BAB II KAJIAN PUSTAKArepository.uksw.edu/bitstream/123456789/9290/3/T1_292010150_BAB II.pdf ·...

of 12/12
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teori Kajian teori ini merupakan uraian dari pendapat beberapa ahli yang mendukung penelitian. Dari beberapa teori para ahli tersebut mengkaji objek yang sama yang mempunyai pandangan dan pendapat yang berbeda-beda. Pembahasan kajian teori dalam penelitian ini berisi tentang pembelajaran Accelerated Learning tipe SAVI dan hasil belajar IPA. 2.1.1 Hakikat IPA Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan cabang ilmu alam yang sudah kita kenal dan sering kita terapkan dalam kehidupan kita. Menurut Samatowo (2009:3), bahwa IPA merupakan ilmu yang mempelajari peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam ini. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. (BNSP, 2006:161) Priantoro, ( Trianto, 2010:137) mengemukakan bahwa IPA hakikatnya merupakan suatu produk, proses, dan aplikasi. Sebagai produk, IPA merupakan sekumpulan pengetahuan dan sekumpulan konsep dan bagan konsep. Sebagai proses, IPA merupakan proses yang dipergunakan untuk mempelajari objek studi, menemukan dan mengembangkan produk-produk sains, dan sebagai aplikasi, teori-teori IPA akan melahirkan teknologi yang dapat memberi kemudahan bagi kehidupan. 6
  • date post

    07-Mar-2019
  • Category

    Documents

  • view

    212
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of BAB II KAJIAN PUSTAKArepository.uksw.edu/bitstream/123456789/9290/3/T1_292010150_BAB II.pdf ·...

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Kajian Teori

Kajian teori ini merupakan uraian dari pendapat beberapa ahli yang

mendukung penelitian. Dari beberapa teori para ahli tersebut mengkaji objek yang

sama yang mempunyai pandangan dan pendapat yang berbeda-beda. Pembahasan

kajian teori dalam penelitian ini berisi tentang pembelajaran Accelerated Learning

tipe SAVI dan hasil belajar IPA.

2.1.1 Hakikat IPA

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan cabang ilmu alam yang sudah

kita kenal dan sering kita terapkan dalam kehidupan kita. Menurut Samatowo

(2009:3), bahwa IPA merupakan ilmu yang mempelajari peristiwa-peristiwa yang

terjadi di alam ini.

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berhubungan dengan cara mencari tahu

tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan

pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja

tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA diharapkan dapat

menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam

sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam

kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian

pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan

memahami alam sekitar secara ilmiah. (BNSP, 2006:161)

Priantoro, ( Trianto, 2010:137) mengemukakan bahwa IPA hakikatnya

merupakan suatu produk, proses, dan aplikasi. Sebagai produk, IPA merupakan

sekumpulan pengetahuan dan sekumpulan konsep dan bagan konsep. Sebagai

proses, IPA merupakan proses yang dipergunakan untuk mempelajari objek studi,

menemukan dan mengembangkan produk-produk sains, dan sebagai aplikasi,

teori-teori IPA akan melahirkan teknologi yang dapat memberi kemudahan bagi

kehidupan.

6

7

Dari beberapa pendapat tentang mata pelajaran IPA di SD/MI maka dapat

diambil kesimpulan bahwa mata pelajaran IPA merupakan mata pelajaran yang

dapat menumbuhkan kemampuan berpikir yang berkaitan dengan manusia dan

alam sekitar, sehingga dapat meningkatkan pemahaman seseorang terhadap

dirinya sendiri juga alam disekitarnya. Serta pembelajaran IPA di SD/MI

menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui

penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah.

2.1.2 Tujuan Pembelajaran IPA

Tujuan pembelajaran IPA dijelaskan dalam BNSP (2006: 162) agar peserta

didik memiliki kemampuan sebagai berikut:

1) Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa

berdasarkan keberadaan, keindahan dan keteraturan alam ciptaan-Nya.

2) Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang

bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

3) Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang adanya

hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi dan

masyarakat.

4) Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar,

memecahkan masalah dan membuat keputusan

5) Meningkatkan kesadaran untuk berperanserta dalam memelihara, menjaga

dan melestarikan lingkungan alam

6) Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya

sebagai salah satu ciptaan Tuhan

7) Memperoleh bekal pengetahuan, konsep dan keterampilan IPA sebagai

dasar untuk melanjutkan pendidikan ke SMP/MTs.

