Guidelines Kotatua

download Guidelines Kotatua

of 50

  • date post

    17-Nov-2015
  • Category

    Documents

  • view

    3
  • download

    0

Embed Size (px)

description

tugas penelitian

Transcript of Guidelines Kotatua

GUIDELINES KOTATUA PEMERINTAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA DINAS KEBUDAYAAN DAN PERMUSEUMAN TAHUN 2007

TINJAUAN UMUM

1.1. PENDAHULUAN Arsitektur masa lalu yang terdiri dari bangunan-bangunan dan kawasan-kawasan cagar budaya berperan dalam merangkai dan menghubungkan sejarah kota Jakarta dari masa lalu ke masa sekarang dan masa yang akan datang. Arsitektur masa rencana kota. Bangunan-bangunan cagar budaya dan juga kawasan-kawasan cagar budaya tersebar disegala penjuru kota, dengan konsentrasi memanjang dari bagian Utara sampai ke Selatan kota. Sampai dengan tahun 2007, di Jakarta terdapat 4 (empat) kawasan cagar budaya, yaitu: Kotatua, Menteng, Kebayoran Baru, dan Situ Babakan. Di dalam kawasan-kawasan ini terdapat arsitektur kota dan bangunan-bangunan yang harus dilestarikan. Selain itu juga banyak terdapat bangunan-bangunan pelestarian yang berada diluar kawasan-kawasan ini. Masing-masing kawasan cagar budaya memiliki panduan khusus yang disesuaikan dengan kondisi dan karakter dari masing-masing kawasan. Panduan ini terutama adalah panduan untuk peruntukan pemanfaatan ruang-ruang kota dan bangunan-bangunan cagar budaya di Zona 2 Kawasan Cagar Budaya Kotatua di Jakarta.

1.2. ATURAN DALAM UPAYA PELESTARIAN Upaya pelestarian di Jakarta didasarkan kepada UU No. 5 tahun 1992 Tentang Benda Cagar Budaya dan Peraturan Daerah No. 9 tahun 1999, yang menggolongkan kawasan cagar budaya menjadi 3 (tiga) golongan, yaitu: kawasan cagar budaya golongan I sampai dengan III, dan menggolongkan bangunan cagar budaya menjadi 3 (tiga) golongan, yaitu: bangunan cagar budaya golongan A, B, dan C.

1.3. PEMANFAATAN KAWASAN DAN BANGUNAN CAGAR BUDAYA Pemanfaatan kawasan dan bangunan cagar budaya disesuaikan dengan wujud fisiknya dan perencanaan kota untuk daerah dimana kawasan dan bangunan cagar budaya berada, yang ditentukan oleh Pemda DKI Jakarta. Pemanfaatan barunya disesuaikan dengan kebutuhan masa kini dan akan datang selama cocok dengan wujud fisiknya.

GUIDELINES KOTATUA

BAB I 1.4. KAWASANCAGARBUDAYAKOTATUA Berdasarkan kajian sejarah, sebagian besar dari kawasan Sunda Kelapa dan Zona 2 Kawasan Cagar Budaya Kotatua adalah cikal bakal Kotatua, yaitu kota yang pada masa kolonial berada di dalam dinding benteng, yang ditinggali sebagaian besar oleh Bangsa Belanda. Kawasan ini dahulu dibatasi oleh Sungai Ciliwung di sebelah timur, kanal Stadt Buiten Gracht sebelah barat (kini Sungai Krukut) di sebelah barat, kanal Stadt Buiten Gracht di sebelah selatan (kini Jalan Jembatan Batu dan Jalan Asemka), dan laut di utara (termasuk Pelabuhan Sunda Kelapa). Di luar kawasan ini terdapat permukimanpermukiman lain yang bersama-sama kota di dalam benteng merupakan Kawasan Cagar Budaya Kotatua seperti apa yang tercakup pada Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 34 Tahun 2005. Kawasan cagar budaya ini adalah kawasan seluas sekitar 846 Ha yang terletak di Kotamadya Jakarta Utara dan Kotamadya Jakarta Barat (lihat gambar 1).

