Fisiologi Wanita Hamil

download Fisiologi Wanita Hamil

of 56

  • date post

    18-Feb-2016
  • Category

    Documents

  • view

    15
  • download

    0

Embed Size (px)

description

hjfugc

Transcript of Fisiologi Wanita Hamil

Fisiologi Wanita HamilPada dasarnya anestesi untuk obsteri bada dengan anestesi yang laen karena : ibu masuk rumah sakit karena pada saat akan melahirkan perlu diperhatikan kondisi ibu serta bayi yang akan dilahirkan. Terjadi perubahan fisiologi pada tiga bulan terakhir,serta adaya resiko muntah, regurgitasi, dan aspirasi. Pemberian obatdapat mempengaruhi bayi karena dapat menembus sawar darah plasenta.Pada pasien section caesarea kita harus memperhatikan perubahan-perubahan fisiologis dan anatomi,karena tindakan tersebut dapat mempengaruhi tindakan anestesi. Bila pasen disertai penyakit lain seperti preeklamsi, asma bronchial maka tindakan anestesi akan lebih spesifik lagi. Untuk hal ini perlu pengetahuan lebih mendalam mengenai fisiologi Fetal, fisiologi ibu hamil, uterine blood flow sehingga dapat mengurangi morbiditas dan mortalitas.Pada wanita hamil mulai tiga bulan terakhir terjadi perubahan fisiologi, system respirasi, system cardiovaskuler, sususnan syaraf pusat, susunan syraf perifer, gastrointestinal, musculoskeletal, dermatologi, jaringan mame dan mata.

Sistim RespirasiTerjadi perubahan respirasi pada minggu ke 4 kehamilan.fisiologi dan anatomi pada kehamilan menimbulkan perubahan dalam fungsi paru ventilasi dan pertukaran gas. Ventilasi semenit meningkat pada kehamilan aterm kira-kira 50% berbeda dengan tidak hamil, peningkatan volume semenit di sebabkan kaerena peningkatan tidal volum 40% dan peningkTn prekuensi nafas 15%.Pada kehamilan aterm PaCo2 menurun 32-35mmHg. Peningkatan konsentrasi progesteron selama kehamilan,menurunkan ambang pusat nafas di medula oblongata terhadap Co2. b.Sistim Cardiovascular Cardiac out put meningkat, karena meningkatnya kebutuhan maternal dan fetal.Sewaktu persalinan meningkatnya cardiac output 45% lebih dari yang non pregnen.Setiap kontraksi uterus 300 500 ml autotransfutions ke sirkulasi sehingga dapat meningkatkan preload dan peningkatan 10 15 % dari cardiac output. Peningkatan cardiac output yang maksimal terjadi pada saat akan melahirkan mencapai 80% akibat menurunny tekanan yang mendadak pada caval obstruction sehingga terjadi peningkatan dari preload. Perubahan posisi ibu akan mempengaruhi cardiac output. Cardiac output menurun pada pasisi supine disebabkan karena aorta caval compression, dengan menurunya venous return dan stroke volume akan mengakibatkan maternal hypotension, perubahan hemodinamik yang disebabkan aorta caval compression dikenal sebagai Supine Hypotensive Syndrome. Aortocaval compression diikuti juga dengan menurunnya abdominal, renal dan uteroplasental blood flow, yang dapat menurunkan fetal perfusion.Regional anestesi dapat menurukan preload dengan adanya blokde simpatis dan dengan narcose umum dari peningkatan tekanan intrathoracal dimana terjadi tekanan positif yang akan menurunkan preload.Dengan meningkatnya cardiac output pada kehamilan akan mempercepat pengaruh obat anestesi inhalasi dan intravenous ke otak sehingga mempengaruhi cepatnya onset dari obat anestesi dan perubahan dari hemodinamik.

