Diskusi Kasus Farmasi Skizofrenia

of 32 /32
DISKUSI KASUS SKIZOFRENIA Oleh: Anindya Nur Qurani G99142106 KEPANITERAAN KLINIK SMF/LAB. FARMASI

description

Diskusi Kasus Farmasi SkizofreniaFK UNS

Transcript of Diskusi Kasus Farmasi Skizofrenia

Page 1: Diskusi Kasus Farmasi Skizofrenia

DISKUSI KASUS

SKIZOFRENIA

Oleh:

Anindya Nur Qurani

G99142106

KEPANITERAAN KLINIK SMF/LAB. FARMASI

FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/RSUD DR. MOEWARDI

SURAKARTA

2015

Page 2: Diskusi Kasus Farmasi Skizofrenia

BAB I

PENDAHULUAN

Skizofrenia adalah sekelompok gangguan psikotik dengan gangguan dasar

pada kepribadian, distorsi khas proses pikir, kadang-kadang mempunyai perasaan

bahwa dirinya sedang dikendalikan oleh kekuatan dari luar dirinya, waham yang

kadang-kadang aneh, gangguan persepsi, afek abnormal yang terpadu dengan

situasi nyata atau sebenarnya, dan autisme. Meskipun demikian, kesadaran yang

jernih dan kapasitas intelektual biasanya tidak terganggu.1,2 Sedangkan gangguan

skizoafektif adalah kelainan mental yang rancu yang ditandai dengan adanya

gejala kombinasi antara gejala skizofrenia dan gejala gangguan afektif diaman

keduanya sama-sama menonjol pada saat yang bersamaan, atau dalam beberapa

hari yang satu sesudah yang lain, dalam satu episode penyakit yang sama.3,4

Skizofrenia dan gangguan skizoafektif merupakan salah satu gangguan

kejiwaan berat dan menunjukkan adanya disorganisasi (kemunduran) fungsi

kepribadian, sehingga menyebabkan disability (ketidakmampuan).

Ketidakmapuan penderita skizofrenia atau dengan gangguan skizoafektif dalam

mencapai berbagai keterampilan hidup inilah yang menyebabkan penderita

menjadi beban keluarga dan masyarakat.5

Ketidakmampuan bersosialisasi pada penderita skizofrenia tergantung dari

tingkat keparahan simptom psikologis yang dialami penderita, dimana semakin

dominan tingkah laku simptomatologik menguasai seluruh tingkah lakunya,

semakin buruk juga ketidakmampuan bersosialisasi yang dialami oleh penderita.

