TEMPO PeristiwaMadiun

download TEMPO PeristiwaMadiun

of 38

  • date post

    04-Jun-2018
  • Category

    Documents

  • view

    219
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of TEMPO PeristiwaMadiun

  • 8/13/2019 TEMPO PeristiwaMadiun

    1/38

    TEMPO: Peristiwa Madiun 1948

    Misteri Surat untuk Sukarno-Hattahttp://tempointeraktif.com/khusus/selusur/musso/page16.php

    "SAYA, sebagai perwira muda, saat itu sadar tidak akan melibatkan diri ke dalam

    politik," kata Soeharto dalam otobiografinya, Soeharto: Pikiran, Ucapan dan TindakanSaya. Ketika itu, perseteruan antara Perdana Menteri Mohammad Hatta dan kubu Front

    Demokrasi Rakyat, koalisi kekuatan "sayap kiri" di Indonesia, semakin runcing sejak

    Agustus 1948. Sedangkan Letnan Kolonel Soeharto-menurut buku tersebut-membaca

    situasi, mengamati setiap kubu, dan menganalisisnya dengan cermat.

    Aroma perang saudara sudah begitu pekat di udara setelah pasukan Brigade 29 yang pro

    dengan tulang punggung Partai Komunis Indonesia, melucuti senjata pasukan Siliwangi di

    Madiun, Jawa Timur, pada 19 September 1948. Presiden Sukarno dan Musso, PemimpinPartai Komunis Indonesia saling menyerang melalui pidato maupun tulisan mereka.

    "Bagimu adalah pilihan antara dua: ikut Muso dengan P.K.I.-nja jang akan membawa

    bangkrutnja tjita-tjita Indonesia Merdeka-atau ikut Sukarno-Hatta," kata Sukarno

    dalam pidatonya hanya beberapa jam setelah pelucutan senjata.

    Panglima Jenderal Sudirman tidak menginginkan anggota pasukan di Jawa Timur

    terseret konflik politik ini. Soeharto, yang dianggap netral, diutus membujuk Letnan

    Kolonel Soeadi, Komandan Pasukan Panembahan Senopati, supaya tidak bergabung

    dengan PKI. Soeharto dan Soeadi bertemu di Wonogiri, Jawa Tengah. Soeadi, yang

    http://tempointeraktif.com/khusus/selusur/musso/page16.phphttp://tempointeraktif.com/khusus/selusur/musso/page16.phphttp://tempointeraktif.com/khusus/selusur/musso/page16.php
  • 8/13/2019 TEMPO PeristiwaMadiun

    2/38

    memang condong ke PKI, malah mengajak Soeharto berkeliling meninjau kondisi Kota

    Madiun.

    "Saya ditelepon Soeharto dari Mantingan (kecamatan di perbatasan Jawa Tengah

    dengan Jawa Timur)," ujar Soemarsono, Gubernur Militer Madiun ketika itu. Setelahtiba di Madiun, Soemarsono mengajak Soeharto berkeliling kota untuk menunjukkan

    tidak ada pemberontakan di kota itu. "Menurut pidato Sukarno, bendera Merah Putih di

    Madiun sudah diganti bendera palu arit. Saya minta Soeharto melihat mana ada bendera

    merah, semuanya bendera merah putih."

    Di rumah Residen Madiun yang ditinggali Soemarsono, Soeharto berjumpa dengan

    Musso yang sudah satu setengah bulan tiba di Indonesia. Selama berpuluh tahun,

    setelah pemberontakan PKI pada 1926 gagal, Musso tinggal di luar negeri. Baru kaliitulah Soeharto bertemu Musso. Tokoh komunis itu mengenakan kemeja putih, celana

    panjang hitam, dan kopiah. Mereka kemudian berbincang-bincang. Soeharto menanyakan

    kepada Musso kenapa pemerintah dan Front Demokrasi royal malah ikut berseteru.

    + Apakah tidak sebaiknya kita tinggalkan permusuhan dan bersatu melawan Belanda?

    - Bagi saya pun demikian, Bung Harto. Saya juga datang, kembali ke Indonesia, untuk

    mempertahankan kemerdekaan. Tapi rupanya Sukarno dan Hatta tidak senang kepada

    saya, mencurigai saya.

