Referat SPP

download Referat SPP

of 21

  • date post

    10-Mar-2016
  • Category

    Documents

  • view

    11
  • download

    0

Embed Size (px)

description

spp

Transcript of Referat SPP

1

BAB IPENDAHULUANSecara umum sebagian besar wanita mengalami gangguan emosional setelah melahirkan. Bentuk gangguan postpartum yang umum adalah depresi dan psikosis. Gangguan emosional selama periode postpartum merupakan salah satu gangguan yang paling sering terjadi pada wanita baik primipara maupun multipara. (1)Sebagian perempuan menganggap bahwa masamasa setelah melahirkan adalah masa-masa sulit yang akan menyebabkan mereka mengalami tekanan secara emosional. Kelahiran seorang bayi dapat menimbulkan stress berat pada sang ibu. Ia bertanggung jawab atas perawatan bayi yang tak berdaya itu, ia harus pula memberikan perhatian terhadap suami atau pasangannya, malam hari sering terganggu, ia merasa tidak mampu atau tidak yakin akan kemampuannya menjadi seorang ibu. Gangguan-gangguan psikologis yang muncul tersebut akan mengurangi kebahagiaan yang dirasakan, dan sedikit banyak mempengaruhi hubungan anak dan ibu dikemudian hari. Hal ini bisa muncul dalam durasi yang sangat singkat atau berupa serangan yang sangat berat selama berbulanbulan atau bertahun-tahun lamanya.(1)Ada 3 tipe gangguan jiwa pascapersalinan, diantaranya adalah postpartum blues, postpartum depression dan postpartum psikosis. (1,3,4,5) Postpartum blues atau sering disebut juga sebagai maternity blues yaitu kesedihan pasca persalinan yang bersifat sementara. Postpartum depression yaitu depresi pasca persalinan yang berlangsung saat masa nifas, dimana para wanita yang mengalami hal ini kadang tidak menyadari bahwa yang sedang dialaminya merupakan penyakit. Postpartum psikosis, dalam kondisi seperti ini terjadi tekanan jiwa yang sangat berat karena bisa menetap sampai setahun dan bisa juga selalu kambuh gangguan kejiwaannya setiap pasca melahirkan.(1,2,3)

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

I. EPIDEMIOLOGISecara epidemiologi, depresi postpartum dapat terjadi pada semua golongan umur persalinan dan di berbagai daerah di dunia, maupun di Indonesia. Berdasarkan laporan WHO (1999) diperkirakan wanita melahirkan yang mengalami depresi postpartum ringan berkisar 10 per 1000 kelahiran hidup dan depresi postpartum sedang atau berat berkisar 30 sampai 200 per 1000 kelahiran hidup. Beberapa penelitian juga mengemukakan bahwa depresi postpartum bervariasi disetiap daerah penelitian. Hasil penelitian OHara dan Swain (1996) menemukan kejadian depresi postpartum di Belanda sekitar 2%-10%, di AmerikaSerikat 8%-26%, di Kanada 50%-70%. (5) Hasil penelitian lain yang dilakukan Wratsangka (1996) di RSUP. Hasan Sadikin Bandung mencatat wanita yang mengalami depresi dan psikosis postpartum pada wanita primipara sekitar 50-80%. Dan yang mengalami depresi dan psikosis pada multipara sekitar 33%. Hasil penelitian yang dilakukan Alfiben (2000) di Rs.Cipto Mangunkusumo tidak berbeda jauh dengan yang dilakukan oleh Wratsangka, 70% wanita primipara mengalami depresi dan psikosis postpartum dan 30 % pada wanita multipara.(5)II. DEFINISIDEPRESIDepresi adalah merupakan salah satu bentuk gangguan jiwa yang dilatarbelakangi oleh berbagai permasalahan kehidupan yang dihadapi oleh setiap individu. Gangguan yang paling sering terjadi adalah depresi postpartum.(5)Menurut Hawan (2001), depresi adalah gangguan perasaan (mood) yang ditandai dengan kemurungan , kesedihan yang mendalam dan berkelanjutan sehingga hilang gairah hidup, apatis, pesimisme, kemudian dapat diikuti gangguan perilaku.(6)Menurut Chaplain (2005), depresi adalah gangguan kemurungan, kesedihan, patah semangat yang ditandai dengan perasaan gelisah, menurunnya kegiatan, pesimisme menghadapi masa yang akan datang.(3,5)Beberapa faktor penyebab depresi adalah sebagai berikut : 1. Kehilangan orang yang dicintai misalnya karena kematian.2. Peristiwa traumatik.3. Penyakit fisik yang kronis.4. Adanya penyakit mental.5. Seseorang yang mempunyai orang tua atau saudara kandung akan mengalami peningkatan resiko depresi 8-18%.(5,6)Menurut Muslim (2000) gejala-gejala yang dapat terlihat dari seorang yang mengalami depresi adalah sebagai berikut : a). Konsentrasi dan perhatian yang kurang.b). Harga diri dan kepercayaan diri yang kurang. c). Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna.d). Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis. e) Nafsu makan yang berkurang.(5)Depresi menurut Caplain (2005) dapat diklasifikasikan sebagai berikut :1. Depresi ringan.Minimal harus ada dua dari tiga gejala utama depresi, ditambah sekurang-kurangnya dua gejala sampingan (yang tidak boleh ada gejala berat diantaranya) lamanya seluruh episode berlangsung sekurang-kurangnya sekitar dua minggu, hanya sedikit kesulitan dalam pekerjaan dan kegiatan sosial yang bisa dilakukannya.2. Depresi sedang.Minimal harus ada dua dari tiga gejala utama, ditambah sekurang-kurangnya empat dari gejala lainnya, seluruh episode berlangsung minimal dua minggu, menghadapi kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan dan urusan rumah tangga, tanpa gejala somatik, atau dengan gejala somatik.3. Depresi berat tanpa gangguan psikotik.Semua gejala utama harus ada, ditambah minimal empat dari gejala lainnya, dan beberapa diantaranya harus berintensitas berat, sangat tidak mungkin pasien untuk meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan, atau urusan rumah tangga kecuali pada taraf yang sangat terbatas.4. Depresi berat dengan gangguan psikotik.Memenuhi seluruh kriteria depresi berat tanpa gejala psikotik, disertai waham, halusinasi atau stupor depresi.(3,5)