Sebagai suatu kelompok, pasien dengan gangguan skizoafektif memiliki

prognosis yang lebih buruk daripada pasien dengan gangguan depresif maupun

gangguan bipolar, tetapi memiliki prognosis yang lebih baik daripada pasien

dengan skizofrenia.3

2

Page 3: Diskusi Kasus Farmasi Skizofrenia

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi

Skizofrenia adalah gangguan psikiatri mayor yang ditandai dengan

perubahan pada persepsi, pikiran, afek, dan perilaku seseorang. Gejala

skizofrenia dibagi dalam dua kelompok, yaitu gejala positif dan gejala

negatif. Gejala positif berupa isi pikiran tidak wajar (waham), gangguan

asosiasi pikiran (inkoherensi), gangguan persepsi (halusinasi), gangguan

perasaan, serta perilaku tak terkendali (disorganized). Gejala negatif adalah

afek tumpul, menarik diri, ‘miskin’ kontak emosional (pendiam, sulit diajak

bicara), pasif, apatis, sulit berpikir abstrak dan kehilangan inisiatif.1,3,6

B. Fase atau Perjalanan Penyakit

Tanda dan gejala prodromal skizofrenia dapat berupa cemas, gelisah,

serta merasa diteror atau depresi. Pasien juga sering mengeluhkan gejala

somatik, seperti nyeri kepala, nyeri punggung dan otot, kelemahan dan

masalah pencernaan Perkembangan gejala prodromal berlangsung beberapa

hari sampai beberapa bulan. Fase aktif skizofrenia ditandai dengan gangguan

jiwa yang nyata secara klinis, yaitu adanya kekacauan dalam pikiran,

perasaan dan perilaku. Penilaian pasien skizofrenia terhadap realita terganggu

dan tilikan buruk. Fase residual ditandai dengan menghilangnya beberapa

gejala skizofrenia hingga tersisa satu atau dua gejala yang tidak terlalu nyata

secara klinis, dapat berupa penarikan diri (withdrawal) dan perilaku aneh.1,3,7

C. Etiologi

1. Faktor Genetik

Dibuktikan dengan penelitian tentang keluarga penderita

skizofrenia terutama anak kembar satu telur. Angka kesakitan bagi

saudara tiri ialah 0,9-1,8%; bagi saudara kandung 7-15%; bagi anak

3

Page 4: Diskusi Kasus Farmasi Skizofrenia

dengan salah satu orangtua yang menderita skizofrenia 7-16%; bila kedua

orangtua menderita skizofrenia 40-68%.8

2. Faktor Biokimia

Skizofrenia dapat berasal dari ketidakseimbangan neurotransmitter,

yaitu dopamin yang berlebihan di bagian-bagian tertentu otak atau

dikarenakan sensitivitas abnormal terhadap dopamin. Beberapa

neurotransmitter lain seperti serotonin dan norepinefrin juga berperan.8

3. Faktor Psikologis dan Sosial

Faktor psikososial meliputi adanya kerawanan herediter yang

semakin lama semakin kuat, adanya trauma yang bersifat kejiwaan,

adanya hubungan orang tua-anak yang patogenik, serta interaksi yang

patogenik dalam keluarga.9

D. Patofisiologi

Jalur dopaminergik saraf terdiri dari empat yakni (1) jalur nigrostriatal

dari substantia nigra ke basal ganglia yang mengkoordinir fungsi gerakan dan

sistem ekstra piramidal, (2) jalur mesolimbik dari tegmental area menuju ke

sistem limbik yang mengkoordinir fungsi memori, sikap, kesadaran, dan

proses stimulus, (3) jalur mesocortical dari tegmental area menuju ke frontal

korteks yang mengatur fungsi kognisi, sosial, komunikasi, dan respons

terhadap stress, serta (4) jalur tuberoinfendibular dari hipotalamus ke kelenjar

pituitary yang mengatur pelepasan prolaktin.

Patofisiologi skizofrenia melibatkan sistem dopaminergik dan

serotonergik. Beberapa hipotesis / teori tentang patofisiologi skizofrenia

diantaranya pada pasien skizofrenia terjadi hiper-reaktivitas sistem

dopaminergik. Hiper-dopaminergia pada sistem mesolimbik berkaitan dengan

gejala positif yang muncul. Sedangkan hipo-dopaminergia pada sistem

mesocortis dan nigrostriatal bertanggungjawab terhadap gejala negatif dan

gejala ekstrapiramidal

4

Page 5: Diskusi Kasus Farmasi Skizofrenia

E. Pedoman Diagnostik

1. Sedikitnya satu gejala berikut yang amat jelas (biasanya dua gejala atau

lebih bila gejala kurang jelas atau kurang tajam):

a. Isi pikiran

1) thought eco= isi pikiran berulang atau bergema dalam kepalanya

(tidak keras), dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama,

namun kualitasnya berbeda;

2) thought insertion or withdrawl= isi pikiran yang asing dari luar

masuk ke pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil

keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (withdrawl);

3) thought broadcasting= isi pikirannya tersiar keluar sehingga

orang lain atau umum mengetahuinya;

b. Waham

1) delusion of control= waham tentang dirinya dikendalikan oleh

suatu kekuatan tertentu dari luar;

2) delusion of passivity= waham tentang dirinya tidak berdaya dan

pasrah terhadap suatu kekuatan dari luar;

3) delusion of influence= waham tentang dirinya dipengaruhi oleh

suatu kekuatan tertentu dari luar;

4) delusion perception= pengalaman inderawi yang tak wajar,

biasanya bersifat mistik atau mukjizat;

c. Halusinasi auditorik

1) Suara yang berkomentar terus menerus terhadap perilaku diri;

2) Berbagai suara yang berbicara mendiskusikan tentang dirinya;

3) Suara yang berasal dari salah satu bagian tubuh;

d. Waham menetap lain yang menurut budaya setempat dianggap tidak

wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan agama

tertentu atau kekuatan dan kemampuan di atas manusia biasa;