UNTUK MENCEGAH HYPOTENSI AKIBAT AORTOCAVAL COMPRESSION DAN REGIONAL ANESTESI ADALAH DENGAN :1. Rehidrasi untuk pasien dengan persalinan pervaginam 1000cc dari cairan kristaloid. Untuk sectio caesaria 1500 2000cc kristaloid. Pasien dengan congenital atau acquied heart disease pemberian cairan secara incremental dengan right arterial atau pulmonary arterial pressure monitoring.2. Dengan LUD ( left uterine displacement) akan mengurangi supine hypotension dan meningkatkan cardiac output.3. Hindari regional anestesi pada pasien dengan supine hypotension syndrome dengan tanpa respon terhadap left atau right displacement dan volume loading.4. Harus waspada bila terjadi maternal hypotension dengan sistolik blood pressure. < 100 mmHg.5. Penanganan terhadap maternal hypotension dengan intravenous, efedrine sulfat ( 5-10mg).C. Perubahan Volume DarahVolume darah ibu meningkat selama kehamilan termasuk peningkatan volume plasma, sel darah merah dan sel darah putih.Hemoglobin konsentrasion menurun maka dapat didiagnosa sebagai ion defesiensi anemia. Walaupun Hb menurun tetapi cardiac output miningkat sehingga oksigen delivery terpenuhi.Mekanisme yang pasti dari peningkatan volume plasm ini belum diketahui, tetapi karena hormon renin angiotensin aldosteron, natriuretic, progesteron mungkin berperan dalam mekanisme tersebut.Selama kehamilan lebih menunjukan keadaan Hypercoagulable. Faktor-faktor pembekuan seperti faktor VII, VIII,IX,X , begitu juga fibrinogen, mengalami peningkatan. Perubahan-perubahan ini untuk melindungi ibu dari bahaya perdarahan sewaktu persalinan, tetapi dapat merupakan predisposisi terjadinya tromboemboli setelah persalinan.

Peningkatan Volume Darah Mempunyai Beberapa Fungsi Penting antara lain:- Untuk memelihara kebutuhan peningkatan sirkulasi karena ada pembesaran uterus dan unit fetoplasenta. - Mengisi peningkatan reservoir vena.- Melindungi ibu dari perdarahan pada saat melahirk 8 minggu setelah melahirkan volume darah kembali normal.Jumlah perdarahan normal partus pervaginam kurang lebih 400-600cc dan 1000cc bila dilakukan sectio caesaria, tapi pada umumnya tidak perlu dilakukan transfusi darah.

