lapres titrasi pengendapan

of 23 /23
I. Judul Percobaan: Titrasi Pengendapan dan Aplikasi II. Tujuan Percobaan : 1 Membuat dan menentukan (standarisasi) larutan AgNO 3 2. Menentukan kadar Cl - dalam air kran III. Dasar Teori : Titrasi pengendapan merupakan titrasi yang melibatkan pembentukan endapan dan garam yang tidak mudah larut antara titran dan analit. Hal dasar yang diperlukan dalam titrasi jenis ini adalah pencapaian keseimbangan pembentukan yang cepat setiap kali titran ditambahkan pada analit, tidak hanya interferensi yang mengganggu titrasi dan titik akhir titrasi yang mudah diamati. Salah satu jenis titrasi pengendapan yang sudah lama dikenal adalah melibatkan reaksi pengendapan antara ion halida (Cl - , I - , Br - ) dengan ion perak Ag + . Titrasi ini biasanya disebut sebagai Argentometri yaitu titrasi penentuan analit yang berupa ion halida (pada umumnya) dengan menggunakan larutan standar perak nitrat AgNO 3. Titrasi Argentometri tidak hanya dapat digunakan untuk menentukan ion halida, akan tetapi juga dapat dipakai untuk mendapatkan atau menentukan merkaptan (thioalkohol), asam lemak, dan beberapa ion divalent seperti ion phospat (PO 4 ) 3- dan ion arsenat AsO 4 3- . Dasar reaksi titrasi pengendapan ialah terjadinya endapan pada reaksi antara zat analit dengan penitrasi, misalnya : Ag + + X - AgX (s) dimana X = halogen Ag + + CrO 4 - Ag 2 CrO 4(s) (merah bata)

Embed Size (px)