2. Atau paling sedikit dua gejala berikut yang harus selalu ada secara jelas:

a. Halusinasi yang menetap dari panca-indera, apabila disertai waham

yang mengembang maupun yang setengah berbentuk tanpa

5

Page 6: Diskusi Kasus Farmasi Skizofrenia

kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide

berlebihan yang menetap;

b. Perilaku katatonik, seperti gaduh-gelisah, posturing atau fleksibilitas

cerea, negativisme, mutisme, dan stupor;

c. Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan

(interpolation) yang berakibat inkoherensi atau pembicaraan yang

tidak relevan atau neologisme;

d. Gejala negatif seperti sikap apatis, bicara jarang, dan respon

emosional menumpul atau tidak wajar, biasanya mengakibatkan

penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja sosial;

3. Gejala khas tersebut di atas telah berlangsung selama satu bulan atau

lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik prodromal);

4. Perubahan konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan dari

beberapa aspek perilaku pribadi, bermanifestasi sebagai hilangnya minat,

hidup tak bertujuan, sikap larut dalam diri sendiri, tidak berbuat sesuatu,

dan penarikan diri secara sosial.4

F. Klasifikasi

1. Skizofrenia Paranoid (F20.0)

a. Halusinasi dan / atau waham harus menonjol.

b. Gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan, serta gejala

katatonik secara relatif nyata / tidak menonjol.

2. Skizofrenia Hebefrenik (F20.1)

a. Pada usia remaja atau dewasa muda dengan pengamatan kontinu.

b. Kepribadian premorbid pemalu dan senang menyendiri (solitary). 

c. Gangguan afektif dan dorongan kehendak, serta gangguan proses

pikir umumnya menonjol.

3. Skizofrenia Katatonik (F20.2)

a. Gambaran klinis dominan berupa stupor, gaduh gelisah,

menampilkan posisi tubuh tertentu, negativisme, rigiditas, dan atau

flexibilitas cerea.

6

Page 7: Diskusi Kasus Farmasi Skizofrenia

b. Pasien yang tidak komunikatif dengan manifestasi perilaku dari

gangguan katatonik, diagnosis skizofrenia mungkin ditunda sampai

diperoleh bukti yang memadai tentang adanya gejala-gejala lain.

4. Skizofrenia Tak Terinci (Undifferentiated) (F20.3)

a. Tidak memenuhi kriteria paranoid, hebefrenik, atau katatonik.

b. Tidak memenuhi kriteria residual atau depresi pasca skizofrenia.

5. Depresi Pasca-skizofrenia (F 20.4)

a. Pasien menderita skizofrenia selama 12 bulan terakhir, beberapa

gejala skizofrenia masih ada, dan gejala depresi menonjol,

memenuhi paling sedikit kriteria untuk episode depresif dan telah

ada dalam kurun waktu paling sedikit 2 minggu

b. Apabila pasien tidak lagi menunjukkan gejala skizofrenia, diagnosis

menjadi episode depresif.

6. Skizofrenia Residual (F20.5)

a. Gejala negatif skizofrenia yang menonjol misalnya perlambatan

psikomotorik, aktivitas menurun, afek yang menumpul, sikap pasif,

kemiskinan dalam kuantitas atau isi pembicaraan, serta komunikasi

nonverbal dan kinerja sosial yang buruk;

b. Sedikitnya ada riwayat satu episode psikotik skizofrenia yang jelas;

c. Sudah melampaui kurun waktu satu tahun dimana intensitas dan

frekuensi waham dan halusinasi telah sangat berkurang (minimal)

dan telah timbul sindrom negatif dari skizofrenia;

d. Tidak terdapat gangguan otak organik, depresi kronis atau

institusionalisasi yang dapat menjelaskan disabilitas negatif tersebut.

7. Skizofrenia Simpleks (F20.6)

Bergantung perkembangan perlahan dan progresif dari gejala negatif

khas skizofrenia residual tanpa didahului halusinasi, waham, atau

manifestasi lain psikotik disertai perubahan perilaku yang bermakna.

