Tuli Konduktif e.c Serumen.docx

6
Nama: Dimas Muhammad Akbar NIM: 2008.031.0003 REFLEKSI KASUS ILMU KESEHATAN TELINGA, HIDUNG, TENGGOROKAN TULI KONDUKTIF AKIBAT SERUMEN I. Rangkuman Kasus Ny. S, perempuan, 49 tahun, pekerjaan ibu rumah tangga, pendidikan SMA, sudah menikah, datang ke poli THT dengan keluhan penurunan pendengaran pada telinga kanan. Telinga kanan dirasa tersumbat, sedangkan telinga kiri dirasa tidak mengalami penurunan pendengaran. Keluhan dirasakan sejak sekitar satu minggu SMRS. OS merasa saat mandi keramas seperti kemasukan air, kemudian OS merasa budek. OS lalu membersihkan telinganya dengan cotton bud namun dirasa kurang bersih dan keluhan pendengaran masih tetap dirasakan. OS belum pernah mengalami sakit serupa sebelumnya. Riwayat trauma, telinga tertampar, dan pemakaian obat ototoksik sebelumnya disangkal. Telinga berdenging, rasa pusing berputar, rasa nyeri di dalam telinga, dan keluar cairan tidak dirasakan. Riwayat gondok, influenza berat, dan sering batuk-pilek disangkal. Penyakit jantung, alergi, asma, hipertensi, dan diabetes mellitus disangkal. Riwayat sakit serupa pada anggota keluarga disangkal. Penyakit jantung, alergi, asma, hipertensi, dan diabetes mellitus pada anggota keluarga disangkal. Riwayat sosial: kebiasaan merokok dan minum alkohol disangkal. OS memiliki kebiasaan mengorek-ngorek telinga dengan cotton bud saat telinga dirasa gatal. Pemeriksaan fisik didapatkan KU baik, sadar penuh. Vital Sign TD: 110/80, T: 36,7⁰C, N: 84x/m reguler, RR: 20x/m. Status generalis: dbn. Status lokalis: telinga kanan dan kiri aurikula, preaurikula, retroaurikula dbn. Pemeriksaan otoskopi pada telinga kanan ditemukan serumen di kanalis, membrana timpani tidak intak, perforasi (-), refleks cahaya (-), sulit dinilai, sedangkan pada telinga kiri tidak didapatkan kelainan. Hidung mukosa, septum, konka 1

description

TUli konduktif

Transcript of Tuli Konduktif e.c Serumen.docx

Page 1: Tuli Konduktif e.c Serumen.docx

Nama: Dimas Muhammad Akbar

NIM: 2008.031.0003

REFLEKSI KASUS ILMU KESEHATAN TELINGA, HIDUNG, TENGGOROKAN

TULI KONDUKTIF AKIBAT SERUMEN

I. Rangkuman Kasus

Ny. S, perempuan, 49 tahun, pekerjaan ibu rumah tangga, pendidikan SMA, sudah menikah, datang ke poli THT dengan keluhan penurunan pendengaran pada telinga kanan. Telinga kanan dirasa tersumbat, sedangkan telinga kiri dirasa tidak mengalami penurunan pendengaran. Keluhan dirasakan sejak sekitar satu minggu SMRS. OS merasa saat mandi keramas seperti kemasukan air, kemudian OS merasa budek. OS lalu membersihkan telinganya dengan cotton bud namun dirasa kurang bersih dan keluhan pendengaran masih tetap dirasakan. OS belum pernah mengalami sakit serupa sebelumnya. Riwayat trauma, telinga tertampar, dan pemakaian obat ototoksik sebelumnya disangkal. Telinga berdenging, rasa pusing berputar, rasa nyeri di dalam telinga, dan keluar cairan tidak dirasakan. Riwayat gondok, influenza berat, dan sering batuk-pilek disangkal.

Penyakit jantung, alergi, asma, hipertensi, dan diabetes mellitus disangkal. Riwayat sakit serupa pada anggota keluarga disangkal. Penyakit jantung, alergi, asma, hipertensi, dan diabetes mellitus pada anggota keluarga disangkal. Riwayat sosial: kebiasaan merokok dan minum alkohol disangkal. OS memiliki kebiasaan mengorek-ngorek telinga dengan cotton bud saat telinga dirasa gatal.

