Laporan Kasus (Scabies)

of 8/8
BAB 1 PENDAHULUAN Scabies adalah penyakit kulit menular yang disebabkan oleh  sarcoptes  scabei varian hominis yang penularannya terjadi secara kontak langsung (Harahap, 2000).  Nama Sarcoptes scabiei berasal dari bahasa Yunani “sarx” yang berarti daging dan “koptein” yang berarti irisan/potongan, ser ta da ri  bahasa Latin “scabere” yang berarti garukan (Hicks dan Elston, 2009). Penyakit ini dikenal juga dengan nama the itch , gudik, atau gatal agogo (Handoko, 2009). Skabies dapat diderita semua orang tanpa membedakan usia dan jenis kelamin, akan tetapi l ebih sering ditemukan pada anak -anak usia sekolah dan dewasa muda/remaja (Murtiastutik D., 2008). Hal ini sesuai dengan faktor  predisposisi pada anak usia sekolah yang memil iki kemungkinan pajanan di luar rumah lebih besar, begitu jug a dengan anak laki - laki y ang memiliki frekuensi kegiatan di luar rumah lebih banyak daripada anak perempuan (Tabri F., 2003). Skabies ditemukan di semua negara dengan prevalensi yang bervariasi (Handoko, 2009). Proporsi penyakit paling tinggi terdapat di negara-negara tropis. Kejadian skabies paling tinggi muncul pada kondisi tempat tinggal yang ramai, seperti kos dan asrama. Selain itu, imigrasi, higienitas yang buruk, status gizi buruk , tunawisma, demensia, dan kontak seksual juga berperan sebagai faktor predisposisi dalam penyebaran penyakit sk abies (Leo ne P.A., 200 7). Beberapa literatur melaporkan, skabies bisa menggambarkan sebuah ancaman di
  • date post

    13-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    705
  • download

    183

Embed Size (px)

description

Skabies

Transcript of Laporan Kasus (Scabies)

BAB 1PENDAHULUANScabies adalah penyakit kulit menular yang disebabkan oleh sarcoptes scabei varian hominis yang penularannya terjadi secara kontak langsung (Harahap, 2000). Nama Sarcoptes scabiei berasal dari bahasa Yunani sarx yang berarti daging dan koptein yang berarti irisan/potongan, serta dari bahasa Latin scabere yang berarti garukan (Hicks dan Elston, 2009). Penyakit ini dikenal juga dengan nama the itch , gudik, atau gatal agogo (Handoko, 2009). Skabies dapat diderita semua orang tanpa membedakan usia dan jenis kelamin, akan tetapi lebih sering ditemukan pada anak -anak usia sekolah dan dewasa muda/remaja (Murtiastutik D., 2008). Hal ini sesuai dengan faktor predisposisi pada anak usia sekolah yang memiliki kemungkinan pajanan di luar rumah lebih besar, begitu juga dengan anak laki - laki yang memiliki frekuensi kegiatan di luar rumah lebih banyak daripada anak perempuan (Tabri F., 2003).Skabies ditemukan di semua negara dengan prevalensi yang bervariasi (Handoko, 2009). Proporsi penyakit paling tinggi terdapat di negara-negara tropis. Kejadian skabies paling tinggi muncul pada kondisi tempat tinggal yang ramai, seperti kos dan asrama. Selain itu, imigrasi, higienitas yang buruk, status gizi buruk, tunawisma, demensia, dan kontak seksual juga berperan sebagai faktor predisposisi dalam penyebaran penyakit skabies (Leone P.A., 2007). Beberapa literatur melaporkan, skabies bisa menggambarkan sebuah ancaman di suatu institusi, seperti rumah sakit, penjara, taman kanak-kanak, panti jompo, dan fasilitas perawatan jangka panjang (Hicks dan Elston, 2009).Skabies menular dengan dua cara yaitu secara kontak langsung dan tidak langsung. Kontak langsung terjadi ketika adanya kontak dengan kulit penderita, misalnya berjabat tangan, tidur bersama, dan hubungan seksual. Sedangkan kontak tidak langsung melalui benda yang telah dipakai oleh penderita seperti pakaian, handuk, bantal, dan lain-lain (Handoko, 2009). Hal lain yang dapat mempermudah penyebaran adalah keadaan penyediaan air bersih yang jumlahnya kurang. Oleh sebab itu, skabies banyak didapat juga sewaktu terjadi peperanga (Slamet, 2009).Pasien yang menderita skabies butuh penjelasan tahap demi tahap dalam menggunakan terapi yang spesifik, dimana pada anggota keluarga yang tidak punya keluhan dan tidak mengalami kontak langsung dengan penderita juga membutuhkan pengobatan. Kemudian pasien perlu tahu bagaimana menjaga kebersihan lingkungannya dan juga termasuk mengelola pakaian, selimut, handuk, lantai, matras, tempat pakaian, dll (Wolf R, 2010).

