Guidelines Penentuan Denda Admin ? Web view2014-02-05 · Paradigma SCP dikembangkan oleh Profesor...

download Guidelines Penentuan Denda Admin ? Web view2014-02-05 · Paradigma SCP dikembangkan oleh Profesor Manson

of 40

  • date post

    20-Aug-2018
  • Category

    Documents

  • view

    213
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Guidelines Penentuan Denda Admin ? Web view2014-02-05 · Paradigma SCP dikembangkan oleh Profesor...

Guidelines Penentuan Denda Administrasi

Guidelines Penentuan Denda Administrasi

Bagi Pelanggar Undang-Undang No: 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli

dan Persaingan Usaha Tidak Sehat

I. Struktur Pasar dan Inefisiensi

Struktur pasar yang tidak kompetitif merupakan sumber pemicu distorsi pasar sehingga menciptakan pasar yang tidak efisien. Struktur pasar monopoli, duopoli, dan oligopoli adalah contoh struktur pasar yang tidak kompetitif.

Pengaruh struktur pasar terhadap perilaku perusahaan, serta kinerja pasar dapat dianalisis melalui pendekatan Stucture-Conduct-Performance (SPC). Paradigma SCP dikembangkan oleh Profesor Manson dan Bain pada tahun 1940 dan 1950. Hipotesis yang dikembangkan dalam teori ini adalah adanya hubungan langsung antara struktur pasar dengan perilaku dan kinerja pasar. Dalam sebuah pasar persaingan sempurna, kinerja yang dihasilkannya-pun akan efisien karena tingkat harga yang terbentuk sama dengan biaya marjinalnya. Dalam jangka panjang perusahaan yang tidak efisien harus keluar dari pasar karena dalam jangka panjang laba ekonomi sama dengan nol. Dalam pasar monopoli, harga yang terbentuk lebih tinggi daripada biaya marjinalnya sehingga dalam jangka panjang perusahaan yang tidak efisien tetap bisa bertahan dalam pasar.

Diagram di bawah ini akan menjelaskan hubungan antara struktur, perilaku, dan kinerja sebuah pasar. Garis panah di sebelah kiri menunjukkan hubungan dasar dimana karakteristik pasar menentukan struktur pasar yang terbentuk. Struktur pasar ini akan mempengaruhi perilaku pasar dan akhirnya perilaku pasar akan mempengaruhi kinerja pasar tersebut. Sedangkan panah sebelah kanan menunjukkan pengaruh kebijakan pemerintah pada struktur, perilaku, maupun kinerja pasar tersebut.

Gambar 1

Struktur, Perilaku, dan Kinerja sebuah Pasar

(Structure Conduct Performance Approach)

(

)

M

PC

M

M

Q

P

Q

P

-

=

2

/

1

D

D

+

=

D

D

+

=

Q

P

P

Q

P

Q

P

Q

P

MR

1

Q

P

P

Q

e

D

D

D

=

-

=

+

=

D

D

e

P

e

P

MR

1

1

1

1

Elasticity

Q

P

S

P

P

P

P

P

P

r

S

r

DWL

QP

PC

PC

M

PC

M

M

PC

M

QP

=

=

-

=

-

=

-

=

e

e

.

2

1

Elasticity

Q

P

S

P

P

P

P

P

P

r

S

r

DWL

QP

PC

PC

M

PC

M

M

PC

M

QP

=

=

-

=

-

=

-

=

e

e

.

2

1

D

D

+

=

D

D

+

=

Q

P

P

Q

P

Q

P

Q

P

MR

1

Q

P

P

Q

e

D

D

D

=

-

=

+

=

D

D

e

P

e

P

MR

1

1

1

1

Elasticity

Q

P

S

P

P

P

P

P

P

r

S

r

DWL

QP

PC

PC

M

PC

M

M

PC

M

QP

=

=

-

=

-

=

-

=

e

e

.

2

1

1. Struktur Pasar Monopoli

A. Hubungan antara Penerimaan Marjinal dengan Tingkat Harga

Monopolis adalah penjual tunggal dari sebuah produk yang tidak memiliki subtitusi. Dengan demikian, perusahaan monopoli menghadapi kurva permintaan pasar karena hanya dialah pemasok dalam pasar tersebut. Kurva permintaan pasar memiliki slope negatif sehingga seorang monopoli dapat beroperasi pada titik manapun di sepanjang kurva. Dia bisa menjual sedikit produk dengan harga yang tinggi atau menjual produk lebih banyak dengan harga yang lebih rendah.

