LP Halusinasi

12
LAPORAN PENDAHULUAN I. Kasus (masalah utama) Halusinasi II. Proses terjadinya masalah 1. Pengertian Halusinasi adalah salah sau gejala gangguan jiwa di mana klien mengalami perubahan sensori persepsi, merasakan sensasi palsu berupa suara, penglihatan, pengecapan, perabaan, atau penghiduan. Klien merasakan stimulus yang sebetulnya tidak ada (Damaiyanti, 2008). Halusinasi adalah persepsi yang tanpa dijumpai adanya rangsangan dari luar. Walaupun tampak sebagai sesuatu yang khayal, halusinasi sebenarnya merupakan bagian dari kehidupan mental penderita yang teresepsi (Yosep, 2010). Halusinasi adalah perubahan dalam jumlah atau pola stimulus yang datang disertai gangguan respon yang kurang, berlebihan, atau distorsi terhadap stimulus tersebut (NANDA-I, 2012). 2. Rentang Respon Neurobiologis

description

LP Halusinasi

Transcript of LP Halusinasi

LAPORAN PENDAHULUAN

0. Kasus (masalah utama)

Halusinasi

0. Proses terjadinya masalah1. PengertianHalusinasi adalah salah sau gejala gangguan jiwa di mana klien mengalami perubahan sensori persepsi, merasakan sensasi palsu berupa suara, penglihatan, pengecapan, perabaan, atau penghiduan. Klien merasakan stimulus yang sebetulnya tidak ada (Damaiyanti, 2008).Halusinasi adalah persepsi yang tanpa dijumpai adanya rangsangan dari luar. Walaupun tampak sebagai sesuatu yang khayal, halusinasi sebenarnya merupakan bagian dari kehidupan mental penderita yang teresepsi (Yosep, 2010).Halusinasi adalah perubahan dalam jumlah atau pola stimulus yang datang disertai gangguan respon yang kurang, berlebihan, atau distorsi terhadap stimulus tersebut (NANDA-I, 2012).2. Rentang Respon Neurobiologis

Gambar 2.1 Rentang Respon Biologis (Stuart dan Sundeen, 1998)a. Respon adaptifRespon adaptif adalah respon yang dapat diterima oleh norma-norma sosial budaya yang berlaku. Dengan kata lain, individu tersebut dalam batas normal jika menghadapi suatu masalah dan akan dapat memecahkan masalah tersebut dengan respon yang adaptif seperti:1) Pikiran logis adalah pandangan yang mengarah pada kenyataan.2) Persepsi akurat adalah pandangan yang tepat pada kenyataan.3) Emosi konsisten dengan pengalaman yaitu perasaan yang timbul dari pengalaman ahli.4) Perilaku sosial adalah sikap dan tingkah laku yang masih dalam batas kewajaran.5) Hubungan sosial adalah proses suatu interaksi dengan orang lain dan lingkungan.b. Respon psikososialRespon psikososial meliputi:1) Proses pikir terganggu adalah proses pikir yang menimbulkan gangguan.2) Ilusi adalah miss interpretasi atau penilaian yang salah tentang penerapan yang benar-benar terjadi (objek nyata) karena rangsangan panca indera.3) Emosi berlebihan atau berkurang.4) Perilaku tidak biasa adalah sikap dan tingkah laku yang melebihi batas kewajaran.5) Menarik diri adalah percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain.c. Respon maladaptifRespon maladaptif adalah respon individu dalam menyelesaikan masalah yang menyimpang dari norma-norma sosial budaya dan lingkungan, adapun respon maladaptif meliputi:1) Kelainan pikiran adalah keyakinan yang secara kokoh dipertahankan walaupun tidak diyakini oleh orang lain dan bertentangan dengan kenyataan sosial.2) Halusinasi merupakan persepsi sensori yang salah atau persepsi eksternal yang tidak nyata atau tidak ada.3) Kerusakan proses emosi adalah perubahan sesuatu yang timbul dari hati.4) Perilaku tidak terorganisir merupakan suatu yang tidak teratur.5) Isolasi sosial adalah kondisi kesendirian yang dialami oleh individu dan diterima sebagai ketentuan oleh orang lain dan sebagai suatu kecelakaan yang negatif mengancam.

