DiseminasiBestPractice OK

of 90/90
Direktorat Pembinaan Pendidikan dan Pelatihan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional Gedung D Lantai 15 Jl. Jenderal Sudirman Pintu I Senayan Jakarta Telp/fax. 021-57974128, 57974129, 57974130, 57974131, bahan BELAJAR mandiri DISEMINASI BEST PRACTICE Bahan Belajar Mandiri BERMUTU Better Education through Reformed Management and Universal Teacher Upgrading
  • date post

    25-Jun-2015
  • Category

    Documents

  • view

    478
  • download

    2

Embed Size (px)

description

Diseminasi Best Practice KKG/MGMP

Transcript of DiseminasiBestPractice OK

bahan BELAJAR mandiri DISEMINASI BEST PRACTICE

Bahan Belajar Mandiri BERMUTU Better Education through Reformed Management and Universal Teacher Upgrading

Direktorat Pembinaan Pendidikan dan Pelatihan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional Program BERMUTU Jl. Jenderal Sudirman Pintu I Senayan Jakarta Gedung D Lantai 15 Telp/fax. 021-57974128, 57974129, 57974130, 57974131, 57974132, 57974133 [email protected]

i

Diseminasi Best Practice Pengembang Suwanti, S.Pd., MM Nunung Suryantini, S.Pd. Penelaah Dr. H. Murtadlo, M.Pd Dra. Elly Purwanti, M.P. Drs. Wachju Subchan, M.S., Ph.D

Perancang Grafis Yance Ferdian, ST Bagus Dwipayana, ST Alamsyah YDM, ST Rindy Andina, A.Md. Arief Mukti Yuliyanto

Bahan Belajar Mandiri Best Practice 2008 Direktorat Pembinaan Pendidikan dan Pelatihan,Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan

Departemen Pendidikan Nasional

Gedung D Lantai 15 Jl. Jenderal Sudirman Pintu I Senayan Jakarta Telp/fax. 021-57974128, 57974129, 57974130, 57974131, 57974132, 57974133 [email protected]

Bahan Belajar Mandiri Manajemen

Diseminasi Best Practice

Kata PengantarDalam rangka mengimplementasikan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Departemen Pendidikan Nasional melalui Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Ditjen PMPTK) melaksanakan Program Better Education through Reformed Management and Universal Teacher Upgrading (BERMUTU) dimulai pada tahun 2008 sampai tahun 2013 yang tersebar di 75 Kabupaten/Kota di 16 provinsi. Program BERMUTU bertujuan untuk meningkatkan mutu pembelajaran sebagai dampak peningkatan kompetensi, kualifikasi, dan kinerja guru. Salah satu komponen strategis Program BERMUTU untuk mencapai tujuan tersebut adalah penguatan peningkatan mutu dan profesional guru secara berkelanjutan. Besarnya jumlah guru yang belum memenuhi kualifikasi minimal S1/D4 menjadi dasar pemikiran untuk memberdayakan Kelompok Kerja Guru (KKG) yang mewadahi guru SD, Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) yang mewadahi guru bidang studi di SMP, Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS), Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS), Kelompok Kerja Pengawas Sekolah (KKPS), Musyawarah Kerja Program Studi (MKPS). Pada Program BERMUTU, peningkatan kompetensi guru akan ditingkatkan dengan memberdayakan KKG dan MGMP sehingga mampu menyelenggarakan berbagai kegiatan pengembangan profesional guru termasuk pendidikan dan pelatihan yang terakreditasi bagi guru yang belum memiliki Ijazah S1/D4 dan juga bagi kepala sekolah dan pengawas sekolah. Bahan Belajar Mandiri BERMUTU telah dikembangkan untuk dimanfaatkan sebagai perangkat utama dalam proses pendidikan dan pelatihan terakreditasi bagi guru di KKG/MGMP, dan kepala sekolah serta pengawas sekolah di KKKS/MKKS, KKPS/MKPS. Bahan Belajar Mandiri BERMUTU untuk bidang studi yang dirancang dengan mengintegrasikan pendekatan penelitian tindakan kelas, lesson study, dan studi kasus, diharapkan dapat memandu guru-guru untuk melakukan kajian kritis terhadap proses pembelajaran yang dilaksanakan, memperbaiki dan mengembangkan kurikulum pembelajarannya, serta mempraktekkan pembelajaran yang baik berdasarkan metode PAKEM dan strategi pembelajaran inovatif lainnya. Sementara itu, Bahan Belajar Mandiri BERMUTU untuk bidang manajemen dirancang untuk menjadi panduan praktis bagi kepala sekolah dan pengawas sekolah dalam melaksanakan tugas pengelolaan dan penyeliaan. Bahan Belajar Mandiri BERMUTU dikembangkan dengan melibatkan sejumlah widyaiswara dari P4TK, dosen LPTK, guru, kepala sekolah dan pengawas sekolah, serta mengintegrasikan berbagai masukan dari praktisi lapangan dan nara sumber ahli dari LPTK. Dengan Bahan Belajar Mandiri BERMUTU, beragam kegiatan pengembangan profesional guru di KKG/MGMP, dan pengembangan kepala sekolah dan pengawas di KKKS/MKKS, KKPS/MKPS dapat dilaksanakan secara aktif. Penghargaan dan terima kasih setinggi-tingginya disampaikan kepada semua pihak yang telah terlibat dalam pengembangan Bahan Belajar Mandiri BERMUTU ini yang dikoordinasikan oleh Direktorat Pembinaan Diklat, Ditjen PMPTK. Semoga Bahan Belajar Mandiri BERMUTU ini dapat bermanfaat bagi guru-guru dan komtopikas pendidikan pada umumnya, sehingga pada akhirnya dapat tercapai citacita luhur peningkatan kualitas pendidikan di tanah air. Jakarta, 20 November 2008 Direktur Pembinaan Pendidikan dan Pelatihan Sumarna Surapranata, Ph,D. NIP. 131 470 163

Program BERMUTU

i

Diseminasi Best Practice

Daftar IsiKata Pengantar......................................................................i Daftar isi............................................................................iii Pendahuluan.........................................................................1 Tinjauan Bahan Belajar Mandiri..................................................7 Topik I Pengertian, Ruang Lingkup, dan Ciri-ciri Best Practice.............9A. Pengantar.......................................................................11 B. Tujuan...........................................................................11 C. Alat/Bahan/Sumber...........................................................11 D. Langkah-Langkah Kegiatan...................................................12 E. Penguatan.......................................................................18

Topik II Penulisan Best Practice Kepala Sekolah dan Pengawas...........21A. Pengantar.......................................................................23 B. Tujuan...........................................................................23 C. Alat/Bahan/Sumber...........................................................23 D. Langkah-Langkah Kegiatan...................................................24 E. Penguatan.......................................................................25

Topik III Seminar Best Practice.................................................27A. Pengantar.......................................................................29 B. Tujuan...........................................................................29 C. Alat/Bahan/Sumber...........................................................30 D. Langkah-Langkah Kegiatan...................................................30 E. Penguatan.......................................................................31 F. Keberlanjutan Program (tugas mandiri tidak terstruktur)..............32

Daftar Pustaka ....................................................................33 Lampiran...........................................................................35 Glosarium...........................................................................61

ii

Bahan Belajar Mandiri Manajemen

Diseminasi Best Practice

DAFTAR LAMPIRANLampiran 1. PENGERTIAN, RUANG LINGKUP, DAN CIRI-CIRI BEST PRACTICE.....36 Lampiran 2. CONTOH BEST PRACTICE KEPALA SEKOLAH............................40 Lampiran 3. CONTOH BEST PRACTICE PENGAWAS SEKOLAH........................43 Lampiran 4. STRATEGI BEST PRACTICE.................................................48 Lampiran 5. SEMINAR......................................................................51 Lampiran 6. PENILAIAN...................................................................56

Program BERMUTU

iii

Diseminasi Best Practice

Sukses adalah buah dari kreatif, disiplin, dan tanggung jawab

iv

Bahan Belajar Mandiri Manajemen

Diseminasi Best Practice

PendahuluanBahan Belajar Mandiri BERMUTU merupakan program inovatif untuk meningkatkan kualitas pengajaran melalui kelompok kerja guru, kepala sekolah, dan pengawas. Program ini akan diadakan di 75 kabupaten/kota di 16 propinsi di Indonesia dengan harapan akhirnya program ini dapat dijadikan model pengembangan profesional yang sistematis bagi KKG dan MGMP di seluruh Indonesia. Ada dua Bahan Belajar Mandiri BERMUTU, yaitu Bahan Belajar Mandiri Bidang Ilmu untuk guru SD dan SMP, serta Bahan Belajar Mandiri Manajemen untuk kepala sekolah dan pengawas.

TujuanTerdapat tiga tujuan utama dari program ini. Meningkatkan kompetensi guru, kepala sekolah, dan pengawas dalam memperbaiki kualitas pengajaran. Memberikan kontribusi pada peningkatan kualifikasi para peserta dengan adanya angka kredit yang diberikan kepada yang berhasil menyelesaikan program ini. Memberikan kontribusi pada peningkatan kualitas sistem pengembangan tenaga profesional melalui tersedianya program kelompok kerja guru, kepala sekolah, dan pengawas yang dapat diterapkan, sistematis, dan berkelanjutan

Bahan Belajar Mandiri Manajemen BermutuBahan Belajar Mandiri Manajemen merupakan acuan program pengembangan profesional yang sistematis dan fleksibel kepala sekolah dan pengawas di KKKS/MKKS, KKPS/MKPS.

Struktur PaketBahan Belajar Mandiri Manajemen terdiri dari empat Bahan Belajar Mandiri tentang aspek manajemen, yaitu:

(1) Bahan Belajar Mandiri Pemetaan Kebutuhan dan Profil Guru (2) Bahan Belajar Mandiri Pengelolaan Kualitas KKG/MGMP (3) Bahan Belajar Mandiri Himpunan & Pengelolaan Dana (4) Bahan Belajar Mandiri Diseminasi Best PracticeKeempat Panduan Paket Manajemen merupakan bagian-bagian dari sebuah keseluruhan, dan perlu dipelajari secara berurutan dari yang pertama (Profil Kebutuhan Guru) hingga yang terakhir (Diseminasi Praktik Unggul). Tiap Panduan dibuat berkaitan dengan panduan sebelumnya. Di samping keempat Panduan tersebut, kepala sekolah dan pengawas juga akan mempelajari dasar keterampilan TIK/ICT melalui Panduan TIK/ICT dalam Pembelajaran. Adapun tujuannya adalah agar

Program BERMUTU

1

Diseminasi Best Practicekepemimpinan dalam KKG/MGMP memiliki keterampilan yang sama dengan para guru dan memahami sumber-sumber TIK/ICT yang diperlukan dalam gugus guna mengakses Laman (Website) Cakrawala Guru serta menyelesaikan persyaratan studi BERMUTU. Selain itu, para kepala sekolah and pengawas didorong untuk mengikuti Bahan Belajar Mandiri BERMUTU Bidang Ilmu. Pada pertemuan awal, mereka bersama dengan para guru Paket Bidang Ilmu memperoleh pemahaman tentang Pengantar Program Bermutu. Untuk pengelolaan KKG/MGMP yang efektif mereka juga akan memperoleh pemahaman tentang strategi inti dalam paket peningkatan guru tersebut: PTK, Studi Pelajaran (Lesson Study), dan Studi Kasus. Hal ini akan membantu mereka dalam merencanakan program secara tepat, serta memastikan/menjamin bahwa segala persiapan telah dilaksanakan dan bahan-bahan telah berada pada tempatnya untuk melaksanakan program.

Proses Belajar Bahan Belajar Mandiri ManajemenSebagai bukti telah mempelajari Paket ini, para peserta diwajibkan menyelesaikan 4 (empat) buah tugas, sebuah untuk tiap Panduan. Tugastugas tersebut berupa latihan dalam kerja (on-the-job training) dan terkait erat dengan pengelolaan efektif kegiatan para guru di sekolah dan pada/dalam tingkat KKG/MGMP. Keempat tugas tersebut akan dikumpulkan dalam portofolio Bahan Belajar Mandiri Manajemen yang selanjutnya dinilai oleh mitra LPTK, serta digunakan untuk perolehan angka kredit promosi. Tugas-tugas tersebut adalah sebagai berikut. Panduan 1: Profil Kebutuhan Guru Tugas: Penyusunan data base kompetensi, kualifikasi dan kinerja guru, baik di tingkat sekolah maupun di KKG/MGMP di sekolah masing masing. Panduan 2: Pengelolaan Kualitas KKG/MGMP Tugas: Penyusunan Rencana Strategis yang lengkap dengan Analisis SWOT, Visi, Misi, program, dan kebijakan operasional Panduan 3: Himpunan dan Pengelolaan Dana Tugas: Penyusunan Proposal untuk Hibah Kegiatan KKG/MGMP Panduan 4: Diseminasi Best Practice Tugas: Penulisan naskah tentang keberhasilan Best Practice

Kalender pembelajaranSetiap Bahan Belajar Mandiri BERMUTU Bidang Manajemen memiliki bobot untuk dipelajari oleh Kepala Sekolah dan atau Pengawas Sekolah selama 16 kali pertemuan dalam waktu 1 semester sampai satu tahun. Namun demikian, proses pertemuan di KKKS/MKKS, KKPS/MKPS diatur untuk mengakomodasikan peserta mempelajari beberapa Bahan Belajar Mandiri selama 16 kali pertemuan, sehingga diperoleh pola pertemuan sebagai berikut.

