makalah hipertensi

download makalah hipertensi

of 25

  • date post

    09-Aug-2015
  • Category

    Documents

  • view

    388
  • download

    7

Embed Size (px)

description

makalah hipertensi untuk anastesi. membahas pasien hipertensi. indikasi maupun kontrainidkasi pasien hipertensi diberikan anestesi lokal maupun sistemik.

Transcript of makalah hipertensi

DENTAL MANAJEMEN PASIEN DENGAN HIPERTENSI Disusun Oleh: Erwina Maya Astari 160112120013 Nina Nur Fitri Nadia Greviana Lulu Nikhlatur R Rima Anggreini Rr. Dinar Windiayu T. Rizki Lanera Meity Karina Sari Revini Nuita Vivi Ardila S Elfira Megasari Natasha Griselda S Haniyah Kamal 160112120016 160112120022 160112120027 160112120031 160112120037 160112120038 160112120043 160112120041 160112120042 160112120044 160112120045 160112120000

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG 2013

DENTAL MANAJEMEN PASIEN DENGAN HIPERTENSI

1. Definisi hipertensi Hipertensi merupakan peningkatan abnormal dari tekanan arterial ditandai dengan adanya suatu kenaikan tekanan darah yang persisten sebagai akibat dari kenaikan resistensi arteri perifer. Hipertensi juga didefinisikan sebagai kondisi dimana tekanan darah sistolik lebih besar atau sama dengan 140 mmHg dan tekanan diastolik lebih besar atau sama dengan 90 mmHg, dengan diagnosis didasarkan pada hasil yang sama pada dua atau lebih kunjungan setelah pemeriksaan awal (Hargitai, 2001). 2. Etiologi Usia, etnis (African, American) dan gender (laki-laki) merupakan faktor yang beresiko terkena hipertensi. Faktor resiko lain adalah hiperkolesterolemia, merokok, toleransi glukosa yang abnormal, hipertrofi bilik jantung kiri, dan hipertensi menjadi ciri dari komplikasi kardiovaskular. Hipertensi pada 5% individu yang diidentifikasi terkait dengan kondisi-kondisi tertentu disebut hipertensi sekunder diantaranya pada penyakit ginjal, gangguan endokrin, masalah neurogenik. Sedangkan 95% individu lainnya dengan kondisi hipertensi tanpa terkait kondisi tertentu dinamakan hipertensi esensial, dimana faktor penyebabnya belum diketahui. a. Hipertensi primer (esensial) Hipertensi primer tidak diketahui penyebab pastinya, beberapa faktor yang diidentifikasi terkait dengan kondisi ini adalah:

1

-

Faktor genetik pada beberapa pasien dengan latar belakang keluarga hipertensi

b.

Obesitas Intak dari alkohol dan sodium Stress yang kronis Resistensi insulin

Hipertensi sekunder Penyebab hipertensi sekunder diklasifikasikan menjadi:

Gangguan renal: Diabetes nefropathy Glomerulonefritis kronis Penyakit Polikistik

Gangguan endokrin Hyperplasia adrenal Phaeochromocytoma Sindrom Cushings Akromegali

