BAB II yes 1

download BAB II yes 1

of 24

  • date post

    07-Apr-2018
  • Category

    Documents

  • view

    217
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of BAB II yes 1

  • 8/6/2019 BAB II yes 1

    1/24

    BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA

    A. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)

    1. Pengertian ISPA

    ISPA adalah radang akut saluran pernafasan atas maupun

    bawah yang disebabkan oleh infeksi jasad renik, bakteri, virus maupun

    riketsia tanpa atau disertai dengan radang perenkim paru (Amin,dkk,

    1989). Menurut Depkes RI 2002 dalam buku pedoman pemberantasan

    penyakit infeksi saluran pernapasan akut (P2 ISPA), pneumonia

    adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli)

    atau suatu sindroma yang disebabkan oleh bakteri dengan ditandai

    oleh gambaran klinik batuk dan disertai adanya tarikan dinding dada

    bagian bawah ke dalam nafas cepat. Terjadinya Pneumonia pada anak

    sering kali bersamaan dengan terjadinya proses infeksi akut pada

    bronkhus yang disebut bronkopneumonia. Dalam pelaksanaan

    Pemberantasan Penyakit ISPA semua bentuk Pneumonia (baik

    Pneumonia maupun bronkopneumonia) disebut Pneumonia saja.

    Istilah ISPA merupakan singkatan dari Infeksi Saluran

    pernapasan Akut dengan pengertian sebagai berikut: Infeksi adalah

    masuknya Mikroorganisme ke dalam tubuh manusia dan berkembang

    biak sehingga menimbulkan penyakit. Saluran pernapasan adalah

    7

  • 8/6/2019 BAB II yes 1

    2/24

    organ mulai dari hidung, laring, fharing, bronkus hingga Alveoli beserta

    organ lain seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura. Infeksi akut

    adalah infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari. Penyakit

    infeksi saluran pernafasan akut yang ditandai dengan satu atau lebih

    gejala batuk pilek disertai dengan atau tanpa demam yang

    berlangsung bisa sampai 14 hari tanpa adanya penarikan dinding

    dada, (Depkes RI, 2002).

    Untuk kepentingan pencegahan dan pemberantasan, maka

    penyakit ISPA dapat diketahui menurut :

    a. Lokasi Anatomik

    Penyakit ISPA dapat dibagi dua berdasarkan lokasi

    anatominya, yaitu : ISPA atas dan ISPA bawah.

    ISPA bagian atas adalah batuk pilek, Pharingitis, Tonsilitis,

    Otitis media, Flu, Sinusitis, sedangkan ISPA bagian bawah

    diantaranya Bronchiolitis dan pneumonia yang sangat berbahaya

    karena dapat menyebabkan kematian .

    b. Klasifikasi penyakit

    Menurut Dirjen PPM Depkes RI 2002, penyakit ISPA

    diklasifikasikan berdasarkan golongan umur, yaitu :

    1) Kelompok umur kurang dari 2 bulan, dibagi atas : pneumonia

    berat dan bukan pneumonia. Pneumonia berat ditandai dengan

    adanya napas cepat (Fast breathing), yaitu frekuensi

    pernapasan sebanyak 60 kali permenit atau lebih, atau adanya

    8

  • 8/6/2019 BAB II yes 1

    3/24

    tarikan kuat pada dinding dada bagian bawah ke dalam (Severe

    chest indrawing), sedangkan bukan pneumonia bila tidak

    ditemukan tarikan dinding dada bagian bawah dan tidak ada

    nafas cepat.

    2) Kelompok umur 2 bulan sampai kurang dari 5 tahun dibagi atas :

    pnemonia berat, pnemonia dan bukan pnemonia. Pneumonia

    berat, bila gejala klinis disertai napas sesak yaitu adanya tarikan

    dinding dada bagian bawah ke dalam pada waktu anak menarik

    napas. Pneumonia didasarkan pada adanya batuk dan atau

    kesukaran bernapas disertai adanya napas cepat, yaitu 40 kali

    permenit atau lebih.

    2. Diagnosis

    Diagnosis ISPA pada balita didasarkan pada adanya gejala klinis

    batuk dan pilek disertai atau tanpa disertai demam bisa sampai 14

    hari, dan tidak disertai nafas cepat. Batas napas cepat (fast breathing)

    cepat adalah frekuensi pernafasan sebanyak 50 kali per menit atau

    lebih pada anak umur 2 bulan - < 1 tahun dan 40 kali per menit atau

    lebih pada anak umur 1 -

  • 8/6/2019 BAB II yes 1

    4/24

    ditandai dengan adanya nafas cepat (fast breathing), yaitu frekuensi

    pernafasan sebanyak 60 kali per menit atau lebih atau adanya

    penarikan yang kuat pada dinding dada sebelah bawah ke dalam.

    3. Perjalanan Alamiah Penyakit

    Menurut Mausner dan Kramer (1985) perjalanan alamiah

    penyakit dibagi menjadi 5 tahap yaitu : tahap kerentanan, pada tahap

    ini terjadi interaksi antara bibit penyakit, penjamu dan lingkungan di

    luar tubuh namun bentuk penyakit belum terjadi dan beberapa

    keadaan dapat merupakan faktor risiko terjadinya penyakit. Tahap

    presintomatik, telah terjadi interaksi dari berbagai faktor yang

    mengakibatkan perubahan-perubahan patogenik tetapi masih di

    bawah garis horizon klinik. Tahap penyakit klinis, telah muncul tanda-

    tanda atau gejala penyakit dan dapat diketahui dengan jelas yang

    disebabkan karena perubahan anatomic ataupun kelainan fungsi

    tubuh. Tahap penyakit klinis lanjut, tahap perjalanan penyakit akan

    berlanjut dan akan menjadi lebih berat kalau tidak mendapatkan

    perhatian. Tahap kecatatan, dengan upaya tindakan kesehatan atau

    secara spontan beberapa penyakit dapat disembuhkan namun masih

    meninggalkan gejala yang dapat berlangsung dalam jangka pendek

    maupun panjang. Selain itu masih memungkinkan terjadi gangguan

    bagi kesehatan penderita.