2

Bahan Belajar Mandiri Manajemen

Diseminasi Best Practice16 x pertemuan dalam waktu 1 tahun I II III IV V ICT VI VII VIII Kualitas IX X XI XII XIII XIV XV XVI

Pengantar & Profil Guru Pengantar Program BERMUTU Penilaian Kebutuhan Guru dan Peran Kepala Sekolah sebagai Pembina

Keuangan

Diseminasi

Keterampilan ICT

Pengelolaan Kualitas Pendidikan dalam gugus

Himpunan & Pengelolaan Keuangan dalam gugus

Diseminasi Best Practice dalam gugus

Berikut ini adalah uraian pola pertemuan di KKKS/MKKS, KKPS/MKPS:No. 1 2 3 4 Pertemuan Pengantar Program BERMUTU Penilaian Kebutuhan Guru dan Peran Kepala Sekolah sebagai Pembina Keterangan Diskusi awal tentang Model BERMUTU Diskusi tentang Pembinaan dan pengembangan KKG/MGMP Penjelasan tentang Penilaian Kebutuhan Guru dan Peran Kepala Sekolah sebagai Pembina Pengenalan Karakteristik Pembelajaran baik. Tugas Mandiri

Kepala Sekolah dan Pengawas membaca dan mempelajari bahan-bahan: bahan ajar cetak, AV, dan web-based. Kepala Sekolah dan Pengawas mengerjakan latihan dan tugas-tugas Analisis Kebutuhan guru dan pendataan profil guru Kepala Sekolah dan Pengawas membaca dan mempelajari bahan-bahan: bahan ajar cetak, AV, dan web-based tentang Kebutuhan Guru, Profil Guru, dan Kepala Sekolah sebagai Pembina.

yang

Latihan Penilaian Guru Berbasis Kinerja Latihan dan Praktik Pendampingan guru Latihan Analisis Kebutuhan Guru, Kualifikasi, Kompetensi dan Permasalahan Guru. Latihan Peningkatan Aktivitas Guru dalam KKG/MGMP Penjelasan tentang peran dan fungsi ICT dalam Pembelajaran Latihan praktis pengenalan ICT dan peralatan pendukung program ICT Penjelasan tentang Konsep Kualitas Pendidikan, Kendali Mutu, dan Penjaminan Kualitas Pendidikan

5 6

Keterampilan ICT

Kepala Sekolah dan Pengawas mengerjakan latihan dan tugas-tugas pengenalan ICT dan peralatan pendukungnya.

7 8 9 10

Pengelolaan Pendidikan gugus

Kualitas dalam

Kepala Sekolah dan Pengawas membaca dan mempelajari bahan-bahan: bahan ajar cetak, AV, dan web-based tentang Pengelolaan Kualitas

Program BERMUTU

3

Diseminasi Best PracticeNo. Pertemuan Keterangan Identifikasi dimensi dan indikator kualitas pendidikan Evaluasi dan Refleksi Kegiatan KKG/MGMP Tugas Mandiri Pendidikan Kepala Sekolah dan Pengawas mengerjakan latihan dan tugas-tugas identifikasi dimensi dan indikator kualitas pendidikan Kepala Sekolah dan Pengawas melakukan reviu dan refleksi terhadap kegiatan KKG/MGMP berdasarkan pengetahuan, pengalaman, dan dokumentasi yang tersedia. Kepala Sekolah dan Pengawas membaca dan mempelajari bahan-bahan: bahan ajar cetak, AV, dan web-based tentang Pengelolaan Keuangan Kepala Sekolah dan Pengawas mengerjakan latihan penulisan proposal hibah untuk unit pendidikan Kepala Sekolah dan Pengawas mengerjakan latihan dan tugas-tugas perencanaan keuangan untuk unit pendidikan Kepala Sekolah dan Pengawas membaca dan mempelajari bahan-bahan: bahan ajar cetak, AV, dan web-based tentang Best Practice dan Diseminasi Kepala Sekolah dan Pengawas mengerjakan latihan dan tugas-tugas perencanaan diseminasi Best Practice

11 12 13

Himpunan & Pengelolaan Keuangan dalam gugus

Praktik menulis proposal hibah Praktik perencanaan keuangan untuk unit pendidikan

14 15 16

Diseminasi Best Practice dalam gugus

Penjelasan tentang Best Practice dalam pendidikan Strategi umum diseminasi Best Practice Latihan perencanaan diseminasi Best Practice dalam gugus Seminar

KESIMPULANProgram BERMUTU diciptakan untuk membuka era baru pengembangan guru, kepala sekolah dan pengawas yang diangkat berdasarkan Undang-Undang Guru dan Dosen No. 14/2005. Program ini berpotensi mentransformasikan kelompok kerja pendidik menjadi sumber pengembangan mutu profesional yang berkelanjutan. Keberhasilan pengembangan mutu profesional ini sangat tergantung dari kepempinan dan peran kepala sekolah dan pengawas dalam pengelolaan mutu dan relevansi KKG/MGMP pada masa yang akan datang.

4

Bahan Belajar Mandiri Manajemen

Diseminasi Best Practice

BAHAN BELAJAR MANDIRI MANAJEMEN PROGRAM BERMUTU

PANDUAN I: PROFIL KEBUTUHAN GURU Pengenalan Karakteristik Pembelajaran yang Baik Penilaian Kinerja Guru Pendampingan Guru Kualifikasi, Kompetensi, dan Permasalahan Guru Tingkat Aktivitas Guru dalam KKG/MGMP PANDUAN II: PENGELOLAAN KUALITAS KKG/MGMP Analisis Lingkungan KKG/MGMP Penyusunan Rencana Strategis KKG/MGMP Pelaksanaan Pengelolaan KG/MGMP Pemberdayaan KKG/MGMP Mereviu Hasil Kegiatan KKG/MGMP Analisis Kemajuan KKG/MGMP Penyusunan laporan dan tindak lanjut

PANDUAN III: PENGELOLAAN DANA KKG/MGMP Penyusunan proposal hibah KKG/MGMP Pertanggungjawaban penggunaan dana Pengelolaan dan pelaporan dana yang akuntabel dan transparan

PANDUAN IV: BEST PRACTICE Hakikat Best Practice Penulisan Best Practice Diseminasi Best Practice

Program BERMUTU

5

Diseminasi Best Practice

Kompetensi Pengawas Kepala Sekolah dan Guru

STANDAR KOMPETENSI PENGAWAS 1. Kompetensi Kepribadian 2. Kompetensi Supervisi Manajerial 3. Kompetensi Supervisi Akademik 4. Kompetensi Evaluasi Pendidikan

STANDAR KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH 1. 2. 3. 4. 5. Kompetensi Kepribadian Kompetensi Manajerial Kompetensi Kewirausahaan Kompetensi Supervisi Kompetensi Sosial

STANDAR KOMPETENSI GURU 1. 2. 3. 4. Kompetensi Pedagogik Kompetensi Kepribadian Kompetensi Sosial Kompetensi Profesional

6

Bahan Belajar Mandiri Manajemen

Diseminasi Best Practice

Tinjauan Bahan Belajar MandiriBetter Education through Reformed Management and Universal Teacher Upgrading (BERMUTU) merupakan salah satu upaya Pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Kegiatan tersebut dilaksanakan melalui pendidikan dan pelatihan (diklat) para kepala sekolah dalam forum MKKS dan diklat pengawas dalam forum KKPS/MKPS. Melalui diklat BERMUTU ini diharapkan kepala sekolah dan pengawas dapat mengembangkan diri lebih kreatif dan inovatif sehingga mampu mengatasi berbagai masalah dalam melaksanakan tugas pokok, fungsi, dan perannya sebagai pengelola pendidikan. Salah satu upaya yang dapat ditempuh adalah pemanfaatan kisah sukses berdasarkan hasil pengalaman yang dialaminya dalam mengelola pendidikan. Contoh: Kisah sukses kepala sekolah dalam memberdayakan masyarakat, memberdayakan pendidik dan tenaga kependidkan, memberdayakan sarana/prasarana dan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar, memberdayakan pembiayaan, mengelola kesiswaan, melaksanakan kurikulum, melaksanakan standar penilaian, mengelola KKG/MGMP, dan lain-lain; Kisah sukses pengawas sekolah dalam supervisi manajerial, supervisi akademik, penelitian dan pengembangan, pembinaan manajerial sekolah, pembinaan guru, pembinaan MGMP/KKG, dan lain-lain. Kisah sukses pengalaman praktis seperti contoh tersebut, dinamakan Best Practice. Paket ini disusun sebagai panduan diklat kepala sekolah dan pengawas yang dikemas dalam bentuk active learning. Adapun isinya mencakup: diseminasi Best Practice yang terdiri dari pengertian, ruang lingkup, dan ciri-ciri Best Practice; latihan kerja; praktik penelitian tindakan; evaluasi; dan contoh strategi diseminasi dalam seminar. Seluruh kegiatan dapat dilaksanakan dalam pertemuan tatap muka dan tugas mandiri dan terstruktur. Dengan kemasan seperti ini diharapkan peserta bukan sekedar memahami teori namun dapat langsung mengaplikasikannya dalam praktik sehari-hari. Semoga hal ini dapat menjadi motivasi dan mengugah semangat sehingga dapat memberikan inspirasi bagi kepala sekolah dan pengawas dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sesuai dengan kondisi serta keadaan sekolah masing-masing. Adapun tujuan khusus diklat ini agar kepala sekolah dan pengawas mampu: 1. menjelaskan pengertian Best Practice; 2. menyebutkan ruang lingkup Best Practice; 3. mendeskripsikan ciri-ciri Best Practice; 4. menganalisis permasalahan yang terjadi pada sekolah yang dikelola;

5. memberikan alternatif pemecahan masalah yang dihadapi; Program BERMUTU 7

Diseminasi Best Practice 6. menerapkan berbagai strategi pemecahan masalah sebagai BestPractice pada sekolah binaan masing-masing;

7. mendiseminasikan Best Practice dalam seminar.Ketujuh tujuan tersebut diharapkan dapat tercapai dalam 3 x pertemuan (tatap muka), tugas mandiri dan terstruktur. Oleh karena itu diharapkan para peserta harus tuntas mempelajari materi pada pertemuan awal sebelum melanjutkan pada materi pertemuan berikutnya. Hal ini penting, karena di setiap akhir pertemuan dilanjutkan dengan penugasan sebagai persiapan pertemuan berikutnya.

8

Bahan Belajar Mandiri Manajemen

Diseminasi Best Practice

TOPIK I: Pengertian, Ruang Lingkup, dan Ciri-ciri Best Practice

Program BERMUTU

9

Diseminasi Best Practice

A. PengantarSelamat bertemu dalam pelatihan belajar manajemen BERMUTU. Dalam pelatihan ini Saudara akan mempelajari tentang pengertian, ruang lingkup, dan ciri-ciri Best Practice. Materi ini merupakan materi dasar yang harus Saudara kuasai sebelum mengikuti pertemuan berikutnya. Best Practice merupakan keberhasilan yang dialami dan diakui oleh pihak yang berkepentingan (siswa, guru, kepala sekolah, pengawas, orang tua, komite, masyarakat, dinas, departemen, pemerintah) dalam melaksanakan tugas pengelolaan pendidikan. Ruang lingkup Best Practice kepala sekolah dan pengawas mencakup peningkatan pengelolaan sekolah yang berkaitan dengan keterlaksanaan Delapan Standar Nasional Pendidikan dan pengelolaan KKG/MGMP. Adapun ciri-ciri Best Practice: terdapat konsep yang akan dicapai, menemui kendala, ada upaya untuk mengatasinya, kunci keberhasilan, diakui dan layak disebarluaskan. Dengan menguasai bahasan pada pertemuan ini diharapkan Saudara akan lebih terpacu dalam mengikuti pertemuan-pertemuan berikutnya. Sebaliknya, jika merasa kurang menguasai materi dasar, dapat mengulang kembali sebagai tugas tidak terstruktur dalam kesempatan yang Saudara tentukan sendiri.