description

Titrasi Pengendapan

Transcript of lapres titrasi pengendapan

I. Judul Percobaan: Titrasi Pengendapan dan AplikasiII. Tujuan Percobaan : 1 Membuat dan menentukan (standarisasi) larutan AgNO3 2. Menentukan kadar Cl- dalam air kranIII. Dasar Teori:Titrasi pengendapan merupakan titrasi yang melibatkan pembentukan endapan dan garam yang tidak mudah larut antara titran dan analit. Hal dasar yang diperlukan dalam titrasi jenis ini adalah pencapaian keseimbangan pembentukan yang cepat setiap kali titran ditambahkan pada analit, tidak hanya interferensi yang mengganggu titrasi dan titik akhir titrasi yang mudah diamati.Salah satu jenis titrasi pengendapan yang sudah lama dikenal adalah melibatkan reaksi pengendapan antara ion halida (Cl-, I-, Br-) dengan ion perak Ag+. Titrasi ini biasanya disebut sebagai Argentometri yaitu titrasi penentuan analit yang berupa ion halida (pada umumnya) dengan menggunakan larutan standar perak nitrat AgNO3. Titrasi Argentometri tidak hanya dapat digunakan untuk menentukan ion halida, akan tetapi juga dapat dipakai untuk mendapatkan atau menentukan merkaptan (thioalkohol), asam lemak, dan beberapa ion divalent seperti ion phospat (PO4)3- dan ion arsenat AsO43-.Dasar reaksi titrasi pengendapan ialah terjadinya endapan pada reaksi antara zat analit dengan penitrasi, misalnya :Ag+ + X- AgX(s) dimana X = halogenAg+ + CrO4- Ag2CrO4(s)(merah bata)Ag+ + SCN- AgSCN(s)Fe3+ + SCN- FeSCN2+ (merah)Dasar titrasi Argentometri adalah pembentukan endapan yang tidak mudah larut antara titran dengan analit. Sebagai contoh yang banyak dipaki adalah titrasi penentuan NaCl dimana ion Ag+ dari titran akan bereaksi dengan ion Cl- dari analit membentuk garam yang tidak mudah larut AgCl.AgNO3(aq) + NaCl(aq) AgCl(s) + NaNO3(aq)Setelah semua ion klorida dalam analit habis maka kelebihan ion perak akan bereaksi dengan indikator. Indikatot yang dipakai biasanya adalah ion kromat CrO4-, dimana dengan indikator ini ion perak akan membentuk endapan berwarna coklat kemerahan sehingga titik akhir titrasi dapat diamati. Indikator lain yang bisa dipakai adalah tiosianida dan indikator adsorbsi. Berdasarkan jenis indikator dan teknik titrasi yang dipakai, maka titrasi Argentometri dapat dibedakan atas Argentometri dengan metode Mohr, Volhard, atau Fajans. a. Metode MohrYaitu pembentukan endapan bewarna . dalam metoda ini ion kromat bertindak sebagai indicator yang banyak digunakan untuk titrasi argentometri ion Klorida dan Bromida. Titrasi dalam metode ini ditandai dengan terbentuknya endapan merah bata dari perak kromat Ag2CrO4. Kelarutan perak kromat beberapa kali lebih besar daripada kelarutan perak klorida, akibatnya endapan perak klorida terbentuk lebih dulu dari perak kromat. Ekivalen Ag+ = ekivalen Cl- b. Metode VolhardYaitu pembentukan zat warna yang mudah larut. Metoda ini menggunakan standar tiosianat untuk menitrasi ion perak. Ag+ (aq) + SCN- (aq) AgSCN (s)Ion Besi (III) bertindak sebagai indicator yang menyebabkan larutan bewarna merah dengan sedikit kelebihan ion tiosianat. Dalam metode ini titrasi harus dilakukan dalam suasana asam untuk mencegah pengendapan Besi (II) hidroksida. Pada titik ekivalen :Jumlah ekivalen Ag+ sisa = jumlah ekivalen SCN-AtauJumlah ekivalen Ag+ total = jumlah ekivalen (Cl- + SCN-)c. Metode FajansYaitu dengan indicator absorbsi, yang bertindak sebagai indicator dalam metode ini adalah senyawa organic yang dapat diserap pada permukaan endapan yang terbentuk selama titrasi berlangsung. Syarat penggunaan indicator absorbs dengan baik, maka endapan dan indicator harus memiliki:a. Partikel endapan harus bersifat koloidb. Endapan harus menyerap secara kuat ionnya sendiric. Indicator zat harus berikatan kuat dengan ion yang telah diserap.d. pH larutan harus dijaga. Selain menggunakan jenis indikator di atas, maka kita juga dapat menggunakan metode potensiometri untuk menentukan titik ekivalen. Ketajaman titik ekivalen tergantung dari kelarutan endapan yang etrbentuk dari reaksi analit dan titran. Endapan dengan kelarutan yang kecil, akan menghasilkan kurva titrasi Argentometri yang memeiliki kecuraman yang tinggi, sehingga titik ekivalen agak sulit ditentukan. Hal ini analog dengan kurva titrasi antara asam kuat dan basa kuat dan antara asam lemah dengan basa kuat.Dalam aplikasi titrasi pengendapan dapat dilihat pada proses desinfeksi air yang sering menggunakan klor, karena harganya terjangkau dan mempunyai daya desinfektan selama beberapa jam setelah pembubuhan (residu klor). Selam proses tersebut, klor direduksi salama hingga menjadi klorida (Cl-) yang tidak mempunyai daya desinfektan, disampinh itu klor juga bereaksi dengan ammonia. Klor aktif dalam larutan dapat tersedia dalam keadaan bebas (Cl2, OCl-, HOCl) dan keadaan terikat (NH2Cl, NHCl2, NCl3). Klor terikat mempunyai daya desinfektan yang tidak seefisien klor bebas.

IV. Alat dan Bahan: Alat : 1. 2. Pipet seukuran 10mL1 buah 3. Buret1 buah4. Gelas kimia 250 mL1 buah5. Gelas kimia 100 mL1 buah6. Piknometer 25mL1 buah7. Labu Ukur 100 mL1 buah8. Erlenmeyer 250 mL3 buah9. Pipet tetes5 buah10. Spatula1 buah11. Gelas Ukur 50 mL1 buah12. Corong1 buah13. Statif dan klem1 buah

Bahan1. NaCl2. Air suling (aquades)3. AgNO34. Indikator K2CrO45. Air Kran di daerah Ketintang Baru