Gambar 1 : Lokasi Kotatua di Jakarta

Berdasarkan Rencana Induk Kotatua Jakarta (DTK, 2007), ditengah-tengah Kawasan Cagar Budaya Kotatua terdapat zona inti, yaitu area yang memiliki nilai sejarah yang lebih bernilai, yang dahulunya sebagian besar adalah kota di dalam dinding. Kawasan Cagar Budaya Kotatua dibagi menjadi 5 (lima) zona, yaitu: kawasan Sunda Kelapa, kawasan Fatahillah, kawasan Pecinan, kawasan Pekojan, dan kawasan Peremajaan (lihat gambar 2).

Gambar 2 : Kawasan Cagar Budaya Kotatua dan Kawasan Zona 2

GUIDELINES KOTATUA

BAB II BAB II PARAMETER PERENCANAAN DAN PANDUAN PELESTARIAN UNTUK ZONA2 KAWASANCAGAR BUDAYAKOTATUA

Zona 2 Kawasan Cagar Budaya Kotatua, dengan luas area sekitar 87 Ha (lihat gambar 3), merupakan bagian dari zona inti Kawasan Cagar Budaya Kotatua, yang batas-batasnya adalah Sungai Krukut di sisi barat, Sungai Ciliwung di sisi timur, jalan tol dan jalan kereta api di sisi utara, serta Jalan Jembatan Batu dan Jalan Asemka di sisi selatan. Kawasan cagar budaya ini bukan hanya memiliki bangunan dengan nilai sejarah dan arsitektur yang tinggi, tetapi juga memiliki arsitektur ruang kota yang perlu dijaga kelestariannya.

2.1. GAMBARAN RINGKAS ZONA 2 KAWASAN CAGAR BUDAYA KOTATUA 2.1.1. Zona 2 Kawasan Cagar Budaya Kotatua dimasa lalu Zona 2 Kawasan Cagar Budaya Kotatua pada masa penjajahan Belanda sampai dengan abad ke XIX adalah bagian selatan dari kawasan di dalam dinding kota yang dibatasi oleh Sungai Ciliwung di sisi timur, Sungai Krukut (Jelakeng) di sisi barat, Jalan Jembatan Batu dan Jalan Asemka di sisi selatan, serta kawasan Pasar Ikan di sisi utara. Di masa-masa akhir era kolonial Belanda, kawasan ini merupakan pusat bisnis (CBD) kota Batavia dengan konsentrasi kegiatan perdagangan dan jasa di sepanjang Sungai Kali Besar, dan pemerintahan disekitar Taman Fatahillah (lihat gambar 4).

Kawasan ini ditandai oleh jalan dan sungai/kanal yang membentuk blok-blok berupa grid kota dengan 2 (dua) taman/ plaza, yaitu Taman Fatahillah yang menjadi pusat kegiatan publik dan Taman Beos yang dikelilingi oleh kantor-kantor besar dan Stasiun KA. Di sepanjang Kali Besar terdapat perusahaan dagang dan pelayaran. Blok-blok di belakang Kali Besar ditempati oleh hunian dan bangunan pergudangan.

Gambar 4 : Suasana di Zona 2 Kawasan Cagar Budaya Kotatua tempo Gambar 3 : Zona 2 Kawasan Cagar Budaya Kotatua dulu

GUIDELINES KOTATUA

Bangunan-bangunan di Zona 2 Kawasan Cagar Budaya Kotatua pada saat ini terdiri dari 3 (tiga) tipe, yaitu: bangunan besar yang berdiri sendiri pada satu blok kota atau lebih dari setengah blok kota, bangunan di kavling pojok, dan bangunan-bangunan deret yang bersama-sama membentuk satu blok kota. Bangunan-bangunan ini tingginya sekitar 2 sampai dengan 3 lantai dengan jarak lantai ke lantai sekitar 4 meter. Keunikan arsitektur kota kawasan ini adalah letak bangunan yang menempel langsung ke jalan atau ruang terbuka/taman/plaza. Di kawasan yang dikaji ini dapat disimpulkan ini terdapat empat tipologi bangunan, yang dibedakan sesuai masyarakat dan zamannya (lihat gambar 5), yaitu:

1. Bangunan masyarakat kolonial Eropa ( Colonial Indische, Neo-Klasik Eropa, Art Deco, dan Art Nouveau). 2. Bangunan masyarakat Cina ( Gaya Cina Selatan dan campuran dengan gaya kolonial Eropa). 3. Bangunan masyarakat pribumi (Colonial Indische). 4. Bangunan modern Indonesia (International Style). Gambar 5 : Berbagai gaya arsitektur di Kotatua