B. TujuanTujuan yang akan dicapai dalam topik ini adalah agar kepala sekolah dan pengawas memahami hakikat Best Practice dengan indikator:

1. menjelaskan pengertian Best Practice; 2. mampu menjelaskan ruang lingkup Best Practice; 3. mampu mendeskripsikan ciri-ciri Best Practice.

C. Alat/Bahan/Sumber1. 2.3. Alat: Alat tulis lengkap baik informasi teknologi (IT) maupun non IT Bahan: Bahan Belajar Mandiri Manajemen BERMUTU (Paket 4) Sumber:

Lampiran 1. Pengertian, Ciri-ciri, dan Ruang Lingkup BestPractice

Re-Code Your Change DNA, PT Gramedia Jakarta KaranganRenald Kasali Tahun 2003

Best Practice on Talent Management PT Permata Printing JakartaKarangan Berger Lance A and Dorothy R. Tahun 2008

Cakrawala Guru. Depdiknas 10 Bahan Belajar Mandiri Manajemen

Diseminasi Best Practice

Contoh Best Practice Kepala Sekolah (Lampiran 2) Contoh Best Practice Pengawas Sekolah (Lampiran 3)

D. Langkah-Langkah Kegiatan20Kegiatan Awal Penjelasan awal tentang diseminasi Best Practice Kegiatan Inti Berbagi pemahaman, (pengertian, ruang lingkup, & ciri-ciri)

110

1

2

20Kegiatan Akhir kesimpulan, penugasan, & penguatan

3

Kegiatan Awal (20 menit) Fasilitator menyampaikan tujuan, materi, dan target Topik 1 Tanya jawab antara fasilitator dengan peserta diklat untukmenggali pemahaman peserta mengenai pengertian, ruang lingkup, dan ciri-ciri Best Practice. ruang lingkup, dan ciri-ciri Best Practice (lampiran 1).

Fasilitator menunjukkan sumber belajar mengenai pengertian,

Kegiatan Inti (110 menit)Tugas kelompok: a. Merefleksi pengalaman-pengalaman baik dan sangat baik (20 menit) Bagilah peserta diklat menjadi beberapa kelompok dengan anggota minimal 3 orang; Setiap kelompok merefleksi pengalaman-pengalaman baik/sangat baik yang pernah dialami ketika sedang melaksanakan Proses Belajar Mengajar (PBM), melaksanakan supervisi, mengelola MGMP/KKG.

Program BERMUTU

11

Diseminasi Best Practice Selanjutnya identifikasi temuan yang menurut Saudara

baik atau sangat baik. Jangan lupa berikan alasan, mengapa Saudara menganggap demikian. Isilah kolomkolom kosong berikut.

Contoh:Pendapat Saudara Baik 1. Guru menilai pekerjaan siswa selain dengan angka, juga dilengkapi dengan catatancatatan dan perbaikannya. .... .... .... .... .... .... .... .... .... .... .... .... Sangat Baik V

No

Temuan

Alasan

Meningkatkan motivasi siswa untuk lebih serius dalam mengerjakan tugas-tugas dan selanjutnya siswa dapat memperbaki kesalahannya. .... .... .... .... .... ....

2 3 4 5 6 dst

.... .... .... .... .... ....

Jika demikian, apa itu Best Practice? Berikan definisiSaudara di kolom berikut.

- Best Practice bagi guru dalam PBM adalah.... - Best Practice bagi kepala sekolah dalam pengelolaansekolah adalah....

- Best Practice bagi kepala sekolah dalam pengelolaanKKG/MGMP adalah.... - Best Practice bagi pengawas dalam sekolah/supervisi manajerial adalah.... pembinaan pembinaan

- Best

Practice bagi pengawas guru/supervisi akademik adalah.... - Best Practice dalam penelitian adalah....

dalam dan

pengembangan

12

Bahan Belajar Mandiri Manajemen

Diseminasi Best Practice

Selanjutnya untuk lebih mendalami pemahaman tentang Best Practice:

Bacalah sumber belajar tentang Best Practice sesuaidengan rujukan yang disarankan. Agar lebih efektif, kelompok satu membaca Lampiran 1. Pengertian,Ciri-ciri, dan Ruang Lingkup Best Practice; kelompok dua membaca Lampiran 2. Contoh Best Practice Kepala Sekolah; kelompok tiga membaca Lampiran 3. Contoh Best Practice Pengawas; dan seterusnya. Best Practice

Diskusikan tentang pengertian, ruang lingkup, dan ciri-ciri Berikan tanggapan disediakan. Materi Pokok Pengertian Best Practice Ruang lingkup Best Practice (yang terkait dengan keterlaksanaan 8 Standar Nasional Pendidikan) - guru dalam pelaksanaan PBM - kepala sekolah/pengawas dalam pengelolaan sekolah - kepala sekolah/pengawas dalam pengelolaan KKG/MGMP - pengawas dalam pembinaan manajerial sekolah - kepala sekolah/pengawas dalam pembinaan guru Ciri-ciri Best Practice tertulis pada kolom yang telah

Tanggapan Peserta ....

.... ....

.... .... .... .... .... ....

b. Mempresentasikan hasil refleksi pengalaman

Tiap-tiap

kelompok mempresentasikan pengalamannya, sesuai urutan kelompok.

hasil

refleksi

Kelompok lain menanggapi.

Program BERMUTU

13

Diseminasi Best PracticeKelompok yang Mempresentasikan I 1. 2. 3. 4. 1. 2. 3. 4. .... .... .... Tanggapan dari Kelompok Lain Kelompok II... Kelompok III .... Kelompok IV .... dst. Kelompok III... Kelompok IV .... Kelompok I .... dst.

II

III IV dst

Kegiatan Akhir (20 menit) Kesimpulan (5 menit) Penugasan untuk pertemuan berikutnya (15 menit)

1) Identifikasi permasalahan yang terjadi pernah terjadi padasekolah Saudara yang berhubungan dengan 8 Standar Nasional Pendidikan. Selanjutnya tuliskan pemecahan masalah yang diyakini efektif.

Contoh: Komponen Standar Isi Perma salahan Sekolah belum mengemb angkan KTSP Penyebab Warga sekolah belum memaham i KTSP. Kepenting an Alternatif Solusi

Salah satu Workshop alat untuk pengembamencapai ngan KTSP tujuan IHT pendidika n di sekolah .... ....

Standar Kompetensi Kelulusan Standar Proses Pendidik dan Tenaga Kependidik an

....

....

.... ....

.... ....

.... ....

.... ....

14

Bahan Belajar Mandiri Manajemen

Diseminasi Best Practice

Komponen Standar Sarana/Pras arana Standar Pengelolaan Standar Pembiayaan Standar Penilaian

Perma salahan ....

Penyebab ....

Kepenting an ....

Alternatif Solusi ....

.... .... ....

.... .... ....

.... .... ....

.... .... ....

2) Pilihlah salah satu masalah terpenting yang pernah Saudara

atasi. Strategi apa yang Saudara gunakan? Bagaimana langkah-langkah yang ditempuh? Bagaiman hasilnya? Tulislah kunci keberhasilan mengatasi masalah tersebut. kelompok untuk melaksanakan studi banding/ lesson study ke sekolah lain. Misalnya yang berhubungan dengan keterlaksanaan Standar Proses. Catat hasil pengamatan Saudara dalam kolom berikut.

3) Untuk melengkapi referensi Saudara, lakukanlah bersama

Hasil Pengamatan 1 Dalam sesi apa/kapan siswa mulai termotivasi untuk belajar. Mengapa? (jelaskan!) Dalam sesi apa/kapan siswa menikmati (senang) dalam pembelajaran ? Dalam sesi apa/kapan siswa mulai jenuh dalam pembelajaran. Mengapa? (Jelaskan!) Bagaimana mengatasinya? Komentar atau diskusi yang dilakukan siswa. (Catat komentar/tanggapan, nama, dan posisi tempat duduk siswa) Situasi ketika siswa melakukan kerjasama atau memilih untuk tidak melakukan Contoh-contoh bagian proses terjadinya konstruksi pemahaman melalui diskusi dan aktivitas belajar yang dilakukan siswa;

Komentar ....

2

....

3

....

4

....

5

....

6

....

Program BERMUTU

15

Diseminasi Best Practice7 Variasi metoda penyelesaian masalah dari siswa secara individual atau kelompok siswa, termasuk strategi penyelesaian yang salah; Apakah tujuan pembelajaran sudah jelas? Apakan aktivitas yang dikembangkan berkonstruksi secara efektif pada pencapaian tujuan tersebut? Apakah langkah-langkah PBM berkaitan satu dengan yang lainnya? Apakah hal tsb mendukung pemahaman siswa tentang konsep yang diajarkan?Mengapa? Apakah hands on dapat mendukung pencapaian tujuan dan KD? Apakah diskusi membantu pemahaman siswa tentang konsep yang dipelajari? Apakah materi ajar sesuai dengan tingkat kemampuan siswa? Apakah siswa menggunakan pengetahuan awal untuk memahami konsep baru yang dipelajari? Apakah pertanyaan-pertanyaan guru dapat mendorong & memfasilitasi cara berpikir siswa? Apakah gagasan siswa dihargai & dikaitkan dengan materi yang sdg dipelajarai? Apakah kesimpulan akhir didasarkan pada pendapat siswa? Bagaimana guru memberi penguatan capaian hasil belajar siswa selama pembelajaran berlangsung? ....

8

....

9

....

1 0 1 1 1 2 1 3 1 4 1 5 1 6 1 7

....

....

.... ....

....

....

.... ....

16

Bahan Belajar Mandiri Manajemen

Diseminasi Best Practice

1. Pengertian

Penguatan

(5 menit)Best Practice merupakan keberhasilan yang dialami dan diakui oleh pihak yang berkepentingan (siswa, guru, kepala sekolah, pengawas, orang tua, komite, masyarakat, dinas, departemen, pemerintah) dalam melaksanakan tugas pengelolaan pendidikan. Best Practice dapat diperoleh melalui penelitian tindakan (kelas/sekolah). Penelitian tindakan berawal dari adanya permasalahan di lingkungan kerja sendiri, adanya tindakan sebagai solusi, adanya perubahan kondisi dari (sebelum- selama- setelah) tindakan diberikan. Benar-benar nyata dialami dan dilakukan melaui prosedur yang ilmiah (perencanaan-pelaksanaan/pengamatan/refleksi). Selama pelaksanan tindakan, perubahan harus diamati. Bagaimana kondisi awal sebelum ada tindakan, bagaimana perubahan yang terjadi selama tindakan diberikan, bagaimana kondisi akhir setelah tindakan selesai, dan hasil pengamatannya dilaporkan. Jika tindakan yang dilakukan berhasil mengatasi permasalahan maka keberhasilan tersebut dapat digolongkan dalam Best Practice. Best Practice sebaiknya didiseminasikan kepada orang lain dengan berbagai strategi di berbagai tempat secara berulang-ulang sehingga dapat dicontoh dan diadopsi oleh orang lain.

Ruang LingkupPeningkatan pengelolaan sekolah/keterlaksanaan Delapan Standar Nasional Pendidikan, pengelolaan MGMP/KKG, pembinaan sekolah, pembinaan guru, dan lainlain).

Ciri-ciri1. 2. 3. 4. 5. mengembangkan pendidikan; praktik di pembelajaran/pengelolaan berbagai tempat secara

layak didiseminasikan berulang-ulang;

meningkatkan kualitas pendidikan; meningkatkan profesionalisme guru, kepala sekolah, dan pengawas dalam pengelolaan pendidikan; mengubah hambatan dan ancaman menjadi kekuatan dan peluang untuk berinovasi secara kreatif;

Program BERMUTU

17

Diseminasi Best Practice6. menghasilkan output yang lebih bermanfaat bagi semua pihak (siswa, guru, kepala sekolah, pengawas, orang tua, komite, dan masyarakat pada umumnya); terkendali, kejelasan program baik jangka pendek, menengah, maupun panjang; berdasarkan temuan masalah nyata yang terjadi di lapangan; dapat dilakukan dalam berbagai bentuk (bimbingan dan konseling, supervisi klinis, supervisi manajerial, kunjungan kelas, lesson studi, dan lain-lain);

7. 8. 9.

10. mengacu pada program sekolah untuk mencapai tujuan yang dicanangkan; 11. adanya pengakuan bahwa keberhasilan tersebut bisa ditiru, diadopsi oleh orang lain; 12. meningkatkan kualitas, mudah, murah, dilaksanakan, memotivasi, memberikan hasil bermanfaat, dan berkelanjutan. bisa yang

18

Bahan Belajar Mandiri Manajemen

Diseminasi Best Practice

TOPIK II: Penulisan Best Practice Kepala Sekolah dan Pengawas

Program BERMUTU

19

Diseminasi Best Practice

A. PengantarSelamat datang pada pertemuan kedua di forum MKKS/MKPS/KKG/MGMP. Semoga Saudara telah melaksanakan tugas yang diberikan pada pertemuan pertama. Diharapkan Saudara telah mengidentifikasi permasalahan di sekolah/KKG/MGMP, menentukan permasalahan yang paling krusial, menyodorkan berbagai alternatif pemecahan, dan berhasil mengatasi permasalahan tersebut. Dalam pertemuan ini Saudara diminta keberhasilan/Best Practice yang pernah dialami. untuk menuliskan

Adapun komponen yang harus ada dalam penulisan Best Practice setidaknya mencakup judul, konsep yang jelas, tujuan, kendala yang dihadapi, ada upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut, berhasil, dan kunci keberhasilannya.