8. Skizofrenia lainnya (F20.8) dan Skizofrenia YTT (F20.9).4

7

Page 8: Diskusi Kasus Farmasi Skizofrenia

G. Penatalaksanaan

Sasaran terapi Skizofrenia bervariasi berdasarkan fase dan keparahan

penyakit. Pada fase akut terapi ditujukan untuk mengurangi atau

menghilangkan gejala psikotik dan meningkatkan fungsi. Sedangkan pada

fase stabilisasi terapi bertujuan untuk mengurangi resiko kekambuhan dan

meningkatkan adaptasi pasien terhadap kehidupan dalam masyarakat

1. Terapi Medikamentosa

Ada berbagai obat antipsikotik konvensional / tipikal / FGA, seperti

haloperidol klorpromazin, flufenazin, droperidol, perfenazin,

flupenthixol, dan trifluoperazin. Obat ini bekerja dengan mengeblok

reseptor dopamine D2. Kelebihan utama adalah mengobati gejala positif,

namun kurang efektif terhadap gejala negatif skizofrenia serta

mempunyai efek samping ekstra pyramidal yang besar. Obat ini tersedia

dalam bentuk tablet, cairan, suntikan jangka pendek dan jangka

panjang.1,11,12

Obat antipsikotik generasi kedua / atipikal / SGA meliputi

aripiprazol, clozapin, olanzapin, paliperidon, quetiapin, dan risperidon.1,13

Obat ini bekerja mengeblok reseptor serotonin 5-HT2 dengan efek

blockade dopamine rendah. Efektif mengobati gejala positif seperti

halusinasi dan delusi serta dapat juga mengatasi gejala negatif. Obat

golongan ini mempunyai efek samping ekstra pyramidal lebih kecil. Obat

tersedia dalam bentuk tablet, cairan dan suntikan jangka pendek dan

jangka panjang.11

Terapi episode akut skizofrenia pada 7 hari pertama bertujuan

untuk mengurangi agitasi, hostility, agresi, dan anxiety. Jika seorang

pasien terkena serangan psikotik akut, lebih baik diatasi dengan “meng-

imobilisasi” pasien dulu dan mengajaknya bicara, kemudian diberi

benzodiazepine untuk penenang dan atau suatu obat antipsikotik.

Benzodiazepine (contoh: lorazepam 2mg IM tiap 30 menit) terbukti

efektif mengurangi agitasi sehingga mengurangi dosis antipsikotik yang

dibutuhkan dan mengurangi efek samping. Jika dibutuhkan antipsikosis

8

Page 9: Diskusi Kasus Farmasi Skizofrenia

untuk agitasi yang berat, obat potensi tinggi bisa digunakan, seperti

haloperidol 2-5mg IM setiap 60 menit. Selanjutnya dapat digunakan anti-

psikotik lain yang sesuai indikasi.6

Terapi stabilisasi minggu ke 2-3 pada skizofrenia bertujuan untuk

meningkatkan sosialisasi dan perbaikan kebiasaan (self-care habits) dan

perasaan. Mungkin perlu waktu 6-8minggu utk mendapat respon yang

diharapkan, dan pada pasien kronis mungkin butuh waktu 3-6bulan.

Pengobatan menggunakan antipsikotik atipikal, jika menggunakan obat

tipikal: dosis yang ekuivalen dengan chlorpromazin 300-1000mg dapat

digunakan. Terapi biasanya hanya mengurangi gejala dan belum bisa

menyembuhkan.6

Terapi pemeliharaan bertujuan untuk mencegah kekambuhan.

Terapi harus diberikan sedikitnya satu hingga lima tahun sejak sembuh

dari episode akut, kemudian dosis pada diturunkan perlahan-lahan.

Terapi pemeliharaan dapat diberikan dalam dosis setengah dari dosis

akut. Bagi pasien yang kepatuhannya rendah dapat digunakan obat yang

dibuat dalam formulasi depot seperti flufenazin dekanoat atau

haloperidol dekanoat yang dapat diberikan setiap 2-4minggu sekali

secara IM.6

Karena penderita Skizofrenia menggunakan obat dalam jangka

waktu lama, sangat penting untuk menghindari dan mengatur efek

samping yang timbul. Masalah tersering bagi penderita yang

menggunakan antipsikotik konvensional ialah gangguan pergerakan otot

yang disebut juga Efek samping Ekstra Piramidal (EEP). Agar tidak

kaku penderita harus bergerak (berjalan) setiap waktu, dan akhirnya tidak

dapat beristirahat. Efek samping lain yang dapat timbul adalah tremor

pada ekstremitas. Dapat diberikan obat anti-kolinergik (biasanya

benztropin) bersamaan dengan obat antipsikotik untuk mengatasinya.