DEPRESI POSTPARTUMDepresi postpartum pertama kali ditemukan oleh Pitt pada tahun 1988. Pitt Regina dkk (2001), depresi postpartum adalah depresi pasca persalinan yang mulai terjadi pada hari ketiga setelah melahirkan dan berlangsung sampai berminggu-minggu atau bulan yang dikategorikan sebagai sindrom gangguan mental ringan dengan menunjukkan kelelahan, perasaan sedih, mudah marah, gangguan tidur, gangguan nafsu makan, dan kehilangan libido (kehilangan selera untuk berhubungan dengan suami). Masih menurut Pitt Regina dkk (2001), tingkat keparahan depresi postpartum bervariasi. Keadaan ekstrem yang paling ringan yaitu saat ibu mengalami kesedihan sementara yang berlangsung sangat cepat pada masa awal postpartum, ini disebut dengan baby blues atau maternity blues. Gangguan postpartum yang paling berat disebut psikosis postpartum atau melankolia. Diantara 2 keadaan ekstrem tersebut terdapat keadaan yang relatif mempunyai tingkat keparahan sedang yang disebut neurosa depresi atau depresi postpartum.(1,5)Menurut Duffet-Smith (1995), depresi postpartum bisa berkaitan dengan terjadinya akumulasi stres. Ada stres yang tidak dapat dihindari, seperti operasi. Depresi adalah pengalaman yang negatif ketika semua persoalan tampak tidak terpecahkan. Persoalan juga tidak akan terpecahkan dengan berpikir lebih positif, tetapi sikap itu akan membuat depresi lebih dapat dikendalikan. Masih menurut Duffet-Smith, faktor kunci dalam depresi pasca persalinan adalah kecapaian yang menjadi kelelahan total. Kepercayaan diri ibu dapat luntur jika ibu merasa tidak mampu menanganinya dan menjadi frustasi karena kelemahan fisiknya.(1,5)Inwood (Regina dkk, 2001) menghubungkan fenomena depresi postpartum dengan gangguan perasaan mayor seperti kesedihan, perasaan tidak mampu, kelelahan, insomnia dan anhedonia. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Sloane dan Bennedict (1997), depresi postpartum merupakan tekanan jiwa sesudah melahirkan, mungkin seorang ibu baru akan merasa benar benar tidak berdaya dan merasa serba kurang mampu, tertindih oleh beban tanggung jawab terhadap bayi dan keluarganya, tidak bisa melakukan apapun untuk menghilangkan perasaan itu.(5)Wilkinson, (1995) Depresi postpartum dapat berlangsung sampai 3 bulan atau lebih dan berkembang menjadi depresi lain yang lebih berat atau lebih ringan. Gejalanya sama saja tetapi disamping itu ibu mungkin terlalu memikirkan kesehatan bayinya dan kemampuannya sebagai seorang ibu.(5)Monks dkk (1988), menyatakan bahwa depresi postpartum merupakan problem psikis sesudah melahirkan seperti labilitas afek, kecemasan dan depresi pada ibu yang dapat berlangsung berbulan-bulan. Sloane dan Bennedict (1997) menyatakan bahwa depresi postpartum biasanya terjadi pada 4 hari pertama masa setelah melahirkan dan berlangsung terus 1 2 minggu.(5)LewellynJones (1994), menyatakan bahwa wanita yang didiagnosa secara klinis pada masa postpartum mengalami depresi dalam 3 bulan pertama setelah melahirkan. Wanita yang menderita depresi postpartum adalah mereka yang secara sosial dan emosional merasa terasingkan atau mudah tegang dalam setiap kejadian hidupnya.(1,5)Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa depresi postpartum adalah gangguan emosional pasca persalinan yang bervariasi, terjadi pada 10 hari pertama masa setelah melahirkan dan berlangsung terus menerus sampai 6 bulan bahkan sampai satu tahun.(5)