Pemeriksaan fisik didapatkan KU baik, sadar penuh. Vital Sign TD: 110/80, T: 36,7⁰C, N: 84x/m reguler, RR: 20x/m. Status generalis: dbn. Status lokalis: telinga kanan dan kiri aurikula, preaurikula, retroaurikula dbn. Pemeriksaan otoskopi pada telinga kanan ditemukan serumen di kanalis, membrana timpani tidak intak, perforasi (-), refleks cahaya (-), sulit dinilai, sedangkan pada telinga kiri tidak didapatkan kelainan. Hidung mukosa, septum, konka media dan inferior, meatus medius dan inferior dbn. Tenggorokan mukosa bukal, gusi, palatum, mukosa faring, tonsil dbn.

Tes garpu tala Rinne, Weber, Schwabach tidak dilakukan sebelum dan sesudah tindakan. Pasien didiagnosis tuli konduktif karena serumen, lalu dilakukan evakuasi serumen.

II. Perasaan Terhadap Pengalaman

Pada kasus ini OS mengeluh pendengaran pada telinga kanan menurun. Lalu diperiksa dan diperoleh penyebab keluhan adalah serumen yang menumpuk di kanalis sehingga dilakukan evakuasi serumen. Namun, pada kasus ini tidak dilakukan pemeriksaan pendengaran dengan garpu tala baik sebelum dan sesudah evakuasi. Saya menjadi penasaran apa jenis penurunan fungsi pendengaran pada kasus ini dan kenapa tidak dilakukan pemeriksaan untuk menilai fungsi pendengaran pada pasien.

1

Page 2: Tuli Konduktif e.c Serumen.docx

III. Evaluasi

Bagaimanakah bisa serumen dapat menyebabkan tuli konduktif? Dan apa indikasi dilakukan pemeriksaan kualitatif garpu tala pada kasus penurunan pendengaran?

IV. Analisis

Proses pendengaran diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh daun telinga dalam bentuk gelombang yang dialirkan melalui udara atau tulang ke koklea. Getaran tersebut menggetarkan membran timpani diteruskan ke telinga tengah melalui rangkaian tulang pendengaran yang akan mengamplifikasi getaran melalui daya ungkit tulang pendengaran dan perkalian perbandingan luas membrane timpani dan tingkap lonjong (fenestra ovalis/vestibuli). Energi getar yang telah diamplifikasi ini akan diteruskan ke stapes yang menggerakkan tingkap lonjong sehingga perilimfa pada skala vestibuli bergerak. Getaran diteruskan melalui membrane Reissner/vestibularis yang mendorong endolimfa sehingga akan menimbulkan gerak relatif antara membran basilaris dan membran tektoria. Proses ini merupakan rangsang mekanik yang menyebabkan terjadinya defleksi stereosilia sel-sel rambut sehingga kanal ion terbuka dan terjadi penglepasan ion bermuatan listrik dari badan sel. Keadaan ini menimbulkan proses depolarisasi sel rambut sehingga melepaskan neurotransmiter ke dalam sinapsis yang akan menimbulkan potensial aksi pada saraf auditorius lalu dilanjutkan ke nukleus auditorius sampai korteks pendengaran (area 39-40) di lobus temporalis.

Tuli dibagi atas tuli konduktif, tuli sensorineural (sensory neural deafness) serta tuli campur (mixed deafness). Pada tuli konduktif terdapat gangguan hantaran suara disebabkan oleh kelainan atau penyakit di telinga luar atau telinga tengah. Pada tuli sensorineural (perseptif) kelainan terdapat pada koklea (telinga dalam), nervus VIII atau di pusat pendengaran, dan dibagi atas tuli koklea dan tuli retrokoklea, sedangkan tuli campur disebabkan oleh kombinasi tuli konduksi dan tuli sensorineural. Tuli campur dapat merupakan satu penyakit misalnya radang telinga tengah dengan komplikasi ke telinga dalam atau merupakan dua penyakit yang berlainan misalnya tumor nervus VIII/vestibulocochlearis (tuli saraf) dengan radang telinga tengah (tuli konduktif).

Keluhan dirasakan setelah mandi keramas seperti kemasukan air, kemudian pasien merasa budek. Hal ini bisa disebabkan oleh adanya gumpalan serumen pada liang telinga. Gumpalan serumen yang menumpuk di liang telinga akan menimbulkan gangguan pendengaran berupa tuli konduktif. Terutama bila telinga masuk air sewaktu mandi atau berenang, serumen mengembang sehingga menimbulkan rasa tertekan dan gangguan pendengaran semakin dirasakan sangat mengganggu. Pasien lalu membersihkan telinganya dengan cotton bud dan dirasa kurang bersih. Keluhan pendengaran masih tetap dirasakan. Hal ini adalah karena cotton bud justru dapat mendorong serumen lebih ke dalam sehingga dapat menutup membrana timpani, sehingga keluhan penurunan pendengaran tetap atau bahkan mungkin semakin memberat.

