PBL BLOK 26.doc

download PBL BLOK 26.doc

of 16

  • date post

    16-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    9
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of PBL BLOK 26.doc

Program Puskesmas dalam Penanggulangan dan Pemberantasan Demam Berdarah DengueMarco Lius

102012366

D10 Kampus II Ukrida Fakultas Kedokteran

Jl. Arjuna Utara No.6, Jakarta Barat 11510

liusmarco@live.com Pendahuluan

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yang jumlah penderitanya cenderung meningkat dan penyebarannya semakin luas. Penyakit DBD merupakan penyakit menular yang terutama menyerang anak-anak.1Demam berdarah dengue tersebar di wilayah Asia Tenggara, Pasifik barat, dan Karibia. Indonesia merupakan wilayah endemis dengan sebaran di seluruh wilayah tanah air daerah endemik DBD pada umumnya merupakan sumber penyebaran penyakit ke wilayah lain. Setiap kejadian luar biasa (KLB) DBD umumnya dimulai dengan peningkatan jumlah kasus di wilayah tersebut. Untuk membatasi penyebaran penyakit DBD diperlukan pengasapan (fogging) secara masaal, abatisasi massal, serta penggerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yang terus menerus.Makalah ini diharapkan dapat membantu pembaca mengerti mengenai pemberantasan DHF dalam hal pendekatan epidemiologi, surveilance, kejadian luar biasa, tingkat pencegahan penyakit, pelayanan puskesmas, program pemberantasan DHF, dan pemberdayaan masyarakat.Definisi

Dengue haemorrhagic fever (DHF) adalah infeksi akut yang disebabkan oleh Arbovirus dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Virus dengue penyebab DHF mempunyai beberapa tipe, yaitu tipe I, II, III, dan IV. Gejala DHF ditandai oleh empat manifestasi klinis utama yaitu demam tinggi, fenomena pendarahan, sering disertai oleh hepatomegali dan pada keadaan berat terjadi tanda-tanda kegagalan sirkulasi. Manifestasi klinis yang lain adalah nyeri otot atau nyeri sendi yang disertai leukopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia dan hemoragik. Selama nyamuk Aedes aegypti tidak terkontaminasi virus dengue, maka gigitan nyamuk DHF tersebut tidak berbahaya. Jika nyamuk tersebut menghisap darah penderita DHF, maka nyamuk menjadi berbahaya karena bisa menularkan virus dengue yang mematikan.2Pendekatan Epidemiologi

Epidemiologi adalah cabang ilmu yang mempelajari distribusi kejadian sakit, gangguan fungsi tubuh (disability) dan kematian, serta faktor-faktor yang memengaruhi frekuensi kejadian pada kelompok-kelompok masyarakat tertentu. Dalam aspek epidemiologi, terdapat model segitiga epidemiologi menggambarkan kejadian suatu penyakit yang ditentukan oleh tiga faktor utama yaitu host, agent, dan environtment.3

Host atau pejamu adalah manusia yang mudah terkena atau rentan terhadap suatu bibit penyakit, yang menyebabkan ia sakit. Faktor utama pada host yang memudahkannya terkena penyakit adalah sistem kekebalan atau imunitas dan perilakunya sendiri. Sistem kekebalan tubuh manusia sangat dipengaruhi oleh umur, jenis kelamin, status sosial ekonomi, dan ras.3

Agent adalah faktor yang menjadi bibit penyakit yang menjadi penyebab suatu penyakit. Penyebab penyakit ada yang bersifat biologis, fisik, kimia, dan sosiopsikologis. Yang bersifat biologis seperti DHF disebabkan virus dengue.3

Environtment atau lingkungan adaalah situasi atau kondisi di luar host dan agent yang memudahkan interaksi antar keduanya. Faktor ini juga dapat menjadi risiko timbulnya gangguan penyakit pada host karena lingkungan memberikan peluang agent untuk berkembang (breeding). Lingkungan dapat dibedakan menjadi lingkungan biologis, fisik, kimia, dan sosial.3

Paradigma sehat menurut H.L. Blum juga dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan antara empat faktor utama yang menentukan derajat kesehatan masyarakat di suatu wilayah. Keempat faktor tersebut adalah genetik, pelayanan kesehatan, perilaku manusia, dan lingkungan.3

Faktor genetik paling kecil pengaruhnya terhadap kesehatan perorangan atau masyarakat dibandingkan ketiga faktor lain. Pengaruh pada status kesehatan perorangan terjadi secara evolutif dan paling sukar dideteksi. Untuk itu, perlu dilakukan konseling genetik. Untuk kepentingan kesehatan masyarakat atau keluarga, faktor genetik perlu mendapat perhatian di bidang pencegahan penyakit.3

Ketersediaan sarana pelayanan, tenaga kesehatan, dan pelayanan kesehatan yang berkualitas akan berpengaruh pada derajat kesehatan masyarakat. Pengetahuan dan keterampilan petugas kesehatan yang diimbangi dengan kelengkapan sarana / prasarana, dan dana akan menjamin kualitas pelayanan kesehatan. Pelayanan seperti ini akan mampu mengurangi atau mengatasi masalah kesehatan yang berkembang di suatu wilayah atau kelompok masyarakat. 3

Faktor perilaku masyarakat terutama di negara berkembang paling besar pengaruhnya terhadap munculnya gangguan kesehatan atau masalah kesehatan di masyarakat. Tersedianya jasa pelayanan kesehatan tanpa disertai perubahan perilaku masyarakat akan mengakibatkan masalah kesehatan tetap potensial berkembang di masyarakat,3