POST PARTUM BLUE SYNDROMESekitar 70 hingga 80 persen mengalami depresi sementara setelah melahirkan, biasanya tiga hari post partum dan menghilang beberapa hari. Sindrom blues bersifat sementara dengan gejala mood yang labil, gampang menangis, fikiran negative dan sering pada ibu-ibu yang melahirkan anak pertama. Aktifitas sering kelihatan normal dan perawatan bayi dapat dilihat. Penanganan pada pasien ini sering adalah bersifat konservatif dengan dukungan social. (2,3)

PSIKOSIS POSTPARTUMPsikosis postpartum ialah suatu sindrom yang ditandai oleh depresi berat dan waham. Umumnya terjadi pada minggu pertama dalam 6 minggu setelah melahirkan. Perempuan yang menderita bipolar disorder atau masalah psikotik lainnya yang disebut Skizoafektif disorder mempunyai resiko yang lebih tinggi untuk terkena postpartum psikosis. Gejalanya antara lain mengalami delusi, halusinasi, gangguan saat tidur dan obsesi mengenai bayinya. Penderita dapat terkena perubahan mood secara drastis, dari depresi ke gusaran dan berganti menjadi euforia dalam waktu yang singkat.(2)III. PENYEBAB BLUE SYNDROME, DEPRESI dan PSIKOSIS POST PARTUMPenyebab depresi postpartum hampir sama penyebabnya dengan psikosis postpartum. Pitt (Regina dkk, 2001), mengemukakan empat faktor penyebeb depresi dan psikosis postpartum sebagai berikut :(1,4,5,6)a. Faktor konstitusional. Gangguan postpartum berkaitan dengan status paritas adalah riwayat obstetri pasien yang meliputi riwayat hamil sampai bersalin serta apakah ada komplikasi dari kehamilan dan persalinan sebelumnya dan terjadi lebih banyak pada wanita primipara. Wanita primipara lebih umum menderita blues karena setelah melahirkan wanita primipara berada dalam proses adaptasi, kalau dulu hanya memikirkan diri sendiri begitu bayi lahir jika ibu tidak paham perannya ia akan menjadi bingung sementara bayinya harus tetap dirawat.(1,4,5,6) b. Faktor fisik. Perubahan fisik setelah proses kelahiran dan memuncaknya gangguan mental selama 2 minggu pertama menunjukkan bahwa faktor fisik dihubungkan dengan kelahiran pertama merupakan faktor penting. Perubahan hormon secara drastis setelah melahirkan dan periode laten selama dua hari diantara kelahiran dan munculnya gejala. Perubahan ini sangat berpengaruh pada keseimbangan. Kadang progesteron naik dan estrogen yang menurun secara cepat setelah melahirkan merupakan faktor penyebab yang sudah pasti.(1,4,5,6) c. Faktor psikologis. Peralihan yang cepat dari keadaan dua dalam satu pada akhir kehamilan menjadi dua individu yaitu ibu dan anak bergantung pada penyesuaian psikologis individu. Klaus dan Kennel (Regina dkk, 2001), mengindikasikan pentingnya cinta dalam menanggulangi masa peralihan ini untuk memulai hubungan baik antara ibu dan anak.(1,4,5,6)d. Faktor sosial. Paykel dan Regina dkk (2001), mengemukakan bahwa pemukiman yang tidak memadai lebih sering menimbulkan depresi pada ibu-ibu, selain kurangnya dukungan dalam perkawinan. (1,4,5,6)