V. Alur kerja:Titrasi PengendapanPenentuan (Standarisasi) Larutan AgNO3 0,1 N dengan NaCl p.a Sebagai Baku

Dicatat volume larutan AgNO3 yang digunakan sebelum dan sesudah titrasiDititrasi ulang sampai 3 kaliDihitung konsentrasi AgNO3 rata-rataDititrasi dengan AgNO3pada buretDigunakan untuk membilas buretDiisikan ke dalam buretLarutan AgNO3Dipipet 10 mL dengan pipet seukuranDimasukkan ke dalam erlenmeyer 250 mLDitambah 10 mL aquades & 3 tetes indikator K2CrO4Ditimbang dengan teliti dalam botol timbangDipindahkan dalam labu ukur 100 mLDilarutkan dengan air sulingDiencerkan sampai tanda batas labuDikocok hingga terbentuk larutan homogen NaCl dan air suling 0,0549 g NaCl p.aLarutan baku NaCl p.aEndapan merah bataVolume & konsentrasi rata-rata AgNO3

Aplikasi Titrasi PengendapanPenentuan Kadal Cl dalam Air Kran

Diukur berat jenis air sumur dengan piknometerDicatat tempat pengambilan sampelDipipet 10 mL dengan pipet seukuranDiencerkan dalam labu ukur 100mL sampai tanda batasAir KranKadar rata rata Cl- di dalam air lautDicatat volume larutan AgNO3 yang digunakan saat sebelum dan sesudah titrasiDititrasi ulang sampai 3 kaliDihitung kadar Cl- rata rata dalam air lautDipipet 10mL dan dimasukkan erlenmeyerDitambah 3 tetes indikator K2CrO4 5%Dititrasi dengan AgNO3 yang ada pada buret yang telah distandarisasiAir kran yang telah diencerkanEndapan merah bata

VI. Data Pengamatan:Standarisasi

PerlakuanData Pengamatan

SebelumSesudah

NaCl p.a ditimbang0.0549 gram

Dipindah dalam labu ukur dan Dilarutkan dengan air suling sampai tanda batas dan di kocokBerupa Kristal putihLarutan NaCl p.a tidak bewarna

Larutan NaCl dipipet dengan pipet seukuran dan dimasukkan dalam Erlenmeyer 100 ml100 ml10 ml

Ditambah air suling 10 mlTidak bewarnaTidak bewarna

Ditambah 1 ml indicator K2CrO4indicator K2CrO4 : bewarna kuning (++)Bewarna kuning (+)

Dititrasi dengan larutan AgNO3Larutan AgNO3 : Tidak bewarnaTerdapat endapan merah bataV1 AgNO3 = 5.9 mLV2 AgNO3 = 6.0 mLV3 AgNO3 = 5.8 mLN1 = 0.0160 NN2 = 0.0155 NN3 = 0.0160 NN rata-rata = 0.0158 N

Aplikasi

PerlakuanData Pengamatan

SebelumSesudah

Air kran diukur berat jenisnya dengan piknometerAir kran : tidak bewarnaTempat pengambilan: ketintang baruMassa piknometer : 14.7730 grMassa piknometer+air kran: 39.9519 grMassa air kran: 25.1789 grVolume air : 25 mlBerat jenisnya :25.1789 gr / 25 ml = 1.0072 gr/ cm3

Dipipet 10 ml dan diencerkan dalam labu ukur 100 ml Tidak bewarna

Dipipet 10 ml dan ditambah 3 tetes indikator K2CrO4 5%indikator K2CrO4 5% = bewarna kuning (++)Bewarna kuning (+)

Dititrasi dengan larutan AgNO3Larutan AgNO3 : Tidak bewarnaTerdapat endapan merah bataV1 AgNO3 = 1.6 mLV2 AgNO3 = 1.8 mLV3 AgNO3 = 1.1 mLN1 = 0.0025 NN2 = 0.0012 NN3 = 0.0017 NN rata-rata = 0.0018Kadar Cl dalam air kran : 4.23 %

