Tentir Spine Injury

download Tentir Spine Injury

of 13

  • date post

    05-Feb-2016
  • Category

    Documents

  • view

    21
  • download

    1

Embed Size (px)

description

Rangkuman singkat kuliah pengantar cedera tulang belakang

Transcript of Tentir Spine Injury

Tentir Spine InjuryI.EPIDEMIOLOGI-Prevalensi dari insidensi cedera ini tidak ada jumlah yang pasti,tetapi berdasarkan data di RS Fatmawati,terdapat setidaknya 1 pasien yang mengalami cedera pada tulang belakang dari 100 orang pasien.- Sedangkan di Amerika terdapat setidaknya 700.000 korban/tahun yang mengalami cedera tulang belakang.lebih dari 80 % terjadi pada laki-laki,biasanya akibat jatuh dari motor,jatuh dari ketinggian.II.PATOFISIOLOGI DARI CEDERA TULANG BELAKANGAdanya cedera fisik pada tulang belakang dapat menyebabkan putusnya ligamen,fraktur pada vertebra,atau dislokasi pada vertebrae.cedera pada tulang belakang dibagi menjadi 2 yaitu cedera stabil dan tidak stabilCedera stabil jika bagian yang terkena tekanan hanya bagian medulla spinalis anterior, komponen vertebral tidak bergeser dengan pergerakan normal, ligamen posterior tidak rusak sehingga medulla spinalis tidak terganggu,ex: (fraktur kompresi dan burst fraktur). Cedera tidak stabilcedera dapat bergeser dengan gerakan normal karena ligamen posteriornya rusak atau robek,sehingga ada gangguan pada jaringan saraf.Notes : Fraktur pada spinal disebut tidak stabil jika kehilangan integritas dari ligamen posterior dan menimbulkan deficit neurologisII. FRAKTUR SPESIFIK PADA SPINEA.Fraktur kompresi -adanya kompresi pada bagian depan corpus vertebralis yang tertekan dan membentuk patahan irisan. -merupakan fraktur tersering yang mempengaruhi kolumna vertebra. -Fraktur ini dapat disebabkan oleh kecelakaan jatuh dari ketinggian dengan posisi terduduk ataupun mendapat pukulan di kepala-Fraktur pada kompresi dikatakan tidak stabil bila membentuk kifosis >30%,dan mengenai beberapa tingkat dari vertebrae

B.Fraktur remuk (Burst fractures) -Fraktur yang terjadi ketika ada penekanan corpus vertebralis secara langsung melalui gaya axial yang menyebabkan tulang menjadi hancur. -Fragmen tulang berpotensi masuk ke kanalis spinais.

C.Fraktur dislokasi-terjadi ketika ada segmen vertebra berpindah dari tempatnya karena kompresi, rotasi atau tekanan.- kolumna mengalami kerusakan sehingga sangat tidak stabil,- Terapi tergantung apakah ada atau tidaknya korda atau akar syaraf yang rusak.- cedera cenderung tidak stabil

D.Cedera Fleksi-Distraksi

III.MEKANISME CEDERA1. Hiperekstensi (kombinasi distraksi dan ekstensi)-sering pada leher, pukulan pada muka atau dahi akan memaksa kepala ke belakang sehingga kepala membentur bagian atas punggung. -Ligamen anterior dan diskus dapat rusak atau arkus saraf mungkin mengalami fraktur.- cedera ini stabil karena tidak merusak ligamen posterior 2. Fleksi-Trauma ini terjadi akibat fleksi dan disertai kompresi pada vertebra. -Vertebra akan mengalami tekanan dan remuk yang dapat merusak ligamen posterior. 3. Pergeseran aksial (kompresi)-Gaya vertikal yang mengenai segmen lurus pada vertebra akan menimbulkan kompresi secara aksial.-biasanya akan merusak ligamen posterior

4. Ekstensi Sprain ( Kesleo) Cervical (Whiplash injury)- Biasanya cedera ini terjadi setelah tertabrak dari belakang; sehingga menyebabkan tulang belakang menjadi hiperekstensi.

