PBL Blok 14 mario

download PBL Blok 14 mario

of 28

  • date post

    02-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    672
  • download

    7

Embed Size (px)

Transcript of PBL Blok 14 mario

Musculosceletal-2Ade frima segara manurung (10-2008-141) C-3

PROGRAM STUDI SARJANA KEDOKTERAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA JAKARTA 2010

1

Daftar IsiDaftar isi .............................................................................................................. 2 Kata pengantar ......................................................................................................3 Pendahuluan ..........................................................................................................4 Isi ...........................................................................................................................5 Kesimpulan...........................................................................................................25 Daftar pustaka ......................................................................................................26

2

KATA PENGANTARRasa syukur yang dalam saya sampaikan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat kemurahanNya makalah ini dapat saya selesaikan sesuai yang diharapkan. Dalam makalah ini saya membahas artritis gout. Makalah ini dibuat dalam rangka mengetahui dan mengerti penyakit artritis gout. Dalam proses pendalaman materi ini, tentunya saya mendapatkan bimbingan, arahan, koreksi dan saran, untuk itu rasa terima kasih yang dalam-dalamnya saya sampaikan : Dr. Sony, selaku tutor PBL kelompok C3. Rekan-rekan mahasiwa dan mahasiswi yang telah banyak memberikan masukan untuk makalah ini, terutama kelompok C 3. Demikian makalah ini saya buat semoga bermanfaat dan mohon maaf bila ada kesalahan, semoga dilain waktu saya dapat memperbaikinya. Terima Kasih. Jakarta, 29 Maret 2011 Penyusun

Ade frima segara manurung 10-2008-141

3

PENDAHULUANArtritis pirai (gout) adalah suatu inflamasi yang hanya terjadi akibat deposit kristal monosodium urat (MSU) pada sendi. Sebaliknya, Kristal yang terdeposit di jaringan lunak tidak akan menyebabkan terjadinya inflamasi, Gangguan metabolism yang mendasarkan gout adalah hiperurisemia dengan peninggian kadar asam urat lebih dari 7,0 mg/dl dan 6.0 mg/dl. Di dalam makalah ini akan dibahas mengenai penyakit gout, mulai dari, gejala, diagnosis patogenesis, sampai cara menanggulangi dan mencegah penyakit gout.

4

ISIA. AnamnesisAnamnesis sangat diperlukan untuk mendeteksi penyakit yang berhubungan dengan muskuloskeletal. Anamnesis yang penting adalah riwayat penyakit, umur, jenis kelamin, nyeri sendi, kaku sendi, bengkak sendi, disabilitas dan gejala sistemik. Riwayat penyakit menjadi suatu yang penting karena pada penyakit gout ini dapat terjadi pengulangan kambuh dari penyakit ini. Penyakit gout sendiri sebagian besar mempengaruhi orang berumur diatas 30 tahun dan lebih banyak pria yang terkena penyakit ini. Dua hal tadi yang merupakan kepentingan dari anamnesis umur dan jenis kelamin pasien. Nyeri sendi biasanya perlu ditanyakan sebagai tanda gejala awal dari penyakit ini. Nyeri sendi yang sering terjadi paa artritis gout terjadi biasanya berupa serangan yang hebat pada waktu bangun pagi hari, sedangkan pada malam hari sebelumnya pasien tidak merasakan apa-apa, rasa nyeri ini biasanya self limiting dan sangat responsif dengan pengobatan. Apabila sudah berlanjut akan dapat menyebabkan kekakuan dan bengkak dari sendi tersebut. Apabila sudah terjadi kekakuan dari sendi tersebut tentu saja ini akan menyebabkan ketidakmampuan sendi tersebut berfungsi secara adekuat. Infeksi sistemik ini sendiri dapat terjadi pada penderita gout. Gout sendiri pada stadium lanjut merupakan penyakit inflamatoir dan akan mengakibatkan peningkatan reaktan fase akut seperti peninggian LED atau CRP yang akan mengakibatkan keluhan kelelahan, lesu, mudah marah, berat badan turun, dan mudah sekali terangsang. Anamnesis lain yang juga perlu diperhatikan adalah adanya kesakitan pada daerah perut, kesakitan ini mungkin saja merupakan komplikasi dari penyakit itu sendiri yaitu terjadinya kerusakan pada ginjal. Selain kerusakan ginjal juga perlu ditanyakan status berkemih pasien tersebut karena komplikais lain yang dimungkinkan yaitu adanya batu urat yang tersumbat di saluran kemih.

B. Pemeriksaan1. Fisik Pemeriksaan fisik yang penting pada sistem muskuloskeletal dapat dibagi menjadi pada saat diam/istirahat dan pada saat bergerak. Dan dapat juga dilakukan palpasi untuk beberapa hal seperti yang akan dibahas. Inspeksi deformitas sangat perlu dilakukan pada sendi-sendi yang terserang gout ini, selain daripada deformitas pada saat diam juga perlu dilakukan inspeksi pada saat bagian tersebut coba digerakan. Hal ini bertujuan untuk menentukan apakah tungkai tersebut mengalami 5