Menurut Kruckman (Yanita dan zamralita 2001), menyatakan terjadinya depresi pascapersalinan dipengaruhi oleh faktor :a. Biologis. Faktor biologis dijelaskan bahwa depresi postpartum sebagai akibat kadar hormon seperti estrogen, progesteron dan prolaktin yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dalam masa nifas atau mungkin perubahan hormon tersebut terlalu cepat atau terlalu lambat.(1,4,5,6)b. Karakteristik ibu, yang meliputi :1.) Faktor umur. Sebagian besar masyarakat percaya bahwa saat yang tepat bagi seseorang perempuan untuk melahirkan pada usia antara 2030 tahun, dan hal ini mendukung masalah periode yang optimal bagi perawatan bayi oleh seorang ibu. Faktor usia perempuan yang bersangkutan saat kehamilan dan persalinan seringkali dikaitkan dengan kesiapan mental perempuan tersebut untuk menjadi seorang ibu.(1,4,5,6)2.) Faktor pengalaman. Beberapa penelitian diantaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh Paykel dan Inwood (Regina dkk 2001), mengatakan bahwa depresi pascapersalinan ini lebih banyak ditemukan pada perempuan primipara, mengingat bahwa peran seorang ibu dan segala yang berkaitan dengan bayinya merupakan situasi yang sama sekali baru bagi dirinya dan dapat menimbulkan stres. Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Le Masters yang melibatkan suami istri muda dari kelas sosial menengah mengajukan hipotesis bahwa 83% dari mereka mengalami krisis setelah kelahiran bayi pertama.(1,4,5,6)3.) Faktor pendidikan. Perempuan yang berpendidikan tinggi menghadapi tekanan sosial dan konflik peran, antara tuntutan sebagai perempuan yang memiliki dorongan untuk bekerja atau melakukan aktivitasnya diluar rumah, dengan peran mereka sebagai ibu rumah tangga dan orang tua dari anakanak mereka (Kartono, 1992).(1,4,5,6)4.) Faktor selama proses persalinan. Hal ini mencakup lamanya persalinan, serta intervensi medis yang digunakan selama proses persalinan. Diduga semakin besar trauma fisik yang ditimbulkan pada saat persalinan, maka akan semakin besar pula trauma psikis yang muncul dan kemungkinan perempuan yang bersangkutan akan menghadapi depresi pascapersalinan.(1,4,5,6)5.) Faktor dukungan sosial. Banyaknya kerabat yang membantu pada saat kehamilan, persalinan dan pascasalin, beban seorang ibu karena kehamilannya sedikit banyak berkurang.(1,4,5,6)

IV. PATOGENESIS 1) Faktor Hormon Kadar hormon estrogen dan progesteron menurun drastis saat persalinan. Perubahan kadar hormon estrogen dan progesteron pada saat kehamilan memicu peningkatan ikatan pada reseptor dopamin dan penurunan kadar hormon saat persalinan menyebabkan terjadinya suatu supersensitivitas reseptor dopamin yang mencetuskan terjadinya psikotik postpartum. (1,4,5,6)Tidak ada hubungan yang konsisten, kadar estrogen dan perubahan pada estrogen dengan depresi post partum yang benar-benar terbukti. OHara dkk menemukan hubungan kadar estradiol pada usia kehamilan 36 minggu dan depresi postpartum pada penelitian terhadap 182 perempuan. Penelitian lain terhadap blue syndrome dan depresi postpartum menemukan kadar estrogen yang sama pada ibu-ibu yang mengalami gangguan mood dan yang tidak mengalami gangguan mood. Ada bukti menunjukkan interaksi estrogen dengan neurotransmitter (Joffe & Cohen 1988). Sebagian data mendapatkan estradiol mungkin memberi efek pada system transmitter dan menganggu fungsi kognitif dan proses emosional. Reseptor estrogen menyebar luas dalam otak pada manusia (Osterlund et al. 2000a, 2000b). Efek estrogen yang paling di akui adalah interaksinya dengan reseptor dopamine terutama efek menghambat. Estrogen juga memberi efek terhadap reseptor norepinephrine, adrenalin dan serotonin. (11)Penelitian sebelumnya menyatakan aktifitas dopamine mungkin berkurang pada pasien depresi. (10) Hormon ovarium ditemukan memberi perubahan pada aktifitas dopamine, primernya pada nigrostriatal dan jalur mesolimbik. Thompson dkk telah melakukkan penelitian yang serial menyatakan estrogen menghambat uptake dopamine pada area ini, sehingga mekanisma pasti masih ditelusuri. Ada bukti menyatakan perubahan aktifitas dopamine oleh estrogen akibat berubahnya protein G pada reseptor D2 dopamin.(9)Norepinefrin juga dipercaya berperanan sebagai faktor utama patofisiologi depresi. Penelitian sebelumnya menunjukkan hubungan antara regulasi reseptor B-andrenergic postsinaps dengan respons antidepresan, yang mana menunjukkan efektivitas antidepresan dengan efek norandrenergik. Selain itu, terjadi peningkatan densitas reseptor a2-andrenergik dilaporkan pada pasien depresi dan cubaan bunuh diri. Peningkatan regulasi ini juga mungkin disebabkan kekurangan relative norepinefrin di sinaps.(10) Banyak dari penelitian gangguan mood, secara umumnya difokuskan ke system serotonergik, yang mana system ini mengalami efek pada korteks prefrontal, system limbic, aktifitas pituitary, dan perilaku seks. Sistem serotonergik telah diketahui sensitive terhadap estrogen dan progestron. Bethea dkk melakukkan penelitian lanjut terhadap primate bukan manusia atas hormone ovarian dengan system serotonergik, dengan hasil terjadi pada system serotonergik, akibat efek perubahan dari hormone ovarium dalam susunan saraf pusat. (9)Kadar prolaktin yang rendah dan berkurangnya respon prolaktin terhadap test D-fenfl uramine ditemukan pada pasien depresi. Ini mungkin hubungannya dengan depressi post partum yang mana kadar prolkatin rendah pada saat kelahiran. (10) Abou Salah dkk menyatakan ibu postpartum yang mengalami depresi menunjukkan penurunan kadar prolaktin plasma yang signifikan dibanding ibu yang tidak mengalami depresi. Dan pada ibu-ibu yang melakukkan Inisiasi menyusu Dini mendapatkan skor mood yang lebih baik dan kadar prolaktin lebih tinggi.(9) 2) Faktor Psikososial

