Lapsus Gangguan Bipolar

download Lapsus Gangguan Bipolar

of 28

  • date post

    07-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    651
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Lapsus Gangguan Bipolar

LAPORAN PEMERIKSAAN PSIKIATRI

I.

IDENTITAS PASIEN Nama Usia : Ny M : 39 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan Alamat Pendidikan Agama Suku Status RMK II. : Jl Jafri zam-zam Gg karya RT 79 No 30 E : SMA Tamat : Islam : Banjar/Indonesia : Janda : 68 48 67

RIWAYAT PSIKIATRIK Autoanamnesa tanggal 27 Juni 2011 dengan pasien jam 12.00 WITA A. KELUHAN UTAMA Nyeri pada leher KELUHAN TAMBAHAN Sakit kepala,sulit tidur, tangan terasa dingin dan sering mengeluarkan air mata.

1

B. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG Awal bulan februari 2011 pasien mengalami perseteruan dengan kaka ipar karena kaka ipar sudah menghina ibu kandung pasien. Pada saat perseteruan emosi pasien makin meningkat dan tidak terkendali sehingga pasien memukul kaka ipar. Kejadian tersebut membuat pasien sangat membenci dan dendam terhadap kaka ipar. Kemudian pasien dengan kakak ipar saling memaafkan. Pasien sudah bisa memaafkan tetapi masih merasa dendam dengan kaka ipar. Pada saat bertemu dengan kaka ipar, pasien cuma bertegur sapa seperti biasa dan berusaha untuk menjauh, karena pasien sangat membenci dan kecewa karena sudah menghina ibu pasien. Kemarahan pasien tidak bisa diungkapkan sebab pasien memiliki sifat pendiam. Pada awal bulan maret pasien sering mengalami cemas dan susah tidur karena masih selalu memikirkan masalah perseteruannya dengan kakak ipar. Awal bulan Mei 2011 pasien mengalami muntah, sakit kepala, kepala terasa berputar, nyeri dibagian leher dan keluar darah dihidung (mimisan). Pada tanggal 3 mei 2011 pasien dibawa ke puskesmas karena terlihat pucat dan kaku pada tangan dan kaki, kemudian di puskesmas TD pasien 80/60 mmHg dan pasien hanya rawat jalan saja. Sorenya pasien merasa penyakitnya tambah parah dan tanggal 4 Mei 2011 pasien di rawat inap di RSUD ulin selama 11 hari. Selama di rawat inap pasien mengeluh nyeri tengkuk, jantung berdebar, nafsu makan penurun dan susah tidur. Setelah 11 hari dirawat pasien dibolehkan pulang dan rawat jalan. Selama rawat jalan

2

dibagian poli penyakit dalam pasien masih mengeluhkan nyeri dan terasa kaku dileher, sulit untuk digerakkan, mimisan masih ada walaupun sudah berkurang. Dari penyakit dalam menyarankan ke poli saraf. Di poli saraf pasien dikatakan nyeri kepala dan diberi obat penahan nyeri (asam mefenamat dan obat vitamin B complek), kemudian pasien kontrol lagi ke poli saraf karena tidak sembuh-sembuh nyeri dileher dan mengeluarkan air mata dengan sendirinya. Nyeri dilehernya membuat pasien menjadi susah tidur, pasien sering terbangun tengah malam sehingga dipagi hari membuat badan pasien menjadi lemas, lesu dan tidak ada gairah untuk bekerja. Rekan kerja pasien menyarankan untuk mengambil cuti buat beristirahat. Akhirnya pasien cuti selama seminggu, selama cuti kondisi pasien masih sama dan tidak ada perubahan. Pekerjaan pasien selain honor disekolah, pasien juga mengajar mengaji disore hari. Pasien sering kecewa, cemas, dan marah dengan anak muridnya karena anak didiknya tidak bisa terus dengan apa yang pasien ajarkan. Pasien juga sering kesal kepada anak muridnya kalau anak muridnya menanyakan kenapa pasien tidak kawin lagi. Pasien tidak bisa mengungkapkan kemarahannya, pasien hanya mendiamkan diri. Pasien mengatasi masalah ditempat yang sunyi dengan cara sholat dan menangis seorang diri, setelah pasien menangis pasie n merasa nyaman sebab beban yang diterimanya sudah mulai berkurang dan rasa sakit dileher menjadi berkurang. Awal Juni 2011 pasien mengaku kalau perasaannya senang dan pasien sering dimintai air yang