VII. Diskusi dan Pembahasan :Pada percobaan pertama yaitu penentuan (standarisasi) larutan AgNO3 dengan NaCl sebagai larutan baku, melibatkan reaksi pengendapan antara ion halida Cl- dengan ion perak Ag+. Langkah awal adalah membuat larutan baku NaCl dengan menimbang 0,0549 gram kristal NaCl yang berwarna putih. Kemudian dimasukkan gelas kimia 100mL dan ditambahkan 30mL air suling. Diaduk sampai menjadi larutan homogen dan dimasukkan labu ukur 100mL menggunakan corong kaca. Ditambahkan air suling sampai 1cm sebelum tanda batas. Kemudian ditambah air suling perlahan-lahan sampai tanda batas menggunakan pipet tetes. Setelah itu dikocok agar tercampur. Sehingga dihasilkan larutan baku NaCl yang tidak berwarna. NaCl(s) + H2O(l) NaCl(aq)Dipipet 10mL larutan baku NaCl dengan pipet seukuran 10mL dan dimasukkan dalam erlenmeyer 250mL. Kemudian ditambahkan 10mL air suling dan 1 mL indikator K2CrO4 yang berwarna kuning (++). Sehingga larutan yang semula tidak berwarna menjadi berwarna kuning (+). Selanjutnya dilakukan titrasi dengan larutan AgNO3 sampai terjadi perubahan warna dari kuning (+) menjadi merah bata. Hasil titrasi pertama, volume AgNO3 yang digunakan untuk mencapai titik akhir titrasi yaitu 5,9 mL. Selanjutnya titrasi diulang lagi sampai tiga kali dan dihasilkan volume AgNO3 yang digunakan pada percobaan kedua dan ketiga secara berturut-turut adalah 6,0 mL dan 5,8 mL. Sehingga diperoleh normalitas rata-rata AgNO3 sebesar 0,0158 N.AgNO3(aq) + NaCl(aq) AgCl(s) + NaNO3(aq) 2 AgCl(s) + K2CrO4(aq) Ag2CrO4(aq) + 2 KCl(aq)Pada percobaan kedua, aplikasi titrasi pengendapan menentukan kadar Cl dalam air kran. Langkah pertama yaitu diukur berat jenis air kran dengan menggunakan piknometer 25mL. Piknometer kosong ditimbang dengan menggunakan neraca analitis dan diperoleh berat piknometer kosong sebesar 14,7730 gram. Kemudian mengisi piknometer tersebut dengan air kran sampai penuh dengan tidak ada gelembung udara di dalamnya lalu piknometer ditutup. Setelah itu piknometer dan air kran ditimbang dengan menggunakan neraca analitis dan diperoleh berat piknometer dengan air kran sebesar 39,9519 gram. Sehingga diperoleh berat jenis untuk air kran adalah sebesar :

=

=

= 1,007 berdasarkan teori, massa air adalah sebesar 0,98 g/mL. Namun pada percobaan diperoleh massa jenis air kran sebesar 1,007 gr/mL. Selisih 0,027 g/mL. Tetapi hal ini dapat diabaikan karena selisihnya yang sangat kecil. Sehingga massa jenis air yang diperoleh dari percobaan ini sudah mendekati hasil teoritis yang ada. Air kran yang diambil dari Ketintang Baru, dipipet 10mL dan dimasukkan ke dalam labu ukur 100mL. Lalu diencerkan dengan air suling sampai 1 cm sebelum tanda batas. Lalu ditambahkan air suling perlahan-lahan dengan pipet tetes sampai tanda batas pada labu ukur. Dikocok sampai menjadi larutan yang homogen. Kemudian dipipet 10mL air kran yang telah diencerkan menggunakan pipet seukuran dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer. Ditambahkan lima tetes indikator K2CrO4 5% yang berwarna kuning (++). Larutan yang semula tidak berwarna menjadi berwarna kuning (+). Setelah itu dilakukan titrasi dengan larutan AgNO3 yang tidak berwarna. Dihentikan titrasi apabila terjadi perubahan warna larutan dari kuning (+) menjadi merah bata dan ada endapan merah bata. Pada percobaan pertama, volume AgNO3 yang digunakan untuk titrasi yaitu 1,6 mL. Selanjutnya diulang titrasi sampai tiga kali. Diperoleh volume AgNO3 yang digunakan untuk titrasi pada percobaan kedua dan ketiga secara berturut-turut adalah 1,8 mL dan 1,1 mL. Kemudian dihitung kadar rata-rata Cl dalam air kran. Diperoleh normalitas rata-rata air kran yaitu 0,0018 N dan kadar Cl dalam air kran sebesar 4,23 %.AgNO3(aq) + NaCl(aq) AgCl(s) + NaNO3(aq) 2 AgCl(s) + K2CrO4(aq) Ag2CrO4(aq) + 2 KCl(aq)