B.TujuanKepala sekolah dan pengawas dapat menulis Best Practice yang pernah dialami dengan indikator:

mampu merumuskan judul (dapat dilakukan pada langkah pertamadapat pula langkah terakhir) mampu merumuskan kerangka tulisan

mampu mengembangkan kerangka menjadi tulisan utuh sebagaiBest Practice dengan Bahasa Indonesia yang baik dan benar serta komunikatif

C. Alat/Bahan/SumberAlat:Komputer, Laptop, dan Alat Tulis Kantor (ATK)

Bahan:Best Practice kepala sekolah dan pengawas sekolah peserta diklat.

Sumber: Lampiran 4. Strategi Penulisan Best Practice Delapan Standar Nasional Pendidikan (Standar Isi, Standar Kelulusan, Standar Pengelolaan, Standar Proses, Standar Tenaga Pendidik/Kependidikan, Standar Sarana/Prasarana, Standar Pembiayaan, Standar Penilaian) Akhadiah, S., dkk. 1995. Menulis I. Jakarta: Universitas Terbuka.

20

Bahan Belajar Mandiri Manajemen

Diseminasi Best Practice

-------

D. Langah-Langkah Kegiatan20Kegiatan Awal Penjelasan tentang teknik penulisan Best Practice Kegiatan Inti Praktik menulis Best Practice

1997. Kebudayaan.

Menulis.

Jakarta:

Departemen

Pendidikan

dan

200

1

2

30Kegiatan Akhir kesimpulan, penugasan, & penguatan

3

Kegiatan Awal (20 menit): Fasilitator menanyakan pertemuan pertama. tentang tugas yang diberikan pada

Fasilitator bertanya jawab dengan peserta tentang kendala dalampenyelesaian tugas terstruktur. sedang berjalan.

Fasilitator menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan yang Fasilitataor menjelaskan langkah-lankah menulis Best Practice. Kegiatan Inti (200 menit): Peserta diklat menulis Best Practice. Fasilitator berperan sebagai narasumber.

Kegiatan Akhir (30 menit): Kesimpulan (10 menit) Penugasan untuk pertemuan ketiga (15 menit) Uraian Tugas:

a.

Tentukan waktu dan tempat melaksanakan diseminasi Best Practice melalui seminar;

untuk

b.

Tentukan kepanitiaan dan rincian tugas para fungsionaris (ketua, sekretaris, bendahara, notulis, dan moderator);

Program BERMUTU

21

Diseminasi Best Practicec. Tentukan menyajikan kertas kerja; d. Tentukan peserta yang akan diundang. narasumber siapa dan yang berapa akan jumlah

E.Penguatan (5 menit)Hal-hal penting dalam penulisan Best Practice

Rumuskan topik yang akan diangkat dalam Best Practice Buatlah kerangka tulisan dengan beberapa pikiran utama yang berisi tentang konsep yang akan dicapai, kendala yang muncul, upaya yang dilakukan,langkah-langkah menerapkan upaya tersebut, dan kunci keberhasilan dalam mengatasi permasalahan Kembangkan kerangka menjadi tulisan utuh dengan menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar serta komunikatif. Tulisan hendaknya singkat, padat, dan jelas ( sekitar 10 halaman dengan spasi 1,5; huruf time new roman, ukuran 12)

Beri judul yang menarik untuk tulisan tersebut.

22

Bahan Belajar Mandiri Manajemen

Diseminasi Best Practice

TOPIK III: Seminar Best Practice

Program BERMUTU

23

Diseminasi Best Practice

A. PengantarSelamat bertemu kembali dalam pelatihan pertemuan ini, yang merupakan pertemuan terakhir dari seluruh kegiatan diklat. Semoga dalam pertemuan terakhir ini Saudara telah kompeten dalam pemahaman Best Practice, dan penulisannya. Dalam pertemuan ini Saudara dapat mendiseminasikan Best Practice yang telah dilakukan. Berbagai teknik diseminasi diantaranya adalah melalui: penulisan karya tulis ilmiah, penerbitan jurnal, membuat situs, seminar dan lain-lain. Salah satu teknik diseminasi yang bisa dipraktikkan dalam pertemuan ini adalah seminar. Alasannya: paling mungkin untuk dilaksanakan, tidak menambah angggaran khusus, tidak memerlukan keterampilan dan alat khusus, memungkinkan terjadinya komunikasi dua arah secara langsung/dapat ditanggapi peserta secara langsung, dan sesuai dengan strategi diseminasi Program BERMUTU di tingkat forum (Kota/Kabupaten). Langkah-Langkah Diseminasi (Tiagarajan, 1991) sebagai berikut.

Define (penguasaan materi yang akan didiseminasikan); Design (rancangan yang lebih sempurna sesuai tujuan dan sasaran); Develop (pengembangan yang disesuaikan dengan situasi dan kondisisetempat);

Diseminasi (penyebarluasan praktik terbaik) dan ditularkan ketempat-tempat lain di lingkungannya.

B. TujuanTujuan yang akan dicapai dalam topik ini agar kepala sekolah dan pengawas dapat mendiseminasikan Best Practice melalui seminar, dengan indikator: mampu menyebutkan langkah-langkah seminar; mampu menjadi panitia seminar yang baik mampu menyiapkan kertas kerja yang baik (Best Practice yang telah ditulis pada pertemuan sebelumnya) mampu menyajikan kertas kerja dalam seminar dengan baik mampu menjadi peserta seminar yang baik mamapu menyelenggarakan seminar Best Practice dengan baik

24

Bahan Belajar Mandiri Manajemen

Diseminasi Best Practice

C. Sumber/Alat/BahanAlat:OHP/LCD/DVD/Papan tulis, spidol, pengeras suara, dan Alat Tulis Kantor (ATK)

Bahan:Best Practice kepala sekolah dan pengawas

Sumber: Lampiran 5. Seminar Referensi:Akhadiah, S. dkk. 1995. Menulis I. Jakarta: Universitas Terbuka. ------1997. Menulis. Kebudayaan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan

Arsyad, Maidar dan M.S. Mukti. 1997. Berbicara II. Jakarta: Universitas Terbuka. Ashari, Azril. 2001. Bentuk dan Gaya Penulisan Karya Tulis Ilmiah. Jakarta: Universitas Trisakti.

D. Langkah-langkah Kegiatan50Kegiatan Awal Persiapan seminar

300Kegiatan Inti Pelaksanaan seminar

1

2 50Kegiatan Akhir Laporan hasil seminar

3

Program BERMUTU

25

Diseminasi Best Practice Kegiatan Awal (50 menit) Fasilitatormengatur urutan mempresentasikan Best Practices. kelompok untuk tampil

Para fungsionaris menempatkan diri sesuai peran dan tugas masingmasing.

Setiap kelompok membagikan hand out kepada peserta lain. Kegiatan Inti (300 menit) Setiap kelompok secara bergiliran mempresentasikan kertas kerjanya. Kelompok lain menanggapi. Moderator mengatur jalannya seminar dan menyimpulkan hasil. Kegiatan Akhir Kesimpulan Penguatan Keberlanjutan Program

E. Penguatan Diseminasi adalah proses penyebarluasan Best Practice yangdapat dilakukan melalui berbagai cara. Diantaranya dapat dilakukan melalui seminar, jurnal, blog, majalah, dan lain-lain. Dari sekian cara yang ditawarkan, dalam mudul ini menampilkan salah satu contoh seminar.

Seminar adalah suatu pertemuan ilmiah yang membahas suatu masalah tertentu dengan prasaran dan tanggapan melalui diskusi untuk memperoleh keputusan bersama. Langkah-langkah Seminar: Presentasi, Diskusi/tanya jawab, Kesimpulan. Unsur-unsur yang diperlukan dalam seminar: panitia, narasumber dan kertas kerjanya, moderator, notulis, dan peserta.

26

Bahan Belajar Mandiri Manajemen

Diseminasi Best Practice

F. Keberlanjutan Program (tugas mandiri tidak terstruktur) Lakukan seminar secara bergiliran dalam forum MKKS/MKPS/KKG/MGMP pada pertemuan-pertemuan selanjutnya dengan mengangkat permasalahan penting yang berhasil diatasi dengan baik di sekolah masing-masing.

Diskusikan dan kemas ulang hasil Best Practice Saudara ke dalam

berbagai bentuk tulisan, lalu diseminasikan hasil Best Practice Saudara ke berbagai media.

Program BERMUTU

27

Diseminasi Best Practice

DAFTAR PUSTAKAAkhadiah, S., dkk. 1995. Menulis I. Jakarta: Universitas Terbuka. -------- 1997. Menulis. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Arsyad, Maidar dan M.S. Mukti. 1997. Berbicara II. Jakarta: Universitas Terbuka. Ashari, A. 2001. Bentuk dan Gaya Penulisan Karya Tulis Ilmiah. Jakarta: Universitas Trisakti. Berger, L.A. and Dorothy R. 2008. Best Practices on Talent Management, Cetakan ke-2, Jakarta: Permata Printing. Depdiknas. 2004. Materi Pelatihan Terintegrasi Bahasa Indonesia 2. Jakarta: Direktorat Dikdasmen, Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama. -------- 2005. Diklat Penyusunan Karya Tulis Ilmiah bagi Guru SMP. Bandung: Depdiknas Dirjen Dikdasmen LPMP Jawa Barat. Dirjen PMPTK. 2007. Konferensi Nasional Best Practice Kepala Sekolah, Panduan Penulisan Best Practice untuk Kepala Sekolah. Jakarta: Dirjen PMPTK Departemen Pendidikan Nasional. Renald Kasali. 2007. Re-Code Your Change DNA, Cetakan ke 3, Jakarta: PT Gramedia. Suriamiharja, A. 1997. Petunjuk Praktis Menulis. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Tarigan, H.G. dan M.S. Suhendar. 1998. Berbicara I. Jakarta: Universitas terbuka Tarigan, H.G. 1994. Menulis sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

28

Bahan Belajar Mandiri Manajemen

Diseminasi Best Practice

LAMPIRAN

Program BERMUTU

29

Diseminasi Best Practice

Lampiran 1PENGERTIAN, RUANG LINGKUP, DAN CIRI-CIRI BEST PRACTICE Pengertian Best PracticeBEST PRACTICE adalah suatu ide atau gagasan mengenai suatu teknik, metode, proses, aktivitas, insentif atau penghargaan (reward) yang lebih efektif dalam mencapai keberhasilan yang luar biasa dibandingkan dengan tehnik, metode, proses lain. Ide atau gagasan yang dengan pengawasan dan pengujian yang sesuai, dapat memberikan hasil yang diharapkan dengan lebih sedikit permasalahan dan komplikasi yang tidak terduga. BEST PRACTICE dapat juga didefinisikan sebagai cara yang paling efisien (emerlukan usaha minimum) dan paling efektif (menghasilkan hasil terbaik) untuk menyelesaikan suatu tugas/pekerjaan, berdasarkan prosedur yang berulang-ulang (disampaikan di berbagai tempat) dengan memberikan bukti nyata yang dapat mengubah perilaku sejumlah orang. Meskipun kebutuhan akan peningkatan terus berproses sejalan dengan perubahan waktu dan perkembangan berbagai hal, Best Practice dipertimbangkan oleh beberapa orang sebagai konsep istimewa yang biasa digunakan untuk menggambarkan proses perkembangan dan mengikuti tata cara standar yang telah ditetapkan dalam melakukan berbagai hal yang dapat digunakan oleh berbagai organisasi untuk kepentingan menajemen, kebijakan dan terutama sistem pembinaan.

Ruang LingkupRuang lingkup Best Practice mencakup pelaksanaan tugas yang dilakukan oleh kepala sekolah/pengawas sekolah dalam mengelola sekolah/KKG/MGMP, yang mencakup keterlaksanaan 8 Standar Nasional Pendidikan, yaitu: Keberhasilan pelaksanaan Standar Isi Keberhasilan pelaksanaan Standar Kelulusan Keberhasilan pelaksanaan Standar Proses Keberhasilan Kependidikan pelaksanaan Standar Tenaga Pendidik/Tenaga

Keberhasilan pelaksanaan Standar Sarana/Prasarana Keberhasilan pelaksanaan Standar Pengelolaan Sekolah Keberhasilan pelaksanaan Standar Pembiayaan Keberhasilan pelaksanaan Standar Penilaian Pendidikan

Disamping itu, juga mencakup keberhasilan Pengelolaan KKG/MGMP, pengelolaan sekolah, pembinaan sekolah, pembinaan kepala sekolah, dan pembinaan guru.