IV.DIAGNOSISA.Riwayat : Dilakukan untuk menentukan mekanisme cedera,dan gejala-gejala yang terkait dengan cedera.B. Pemeriksaana.Penilaian kondisi umum-Pemeriksaan ini bertujuan untuk menilai ABC Pasien,.pada pasien dengan cedera vertebra dapat ditemukan 3 tipe shock.shock hipovolemik,shock neurogenik(disebabkan kehilangan refleks saraf simpatis,sehingga adanya gangguan kontrol pada pembuluh darah),dan shock spinalNotes : Pada pasien dengan cedera diatas clavicule harus diperiksa tulang spine-nya.b.Pemeriksaan Neurologis Pemeriksaan Neurologis ini mencakup 3 hal -Pemeriksaan sensibilitas pemeriksaan ini dilakukan dengan menentukan dermatom pada tubuh.

-Penilaian fungsi saraf lumbar dan Sakral

-Penilaian Refleks

Notes :Bulbou Cavernous Reflex Dilakukan dengan cara menjepit otot bulbocavernosus pada penis,jika sistem saraf normal,anus akan berkontraksi,tetapi jika tidak ada respon maka harus dicurigai kerusakan saraf yang irreversible.

-Klasifikasi Cedera NeurologisFrankel score Skala klinis yang digunakan untuk menentukan derajatan keparahan gangguan neurologi ,terdapat 5 kategori A. jika sensorik dan motoriknya tidak berfungsi, B jika hanya sensori saja yang berfungsi, C jika sensorinya ada sebagian dan motoriknya ada sebagian, d jika motorik baik dan E sensorik dan motorik baik.

Tabel 3: ASIA impairment scale5Grade Description

ALengkap: tidak ada sensorik maupun motorik dibawah level defisit neurologi

BTidak lengkap : sensorik baik namun motorik nya menurun di bawah level defisit neurology

CTidak lengkap : sensorik baik dan fungsi motorik dibawah defisit neurology memiliki kekuatan otot dibawah 3

DTidak lengkap : sensorik baik namun kekuatan otot motoriknya lebih dari 3 atau sama dengan 3

EFungsi sensorik dan motorik normal

c.Pemeriksaan Penunjang1. Roentgenography: pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat tulang vertebra, untuk melihat adanya fraktur ataupun pergeeseran pada vertebra. 2. Computerized Tomography : pemeriksaan vertebra dilakukan dengan melihat irisan-irisan yang dihasilkan CT scan 3. Magnetic Resonance Imaging: pemeriksaan ini menggunakan gelombang frekuensi radio untuk memberikan informasi detail mengenai jaringan lunak di aerah vertebra. MRIsering digunakan untuk mengetahui kerusakan jaringan lunak pada ligament dan discus intervertebralis dan menilai cedera pada medulla spinalis.

V.CEDERA PADA SARAF

Gambar diatas menerangkan daerah spesifik dari -Lesi Korda LengkapMengakibatkan Kehilangan fungsi sensorik,paralisis motorik dan paralisis viseral dibawah lesi dari korda lengkap-Lesi Korda Tidak LengkapMasih terdapat sensasi di bagian distal lesi, uji menusukkan peniti di daerah perianal menunjukkan lesi tak lengkap,adanya gangguan yang terjadi pada lesi ini dapat ditentukan melalui lokasi dari lesi spesifik tidak lengkap

Berikutini contoh lokasi spesifik dari lesi tidak lengkap:Anterior cord Lesi yang mengakibatkan hilangnya fungsi motorik dan sensitivitas terhadap nyeri, temperature, namun fungsi propioseptif masih normal

Dorsal cord (posterior cord) Lesi terjadi pada bagian sensori terutama mempengaruhi propioseptif

Brown-Sequard Propioseptif ipsilateral normal, motorik hilang dan kehilangan sensitivitas nyeri dan temperatur pada sisi kontralateral

Central cord Khusus pada regio sentral, lesi ini mengakibatkan kelemahan pada anggota gerak atas dibanding anggota gerak bawah,tetapi tidak menimbulkan gangguan sensasi pada tubuh.