Efek samping lain ialah tardive dyskinesia dimana terjadi pergerakan

mulut yang tidak dapat dikontrol, protruding tongue, dan facial

grimace. Kemungkinan terjadinya efek samping ini dapat dikurangi

9

Page 10: Diskusi Kasus Farmasi Skizofrenia

dengan menggunakan dosis efektif terendah dari obat antipsikotik atau

mengganti antipsikotik konvensional dengan antipsikotik atipikal.

Peningkatan berat badan juga sering terjadi pada penderita Sikzofrenia

yang menggunakan antipsikotik atipikal. Diet dan olah raga dapat

membantu mengatasi masalah ini.1,3,5

2. Terapi Psikososial

a. Terapi perilaku

Teknik perilaku menggunakan latihan ketrampilan sosial

untuk meningkatkan kemampuan sosial, kemampuan memenuhi

diri sendiri, latihan praktis, dan komunikasi interpersonal.3

b. Terapi berorientasi keluarga

Setelah periode pemulangan, topik penting yang dibahas dalam

terapi keluarga adalah proses pemulihan, khususnya lama dan

kecepatannya. Seringkali anggota keluarga mendorong pasien

skizofrenia untuk melakukan aktivitas teratur terlalu cepat. Hal ini

berasal dari ketidaktahuan tentang sifat skizofrenia serta

penyangkalan tentang keparahan.4

c. Terapi kelompok

Terapi kelompok efektif dalam menurunkan isolasi sosial,

meningkatkan persatuan, dan meningkatkan tes realitas bagi pasien

skizofrenia.3

d. Psikoterapi individual

Menegakkan hubungan sering sulit dilakukan; pasien

skizofrenia sering kesepian dan menolak keakraban, serta

mengembangkan sikap curiga, cemas, dan bermusuhan jika

seseorang mendekati. Pengamatan yang cermat dari jauh, perintah

sederhana, kesabaran, dan ketulusan hati lebih disukai daripada

informalitas yang prematur.3

10

Page 11: Diskusi Kasus Farmasi Skizofrenia

e. Perawatan di RS

Indikasi perawatan adalah untuk diagnostik, menstabilkan

medikasi, keamanan pasien karena gagasan bunuh diri atau

membunuh, dan perilaku yang kacau termasuk ketidakmampuan

memenuhi kebutuhan dasar. Perawatan di RS menurunkan stres

pada pasien dan membantu menyusun aktivitas harian.3

H. Prognosis

Sampai saat ini belum ada metode yang dapat memprediksi

kesembuhan, tetapi ada faktor yang dapat mempengaruhi seperti usia tua,

faktor pencetus yang jelas, onset akut, riwayat sosial yang baik, menikah,

pekerjaan pramorbid baik, gejala depresi, riwayat keluarga gangguan mood,

sistem pendukung baik, dan gejala positif akan memberikan prognosis baik.

Sedangkan onset muda, tidak ada faktor pencetus, onset tidak jelas, riwayat

sosial buruk, autistik, tidak menikah / janda / duda, riwayat keluarga

skizofrenia, sistem pendukung buruk, gejala negatif, riwayat trauma prenatal,

sering relaps dan riwayat agresif akan memberikan prognosis buruk.1,5

11

Page 12: Diskusi Kasus Farmasi Skizofrenia

STATUS PENDERITA

I. Anamnesis

A. Identitas

Nama : Tn. P

Umur : 35 th

Jenis kelamin : Laki-laki

Pendidikan : Perguruan tinggi tidak tamat

Pekerjaan : Pengangguran

Alamat : Surakarta

Agama : Islam

B. Riwayat Psikiatri

1. Keluhan Utama:

Dibawa karena mengamuk dan memukul wanita muda tidak dikenal

2. Riwayat Penyakit Sekarang:

Alloanamnesis:

Tn. H, 42 tahun, kakak kedua pasien yang tinggal serumah dan

mengetahui kegiatan pasien.

Sejak 1 hari SMRS, pasien mengamuk. Ia menganggap bahwa

wanita yang dipukulnya adalah wanita jalang yang pantas

mendapatkan pukulan darinya.

Saat berusia 24 tahun, pasien sempat mendapat pekerjaan

selama tujuh bulan. Pasien mendapat bisikan untuk menjauhi teman

kerjanya. Sejak saat itu pasien menjadi curiga dan menarik diri.

Pasien dirawat di RS. Akhirnya dia dipecat dan sejak saat itu pasien

menganggur.