30

Bahan Belajar Mandiri Manajemen

Diseminasi Best Practice

Dari sekian banyaknya cakupan, yang terkait dengan pengelolaan KKG/MGMP adalah keberhasilan pelaksanaan standar isi, standar kelulusan, standar proses, dan standar penilaian. Sedangkan standar tenaga pendidik/tenaga kependidikan, standar sarana/prasarana, standar pengelolaan sekolah, dan standar pembiayaan berkaitan dengan pengelolaan sekolah, pembinaan sekolah, dan pembinaan guru/staf/kepala sekolah.

Ciri-Ciri Best Practice 1. pengembangan praktik pembelajaran/pengelolaan pendidikan;2. 3. 4. 5. 6. didiseminasikan di berbagai tempat secara berulang-ulang; peningkatan kualitas pendidikan; meingkatkan profesionalisme guru, kepala sekolah, dan pengawas dalam pengelolaan pendidikan; mengubah hambatan dan ancaman menjadi kekuatan dan untuk berinovasi secara kreatif; peluang

menghasilkan output yang lebih bermanfaat bagi semua pihak (siswa, guru, kepala sekolah, pengawas, orang tua, komite, dan masyarakat pada umumnya); terkendali, kejelasan program baik jangka pendek, menengah, maupun panjang; berdasarkan temuan masalah nyata yang terjadi di lapangan; dapat dilakukan dalam berbagai bentuk (bimbingan dan konseling, supervisi klinis, supervisi manajerial, kunjungan kelas, lesson study, dan lain-lain); program sekolah untuk mencapai tujuan yang

7. 8.

9.

10. mengacu pada dicanangkan;

11. adanya pengakuan bahwa keberhasilan tersebut bisa ditiru, diadopsi oleh orang lain; 12. meningkatkan kualitas, mudah, murah, bisa dilaksanakan, memotivasi, memberikan hasil yang bermanfaat, dan berkelanjutan.

Situasi Situasi sebelum program: apa yang menjadi persoalan; bagaimana persoalan dipecahkan; bagaimana kondisi sekolah (sosial,ekonomi,

Motivasi

apa motivasi di balik pelaksanaan program: bagaimana peran stakeholder; bagaimana prioritas program ditentukan; apa yang dianggap inovasi dari program; tindakan apa yang telahdilakukan; bagaimana tindakan tersebut dipilih; bagaimana dukungan sumber daya yang ada; dari mana sumber dana, dan bagaimana melaksanakan mobilisasi dana dan dukungan teknis;

Program BERMUTU

31

Diseminasi Best PracticeSituasi lingkungan). Motivasi siapa yang memegang peran kepemimpinan dalam perumusan tujuan dan implementasi jaringan; persoalan apa yang dihadapi selama pelaksanaan program; bagaimana mengatasi persoalan, dan apakah inovasi dapat membantu kebutuhan sekolah. Hasil dan Dampak Pengukuran hasil dan dampaknya: apakah tujuan program cukup realistis; apa yang terjadi setelah prakarsa inovasi dijalankan; bagaimana hasilnya secara kualitatif dan kuantitatif; apakah menggunakan indikator untuk mengukur hasil/dampak; apakah koordinasi dan integrasi menjadi lebih baik; bagaimana dampak terhadap strtegi/kebijakan di tingkat lokal/daerah/nasional dan kelembagaan; apakah program sudah menjadi kebutuhan dan kebiasaan dalam kegiatan; apakah program tersebut sudah dilembagakan. Berkelanjutan

adakah kesempatan (opporttopikies)perubahan; bagaimana memanfaatkan kesempatan;

apa dampak program terhadap penggunaandan pengelolaan sumberdaya manusia dan sumber daya lingkungan.

32

Bahan Belajar Mandiri Manajemen

Diseminasi Best Practice

Pengalaman Pengalaman yang perlu dipelajari (lesson learned) dan action plan:

Potensi Pengembangan Potensi pengembangan:

Studi Banding Best Practice dapat dijadikan studi banding; dikunjungi oleh KKG/MGMP/ Sekolah lain; mengunjungi KKG/MGMP/ Sekolah lain

adakah lesson learned dariprogram;

penerapan

program untuk transferabilit;

bagaimana lesson learned

memberi sumbangsih pada pembentukan berkelanjutan program; menjadi salah satu pertimbangan dalam perumusan/penentuan kebijakan, strategi, dan tindak lanjut (action plan).

bagaimana lesson learnd

apa hikmah atau teladan yang dapat dipelajari atau ditiru dari pengalaman orang lain; sudahkan program inisiatif ini diterapkan;

Program BERMUTU

33

Diseminasi Best Practice

Lampiran 2CONTOH BEST PRACTICE KEPALA SEKOLAH Judul: Membina Guru dan Rekan Sejawat dalam Peningkatan Kinerja Oleh : Kepala SDN Bandungkulon IV Jawa Barat (2007-2008) Saya adalah seorang kepala sekolah yang baru diangkat beberapa bulan yang lalu melalui promosi tanggal 27 Maret 2007. Saya berasal dari guru SD Percobaan yang merupakan etalase di wilayah kecamatan dan kota, yang merupakan sekolah percontohan dalam berbagai hal yang berkaitan dengan perubahan dalam kurikulum. Di sekolah dari mana saya berasal, saya mempunyai jabatan sebagai wakil kepala sekolah (wakasek) bidang kesiswaan. Saya pernah meraih beberapa prestasi dalam kaitan saya sebagai guru yaitu peringkat 10 besar dari 500 peserta di tingkat nasional dalam pelatihan penggunaan alat peraga KIT IPA. Pernah meraih peringkat pertama di tingkat propinsi dalam inovasi pembelajaran tematik. Saya memiliki kompetensi bukan karena sering mengikuti pelatihan tetapi melalui diskusi dengan teman sejawat dan jemput bola dalam pembaharuan yang berkaitan dengan PBM dalam pendidikan dengan mendatangi narasumber yang kompeten dan dapat dijadikan sumber belajar. Saat ini saya ditempatkan di sebuah SD, di wilayah yang sama dengan sekolah sebelumnya, tepatnya di SD Bangdungkulon IV sebagai kepala sekolah. Saya sama tidak menyangka, ternyata di wilayah kecamatan di mana saya berada adalah SD yang memprihatinkan baik segi Fisik sekolah, personil (guru, kepala sekolah, dan komite), juga keadaan siswa-siswanya. Fisik sekolah jauh dari kelayakan. Contoh: 1. masih ada siswa yang belajar tanpa menggunakan bangku (duduk di lantai) sementara lantainya pun sudah rusak; 2. ruangan kelas yang tidak layak pakai. Bocor jika hujan dan dinding tanpa jendela; 3. sarana/prasarana untuk PBM kurang lengkap; 4. ekonomi orang tua siswa jauh di bawah standar. Sebagian besar mereka tidak mempunyai pekerjaan tetap. Mereka adalah pengamen yang lebih tertarik membawa anaknya menjadi pengamen daripada mendukung belajar di sekolah. 5. guru-guru yang sudah senior tidak kreatif. Sangat pasif. Kualifikasi pendidikan 80% adalah lulusan SPG/SGO. Hanya 20% yang berizasah sarjana. Saya merasa sangat sedih pertama kali datang ke tempat itu. Bertanya-tanya dalam hati mengapa masih ada sekolah yang seperti ini? Saya tidak bisa duduk diam, kemudian melakukan tindakan sebagai

34

Bahan Belajar Mandiri Manajemen

Diseminasi Best Practice

berikut. 1. 2.

memotret keadaan fisik sekolah; mencari donatur dari beberapa tempat;

3. 4.

mengajukan proposal ke dinas kota dengan membawa bukti fisik dengan melampirkan bukti fisik foto-foto yang saya buat agar diberikan bantuan untuk perbaikan ruangan;

membina para guru dan rekan sejawat dalam membuka wawasan melalui Whorkshop maupun In Hause Training dalam gugus; 5. mengadakan pertemuan dengn orang tua siswa secara bergiliran dan bertahap agar orang tua siswa lebih memperhatikan anaknya dalam pendidikan. Pertama kali saya melakukan pertemuan dengan guru-guru disambut dengan baik dan mereka mengatakan belum pernah ada binaan yang dilakukan seperti yang saya lakukan ( maaf dalam hal ini saya tidak menyalahkan siapapun tetapi mari kita merefleksi bersama mengapa sampai terjadi hal seperti ini, di mana keadaan guru dan fisik sekolah yang sangat terbelakang dibandingkan dengan sekolah di mana saya berada sebelunnya). Segera saya membuat program untuk disosialisaskan secara bersama-sama dalam satu komplek sekolah yang terdiri dari 4 sekolah. Program didukung. Tetapi dalam praktiknya tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya. Karena mereka merasa terlalu dibebani dengan aturan-aturan dan pembiasaan yang merupakan kewajiban bagi guru dan kepala sekolah. Guru-guru dalam menlaksanakan PBM terbiasa: 1) keluar kelas untuk mengobrol dengan rekan sejawat; 2) tanpa membuat persiapan 3) administrasi dan pengelolaan kelas kurang diperhatikan Dengan keadaan seperti ini tentunya dapat dibayangkan apakah program pemerintah untuk peningkatan kualitas pendidikan akan tercapai? Hal inilah yang menggerakkan hati saya untuk bisa mengubah situasi dan iklim sekolah yang kurang baik ini. Langkah berikutnya yang saya lakukan adalah: menata sekolah, membina guru-guru dengan membenahi administrasi secara terus-menerus, dan akhirnya membuahkan hasil. Saat itu guru merasa terbebani. Tetapi dalam suatu kesempatan latihan kerja di gugus guru-guru dari SDN Bandungkulon dapat memimpin dan menjadi panutan bagi guru-guru sekolah lain dalam wilayah gugus. Kemudian saya memberikan perintah yang lebih tegas dalam setiap pengarahan. Hal ini saya lakukan berdasarkan pengalaman di sekolah sebelumnya. Untuk meraih suatu keberhasilan maka sekolah harus: 1. membentuk wakasek (kurikulum, kesiswaan, sarana/prasarana, humas); 2. memberikan arahan dalam membuat program-program; 3. mendiskusikan berbagai dana yang berkaitan dengan keterlaksanaan program;

Program BERMUTU

35

Diseminasi Best Practice4. lanjut; 5. memberikan contoh mengajar yang benar ke setiap jenjang kelas secara bergiliran; 6. mengajar di kelas tematik di kelas 1,2,3, untuk mata pelajaran bahasa inggris. Saya selalu mengarahkan kepada guru-guru bahwa kemauan merupakan faktor yang pertama dan utama sebab kemampuan akan mengikuti sejalan dengan kemauan itu. Pada saat ini guru-guru yang berada di komplek SDN Bandungkulon menyadari akan kebutuhan adanya perubahan melalui binaan-binaan yang saya berikan, apalagi sekarang refitalisasi gugus benar-benar sedang diberdayakan di wilayah kami. Bahkan permintaan tidak hanya diminta oleh gugus saya sendiri, tetapi guru-guru dan kepala sekolah dari gugus lain pun meminta untuk diberikan binaan dan arahan. mengawasi, mengevaluasi setiap kegiatan agar ada tindak

36

Bahan Belajar Mandiri Manajemen

Diseminasi Best Practice

Lampiran 3CONTOH BEST PRACTICE PENGAWAS SEKOLAH (telah didiseminasikan dalam Pembinaan Peserta Seleksi Pengawas Berprestasi Propinsi Jawa Barat di LPMP Jawa Barat dan dalam Forum Diklat Pengawas Bahasa di P4TK Bahasa Srengseng Jakarta Selatan)

