Laporan Anin B 18 Widia

Click here to load reader

  • date post

    31-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    58
  • download

    6

Embed Size (px)

Transcript of Laporan Anin B 18 Widia

LAPORAN PLENO TUTORIALANGKATAN 2010BLOK XVIII Kedokteran Komunitas dan Kesehatan MasyarakatSKENARIO B

Kelompok Tutorial 1:Tutor :dr. NAMANIM1. Jasika Lukita(702009009)2. Widia Warmi(702010002)3. Ardina Sovyana(702010003)4. Anin Kalma Perdani(702010009)5. Fredy Rizki(702010020)6. Nur Dianah Atikah Siregar(702010018)7. Alfina Rahmi(702010035)8. Ramona Fitri(702010039)9. Sigit Octariando(702010040)10. Winda Rolita Firda(702010043)11. Meitry Tiara Nanda(702010045)

FAKULTAS KEDOKTERANUNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALEMBANG2013KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan tutorial yang berjudul Laporan Tutorial Kasus Skenario B BLOK XVIII sebagai tugas kompetensi kelompok. Shalawat beriring salam selalu tercurah kepada junjungan kita, nabi besar Muhammad SAW beserta para keluarga, sahabat, dan pengikut-pengikutnya sampai akhir zaman.Penulis menyadari bahwa laporan tutorial ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna perbaikan di masa mendatang.Dalam penyelesaian laporan tutorial ini, penulis banyak mendapat bantuan, bimbingan dan saran. Pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan rasa hormt dan terima kasih kepada :1. Allah SWT, yang telah memberi kehidupan dengan sejuknya keimanan.1. Kedua orang tua yang selalu memberi dukungan materil maupun spiritual.1. dr. Yanti RositaM.Kes,selaku tutor kelompok 11. Teman-teman sejawat1. Semua pihak yang membantu penulis.Semoga Allah SWT memberikan balasan pahala atas segala amal yang diberikan kepada semua orang yang telah mendukung penulis dan semoga laporan turotial ini bermanfaat bagi kita dan perkembangan ilmu pengetahuan. Semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT. Amin.

Palembang, Mei 2013

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman Cover ........iKata Pengantar ....iiDaftar Isi ...iiiBAB I : Pendahuluan 0. Latar Belakang .......10. Maksud dan Tujuan .......1BAB II:Pembahasan2.1 Data Tutorial ...........22.2Skenario ..........22.3Seven Jump Step 42.3.1 Klarifikasi Istilah-Istilah .........42.3.2Identifikasi Permasalahan ......42.3.3Analisis Permasalahan ....................................62.3.4Hipotesis ..........262.3.5Learning Issue ......................................................................262.3.6Sintesis ................................................................................27DAFTAR PUSTAKA

BAB IPENDAHULUAN

1.1 Latar BelakangBlok Sistem Reproduksi adalah blok ketejuhbelas pada semester 6 dari Kurikulum Berbasis Kompetensi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang.Pada kesempatan ini dilaksanakan tutorial studi kasus skenario A yang memaparkan kasusMola Hidatidosa

1.2 Maksud dan TujuanAdapun maksud dan tujuan dari laporan tutorial studi kasus ini, yaitu :1. Sebagai laporan tugas kelompok tutorial yang merupakan bagian dari sistem pembelajaran KBK di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang.2. Dapat menyelesaikan kasus yang diberikan pada skenario dengan metode analisis dan pembelajaran diskusi kelompok.3. Tercapainya tujuan dari metode pembelajaran tutorial.

BAB IIPEMBAHASAN

2.1 Data TutorialLaporan Tutorial 1Skenario A

Tutor: dr. Ardhelia AninModerator: Sigit OctariandoSekretaris meja: Anin Kalma PerdaniSekretaris Papan: Fredi RizkyWaktu: Senin, 6 Mei 2013Rabu, 8 Mei 2013Rule tutorial: 1. Ponsel dalam keadaan nonaktif atau diam2. Tidak boleh membawa makanan dan minuman3. Angkat tangan bila ingin mengajukan pendapat4.Izin terlebih dahulu bila ingin keluar masuk ruangan

2.2 Skenario BDokter Putra, dokter Puskesmas Mawar, sudah dua kali menerima penderita Tb paru baru dewasa, dengan menggunakan International Standard Tb Care dan strategi DOTS yang direkomendasikan oleh WHO. Kedua penderita Tb tersebut diklasifikasikan sebagai penderita Tb baru dan sudah diobati dengan OAT kategori I.Saat ini kasus Tb paru diduga meningkat karena adanya infeksi HIV AIDS. Dokter Putra tidak ingin kasus Tb paru menyebar, sehingga ia akan mengkaji dengan pendekatan epidemiologi. Dari hasil analisis epidemiologi, dokter Putra berencana melakukan upaya pencegahan dan penanggulangan Tb paru di komunitas tersebut. Untuk menjamin keberhasilan penanggulangan penyakit Tb paru, dokter Putra menyelenggarakan surveilans penyakit Tb paru.

