Draf Pedoman Ekonomi Produktif_hasil Diskusi PSBR_5-6 Maret 2015 Handayani

download Draf Pedoman Ekonomi Produktif_hasil Diskusi PSBR_5-6 Maret 2015 Handayani

of 25

  • date post

    09-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    20
  • download

    0

Embed Size (px)

description

Pedoman ekonomi produktif yang dilaksanakan oleh UPT, UPTD, dan LKS. Pedoman ini dijadikan acuan untuk UPT, UPTD, dan LKS untuk mengajukan pendampingan ekonomi produktif kepada kemensos.

Transcript of Draf Pedoman Ekonomi Produktif_hasil Diskusi PSBR_5-6 Maret 2015 Handayani

PEDOMAN PELAKSANAAN

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Undang-undang Dasar 1945 menjamin kesetaraan setiap warga negara Indonesia di muka hukum dan kesamaan atas hak untuk memperoleh pekerjaan dan penghidupan yang layak (Pasal 27) untuk mencapai kehidupan sejahtera lahir dan batin (Pasal 28A). Namun pada kenyataannya masih banyak kelompok warga negara yang karena faktor bawaan lahir, kecelakaan, dan atau pilihan gaya hidup sendiri terhambat untuk mengembangkan fungsi sosialnya secara wajar. Merujuk istilah dalam Undang-undang No. 11 tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial, mereka adalah kelompok masyarakat yang mengalami disfungsi sosialatau Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). Mereka bukan hanya memiliki taraf kehidupan yang tidak layak secara kemanusiaan, tetapi juga terperangkap dalam salah satu atau kombinasi dari 7 (tujuh) kriteria masalah sosial berikut: (a) kemiskinan, (b) ketelantaran, (c) kecacatan, (d) keterpencilan, (e) ketunaan sosial dan penyimpangan perilaku, (f) korban bencana, dan/atau (g) korban tindak kekerasandan eksploitasi serta diskriminasi.

Undang-undang Nomor 11 tahun 2009 memberi mandat kepada Kementerian Sosial RI untuk menjadi leading sector penanganan PMKS dalam kerangka pembangunan Kesejahteraan sosial. Dalam melaksanakan mandat tersebut, salah satu program yang dijalankan adalah Program Rehabilitasi Sosial (Pasal 7). Rehabilitasi Sosial merupakan proses refungsionalisasi dan pengembangan fungsi sosial seseorang dalam kehidupan masyarakat dengan maksud memulihkan dan mengembangkan kemampuan seseorang yang mengalami disfungsi sosial agar dapat melaksanakan fungsi sosialnya secara wajar.

Dari aspek sasaran program, Rehabilitasi Sosial diarahkan kepada 5 (lima) kluster PMKS, yakni Korban Penyalahgunaan Napza, Orang dengan Kecacatan, Tuna Sosial, Anak dan Lanjut Usia. Secara organisasional, program ini berada dibawah kendali dan wewenang Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial. Dalam praktik penanganannya, 5 (lima) kelompok PMKS tersebut dilayani di Unit-unit Pelayanan Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial-Kementerian Sosial RI, di Unit Pelaksana Teknsi Daerah (UPTD) Dinas/Instansi Sosial Daerah, baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota, dan di Lembaga-lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) milik masyarakat. Sebagian besar dari lembaga tersebut berbentuk Panti Rehabilitasi Sosial, sebagian yang lain berupa Balai Rehabilitasi Sosial, dan selebihnya berbentuk Rumah Perlindungan Sosial, Trauma Centre, Rumah Singgah, dan pusat-pusat rehabilitasi sosial lainnya.

Dari sisi karakteristik, PMKS umumnya memiliki keterbatasan pengalaman, pendidikan, kepemilikan modal/aset, mental, dan keterampilan dibandingkan dengan warga negara pada umumnya. Kondisi ini makin diperparah dengan adanya hambatan yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam bentuk hambatan struktur sosial, ekonomi, politik, maupun budaya. Hambatan ini membuat para PMKS terjebak dalam status disfungsi secara sosial. Tanpa intervensi dari Negara, akan sangat sulit bagi mereka untuk dapat keluar dari vicious cycle trap atau jebakan lingkaran setan kemiskinan. Dalam konteks inilah, UPT, UPTD dan LKS sebagai pelaksana langsung pelayanan dan rehabilitasi sosial kepada para PMKS memiliki peran dan fungsi strategis untuk membantu percepatan pemulihan dan pengembangan keberfungsian sosial mereka.

UPT, UPTD, dan LKS dituntut untuk terus menerus meningkatkan kualitas kemanfaatan pelayanannya agar ke depan dapat menjadi resources-based. Pada posisi ideal ini, UPT, UPTD, dan LKS menjadi bagian dari pemecahan masalah yang dialami PMKS, menjadi lembaga yang dibutuhkan untuk meng-upgrade kapasitas pengetahuan dan keterampilanmereka. Pada posisi peran seperti ini, UPT, UPTD, dan LKS mampu menyediakan banyak sumber, baik pengetahuan, keterampilan, maupun sumber lain yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Salah satu upaya Kementerian Sosial untuk mewujudkan harapan UPT, UPTD dan LKS sebagai resources-based adalah melalui penyelenggaraan kegiatan Peningkatan Latihan Kerja Ekonomi Produktif bagi PMKS di UPT, UPTD, dan LKS dalam rangka revitalisasi peran dan fungsi lembaga-lembaga tersebut, Ruang lingkup kegiatan ini merentang dalam satu rantai produksi, mulai dari penyediaan bahan, peralatan dan tenaga kerja, pengolahan, hingga pemasaran, yang diorientasikan pada penyediaan produk-produk kompetitif yang sesuai kebutuhan pasar. Harapannya, melalui kegiatan ini para penerima manfaat lebih siap melanjutkan kehidupan secara mandiri (self-reliance), baik sebagai pekerja maupun wirausaha. Untuk mencapai tujuan yang diharapkan, maka dalam pelaksanaannya diperlukan keterlibatan berbagai pihak terkait (stakeholders) yang tidak hanya ahli dan berpengalaman dalam bidang ekonomi produktif, tetapi juga memiliki kepedulian dan komitmen yang tinggi terhadap peningkatan kualitas hidup PMKS. B. TUJUAN

