ASUHAN KEBIDANAN ikterus

download ASUHAN  KEBIDANAN ikterus

of 28

  • date post

    26-Jun-2015
  • Category

    Documents

  • view

    3.318
  • download

    2

Embed Size (px)

Transcript of ASUHAN KEBIDANAN ikterus

ASUHAN KEBIDANANPADA By. Ny. V USIA 3 HARI DENGAN IKTERUS NEONATORUM DI RUANG BAYI RS MUHAMMADIYAH SURABAYA

Disusun Oleh : Sumliyawati NPM: 03021005

PROGRAM STUDI D IV KEBIDANAN JALUR A SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN INSAN UNGGUL SURABAYA TAHUN AJARAN 2009/2010

LEMBAR PENGESAHAN Telah disetujui dan disahkan laporan yang berjudul Asuhan Kebidanan pada By. Ny. M Usia 3 Hari Dengan Ikterus Neonatorum Fisiologis Di Ruang Bayi Muhammadiyah Surabaya. Periode 01 Januari 2010 sampai dengan 12 Februari 2010.

Surabaya, 11 Februari Mahasiswa STIKES Insan Unggul Surabaya

Sumliyawati Disetujui oleh:

Pembimbing Praktek

Pembimbing Akademik

Suciwati, Amd.Keb

Faridah,

SST,

M.Mkes

Mengetahui :

Ketua Program Studi D IV Kebidanan STIKES Insan Unggul Surabaya

Endang Sri Resmiati, S.H, SST, M.Mkes

KATA PENGANTARSyukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas karuniaNya, sehingga tersusun laporan proses belajar tentang penerapan asuhan kebidanan yang berjudul Asuhan Kebidanan pada By. Ny. M Usia 3 Hari Dengan Ikterus Neonatorum Fisiologis Di Ruang Bayi Muhammadiyah Surabaya , Asuhan kebidanan ini dibuat untuk memenuhi salah satu tuigas di lapangan atau lahan praktek. Penyusunan tugas ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak, untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat :. 1. Ibu Endang Sri Resmiati, S.H, S. ST selaku Plh. Ketua program studi D-IV Kebidanan STIKES Insan Unggul Surabaya. 2. Ibu Faridah, SST, M.Mkes selaku pembimbing akademik STIKES Insan Unggul Surabaya. 3. Suciwati, Amd.Keb selaku pembimbing praktek di RS Muhammadiyah Surabaya. 4. Kedua orang tua yang telah memberikan dukungan materi maupun spiritual. 5. Rekan- rekan mahasisiwa STIKES INSAN UNGGUL yang telah banyak memberikan dukungan, masukan pada penulisan Asuhan Kebidanan ini.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini masih jauh dari kesempurnaan, karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif untuk perbaikan laporan ini dan juga laporan selanjutnya. Penulis berharap semoga laporan ini bermanfaat bagi para pembaca pada umumnya dan bagi penulis pada khususnya.