Riwayat trauma, telinga tertampar dan pemakaian obat ototoksik perlu ditanyakan. Riwayat trauma bisa menyebabkan terjepitnya saraf pendengaran. Antara inkus dan maleus berjalan cabang n. fasialis yang disebut korda timpani. Bila terdapat radang di telinga tengah atau trauma, korda timpani bisa terjepit sehingga timbul gangguan pengecap. Di dalam telinga dalam terdapat alat keseimbangan dan alat pendengaran. Pemakaian obat-obatan ototoksik dapat merusak stria vaskularis, sehingga saraf

2

Page 3: Tuli Konduktif e.c Serumen.docx

pendengaran rusak dan terjadi tuli sensorineural. Setelah pemakaian obat ototoksik seperti streptomisinn dapat terjadi gejala gangguan pendengaran berupa tuli sensorineural dan gangguan keseimbangan. Pada pemeriksaan otoskopi pada telinga kanan ditemukan serumen di kanalis, membrana timpani sulit dinilai. Serumen dapat keluar sendiri dari liang telinga akibat migrasi epitel kulit yang bergerak dari arah membran timpani menuju ke luar serta dibantu oleh gerakan rahang sewaktu mengunyah.

Walaupun tidak mempunyai efek anti bakteri ataupun anti jamur, serumen mempunyai efek proteksi. Serumen mengikat kotoran, menyebarkan aroma yang tidak disenangi serangga sehingga serangga enggan masuk ke liang telinga. Serumen harus dibedakan dengan penglepasan kulit yang biasanya terdapat pada orang tua maupun dengan kolesteatosis atau keratosis obturans. Membran timpani harus dicek setelah serumen dibersihkan. Hal ini untuk membedakan apakah tuli disebabkan oleh serumen saja atau ada otitis media yang ditandai dengan adanya kelainan pada membran timpani, misalnya membran timpani tampak hiperemis, edem, bulging atau adanya perforasi membran timpani yang menyebabkan gangguan di telinga tengah. Pada otitis media akut stadium oklusi, terdapat gambaran retraksi membran timpani akibat terjadinya tekanan negatif di dalam telinga tengah akibat absorpsi udara. Kadang membran timpani tampak normal atau keruh pucat. Sumbatan di tuba eustachius menyebabkan gangguan telinga tengah dan akan terdapat tuli konduktif.

Untuk memeriksa pendengaran diperlukan pemeriksaan hantaran melalui udara dan melalui tulang dengan memakai garpu tala atau audiometer nada murni. Kelainan hantaran melalui udara menyebabkan tuli konduktif, berarti ada kelainan di telinga luar atau telinga tengah, seperti atresia liang telinga, eksostosis liang telinga, serumen, sumbatan tuba eustachius serta radang telinga tengah. Kelainan di telinga dalam menyebabkan tuli sensorineural koklea atau retrokoklea.

Secara fisiologik telinga dapat mendengar nada antara 20 sampai 18.000 Hz. Untuk pendengaran sehari-hari yang paling efektif antara 500-2000 Hz. Oleh karena itu untuk memeriksa pendengaran dipakai garpu tala 512, 1024 dan 2048 Hz. Penggunaan ketiga garpu tala ini penting untuk pemeriksaan secara kualitatif. Bila salah satu frekuensi ini tergangggu penderita akan sadar adanya gangguan pendengaran. Bila tidak mungkin menggunakan ketiga garpu tala itu maka diambil 512 Hz karena penggunaan garpu tala ini tidak terlalu dipengaruhi suara bising di sekitarnya. Pemeriksaan pendengaran dilakukan secara kualitatif dengan mempergunakan garpu tala dan kuantitatif dengan mempergunakan audiometer.

Terdapat berbagai macam tes penala seperti tes Rinne, tes Weber, tes Schwabach, tes Bing dan tes Stenger. Tes Rinne ialah tes untuk membandingkan hantaran melalui udara dan hantaran melalui tulang pada telinga yang diperiksa. Tes Weber adalah tes pendengaran untuk membandingkan hantaran tulang telinga kiri dengan telinga kanan. Tes Schwabach adalah tes pendengaran untuk membandingkan hantaran tulang orang yang diperiksa dengan pemeriksa yang pendengarannya normal.