    10

  • 8/6/2019 BAB II yes 1

    5/24

    4. Etiologi ISPA

    Etiologi ISPA pada balita sukar untuk ditetapkan karena dahak

    biasanya sukar diperoleh. Sedangkan prosedur pemeriksaan

    imunologi belum memberikan hasil yang memuaskan untuk

    menentukan adanya bakteri sebagai penyebab ISPA. Hanya biakan

    dari aspirat paru serta pemeriksaan spesimen darah yang dapat

    diandalkan untuk membantu penetapan etiologi Pneumonia. Meskipun

    pemeriksaan spesimen aspirat paru merupakan cara yang sensitif

    untuk mendapatkan dan menentukan bakteri penyebab Pneumonia

    pada balita akan tetapi pungsi paru merupakan prosedur yang

    berbahaya dan bertentangan dengan etika, terutama jika hanya

    dimaksudkan untuk penelitian.

    Oleh karena alasan tersebut di atas maka penetapan etiologi

    ISPA di Indonesia masih didasarkan pada hasil penelitian di luar

    Indonesia. Menurut publikasi WHO, penelitian diberbagai negara

    menunjukkan bahwa di negara berkembang Streptokokus dan

    Hemofilus influenza merupakan bakteri yang selalu ditemukan pada

    dua pertiga dari hasil isolasi, yaitu 73,9% aspirat paru dan 69,1% hasil

    isolasi dari spesimen darah. Sedangkan di negara maju, dewasa ini

    ISPA pada anak umumnya disebabkan oleh virus. (Depkes RI, 2002).

    11

  • 8/6/2019 BAB II yes 1

    6/24

    5. Kecenderungan terjadinya penyakit ISPA

    Bencana alam melanda berbagai daerah di Indonesia seperti:

    gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor, semburan lahar panas,

    akibat aktivitas gunung berapi, semburan lumpur panas, bencana alam

    ini mengakibatkan terjadinya pengungsian secara besar besaran

    yang mengakibatkan peningkatan penyakit termasuk salah satunya

    ISPA. Selain itu pencemaran lingkungan karena asap seperti

    kebakaran hutan, gas buang sarana transportasi dan polusi udara

    dalam rumah merupakan ancaman kesehatan terutama ISPA, maka

    salah satu upaya yang harus dilakukan adalah yang memperhatikan

    ataumenanggulangi faktor resikolingkungan.( Daud A, 2000).

    6. Strategi program pemberantasan ISPA

    Menemukan penderita Balita ISPA dan pengobatan yang tepat

    untuk mencegah berlanjutnya penyakit menjadi pneumonia berat yang

    dapat menyebabkan kematian, dan penemuan pneumonia berat serta

    penatalaksanaannya di tempat rujukan secara tepat untuk

    menurunkan kematian. Pencegahan dapat dilakukan dengan cara :

    1) Imunisasi penyakit yang dapat mencegah timbulnya

    ISPA adalah Campak, Difteria, Pertusis.

    2) Usaha dibidang gizi untuk mengurangi malnutrisi dan

    defisiensi vitamin A.

    12

  • 8/6/2019 BAB II yes 1

    7/24

    3) Program KIA yang menangani kesehatan ibu dan bayi

    dengan BBLR .

    4) Program penyehatan lingkungan pemukiman PLP yang

    menangani masalah polusi di dalam maupun di luar rumah.

    (Depkes 1996).

    B. Bawah Lima Tahun ( BALITA )

    Balita yaitu anak yang berusia 1 sampai 5 tahun merupakan

    generasi yang perlu mendapat perhatian, karena balita amat peka

    terhadap penyakit, tingkat kematian bayi dan balita masih tinggi

    (Depkes RI, 2002).

    Balita diharapkan tumbuh dan berkembang dalam keadaan

    sehat jasmani, sosial dan bukan hanya bebas dari penyakit dan

    kelemahan.

    Masalah kesehatan balita merupakan masalah nasional,

    mengingat angka kesakitan dan angka kematian pada balita masih

    cukup tinggi. Angka kesakitan mencerminkan keadaan yang

    sesungguhnya karena penyebab utamanya berhubungan erat dengan

    faktor lingkungan (perumahan, kebersihan lingkungan dan polusi

    udara), kemiskinan, kurang gizi, penyakit infeksi dan pelayanan

    kesehatan.

    Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, infeksi

    saluran pernapasan akut masih tinggi karena adanya beberapa faktor

    13

  • 8/6/2019 BAB II yes 1

    8/24

    antara lain kualitas udara dalam rumah yang berkaitan dengan

    kegiatan penghuni di dalamnya seperti merokok, bakteri dan virus

    akibat komplikasi dengan penyakit campak dapat menimbulkan

    kematian (Yvonne, S.H, 1997). Beberapa faktor penyebab kematian

    maupun yang berperan dalam proses tumbuh kembang balita yaitu :

    1. Diare.

    2. Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.

    3. Infeksi saluran pernapasan akut

    Untuk itu kegiatan yang dilakukan terhadap balita antara

    pemeriksaan perkembangan dan pertumbuhan fisiknya, pemeriksaan

    perkembangan kecerdasan, pemeriksaan penyakit infeksi, imunisasi,

    perbaikan gizi dan pendidikan ke