8

2.1.3 Ruang Lingkup Pembelajaran IPA

Berdasarkan BNSP (2006:162) Ruang Lingkup bahan kajian IPA untuk

SD/MI meliputi aspek-aspek berikut:

1) Makhluk hidup dan proses kehidupan, yaitu manusia, hewan, tumbuhan dan

interaksinya dengan lingkungan, serta kesehatan.

2) Benda/materi, sifat-sifat dan kegunaannya meliputi: cair, padat dan gas.

3) Energi dan perubahannya meliputi: gaya, bunyi, panas, magnet, listrik,

cahaya dan pesawat sederhana.

4) Bumi dan alam semesta meliputi: tanah, bumi, tata surya, dan benda-benda

langit lainnya.

2.1.4 Hasil Belajar

Anni (2004: 4) mengemukakan hasil belajar merupakan perubahan tingkah

perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar. Hasil

belajar tersebut terjadi terutama berkat evaluasi guru. Hasil belajar dapat berupa

dampak pengajaran dan dampak pengiring.

Menurut Sudjana (2009:22), bahwa hasil belajar adalah kemampuan

kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya. Hasil

belajar digunakan untuk mengukur tingkat ketercapaian tujuan pembelajaran oleh

siswa selama mengikuti kegiatan pembelajaran. Sudjana membagi tiga macam

hasil belajar mengajar, yakni (a) keterampilan dan kebiasaan, (b) pengetahuan dan

pengarahan, dan (c) sikap dan cita-cita.

Menurut Bloom dalam Anni (2007:7) ada tiga ranah (domain) hasil belajar,

yaitu: kognitif, afektif, dan psikomotor. Perinciannya adalah sebagai berikut:

a. Ranah Kognitif

Berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari 6 aspek yaitu

pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan penilaian.

b. Ranah Afektif

Berkenaan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif meliputi lima jenjang

kemampuan yaitu menerima, menjawab atau reaksi, menilai, organisasi dan

karakterisasi dengan suatu nilai atau kompleks nilai.

9

c. Ranah Psikomotor

Meliputi keterampilan motorik, manipulasi benda-benda, koordinasi

neuromuscular (menghubungkan dan mengamati).Ranah kognitif dalam

penilaian hasil belajar biasanya menjadi ranah paling dominan dalam

menentukan hasil setelah mengikuti serangkaian pembelajaran. Namun hasil

belajar juga tidak boleh lepas dari ranah afektif dan psikomotor. Ketiganya

harus menjadi bagian dari hasil penilaian dalam proses pembelajaran di

sekolah.

Berdasarkan beberapa pendapat dari para ahli, dapat disimpulkan bahwa

hasil belajar merupakan perubahan tingkah laku yang diperolah seseorang setelah

mengikuti serangkaian kegiatan pembelajaran. Hasil itu meliputi pengetahuan,

sikap, nilai, pemahaman, dan keterampilan yang menghasilkan suatu perubahan

yang diukur melalui tes tertulis, tes lisan, maupun tes perbuatan sesuai

kemampuan yang akan diukur baik ranah kognitif, afektif atau psikomotorik.

2.1.5 Pembelajaran Accelerated Learning

Pembelajaran Accelerated Learning merupakan hasil gagasan dari pakar

pendidikan yang bernama Dave Meier. Menurut Meier (2002:26) mengatakan

bahwa Acclerated learning adalah pembelajaran paling maju yang digunakan

pada masa sekarang, dan mempunyai banyak manfaat. Accelerated Learning

didasarkan pada penelitian mutakhir mengenai otak dan belajar. Disini pembelajar

diajak terlibat langsung pada proses pembelajaran.

Russel (2011:5) mengatakan bahwa Acclerated learning adalah sebuah

proses perubahan kebiasaan yang disebabkan oleh penambahan ketrampilan,

pengetahuan atau sikap dengan meningkatkan kecepatan.

Rose (Syahrani, 2002:16) Accelerated Learning sebuah sistem yang

menyeluruh untuk mempercepat, meningkatkan rancangan dan proses belajar.

Berdasarkan pada penemuan/penelitian tentang otak, yang membuktikan dan

meningkatkan kembali efektifitas belajar yang menghemat waktu dan biaya dalam

proses belajar.