Penelitian psikodinamik menunjukkan bahwa pada gangguan postpartum terdapat konflik antara sang ibu dengan tugasnya sebagai ibu yang harus mengasuh anaknya, dengan kelahiran anaknya yang baru dengan suaminya. Konflik ini mempunyai peranan dalam menentukan identitas dirinya sebagai seorang ibu yang tak dapat berkomunikasi dengan bayinya, menghambat ibu ini menemukan jati dirinya dan ini merupakan hambatan dini hubungan timbal balik antara ibu dan anak. Walaupun wanita ini mempunyai pengalaman dengan ibunya, tetapi pengalaman masa kanak-kanak memaksanya menolak figur ibunya untuk ditiru dan didentifikasi. Penolakan ini mengakibatkan seorang ibu kehilangan arah dan menjadi bingung. Gangguan identifikasi ini menyebabkan perasaan terganggu, mereka sebagai ibu yang tidak tahu bagaimana seharusnya bertindak, dan melahirkan anak tetapi tidak tahu bagaimana merawatnya. (1,4,5,6)

3) Faktor Biologis

Wanita dengan riwayat psikosis cenderung untuk terjadi rekurensi sebanyak 90%.(1,4,5,6)

Estrogen/ProgSerotonin Menghambat uptake dopamine (mengubah receptor dopamine)Korteks profrontalSistem serotonergikSistem LimbikAktifitas PituatariPerilaku seksualDEPRESI POSTPARTUMNorepinefrinDopaminMerubah protein G pada resptor D2 Dopamin

V. FAKTOR RESIKOSeorang wanita kemungkinan akan mengalami depresi dan psikosis postpartum, jika ia memiliki: 1. Riwayat mengidap depresi atau penyakit mental lainnya2. Pernah mengalami depresi postpartum. Wanita yang pernah menderita depresi postpartum setelah melahirkan memiliki resiko kekambuhan sekitar 25%.3. Riwayat keluarga yang mengidap depresi4. Mengalami stress di rumah atau tempat kerja selama hamil. Perempuan yang berpendidikan tinggi menghadapi tekanan sosial dan konflik peran, antara tuntutan sebagai perempuan yang memiliki dorongan untuk bekerja tau melakukan aktivitasnya diluar rumah, dengan peran mereka sebagai ibu rumah tangga dan orang tua dari anak-anaknya. 5. Kurang mendapat dukungan emosional. Banyaknya kerabat keluarga yang membantu pada saat kehamilan, persalinan, dan pascasalin, beban seorang ibu karena kehamilannya akan semakin berkurang.6. Memiliki masalah pernikahan atau masalah hubungan. (1,4,5,6)VI. GEJALA DEPRESI & PSIKOSIS POST PARTUMGejala Post Partum Blue Syndrome1. Kelelahan2. Perasaan sedih3. Mudah menangis4. Cemas5. Labil6. Bingung 7. Sangat sensitive8. Susah tidur9. Perasaan sendiri(2,3,8)