Lingkungan yang terkendali, akibat sikap hidup dan perilaku masyarakat yang baik akan dapat menekan perkembangan masalah kesehatan. Sektor-sektor terkait di luar sektor kesehatan seperti Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) dan Cipta Karya (PU), Kependudukan akan besar sekali perannya dalam upaya pengendalian sampah. Sampah yang menumpuk, kampung kumuh, dan genangan air akan memudahkan vektor DHF berkembang.3

Untuk menganalisis program kesehatan di lapangan, paradigma H.L. Blum dapat dimanfaatkan untuk mengidentifikasi dan mengelompokkan masalah sesuai dengan faktor-faktor yang berpengaruh pada status kesehatan masyarakat. Analisis keempat faktor tersebut perlu dilakukan secara cermat sehingga masalah kesehatan masyarakat dan masalah program dapat dirumuskan dengan jelas.3

Demam berdarah dengue atau Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) adalah penyakit virus yang berbahaya. Virus penyebab DHF ini adalah virus dengue dari kelompok Arbovirus B, yaitu arthropod-borne virus atau virus yang disebarkan oleh artropoda. Virus ini termasuk genus Flavivirus dari famili Flaviviridae.2 Terdapat empat serotipe virus ini yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. Serotipe DEN-3 merupakan serotipe terbanyak.1 Gejala klinis DHF berupa demam tinggi yang berlangsung terus menerus selama 2-7 hari dan manifestasi perdarahan yang biasanya didahului tanda khas berupa bintik-bintik merah (petechia) pada badan penderita. Penyakit ini masih merupakan masalah kesehatan masyarakat. Vektor utama DHF adalah nyamuk kebun yang disebut Aedes aegypti, sedangkan vektor potensialnya adalah Aedes albopictus.4

Ciri-ciri nyamuk Aedes aegypti adalah: sayap dan badannya belang-belang atau bergaris-garis putih. Selain itu nyamuk ini berkembang biak di air jernih yang tidak beralaskan tanah seperti bak mandi, WC, tempayan, drum, dan barang-barang yang menampung air seperti kaleng, ban bekas, pot tanaman air, tempat minum burung, dan lain-lain. Jarak terbangnya 100 m dan nyamuk betinanya bersifat multiple biters (menggigit beberapa orang karena sebelum nyamuk tersebut kenyang sudah berpindah tempat). Nyamuk ini tahan suhu panas dan kelembaban tinggi.2

Gambar 3. Siklus hidup nyamuk Aedes aegypti.1

Nyamuk yang menjadi vektor penyakit DHF adalah nyamuk yang menjadi terinfeksi saat menggigit manusia yang sedang sakit dan viremia (terdapat virus dalam darahnya). Menurut laporan terakhir, virus dapat pula ditularkan secara transovarial dari nyamuk ke telur-telurnya.1

Virus berkembang dalam tubuh nyamuk selama 8-10 hari terutama dalam kelenjar air liurnya, dan jika nyamuk ini menggigit orang lain maka virus dengue akan dipindahkan bersama air liur nyamuk. Dalam tubuh manusia, virus ini akan berkembang selama 4-6 hari dan orang tersebut akan mengalami sakit DHF. Virus dengue memperbanyak diri dalam tubuh manusia dan berada dalam darah selama satu minggu.1

Orang yang di dalam tubuhnya terdapat virus dengue tidak semuanya akan sakit DHF. Ada yang mengalami demam ringan dan sembuh dengan sendirinya, atau bahkan ada yang sama sekali tanpa gejala sakit. Tetapi semuanya merupakan pembawa virus dengue selama satu minggu, sehingga dapar menularkan kepada orang lain di berbagai wilayah yang ada nyamuk penularnya. Sekali terinfeksi, nyamuk menjadi infektif seumur hidupnya.1Penyebaran penyakit DHF di Jawa biasanya terjadi mulai bulan Januari sampai April dan Mei. Faktor yang mempengaruhi morbiditas dan mortalitas penyakit DHF antara lain: imunitas pejamu, kepadatan populasi nyamuk, transmisi virus dengue, virulensi, keadaan geografis setempat. Faktor penyebaran kasus DHF antara lain: pertumbuhan penduduk, urbanisasi yang tidak terkontrol, transportasi.1

Kriteria diagnosis daru DHF adalah lewat kriteria klinis dan kriteria laboratoris. Kriteria klinisnya adalah demam tinggi mendadak tanpa sebab yang kelas dan berlangsung terus-menerus selama 2-7 hari, terdapat manifestasi perdarahan, pembesaran hati, dan syok. Kriteria laboratorusnya adalah trombositopenia (20%). Seorang pasien dinyatakan menderita penyakit DHF bila terdapat minimal 2 gejala klinis yang positif dan 1 hasil laboratorium yang positif. Bila gejala dan tanda tersebut kurang dari ketentuan di atas maka pasien dinyatakan menderita demam dengue.1Surveilance

Surveilans adalah observasi kejadian yang sedang berlangsung, aktif, dan sistematik terhadap kejadian dan distribusi penyakit dalam suatu populasi, dan kejadian atau kondisi yang dapat meningkatkan atau menurunkan risiko kejadian suatu penyakit. Sistem surveilans dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi tentang berbagai macam peristiwa.5

Surveilans juga dapar digunakan untuk mengukur outcome lainnya yang disebabkan oleh pelayanan atau kinerja, atau proses tindakan yang diambil untuk mencapai suatu outcome (seperti kepatuhan pada suatu kebijakan atau peraturan yang telah disepakati). Dua tujuan utama program surveilans dalam fasilitas pelayanan kesehatan adalah: memperbaiki kualitas pelay