Perusahaan monopoli seperti juga pelaku usaha yang lain akan memilih tingkat produksi yang memaksimumkan labanya yaitu saat penerimaan marjinal sama dengan biaya marjinal. Tidak seperti perusahaan yang beroperasi pada pasar persaingan sempurna, pada pasar monopoli tingkat harga tidak sama dengan penerimaan marjinal-nya. Hal tersebut dikarenakan perusahaan monopoli menghadapi kurva permintaan yang berslope negatif sehingga cara untuk menjual tambahan satu unit produk adalah dengan menurunkan harga seluruh produk yang dijualnya. Walaupun kebijakan ini akan meningkatkan jumlah penerimaan dari peningkatan jumlah output yang dijual akan tetapi perusahaan juga menghadapi pengurangan penerimaan karena penurunan harga produk yang sebelumnya dijual pada tingkat harga yang lebih tinggi.

Gambar 2

Kurva Permintaan Monopolis

Harga (P)

P1 A

Loss

P2 C B Kurva Permintaan

Gain

0 Q1 Q1+1 Kuantitas (Q)

Dari gambar di atas dapat kita lihat trade off yang dihadapi oleh seorang monopolis. Pada harga sebesar P1 maka kuantitas produk yang dijual adalah Q1 sehingga penerimaan total yang didapat adalah 0P1AQ1. Untuk menjual produk sebanyak Q1+1 maka monopolis harus menurunkan harga menjadi P2 sehingga penerimaan total monopolis menjadi 0P2BQ1+1. Karena perusahaan menurunkan harga untuk menjual produk dalam jumlah yang lebih banyak maka perusahaan akan rugi sebesar P1ACP2 , akan tetapi perusahaan juga memperoleh tambahan penerimaan sebesar Q1CBQ1+1. Dengan demikian, besarnya penerimaan marjinal selalu lebih kecil dari harga.

Dan karena

Maka

Dimana eD adalah elastisitas permintaan dan MR adalah penerimaan marjinal. Dengan demikian dalam grafik, kurva penerimaan marjinal berada di bawah kurva permintaan pasar. Dimana keduanya memiliki intercept yang sama tetapi kurva penerimaan marjinal memiliki slope dua kali lebih besar daripada kurva permintaan.

Gambar 3

Kurva Permintaan, Kurva Biaya Marjinal (MC)

dan Kurva Penerimaan Marjinal (MR) Pasar Monopoli

Harga (P)

MC

PM

Kurva Permintaan

MR

0 QM Kuantitas (Q)

Hal utama yang menjadi perhatian dalam sebuah pasar dengan struktur monopoli adalah terjadinya misalokasi sumber daya. Hal tersebut dikarenakan monopolis menjual output pada tingkat tertentu di mana harga yang terbentuk tidak sama dengan biaya marjinalnya. Dengan kata lain monopoli selalu melakukan alokasi sumber daya yang tidak efisien.

Gambar 4

Perbandingan Struktur Pasar Persaingan Sempurna

Dengan Struktur Pasar Monopoli

Harga (P)

A

E D

PM

PPC LRMC=LRAC

C F B Kurva Permintaan

MR

0 QM QPC Kuantitas (Q)

Gambar di atas berusaha membandingkan struktur pasar persaingan sempurna dengan struktur pasar monopoli di mana diasumsikan bahwa tingkat biaya pada kedua pasar adalah sama.

Pada struktur pasar persaingan sempurna, kuantitas produk yang dijual sebesar QPC pada tingkat harga sebesar PPC sehingga menghasilkan surplus konsumen sebesar ABC. Sedangkan pada struktur pasar monopoli, pada tingkat harga sebesar PM maka kuantitas produk yang dijual adalah QPM. Surplus konsumen yang terbentuk pada struktur pasar ini adalah ADE atau lebih kecil daripada surplus konsumen pada pasar persaingan sempurna. Perbedaan antara surplus konsumen pasar persaingan sempurna dengan pasar monopoli besarnya adalah CEDB. Area tersebut bisa kita pecah menjadi dua yaitu CEDF dan segitiga DBF. Area pertama adalah keuntungan perusahaan monopoli yang ditransfer dari keuntungan konsumen. Hal tersebut tidak bisa dipandang sebagai kerugian sosial tetapi lebih pada masalah distribusi pendapatan. Sedangkan area segitiga DBF atau disebut segitiga Dead weight loss adalah ukuran misalokasi sumber daya yang terjadi pada pasar monopoli. Penyebabnya adalah perusahaan monopoli memproduksi produk dengan harga yang lebih tinggi dari biaya marjinalnya sehingga monopoli menghasilkan produk dengan kuantitas yang lebih kecil daripada yang seharusnya.

Dengan demikian, masalah yang timbul dari struktur pasar monopoli diakibatkan oleh harga monopoli yang lebih besar dari biaya marjinalnya sehingga konsumen bersedia untuk membayar lebih besar dari biaya marjinalnya untuk penambahan satu unit output.

B. Market Power dan Dead Weight Loss (DWL)

Berapakah besarnya kerugian yang diakibatkan oleh misalokasi sumber daya karena market power yang dimiliki oleh sebuah perusahaan. Ekonom pertama yang menghitung besarnya Dead weight loss (DWL) ini adalah