis tersusun atas empat sinus, yaitu sinus frontalis, ethmoidalis, sphenoidalis, dan maksillaris. Sinus ini tidak berkembang saat masih kanak-kanak, tetapi berkembang pesat ketika seorang anak mulai tumbuh gigi permanen dan menginjak pubertas. Sinus ini ternyata memiliki manfaat untuk meringankan tengkorak2,5 dan bersama dengan cavum nasalis menghangatkan dan melembabkan udara. Keempat sinus tersebut memiliki struktur yang mirip dengan mukosa hidung dan oleh karenanya menghasilkan mucus yang dialirkan ke cavum nasal.5 a) Sinus frontalis

    Sinus ini terletak pada posterior arcus supercilliaris antara tabula eksterna dan interna os frontal atau secara ringkas berada pada bagian dorsal alis mata. Muara dari sinus frontalis adalah meatus nasi medius dan persarafan utamanya adalah n.supraorbitalis.

    b) Sinus ethmoidalis Berbeda dengan sinus lain yang merupakan pasangan dari sebuah ruangan, sinus ethmoidalis tersusun atas rongga-rongga kecil yang kemudian dinamakan sebagai cellulae etmoidalis. Cellulae berada pada bagian superior cavum nasalis dan rongga orbita. Terdapat suatu sekat tipis yang memisahkan cellulae ethmoidalis dengan rongga orbita yaitu lamina papyracea.2

    Seperti yang sudah sedikit disinggung di atas, cellulae ini dapat terbagi atas tiga kelompok, yaitu anterior, medius, dan posterior. Kelompok anterior (sinus infundibular) bermuara ke infundibulum ethmoidalis yang meneruskan pada meatus nasi medius. Kelompok medius (sinus bullar) bermuara pada bulla ethmoidalis yang juga kemudian menuju meatus nasi medius. Kelompok posterior langsung bermuara pada meatus nasi

    6

    superior.2 Persarafan utama dari sinus ethmoidalis adalah N.ethmoidalis anterior dan posterior.2

    c) Sinus sphenoidalis Sinus ini berada di dalam os sphenoidalis yang terlihat pada gambar 4 berada pada bagian posterior dari chonca nasalis superior.5 Sinus ini bermuara ke recessus spheno-ethmoidalis. Sinus sphenoidalis, sedikit berbeda dengan dua sinus yang sudah disebutkan di atas, berkembang sesudah pubertas. Persarafan sinus ini adalah n.ethmoidalis posterior.

    d) Sinus maxillaris Sinus maksillaris seperti namanya berada di dalam os maxilla dan memiliki bentuk pyramid dengan puncaknya meluas ke processus zygomaticus os maxillae. Pada lantai sinus ini, ditemukan tonjolan berbentuk kerucut akibat adanya gigi molar satu dan dua. Sinus ini memiliki muara pada hiatus semilunaris. Persarafan utama pada sinus maxillaris adalah n.infraorbitalis dan n.alveolaris superior anterior-medius, dan posterior. Persarafan ini juga sama untuk sensorik gigi rahang atas yang berdampak radang pada sinus dapat dirasakan seolah-olah sebagai nyeri gigi rahang atas.

    B. FARING Faring memiliki panjang sekitar 12-14 cm2 atau setinggi basis crania hingga os.cervical 6 atau tepi bawah kartilago cricoidea.2,5 Nantinya, faring ini akan diteruskan sebagai esophagus. Pada bagian cranial, faring dibatasi oleh posterior os sphenoidalis dan pars basilaris os.occipitalis. Sedangkan pada bagian dorsal dan lateral, faring dikelilingi oleh spatium perifaringeale yang membatasinya dengan fascia alaris. Sisi lateral, faring berhubungan dengan cavum timpani oleh tuba faringotimpanica (tuba auditiva Eustachii).2,5

    Spatium perifaringeale

    Gambar 8. Spatium perifaringeale2

  • 7

    Spatium perifaringeale terbagi atas dua, yaitu spatium parafaringeale dan spatium retrofaringeale. Spatium parafaringeale memiliki beberapa batas, antara lain:

    - Ventrolateral: ramus mandibula dan m.pterygoideus medialis - Posterolateral: glandula parotis - Medial: dinding lateral faring - Kaudal: os. Hyoid yang dibatasi glandula submandibularis dan m.stylohyoid - Dorsal: bersama dengan a.carotis interna, v.jugularis interna, dan

    n.vagus membentuk sarung pembungkus buluh dan saraf (carotid sheath)2

    Pada bagian dorsal, spatium parafaringeale akan berhubungan dengan spatium retrofaringeale yang diteruskan sebagai spatium retroviscerale hingga T4. Lapisan faring (1) Tunika adventitia faring

    Faring dilapisi oleh sebuah otot lingkar faring bernama m.constrictores faringis. Tunika adventitia melapisi otot ini dan dinamakan sebagai fascia visceralis. Namun, pada orofaring, tunika adventitia yang melapisinya bernama fascia buccofaringea.

    (2) Tunika muskularis Di sekitar faring, terdapat tiga otot lingkar2, yaitu: a) M. constrictores pharingis inferior (m. CPI). Otot ini merupakan otot tertebal

    dibandingkan dua otot lainnya. Serabut inferior berikatan dengan serabut lingkar esophagus, titik tersempit faring. Otot ini sebenarnya tersusun atas dua otot, yaitu (1) m.cricopharyngeus yang berfungsi sebagai sfingter dan (2) m.thyreopharyngeus sebagai pendorong. Jika terjadi kelainan saat relaksasi m.cricopharyngeus, dinding posterior akan mengalami herniasi.

    b) M. constrictores pharingis medius (m. CPM). Otot ini tersusun atas dua otot yang lebih kecil, yaitu m.chondropharyngeus dan m.ceratopharyngeus.

    c) M. constrictores pharingis superior (m. CPS). Otot ini tersusun atas empat otot, yaitu m.pterygopharyngeus, m.buccopharyngeus, m.mylopharyng