tugas 2 aplikom

of 14/14
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Mulanya orang berfikir bahwa lautan luas yang tidak memiliki ujung ini adalah tempat pembuangan sampah dan sisa-sisa industri yang tidak akan memiliki efek samping. Bahan pencemar diminimalisir agar efek pencemaran berkurang kelautan. Namun seiring dengan pertumbuhan manusia yang semakin naik setiap tahunnya, dampak pencemaran terhadap laut akan semakin tinggi. Polusi laut ialah masuknya partikel kimia, sisa-sisa industri, bahan/organisme bersifat invasif yang akan membahayakan laut. Sebagian besar polusi-polusi laut berasal dari kegiatan manusia didaratan dan juga kegiatan manusia di laut. Hanya sebagian kecil yang ditimbulkan oleh alam. Misalnya sisa pembakaran yang dihasilkan oleh kapal dibuang langsung ke laut tanpa ada pengelolaan ulang dan juga sisa-sisa eksploitasi lautan seperti minyak,dll yang mengalami kebocoran yang dapat mengotori lautan. Bahan pencemar lainnya ialah plastik, setelah perang dunia ke II hampir 80% adalah sampah plastik yang telah terakumulasi dilaut dan mencemari ekosistem dilaut. Limbah kimia yang bersifat beracun (toxic) juga menyebabkan kerusakan ekosistem laut dan juga mengganggu kehidupan laut(polusi). 1.2 Rumusan Masalah Rumusan masalah berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan ialah: a. Apakah polusi laut? b. Apa saja sumber polusi laut? c. Dampak dari polusi laut? d. Bagaimana pencegahan polusi laut? [Type text] Page 1
  • date post

    16-Apr-2017
  • Category

    Education

  • view

    180
  • download

    2

Embed Size (px)

Transcript of tugas 2 aplikom

BAB IPENDAHULUAN1.1 Latar BelakangMulanya orang berfikir bahwa lautan luas yang tidak memiliki ujung ini adalah tempat pembuangan sampah dan sisa-sisa industri yang tidak akan memiliki efek samping. Bahan pencemar diminimalisir agar efek pencemaran berkurang kelautan. Namun seiring dengan pertumbuhan manusia yang semakin naik setiap tahunnya, dampak pencemaran terhadap laut akan semakin tinggi.Polusi laut ialah masuknya partikel kimia, sisa-sisa industri, bahan/organisme bersifat invasif yang akan membahayakan laut. Sebagian besar polusi-polusi laut berasal dari kegiatan manusia didaratan dan juga kegiatan manusia di laut. Hanya sebagian kecil yang ditimbulkan oleh alam. Misalnya sisa pembakaran yang dihasilkan oleh kapal dibuang langsung ke laut tanpa ada pengelolaan ulang dan juga sisa-sisa eksploitasi lautan seperti minyak,dll yang mengalami kebocoran yang dapat mengotori lautan.Bahan pencemar lainnya ialah plastik, setelah perang dunia ke II hampir 80% adalah sampah plastik yang telah terakumulasi dilaut dan mencemari ekosistem dilaut. Limbah kimia yang bersifat beracun (toxic) juga menyebabkan kerusakan ekosistem laut dan juga mengganggu kehidupan laut(polusi).

1.2 Rumusan Masalah Rumusan masalah berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan ialah:a. Apakah polusi laut?b. Apa saja sumber polusi laut?c. Dampak dari polusi laut?d. Bagaimana pencegahan polusi laut?

1.3 TujuanTujuan dari penulisan paper mengenai Polusi Laut ialah untuk mengetahui apa itu polusi laut, penyebabnya dan dampaknya. Juga untuk memberi informasi polusi laut yang sudah terjadi saat ini dan cara menanggulanginya

PEMBAHASAN2.1 Pengertian Polusi LautPolusi laut ialah perubahan secara langsung/tidak langsung kepada sifat fisik, kimia ataupun biologi laut kita dari bagian alam sekeliling kita dan menimbulkan bahaya kepada kesehatan, keberlangsungan kehidupan laut dan organisme-organisme yang hidup didalamnya. Sumber-sumber polusi laut bisa berupa Minyak (hasil eksploitasi bumi di laut),logam berat (hasil sisa-sisa industri), sampah, pestisida, dan eurtofikasi yang akan dibahas satu per satu.2.2 Penyebab Polusi LautPenyebab polusi laut memiliki banyak faktor, faktor-faktor tersebut akan dibahas satu per satu.