2.3 Seven Jump Steps2.3.1 Klarifikasi Istilah1. Tb paru : 2. OAT : 3. Strategi DOTS : Strategi paling cost efektif untuk memberantas TB4. HIV AIDS :5. Epidemiologi : ilmu yang mempelajari distribusi dan determinan atau penyimpangan dalam suatu masalah kesehatan untuk pencegahan dan penanggulangan suatu masalah kesehatan6. Surveilans : proses pemantauan yang berkesinambungan terhadap distribusi dan kecenderungan suatu insiden7. Upaya pencegahan :8. Penanggulangan : upaya yang dilaksanakan untuk mencegah, menghadapi, dan mengatasi suatu masalah 9. Komunitas : sekelompok yang hidup dan saling berinteraksi dalam suatu wilayah tertentu10. International standard Tb : penanganan, perawatan, dan diagnosis penyakit TBC dengan menggunakan standard internasional

2.3.2 Identifikasi Masalah1. Dokter Putra, dokter Puskesmas Mawar, sudah dua kali menerima penderita Tb paru baru dewasa .2. Dengan menggunakan International Standard Tb Care dan strategi DOTS yang direkomendasikan oleh WHO. Kedua penderita Tb tersebut diklasifikasikan sebagai penderita Tb baru dan sudah diobati dengan OAT kategori I.3. Saat ini kasus Tb paru diduga meningkat karena adanya infeksi HIV AIDS.4. Dokter Putra tidak ingin kasus Tb paru menyebar, sehingga ia akan mengkaji dengan pendekatan epidemiologi.5. Dari hasil analisis epidemiologi, dokter Putra berencana melakukan upaya pencegahan dan penanggulangan Tb paru di komunitas tersebut.6. Dokter Putra menyelenggarakan surveilans penyakit Tb paru untuk menjamin keberhasilan penanggulangan.

2.3.3 Analisis Masalah1. a. Apa saja tugas dokter puskesmas ? 1 2 3b. apa yang dilakukan puskesmas jika mendapatkan penderita Tb paru dewasa ? 4 5 6c. apa yang dimaksud dengan penderita Tb paru baru dewasa ? 7 9 111. Kasus Baru adalah pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu)

d. berapa incidence rate Tb paru di indonesia 5 tahun terakhir ? 1 2 3 Insiden :Berdasarkan data World Health Organization (WHO) tahun 2009, Indonesia menempati urutan ke lima untuk insidensi kasus TB di dunia, lima negara dengan insidensi kasus TB terbanyak adalah India (1.62.4 juta), Cina (1.11.5 juta), Afrika Selatan (0.400.59 juta), Nigeria (0.370.55 juta) dan Indonesia (0.340.52 juta).Indonesia 584.000 kasus dan 88.000 kematian/thn Penyebab kematian ketiga tertinggi Penyebab kematian penyakit infeksi tertinggi Sumatra Selatan 17.106 kasus baru pertahun 5.987 kematian pertahun 16 perhari

Penyakit TBC dapat menyerang siapa saja (tua, muda, laki-laki, perempuan, miskin, atau kaya) dan dimana sajaOkeTB paru sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia, berdasarkan laporan tahun 2009 Indonesia menduduki tempat ketiga sebagai penyumbang kasus tuberculosis enam belas negara di dunia. Berdasarkan hasil survey kesehatan rumah tangga tahun 2010, penyakit TB paru merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan pada semua kelompok usia dan nomor satu dari golongan penyakit infeksi. Diperkirakan setiap tahun 450.000 kasus baru TB paru dimana sekitar 1/3 penderita di puskesmas 113 ditemukan pelayanan rumah sakit, klinik pemerintahan swasta, praktek swasta dan sisanya belum terjangkau unit pelayanan kesehatan. Sedangkan kematian karena TB diperkirakan 175.000/tahun (http://www.infeksi.com.2011). Indonesia berada pada tingkat ke-3 terbesar didunia dalam jumlah penderita Tuberkulosis(TB),setelah India dan Cina. Sedangkan prevalensi untuk semua kasus TBC diperkirakan sebanyak 565.614 atau 244/100.000 penduduk.Angka kematian karena TBC diperkirakan 91.368 per tahun atau setiap hari 250 orang meninggal karena TB. (Depkes RI, 2010). Pada tahun 2010 menteri kesehatan Indonesia dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH,Dr.PH(alm). menyatakan bahwa peringkat Indonesia dari negara ke-3 di dunia penyumbang kasus TBC terbanyak turun menjadi peringkat ke-5. Berdasarkan Global Report TBCWHO tahun 2010, Prevalensi TBC di Indonesia adalah 285 per 100.000 penduduk, sedangkan angka kematian TBC telah turun menjadi 27 per 100.000 penduduk. Artinya, target MDGs untuk angka prevalensi TBC diharapkan akan tercapai pada 2015. (Depkes RI, 2011).