Selama masa kuliah, pasien pernah menjalin hubungan khusus

dengan seorang wanita, namun ketika sang pacar mengakhiri

hubungan mereka pasien tidak menerima kenyataan dan

12

Page 13: Diskusi Kasus Farmasi Skizofrenia

menganggap pacarnya pergi karena diculik sekawanan penjahat,

pasien pernah meminta bantuan polisi untuk membantu mencari sang

pacar. Prestasi akademik pasien menurun drastis dan ia diminta

keluar dari fakultasnya dan mencari bantuan psikiatrik.

Selama masa sekolah, pasien menggangap teman sekolah

mengejek dirinya. Pasien memperhatikan bahwa teman-temannya

akan meludah dan cekikikan jika pasien akan memasuki kelas.

Secara sosial pasien hanya berinteraksi dengan kakaknya dan

petugas kesehatan mental. Pasien serumah dengan kakaknya, pasien

menganggap lingkungan rumahnya adalah jaringan komunikasi

yang besar, yang dilengkapi kamera dimana-mana yang selalu

memantau kegiatan pasien, yang apabila dia sedikit saja melakukan

kegiatan maka orang-orang sekitar akan memberitahukan pada

semua penduduk desa pasien tinggal. Pasien kadang berpikir bahwa

orang-orang mengintai dan mengawasi dirinya karena mereka ingin

tahu rahasia besar dari intelegensia superiornya.

Dalam 11 tahun terakhir pasien telah dirawat di RS sebanyak

12 kali dengan waktu perawatan terlama adalah 8 bulan. Dalam 5

tahun belakangan ini, pasien hanya dirawat selama satu kali dengan

durasi 3 minggu. Selama perawatan pasien mendapatkan obat, walau

medikasi rawat jalan telah diberikan, pasien biasanya menghentikan

medikasi segera setelah keluar dari RS.

Autoanamnesis :

Pada saat wawancara pasien berpakaian agak lusuh,

pembicaraannya inkoheren tidak sesuai arah sasaran. Afeknya

menumpul.

3. Riwayat Penyakit Dahulu

R. Gangguan jiwa sebelumnya: (+), tahun 2004

R. Mondok di RSJ: (+), tahun 2004, 3 minggu di RSJD Surakarta

13

Page 14: Diskusi Kasus Farmasi Skizofrenia

R. Gangguan medis sebelumya: disangkal

R. Trauma kepala, kejang, penyakit neurologis: disangkal

R. Penggunaan zat: disangkal

4. Riwayat Kehidupan Pribadi

a. Riwayat prenatal dan perinatal

Pasien adalah anak bungsu dari 3 bersaudara

b. Riwayat masa kanak awal (0 – 3 tahun)

Pasien tumbuh normal seperti anak-anak lain dan diasuh oleh

orang tua kandung.

c. Riwayat masa pertengahan ( 3 - 11)

Pasien tumbuh normal dan tidak pernah menderita sakit berat.

d. Riwayat masa anak akhir (pubertas – remaja)

Hubungan sosial: sebelum sakit pasien orang yang pendiam

Riwayat sekolah: prestasi sedang

Riwayat psikoseksual: belum menikah

Latar belakang agama: biasa

5. Riwayat keluarga

Terdapat riwayat gangguan jiwa pada keluarga yakni paman pasien

II. PEMERIKSAAN

A. Vital sign : tekanan darah : 130 / 90 mmHg

frekuensi nadi : 104 x/menit

frekuensi nafas : 24 x/menit

suhu : 37,2 oC

B. Status interna : dalam batas normal

C. Status neurologis : dalam batas normal

D. Status Psikiatri :

1. Diskripsi umum

14

Page 15: Diskusi Kasus Farmasi Skizofrenia

Penampilan : laki-laki sesuai umur, penampilan kurang

dan perawatan diri jelek.

Kesadaran : kuantitatif : CM

kualitatif : berubah

Pembicaraan : mutisme

Perilaku dan psikomotor : hipoaktif

Sikap terhadap pemeriksa : tidak kooperatif

2. Alam perasaan (afek dan mood) : Inappropriate

3. Proses pikir

Bentuk : non realistik

Isi : waham

Progresi : inkoherensi

4. Gangguan Persepsi

Halusinasi auditorik (+)

Halusinasi visual (-)

Ilusi (-)

5. Sensorium dan kognitif

Orientasi tempat, orang dan waktu : buruk

Kognitif : Daya ingat jangka panjang : buruk

Daya ingat jangka pendek : buruk

6. Tilikan diri / Insight : Jelek

Resume

Penderita tn. P, laki-laki, usia 35 tahun, anak ketiga dari tiga bersaudara, alamat

Surakarta. Keluhan utama adalah mengamuk dan memukul wanita tidak dikenal.