2.2.1 Polusi laut MinyakPolusi laut berupa minyak berasal dari eksploitasi sumber daya alam yang ada di lautan. Biasanya, setiap pengeboran minyak yang dilakukan dilaut selalu ada unsur human error yaitu kendornya ring pengaman untuk pengeboran sehingga dampak yang ditimbulkan ialah bocornya minyak bumi tersebut dan mencemari wilayah perairan sekitarnya. Dari beberapa zat pencemar yang didentifikasi dan diklasifikasikan sebagai zat pencemar, minyak bumi merupakan zat pencemar yang paling dominan dalam pencemaran laut. Bertambah besarnya ukuran kapal, bobot, kecepatan dan jumlah yang beroperasi di lautan, ditambah lagi dengan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi minyak lepas pantai, tidak saja meningkatkan jumlah dan sumber pencemaran lingkungan laut, tetapi juga mengancam kelestarian lingkungan laut. Selama ini tumpahan minyak di laut terus menerus meningkat dalam jumlah dan frekuensinya, sehingga mengakibatkan kerusakan terhadap sejumlah besar wilayah pesisir dan laut. Gambar kiri : Meledaknya Rig Pengeboran di Mexico karena ada unsur human error Gambar kanan: Bocornya minyak bumi yang sedang dieksploitasi menyebabkan polusi lautBeberapa kejadian yang telah menimbulkan tumpahan minyak di laut dan memerlukan biaya pembersihan yang cukup besar antara lain adalah kecelakaan kapal Torrey Canyon di sekitar English Channel, ledakan sumur minyak di Santa Barbara, California (AS), tenggelamnya kapal Metula di Selat Magellan, tumpahan minyak di Teluk Chesapeake, Virginia (AS), tumpahan minyak yang berasal dari Argo Merchant, di sekitar Nantucket, Massachusetts (AS), tenggelamnya kapal Amoco Cadiz di sekitar pantai Brittany, Perancis, peristiwa Exxon Valdez di Alaska (AS). Tumpahan minyak yang berasal dari kapal juga banyak terjadi di perairan Selat Malaka dan Selat Singapura. Sebagian besar tumpahan minyak ini berasal dari tanker. Akibat dari tumpahan minyak ini akan sangat cepat dirasakan oleh masyarakat sekitar pantai dan sangat signifikan merusak makhluk hidup yang ada di laut (Sudrajad, 2006). Hidrokarbon minyak bumi adalah pencemar utama di lautan.

2.2.2 Polusi laut SampahPolusi laut berupa sampah merupakan polusi yang hamper 80% terjadi didunia, dikarenakan kurang sadarnya manusia untuk langsung membuang sampah kelaut dan tidak mengelola sampah dengan cara 3R (Recycle,Reuse,Reduce) dampak yang ditimbulkan ialah penumpukan sampah dilaut secara akumulasi dan membunuh/menghancurkan ekosistem sekitar tempat polusi laut sampah. Sampah yang mengandung kotoran minyak juga dibuang kelaut melalui sistem daerah aliran sungai (DAS). Sampah-sampah ini kemungkinan mengandung logam berat dengan konsentrasi yang tinggi. Tetapi umumnya mereka kaya akan bahan-bahan organik, sehingga akan memperkaya kandungan at-zat makanan pada suatu daerah yang tercemar yang membuat kondisi lingkungan menjadi lebih baik bagi pertumbuhan mikroorganisme. Aktifitas pernafasan dari organisme ini membuat makin menipisnya kandungan oksigen khususnya pada daerah estuarin. Hal tersebut akan berpengaruh besar pada kehidupan tumbuh-tumbuhan dan hewan yang hidup di daerah tersebut. Pada keadaan yang paling ekstrim, jumlah spesies yang ada didaerah itu akan berkurang secara drastis dan dapat mengakibatkan bagian dasar dari estuarin kehabisan oksigen. Sehingga mikrofauna yang dapat hidup disitu hanya dari golongan cacing saja. Jenis-jenis sampah kebanyakan termasuk golongan yang mudah hancur dengan cepat, sehingga pencemaran yang disebabkannya tidak merupakan suatu masalah besar diperairan terbuka.