10

Berdasarkan pendapat-pendapat para ahli yang telah dikemukakan, maka

dapat disimpulkan pembelajaran Accelerated Learning merupakan suatu trobosan

proses pembelajaran yang dilakukan untuk mendapatkan peningkatan

pembelajaran. Pembelajaran Accelerated Learning melibatkan seluruh

pancaindera manusia baik pikiran, perasaan dan gerakan tubuh. Sehingga belajar

bukan hanya mentransfer pengetahuan.

2.1.6 Model Pembelajaran SAVI

Meier mengungkapkan bahwa model pembelajaran SAVI adalah bagian

dari Accelereted Learning. Menurut Rusman (2011:373) model pembelajaran

SAVI menyajikan suatu sistem lengkap untuk melibatkan kelima indera dan emosi

dalam proses belajar yang merupakan cara belajar secara alami yang dikenal

dengan model SAVI, yaitu Somatis, Auditori, Visual dan Intelektual. Somatis

artinya belajar dengan bergerak dan berbuat. Auditori, belajar dengan berbicara

dan mendengar. Visual artinya belajar dengan mengamati dan menggambarkan.

Intelektual, artinya belajar dengan memecahkan masalah dan menerangkan.

Herdian (2009) berpendapat bahwa pembelajaran SAVI menganut aliran

ilmu kognitif modern yang menyatakan belajar yang paling baik adalah

melibatkan emosi, seluruh tubuh, semua indera, dan segenap kedalaman serta

keluasan pribadi, menghormati gaya belajar individu lain dengan menyadari

bahwa orang belajar dengan cara-cara yang berbeda. Mengkaitkan sesuatu dengan

hakikat realitas yang nonlinear, nonmekanis, kreatif dan hidup.

Menurut Irawati (2010), Pendekatan SAVI merupakan suatu pendekatan

pembelajaran yang menekankan bahwa belajar haruslah memanfaatkan semua alat

indera yang dimiliki oleh siswa.

Berdasarkan pendapat-pendapat para ahli yang telah dikemukakan, maka

dapat disimpulkan model pembelajaran SAVI merupakan pembelajaran yang

mengajar siswa terlibat langsung selama proses pembelajaran. Dengan

mengunakan seluruh tubuh dan semua indera manusia untuk belajar.

11

2.1.6.1 Komponen Utama SAVI

Menurut Meier (2002:91), Unsur-unsur model pembelajaran SAVI

meliputi:

1) Somatis : Belajar dengan bergerak dan berbuat

2) Auditori : Belajar dengan berbicara dan mendengar

3) Visual : Belajar dengan mengamati dan menggambarkan

4) Intelektual : Belajar dengan memecahkan masalah dan merenung

Penjabaran dari keempat komponen tersebut sebagai berikut :

1) Somatis.

Somatis berasal dari bahasa yunani tubuh-soma. Jika dikaitkan dengan

belajar maka dapat diartikan belajar dengan bergerak dan berbuat. Sehingga

pembelajaran somatic adalah pembelajaran yang memanfaatkan dan melibatkan

tubuh (indera peraba, kinestetik, melibatkan fisik dan menggerakkan tubuh

sewaktu kegiatan pembelajaran berlangsung). Bahwa cara belajar somatis adalah

belajar dengan cara melibatkan aktivitas tubuh. Dalam hal ini siswa bergerak dan

berbuat dalam mempelajari sesuatu, misalnnya meragakan sesuatu, membuat

suatu karya, melakukan sesuatu kegiatan, dan lain-lain. Belajar secara somatis

tesebut sejalan dengan salah satu prinsip yang menyatakan bahwa belajar adalah

mengalami, belajar tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain.

2) Auditori

Belajar dengan berbicara dan mendengar. Pikiran kita lebih kuat daripada

yang kita sadari, telinga kita terus menerus menangkap dan menyimpan informasi

bahkan tanpa kita sadari. Ketika kita membuat suara sendiri dengan berbicara

beberapa area penting di otak kita menjadi aktif. Hal ini dapat diartikan dalam

pembelajaran siswa hendaknya mengajak siswa membicarakan apa yang sedang

mereka pelajari, menerjemahkan pengalaman siswa dengan suara. Mengajak

mereka berbicara saat memecahkan masalah, membuat model, mengumpulkan

informasi, membuat rencana kerja, menguasai keterampilan, membuat tinjauan

pengalaman belajar, atau menciptakan makna-makna pribadi bagi diri mereka

sendiri

12

3) Visual

Belajar dengan mengamati dan menggambarkan. Dalam otak kita terdapat

lebih banyak perangkat untuk memproses informasi visual daripada semua indera

yang lain. Setiap siswa yang menggunakan visualnya lebih mudah belajar jika

dapat melihat apa yang sedang dibicarakan seorang perceramah atau sebuah buku

atau program komputer. Sekarang khusus pembelajaran visual yang baik jika

mereka dapat melihat contoh dari dunia nyata, diagram, peta gagasan, ikon dan

sebagainya ketika belajar.