Didapatkan riwayat gangguan jiwa pada keluarga, mengalami gangguan nyata

dalam fungsi pekerjaan dan sosial, adanya waham, halusinasi dengar, serta tilikan

diri yang jelek.

Diagnosis

F.20.0 Skizofrenia Paranoid

15

Page 16: Diskusi Kasus Farmasi Skizofrenia

Diagnosis Banding

F.60.0 Gangguan Kepribadian Paranoid

Tujuan Penatalaksanaan

Pada fase akut serangan (hingga 7 hari) terapi bertujuan untuk mengurangi

agitasi, hostility, agresi, dan anxiety. Setelah pasien tenang, diberikan obat anti-

psikotik untuk mengurangi gejala psikosisnya.

Penatalaksanaan

Non medikamentosa

Psikoterapi berupa terapi perilaku (social skills therapy)

Psikoterapi berupa terapi berorientasi keluarga

Psikoterapi individual

Medikamentosa

R/ Lorazepam 2mg/ml inj amp No.II

Cum spuit cc 1 No.II

S i.m.m. selang 30 menit

R/ Risperidon tab mg 1 No.II

S 2 dd tab I

Pro: Tn. P (35 tahun)

Analisis Kasus

1. Skizofrenia paranoid pada kasus ini ditegakkan atas dasar :

Pasien mengalami ideas of reference yaitu terjadi pencampuran waham dan

halusinasi dengan kecenderungan memberikan impresi atau nuansa pribadi

atas kejadian yang dialaminya. Selain itu terdapat halusinasi auditorik dimana

pasien merasa ada yang membisikkan untuk menjauhi teman-teman. Gejala-

gejala tersebut telah berlangsung selama kurun waktu satu bulan lebih. Ada

perubahan yang konsisten dan bermakna terhadap the overall quality yang

membedakannya dari sekedar gangguan kepribadian paranoid.

16

Page 17: Diskusi Kasus Farmasi Skizofrenia

2. Terapi

Terapi yang pertama diberikan adalah mengatasi amukan dan tindakan

kekerasan penderita terhadap orang lain dengan memberikan injeksi

Lorazepam yang memberikan efek sedatif pada pasien, dengan begitu pasien

lebih tenang dan terkendali. Setelah itu diberi tablet risperidon sebagai terapi

antipsikotik. Pasien diindikasikan untuk rawat inap agar mendapat terapi

intensif mengingat pasien telah melakukan hal yang membahayakan orang

lain.

Lorazepam

Bentuk sediaan : Injeksi 2mg/ml dan 4mg/ml dalam vial berisi 1 dan 10ml

Indikasi :

Derivat benzodiazepin digunakan untuk menimbulkan sedasi,

menghilangkan rasa cemas, dan keadaan psikosomatik yang berhubungan

dengan rasa cemas.

Selain itu derivat benzodiazepin juga digunakan sebagai obat hipnotik,

antikonvulsi, pelemas otot dan induksi anestesi umum.

Mekanisme kerja:

Benzodiazepin berikatan langsung pada sisi spesifik (subunit gamma)

reseptor GABA-A (reseptor kanal ion klorida kompleks), sedangkan GABA

berikatan pada subunit alfa atau beta. Pengikatan ini akan menyebabkan

pembukaan kanal klorida, memungkinkan masuknya ion klorida ke dalam sel,

menyebabkan peningkatan potensial elektrik sepanjang membran sel dan

menyebabkan sel sukar tereksitasi..

Dosis :

Dosis awal 2-3mg/hari IM / IV, 2-3 kali sehari. Selanjutnya dapat diberikan

2-6mg/hari IM / IV, 2-3 kali sehari. Dosis maksimal 10mg/hari.

Efek samping :

Kepala ringan, malas / tak bermotivasi, lamban, inkoordinasi motorik,

ataksia, gangguan fungsi mental dan psikomotor, gangguan koordinasi

berpikir, bingung, disartria, dan amnesia retrograd.