Penyakit Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit infeksi kronis menular yang masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di dunia termasuk Indonesia. The World Health Organization (WHO) dalam Annual report on global TB Control 2003 menyatakan terdapat 22 negara dikategorikan sebagai high-burden countries terhadap TBC. Indonesia termasuk peringkat ketiga setelah India dan China dalam menyumbang jumlah kasus TBC di dunia. Estimasi angka insidens TBC di Indonesia berdasarkan pemeriksaan sputum (basil tahan asam/ BTA positif) adalah 128 per 100.000 untuk tahun 2003, sedangkan untuk tahun yang sama estimasi prevalensi TBC adalah 295 per 100.000 (WHO, 2005).Berdasarkan sistem pencatatan dan pelaporan tersebut diperkirakan program TBC telah mencapai angka penemuan kasus (Case Detection Rate/ CDR) sebesar 33 persen (2003) dan angka kesembuhan (Cure Rate) dengan DOTS (Directly Observed Treatment of Short-course) sebesar 86 persen untuk tahun 2002 (WHO, 2005). Dengan CDR yang masih rendah maka proporsi lebih besar dari kasus TBC belum tertangani. Oleh karena itu, survei Prevalensi TBC diharapkan mampu memberikan dukungan informasi terhadap permasalahan TBC di Indonesia antara lain dengan menetapkan angka prevalensi TBC, memberikan gambaran keragaman di berbagai daerah, serta memberikan gambaran pengetahuan, sikap dan praktek mengenai TBC di masyarakat.Survei Prevalensi Tuberkulosis (SP TBC) 2004 merupakan bentuk Client Oriented Research Activity (CORA), yang diselenggarakan oleh Badan Litbangkes (Sekretariat Surkesnas) yang sejak awal telah melibatkan klien utama Ditjen Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (Ditjen P2MPL). SPTBC 2004 merupakan bentuk piggy backed survey yang diintegrasikan dengan penyelenggaraan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2004 yang juga terintegrasi dengan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2004.Survei mencakup 30 provinsi di Indonesia. Sampel Survei Prevalensi TBC direncanakan mencakup 20.000 rumah tangga dari 1250 blok sensus terpilih untuk Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2004. Seluruh blok sensus tersebut merupakan sub sampel Modul Survei Sosial Ekonomi Nasional 2004. Diperkirakan survey Prevalensi TBC akan mencakup 86.000 individu, (perkiraan rata-rata 4,3 individu per RT) dan sekitar 61.318 individu usia 15 tahun akan diwawancarai (skrining) untuk mengidentifikasi suspek TBC sebagai subyek pengambilan sputum. Pada kenyataanya, tidak seluruh 20.000 rumah tangga yang semula direncanakan berhasil dikunjungi. Sebanyak 92 persen rumah tangga berhasil dikunjungi dan 89 persen anggota rumah tangga berusia 15 tahun (sebagai suspek skrining dan individu riwayat TB) serta 86 persen anggota rumah tangga usia < 15 thn berhasil diidentifikasi.Survei Prevalensi TBC pada dasarnya adalah pemeriksaan sputum BTA dengan mikroskopik dan kultur dari sampel sputum penduduk umur 15 tahun yang diidentifikasi sebagai suspek TBC (subjek studi). Suspek TBC paru didefinisikan sebagai ART yang menderita batuk berdahak atau batuk berdarah dalam waktu satu bulan terakhir. Untuk survei ini sekitar 45 persen sampel sputum merupakan sampel kultur yang mencakup 11 provinsi (Sumatera Utara, Sumatera Selatan, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Bali, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Selatan), dengan mempertimbangkan kemudahan transportasi dan kemampuan Balai Laboratorium Kesehatan (BLK) setempat.Hasil temuan SP TBC 2004 memberikan estimasi prevalensi TBC berdasarkan pemeriksaan mikroskopik BTA positif sebesar 104 per 100.000 dengan selang kepercayaan 95% yaitu 66 142 per 100.000. Prevalensi TBC di Jawa Bali (59 per 100.000) jauh lebih