3

berisi doakan oleh para muridnya dan pasien mengaku kalau dirinya bisa meramalkan nasib seseorang dan ramlannya tersebut selalu terbukti. Tanggal 20 juni pasien datang ke poliklinik jiwa dengan keluhan nyeri pada leher dan bahu dan mendapat terapi sandepril, clobazam, alprazolam, aasam mefenamat dan vitamin B komplek. Tanggal 27 juni 2011 pasien datang ke kembali ke poliklinik jiwa dengan keluhan nyeri tengkuk yang tidak hilang. C. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU Pada awal Mei tahun 2006 sewaktu pasien mengurus sidang perceraiannya dengan suaminya, pasien sempat pingsan di pengadilan tidak sadarkan diri dan langsung dibawa ke RSUD ulin. Menurut pasien dirinya pingsan karena sangat sedih terhadap perkawinannya yang gagal. Di RSUD ulin dirawat selama 20 hari pada bulan Mei. Setelah keluar dari RS pasien tidak bisa berjalan dan pelor tidak bisa berbicara dan kemudian menjalani terapi reahabilitasi medik selama 8 bulan dari akhir bulan mei sampai januari 2007 dan akhirnya pasien dapat berjalan kembali. Setelah bercerai tahun 2007 pasien menjadi sering diam, murung dan sering mengeluh sakit kepala tiap bulan. Pada pertengahan 2007 pasien mulai bekerja mengajar di bagian laboratorium SMP 2 Banjarmasin sebagai pegawai honor. Pasien Tidak ada riwayat adanya gangguan jiwa sebelumnya, tidak ada riwayat kejang,tidak ada riwayat mengalami penurunan kesadaran dan tidak ada riwayat kecelakaan yang menyebabkan trauma kepala.

4

D. RIWAYAT KEHIDUPAN PRIBADI 1. Riwayat Perinatal Tidak didapatkan data yang cukup mendukung 2. Riwayat Masa Bayi ( 0 1,5 tahun ) = Trus vs Mistrust Tidak didapatkan data yang cukup mendukung 3. Riwayat Masa Kanak-Kanak (1,5-3 tahun ) = Autonomy vs Shame, Doubt Tidak didapatkan data yang cukup mendukung 4. Riwayat Masa Prasekolah ( 3 6 tahun ) = Initiative Vs Guilt Tidak didapatkan data yang cukup mendukung 5. Riwayat Masa Sekolah (6 12 tahun) = Industry vs Inferiority Tidak didapatkan data yang cukup mendukung 6. Riwayat Masa Remaja (12-20 tahun) = Identity vs Identity Confusion Pasien mengaku memiliki cukup teman dan cukup mudah bergaul. Pasien memiliki beberapa teman akrab dan tidak ada musuh. Pasien mengaku cukup tertutup pada orang lain dan sukar untuk mempercayai orang lain, pasien lebih suka menyendiri dan tidak suka berisik, namun tidak pendendam, tidak mudah tersinggung, tidak suka melawan, perasaanya tidak cepat berubah antara gembira dan sedih dan selera humornya baik. Pasien mampu mengekspresikan kehangatan maupun kelembutan. Pasien bukan orang yang suka mencari perhatian dan mengutamakan penampilan fisik dan bukan oang yang ragu -ragu dan kaku. Pasien orang yang mandiri tidak bergantung pada orang lain dan