Gejala depresi postpartum1. Merasa tidak berharga, merasa tidak mampu mengatasi kehidupannya.2. Mengalami perubahan cepat tingkatan suasana hati dari sedih jadi marah3. Tidur kurang baik atau terlalu banyak tidur4. Selalu merasa lelah sepanjang waktu5. Hanya tertarik sedikit pada bayi.6. Tidak menikmati hidup lagi7. Mengalami perubahan nafsu makan (makan terlalu sedikit atau terlalu banyak makan)8. Kesulitan untuk berkonsentrasi9. Menarik diri dari keluarga atau teman10. Pernah berfikir untuk mencelakai diri sendiri atau bayinya.(5)Gejala psikosis postpartumPada psikosis postpartum gejala dapat terjadi dalam jangka waktu setahun setelah melahirkan anak. namun awalnya sering terjadi pada minggu kedua atau minggu ketiga setelah persalinan. Gejala yang khas pada psikosis postpartum yaitu: 1. Agitasi.2. Gelisah.3. Emosi yang labil.4. Kegembiraan yang berlebihan.5. Insomnia.6. Menangis.7. Bingung.8. Dan lama-kelamaan akan timbul episode psikotik yang gawat dengan gambaran mania dan delirium.(2)

VII. DIAGNOSISMenurut DSM-IV-TR, tidak ada kriteria bagi gangguan depresi dan psikosis pada postpartum, namun diagnosis bisa ditegakkan apabila depresi dan psikosis yang terjadi mempunyai hubungan dengan persalinan dan perlangsungannya hanya sementara.(4,5,6)Sedang menurut PPDGJ-III, maka pedoman diagnostik untuk gangguan psikiatrik pada postpartum (F.53) yaitu:(7)F.53.1 Gangguan Mental dan Perilaku Berat yang Berhubungan dengan Masa Nifas YTK Termasuk : psikosis masa nifas YTT.

Menurut Regina(2001) diluar negeri skrinning utnuk mendetekasi gangguan mood depresi sudah merupakan acuan pelayanan pasca persalinan yang rutin dilakukkan. Untuk skrinning depresi postpartum dapat dipergunakan kuesioner Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) merupakan kuesioner dengan validitas yang terujiyang dapat mengukur intensitas perubahan perasaan depresi selama tujuh hari pasca persalinan. Pertanyaannya berhubungan dengan lailitas perasaan, kecemasan, perasaan bersalah, keingginan bunuh diri, serta hal-hal lain yang terdapat pada depresi post partum. Kuesioner EPDS (terlampir) terdiri dari sepuluh pertanyaan di mana setiap pertanyaan memiliki empat pilihan jawaban yang mempunyai nilai skor dan harus dipilih satu sesuai gradasi perasan yang dirasakan ibu postpartum. Pertanyaan harus dijawab oleh ibu sendiri oleh ibu dan rata dapat diselesaikan dalam waktu 5 menit. Jumlah skor dari sepuluh pertanyaan yang diajukan dalam EPDS 30 skor, semakin besar jumlah skor gejala depresi semakin berat. Skor di atas 12 memiliki sensitifitas 86% dan nilai prediksi positif 73% utnuk mendiagnosis kejadian depresi postpartum.(5)

VIII. PENATALAKSANAANPostpartum Blue SyndromePasien dengan postpartum blue syndrome tidak perlu penanganan atau pengobatan khusus. Penanganan pada pasien ini sering adalah bersifat konservatif dengan dukungan social. (3,8)

Depresi postpartumTingkat keparahan penyakit akan menentukan terapi yang tepat. Strategi pengobatan yang sering digunakan yaitu pengobatan non-farmakologis dan pengobatan farmakologis.(1,2,3,4,5,6,7)NON FARMAKOLOGISPengobatan ini berguna untuk wanita dengan gejala depresi ringan sampai sedang. Pengobatan non farmakologis ini seperti :