VIII. Kesimpulan:Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa:1. Normalitas rata-rata AgNO3 adalah 0,0158 N2. Kadar Cl dalam air kran yang diambil di Ketintang Baru adalah 4,23 %IX. Tugas dan Jawaban Pertanyaan :Titrasi pengendapan :1. Buatlah kurva titrasi antara volume AgNO3dan pCl untuk titrasi antara 50 ml 0,1 M larutan NaCl dengan larutan AgNO3 0,1 M 2. Berapa konsentrasi garam NaCl dalam suatu larutan, apabila 25 ml larutan tersebut jika direaksikan dengan 25ml.0,2 M larutan AgNO3 tepat bereaksi habis dengan larutan KSCN 28ml.0,1 MJawaban :1. Pada awal titrasi [Cl-] = 0,1 mmol/mLpCl = 1Setelah penambahan 10 mL AgNO3AgNO3 + NaCl AgCl + NaNO3M1 mmol 5 mmolB1 mmol 1 mmolS- 4 mmol

[Cl-] = pCl = - Log [Cl-] = 2- Log 6,67= 1.17Setelah penambahan 30 mL AgNO3AgNO3 + NaCl AgCl + NaNO3M3 mmol5 mmolB3 mmol3 mmolS-2 mmol

[Cl-] = pCl = - Log [Cl-] = - Log 0,025 = 1.6Setelah penambahan 49 mL AgNO3AgNO3 + NaCl AgCl + NaNO3M4,9 mmol5 mmolB4,9 mmol4,9 mmolS-0,1 mmol

[Cl-] = pCl = - Log [Cl-] = 3- Log 1= 3Setelah penambahan 50 mL AgNO3 (Titik ekivalen)AgNO3 + NaCl AgCl + NaNO3M5 mmol5 mmolB5 mmol5 mmolS-- [Ag+] = [Cl-][Cl-]2= 1 x 10-10

[Cl-]= = 1 x 10-5pCl= 5,00Setelah penambahan 55 mL AgNO3 (setelah titik ekivalen)AgNO3 + NaCl AgCl + NaNO3M5,5 mmol5 mmol B5 mmol5 mmol S0,5 mmol-

[Ag+] = pAg = - Log [Ag+] = 3 - Log 4.76 = 2.32pCl= 10 2.32 = 7.68

Setelah penambahan 60 mL AgNO3AgNO3 + NaCl AgCl + NaNO3M6,0 mmol5 mmolB5 mmol5 mmolS1 mmol

[Ag+] = pAg = - Log [Ag+] = 3 - Log 9,09= 2,04pCl= 10 2,04 = 7,96

2. mmol NaCl = 25x mmolmmol KSCN = 2,8 mmolmmol AgNO3 = 5 mmol

NaCl + AgNO3 AgCl+ Na NO3M 25x 5B 25x 25x 25x 25xS - 5 25x 25x 25xAgNO3 + KSCN AgSCN + KNO3M5 25x 2,8B 2,8 2,8 2,8 2,8S - - 2,8 2,8Konsentrasi garam NaCl :5 25x = 2,8 25x = 5 2,8 25x = 2,2 x = 2,2 25 = 0,088 MJadi Konsentrasi garam NaCl adalah 0,088 MAplikasi:1. Bagaimana cara memilih indikator pada titrasi argentometri ?2. Terangkan bagaimana suatu indikator adsorpsi bekerja. Apa fungsi dekstrin ? Mengapa pH harus dikendalikan ?