DISEMINASI BEST PRACTICE PENGAWAS BERPRESTASI TAHUN 2007 Oleh: Pengawas SMP Kota Sukabumi Propinsi Jawa Barat (2001-2007) Disampaikan dalam pembekalan peserta seleksi pengawas berprestasi Propinsi Jawa Barat tanggal 30 Mei 2008 di LPMP Jawa Barat Sering saya diminta menceritakan kisah keberhasilan saya setelah berhasil meraih juara I Pengawas SMP Berprestasi Tingkat Jawa Barat dan juara III di Tingkat Nasional tahun 2007. Mereka yang meminta kebanyakan dari guru dan kepala sekolah, dan birokrat pendidikan di daerah saya bekerja Kota Sukabumi Jawa Barat. Selain itu, ada juga permintaan khusus dari panitia seleksi pengawas berprestasi Tingkat Propinsi Jawa Barat tahun 2008 yang meminta saya untuk memaparkannya di hadapan para calon peserta seleksi tahun 2008. Atas permintaan itulah saya buatkan naskan kisah sukses dalam bentuk power point. Selanjutnya ketika saya menjadi peserta diklat pengawas bahasa di P4TK Bahasa Srengseng Jakarta Selatan bulan Juli 2008, mantan Sekjen APSI (Sofyan Salim,MM) juga meminta saya untuk menceritakan di hadapan para peserta diklat yang jumlahnya sekitar 60 orang yang berasal dari 13 propinsi seluruh Indonesia. Apa yang telah saya tulis dalam PowerPoint, saya paparkan kembali di hadapan mereka. Dalam kesempatan ini, saya salin kembali sebagai contoh Best Practice pengawas SMP berprestasi yang pernah saya alami. Mudahmudahan memotivasi para pembaca untuk lebih berprestasi dalam meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia pada umumnya. Adapun kisah itu, sebagai berikut. Surat Keputusan (SK) saya sebagai pengawas sekolah, saya terima bulan September 2001. Sebelum itu saya adalah guru dan kepala sekolah. Pengawas merupakan jabatan karier. Mengawali tugas sebagai pengawas saat itu, sungguh sangat berat. Karena periode tersebut adalah periode perubahan sistem pemerintahan dari sentralisisasi ke desentralisasi. Otonomi pemerintahan mulai

Program BERMUTU

37

Diseminasi Best Practicedilaksanakan yang berpengaruh terhadap pengelolaan pendidikan di daerah. Pencitraan masyarakat terhadap jabatan pengawas pun mulai bergeser. Dari yang semula pengawas merupakan jabatan strategis sebagai kepanjangtanganan Pemerintahan Tingkat Propinsi di daerah Kota/Kabupaten, berubah menjadi pengawas sebagai jabatan transit untuk memperpanjang usia dinas menunggu pensiun. Sehingga kesan masyarakat terhadap jabatan pengawas adalah jabatan menunggu waktu yang tidak jelas arah tugas pokok dan tanggung jawabnya. Hal ini benarbenar membuat hati saya gundah, tidak nyaman berada pada posisi jabatan pengawas. Untuk mengatasi kondisi tersebut saya berusaha membaca bukubuku tentang kepengawasan. Dari buku tersebut timbul niat saya untuk melaksanakan tugas sesuai peraturan-perundang-undangan yang berlaku tentang tugas pokok, fungsi (Tupoksi), dan peran pengawas. Saya susun program kerja, jadwal pembinaan guru dan kunjungan sekolah, instrumen supervisi, dan saya laksanakan tugas kepengawasan sesuasi dengan yang tertuang dalam Tupoksi pengawas. Banyak kalangan yang pro dan kontra. Diantaranya para kepala sekolah dan guru-guru. Sering ketika saya akan melaksanakan tugas sesuai dengan jadwal supervisi/pembinaan, tanggapan mereka kurang baik. Saya diacuhkan. Jika menanyakan kesulitan apa yang perlu dibantu, seolah-olah mereka tidak punya masalah dan tidak punya kesulitan. Ketika saya menyodorkan instrumen supervisi untuk diisi, hampir semua komponen yang saya tanyakan dijawab ada atau ya. Tetapi setelah saya lanjutkan dengan studi dokumen untuk mengetahui keberadaan komponen yang ditanyakan dalam instrumen, saya temukan adanya ketidaksesuaian. Beberapa komponen belum lengkap dan tidak ada (program jangka panjang-menengah-pendek, pengembangan kurikulum sekolah, program pengembangan diri, analisis hasil evaluasi belajar, program perbaikan/pengayaan, laporan praktikum). Di saat itulah saya mulai berkomentar.Diskusi pun berlanjut. Karena hal ini saya lakukan secara terus-menerus dan berkelanjutan, lama-lama para guru dan kepala sekolah menunjukkan reaksinya dengan memperbaiki komponen yang sudah dibuat. Membuat dan mengerjakan yang belum ada. Bahkan lama-kelamaan saya diminta untuk memberikan pembinaan kepada seluruh guru di sekolah binaan. Kadang-kadang juga diminta memberikan pembinaan di sanggar MGMP mata pelajaran yang bukan binaan saya, seperti MGMP Pendidikan Agama Islam SMP/SMA dan Matematika SMP. Mendengar dari satu dan yang lain, kepala SMA dan SD pun sering mengundang saya untuk memberikan materi (sebagai narasumber) dalam workshop maupun in hause training. Rasa percaya diri saya sebagai pengawas mulai muncul. Hal itu dipertajam ketika saya diundang juga oleh daerah lain (luar Kota/Kabupaten) tempat saya bekerja. Wuuahhh bangga menyandang jabatan sebagai pengawas sekolah. Dapat perbagi pengetahuan dengan guru maupun kepala sekolah, dapat memberikan kontribusi positif dunia pendidikan. Semua hasil pembinaan saya arsipkan, dan setiap akhir semester saya rangkum untuk disimpulkan, direkomendasikan kepada pimpinan, dan dijilid untuk menambah koleksi isi rak buku saya yang jumlahnya

38

Bahan Belajar Mandiri Manajemen

Diseminasi Best Practice

sangat minim. Meskipun awalnya banyak hambatan, namun secara berkelanjutan hal itu saya lakukan. Selesai melaksanakan supervisi klinis guru yang satu, pindah ke guru lainnya. Selesai sekolah satu, pindah ke sekolah lainnya. Bahkan tidak jarang saya pun melakukan penilaian terhadap guru dan kepala sekolah, terutama ketika mereka akan mengusulkan kenaikan pangkat. Termasuk melaksanakan penelitian. Namun penelitian yang saya lakukan saat itu masih seputar penelitian deskriptif, komparatif, dan asosiatif. Baru satu yang berupa penelitian tindakan yang saya lakukan di salah satu sekolah binaan saya yaitu SMPN 6 Kota Sukabumi. Itupun belum sempat saya tulis laporannya. Ketika Tahun 2007 saya direkomendasi oleh teman pengawas seKota Sukabumi untuk mewakili peserta seleksi pengawas berprestasi tingkat Propinsi Jawa Barat, saya menulis laporan Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) tersebut. Adapun beberapa penelitian lainnya yang pernah saya tulis adalah: Analisis Hubungan antara Diklat, Motivasi, dan Kepemimpinan terhadap Kinerja Pengawas Sekolah pada Lembaga Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota/Kabupaten Sukabumi Tahun 2003; Analisis Hubungan antara Kepemimpinan Kepala Sekolah dengan Kinerja Guru pada SMPN I Kota Sukabumi Tahun 2005; Analisis Kecepatan Efektif Membaca (KEM) Guru Bahasa Indonesia SMA Kota Sukabumi Tahun 2005; Analisis Penyebab Ketidakhadiran Siswa SMP Kota Sukabumi pada Ujian Nasional Utama Tahun 2005; Analisis Program Kelas Percepatan Belajar SMAN I Kota Sukabumi Tahun 2006; Analisis Program Kelas Percepatan Belajar SMAN I Kota Sukabumi Tahun 2006. Laporan PTS Upaya Meningkatkan Mutu Manajerial Sekolah melalui Pembinaan Terfokus pada SMPN 6 Kota Sukabumi Tahun 2007 inilah, yang saya lampirkan sebagai perlengkapan seleksi di tingkat propinsi. Dan laporan ini juga yang saya presentasikan di tingkat nasional. Alhamdulillah bukti fisik lainnya yang berupa laporan hasil pengawasan selama 4 tahun, dan bukti-bukti fisik lainnya dapat saya siapkan secepatnya karena berkas-berkas tersebut memang sudah terarsipkan. Tinggal menyusun dan melengkapi dengan pengesahan. Dengan berbekal telaten dan berkelanjutan dalam melaksanakan tugas pengawasan, doa dan dukungan berbagai pihak, alhamdulillah saya dapat masuk nominasi walaupun hanya sebagai juara III di tingkat nasional. Adapun langkah-langkah yang saya lakukan khusus menjelang seleksi tahun 2007 adalah sebagai berikut. membaca buku panduan seleksi pengawas berprestasi tahun 2007; melengkapi persyaratan; mengumpulkan penilaian dari guru, kepala sekolah, dan teman

Program BERMUTU

39

Diseminasi Best Practicesejawat; mengisi curiculum vitae dan melengkapi lampirannya; menyusun karya tulis dan mengumpulkan yang sudah ada; menyusun portofolio; membaca buku dan perundang-undangan dengan pendidikan dan kepengawasan; yang berhubungan

belajar bahasa Inggris dan komputer dengan berbagai variasinya; berkonsultasi dengan orang-orang yang lebih tahu. Isi Portofolio: Program pengawasan sesuai persyaratan (selama 2 th/4 th); Laporan hasil pengawasan sesuai persyaratan (selama 2 th/4 th) yang berisi laporan supervisi manajerial, akademik, evaluasi pendidikan (kinerja kepala sekolah, guru, staf). Jenis Berkas yang Dikumpulkan : Curiculum Vitae beserta lampirannya; Hasil penilaian guru, kepala sekolah, dan teman sejawat; Karya tulis hasil penelitian tindakan sekolah (PTS); Portofolio. Materi Tes : Psycho test 10%; Tes kompetensi 15 %; CV & kemitraan 10%; Karya tulis unggulan 20%; Program kerja 15 %; Laporan program kerja 15%; Instrumen supervisi 15%. Ketika Seleksi Hadir tepat waktu; Menyerahkan berkas-berkas yang disyaratkan; Memahami soal-soal yang disodorkan; Menjawab soal mulai dari yang termudah; Meneliti kembali sebelum berkas jawaban dikumpulkan; Mengikuti seluruh tata tertib dan aturan yang berlaku (baik dalam tes akademik maupun non akademik).

Usai Seleksi

Menerima hadiah dari Kota, Propinsi, PGRI Jawa Barat, harianPikiran Rakyat, dan Nasional.

Menerima hadiah perjalanan Umroh dari Gubernur Jabar. 40 Bahan Belajar Mandiri Manajemen

Diseminasi Best Practice

Studi banding ke Guanxy Normal University Guilin China. Menghadiri berbagai undangan sebagai penyaji materi dalam diklat

guru, workshop kepala sekolah, maupun in hause training guruguru di persekolahan.

Gambar 1. Pemberian penghargaan Best Practice pengawas SMP berprestasi Tahun 2007 oleh Depdiknas.

Gambar 2. Studi banding ke Guanxy Normal University Guilin China sebagai paket penghargaan Best Practice pengawas SMP berprestasi Tahun 2007 oleh Depdiknas. Kunci keberhasilan: 1. Memahami dan melaksanakan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. 2. Melaksanakan tugas sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dengan penuh kesungguhan dan tanggung jawab. 3. Mengarsipkan dokumen-dokumen penting.

Program BERMUTU

41

Diseminasi Best Practice

Lampiran 4STRATEGI PENYUSUNAN BEST PRACTICE Langkah-langkah Pengembangan Strategi Best PracticeKeunggulan organisasi yang terpelihara secara terus-menerus menurut LANCE A. BERGER dan DOROTHI R. BERGER yakni melalui tiga strategi pengelolaan SDM (Sumberdaya Manusia). Ketiga strategi tersebut adalah:

1. mengidentifikasi, menyeleksi, dan mengembangkan superkeeper

(personal yang mampu mengembangkan kinerja unggul, yang memberi inspirasi kepada personal lainnya untuk menghasilkan kinerja unggul juga);

2. mendapatkan, mengembangkan dan menempatkan personal yang berkualifikasi tinggi pada posisi kunci. Posisi kunci ini sangat penting untuk kelangsungan suatu organisasi, tidak boleh kosong pada waktu yang lama dan tidak boleh diisi oleh personal yang tidak berkualifikasi;

3. mengalokasikan sumber daya (balas jasa, pelatihan, dan lain-lain)kepada para personal berdasarkan realisasi/potensi kontribusi pada keunggulan organisasi. Dengan demikian investasi kepada para personal berdasarkan urutan kontribusinya dilakukan mulai dari superkeeper, berikutnya keeper, lalu solid citizen dan terakhir misfit.

Untuk mengoptimalkan kemampuan dalam mencapai keunggulan yang langgeng, organisasi harus memiliki manajemen talenta yang proaktif dan memiliki cara yang sistematik untuk melakukan aktifitasaktivitas tersebut. Dalam kontek pendidikan strategi yang terkait dengan Best Practice adalah:

1.2.

mengidentifikasi permaslahan-permasalahan yang assesment) di KKG/MGMP dan sekolah yang dikelola;

ada

(need

menyeleksi dan mengembangkan guru inti (personal yang mampu mengembangkan kinerja unggul, yang memberi inspirasi kepada personal lainnya untuk menghasilkan kinerja unggul juga) yang berperan sebagai motor dalam KKG/MGMP dan sekolah yang dikelola; menempatkan guru inti (personal yang berkualifikasi tinggi) pada posisi kunci. Posisi kunci ini sangat penting untuk keberlangsungan KKG/MGMP/sekolah, sehingga tidak boleh kosong pada waktu yang lama dan tidak juga diisi oleh guru yang tidak berkualifikasi; mengalokasikan sumber daya melalui seminar, In House Training (IHT) dan workshop kepada para guru inti serta guru lainnya

3.