4) Intelektual

Belajar dengan memecahkan masalah dan merenung. Tindakan

pembelajaran yang melakukan sesuatu dengan pikiran mereka secara internal

ketika menggunakan kecerdasan untuk merenungkan suatu pengalaman dan

menciptakan hubungan, makna, rencana, dan nilai dari pengalaman tersebut.

Intelektual adalah bagian diri yang menerenung, mencipta, memecahkan masalah,

dan membangun makna.

Untuk melatih aspek intelektual, aktivitas-aktivitas yang dapat dilakukan

seperti memecahkan masalah, menganalisis pengalaman, melahirkan gagasan

kreatif, mencari dan menjaring informasi, merumuskan pertanyaan, menciptakan

model mental, menerapkan gagasan baru pada pekerjaan menciptakan makna

pribadi, dan meramalkan implikasi suatu gagasan.

2.1.6.2 Tahap Pembelajaran SAVI

Menurut Meier (2002:106-108), menjabarkan implementasi cara belajar

SAVI dalam pembelajaran dapat ditempuh dengan prosedur sebagai berikut:

a) Tahap Persiapan

Tahap persiapan berkaitan dengan mempersiapkan pembelajar untuk

belajar. Tujuan tahap persiapan adalah merangsang minat dan rasa ingin tahu para

pembelajar, memberi mereka perasaan positif mengenai pengalaman belajar yang

akan datang dan menempatkan mereka dalam situasi optimal untuk belajar. Dalam

tahap persiapan dapat dilakukan dengan 1) memberikan sugesti positif. 2)

memberikan pernyataan yang memberi manfaat positif. 3) memberikan tujuan

13

yang jelas dan bermakna. 4) membangkitkan rasa ingin tahu. 5) menciptakan

lingkungan fisik yang positif. 6) menciptakan lingkungan emosional yang positif.

7) menciptakan lingkungan sosial yang positif. 8) menenangkan rasa takut. 9)

menyingkirkan hambatan-hambatan belajar. 10) merangsang rasa ingin tahu

pembelajar. 11) mengajak pembelajar terlibat penuh sejak awal.

b) Tahap Penyampaian

Tujuan tahap penyampaian adalah membantu pembelajar menemukan

materi yang baru dengan cara yang menarik, menyenangkan, relevan, melibatkan

panca indera dan cocok untuk semaua gaya belajar. Tahap penyampaian dapat

dilakukan dengan: 1) uji coba kolaboratif dan berbagi pengetahuan. 2)

pengamatan fenomena dunia nyata. 3) pelibatan seluruh otak, seluruh tubuh. 4)

presentasi interaktif. 5) grafik dan sarana presentasi berwarna-warni. 6) aneka

macam cara untuk disesuaikan dengan seluruh gaya belajar. 7) proyek belajar

berdasar kemitraan dan berdasar tim. 8) pelatihan menemukan sendiri (sendiri,

berpasangan, berkelompok). 9) pengalaman belajar di dunia nyata yang

kontekstual. 10) pelatihan memecahkan masalah.

c) Tahap Pelatihan

Tujuan tahap pelatihan adalah membantu pembelajar mengintegrasikan

dan menyerap pengetahuan dan keterampilan baru dengan berbagai cara. Dalam

tahap pelatihan dapat dilakukan dengan: 1) aktivitas pemprosesan pembelajar. 2)

usaha aktif / umpan balik / renungan / usaha kembali. 3) simulasi dunia nyata. 4)

permainan dalam belajar. 5) pelatihan aksi pembelajaran. 6) aktivitas pemecahan

masalah. 7) refleksi dan artikulasi individu. 8) dialog berpasangan atau

berkelompok. 9) pengajaran dan tinjauan kolaboratif. 10) aktivitas praktis

membangun keterampilan. 11) mengajar balik.

d) Tahap Penampilan Hasil

Tujuan tahap penampilan hasil adalah membantu pembalajar menerapkan

dan memperluas pengetahuan atau keterampilan baru mereka pada pekerjaan

sehingga hasil belajar akan melekat dan hasil belajar akan terus meningkat. Tahap

penamilan dilaksanaan dengan: 1) penerapan di dunia nyata dalam tempo segera.