Gambar kiri : Polusi laut sampah yang terjadi di teluk Palu, Sulawesi TengahGambar kanan: Saking banyaknya polusi laut yang terjadi sehingga pemangsa ikan lautpun mengira sampah itu makanan

Berikut ialah daftar-daftar sampah yang biasa dibuang langsung ke laut: Kertas, lama penguraian 6 bulan Kulit buah, lama penguraian 6 bulan Kardus/karton, lama penguraian 5 bulan Filter rokok, lama penguraian 10-12 tahun Kantong plastik, lama penguraian 10-12 tahun Benda-benda kulit, lama penguraian 25-40 tahun Kain nilon, lama penguraian 30-40 tahun Jaring ikan, lama penguraian 30-40 tahun Alumunium, lama penguraian 80-100 tahun Baterai bekas, lama penguraian 100 tahun Plastik, lama penguraian 50-80 tahun Botol kaca, lama penguraian 1.000.000 tahun Botol plastik, tidak bisa terurai

2.2.3 Polusi laut PestisidaSelanjutnya bila alam suatu ekosistem laut dimasukkan suatu zat pencemar, maka zat pencemar itu akan mengalami akumulasi yaitu proses fisika, proses kimia dan biologis. Akumulasi melalui proses biologis ini yang disebut bioakumulasi. Pada proses bioakumulasi zat pencemar tesebut dalam ekosistem laut akan mengalami pemekatan karena adanya proses biologis dan selanjutnya akan diserap oleh ikan, plankton nabati, rumput laut dan tumbuhan lainnya yang pada akhirnya akan menjadi makanan ikan dan mamalia. Selain itu pemekatan juga disebabkan oleh proses fisis dan kimiawi yang pada akhirnya terjadi pengendapan didasar laut. Kerusakan yang disebabkan oleh pestisida adalah bersifat akumulatif. Mereka sengaja ditebarkan ke dalam suatu lingkungan dengan tujuan untuk mengontrol hama tanaman atau organism-organisme lain yang tidak diinginkan.

Gambar atas: Penyemprotan pestisida oleh manusia Idealnya pestisida ini harus mempunyai spesifikasi yang tinggi yaitu dapat membunuh organism-organisme yang tidak dikehendaki tanpa merusak hewan lainnya, tetapi pada kenyataannya pestisida bisa membunuh biota air yang ada di laut. Beberapa pestisida yang dipakai kebanyakan berasal dari suatu grup bahan kimia yang disebut Organochloride. DDT termasuk dalam grup ini. Pestisida jenis ini termasuk golongan yang mempunyai ikatan molekul yang sangat kuat dimana molekul-molekul ini kemungkinan dapat bertahan di alam sampai beberapa tahun sejak mereka mulai dipergunakan. Hal itu sangat berbahaya karena dengan digunakannya golongan ini secara terus menerus akan membuat mereka menumpuk di lingkungan dan akhirnya mencapai suatu tingkatan yang tidak dapat ditolerir lagi dan berbahaya bagi organism yang hidup didaerah tersebut. Hewan biasanya menyimpan organochloride di dalam tubuh mereka. Beberapa organisme air termasuk ikan dan udang ternyata menumpuk bahan kimia didalam jaringan tubuhnya. Ketika pestisida masuk ke dalam ekosistem laut, mereka segera diserap ke dalam jaring makanan di laut. Dalam jarring makanan, pestisida ini dapat menyebabkan mutasi, serta penyakit, yang dapat berbahaya bagi hewan laut , seluruh penyusun rantai makanan termasuk manusia.2.2.4 Polusi laut Logam beratDefinisi dari logam berat sendiri ialah logam yang memiliki berat 5 gram untuk setiap m3 nya sementara logam ringan ialah logam yang memiliki berat kurang dari 5 gram untuk setiap m3 nya. Logam berat ini sangat berdampak buruk kepada perairan dan menjadi polusi laut yang berbahaya karena logam berat ini dimakan oleh makhluk hidup laut lalu dia diam didalamnya. Setelah itu hewan laut itu dikonsumsi oleh manusia. maka zat logam berat ini masuk kedalam tubuh manusia. maka dari itu keong yang bersumber dari Jakarta Utara (muara angke dan sekitarnya) sudah tidak layak makan lagi dikarenakan tingginya logam berat yang ada di perairan sungai di Jakarta.