2.1.2. Rencana Pelestarian dan Revitalisasi Zona 2 Kawasan Cagar Budaya Kotatua Zona 2 Kawasan Cagar Budaya Kotatua direncanakan sebagai kawasan cagar budaya yaitu sebagai sebuah living heritage dan sebagai kawasan revitalisasi, yaitu sebagai kawasan yang diproyeksikan menjadi salah satu tempat kegiatan utama skala kota bagi warga DKI Jakarta untuk berekreasi, berbudaya, bertinggal, dan bekerja dengan tetap menjaga kelestarian kawasan sebagai kawasan cagar budaya.

2.2. Parameter Perencanaan Zona 2 Kawasan Cagar Budaya Kotatua 2.2.1. Intensitas Bangunan 1. Intensitas bangunan atau koefisien lantai bangunan mengacu kepada aturan yang dikeluarkan oleh Dinas Tata Kota. 2. Pemanfaatan intensitas bangunan di kavling bangunan cagarbudaya Golongan Adi mungkinkan sebatas tidak merubah tampak, selubung bangunan, dan interior bangunan yang dilestarikan. 3. Untuk memenuhi ketentuan butir (2), luas lantai total bangunan cagar budaya Golongan A beserta bangunan tambahannya merupakan resultante dari luas lantai asli/eksisting, serta penambahan lantai bangunan di luar masa bangunan asli dengan nilai tidak melebihi ketentuan KLB yang dikeluarkan oleh Dinas Tata Kota. 4. Pemanfaatan intensitas bangunan di kavling bangunan cagar budaya Golongan B dan C dimungkinkan sebatas tidak merubah masa bangunan yang dilestarikan. Pada Golongan B, tampak dan selubung bangunan dipertahankan, sedangkan bagian dalamnya diperbolehkan berubah, kecuali bagian interior yang penting. Pada Golongan C, fasada bangunannya saja yang harus dipertahankan. 5. Untuk memenuhi ketentuan butir (4), luas lantai total bangunan cagar budaya Golongan B dan C merupakan resultante dari luas lantai di dalam masa bangunan asli/eksisting, serta penambahan lantai bangunan di luar masa bangunan asli dengan nilai tidak melebihi ketentuan KLB oleh Dinas Tata Kota. 6. Pada bangunan cagar budaya Golongan A, B, dan C, sebagai akibat tidak dapat dimanfaatkannya secara penuh KLB maksimal yang ditetapkan oleh Dinas Tata Kota, maka sebagai kompensasi diterapkan prinsip alih intensitas (Transfer of Development Right) sebagaimana diatur oleh Dinas Tata Kota.

7. Untuk kavling dengan bangunan bukan bangunan cagar budaya, nilai KLB sesuai dengan aturan yang dikeluarkan oleh Dinas Tata Kota.

2.2.2. Koefisien Dasar Bangunan Koefisien dasar bangunan untuk kavling bangunan cagar budaya Golongan A dan B adalah seperti yang ada sekarang. Sedangkan untuk kavling bangunan cagar budaya Golongan C, koefisien dasar bangunannya maximal 75%.

2.2.3. Ketinggian Bangunan 1. Ketinggian bangunan bukan cagar budaya di lingkungan Golongan I dan II perlu dipertimbangkan dampaknya terhadap tampilan bangunan cagar budaya yang ada. 2. Untuk bangunan-bangunan cagar budaya golongan A, B, dan C ketinggian bangunan asli harus dipertahankan. 3. Penambahan lantai di dalam masa bangunan asli tidak diijinkan untuk bangunan cagar budaya Golongan A. 4. Dalam rangka memanfaatkan luas lantai maksimum yang diijinkan, penambahan lantai dalam masa bangunan asli untuk bangunan cagar budaya golongan B diijinkan selama tidak merubah selubung bangunan asli. Untuk bangunan cagar budaya Golongan C, ketinggian bangunan disesuaikan dengan tinggi fasada asli sampai dengan 10 m dari batas tampak depan. Selanjutnya ketinggian bangunan disesuaikan dengan peraturan yang dikeluarkan oleh Dinas Tata Kota. 2.2.4. Sempadan Bangunan 1. Garis sempadan depan bangunan Golongan A, B