17

Page 18: Diskusi Kasus Farmasi Skizofrenia

Risperidon

Bentuk sediaan : Tablet 0,25mg, 0,5mg, 1mg, 2mg, 3mg, 4mg dan Solutio

1mg/ml

Indikasi :

Untuk pengobatan skizofrenia akut dan kronik serta keadaan psikotik lain

dengan gejala positif (halusinasi, delusi, gangguan pola pikir, permusuhan,

kecurigaan) dan atau gejala negative (menarik diri secara sosial-emosional,

sulit berbicara). Juga bisa mengurangi gejala afektif (depresi, perasaan

bersalah, cemas) yang berhubungan dengan skizofrenia.

Mekanisme kerja :

Adalah antagonis monoamin selektif yang mempunyai afinitas tinggi

terhadap reseptor serotonin 5-HT2 dan reseptor dopamin D2. Risperidon

mengikat juga reseptor adrenergic alfa-1 dan berafinitas rendah terhadap

histaminergik H1 dan reseptor adrenergic alfa-2. Risperidon tidak memiliki

afinitas terhadap reseptor kolinergik. Meskipun risperidon merupakan

antagonis D2 yang kuat, yang memperbaiki gejala positif skizofrenia namun

menyebabkan depresi aktivitas motor dan menginduksi katalepsi yang kurang

disbanding neuroleptik klasik. Antagonis serotonin dan dopamine sentral

yang seimbang dapat mengurangi efek samping ekstra pyramidal dan

memperluas aktivitas terapetik terhadap gejala negative dan efektif dari

skizofrenia.

Dosis :

Mulai dengan 1mg, 2 kali sehari. Dosis ditingkatkan pada hari kedua menjadi

2mg, 2 kali sehari dan pada hari ketiga menjadi 3mg, 2 kali sehari.

Selanjutnya dosis dapat dipertahankan atau disesuaikan dengan kondisi

pasien. Dosis maksimum adalah 8mg, 2 kali sehari.

Efek samping :

Gangguan tidur, agitasi, cemas, dan sakit kepala.

18

Page 19: Diskusi Kasus Farmasi Skizofrenia

DAFTAR PUSTAKA

1. Schultz S, et al. 2007. Schizophrenia: A Review. American Phamily

Phisician, 75(12), 1821-1829.

2. Mansjoer Arief, et al. (editor). 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3 Jilid

1. Jakarta: Media Aesculapis.

3. Sadock BJ, Kaplan HI, Grebb JA. 2003. Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan

Prilaku Psikiatri Klinis Jilid 1. Jakarta: Binarupa Aksara.

4. Maslim R. (editor). 2002. Diagnosis Gangguan Jiwa : Rujukan Ringkas dari

PPDGJ-III. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya.

5. Maramis WF. 2006. Catatan Kuliah Kedokteran Jiwa. Cetalan ketujuh.

Surabaya: Penerbit Airlangga University Press.

6. Maharatih GA, Nuhriawangsa I, dan Sudiyanto A. 2010. Psikiatri

Komprehensif. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

7. Buchanan RW, Carpenter TW. 2005. Schizophrenia: Introduction and

overview. Kaplan & Sadock’s comprehensive textbook of psychiatry (7th ed.).

Philadelphia: Lippincott, Williams & Wilkins, Inc.

8. Durland VM, and Barlow DH. 2007. Essentials of Abnormal Psychology. 3rd

edition Pacific Grove, CA: Wadsworth.

9. Wiraminaradja dan Sutardjo. 2005. Pengantar Psikologi Abnormal. Bandung:

Refika Aditama.

10. Freedman R. 2003. Schizophrenia. The New England Journal of Medicine.

Colorado: University of Colorado Health Sciences Center.

11. APA Clinical Guidelines. American Psychiatric Association. 2004. Practice

Guidelines for the treatment of patients with schizophrenia.

12. Brannon GE, MD. 2012. Schizoaffective Disorder.

http://emedicine.medscape.com/article/294763-overview#aw2aab6b2b5aa

Diakses pada tanggal 06 Januari 2015 jam 08.26.

13. Lieberman et al. 2003. Pharmacol Rev, 60: 358-403

14. Sulistia G. Ganiswara, 2005, Farmakologi dan Terapi, Jakarta: Bagian

Farmakologi FKUI

19