2) penciptaan dan pelaksanaan rencana aksi. 3) aktivitas penguatan penerapan. 4)

14

materi penguatan pasca sesi.5) pelatihan terus menerus. 6) umpan balik dan

evaluasi kinerja. 7) aktivitas dukungan kawan. 8) perubahan organisasi dan

lingkungan yang mendukung.

2.1.6.3 Sintaks Model Pembelajaran SAVI

Dari tahap pembelajaran SAVI maka dapat ditarik sintaks/langkah-langkah

pembelajaran SAVI yang dilaksanakan dalam penelitian yaitu sebagai berikut:

A. Tahap persiapan / kegiatan awal:

1) Guru menciptakan lingkungan yang positif.

2) Guru memberikan tujuan pembelajaran yang jelas dan bermakna.

3) Guru memberikan pernyataan yang memberi manfaat positif tentang

pembelajaran IPA merupakan pelajaran yang menyenangkan dan tidak

sulit.

4) Guru membangkitkan rasa ingin tahu (audio/A ,intelektual/I).

5) Guru mengajak pembelajar / siswa terlibat penuh sejak awal dengan

membimbing berkomunikasi langsung dengan siswa selama pembelajaran.

B. Tahap Penyampaian dan pelatihan (kegiatan inti)

6) Guru memberi kesempatan kepada siswa melakukan pengamatan

fenomena dunia nyata (visual/V).

7) Guru melakukan uji coba kolaboratif dan berbagi pengetahuan dengan

siswa dan membimbing siswa yang mengalami kesulitan (auditori/A, dan

intelektual/I).

8) Guru melaksanakan kegiatan belajar yang melibatkan seluruh otak, seluruh

tubuh (somatis/S, auditori/A, visual/V, intelektual/I).

9) Guru menciptakan proyek belajar berdasar kemitraan / kelompok dan

berdasar tim (somatis/S, auditori/A, visual/V, intelektual/I).

10) Guru melatih siswa memecahkan masalah (intelektual/I).

C. Tahap penampilan hasil (kegiatan penutup).

11) Guru memberikan umpan balik

12) Guru membantu siswa membuat kesimpulan

15

13) Guru memberikan penguatan penerapan.

14) Guru menutup pembelajaran dengan salam

2.2 Penelitian Yang Relevan

Berdasarkan telaah pustaka yang dilakukan, berikut ini dikemukakan

penelitian yang ada kaitannya dengan variabel penelitian yang dilakukan. Menurut

Ardie, Toni Agus (2012), dalam skripsi berjudul Peningkatan Motivasi dan Hasil

Belajar IPA Menggunakan Model Pembelajaran SAVI pada Siswa Kelas V SDN

Salatiga 01 Sidorejo Kota Salatiga Tahun 2011/2012 menyimpulkan bahwa

Penerapan model pembelajaran SAVI dapat meningkatkan motivasi dan hasil

belajar khususnya tentang pemahaman konsep sifat-sifat cahaya pada mata

pelajaran IPA siswa kelas V SDN Salatiga 01 Kecamatan Sidorejo Kota Salatiga

tahun pelajaran 2011 / 2012. Dapat dilihat dari hasil perolehan sebelum tindakan,

siklus I, dan siklus II yaitu untuk motivasi belajar siswa, kondisi awal total

motivasi sebesar 3,36 (84,20%), pada siklus I meningkat menjadi 3,41 (85,47%),

dan pada siklus II menjadi 3,49 (87,46%). Untuk hasil belajar ketuntasan belajar

siswa sebelum tindakan dapat diketahui bahwa dari 46 siswa keseluruhan, yang

memiliki nilai kurang dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM=70) sebanyak 36

siswa atau 78.27%, sedangkan yang sudah mencapai ketuntasan minimal

sebanyak 10 siswa dengan persentase 21,73%. Pada siklus I ketuntasan belajar

siswa dapat diketahui bahwa dari 48 keseluruhan, siswa yang memiliki nilai

kurang dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM=70) sebanyak 15 siswa atau

31,25%, sedangkan yang sudah mencapai ketuntasan minimal sebanyak 33 siswa

dengan persentase 68,75%. Pada siklus II ketuntasan belajar siswa dapat diketahui

bahwa dari 46 siswa keseluruhan, yang memiliki nilai kurang dari Kriteria

Ketuntasan Minimal (KKM=70) sebanyak 4 siswa atau 8,34%, sedangkan yang

sudah mencapai ketuntasan minimal sebanyak 44 siswa dengan persentase

91,66%.