3. Jenis-jenis HalusinasiMenurut Yosep (2007) halusinasi terdiri dari delapan jenis. Penjeleasan secara detail mengenai karakteristik dari setiap jenis halusinasi adalah sebagai berikut:a. Halusinasi pendengaran (auditif, akustik)Paling sering dijumpai, dapat berupa bunyi mendenging atau suara bising yang tidak memiliki arti, tetapi lebih sering terdengar sebagai sebuah kata atau kalimat yang bermakna. Biasanya suara tersebut ditujukan pada penderita sehingga tidak jarang penderita bertengkar dan berdebat dengan suara-suara tersebut.b. Halusinasi penglihatan (visual, optik)Lebih sering terjadi pada keadaan delirium (penyakit organik). Biasanya sering muncul bersamaan dengan penurunan kesadaran, menimbulkan rasa takut akibat gambaran-gambaran yang mengerikan.c. Halusinasi penciuman (olfaktori)Halusinasi ini biasanya berupa mencium sesuatu bau tertentu dan dirasakan tidak enak, melambangkan rasa bersalah pada penderita. Bau dilambangkan sebagai pengalaman yang dianggap penderita sebagai suatu kombinasi moral.d. Halusinasi pengecapan (gustatorik)Walaupun jarang terjadi, biasanya bersamaan dengan halusinasi penciuman. Penderita merasa mengecap sesuatu. Halusinasi gastorik lebih jarang dari halusinasi gustatorik.e. Halusinasi perabaan (taktil)Merasa diraba, disentuh, ditiup, atau seperti ada ulat yang bergerak di bawah kulit. Terutama pada keadaan delirium toksis dan skizofrenia.f. Halusinasi seksual, ini termasuk halusinasi rabaPenderita merasa diraba dan diperkosa, sering pada skizofrenia dengan waham kebesaran terutama mengenai organ-organ.g. Halusinasi kinestetikPenderita merasa badannya bergerak-gerak dalam suatu ruang atau anggota badannya bergerak-gerak. Misalnya phantom phenomenon atau tungkai yang diamputasi selalu bergerak-gerak (phantom limb). Sering terjadi pada penderita skizofrenia dalam keadaan toksik tertentu akibat pemakaian obat tertentu.h. Halusinasi viseralTimbul perasaan tertentu di dalam tubuhnya.1) Depersonalisasi adalah perasaan aneh pada dirinya bahwa pribadinya sudah tidak seperti biasanya lagi serta tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Sering pada skizofrenia dan sindrom lobus parietalis. Misalnya sering merasa dirinya terpecah menjadi dua.2) Derealisasi adalah suatu perasaan aneh tentang lingkungannya yang tidak sesuai dengan kenyataan. Misalnya perasaan segala sesuatu yang dialaminya seperti dalam impian.4. Etiologia. Faktor predisposisiMenurut Yosep (2010), faktor predisposisi klien dengan halusinasi adalah:1) Faktor perkembanganTugas perkembangan klien terganggu misalnya rendahnya kontrol dan kehangatan keluarga yang menyebabkan klien tidak mampu mandiri sejak kecil, mudah frustasi, hilang percaya diri, dan lebih rentan terhadap stres.2) Faktor sosiokulturalSeseorang yang merasa tidak diterima oleh lingkungannya sejak bayi akan merasa disingkirkan, kesepian, dan tidak percaya pada lingkungannya.3) Faktor biologisMempunyai pengaruh terhadap terjadinya gangguan jiwa. Adanya stres yang berlebihan dialami oleh seseorang maka di dalam tubuh akan dihasilkan suatu zat yang dapat bersifat halusinogenik neurokimia. Akibat stres yang berkepanjangan dapat menyebabkan teraktivasinya neurotransmiter otak.4) Faktor psikologisTipe kepribadian lemah dan tidak bertanggung jawab mudah terjerumus pada penyalahgunaan zat adiktif. Hal ini berpengaruh pada ketidakmampuan klien dalam mengambil keputusan yang tepat demi masa depannya. Klien lebih memilih kesenangan sesaat dan lari dari alam nyata menuju alam khayal.5) Faktor genetik dan pola asuhPenelitian menunjukkan bahwa anak sehat yang diasuh oleh orang tua skizofrenia cenderung mengalami skizofrenia. Hasil studi menunjukkan bahwa faktor keluarga menunjukkan hubungan yang sangat berpengaruh terhadap penyakit ini.