BAB IILAPORAN KASUS SCABIES2.1. ANAMNESIS2.1.1. Identitas PasienNama : Ny. PUmur : 28 tahunAlamat : WeleriPekerjaan: Ibu rumah tangga2.1.2. Riwayat Penyakit Sekarang1. Keluhan utama : gatal, merah-merah2. Lokasi: sela jari pada kedua tangan, ketiak, perut3. Onset: 1 bulan4. Kualitas: keluhan tersebut mengganggu waktu istirahat / tidur5. Kuantitas: lesi semakin meluas 6. Kronologi : satu bulan yang lalu suami pasien baru pulang bekerja dari Malaysia dan sudah mengeluh gatal gatal serta kemerahan pada tubuhnya, setelah beberapa hari keluhan tersebut juga dialami oleh pasien dan anaknya dengan gejala yang serupa. Pada awalnya keluhan tersebut hanya timbul plenting-plenting (papul) kecil kemerahan yang gatal pada telapak tangan, lalu diikuti bercak bercak putih disekitar papul. Gatal lebih memberat pada malam hari. Beberapa hari kemudian papul kemerahan juga timbul di daerah ketiak dan perut. Akibat garukan, beberapa lesi berubah menjadi erosi.7. Faktor modifikasi Faktor yang memperingan : - Faktor yang memperberat : penderita merasa semakin gatal pada malam hari8. Gejala Lain: tidak ada2.1.3. Riwayat Penyakit DahuluPasien tidak pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya.2.1.4. Riwayat Penyakit KeluargaSuami pasien pernah mengalami keluhan serupa sepulangnya dari Malaysia.2.2. PEMERIKSAAN FISIK2.2.1. Status generalis :a. Keadaan umum: Baikb. Kesadaran : Komposmentisc. Status gizi : Baik

2.2.2. Status DermatologiGambar 2.1

Gambar 2.2

Lokasi 1 (Interdigitalis) : tampak papul eritem yang tersebar diskret, dengan bercak putih disekitarnyaLokasi II (Aksila) : tampak papul eritem yang tersebar diskret, dengan bercak putih disekitarnyaLokasi III (Abdomen) : tampak papul eritem yang tersebar diskret, dengan bercak putih disekitarnya2.3. PEMERIKSAAN PENUNJANGPada pasien ini tidak dilakukan pemeriksaan penunjang. Namun untuk lebih memastikan diagnosis kerja, usulan pemeriksaan penunjang yang dilakukan untuk menemukan tungau dengan beberapa cara, yaitu :1. Carilah mula-mula terowongan, kemudian pada ujung-ujung yang terlihat papul atau vesikel, dicongkel dengan jarum dan diletakkan di atas kaca objek, lalu ditutup dengan kaca penutup dan dilihat dengan mikroskop cahaya2. Dengan cara menyikat dengan sikat dan ditampung di atas selembar kertas putih, kemudian dilihat dengan kaca pembesar3. Dengan membuat biopsy irisan. Caranya : lesi dijepit dengan 2 jari, lalu dibuat irisan tipis dengan pisau dan diperiksa dengan mikroskop cahaya. 4. Dengan biopsi eksisional dan diperiksa dengan pewarnaan H.E.3.4. DIAGNOSIS BANDING1. Cutanues larva migrans 2. Prurigo3. Pediculosis corporis4. Dermatitis3.5. DIAGNOSIS KERJA Scabies3.6. TERAPITerapi yang diberikan pada kasus skabies pada pasien ini adalah krim scabimite 5% 30 gram, interhistin interbat 50 mg, dan desolex 0,05% 10 gram.R/ Krim scabimite 5% 30 gramS UE (1x1 malam hari) R/ Interhistin Interbat 50 mg No. XS 1.d.d. (jika gatal)R/ Desolex 0,05% 10 gramS UE (2x1) R/ Sabun sulfur No. IIS UE

3.6. PROGNOSISQuo ad vitam : ad bonamQuo ad sanam : dubia ad bonamQuo ad kosmetik : dubia ad bonam

BAB IIIPEMBAHASANDiagnosis skabies ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Dalam mendiagnosis penyakit skabies perlu diperhatikan 4 tanda cardinal yaitu,

BAB IVKESIMPULAN Pada anamnesis pasien mengeluhkan gatal pada kedua tangannya disertai kemerahan.