5

tidak memiliki perhatian yang berlebihan terhadap dirinya. Pasien bukan orang yang mudah tegang dan takut atau menghindari aktivitas sosial. Pasien bisa bergaul dengan lingkungan social dan emosi cukup stabil dan tidak mudah marah. 7. Riwayat Masa Dewasa (21-40 tahun) = intimacy vs isolation Pasien mengaku memiliki banyak teman, nampaknya pasien telah cukup baik mengalami fase intimacy karena cukup terjalin persahabatan yang sehat dan memiliki relasi. 8. Riwayat pendidikan Pasien lancar mengikuti pendidikan di sekolah dari SD hingga SMA dan tidak pernah tinggal kelas. Setelah tamat SMA pasien bekerja di bank, kemudian setelah bekerja 3 tahun di bank pasien menikah sehingga pasien tidak melanjutkan lagi ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. 9. Riwayat pekerjaan Setelah tamat SMA pasien bekerja di bank, kemudian setelah menikah pasien berhenti bekerja. Pada pertengahan tahun 2007, pada usia 35 tahun pasien mulai bekerja lagi. Pasien bekerja di bagian laboratorium SMP Negeri 2 Banjarmasin. Pasien nampak menikmati pekerjaannya dan tidak ada masalah serta pasien mengajar mengaji di Tk Al-Quran sejak pertengahan tahun 2007

6

10. Riwayat perkawinan Pasien menikah pada umur 25 tahun, dengan sebelumnya didahului dengan pacaran. Awal rumah tangga hubungan pasien dengan suami harmonis kemudian setelah lahir anak pertama pasien sering bertengkar kecil dengan suaminya. Tahun 2007 pasien mengalami masalah dengan suami karena suami mempunyai istri muda. Pasien merasa marah karena sudah dikhianati oleh suami. Pasien tidak bisa mengeluarkan

kemarahannya dan hanya berdiam dengan menangis sendiri. Pasien memikirkan kalau keadaan ini semakin bertambah rumit, pasien membicarakan dengan suami kalau pasien tidak ingin diduakan dan suami harus memilih salah satu dari mereka, apapun keputusan dari suami pasien akan menerima. Suami memutuskan kalau dia memilih istri mudanya, akhirnya mereka bercerai dengan cara baik-baik. Pasien berusaha dengan ikhlas atas cobaan yang diberikan, rasa dendam dan benci baik pada suami maupun istri muda tidak ada. Suami bertanggung jawab dan masih membiayai anak-anak mereka. Hubungan sosial antara suami dan istri muda baik.

7

E. RIWAYAT KELUARGA Genogram : + +

+

Keterangan : : Penderita : Laki-laki : Perempuan Pasien adalah anak ke-5 dari 5 orang bersaudara. Tidak terdapat riwayat gangguan jiwa dalam keluarga pasien. F. RIWAYAT SITUASI SEKARANG Saat ini pasien tinggal dengan kedua anaknya. Dan ibu kandung pasien. Keluarga pasien memahami keadaan pasien dan selalu berusaha menolong pasien. G. PERSEPSI PASIEN TENTANG DIRI DAN LINGKUNGANNYA Pasien tidak merasa dirinya mengalami kelainan jiwa

8

III. STATUS MENTAL A. DESKRIPSI UMUM 1. Penampilan Seorang perempuan berperawakan sedang, kurus, kulit cokelat dan roman muka sesuai dengan umur. Pasien mengenakan pakaian terusan warna hijau motif bunga, kerudung warna biru serta pasien tampak berdandan dengan memakai lipstik merah. Pasien tampak rapi dan terawat. Saat ditanya oleh pemeriksa maka pasien segera menjawab dengan spontan, bersikap kooperatif dan selalu tersenyum.

Petikan wawancara dengan pasien tanggal 27 Juni 2011 pukul 12.00 WITA : Sepanjang autoanamnesis pasien tampak senang dan selalu tersenyum. Pasien selalu menjawab pertanyaan pemeriksa dengan berbicara lancar dan suara yang jelas dan tidak ragu-ragu. Sepanjang autoanamnesis pasien memandang pemeriksa dan selalu tersenyum kepada pemeiksa, Pasien mampu menjelaskan identitas diri dan mengenali orang lain yaitu pasien lain yang sedang menunggu untuk pemeriksaan. Pasien mampu mengenali tempat pasien berada yaitu di poliklinik jiwa di lantai dua dan pasien mampu meng