b. Faktor presipitasi1) PerilakuRespon klien terhadap halusinasi dapat berupa curiga, ketakutan, perasaan tidak aman, gelisah, dan bingung, perilaku merusak diri, kurang perhatian, tidak mampu mengambil keputusan serta tidak dapat membedakan keadaan yang nyata dan tidak nyata. Menurut Rawlins dan Heacock (1993) mencoba memecahkan masalah halusinasi berlandaskan atas hakikat keberadaan seorang individu sebagai makhluk yang dibangun atas dasar unsur-unsur bio-psiko-sosio-spiritual sehingga halusinasi dapat dilihat dari 5 dimensi yaitu :a) Dimensi fisik Halusinasi dapat ditimbulkan oleh beberapa kondisi fisik seperti kelelahan yang luar biasa, penggunaan obat-obatan, demam hingga delirium, intoksikasi alkohol dan kesulitan untuk tidur dalam waktu yang lama.b) Dimensi emosional Perasaan cemas yang berlebihan atas dasar masalah yang tidak dapat diatasi merupakan penyebab halusinasi itu terjadi. Isi dari halusinasi dapat berupa perintah memaksa dan menakutkan. Klien tidak sanggup lagi menentang perintah tersebut hingga dengan kondisi tersebut klien berbuat sesuatu terhadap ketakutan tersebut.c) Dimensi intelektual Individu dengan halusinasi akan memperlihatkan adanya penurunan fungsi ego. Pada awalnya, halusinasi merupakan usaha dari ego sendiri untuk melawan impuls yang menekan, namun merupakan suatu hal yang menimbulkan kewaspadaan yang dapat mengambil seluruh perhatian klien dan tidak jarang akan mengontrol semua perilaku klien.d) Dimensi sosial Klien mengalami gangguan interaksi sosial dalam fase awal dan comforting, klien menganggap bahwa hidup bersosialisasi di alam nyata sangat membahayakan. Klien asyik dengan halusinasinya, seolah-olah ia merupakan tempat untuk memenuhi kebutuhan akan interaksi sosial, kontrol diri, dan harga diri yang tidak didapat di dunia nyata.

e) Dimensi spiritual Secara spiritual klien halusinasi mulai dengan kehampaan hidup, rutinitas tidak bermakna, hilangnya aktivitas ibadah aktivitas ibadah dan jarang berupaya secara spiritual untuk menyucikan diri. Irama sirkadiannya terganggu, karena ia sering tidur larut malam dan bangun sangat siang. Saat terbangun merasa hampa dan tidak jelas tujuan hidupnya. Ia sering memaki takdir tetapi lemah dalam upaya menjemput rezeki, menyalahkan lingkungan dan orang lain yang menyebabkan takdir memburuk.5. Tanda dan GejalaMenurut Hamid (2000), perilaku klien yang terkait dengan halusinasi adalah sebagai berikut:1) Berbicara, tersenyum, dan tertawa sendiri2) Menggerakkan bibir tanpa suara3) Pergerakan mata yang cepat4) Respon verbal yang lambat5) Menarik diri dari orang lain, berusaha untuk menghindari orang lain6) Tidak dapat membedakan yang nyata dan tidak nyata7) Sulit berhubungan dengan orang lain8) Ekspresi wajah tegang, mudah tersinggung, jengkel, dan marah9) Curiga dan bermusuhan10) Biasa mengalami disorientasi tempat, waktu, dan orang6. PsikopatologiPsikopatologi dari halusinasi belum diketahui. Banyak teori yang diajukan yang menekankan pentingnya faktor-faktor psikologis, fisiologis, dan lain-lain. Beberapa orang mengatakan bahwa situasi keamanan di otak normal dibombardir oleh aliran stimulus yang berasal dari tubuh dan dari luar tubuh. Jika masukan terganggu atau tidak ada sama sekali saat bertemu dalam keadaan normal atau patologis, materi berada dalam prasadar dapat unconscious atau dilepaskan dalam bentuk halusinasi. Pendapat lain mengatakan bahwa halusinasi dimulai dengan keinginan yang direpresi ke unconscious dan kemudian kepribadian rusak dan kerusakan pada realitas tingkat kekuatan keinginan sebelumnya diproyeksikan keluar dalam bentuk stimulus eksternal.