Jawaban:1. Pada titrasi argentometri ada tiga indikiator yang telah sukses dikembangkan selama ini, yaitu Metode Mohr menggunakan ion kromat, CrO42-, untuk mengendapkan Ag2CrO4 coklat. Metode Volhard menggunakan ion Fe3+ untuk membentuk sebuah kompleks yang berwarna dengan ion tiosianat, SCN-. Dan Metode Fajans menggunakan indikator-indikator adsorpsi. 2. a. Cara kerja indikator adsorpsi: indikator ini ialah asam lemah atau basa lemah organik yang dapat membentuk endapan dengan ion perak. Misalnya fluoresein yang digunakan dalam titrasi ion klorida. Dalam larutan, fluoresein akan mengion HFI H+ + FI-. Ion FI- inilah yang diserap oleh endapan AgX dan menyebabkan endapan berwarna merah muda. Karena penyerapan terjadi pada permukaan, dalam titrasi ini diusahakan agar permukaan endapan itu seluas mungkin supaya perubahan warna juga tampak sejelas mungkin, maka endapan harus berukuran koloid. Penyerapan terjadi apabila endapan yang koloid itu bermuatan positif, dengan perkataan lain setelah sedikit kelebihan titrant (ion Ag+).b) Dekstrin berfungsi untuk menjaga agar endapan tersebar luas c) Pengaturan pH perlu, karena jika pH yang digunakan terlalu tinggi, maka dapat membentuk endapan AgOH yang selanjutnya terurai menjadi Ag2O sehingga titrant terlalu banyak terpakai.

X. Daftar Pustaka:Day dan Underwood.1998.Analisis Kimia Kuantitatif.Jakarta: Erlangga.Hendayana,Sumar,dkk.2000. Kimia Analitik.Jakarta: Universitas Terbuka.Sodiq, Ibnu. 2004. Kimia Analitik. Malang: Universitas Negeri Malang.Tim Penyusun. 2013. Panduan praktikum Kimia Analitik I Dasar-Dasar Kimia Analitik. Surabaya: Jurusan Kimia FMIPA Unesa

LAMPIRAN

Titrasi Pengendapan

Sebelum titrasi : Larutan NaCl tidak berwarna

Setelah ditambah 3 tetes indikator K2CrO4 larutan menjadi kuning (+)

Setelah dilakukan titrasi dengan AgNO3 larutan menjadi berwarna merah bataLAMPIRAN PERHITUNGANa. Penentuan standarisasi larutan AgNO3 0,1 N dengan NaCl p.a sebagai bakuNaCl + AgNO3 AgCl + NaNO3Massa NaCl = 0,0549 grMr NaCl= 58,5V NaCl= 100 mL = 0.1 L

M NaCl = = N NaCl= M . n= 0,0093 x 1= 0,0093 NV AgNO3 = 1) 5.9 ml 2) 6.0 ml3) 5.8 ml

Percobaan 1Molek NaCl= Molek AgNO3N1V1= N2V20,0093 x 10= N2 x 5.9N2= 0,0160 NPercobaan 2Molek NaCl= Molek AgNO3N1V1= N2V20,0093 x 10= N2 x 6.0N2= 0,0155 NPercobaan 3Molek NaCl= Molek AgNO3N1V1= N2V20,0093 x 10= N2 x 5.8N2= 0,0160 N

Nrata-rata =

b. Penentuan kadar Cl- dalam air kranMassa piknometer = 14.7730 gramMassa piknometer dan air kran = 39.0519 gramMassa air kran= 25.1789 grVolume air kran= 25 mL

air kran = Ar Cl = 35.5N AgNO3 = 0.0158 NV AgNO3 = 1) 1.6 ml2) 0.8 ml3) 1.1 ml Percobaan 1molek AgNO3= molek air kran (Cl-)N1. V1= N2. V2 0,0158 x 1.6= N2 x 10N2= 0,0025 NPercobaan 2molek AgNO3= molek air kran (Cl-)N1. V1= N2. V2 0,0158 x 0.8= N2 x 10N2= 0,0012 N Percobaan 3molek AgNO3= molek air kran (Cl-)N1. V1= N2. V2 0,0158 x 1.1= N2 x 10N2= 0,0017 N

Nrata-rata =

Nrata-rata =

Massa Cl- = Massa Cl- = 0.0018 Nx 35.5 x 1.67 mL 1 = 0.1067 gr

% kadar Cl- = x faktor pengenceran x 100%

= x 10 x 100%= 4.23 %