    + Kenapa tidak diadakan pembicaraan?

    - Baru saja bertemu, tapi tidak ada kesepakatan.

    + Apakah boleh saya sampaikan kepada Bung Karno dan Bung Hatta bahwa sebenarnya

    Pak Musso masih menginginkan persatuan?

    - Ya, tolong sampaikan. Tapi terus terang, Bung Harto, kalau saya akan dihancurkan,saya akan melawan.

    Menurut penuturan Soemarsono, yang kini tinggal di Sydney, Australia, seusai

    pertemuan tersebut, dia meminta Soeharto membuat surat pernyataan bahwa situasi

    Madiun aman dan tak ada sinyal-sinyal pemberontakan. "Mas saja yang buat, saya tidak

    terbiasa," kata Soemarsono mengutip jawaban Soeharto saat itu. Soemarsono meminta

    Soeharto menyampaikan surat itu ke Presiden Sukarno dan perdana menteri Hatta.

    Mantan Perdana Menteri Amir Sjarifoeddin yang sudah bergabung dengan Partai

  • 8/13/2019 TEMPO PeristiwaMadiun

    3/38

    Komunis Indonesia juga menitipkan sepucuk surat untuk Presiden Sukarno. Amir, kata

    Soemarsono, mengirim surat pribadi yang berisi permintaan agar Bung Karno turun

    tangan mendamaikan kedua belah pihak.

    Dalam otobiografinya, Soeharto mengatakan menyampaikan semua pernyataan Mussokepada Panglima Sudirman yang ketika itu sudah sakit keras. "Pak Dirman yang

    menyampaikan hasil pertemuan dengan Musso ke Bung Karno dan Bung Hatta," kata

    Soeharto. Memang tak ada data sejarah menyatakan apakah pesan Musso itu sampai ke

    Sukarno dan Hatta. Yang pasti, perang saudara itu tak tercegah lagi. Dan Musso tewas

    di ujung senapan.

    Kembalinya Sang Komunis Tuahttp://tempointeraktif.com/khusus/selusur/musso/index.php

    PESAWAT amfibi Catalina itu mendarat di rawa-rawa Kecamatan Campurdarat,

    Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, pada 10 Agustus 1948. Pada masa itu, rawa-rawa

    luas di dekat bendungan Niyama itu memang sering menjadi titik pendaratan pesawat

    yang membawa tamu-tamu rahasia untuk Republik.

    http://tempointeraktif.com/khusus/selusur/musso/index.phphttp://tempointeraktif.com/khusus/selusur/musso/index.phphttp://tempointeraktif.com/khusus/selusur/musso/index.php
  • 8/13/2019 TEMPO PeristiwaMadiun

    4/38

    Dua pria beriringan keluar dari pesawat. Seorang pria belia berperawakan tinggi

    ramping ditemani seorang pria setengah baya bertubuh gempal dengan wajah keras.

    Yang lebih muda bernama Soeripno, Kepala Perwakilan Republik Indonesia di Praha,

    Cekoslovakia. Adapun pria di belakangnya mengaku bernama Soeparto, sekretaris

    pribadi Soeripno.

    Di tepi rawa-rawa, sebuah mobil menanti. Menurut sejarawan Belanda, Harry Poeze,

    mobil penjemput hari itu adalah milik pentolan Pemuda Sosialis Indonesia, Soemadi

    Partoredjo. Seperti dikutip dari buku Poeze, Verguisd en Vergeten, Tan Malaka, de

    linkse beweging en de Indonesische Revolutie, 1945-1949, mobil itu dipilih karena

    kondisi keempat bannya yang masih baik.

    Tak lama berbasa-basi, rombongan segera melaju pergi. Mereka mengarah ke Solo,Jawa Tengah. Di sana, Gubernur Militer Wikana-seorang tokoh Partai Komunis

    Indonesia terpandang-sudah bersiap menyambut dua tamu dari jauh itu.

    Tak banyak yang sadar bahwa kedatangan dua orang dari Praha ini akan membawa

    konsekuensi politik yang amat besar untuk perjalanan sejarah Republik Indonesia

    muda, beberapa pekan berikutnya.