Penyebab kardiovasular: Koarktasi aorta

Obat-obatan: Pil kontrasepsi Steroid Karbenoksolon

2

-

Vasopressin Monoamine oxidase inhibitor

Kehamilan Hipertensi dideteksi pada awal kehamilan dikaitkan dengan adanya hipertensi esensial. Sedangkan hipertensi pada kondisi sekunder dikaitkan dengan sindrom pre-eklampsia dengan manifestasi hipertensi parah, konvulsi, edema cerebral dan pulmonary, jaundice, abnormalitas pembekuan dan kematian fatal. 3. Patofisiologi Tekanan darah diukur dengan penggunaan sphygmomanometer. Diastolik merupakan reprentasi dari total resistensi dari sistem arteri setelah bagian dari tekanan diproduksi oleh kontraksi dari bilik kiri. Tekanan pulsasi dimodifikasi oleh derajat elastisitas dari dinding arteri yang lebih lebar dan resistensi dari bed arteri. Tekanan pada puncak kontraksi ventricular merupakan tekanan sistol. Perbedaan antara tekanan sistol dan diastol dinamakan tekanan pulsa. Banyak faktor yang berakibat sementara pada tekanan darah. Peningkatan viskositas dari darah dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah sebagai hasil dari peningkatan resistensi terhadap aliran. Penurunan pada volume darah menurunkan tekanan darah. Peningkatan dalam volume darah atau volume cairan jaringan meningkatan tekanan darah. Peningkatan output kardiak terkait dengan latihan, demam, dan thyrotoksis menigkatkan tekanan darah. Pada hipertensi berkelanjutan, kerusakan dasar dalam regulasi resistensi vascular. Kontrol dari vascular resistensi merupakan multifaktorial, dan abnormalitas mungkin timbul pada satu atau beberapa area. Mekanisme dari kontrol termasuk reflex neural,

3

neurontransmitter diantaranya norepinefrin, cairan ekstraselular, dan penyimpanan sodium. Tekanan darah meningkat normal seiring dengan usia dibawah 110/75 mmHg pada anak dibawah 6 tahun, dan dibawah 140/90 mmHg pada pasien dewasa. Tekanan darah yang menetap lebih dari 140/90 mmHg pada dewasa dipertimbangkan sebagai keadaan abnormal. Dari sepertiga populasi, periode sementara dari peningkatan tekanan darah dapat terjadi pada dewasa muda. Baik diagnosis dan terapi dari hipertensi didasarkan peningkatan tekanan darah diastole. Tetapi hipertensi sistolik yang signifikan dipertimbangkan. Pasien hipertensi sistolik beresiko besar pada serangan jantung dibandingkan pada pasien dengan peningkatan tekanan diastole. 4. Tanda dan Gejala Kebanyakan dari hipertensi esensial merupakan kasus kronis. Peningkatan dari pengukuran tekanan darah hanya menjadi ciri yang ada hanya untuk

beberapa tahun. Pasien dengan peningkatan tekanan darah intemiten disebut dikatakan dengan hipertensi labil. Isolasi hipertensi diastolik jarang dan ditemukan pada anak-anak dan dewasa muda. Isolasi pasien hipertensi sistolik ditemukan pada pasien tua. Gejala awal dari hipertensi salah satunya adalah sakit kepala di oksipital, perubahan penglihatan, tinnitus, pusing, dan lemah pada tungkai. Pemeriksaan funduskopi pada mata mungkin memperlihatkan perubahan awal dari hipertensi yang terdiri dari hemoragi, arteriol mengerucut, eksudat, dan papiledema pada kasus yang lebih berat. Keterlibatan ginjal dapat menghasilkan

4

hematuria, proteinuria, dan kegagalan ginjal. Individu dengan hipertensi dapat mengeluhkan kelelahan dan menggigil pada kaki sebagai hasil dari perubahan arteri peripheral yang muncul pada hipertensi lanjut. Pemeriksaan ini dapat dilihat pada pasien dengan hipertensi esensial dan sekunder. Bagaimanapun, tanda dan gejala mungkin muncul pada pasien dengan penyakit penyerta.

Gejala Awal Lanjut Peningkatan tekanan darah Papilledema Pengerucutan arteriol retina Pembesaran dari ventrikel kiri Hemoragi retina Hematuria Proteinuria Gagal jantung Angina pectoris Gagal ginjal Gejala Sakit kepala Perubahan pada penglihatan Tinnitus Menggigil Lethargi Lemah tungkai Sakit kepala

5. Komplikasi Kebanyakan dari komplikasi hipertensi merupakan penyakit serebrovakular dan penyakit arteri koroner. Pasien hipertensi juga rentan terkena gagal ginjal dan penyakit vaskular peripheral. Komplikasi lain diantaranya adalah hipertensi

