THL Ade Surya Wibowo Fikosianin 12.70.0011 B UNIKA SOEGITJAPRANATA

download THL Ade Surya Wibowo Fikosianin 12.70.0011 B UNIKA SOEGITJAPRANATA

of 20

  • date post

    19-Jul-2016
  • Category

    Documents

  • view

    27
  • download

    9

Embed Size (px)

description

PRAKTIKUM THL

Transcript of THL Ade Surya Wibowo Fikosianin 12.70.0011 B UNIKA SOEGITJAPRANATA

1. HASIL PENGAMATAN

Hasil pengamatan fikosianin dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Hasil Pengamatan FikosianinKelBerat biomassa kering (g)Jumlah aquades yang ditambah (ml)Total filtrat yang diperoleh (ml)OD 615OD 652KF (mg/ml)Yield (mg/g)Warna

SebelumSesudah

B18100500.07200.02580.0110.069++

B28100500.07260.02560.0110.069+++

B38100500.07260.02550.0110.069++++

B48100500.07260.02550.0110.069++++

B58100500.07260.02550.0110.069+++

B68100500.07260.02530.0110.069++

Keterangan :KF = Konsentrasi fikosianinOD 615 = Nilai absorbansi dengan panjang gelombang 615 nm OD 652= Nilai absorbansi dengan panjang gelombang 652 nmWarna:+ : Biru muda++ : Biru tua+++ : Biru sangat tua

Pada tabel 1, dapat diketahui bahwa berat biomassa Spirulina yang digunakan untuk pembuatan fikosianin adalah 8 gram, dimana jumlah akuades yang ditambahkan dalam proses pembuatan fikosianin tersebut adalah 100 ml dengan total filtrat yang diperoleh sebesar 50 ml. Berdasarkan percobaan ini, nilai absorbansi dari fikosianin diukur dengan menggunakan panjang gelombang sebesar 615 nm dan 652 nm. Nilai absorbansi sama pada panjang gelombang 615 nm adalah pada kelompok B2 sampai B6, yaitu 0,0726. Sedangkan nilai absorbansi terendah pada panjang gelombang 615 nm dihasilkan oleh kelompok B1, yaitu 0,0720. Di sisi lain, nilai absorbansi dengan panjang gelombang 652 nm mengalami penurunan dibandingkan dengan nilai absorbansi dengan panjang gelombang 615 nm. Pada panjang gelombang 652 nm, dihasilkan nilai absorbansi terbesar oleh kelompok B1, yaitu 0,0258, sedangkan nilai absorbansi terendah dihasilkan oleh kelompok B6, yaitu 0,0253. Konsentrasi fikosianin yang dihasilkan adalah 0,011 mg/ml untuk semua kelompok, dan yield yang dihasilkan adalah sebesar 0,069 mg/g. Secara keseluruhan, warna fikosianin yang dihasilkan sesudah dikeringkan adalah berwarna biru muda.

19

2. 16

3. PEMBAHASAN

Mikroalga laut merupakan salah satu biota laut yang memiliki potensi menghasilkan berbagai senyawa aktif untuk bidang pangan. Senyawa-senyawa tersebut misalnya pigmen, asam lemak, klorofil, dan faktor pertumbuhan, serta klrorofil lain. Potensi tersebut bermafaat untuk berbagai aspek seperti pangan, biodisel, farmasi, kosmetik, kemasan, dan lain-lain. Hal tersebut diungkapkan oleh Sutomo (2005). Metting dan Pyne (1986) mengungkapkan bahwa mikroalga merupakan produsen alami dari ekosistem perairan yang dapat menghasilkan energi. Selain itu, mikroalga juga dapat menghasilkan metabolit yang sangat bermanfaat, sehingga keberadaannya sebagai organisme hidup yang berukuran mikroskopis sudah mulai banyak dikaji. Pemanfaatan mikroalga pada saat ini sudah cukup berkembang, selain sebagai pakan alami dan makanan sehat, mikroalga juga memiliki potensi yang dapat menghasilkan komponen bioaktif untuk bahan farmasi, kedokteran, industri pangan dan sebagainya.