Cauda equina Cedera pada daerah lumbosacral dengan kanalis neuralis yang mengakibatkan arefleksia vesika urinaria, pencernaan dan anggota gerak bawahTERAPI 1. Braces & Orthotics ada tiga hal yang dilakukan yakni, mempertahankan kesegarisan vertebra (aligment), 2 imobilisasi vertebra dalam masa penyembuhan, 3 mengatsi rasa nyeri yang dirasakan dengan membatasi pergerakan. 2. Pemasanagan alat dan prosoes penyatuan (fusion). Teknik ini adalah teknik pembedahan yang dipakai untuk fraktur tidak stabil. Fusion adalah proses penggabungan dua vertebra dengan adanya bone graft dibantu dengan alat-alat seperti plat, rods, hooks dan pedicle screws. 3. Vertebroplasty & Kyphoplasty, prinsipnya teknik ini digunakan pada fraktur kompresi yag disebabkan osteoporosis dan tumor vertebra. erkompresi sebelum celah tersebut diisi dengan bone cement .

Tentir Skoliosis idiopatikI.DEFINISI Deformitas pada tulang spinal yang memiliki karakteristik berupa tulang spina yang Dimana terlihat tulang belakang bengkok ke sisi kiri atau kanan (kurvatura lateral) lebih dari 10o , hingga kini penyebabnya belum diketahui.

II.EPIDEMIOLOGI Skoliosis dengan kurva > 100 terjadi pada 0,5-3 % dari seluruh populasi remaja dan bayi Rasio kejadian pada kurva yang sedikit pada laki-laki sama dengan perempuan,pada skoliosis berat rasio kejadian pada wanita meningkat sekita 8x lipat dari

III.ETIOLOGI- Penyebabnya hingga kini belum diketahui -Faktor-faktor yang mungkin mempengaruhiFaktor genetik,serat kolagen,growth hormon,faktor biomekanik

IV.DIAGNOSISA. Anamnesis-menentukan riwayat penyakit pasien -Perlu ditanyakan adanya riwayat skoliosis dalam keluarga penderita.-menanyakan mengenai pertumbuhan pasien- Keluhan nyeri biasanya jarang ditemukan- Penderita dengan skoliosis akan lebih cepat lelah/pegal bila terlalu lama duduk atau berdiriB. Pemeriksaan fisika.(forward bending test/Adam's Test.) -Pasien(khususnya anak-anak) disuruh berdiri dan membungkuk,kemudian kita mengamati pasien dari belakang-biasanya kurva pada skoliosis lebih mudah teramati pada posisi membungkuk-pada anak-anak dalam posisi tersebut,dapat terlihat peninggian scapula dan deformitas lain pada punggung.

b.Pemeriksaan pada posisi tegak- Asimetri bahu- Pada penderita yang belum kompensasi akan terlihat bahu pada sisi cembung akan lebih tinggi. Terlihat Penonjolan scapula. Pembengkokan tulang belakang terlihat jelas dengan memberi tanda pada masing masing processus spinalis. Jarak antara badan dan lengan tak sama. Kedua tungkai dinilai apakah sama panjang Garis pinggang atau tinggi pinggul tak sama

c.Inclinometer (Scoliometer). Diambil saat pasien membungkuk kedepan, Scoliometer diletakkan pada punggung dan diukur derajat ketinggian apeks.

C. Pemeriksaan Penunjang

a.RadiologiPemeriksaan Foto polos roentgen pada tulang vertebrae meliputi :-Foto AP dalam posisi berdiri(erect) Foto ini bertujuan dalam menentukan derajat pembelokan(rotasi) skoliosis- Foto AP telungkup(supine)- Foto Force Bending L dan R Foto ini bertujuan untuk menentukan derajat pemebelokan skoliosis dalam posisi bungkuk-Foto Pelvik AP- Foto Lateral bending

b.MRIBertujuan untuk menilai adanya cedera pada jaringan saraf

D. Klasifikasi Sko