Surabaya,11 Februari 2010 Penulis

BAB I PENDAHULUAN1.1 Latar Belakang Pada umumnya kehadiran bayi normal cukup dihadiri oleh bidan yang dapat diberi tanggung jawab penuh terhadap keselamatan ibu dan bayi pada persalinan normal. Maka seorang bidan harus mengetahui dengan segera timbulnya perubahan-perubahan pada ibu dan bayi dan bila perlu memberikan pertolongan pertama seperti, memberikan oksigen dan melakukan pernapasan buatan sampai ibu atau bayi tersebut dilihat oleh seorang dokter atau dibawa ke rumah sakit yang mempunyai perlengkapan serta perawatan yang baik, sehingga pengawasan dan pengobatan dapat dilakukan sebaik-baiknya. Penelitian telah menunjukkan bahwa lebih dari 50% kematian bayi terjadi dalam periode neonatal yaitu dalam bulan pertama kehidupan, sebagian besar bayi baru lahir mengalami ikterus neonatorum sampai tingkat yang bisa dilihat mata. Ikterus yang tampak mata memperlihatkan kadar bilirubin paling tidak 5 7 mg/dl. Terdapat banyak sebab fisiologis timbulnya ikterus selama minggu pertama setelah lahir. Tatalaksana ikterus bergantung pada apakah ikterus bersifat fisiologis atau patologis. Bidan harus belajar membedakan dua proses ini dan harus didorong dalam penerapan perawatan bayi yang meningkatkan hilangnya ikterus. Ikterus fisiologi lebih lazim dijumpai pada beberapa keadaan. Bayi-bayi Asia mempunyai insidensikterus yang lebih tinggi. Bayi-bayi yang menyusu badan mempunyai insidens ikterus fisiologis yang lebih tinggi daripada bayi-bayi yang mendapat makanan lewat botol. Seluruh orang tua harus mendapatkan informasi mengenai tingginya frekuensi ikterus pada bayi baru lahir. Mereka dapat dinasehati untuk memberi makan bayi sesering mungkin selama hari-hari pertama kehidupan agar merangsang pengeluaran mekoneum. Mekoneum mempunyai kandungan tinggi bilirubin dan pengeluarannya yang lambat meningkatkan penyerapanulang bilirubin sebagai bagian dari proses pintas enterohepatik.

1.2

Tujuan Penulisan 1.2.1 Tujuan Umum Penulis dapat menerapkan dan mengembangkan pola pikir secara ilmiah dalam memberikan asuhan kebidanan secara nyata serta mendapatkan pengetahuan dalam memecahkan masalah khusunya pada Asuhan Kebidanan Pada By. Ny. V Usia 3 Hari Dengan Ikterus Neonatorum Fisiologis Di BPRSD Dr. Mochamad Swandhie Surabaya. 1.2.2 Tujuan Khusus Tujuan khusus yang akan dicapai adalah mampu melakukan : 1. 2. 3. 4. 5. Pengkajian dan menganalisa data pada bayi Merumuskan diagnosa kebidanan dan menetukan Menyusun rencana kebidanan. Melaksanakan tindakan kebidanan. Evaluasi asuhan kebidanan. dengan ikterus neonatorum. prioritas masalah pada bayi dengan ikterus neonatorum.

1.3

Metode Penulisan Metode penulisan yang digunakan dalam proses penyusunan laporan ini adalah : 1. 2. 3. Metode pendekatan deskriptif yaitu metode yang sifatnya Teknik pengumpulan data dan pengidentifikasian data melalui Sumber data primer dari klien dan data sekunder dari keluarga mengungkapkan peristiwa dan gejala yang terjadi. observasi, wawancara, pemeriksaan fisik, studi dokumen dan studi kepustakaan. dan petugas kesehatan.

1.4 1.4.1

Lokasi Dan Waktu Lokasi Asuhan kebidanan ini disusun saat penulis melaksanakan praktek lapangan di rRuang Bayi BPRSD Dr. Mochamad Swandhie Surabaya..

1.4.2

Waktu Penyusunan asuhan kebidanan ini dilakukan pada saat jam kerja pagi ruang bersalin yaitu pukul 07.00 s/d 14.00 WIB.

1.5

Sistematika Penulisan Sistematika penulisan laporan ini terdiri dari : LEMBAR JUDUL LEMBAR PENGESAHAN KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I Pendahuluan meliputi latar belakang, tujuan penulisan yang terbagi dalam tujuan umum dan tujuan khusus, metode penulisan, lokasi dan waktu, serta sistematika penulisan. BAB II BAB III Landasan teori meliputi konsep dasar teori, dan manajemen asuhan kebidanan. Tinjauan kasus meliputi pengkajian data yang terdiri dari identitas/biodata, data subyektif, data obyektif, dan uji diagnostik. Interpretasi data yang terdiri dari diagnosa, masalah, dan kebutuhan. Identifikasi diagnosa dan masalah potensial, identifikasi kebutuhan akan tindakan segera atau kolaborasi, merencanakan asuhan yang menyeluruh, pelaksanaan, serta evaluasi. BAB IV Penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran. DAFTAR PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI

2.1. Konsep Dasar Teori Ikterus Neonatorum 2.2.1.Definisi Ikterus adalah warna kuning yang sering dijumpai pada bayi baru lahir dalam batas normal pada hari kedua sampai hari ketiga dan menghilang pada hari kesepuluh (Prof. dr. Ida Bagus Gde Manuaba, SpOG, 1998: 325). 2.2.3.Klasifikasi Jenis-jenis ikterus neonatorum: 1. Ikterus fisiologik Terutama dijumpai pada bayi dengan berat badan lahir rendah. Ikterus ini biasanya timbul pada hari kedua lalu menghilang setelah sepuluh hari atau pada akhir minggu kedua. 2. Ikterus patologik Ikterus yang patologik timbul segera dalam 24 jam pertama, dengan bilirubin serum meningkat lebih dari 5 mg% perhari, kadarnya diatas 10 mg% pada bayi matur atau 15 mg% pada bayi premature, dan menetap setelah minggu pertama kelahiran. Selain itu juga ikterus dengan bilirubin langsung diatas 1 mg% setiap waktu. Ikterus seperti ini ada hubungannya dengan penyakit hemolitik, infeksi dan sepsis. Ikterus patologik memerlukan penanganan dan perawatan khusus. 3. Kern ikterus Adalah ikterus berat dengan disertai gumpalan bilirubin pada ganglia basalis. Kernikterus biasanya disertai naiknya kadar bilirubin indirek dalam serum. Pada neonatus cukup bulan kadar bilirubin diatas 20 mg% sering berkembang menjadi kern ikterus, sedangkan pada bayi premature bila melebihi 18 mg%. Hiperbilirubinemia dapat menimbulkan ensefalopati dan ini sangat berbahaya bagi

bayi. Untuk terjadinya kern ikterus tergantung pula pada keadaan umum bayi. Bila bayi menderita hipoksia, asidosis, dan hipoglikemia, kern ikterus dapat timbul walaupun kadar bilirubin di bawah 16 mg%. Pengobatannya adalah dengan transfuse tukar darah. 4. Ikterus hemolitik Hal ini dapat disebabkan oleh inkompatibilitas rhesus, golongan darah ABO, golongan darah lain, kelainan eritrosit congenital, atau defisiensi enzim G-6-PD. 5. Ikterus obstruktif Terjadi karena sumbatan penyaluran empedu baik dalam hati maupun diluar hati. Akibatnya kadar bilirubin direk dan indirek meningkat. Bila kadar bilirubin direk diatas 1 mg% kita harus curiga akan adanya obstruksi penyaluran empedu. Penanganannya adalah dengan tindakan operatif, bila keadaan bayi mengizinkan. 2.2.4.Patogenesis Ikterus disebabkan hemolisis darah janin dan selanjutnya diganti menjadi darah dewasa. Pada janin menjelang persalinan terdapat kombinasi antara darah janin dan darah dewasa yang mampu menarik O2 dari udara dan mengeluarkan CO2 melalui paru-paru. Penghancuran darah janin inilah yang menyebabkan terjadi ikterus yang sifatnya fisiologis. Sebagai gambaran dapat dikemukakan bahwa kadar billirubin indirek bayi cukup bulan sekitar 15 mg%. Diatas angka tersebut dianggap hiperbilirubinemia, yang dapat menimbulkan kern ikterus. Kern ikterus adalah tertimbunnya bilirubin dalam jaringan otak sehingga dapat mengganggu fungsi otak dan menimbulkan gejala klinis sesuai tempat timbunan itu. Gambaran kliniknya sebagai berikut: Mata berputar Tertidur-kesadaran turun Sukar mengisap Tonus otot meninggi Leher kaku

Akhirnya kaku seluruhnya Pada kehidupan lebih lanjut ada kemungkinan terjadi spasme otot dan Kejang-kejang Tuli Kemunduran mental.

kekakuan otot seluruhnya

2.2.5.Penanganan Ikterus Neonatorum Biarkan bayi sering menyusu. Ini mungkin membantu mengeluarkan cairan kimia kuning dari tubuh bayi. Minta pertolongan dokter segera jika bayi tampak mengantuk atau tidak menyusu dengan baik atau jika bayi terasa dingin ketika d