7. Tahapan HalusinasiStage I : Sleep disorderFase awal sebelum muncul halusinasi

Klien merasa banyak masalah, ingin menghindar dari lingkungan, takut diketahui orang lain bahwa dirinya banyak masalah. Masalah semakin sulit karena berbagai stresor terakumulasi. Support system klien kurang dan persepsi terhadap masalah buruk. Sulit tidur berlangsung secara terus-menerus sehingga terbiasa mengkhayal. Klien mengungkapkan lamunan-lamunan awal tersebut sebagai pemecahan masalah.

Stage II : Comforting Halusinasi secara umum ia terima sebagai sesuatu yang alamiPasien mengalami emosi yang berlanjut seperti adanya perasaan cemas, kesepian, perasaan berdosa, ketakutan, dan mencoba memusatkan pemikiran pada timbulnya kecemasan.Ia beranggapan bahwa pengalaman pikiran dan sensorinya dapat ia kontrol bila kecemasannya diatur, dalam tahap 2 ada kecenderungan klien merasa nyaman dengan halusinasinya.

Stage III : Condemning severe Secara umum, halusinasi sering mendatangi klienPengalaman sensori pasien menjadi sering datang dan mengalami bias, klien merasa tidak mampu lagi mengontrolnya dan mulai berupaya menjaga jarak antara dirinya dengan objek yang dipersepsikan klien mulai menarik diri dari orang lain dengan intensitas waktu yang lama.

Stage IV : Controlling severe Fungsi sensori menjadi tidak relevan dengan kenyataanKlien mencoba melawan suara-suara atau sensori abnormal yang datang. Klien dapat merasakan kesepian bila halusinasinya berakhir. Dari sini akan dimulai gangguan psikotik.

Stage V : Conquering panic Klien mengalami gangguan dalam menilai lingkungannyaPengalaman sensorinya terganggu, klien mulai merasa terancam dengan datangnya suara-suara terutama bila klien tidak dapat menuruti ancaman atau perintah yang ia dengar dari halusinasinya. Halusinasi dapat berlangsung selama minimal 4 jam atau seharian bila klien tidak mendapatkan komunikasi terapeutik. Pada tahap ini terjadi gangguan psikotik berat.

0. A. Pohon masalah

Risiko perilaku kekerasan

Effect

Gangguan persepsi sensori: Halusinasi

Core Problem

Isolasi sosial

Causa

DAFTAR PUSTAKA

Damaiyanti, M. 2008. Komunikasi Terapeutik dalam Praktik Keperawatan. Bandung: PT. Refika AditamaKeliat, Budi Anna. 2006. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa Edisi 2. Jakarta: EGC Kusumawati, F. 2010. Buku Ajar Keperawatan Jiwa.Jakarta: Salemba Medika.Stuart GW Sundeen. 2006.Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC.Videbeck, S. L. 2008.Buku Ajar Keperawatan Jiwa.Jakarta: EGCYosep, Iyus. 2007.Keperawatan Jiwa.Bandung: PT Refika AditamaYosep, Iyus. 2009.Keperawatan Jiwa.Bandung: PT Refika AditamaYosep, Iyus. 2010. Keperawatan Jiwa Edisi Revisi. Bandung: PT Refika Aditama.