Spirulina merupakan mikroalga yang dapat menghasilkan pigmen fikosianin berwarna biru yang dapat larut dalam pelarut polar seperti air. Pigmen fikosianin berpotensi digunakan sebagai pewarna alami dan telah lama dilakukan. Menurut Richmond (1988), jumlah pigmen fikosianin dalam alga hijau biru dapat mencapai lebih dari 20% berat kering alga. Pengembangan produk berbahan dasar pigmen fikobiliprotein ini banyak diaplikasikan pada permen karet, ice sherberts, popsicles, permen, minuman ringan, dairy product, dan wasabi. Fikosianin termasuk kelompok pigmen yang terikat pada protein (biliprotein). Selain berpotensi sebagai bahan pewarna alami, fikosianin juga dapat berperan sebagai anti radang. Fikosianin memiliki sifat seperti pigmen pada umumnya, yaitu dapat mengalami kerusakan pada suhu tinggi. Larutan fikosianin dapat mengalami pemudaran warna hingga 30% setelah penyimpanan selama 5 hari dan menjadi bening setelah 15 hari pada suhu 350C sehingga perlu adanya suatu perlakuan khusus agar pigmen fikosianin dapat disimpan dalam waktu lama. Sebagai golongan biliprotein, fikosianin mampu menghambat pembentukan koloni kanker. Hal tersebut diungkapkan oleh Carra & heocha (1976).

Menurut Colla (2005), spirulina platensis juga dapat dijadikan sebagai sumber makanan karena memiliki nilai gizi dan dapat juga berfungsi sebagai obat. Spirulina platensis merupakan salah satu jenis cyanobacterium yang biasanya membentuk populasi besar dalam air yang kaya akan karbonat dan pH basa hingga 11. Spirulina juga merupakan sumber dari protein sel tunggal (SPC). Spirulina bernilai gizi tinggi karena mengandung komponen nutrisi penting seperti provitamin, mineral, protein dan lemak tidak jenuh, serta asam amino esensial seperti asam gamma-linolenat. Spirulina juga mengandung senyawa antioksidan fenolat. Hal tersebut sesuai dengan teori dari Hanaa et al (2004). Kondisi pertumbuhan spirulina banyak diteliti untuk mengoptimalkan produksi dan nutrisi yang diinginkan seperti asam gamma-linolenat dan fikosianin. Menurut jurnal U.K Chauhan 2010, yang berjudul Effect of different conditions on the production of chlorophyll by Spirulina platensis mengatakan bahwa spirulina platensis memiliki nilai gizi yang tinggi karena mengandung protein, vitamin, asam amino essensial, dan asam lemak. Jenis mikroalga ini sebagai sumber alternative protein untuk keperluan makanan. Dan dapat diketahui dari hasil penelitian bahwa suhu yang sangat optimal bagi spirulina platentis ini menghasilkan klorofil adalah pada suhu 28oC. Hal ini juga didukung oleh Luciani M.C. et al 2007, dengan jurnalnya yang berjudul Production of biomass and nutraceutical compounds by Spirulina platensis under diVerent temperature and nitrogen regimes mengatakan bahwa suhu sangat berpengaruh penting pada produksi biomassa, protein lipid dan fenolat untuk spirulina platentis. Yang mana hasil penelitian menunjukan pada suhu 35oC memiliki efek negative pada produksi bimassa nya namun memberikan efek positif terhadap produksi protein, fenolat. Spirulina jenis lain menurut jurnal Jai P.P. 2010, yang berjudul Optimization of Biomass Production of Spirulina maxima mengatakan bahawa spirulina jenis lain adalah spirulina maxima yang memiliki gizi yang tak kalah dengan spirulina platentis yaitu bahwa ia memiliki nilai gizi yang tinggi karena isinya dari berbagai nutrisi penting, seperti provitamin, mineral, protein dan lemak tak jenuh ganda asam seperti asam gamma-linolenat 3.