Cara pemeriksaan tes Rinne adalah dengan menggetarkan penala, tangkainya diletakkan di prosesus mastoid, setelah tidak terdengar penala dipegang di depan telinga kira-kira 2,5 cm. bila masih terdengar disebut Rinne positif (+), sedangkan bila tidak terdengar disebut Rinne negatif (-). Tes Weber dilakukan dengan meletakkan tangkai penala yang telah digetarkan pada garis tengah kepala (di vertex, dahi, pangkal hidung, di tengah-tengah gigi seri atau di dagu). Apabila bunyi penala terdengar lebih keras pada salah satu telinga disebut Weber lateralisasi ke arah telinga tersebut. Bila tidak dapat dibedakan ke arah telinga mana bunyi terdengar lebih keras disebut Weber tidak ada lateralisasi. Tes

3

Page 4: Tuli Konduktif e.c Serumen.docx

Schwabach dilakukan dengan menggetarkan penala, kemudian tangkai penala diletakkan pada prosesus mastoideus telinga pasien sampai tidak terdengar bunyi. Kemudian tangkai penala segera dipindahkan pada prosesus mastoideus telinga pemeriksa yang pendengarannya normal. Bila pemeriksa masih dapat mendengar disebut Schwabach memendek, bila pemeriksa tidak dapat mendengar, pemeriksaan dilakukan dengan cara sebaliknya yaitu penala diletakkan pada prosesus mastoideus pemeriksa lebih dulu. Bila pasien masih dapat mendengar bunyi disebut Schwabach memanjang dan bila pasien dan pemeriksa kira-kira sama-sama mendengarnya disebut dengan Schwabach sama dengan pemeriksa.

Bila tes rinne (+), weber (-), schwabach sama dengan pemeriksa, maka pendengaran normal. Bila tes rinne (-), weber lateralisasi ke telinga yang sakit, schwabach memanjang, maka diagnosis tuli konduktif. Bila tes rinne (+), weber lateralisasi ke telinga yang sehat, schwabach memendek, maka diagnosis tuli sensorineural.

Pada kasus ini, setelah dilakukan evakuasi serumen, pasien mengaku telinga kanan terasa plong, dan pendengaran membaik sehingga dapat disimpulkan pasien didiagnosis tuli konduktif karena bila penyebab tuli konduktif dapat disingkirkan, fungsi pendengaran akan membaik. Namun, sebaiknya dilakukan pemeriksaan kualitatif garpu tala untuk lebih meyakinkan. Serumen dapat dibersihkan sesuai dengan konsistensinya. Serumen yang lembek dibersihkan dengan kapas yang dililitkan pada pelilit kapas. Serumen yang keras dikeluarkan dengan pengait atau kuret. Apabila dengan cara ini serumen tidak dapat dikeluarkan maka serumen harus dilunakkan lebih dahulu dengan tetes karbogliserin 10% selama 3 hari. Serumen yang sudah terlalu jauh terdorong ke dalam liang telinga sehingga dikhawatirkan menimbulkan trauma pada membran timpani sewaktu mengeluarkannya dikeluarkan dengan mengalirkan (irigasi) air hangat yang suhunya sesuai dengan suhu tubuh. Sebelum melakukan irigasi telinga harus dipastikan tidak ada perforasi pada membrane timpani.

V. Kesimpulan

Kelainan hantaran melalui udara menyebabkan tuli konduktif, berarti ada kelainan di telinga luar atau telinga tengah, seperti atresia liang telinga, eksostosis liang telinga, serumen, sumbatan tuba eustachius serta radang telinga tengah. Gumpalan serumen yang menumpuk di liang telinga akan menimbulkan gangguan pendengaran berupa tuli konduktif, sehingga perlu dilakukan evakuasi agar fungsi pendengaran membaik. Tes garpu tala sebaiknya dilakukan untuk mengecek fungsi pendengaran pasien dan mengevaluasi terapi yang diberikan.

VI. Daftar Pustaka Hawke, M. et al. 2006. Diagnostic Handbook of Otorhinolaringology. Soepardi, Efiaty Arsyad, et al. 2007. Buku Ajar Ilmu Kesehatan: Telinga, Hidung, Tenggorok,

Kepala dan Leher. 6th ed. Jakarta: FKUI Bailey, B., Johnson, B., Otorhinolaryngology-Head and Neck Surgery

4