Gambar kiri : Logam berat yang langsung dibuang di sungaiGambar kanan: polusi laut dipinggiran kotaLogam berat memiliki densitas yang lebih dari 5 gram/cm3 dan logam berat bersifat tahan urai. Sifat tahan urai inilah yang menyebabkan logam berat semakin terakumulasi didalam perairan. Logam berat yang berada di dalam air dapat masuk ke dalam tubuh manusia, baik secara langsung maupun tidak. Berikut logam berat yang biasa mencemari lautan:a. Air Raksa atau mercury(Hg) adalah salah satu logam berat dalam bentuk cair. Terjadinya pencemaran mercury di perairan laut lebih banyak disebabkan oleh faktor manusia dibanding faktor alam. Meskipun pencemaran mercury dapat terjadi secara alami tetapi kadarnya sangat kecil. Pencemaran mercury secara besar-besaran disebabkan karena limbah yang dibuang oleh manusia. manusia telah menggunakan mercury oksida(HgO) dan mercury sulfide (HgS) sebagai zat pewarna dan bahan kosmetik sejak jaman dhaulu. Mercury telah digunakan secara meluas dalam produk elektronik, industry pembuatan cat, pembuatan gigi palsu, peleburan emas, sebagai katalisator, dll. Penggunaan mercury sebagai elektroda dalam pembuatan soda api dalam industry makanan seperti minyak goring, produk susu, kertas tima, pembungkus makanan juga kadang mencemari makanan tersebut.b. Kadmium (cd) menjadi popular sebagai logam berat yang berbahayasetelah timbulnypencemaran sungai diwilayah Kumamoto Jepang yang menyebabkan keracunan pada manusia. pencemaran kadmium pada air minum Jepang menyebabkan penyakit itai-itai. Gejalanya ditandai dengan ketidak-nirmalan tulang dalam beberapa organ tubuh menjadi mati. Keracunan kronis disebabkan oleh Cd adalah kerusakan system fisiologis tubuh seperti pernapasan, sirkulasi darah, penciuman, serta merusak kelenjar reproduksi ginjal,jantung, dan kerapuhan tulang. Cadmium telah digunakan secara meluas ada berbagai industry antara lain pelapisan logam, peleburan logam, pewarnaan, baterai, minyak pelumas, bahan bakar. Bahan bakar dan minyak pelumas mengandung Cd sampai 0,5ppm, batubara mengandung Cd sampai 2ppm, pupuk superpospat juga mengandung Cd bahkan ada yang sampai 170ppm. Limbah cair dari industry dan pembuangan minyak pelumas bekas yg mengandung Cd masuk ke dalam perairan laut serta sisa-sisa pembakaran bahan bakar yang terlepas ke atmosfir dan selanjutnya jatuh masuk ke laut. Konsentrasi Cd pada air laut yang tidak tercemar adalah kurang dari 1mg/l atau kurang dari 1mg/kg sedimen di laut. Konsentrasi Cd maksimum dalam air minum yang diperbolehkan oleh Depkes RI dan WHO adalah 0.01mg/l. sementara batas maksimum konsentrasi atau kandungan Cd pada daging makanan laut yang layak bagi kesehatan yang direkomendasikan FAO dan WHO adalah lebih kecil dari 0,95mg/kg. sebaliknya dirjen pengawasan obat dan makanan merekomendasikan tidak lebih dari 2,0 mg/kg.c. Timbal (Pb) juga salah satu logam berat yang mempunyai daya toksitas yang tinggi terhadap manusia karena dapat merusak perkembangan otak pada anak-anak, menyebabkan penyumbatan sel-sel darah merah, anemia dan mempengaruhi anggota tubuh lainnya. Pb dapat diakumulasi langsung dari air dan dari sedimen oleh organisme laut.