5

maligna, hpertensi enselofati, aneurisma (robeknya pembuluh darah), perdarahan retina, gangguan penglihatan sampai kebutaan. 6. Klasifikasi Hipertensi Berdasarkan penyebabnya hipertensi terbagi atas dua golongan yaitu: (1) Hipertensi esensial atau hipertensi primer yang belum diketahui

penyebabnya dengan pasti atau Idiopatik (2) Hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang disebabkan penyakit lain, disebut juga hipertensi non esensial

6.1

JNC Systole dan Diastole Joint national committee on detectionn evaluation and treatment of high

blood pressure pada tahun 1984 membagi tekanan sistolik dan diastolik menjadi sebagai berikut: a. b. c. Klasifikasi tekanan sistolik Klasifikasi tekanan diastolik Klasifikasi berdasarkan tekanan sistolik dan diastolik Tabel 1 Klasifikasi tekanan sistolik Tekanan Sistole Kategori Kurang dari 140 Tekanan darah normal 140 159 Hipertensi terisolasi borderline Lebih dari 160 Hipertensi sistolik meragukan *bila tekanan diastolik kurang dari 90 mmHg

6

Tabel 2 Klasifikasi tekanan diastolik Tekanan Diastole Kurang dari 85 85 89 90 104 105 114 Lebih dari115 Kategori Tekanan darah normal Tekanan darah normal tinggi Hipertensi ringan Hioertensi sedang Hipertensi berat

Tabel 3 Klasifikasi berdasarkan tekanan sistolik dan diastolik Kategori Tekanan darah normal Tekanan darah normal tinggi Hipertensi Stage I Stage II Stage III Stage IV 6.2 (1) Sistolik Kurang dari 130 130-139 Diastolik Kurang dari 85 85-89

140-159 160-179 180-209 Lebih dari 210

90-99 100-109 110-119 Lebih dari 120

Klasifikasi Menurut WHO 1978 Tekanan darah normal bila sistolik kurang atau sama dengan 140 dan diastolik kurang atau sama dengan 90 mmHg

(2)

Tekanan darah perbatasan yaitu bila sistolik 141-149 dan diastolik 91-94 mmHg

(3)

Tekanan darah tinggi (hipertensi) yaitu bila sistolik lebih besar atau sama dengan 160 mmHg diastolik lebih besar atau sama dengan 95 mmHg

7

6.3

Klasifikasi Menurut JNC VI dan VII Tabel 4 Klasifikasi Hipertensi menurut JNC VI

Kategori Optimal Normal Normal Tinggi Hipertensi Stage I Hipertensi Stage II Hipertensi Stage III

Sistolik /= 110

Tabel 5 Klasifikasi Hipertensi menurut JNC VII Klasifikasi Normal Prehipertensi Stage 1 Stage 2 6.4 Fase diurnal Tekanan darah klinis tidak selalu sesuai dengan tekanan darah di luar klinik yang diukur dengan ABPM. Tekanan darah dapat diklasifikasikan menjadi normotension, white coat hypertension, masked hypertension, dan sustained hypertension tergantung pada tekanan darah klinis dan diluar klinis. Sistole 160 Diastole < 80 80 90 90 99 > 100

8

Gambar 1 Diagnosis terhadap white coat dan masked hypertension White coat hypertension merupakan kondisi dimana tekanan darah yang diukur di klinik hipertensif, sementara diukur di luar klinik normal pada pasien yang tidak dirawat hipertensi. White coat hypertension didefinisikan sebagai tekanan darah klinik rata-rata >140/90 mmHg dan tekanan darah di rumah ratarata 135/85 mmHg atau tekanan darah rata-rata 24 jam pada Ambulatory Blood Pressure Monitoring (ABPM) 130/80 mmHg White coat hypertension ditemukan pada 15-30% dari pasien hipertensi, dan frekuensinya meningkat pada orang beruisia lanjut. Resiko pasien white coat hypertension menjadi hipertensi tetap dan menjadi resiko penyakit kardiovaskular tergolong tinggi.

9

White Coat Hypertension pada dasar