4. 42

Bahan Belajar Mandiri Manajemen

Diseminasi Best Practice

berdasarkan realisasi/potensi/kontribusi refitalisasi gugus;

sebagai

inpestasi

5.

pembimbingan (coathcing) untuk mempertahankan kinerja guru di KKG/MGMP/sekolah dalam rangka peningkatan mutu pendidikan yang akan berdampak pada out put siswa; menjalin kemitraan (partnership) dalam melaksanakan kegiatan antar KKG/MGMP/sekolah dalam satu gugus dan antar gugus dengan pemangku pemberi kebijakan supaya terjadi legalitas yang diharapkan; berkelanjutan (sustainability), harus membawa perubahan dasar di wilayah permasalahan antara lain; legalitas, kebijakan dan sosial yang memiliki potensi replikasi, kerangka institusional, efisien, transparan, dan sistem manajemen yang akuntabel serta dapat membuat lebih efektif terhadap pengembangan SDM dalam KKG/MGMP/sekolah; kepemimpinan dan pemberdayaan masyarakat (leadership and commtopiky improvement): a. b. c. kepeminpinan yang mempunyai inspirasi untuk terjadinya tindakan dan perubahan; sebagai pemberdaya masyarakat KKG/MGMP; dapat mempertanggungjawabkan terhadap peningkatan mutu; dapat mentransfer perkembangan pengetahuan lebih lanjut; tepat bagi kondisi dan situasi sekolah sesuai dengan tingkatan; pihak lain dapat belajar dari inisiatif serta cara yang digunakan untuk membagi dan mentransfer pengetahuan juga keterampilan sehingga dapat dipelajari dan diterapkan.

6.

7.

8.

d.e. f.

9.

menciptakan iklim yang kondusif di lingkungan KKG/MGMP gugus (kondisi lingkungan kerja yang nyaman);

10. meningkatkan perhatian kinerja para guru di KKG/MGMP dengan keterlibatan langsung agar berkesinambungan untuk mencapai sasaran-sasaran yang diharapkan keberhasilannya;

11. mengubah pola pikir/cara pandang (mind set) dalam menerimasegala bentuk perubahan yang terjadi;

12. memberikan penghargaan (reward) bagi guru yang berkompeten,mempunyai komitmen dan tingkat konsisten yang tinggi, serta penuh akuntabilitas dalam melaksanakan tugas, juga memberi sanksi (punishment) bagi guru yang tidak kompeten, tidak mempunyai komitmen, tingkat konsistensinya rendah, dan tidak akuntabel; 13. Senantiasa memperhatikan kesejahteraan personal (guru).

Program BERMUTU

43

Diseminasi Best Practice

Model pendekatan yang disampaikan di sini disebut Best Practice (praktik terbaik) yang dikemukakan oleh Boven dan Morohashi (2002) dalam Panduan Penulisan Best Practice. Menurutnya praktik terbaik merupakan suatu ide/langkah-langkah baru yang memberikan kontribusi luar biasa, berkesinambungan, dan inovatif dalam memperbaiki terhadap pengembangan proses dan kualitas sekolah. Dengan demikian Praktik Terbaik juga merupakan refleksi akumulasi tingkat kompetensi tenaga kependidikan, dalam merespon tuntutan perubahan lingkungan dan dinamika permasalahan yang dihadapi sekolah di abad globalisasi ini.

44

Bahan Belajar Mandiri Manajemen

Diseminasi Best Practice

Lampiran 5SEMINAR

PengertianSuatu pertemuan ilmiah yang membahas suatu masalah tertentu dengan prasaran dan tanggapan melalui diskusi untuk memperoleh keputusan bersama mengenai masalah tersebut adalah seminar. Masalah yang dibahas dalam pertemuan itu mempunyai ruang lingkup yang terbatas dan terfokus. Misalnya : Seminar tentang: Upaya Meningkatkan Kinerja Guru melalui Supervisi Akademik, Bunga Pustaka, Walking Book, Eksplorasi dan Kolaborasi sebagai Wahana Membuka Jendela Dunia. Seminar diselenggarakan dengan tujuan untuk memperoleh solusi tentang masalah yang diseminarkan. Oleh karena itu peserta seminar adalah orang-orang yang berkecimpung dalam masalah tersebut. Jika hal yang dibahas adalah masalah kinerja guru, peserta seminar adalah orang-orang yang berkecimpung dalam bidang pendidikan. Karena kinerja guru dan supervisi akademik adalah masalah yang ada pada dunia pendidikan. Akan sangat kurang bermanfaat jika masalah tersebut dihadiri/dibahas oleh para pelaut maupun petani. Meskipun masalah yang dibahas tentang masalah-masalah sosial, seminar merupakan pembahasan ilmiah yang bertujuan mencari pemecahan. Dengan demikian seminar selalu diakhiri dengan kesimpulan dan rekmendasi. Karena seminar yang sedang dibahas sebagai salah satu diseminasi Best Practice maka yang disebarluaskan adalah bagaimana solusi yang telah dipraktikkan oleh pembicara/pembawa kertas kerja. Penulis kertas kerja berperan sebagi narasumber. Dalam presentasi, narasumber menjelaskan parmasalahan apa yang dihadapi, siapa yang terlibat, mengapa masalah tersebut muncul, strategi apa yang digunakan, bagaimana mengatasinya, dan bagaimana keberhasilan itu dapat diimbaskan kepada peserta seminar. Sehingga dalam seminar ini bukan mencari solusi, melainkan menjelaskan pengalamannya kepada peserta seminar. Dalam diskusi/tanya jawab, bukan kesepakatan akhir yang harus diperoleh melainkan penjelasan narasumber, contoh-contoh, dan argumentasi yang mendukung Best Practice tersebut. Dengan penjelasan, contoh, dan argumentasi yang pernah dialami diharapkan peserta seminar dapat memahami isi kertas kerja dan selanjutnya akan termotivasi untuk mencoba lebih kreatif dan inovatif dalam mengatasi setiap permasalahan yang dihadapi di sekolahnya dengan metode ilmiah.

Program BERMUTU

45

Diseminasi Best Practice

Penyelenggaraan SeminarSeminar yang baik perlu dipersiapkan dengan baik, dengan langkahlangkah sebagai berikut. Persiapan Seminar Hal penting yang yang harus ditentukan adalah topik masalah dan tujuan. Tema hendaknya dipilih yang menarik perhatian para peserta yaitu masalah-masalah yang penting dan hangat untuk dibahas (current isues). Penentuan waktu sebaiknya dikaitkan dengan hari-hari besar/peristiwa nasional/peristiwa penting. Misalnya: yang berkaitan dengan hari pendidikan nasional; hari guru; hari-hari pertemuan organisasi K3S, MKS, KKPS, MKPS, APSI, dan lain-lain. Waktu/hari/tanggal (titimangsa) pelaksanaan hendaknya dipertimbangkan yang sekiranya para peserta dapat hadir. Sedangkan mengenai tempat, piihlah tempat yang strategis (mudah dijangkau, cukup tempat parkir, kapasitas ruangan, dan lain-lain). Fasilitas lain yang perlu dipersiapkan adalah: tempat duduk yang memadai; sirkulasi udara dan cahaya yang masuk ruangan cukup; alat peraga (audio visual); listrik; serta penataan interior yang nyaman. Hal lain yang amat penting adalah publikasi. Publikasi kepada masyarakat/calon peserta seminar perlu menginformasikan mengenai: tujuan seminar; tema atau topik yang akan dibahas; pendaftaran dan persyaratan peserta; serta narasumber dalam seminar tersebut. Pelaksanaan Seminar Seminar dilaksanakan oleh panitia, moderator, narasumber, dan peserta. Masing-masing mempunyai peran yang satu sama lain saling berkaitan/sinergis dalam mewujudkan keberhasilan seminar. Peranan Panitia Panitai seminar setidaknya terdiri atas: ketua, sekretaris, dan bendahara. Namun untuk hal tertentu dapat ditambah dengan beberapa bagian (akomodasi, konsumsi, dokumentasi, dan lain-lain). Tugas panitia adalah mempersiapkan segala keperluan seminar mulai dari penentuan topik, waktu, tempat, narasumber, peserta, pendanaan, konsumsi, sertifikat, dan perizinan). Peranan Moderator Meskipun persiapan telah dilakukan dengan baik, tidak menjamin bahwa seminar dapat terlaksana dan berhasil dengan baik. Karena keberhasilan sangat ditentukan oleh para fungsionaris dan peserta seminar. Sebagai fungsionaris, pimpinan/moderator seminar sangat penting peranannya. Ia mewarnai seluruh situasi seminar. Oleh karena itu, diperlukan moderator yang baik dengan kriteria: (1) Mampu berpikir jelas dan cepat. Jelas maksudnya agar ide dan gagasannya mudah dipahami orang lain, sedangkan cepat artinya mampu mengikuti cara berpikir para peserta yang beraneka ragam; (2) Bersikap luwes. Artinya, ia harus mampu mengutarakan pikirannya secara jelas dengan bahasa yang lancar serta

46

Bahan Belajar Mandiri Manajemen

Diseminasi Best Practice

mampu berkomunkasi dengan para peserta; (3) Mempunyai kemampuan dan kesanggupan menganalisis. Ia harus mampu menganalisis masalah, mampu menganalisis pendapat para peserta yang akhirnya sampai pada kesimpulan; (4) Berpandangan obyektif. Tidak memihak dan obyektif terhadap permasalahan. Ia harus yakin bahwa setiap tanggapan memperoleh perhatian dari seluruh paserta lainnya; (5) Tidak berprasangka. Terutama dalam menarik titik temu bagi pihak yang bertentangan; (6) Sabar. Ia harus dapat menahan emosi jika terjadi kendala dalam proses pembicaraan; (7) Cerdik dalam menangani masalah yang timbul pada peserta, tanpa menyinggung perasaan salah seorang peserta; (8) Mempunyai keseimbangan dan pengendalian diri. Tidak menonjolkan diri, tidak mendominasi pembicaraan, dan tidak berlebihan; (9) Mempunyai rasa humor. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi ketegangan, sehingga para peserta bebas mengemukakan pendapat. Peranan Sekretaris Tidak kalah pentingnya dengan moderator, sekretaris pun memegang peranan penting. Adapun tugas sekretaris adalah: mencatat proses atau prosedur selama seminar berlangsung; membantu moderator dalam menyimpulkan dan merumuskan hasil seminar; mencatat simpulan/hasil seminar yang dicapai. Peranan Peserta Selain pada fungsionaris, dinamika dan aktivitas seminar terletak pada para peserta. Peran dan tugas peserta sangat menentukan berhasil tidaknya sebuah seminar. Oleh karena itu, untuk menjadi peserta seminar yang baik hendaknya: (1) Menguasai masalah yang diseminarkan. Hal ini dapat diperoleh melalui mempelajari buku-buku sumber maupun hasil kreativitas dan inovasi yang pernah dialami. Menguasai masalah berarti mempunyai bahan dalam pembicaraan; (2) Menyimak pembicaraan dengan penuh perhatian; (3) Menunjukkan sikap simpati dan empati yang tinggi; (4) Terampil menangkap gagasan utama pembicaraan dan gagasan penunjang; (5) Dapat mengajukan usul maupun persuasi; (6) Dapat meminta pendapat dan informasi sebanyak mungkin; (7) Dapat meminta pendapat dan argumen pendapat seseorang; (8) Jika mengajukan penolakan hendaknya ditunjang dengan argumen yang kuat dan mampu mengemukakan contoh-contoh konkret; (9) Ikut menyimpulkan pembicaraan. Peranan Narasumber Narasumber adalah pembicara utama dalam seminar. Ia harus mempersiapkan kertas kerja atau makalah berupa pandangan umum tentang tema yang akan dibahas. Dalam kertas kerjanya narasumber harus mampu mengungkapkan permasalahan dengan alternatif pemecahan yang sudah dilaksanakan, lengkap dengan argumentasi yang bisa dipertanggungjawabkan beserta contoh-contoh konkret dan bukti nyata. Dengan adanya argumen tersebut narasumber dapat membuktikan kebenaran pendapat/pengalamannya yang sangat mendukung dalam