Berdasarkan teori dari Richmond (1988), spirulina merupakan organisme yang termasuk kelompok alga hijau biru dan bentuknya berupa multiseluler. Spirulina memiliki tubuh berupa filament berwarna hijau-biru yang berbentuk silinder dan tidak bercabang. Ukuran spirulina 100 kali lebih besar dibandingkan dengan sel darah manusia. Spirulina tumbuh di perairan danau yang bersifat alkali dan suhu hangat atau kolam dangkal di wilayah tropis. Hal tersebut sesuai dengan yang diungkapkan oleh Tietze (2004). Menurut Richmond (1988), spirulina kaya akan protein, hingga 50-70% dari berat keringnya. Spirulina mempunyai membran sel yang tipis dan lembut sehingga mudah dicerna serta tidak membutuhkan proses pengolahan khusus. Spirulina secara alami memiliki kolesterol, kalori, lemak, dan sodium yang rendah. Spirulina mengandung sembilan vitamin penting dan empat belas mineral yang terikat dengan asam amino. Hal tersebut memudahkan dan mempercepat proses asimilasi dengan tubuh. Spirulina juga mengandung 4-7% lipid atau lemak dan sebagian besar dalam bentuk asam lemak esensial. Setiap 10 gram Spirulina mengandung 225 mg asam lemak esensial dalam bentuk linoleat dan gamma linolenic acid (GLA). Hal tersebut sesuai dengan teori dari Henrikson (2009).

TBT merupakan salah satu senyawa organotin yang digunakan sebagai active biocide dan stabilizer plastik. Senyawa ini termasuk senyawa kimia berbahaya yang terkandung di dalam air di daerah pantai dan muara dalam jumlah besar. Senyawa ini sering dijumpai dalam keadaan terakumulasi pada biota aquatik, termasuk phytoplankton (mikroalga) yang merupakan produsen utama dan berperan sebagai pendaur ulang nutrien dalam ekosistem laut. Hal ini sangat berbahaya karena dapat menimbulkan biomagnifikasi pada ekosistem laut. Mikroalga sangat sensitif terhadap senyawa kimia beracun, walaupun dalam dosis rendah. Beberapa contoh mikroalga tersebut antara lain adalah Tetraselmis tetrathele, Nannochloropsis oculata, dan Dunaliella sp., dimana ketiganya ditekankan pada kandungan klorofil a dan b-nya. Pada penelitian yang dilakukan, dijelaskan bahwa kandungan klorofil a dan b pada Tetraselmis tetrathele lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol sampel yang dilakukan. Sedangkan pada Nannochloropsis oculata dan Dunaliella sp., kandungan klorofil a dan b lebih tinggi pada konsentrasi TBT yang paling rendah. Semakin tinggi konsentrasi TBT, maka kandungan klorofilnya semakin rendah. Nannochloropsis oculata memiliki sensitivitas paling tinggi terhadap TBT. Hal tersebut sesuai dengan teori dari Rumampuk et al (2004).

Romay et al (1998) mengatakan bahwa struktur fikosianin mengandung rantai tetraphyrroles terbuka yang memiliki kemampuan untuk menangkap radikal oksigen. Fikosianin merupakan salah satu dari tiga pigmen (klorofil dan karotenoid) yang mampu menangkap radiasi sinar matahari paling efisien. Fikosianin merupakan kompleks pigmen-protein yang saling berhubungan dan terlibat dalam pemanenan cahaya dan energi transduksi.

Warna merupakan salah satu indikator mutu yang sangat penting pada produk pangan. Hal ini dikarenakan warna akan mempengaruhi penampilan dari produk pangan tersebut dimana penampilan dari produk merupakan salah satu faktor yang digunakan oleh konsumen untuk menentukan pembelian sebuah produk pangan disamping faktor-faktor penting lainnya seperti rasa, kesegaran, nilai gizi, kebersihan dan harga produk tersebut. Oleh karena itu, untuk mendapatkan produk dengan penampilan yang menarik, industri pangan biasanya menggunakan zat pewarna baik alami maupun sintetis