    Pria setengah baya yang mengaku sebagai "sekretaris" itu sebenarnya adalah Musso,

    50 tahun, tokoh legendaris PKI yang ikut mencetuskan pemberontakan para buruh pada1926. Setelah lebih dari 20 tahun bermukim di Moskow, Rusia, pada medio 1948 itu dia

    memutuskan sudah saatnya kembali ke Indonesia.

    MOSKOW, Januari 1948, delapan bulan sebelum kepulangan Musso. Perjanjian Renville

    baru saja ditandatangani di Indonesia. Pemimpin Partai Komunis Uni Soviet bergegas

    meminta sebuah laporan dibuat mengenai kondisi terakhir gerakan komunis di

    Nusantara.

    Analisis itu dinilai penting karena, setahun sebelumnya, Moskow baru merilis garis

    perjuangan baru yang lazim dikenal sebagai doktrin Andrei Zhdanov. Berdasarkan teori

    ini, kaum komunis dianjurkan "mulai mengambil jarak dari kubu imperialis yang dimotori

    Amerika Serikat". Tindakan Perdana Menteri Amir Sjarifoeddin-pemimpin koalisi

    sayap kiri di kabinet Indonesia, yang menandatangani pakta Renville di atas kapal

    Amerika yang berlabuh di Tanjung Priok-menimbulkan tanda tanya di Moskow.

    Musso segera menyusun laporan. Namun minimnya informasi tangan pertama membuat

    analisisnya tidak akurat. Kepada pemimpin Partai Komunis Uni Soviet, Musso membela

  • 8/13/2019 TEMPO PeristiwaMadiun

    5/38

    tindakan Amir dan kameradnya di Indonesia. Dia menyebutnya sebagai "taktik saja,

    untuk tidak menarik perhatian kaum antikomunis". Musso bahkan menjamin posisi

    kelompok kiri dalam militer Indonesia masih cukup kuat.

    Dalam hitungan hari, analisis Musso terbantah habis. Pada 23 Januari 1948, sepekan

    setelah Renville ditandatangani, Amir Sjarifoeddin dipaksa mundur dari kursi perdana

    menteri. Posisi politik dua rival blok kiri, Masyumi dan Partai Nasional Indonesia, juga

    menguat.

    Kesalahan laporan Musso segera dikritik hebat. Sejarawan Rusia, Larissa Efimova,

    mengutip laporan dua analis Rusia, Kogan dan Luhlov, menuding Musso "berkhayal" dan

    "membenarkan sebuah strategi yang membawa malapetaka".

    Kembalinya Sang Komunis Tua (2)http://tempointeraktif.com/khusus/selusur/musso/page02.php

    Kepala Divisi Asia Tenggara di Departemen Kebijakan Luar Negeri Komisi Sentral

    Partai Komunis di Uni Soviet, Plishevsky, mengirim surat ke Politbiro dan menegaskan

    bahwa "taktik keliru PKI telah menyebabkan berpindahnya kekuasaan di Indonesia

    kepada partai-partai kanan".

    Meski tak pernah ada dokumen yang menegaskan adanya tugas resmi dari Moskow

    kepada Musso, dalam bukunya, Dari Moskow ke Madiun?, Larissa menyebut Musso

    "merenungkan cukup lama kritik Partai Komunis Uni Soviet atas taktik lama PKI"

    sebelum akhirnya menetapkan diri untuk mengambil peran sentral meluruskan garis

    perjuangan partainya.

    Pada April 1948, Musso meninggalkan Moskow, menuju Praha, Cekoslovakia. Di sana, dia

    mengaku bernama Musin Makar Ivanovich, dan menyamar menjadi sekretaris pribadi

    Soeripno, pejabat Indonesia setingkat duta besar yang ditempatkan Menteri Luar

    http://tempointeraktif.com/khusus/selusur/musso/page02.phphttp://tempointeraktif.com/khusus/selusur/musso/page02.phphttp://tempointeraktif.com/khusus/selusur/musso/page02.php
  • 8/13/2019 TEMPO PeristiwaMadiun