Program BERMUTU

47

Diseminasi Best Practicemeyakinkan para peserta seminar. Data, fakta, dan informasi yang diperlukan dalam argumentasi dapat diperoleh melalui observasi, penelitian, dan bibliografi (studi pustaka) yang telah terbukti. Peserta akan lebih simpatik apabila contoh dan bukti-bukti itu dilengkapi dengan data-data nyata. Kertas kerja/makalah tersebut hendaknya dibagikan kepada peserta sebelum seminar dimulai yaitu pada waktu pendaftaran peserta. Berikut ini disajikan contoh kerangka kertas kerja: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) Judul Identitas Penulis Abstraksi Tema Latar Belakang Permasalahan Solusi-Bukti-Alasan-Contoh-Fakta-Data Kesimpulan dan Saran

Penyampaian pandangan umum dilakukan pada sidang pleno. Segera setelah sidang pleno berakhir, dilanjutkan dengan tanya jawab/pembahasan/diskusi. Moderator dengan bantuan sekretaris atau tim perumus menyusun rumusan hasil seminar dan melaporkan kepada sidang untuk mendapat pengakuan/keabsahan. Dalam diseminasi Best Practice dikenal dengan sebutan seminar institusi. Seminar ini bertujuan untuk mengkomunikasikan dan mendiskusikan hasil penelitian tindakan atau pengalaman terbaik yang telah dilakukan dan masalah-masalah yang akan diteliti/dilakukan pada masa berikutnya. Dalam seminar tersebut peserta dapat tukar-menukar hasil penelitian, studi, tindakan, ide, pengalaman, dan saling membantu dalam pemecahan masalah. Dengan demikian antara penelitian dan seminar merupakan suatu siklus yang tidak bisa dipisahkan. Karena penelitian mendorong adanya seminar, dan seminar mendorong adanya penelitian-penelitian berikutnya. Secara garis besar seminar diseminasi Best Practice bertujuan: 1. saling memberikan andil penemuan yang diperoleh dari penelitian institusi, yang mengaitkan dengan pembinaan dan pengembangan institusi; 2. melalui pertukaran pengalaman, mengidentifikasi masalahmasalah kelembagaan, mengkajinya dalam penelitian dan pengembangan institusi berikutnya;

3.

mengembangkan rencana dan metodologi penelitian institusional baru, yang sesuai dengan kondisi dan permasalahan yang terjadi pada masing-masing institusi (sekolah); 4. mempertimbangkan cara-cara dan rekomendasi yang dapat dijadikan masukan bagi usaha pembinaan dan pengembangan. Pasca Seminar

48

Bahan Belajar Mandiri Manajemen

Diseminasi Best Practice

Setelah seminar institusi selesai, panitia diwajibkan membuat laporan keputusan seminar. Laporan tersebut dapat disusun dengan menggunakan salah satu contoh format laporan sebagai berikut.

LAPORAN HASIL SEMINARJudul Seminar Tema Seminar Tujuan Seminar Topik Masalah Narasumber Waktu Penyelenggaraan Penyelenggara Panitia a. Ketua b. Sekretaris c. Bendahara Jumlah Peserta Jadwal Acara (lampirkan) Sumber dan Penggunan Biaya Hasil/simpulan dan Rekomendasi (lampirkan semua makalah dan samputan penting) .... .... .... .... .... .... .... .... .... .... .... .... .... ....

Tempat, tanggal .... Mengetahui Ketua Panitia --------------------Sekretaris -----------------------

Program BERMUTU

49

Diseminasi Best Practice

Lampiran 6PENILAIAN

Bentuk: Non Tes Jenis: Penugasan a) Perhatikan gambar berikut, selanjutnya berilah komentar sesuai permintaan!

Gambar 3. Narasumber sedang menyajikan seminar pendidikan

materi dalam

Gambar 4. Jumlah peserta seminar sekitar 700 orang

50

Bahan Belajar Mandiri Manajemen

Diseminasi Best Practice

Gambar 5. Peserta seminar sekitar 30 orang dengan posisi dudukyang berbeda

(1) Berdasarkan Gambar 3, benarkah narasumber menyajikanmateri dengan berdiri atau berjalan di ruangan seminar? Berikan alasan Saudara! (2) Berdasarkan Gambar 4. Bagaimana mempersiapkan seminar dengna jumlah peserta 700 orang? (3) Jelaskan perbedan antara Gambar 4 dan Gambar 5 dilihat dari segi keefektifan seminar!

Lembar jawaban Komentar tentang Gambar 4 .... .... .... .... .... .... .... .... .... .... .... .... .... .... .... .... .... .... .... .... .... .... Komentar tentang Gambar 5

b) Identifikasi permasalahan yang Saudara hadapi di sekolah selama

bulan ini baik yang berhubungan dengan SDM (guru, staf, komite), peserta didik, sarana/prasarana, kurikulum, pembiayaan, pengelolaan sekolah, maupun proses dan penilaian proses belajar mengajar. Selanjutnya kelompokkan menurut kepentingannya, dan cobalah berikan alternatif pemecahan masalah tersebut sesuai dengan keyakinan Saudara bahwa teknik tersebut adalah yang paling efektif.

c)Komponen Kurikulum Proses Pembelajaran Permasalahan .... .... Tingkat Kepentingan .... .... Alternatif Solusi .... ....

Program BERMUTU

51

Diseminasi Best PracticeKompetensi Lulusan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Sarana/Prasaran a Pengelolaan Pembiayaan Penilaian PBM .... .... .... .... .... ....

.... .... .... ....

.... .... .... ....

.... .... .... ....

d) Pilihlah salah satu masalah terpenting (krusial) yang telah Saudaraidentifikasi. Tentukan pula alternatif solusi yang telah Saudara pilih. Selanjutnya buatlah rencana implemtasi sesuai dengan langkahlangkah yang mantap. Tentukan waktu dan tempat, dan lakukanlah. Amati dan buatlah catatan-catatn kemajuan selama pelaksanaan berlangsung. Bagaimana kondis awal, perubahan yang terjadi, dan hasil akhir.

e) Buatlah laporan hasil pelaksanaan pemecahan masalah yang telahSaudara lakukan dalam bentuk kertas kerja.

f) Seminarkan kertas kerja tersebut dan Saudara berperan sebagainarasumber g) Lakukan hal (e) secara bergiliran dalam forum MKS/MKPS Selamat Mencoba !

52

Bahan Belajar Mandiri Manajemen

Diseminasi Best Practice

REFLEKSIA. Pertanyan Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut.

1. Apa yang Saudara rasakan setelah mengikuti seminar, baik yangberperan sebagai panitia (ketua, sekretaris, bendahara); narasumber dan moderator; serta anggota? Mengapa demikian, jelaskan!

2. Ungkapkan kesan dan pesan Saudara dalam tulisan di selembarkertas, kumpulkan dan rangkum ke dalam sebuah rubrik.

3. Manfaat apa yang Saudara peroleh dari seminar tersebut? 4. Apa dampak positif bagi Saudara? 5. Bagaimana renccana Saudara ke depan, berkaitan dengan seminartersebut? B. Dampak Dampak positif dari terselenggaranya seminar diseminasi Best Practice memungkinkan berbagai hal diantaranya: meningkatkan wawasan, pemahaman, dan profesionalisme panitia, narasumber, moderator, dan peserta seminar dalam mengelola pendidikan; meningkatkan inovasi dan kreativitas panitia, narasumber, moderator, dan peserta seminar dalam menangani permasalahan yang terjadi di sekolahnya; memotivasi peserta untuk mendesiminasikan Best Practice-nya dalam seminar-seminar maupun forum lainnya.

C. Kegiatan Keberlanjutan

1.

Lombakanlah menulis makalah Best Practice dalam forum MKS/MKPS dengan persyaratan: Peserta berstatus sebagai kepala sekolah atau pengawas;

Naskah ditulis berdasarkan Best Practice di sekolah/MGMP/KKG binaan masing-masing; Naskah asli, sebagai pengalaman langsung sesuai dengan masalah urgen yang dihadapi; Ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik, benar, dan komunikatif; mutakhir; Panjang naskah maksimal 10 halaman termasuk bibliografi Ukuran kertas: A4; Font teks: Times New Roman:12; Margin : 4 cm (kiri dan atas), 3 cm (kanan dan bawah);

Program BERMUTU

53

Diseminasi Best Practice Spasi: 1 spasi.

2. Seminarkan seluruh makalah peserta terbaik, selanjutnya dari hasil seminar tersebut ditentukan urutan pemenang dengan memperhatikan kriteria penulisan karya tulis ilmiah dan teknik presentasi.

3.

Libatkan kelompok independent untuk menjadi dewan juri dalam penilaian karya tulis dan seminar tersebut.

54

Bahan Belajar Mandiri Manajemen

Diseminasi Best Practice

GLOSARIUM(Daftar kata atau istilah dengan penjelasannya dalam bidang tertentu) Analisis data Analisis deskriptif (kualitatif atau kuantitatif) : penelaahan (pemeriksaan) dan penguraian data hingga menghasilkan simpulan. : penguraian data secara deskripsi; deskripsi: pemaparan atau penggambaran dengan katakata secara jelas dan terperinci. kuantitatif: berdasarkan jumlah atau banyaknya; kualitatif: berdasarkan kualitas, biasanya diungkapkan dengan kata-kata, istilah atau kalimat: baik, buruk, kurang, sebagian besar, dsb. Contoh: data kualitatif dari hasil observasi pembelajaran dalam PTK: sebagian besar siswa masih belum memahami penjelasan guru; guru masih terlalu banyak bicara sehingga siswa menjadi tidak aktif, dst. : adalah informasi ringkas dalam bentuk narasi atau PowerPoint yang dimuat atau dilampirkan dalam Buku Bahan Belajar Mandiri yang gunakan secara langsung dalam kegiatan belajar (tatap muka) untuk memahami topik pembelajaran. : Better Education through Reformed Management and Universal Teacher Upgrading atau peningkatan mutu pendidikan melalui peningkatan kompetensi dan kinerja guru atau suatu program digagas oleh Ditjen PMPTK, Ditjen DIKTI, Balitbang Depdiknas dengan dukungan pendanaan dari Pemerintah Belanda (melalui Dutch Trust Fund) dan Bank Dunia (pinjaman lunak melalui IDA Credit dan IBRD Loan), serta dana pendampingan yang berasal dari Pemerintah Pusat dan Daerah. : adalah buku yang berisi rekaman kegiatan, hasil dan kemajuan yang dicapai oleh guru, serta kendala dalam mengikuti kegiatan Program BERMUTU. Buku ini menjadi portofolio atau salah satu bagian dari portofolio yang disusun oleh guru.

Bahan ajar

BERMUTU (Program)

Buku kerja guru

Case Study (Studi Kasus): rangkuman pengalaman pembelajaran (pengalaman mengajar) yang ditulis oleh seorang guru/dosen dalam praktik pembelajaran mereka di kelas yang dapat memberikan contoh nyata tentang masalah-masalah yang dihadapi oleh guru pada saat mereka melaksanakan

Program BERMUTU

55

Diseminasi Best Practice

pembelajaran Catatan anekdotal : catatan-catatan singkat tentang kejadiankejadian yang menarik dari observasi proses pembelajaran, yang akan digunakan untuk melengkapi data PTK. : cerita singkat yang menarik karena lucu dan mengesankan, biasanya mengenai orang penting atau terkenal berdasarkan kejadian yang sebenarnya. : Creating Learning Community for Children, suatu program peningkatan mutu pendidikan dasar atas kerjasama Depdiknas dengan UNICEF dan UNESCO. : Decentralized Basic Education, suatu program peningkatan mutu pendidikan dasar atas kerjasama Depdiknas dengan USAID (Lembaga Bantuan Luar Negeri Pemerintah Amerika Serikat) : Direktorat Pembinaan Pendidikan dan Latihan; salah satu direktorat yang ada di bawah naungan Direkrorat Jenderal PMPTK Depdiknas.

Anekdot

CLCC

DBE

Ditbindiklat

Diskusi kelompok kecil : Diskusi yang dilakukan oleh 2 - 3 orang guru atau berpasangan untuk saling mengemukakan dan memberi masukan atau membahas hasil kerja masingmasing. Diskusi refleksi : diksusi yang dilakukan dalam rangka membahas proses dan hasil pelaksanaan pembelajaran berdasarkan hasil pengamatan para observer. Diskusi dilakukan secara formal, yang bertugas memimpin diskusi (moderator), notulis, refleksi dari guru model dan komentar dari para observer. : guru terpilih yang telah dilatih untuk menjadi pemandu atau fasilitator bagi guru-guru yang lain dalam kegiatan di MGMP di wilayahnya. : yakni guru, kepala sekolah, pengawas, widyaiswara, atau dosen yang karena kompetensinya menjadi pemandu atau fasilitator dalam kegiatan di KKG. : jawaban sementara atau dugaan terhadap masalah yang diteliti yang secara teoritis dianggap paling mungkin dan paling tinggi

Guru Inti

Pemandu

Hipotesis

56

Bahan Belajar Mandiri Manajemen

Diseminasi Best Practice

tingkat keberhasilannya. Hipotesis