1. Sebagai acuan/pedoman dalam pendayagunaan, pemanfaatan, dan pengalokasian sumber daya untuk efektifitas dan efisiensi pelaksanaan kegiatan Revitalisasi Panti melalui Peningkatan Latihan Kerja Ekonomi Produktif.2. Memberikan koridor atau batasan dalam proses sinkronisasi dan penjabaran kebijakan kegiatan Revitalisasi Panti melalui Peningkatan Latihan Kerja Ekonomi Produktif di UPT, UPTD, dan LKS.D. SASARAN1. Penanggung Jawab Kegiatan (Kepala/PimpinanUPT, UPTD, dan LKS)

2. Manajer dan Pelaksana Kegiatan,

3. PMKS (Penerima Manfaat)

4. Mitra Bisnis

5. Tenaga Ahli/Konsultan

6. Lembaga/Instansi Terkait

E. DASAR HUKUM

1. Undang-undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak

2. Undang-undang Nomor17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor: 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor4286);

3. Undang-undang Nomor1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor4355);

4. Undang-undang Nomor15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor4400);

5. Undang-undang Nomor25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor: 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor4421);6. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 12, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4916);7. Peraturan Pemerintah PP Nomor 22 Tahun 1997 tentang Jenis dan Penyetoran Penerimaan Negara Bukan Pajak;

8. Peraturan Pemerintah PP Nomor 73 Tahun 1999 tentang Tatacara Penggunaan Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Bersumber dari Kegiatan Tertentu;

9. Peraturan Pemerintah PP Nomor 1 Tahun 2004 tentang Tata Cara Penyampaian Rencana dan Laporan Realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak;

10. Peraturan Pemerintah PP Nomor 29 Tahun 2009 tentang Tata Cara Penentuan Jumlah, Pembayaran, dan Penyetoran Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Terutang;11. Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara;

12. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2012 Tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial;13. Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 86/HUK/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Sosial;14. Peraturan menteri Sosial ttg Balai Besar15. Peraturan Menteri Sosial tentang UPT16. Peraturan Menteri Keuangan Republik RI Nomor 81/PMK.05/2012 tentang Belanja Bantuan Sosial Pada Kementerian Negara/ Lembaga;

17. Instruksi Menteri Sosial Nomor ...........18. Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial Nomor ..........F. RUANG LINGKUP

Pedoman ini mencakup Syarat Pengusulan, Mekanisme Penetapan, Pelaksanaan, Monitoring, Evaluasi, dan Laporan pelaksanaan kegiatan Revitalisasi Panti melalui Peningkatan Latihan Kerja Ekonomi Produktif bagi PMKS di UPT, UPTDdan LKS.

F. OUTPUT/KELUARAN YANG DIHARAPKAN

1. Adanya satu atau lebih jenis kegiatan latihan kerja ekonomi produktif.2. Meningkatnya kemampuan Penerima Manfaat dalam membuat produk sesuai kebutuhan pasar.3. Tersedianya produk (barang dan / jasa) yang sesuai selera pasar/konsumen.

4. Tersedianya akses terhadappasar, lapangan pekerjaan, dan peluang untuk wirausaha bagi Penerima Manfaat.5. Meningkatnyakualitas dan jangkauan pelayanan UPT, UPTD, dan LKS.

G. DEFINISI OPERASIONAL / PENGERTIAN

1. Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial yang selanjutnya disebut dengan PMKS adalah seseorang, keluarga atau kelompok masyarakat yang karena suatu hambatan, kesulitan atau gangguan, tidak dapat melaksanakan fungsi sosialnya, sehingga tidak dapat terpenuhi kebutuhan hidupnya (jasmani, rohani dan sosial) secara memadai dan wajar.2. Penerima Manfaat adalah PMKS yang menerima layanan dari lembaga yang menyelenggarakan pelayanan dan rehabilitasi sosial.3. UPTD, UPT, LKS adalah lembaga yang menyelenggarakan pelayanan dan rehabilitasi sosial bagi PMKS.4. Bussiness Planadalah dokumen tertulis yang mengambarkan perencanaan terpadu menyangkut permodalan, proses produksi, sumber daya manusia dan pemasaran serta aspek-aspek lain yang relevan mengenai satu jenis usaha yang akan dilakukan. 5. Peningkatan Latihan Kerja Ekonomi Produktif adalah upaya untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas proses serta hasil pelatihan keterampilan (vocational training) yang selama ini dilakukan di UPT, UPTD, dan LKS dan upaya menggeser orientasi dari sekadar pengisi waktu luang ke orientasi pasar. 6. Revitalisasi Panti adalah upaya untuk mengembalikan peran dan fungsi penting Panti sebagai alternatif sumber pertolongan bagi PMKS untuk meningkatkan kua