rendah dibanding luar Jawa Bali (174 per 100.000). Prevalensi TBC di KTI (189 per 100.000) lebih tinggi dibanding kawasan Sumatera (160 per 100.000). Berdasarkan kultur yang dilakukan di 11 provinsi (45 persen sampel) diperkirakan prevalensi TBC (definite case) sebesar 186 per 100.000. Dibandingkan dengan hasil perkiraan prevalensi TBC BTA positif di 11 provinsi tersebut (100 per 100.000), kultur memberikan faktor koreksi sebesar 1,85 kali.Dengan mempertimbangkan riwayat TBC pada ART yang berumur 15 tahun, dua alternatif penghitungan Duration of Illness dilakukan. Alternatif pertama menghasilkan estimasi DOI nasional pada kelompok penderita TBC yang menyelesaikan pengobatan minimal 3 bulan, dengan asumsi dalam periode pengobatan tersebut penderita TBC mencapai status BTA negatif. Estimasi DOI Nasional adalah 0,95 tahun, untuk Jawa-Bali sebesar 0,93 tahun, dan 1,02 tahun untuk daerah luar Jawa-Bali. Perhitungan DOI ini lebih lanjut dipergunakan untuk menghitung angka insidens, yang adalah 109 per 100.000 untuk nasional; 63 per 100.000 untuk Jawa-Bali dan 171 per 100.000 di kawasan luar Jawa-Bali.Alternatif kedua penghitungan DOI mengestimasi nilai DOI nasional pada kelompok penderita TBC yang menyelesaikan pengobatan minimal 4 bulan. Estimasi DOI Nasional adalah 1,08 tahun, kawasan Jawa-Bali 1,05 tahun, dan kawasan luar Jawa-Bali 1,16 tahun. Angka DOI yang diperoleh ini menghasilkan angka insidens sebesar 96 per 100.000 untuk Indonesia, 56 per 100.000 Jawa-Bali dan 150 per 100.000 untuk kawasan luar Jawa-Bali. Alternatif kedua menampilkan angka prevalensi dan insidens yang lebih mendekati kenyataan karena didapatkan angka insidens lebih rendah dibandingkan prevalensi. Sedangkan hasil perhitungan alternatif pertama yang memberikan angka insidens lebih tinggi dari angka prevalensi hanya ditemui di negara sangat maju.Dengan mempertimbangkan sensitivitas dari pendekatan survei dalam mengidentifikasikan suspek dan kasus positif TBC, kontribusi populasi yang berusia < 15 tahun dan jumlah definite cases yang diperoleh melalui pemeriksaan kultur, faktor koreksi 91/80 diperlukan untuk memperkirakan dengan lebih akurat angka prevalensi dan insidens TBC. Berdasarkan alternatif perhitungan kedua, yang dianggap mendekati kenyataan angka prevalensi dan angka insidens yang telah dikoreksi masing-masing menjadi 119 per 100.000 dan 110 per 100.000. Di kawasan Jawa-Bali, angka prevalensi dan angka insidens yang telah dikoreksi adalah masing-masing 67 per 100.000 dan 62 per 100.000. Di kawasan luar Jawa-Bali, angka prevalensi menjadi 198 per 100.000, dan angka insidens menjadi 172 per 100.000.Case Detection Rate (CDR) nasional di tahun 2004 dapat dihitung berdasarkan angka Case Notification Rate (CNR) sebesar 59,6 per 100.000. Dengan angka koreksi insidens nasional sebesar 110 per 100.000, CDR menjadi 54 persen. Bila angka insidens tanpa dikoreksi digunakan (96 per 100.000), CDR menjadi lebih tinggi (62 persen).Dari mereka yang didiagnosis TBC, pemeriksaan foto Rontgen paru (76 persen) lebih banyak dipakai sebagai konfirmasi diagnosis dibandingkan pemeriksaan sputum (55 persen). Apabila pemeriksaan sputum dijadikan sebagai standar untuk konfirmasi diagnosis, hasil pemeriksaan foto Rontgen paru akan memberikan jumlah kasus TBC yang lebih tinggi (overestimation) dalam masyarakat.Pengetahuan mengenai TBC di masyarakat masih rendah. Dari mereka yang menyatakan tahu cara penularan TBC, hanya 11 persen yang menjawab dengan benar. Dari mereka yang menyatakan tahu gejala dan tanda penyakit TBC, hanya 26 persen yang menjawab dengan betul. Proporsi kecil dari masyarakat (19 persen) yang mengetahui adanya pemberian obat anti TBC gratis. Riwayat pernah diobati anti TBC pada anak usia