Pemberian CairanDalam pemberian cairan pada penderita perioperativ, kita harus memperhitungkan kebutuhan cairan basal, penyakit-penyakit yang menyertai, medikasi, teknik dan obat anestesi serta kehilangan cairan akibat pembedahan..Pembedahan secara akut mengubah volume dan komposisi ruang-ruang cairan intra dan ekstra selluler. Pemberian infus kristaloid atau koloid, meskipun terutama ditujukan untuk mempertahankan volume intra vaskular, juga akan mempengaruhi ukuran dan komposisi kompartement-kompartemen cairan fisiologi. Yang paling ditakuti adalah bila sempat menyebabkan syok hipovolemia. Hypovolemia merupakan penyebab tersering aliran rendah, tetapi paling mudah untuk dikoreksi. Untuk pasien kritis, pasien pasca bedah resiko tinggi, pemberian cairan secara cepat adalah terapi pertama dan yang paling penting diperlukan untuk mencapai tujuan terapii keadaan aliran rendah akut. Strategi dasar dalam terapi teresebut adalah membuat optimal variable-variable hemodinamik dan transport oksigenTujuannya adalah meminimalkan derajat dan lama hipoksia jaringan.Tujuan-tujuan tersebut lebih mudah dicapai dengan koloid yang mengekspansikan volume plasma tanpa over ekspansi ruang interstitial daripada kristaloid. HES menghasilkan efek volume darah dan hemodinamik yang lebih besar dan lebih lama dari pada albumin, dekstran, atau gelatin.Diketahui oleh penelitian-penelitian dengan membandingkan efek hemodilusi progresif dari HES gelatin dan albuminn, dengan pengaruh terhadap blood coagulation. Didapatkan bahwa HES, gelatin dan albumin mengganggu blood coagulation, dimana yang mempunyai efek maksimal adalah HES. Hal ini dikarenakan adanya disfungsi dari platelet dan adanya penurunnan dari faktor VIII. HES dapat menyebabkan transformasi cepat fibrinogen menjadi fibrin.Tetapi, pada post operatif dimana ditandai dengan adanya hypercoagulable state, hydroxyethile starch dapat bermanfaat untuk mengurangi resiko dari trombosis. Salah satu tantangan besar adalah memperkirakan cukup tidaknya curah jantung. Indeks-indeks yang dapat memberi konfirmasi bahwa volume intravaskuler cukup dapat mencakup jumlah urine yang keluar, mentasi, pengisian kapiler, warna kulit, suhu dan laju nadi. Evaluasi lebih lanjut mungkin mencakup status asam basa, kadar laktat, pemakaian oksigen dan saturasi oksigen vena campur. Tekanan darah arteri yang cukup kadang-kadang tidak memberi arti bahwa curah jantung cukup, karena nilai yang cukup tersebut mungkin akibat vasokontriksi yang hebat. Maka langkah berikut yang paling baik adalah dengan pemantauan hemodinamik sentral. Cara paling sederhana adalah menggunakan tekanan vena sentral. Namun tekaanan vena sentral sering tidak mencerminkan tekanan penggisian pada sisi kiri jantung, dalam hal ini, ppengukuran tekanan arteri pulmonalis lebih disukai dari pada tekanan vena sentral.Penggunaan optimum cairan pada pasien memerlukan pertimbangan kondisi pasien sebelum sakit, pengetahuan fisiologi kardiovaskuler yang baik dan pemahaman sifat-sifat caiiran yang terrsedia. Pemberian cairan hendaaknya disesuaikan untuk setiap pasien. Secara khusus suatu proses dinamiik dan respon terhadap terapi harus dinilai secara kontineu. Ini aakan menuntun kita kelangkah berikutnya. Seperti halnya penggantiana cairan yang tidak adekuat dapat mengakibattkan kegagalan organ dan kemattian, kelebihan cairan dapat mengakibatkan morbiditas yang cukup tinggi.

d.Sistim Susunan SarafWanita hamil sensitif terhadap obat-obat anestesi lebih tinggi. Meningginya neuronal sensitiffiti sewaktu blokade regional menurunkan kebutuhan obat lokal anestesi pada spinal dan epidural anestesi. Mekanisme menurunnya kebutuhan obat anestesi selama kehamilan masih belum jelas sebab-sebabnya karena tergantung dari multifaktorial. Ada yang mengatakan dengan adanya meningkatnya progesteron, meningkatnya endorfin dan menurunnya serum bikarbonat. Dengan menurunnya serum bikarbonat akan meningkatkan fraksi non ion ligade lokal anestesi dan ada yang mengatakan ssuatu memkanism yang meningkatkan neurnal sensitifiti terhadap lokal anestesi. Mekanisme terjadinya cephalad spread yang lebih tinggi pada spinal anestesi pada parturied dapat karena akibat pengurangan serebrospinal fluid volume akibat shunting of blood karena akibat obstruksi dari vena cava inferior ke ekstradural pleksusvenous dan peningkatan sensitifitas saraf terhadap lokal anestesi, akibat konsentrasi progesteron. Progesteron di sintesa oleh syncytiotrophone blasts dari plasenta, sehingga parturien dengan kehamilan kembar,nerve fibrennya lebih sensitif terhadap lokal anestesi.Walaupun mekanisme pasti dari peningkatan sensitifitas SSP dan SS perifer pada anestesi umum dan anestesi regional belum diketahui tetapi dosis obat ane