Menurut Rosyadi, Miftah (2013), dalam skripsi berjudul Penggunaan

Penerapan Model Somatis, Auditori, Visual, Intelektual Terhadap Hasil Belajar

Matematika Pada Siswa Kelas 5 SD Negeri I Ampel Kecamatan Ampel

http://repository.library.uksw.edu/handle/123456789/817http://repository.library.uksw.edu/handle/123456789/817http://repository.library.uksw.edu/handle/123456789/817http://repository.library.uksw.edu/handle/123456789/817

16

Kabupaten Boyolali, Semester II Tahun Pelajaran 2012/2013, kesimpulan yang

dapat ditarik bahwa penerapan model pembelajaran SAVI menghasilkan nilai

signifikansi sig. 2-tailed sebesar 0,002. Hal ini menunjukan terdapat pengaruh

signifikan penerapan model SAVI hasil belajar matematika dibandingkan dengan

pembelajaran menggunakan metode konvensional.

Dari penelitian yang telah diuraikan memiliki kesamaan dengan penelitian

ini. Adapun persamaan penelitian ttersebut yaitu; sama-sama berupa tes dan non

tes. Sedangkan perbedaan penelitian di atas terletak pada masalah, tujuan,

tindakan, variabel dan subjek penelitian.

2.3 Kerangka Berpikir

IPA adalah mata pelajaran yang menarik untuk dipelajari. Dengan

mempelajari IPA kita akan memperoleh manfaat yang luas karena hampir semua

yang berkaitan dengan kehidupan kita terdapat pada mata pelajaran IPA. Namun

dalam kenyataannya, masih ada sekolah-sekolah yang memiliki hasil belajar IPA

yang rendah karena belum mencapai standar ketuntasan yang telah ditentukan.

Rendahnya hasil belajar IPA di sekolah sekolah berkaitan dengan proses

pembelajaran yang dilakukan oleh guru di kelas. Sejauh ini dalam proses

pembelajaran di kelas masih berpusat pada guru. Biasanya guru hanya

menggunakan metode ceramah untuk mencapai tujuan pembelajaran serta kurang

melibatkan siswa dalam proses belajar mengajar.

Oleh karena itu guru harus melakukan pembaharuan untuk meningkatkan

hasil belajar. Pembelajaran yang baik adalah terlibatnya siswa selama proses

belajar mengajar. Hal ini dapat dibangkitkan melalui model pembelajaran SAVI.

Model pembelajaran SAVI ini menekankan keterlibatan siswa secara langsung

selama proses pembelajaran baik secara fisik, pikiran maupun perasaan. Serta

menimbulkan perasaan senang dalam belajar sehingga hasil belajar meningkat.

17

Gambar 2.1 Peta Konsep Kerangka Pikir

2.4 Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kajian teori dan kerangka pikir maka dapat dirumuskan

hipotesis penelitian tindakan kelas sebagai berikut:

a. Diduga dengan penerapan model pembelajaran SAVI pada mata pelajaran

IPA pokok bahasan memahami perubahan lingkungan fisik dan

pengaruhnya terhadap daratan dapat meningkatkan kinerja guru dan

aktivitas belajar siswa kelas 4 SDN 4 Sobo secara signifikan minimal

dengan kualifikasi B ( Baik) denjgan skor antara 80% NR 90%.

b. Diduga dengan penerapan model pembelajaran SAVI pada mata pelajaran

IPA, dapat meningkatkan hasil belajar IPA pada siswa 4 SDN 4 Sobo

secara signifikan minimal dengan ketuntasan belajar individual dengan

nilai 75 dan mengalami ketuntasan belajar klasikal sebesar 80%.

Guru

menggunakan

metode ceramah

Pembelajaran

Konvensional

Pembelajaran IPA

Siswa kurang

terlibat selama

pembelajaran

Siswa menjadi

bosan mengikuti

pembelajaran

Guru sebagai

fasilitator

Model

pembelajaran

SAVI

Hasil Belajar <

KKM

Siswa terlibat langsung dalam

pembelajaran baik secara

fisik, pikiran maupun perasaan

Pembelajaran

menjadi

menyenangkan

Hasil Belajar >

KKM