deformitas yang dapat dikoreksi atau deformitas yang sudah tidak dapat dikoreksi. Deformitas yang dapat dikoreksi apabila deformitas tersebut masih dapat digerakan yang diakibatkan oleh penumpukan jaringan lunak. Sedangkan deformitas yang tidak dapat dikoreksi biasanya disebabkan oleh restriksi kapsul sendi atau kerusakan sendi. Pemeriksaan inspeksi lainnya yaitu melihat benjolan apabila terdapat benjolan pada sendi pasien. Hal yang patut diperhatikan adalah ukuran dari benjolan, suhu, warna kulit di sekitar benjolan. Bisanya pada penderita gout benjolannya akan berwarna kemerahan, teraba panas, dan akan berasa nyeri. Untuk mendeteksi kelainan sekunder yang mungkin terjadi yaitu mencari kelainan yang menyangkut anemia, pembersaran organ limfoid, keadaan kardiovaskular dan tekanan darah. Kelainan yang mungkin juga timbul walaupun sangat jarang terjadi yaitu timbulnya febris yang bersifat sistemik. Pemeriksaan khusus yang dapat dilakukan pada penderita gout adalah melihat cara berjalan, sikap/postur badan. Sikap badan dan postur badan harus diperhatikan saat pasien masuk ruangan. Karena sikap badan odan cara berjalan orang yang menahan sakit akan berbeda dari normal. Sikap berjalan yang paling sering ditunjukan pada penderita gout apada kali adalah gaya berjalan antalgik, yaitu pasien akan segera mengangkat tungkai yang nyeri atau deformitas sementara pada tungkai yang sehat akan lebih lama diletakan di lantai; biasanya akan diikuti oleh gerakan tangan yang asimetri. Pergerakan beserta bunyi apabila digerakan juga patut diperhatikan pada penderita, bunyi pada penderita gout merupakan bunyi krepitus halus yang terdengar sepanjang struktur yang terkena dan biasanya lemah dan hanya terdengar mengunakan stetoskop. Pemeriksaan fisik yang mungkin juga dapat diketemukan kelainan yaitu pemeriksaan ginjal. Pemeriksaan ginjal yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan perkusi ginjal, pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi apakah ada nyeri pada daerah ginjal. Pemeriksaan ginjal bisanya dilakukan pada penderita lanjut karena dikhawatirkan terjadi penyumbatan saluran kemih dengan komplikasi lanjutan yaitu pembengkakan ginjal. 2. Penunjang a. Laboratorium Pemeriksaan lab yang paling dapat menegakkan kristal urat dari cairan sendi ataupun topus yang mengandung kristal urat. Cara yang dapat digunakan dapat dilakukan dengan reaksi kimia ataupun dilihat langsung dengan mengunakan mikroskop. Karena tidak semua penderita gout ini sampai terjadi topus dan sulitnya mengambil cairan sendi pada sendi kecil seperti sendi pada daerah kaki, cara ini relatif lebih sulit dilakukan daripada pemeriksaan lainnya. Pemeriksaan lainnya yang dimaksud adalah mendeteksi LED, hitung leukosit, dan CRP pada fase akut, kadar kreatinin 24 jam. Asam urat darah dan urin 24 jam. Pada aspirasi cairan sendi dapat diketemukan cairan yang berwarna putih susu. Cairan ini merupakan manifestasi hitung sel yang dapat meningkat sampai 6

dengan 60.000/L dan juga terdapat timbunan monosodium urat pada cairan sendi. Pemeriksaan yang rutin dilakukan adalah asam urat darah dan urin dan kreatinin darah dan urin 24 jam. Pemeriksaan asam urat urin 24 jam orang diet rendah purin selama 3-5 hari dibawah 600 mg/hari. Apabila hasilnya berada diatas itu orang tersebut diduga mengalami kelebihan produksi asam urat. Tetapi mungkin juga hasil dibawah 600 mg/hari bukan merupakan batas normal oleh karena itu diperlukan pemeriksaan kadar kreatinin urin dan darah untuk memantau kemampuan bersihan ginjal. Kadar asam urat dalam urin tersebut dapat tercapai karena ketidakmampuan ginjal untuk mengeluarkan asam urat dari dalam tubuh, ini yang disebut dengan underexcretion. Pemeriksaan kadar urin ini merupakan suatu standar yang perlu diperhatikan karena kadar asam urat darah yang tinggi akan meningkatkan kemungkinan gout yang timbul. Kadar asam urat 24 jam masih dapat dikatakan normal tanpa diet dalam batas 800 mg/hari. Apabila kadar asam urat tanpa diet rendah urat melebihi angka itu patut dicurigai adanya overproduction dari urat tersebut. Walaupun tidak semua orang yang memiliki asam urat yang tinggi akan menderita gout, begitupun tidak semua orang yang memiliki kadar asam urat normal tidak akan terkena gout. Menurut penelitian yang dilakukan di Indonesia sekitar 21% orang yang menderita gout memiliki kadar asam urat darah yang masih dalam batas normal. Dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa apabila hanya ditemukan artritis pada pasien dengan hiperurisemia tidak bisa didiagnosis gout. Pemeriksaan LED, hitung leukosit, dan CRP merupakan pemeriksaan yang bertujuan untuk mendeteksi apakah terjadi inflamasi pada pasien tersebut. Reaksi inflamasi akan terjadi pada penderita gout pada fase akut, oleh karena itu pemeriksaan LED, hitung leukosit, dan CRP akan meningkat. Pemeriksaan yang paling jarang tatapi masih mungkin dilakukan dan hanya digunakan untuk penelitian adalah pemeriksaan enzim-enzim dalam tubuh. Pemeriksaan enzimnya antara lain PRPP synthetase, enzim HPRT, xantin oksidase untuk penyakit gout primer sedangkan unutk gout sekunder yaitu glukosa 6 fosfatase. Seluruh penyakit hiperurisemia dan gout yang disebabkan oleh enzim tersebut merupakan kelainan genetik, oleh karena itu biasanya penyakit-penyakit teserbut sudah mulai dapat diliha