1. Psikoterapi individu atau kelompok (kognitif-perilaku dan terapi interpersonal) .2. Psychoeducational atau dukungan kelompok juga dapat membantu. Modalitas ini dapat sangat menarik bagi ibu yang menyusui dan yang ingin menghindari minum obatFARMAKOLOGIS Pengobatan ini diindikasikan untuk gejala depresi sedang sampai berat atau ketika seorang wanita tidak merespon pengobatan non-farmakologis. Obat juga dapat digunakan dalam hubungannya dengan terapi non-farmakologis.(1)Selective serotonin reuptake inhibitors (SSRI) adalah agen lini pertama dan efektif pada wanita dengan depresi pasca-melahirkan. Gunakan dosis antidepresan standar, misalnya, fluoxetine (Prozac) 10-60 mg/hari, sertraline (Zoloft) 50-200 mg/hari, paroxetine (Paxil) 20-60 mg/hari, citalopram (Celexa) 20-60 mg/hari , atau escitalopram (Lexapro) 10-20 mg/hari. Efek samping obat kategori ini termasuk insomnia, mual, penurunan nafsu makan, sakit kepala, dan disfungsi seksual. (1)Serotonin-norepinephrine reuptake inhibitors (SNRIs), seperti venlafaxine (Effexor) 75- 300 mg/hari atau duloxetine (Cymbalta) 40-60 mg/hari, juga sangat efektif untuk depresi dan kecemasan. (1)Antidepresan trisiklik (misalnya, Nortriptilin 50-150 mg/hari) mungkin berguna bagi wanita dengan gangguan tidur, walaupun beberapa studi menunjukkan bahwa perempuan lebih merespon obat kategori SSRI. Efek samping dari antidepresan trisiklik termasuk mengantuk, berat badan bertambah, mulut kering, sembelit, dan disfungsi seksual. Biasanya, gejala mulai berkurang dalam 2-4 minggu. Dan penyembuhan total dapat berlangsung beberapa bulan. Pada sebagian responden, meningkatkan dosis dapat membantu. (1)Obat anxiolytic seperti lorazepam dan clonazepam mungkin berguna sebagai pengobatan adjunctive pada pasien dengan kecemasan dan gangguan tidur. Data awal menunjukkan bahwa estrogen, sendiri atau kombinasi dengan antidepresan, mungkin bermanfaat, namun tetap antidepresan menjadi lini pertama pengobatan. (1)Jika ini adalah episode pertama dari depresi, pengobatan selama 6-12 bulan dianjurkan. Untuk wanita dengan depresi mayor berulang, diindikasikan perawatan pengobatan jangka panjang dengan antidepresan. Kegagalan untuk mengobati atau pengobatan yang tidak adekuat dapat mengakibatkan memburuknya hubungan antara ibu dan bayi atau pasangan. Hal ini juga dapat meningkatkan risiko morbiditas pada ibu dan bayi, serta kompromi sosial dan pengembangan pendidikan sang bayi. Semakin cepat pengobatan maka semakin baik prognosisnya. Rawat Inap mungkin diperlukan untuk depresi pascamelahirkan yang parah.(1,2,3,4,5,6,7,)

Psikosis postpartumPsikosis postpartum merupakan suatu kondisi emergensi dan memerlukan perhatian dan penanganan segera. Pasien mungkin akan membutuhkan terapi obat untuk jangka waktu tertentu, seperti haloperidol atau flufenazin, keduanya diberikan dalam dosis 2-5 mg per os 3 kali perhari. Bila agitasi maka pasien membutuhkan anti psikotika berpotensi tinggi dan diberikan IM. Mood stabilizer seperti lithium, valproid acid, carbamazepine digunakan sebagai terapi akut yang dikombinasi dengan obat anti psikotik dan benzodiapezine.(4) Indikasi pemakaian ECT sama seperti psikosis tanpa persalinan tetapi dianjurkan ditunda sampai satu bulan postpartum untuk menghindari terjadinya emboli(4)

IX. PROGNOSISHampir pada semua kasus depresi postpartum prognosisnya adalah baik, kebanyakan sembuh dalam waktu 3 bulan, 70% dalam waktu 6 bulan dan 30% kemungkinan rekurensi pada kehamilan yang berikutnya. Prognosis pada serangan pertama relatif lebih baik, seperti juga pada skizofrenia yang mempunyai penyakit fisik sebagai faktor presipitasi. Kira-kira 90% penderita ini sembuh dari keadaan psikotik dalam waktu relatif singkat dan kemungkinan terjadinya lagi diperkirakan berkisar antara 15-30%.(1,2,3,4,5)Prognosis psikosis postpartum relatif lebih jelek dibanding gangguan psikotik pada postpartum lainnya. (1,2,3,4,5)

X. PENCEGAHANBerikut adalah beberapa cara pencegahan dari terjadinya gangguan psikotik dan depresi pada postpartum :1. Wanita yang beresiko tinggi untuk terjadinya gangguan psikotik dan depresi pada postpartum harus diidentifikasi sebelum persalinan. Deteksi dini psikosis dan depresi post partum dapat dilaksanakan melalui pelayanan kesehatan ibu hamil dan imunisasi.2. Psikosis dan depresi post partum dapat dicegah dengan memberikan pemahaman kepada masyarakat khususnya ibu hamil tentang faktor resiko terjadinya depresi.3. Pengobatan farmakologis dan non-farmakologis sangat diperlukan bagi wanita atau ibu dengan psikosis dan depresi post partum.Wanita dengan gangguan bipolar atau dengan riwayat psikosis dan depresi postpartum dapat diberikan lithium yang diberikan pertama kali sebelum atau 24 sebelum persalinan. (1,2,3,4,5,6,7)