2.2.5 Polusi laut EurtrofikasiEurotifikasi adalah proses pengayaan nutrient dan bahan organik dalam jasad air. Ini merupakan masalah yang dihadapi diseluruh dunia yang terjadi di ekosistem air tawar maupun air laut. Mengapa eutrofikasi menjadi polusi laut? Padahal eutrofikasi merupakan pengayaan nutrisi untuk tumbuhan. Memang eutrofikasi merupakan proses pengayaan nutrient namun secara berlebihan jadi seluruh tumbuhan terakselerasi pertumbuhannya. Karena pertumbuhan tumbuhan terakselerasi, mereka menumpuk dipinggiran pantai atau sungai dan mengendap membuat semakin sempitnya pergerakan makhluk hidup dan penyempitan sungai. Dampaknya ialah sulitnya makhluk hidup laut untuk hidup dan membuat debit disungai menjadi lebih besar dikarenakan sungai yang menyempit Gambar kanan: dampak Eutrofikasi dipesisirGambar kanan: Dampak dari penyempitan bibir sungaiEfek lebih lanjut termasuk penurunan kadar oksigen, penurunan kualitas air, serta tentunya mengganggu kestabilan populasi organisme lain. Muara merupakan wilayah yang paling rentan mengalami eutrofikasi karena nutrisi yang diturunkan dari tanah akan terkonsentrasi. Nutrisi ini kemudian dibawa oleh air hujan masuk ke lingkungan laut, dan cendrung menumpuk di muara. The World Resources Institute telah mengidentifikasi 375 hipoksia (kekurangan oksigen) wilayah pesisir di seluruh dunia, laporan ini menyebutkan kejadian ini terkonsentrasi di wilayah pesisir di Eropa Barat, Timur, dan pantai selatan Amerika Serikat, dan Asia Timur, terutama di Jepang. Salah satu contohnya adalah meningkatnya alga merah (red tide) secara signifikan yang membunuh ikan dan mamalia laut serta menyebabkan masalah pernapasan pada manusia dan beberapa hewan domestic. Umumnya terjadi adalah meningkatnya alga merah (red tide) secara signifikan yang membunuh ikan dan mamalia laut serta menyebabkan masalah pernapasan pada manusia dan beberapa hewan domestik. Umumnya terjadi saat organisme mendekati ke arah pantai.

2.3 Dampak Polusi Laut2.3.1 Dampak Polusi Laut yang disebabkan Tumpahan MinyakMinyak yang mengapung berbahaya bagi kehidupan burung laut yang suka berenang diatas permukaan air. Tubuh burung akan tertutup minyak. Untuk membersihkannya, mereka menjilatinya. Akibatnya mereka banyak minum minyak dan menyebabkan keracunan. Selain itu, minyak yang mengapung membutuhkan dana yang sangat tinggi untuk mengangkatnya dari permukaan air laut dan juga mencemari perairan sekitar tempat minyak itu mengapung.2.3.2 Dampak Polusi Laut yang disebabkan SampahBanyak hewan yg hidup pada atau di laut mengonsumsi plastic karena tak jarang plastic yang terdapat dilaut akan tampak seperti makanan bagi hewan laut. Plastic tidak dapat dicerna dan akan terus berada pada organ pencernaan hewan ini, sehingga menyumbat saluran pencernaan dan menyebabkan kematian melalui kelaparan atau infeksi. Selain berpengaruh terhadap kesehatan biota laut, adanya sampah dilaut juga berpengaruh terhadap kesehatan manusia, penyakit yg sering sederhana ialah seperti gatal-gatal kulit dan diare2.3.3 Dampak Polusi Laut yang disebabkan PestisidaPenumpukan pestisida dalam jaringan tubuh, bersifat racun dan dapat mempengaruhi system syaraf pusat. Bahan aktifnya selain bisa membunuh organism perairan, juga dapat merubah tingkah laku makhluk hidup dan menghambat perkembangan telur moluska dan juga ikan. Daya racun berkisar dari rendah dan tinggi. Moluska cenderung lebih toleran terhadap racun pestisida dibandingkan dengan Crustacea dan ikan bertulang sejati, dll.2.3.4 Dampak Polusi Laut yang disebabkan Logam BeratWHO (World Health Organization) dan FAO (Food Agriculture Organization) merekomendasikan untuk tidak mengonsumsi seafood yang tercemar logam berat. Logam berat telah lama dikenal sebagai suatu elemen yang mempunyai daya racun yang sangat potensil dan memiliki kemampuan terakumulasi dalam organ tubuh manusia. Logam berat yang menyebabkan kematian didalam tubuh manusia adalah: Ba(Barium), Cd(Cadmium), Cr(Kromium), Pb(Timbal), Hg(Raksa), Ag(Perak).2.3.5 Dampak Polusi Laut yang disebabkan EutrofikasiEutrofikasi adalah perairan menjadi terlalu subur sehingga terjadi leakan jumlah alga dan fitoplankton yang saling berebut mendapat cahaya untuk fotosintesis. Karena terlalu banyak maka alaga dan fitoplankton dibagian bawah akan mengalami kematian massal. Serta terjadi kompetisi dalam mengonsumsi O2 karena terlalu banyak organisme pada tempat tersebut. Sisa respirasi menghasilkan banyak CO2 kondisi perairan menjadi anoxic dan menyebabkan kematian massal pada hewan-hewan diperairan tersebut

BAB IIIPENUTUP

3.1 Kesimpulan Polusi laut ialah masuknya partikel kimia, limbah industri, sisa-sisa rumah tangga atau penyebaran organisme invasive ke dalam laut yang berpotensi memberi efek berbahaya Faktor-faktor penyebab Polusi Laut ialah1. Polusi laut yang disebabkan oleh minyak berupa tumpahan minyak yang dilakukan oleh kapal-kapal industry, pengeboran minyak yang memiliki unsur human error,dll.2. Polusi laut yang disebabkan oleh sampah berupa sisa-sisa industry dan rumah tangga yang sebagian besar sulit untuk didaur ulang (memerlukan waktu lama untuk terurai) 3. Polusi laut yang disebabkan oleh pestisida berupa zat-zat berbahaya yang memiliki dampak merusak ekosistem bawah laut dan juga memiliki sifat toxic untuk makhluk hidup laut maupun manusia4. Polusi laut yang disebabkan oleh logam berat berupa zat-zat berbahaya yang bisa masuk kedalam tubuh makhluk hidup maupun manusia secara langsung maupun tidak langsung. Dampak yang terjadi ialah racun tersebut masuk ketubuh manusia dan bila dibiarkan akan menjadi penyakit yang serius5. Polusi laut yang disebabkan oleh Eutrofikasi berupa banyaknya nutrisi diperairan sehingga terjadi akselerasi pertumbuhan algae/tumbuhan. Karena banyaknya tumbuhan sehingga terjadi kompetensi O2, namun algae/tumbuhan yang berada dibawah permukaan tidak mendapat O2 maupun sinar matahari yang cukup sehingga terjadi kematian massal yang berdampak pendangkalan perairan. Dampak yang terjadi dari penyebab diatas sangat besar, seperti degradasi kehidupan laut dll. Pencegahan polusi laut timbul dari diri sendiri untuk menjaga dan melestarikan lingkungan dan perairan laut

3.2 Saran Dari pembahasan pada BAB II dapat kita ketahui bahwa polusi laut sangat merugikan kita semua dan berdampak sangat besar bagi perairan laut. Maka dari itu kita harus selalu peduli dengan lingkungan sekitar, dan juga menjaga kebersihan laut dan tetap menjaganya secara berkesinambungan

DAFTAR PUSTAKA

Nugroho, Andhika (2003). Buku Ajar Pencemaran Lingkungan. Yogyakarta: UGM Press 2003Sudini, Putu (2012). Pengelolaan Pencemaran Laut di Indonesia. Bali: Titah Surga

[Type text]Page 7