XI. DAMPAK DEPRESI DAN PSIKOSIS POSTPARTUMDepresi dan psikosis postpartum mengakibatkan dampak yang luar biasa bagi penderitanya. Setidaknya, depresi berdampak pada biaya, emosi, fisik, dan social.1. Dampak biaya; kinerja menurun, istirahat, cuti, tidak produktif, biaya pengobatan, bahkan hilangnya potensi penghasilan karena penderita merasa ingin bunuh diri.2. Dampak emosi; hidup dipenuhi dengan perasaan yang tidak nyaman, tidak berdaya, penyesalan mendalam, sedih, putus asa, cemas.3. Dampak fisik; tubuh sakit, psikosomatis, jika ada sakit lebih cenderung mengalami komplikasi, kecepatan pemulihan kondisi kesehatan lebih lama dan lambat.4. Dampak sosial; sering timbul konflik dalam keluarga, ketidakmampuan menjalankan fungsi dan peran sebagai orangtua yang baik, perceraian, putusnya persahabatan, perilaku yang merugikan diri sendiri, dan atau orang lain. Seperti mabuk, penggunaan obat-obatan terlarang.

BAB IIIKESIMPULAN

1. Post partum syndrome terdiri dari 3 jenis yaitu: Maternity blues / baby blues / post partum blues Psikosis pasca persalinan Depresi pasca persalinan Post partum blues adalah gangguan suasana hati yang dialami oleh sekitar 50 % wanita dalam 3 sampai 6 hari setelah melahirkan (kendell dkk, 1987) terdapat bukti bahwa kemurungan (blues) ini dipicu oleh turunnya progesterone (Harris dkk, 1994). yang terjadi untuk sementara waktu dan akan hilang dengan sendirinya tanpa pengobatan.2. Gejala post partum blues:Insomnia, Mudah sedih, Depresi, Anxietas, Gangguan konsentrasi, Iritabilitas, Labilitas afek.3. Depresi post partum adalah adalah suatu depresi yang ditemukan pada perempuan setelah melahirkan, yang terjadi dalam kurun waktu 4 (empat) minggu. Hal ini dapat berlangsung hingga beberapa bulan bahkan beberapa tahun bila tidak diatasi. Yang membedakannya dengan baby blues ada pada frekuensi, intensitas, dan durasi waktu gejalanya.4. Psikosis post partum; Jenis ini adalah yang paling terparah. Ibu dapat mengalami halusinasi, memiliki keinginan untuk bunuh diri, bahkan ibu bisa saja jadi membahayakan keselamatan sang bayi itu sendiri. 5. Depresi post partum dapat ditolong dan diatasi bila tanda dan gejalanya dikenali, baik oleh ibu yang mengalami maupun oleh keluarga terdekat yaitu suami, orang tua maupun saudara.6. Wanita dengan psikosis post partum tidak berpijak pada realitas lagi. Mereka memperlihatkan masa waras yang berselang-seling dengan psikosis. Yang juga sering dijumpai adalah gejala-gejala kebingungan dan disorientasi yang sering tampak pada keadaan toksik atau delirium.

DAFTAR PUSTAKA1. Bambang Sumantri, S.kep. Depresi Postpartum. [cited March 2012]. Available from: URL:http://www.mantrinews.medical world.blogspot.com. 2. Riordan, Jan. EdD, Prof: Postpartum Depression in Breastfeeding and Human Lactation , Third Edition. Jones and Bartlett publishers.London . 2004. Hal. 476-484.3. Kaplan. Usmle Step 2 CK Obsetriccs and Gynecology Lecture Notes.Edisi 2005-2006. Kaplan medical. 2006.Hal.98-100.4. Harms,Roger.W.M.D. Mayo Clinical guide to a Healthy Pregnancy. HarperCollinse-books.2009.Hal.261-264.5. Soep. Pengaruh Intervensi Psikoedukasi dalam Mengatasi Depresi Postpartum di RSU Dr. Pirngandi Medan. Univ. Sumatra Utara, Medan.20096. Cockburn,Jayne. And Michael E.P. Psychological Challenges in Obstetrics and Gynecology The Clinical Management. Springer.London.2007. Hal.140-154. 7. Rusdi maslim.Dr, Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III. Jakarta. 2002. Hal 125-1268. Hibbert C. G. Postpartum Mood Disorders [cited March 2012].Available from: URL:http://www/psychotherapy.com/mom.html9. Zonana J, Gorman J M. The Neurobilogy of Postpartum Depression. CNS Spectrum. Vol 10. October 2005.10. Suttajit S. Roles Of Neurotransmitters, Hormones And Brain-Derived Neurothrophic Factors In Pathogenesis Of Depression. Chiang Mai Medical Journal. 2009. Chiang Mai University.11. Jossefson A. Post Partum Depression-Epidemiological and Biological Aspect. Linkoping University Medical Dissertation No. 781. University of Linkoping. 2003. Sweden.

2