Spektrum Autisme Seminar

download Spektrum Autisme Seminar

of 25

  • date post

    27-Sep-2015
  • Category

    Documents

  • view

    26
  • download

    0

Embed Size (px)

description

Psikiatri

Transcript of Spektrum Autisme Seminar

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Anak merupakan individu yang sedang bertumbuh (menjadi lebih besar) dan berkembang (berubah ciri-cirinya), baik dalam bidang somatis, maupun dalam bidang psikologis. Anak bukan miniatur orang dewasa karena memang proses yang terjadi berlainan. Dengan demikian, maka tidak boleh dilupakan bahwa gangguan jiwa pada anak timbul sewaktu kepribadiannya sedang berkembang serta bahwa gangguan jiwa itu mungkin merupakan refleksi penyimpangan dalam perkembangan itu dan bukan merupakan suatu keadaan yang statis atau permanen. Oleh karena itu diperlukan adanya subspesialisasi psikiatri anak. Pada psikiatri anak sendiri, terdapat bermacam-macam gangguan yang terjadi pada anak. Gangguan yang paling sering dijumpai pada psikiatri anak adalah gangguan perkembangan pervasif dan gangguan hiperkinetik.

Gangguan yang paling sering dijumpai dan mudah dikenali oleh masyarakat awam salah satunya adalah autisme, salah satu dari gangguan perkembangan pervasif. Autisme adalah gangguan perkembangan neurobiologis yang kompleks, dapat berlangsung lama (sampai dewasa) bila tidak dilakukan upaya penyembuhan, dan mempengaruhi cara anak berinteraksi dengan lingkungan dan orang lain. DiAmerika Serikat, kelainan autisme empat kali lebih sering ditemukan pada anak lelaki dibandingkan anak perempuan dan lebih sering banyak diderita anak-anak keturunanEropaAmerikadibandingkan yang lainnya (Kogan et al, 2009). Di Indonesia, pada tahun2013diperkirakan terdapat lebih dari 112.000 anak yang menderita autisme dalam usia 5-19 tahun. Sedangkan prevalensi penyandang autisme di seluruh dunia menurut dataUNESCOpada tahun2011adalah 6 di antara 1000 orang mengidap autisme (Republika Online, 2013). Di Inggris, The National Autistic Society memperkirakan prevalensi orang dengan gangguan spektrum autisme adalah 11 dari 1000 orang (1,1% dari populasi). Untuk ukuran rata-rata dari 2000 orang, setiap dokter umum akan dikelilingi sekitar 22 orang dengan spektrum autisme yang terdapat pada daftar pasien mereka (The National Autistic Society, 2014).Makalah ini secara khusus membahas tentang spektrum autisme. Gangguan spektrum autisme adalah suatu istilah yang sering digunakan mengacu pada kelompok gangguan yang termasuk di dalam gangguan perkembangan pervasif pada International Classification of Diseases. Spektrum autisme menggambarkan suatu variasi tingkatan kondisi yang diklasifikasikan sebagai gangguan perkembangan neurobiologis pada revisi ke lima Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders 5th edition (DSM-5) yang dikeluarkan oleh American Psychiatric Association. DSM-5 dan dipublikasikan tahun 2013, mendefinisikan kembali spektrum autisme yang meliputi diagnosis sebelumnya (DSM-IV-TR) yaitu diagnosis autisme, gangguan Asperger, gangguan perkembangan pervasif tak khas (pervasive developmental disorder not otherwise specified/PDD-NOS), gangguan disintegrasi masa kanak dan sindrom Rett. Karakteristik gangguan ini adalah gangguan pada kemampuan interaksi sosial, gangguan pada kemampuan komunikasi dan berbahasa, perilaku yang tak lazim dan terbatasnya minat/aktivitas disertai gangguan integrasi sensorik.Kata spektrum menggambarkan berbagai kesulitan orang dengan autisme yang mungkin mengalami dan sejauh mana kondisi yang akan terpengaruh. Beberapa orang mungkin bisa hidup relatif normal, sedangkan yang lain mungkin memiliki ketidakmampuan belajar yang menyertainya dan membutuhkan dukungan dari yang orang yang ahli secara berkesinambungan.Menurut SKDI tahun 2012, tingkat kemampuan untuk gangguan perkembangan pervasif adalah 2, yang artinya lulusan dokter mampu membuat diagnosis klinik terhadap penyakit tersebut dan menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan pasien selanjutnya, lulusan dokter juga mampu menindaklanjuti sesudah kemball dari rujukan. Oleh karena itu, penting bagi kita sebagai dokter umum nantinya untuk mengetahui gangguan perkembangan pervasif, khususnya pada makalah ini mengenai gangguan spektrum autisme, yang termasuk gangguan yang terbanyak dijumpai pada kasus psikiatri anak dan anak-anak merupakan generasi masa depan suatu bangsa.

1.2 RUMUSAN MASALAHBagaimana penjelasan tentang gangguan spektrum autisme?1.3 TUJUAN

Untuk mengetahui penjelasan tentang gangguan spektrum autisme1.4 MANFAATMeningkatkan pengetahuan serta keterampilan dokter muda dalam menegakkan diagnosis dan penatalaksanaan pada kasus psikiatri anak, khususnya gangguan spektrum autisme.BAB IITINJAUAN PUSTAKA DAN PEMBAHASAN

2.1 DEFINISI GANGGUAN SPEKTRUM AUTISMEGangguan spektrum autisme adalah suatu istilah yang sering digunakan mengacu pada kelompok gangguan yang termasuk di dalam gangguan perkembangan pervasif pada International Classification of Diseases. Spektrum autisme menggambarkan suatu variasi tingkatan kondisi yang diklasifikasikan sebagai gangguan perkembangan neurobiologis pada revisi ke lima Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders 5th edition (DSM-5) yang dikeluarkan oleh American Psychiatric Association dan dipublikasikan tahun 2013. Diagnosis baru meliputi gangguan autistik, gangguan Asperger, gangguan disintegrasi masa kanak, PDD-NOS dan sindrom Rett pada diagnosis sebelumnya. Daripada mengategorikan diagnosis ini, DSM-5 menerapkan suatu pendekatan dimensional untuk mendiagnosis gangguan yang termasuk di bawah payung spektrum autisme. Diperkirakan bahwa individu dengan gangguan spektrum autisme, terbaik direpresentasikan sebagai kategori diagnostik tunggal karena mereka menunjukkan gejala yang mirip dan lebih baik dibedakan oleh penentu klinis (misalnya tingkat keparahan) dan fitur terkait (misalnya kelainan genetik yang diketahui, epilepsi dan disabilitas intelektual). Perubahan tambahan pada DSM meliputi penyatuan gangguan kemampuan dalam interaksi sosial dan komunikasi ke dalam satu domain. Dengan demikian, individu dengan diagnosis gangguan spektrum autisme akan dijelaskan dari segi gejala keparahan gangguan komunikasi sosial, keparahan perilaku atau minat yang terbatas dan fitur terkait. Pembatasan usia onset juga telah dilonggarkan dari usia 3 tahun menjadi periode perkembangan awal, dengan catatan bahwa gejala dapat bermanifestasi kemudian ketika permintaan melebihi kemampuan.Autisme membentuk inti dari gangguan spektrum autisme. Sindrom Asperger paling dekat gejalanya dengan autisme, tetapi orang dengan sindrom Asperger tidak mengalami keterlambatan dalm kemampuan berbahasa. PDD-NOS didiagnosis jika tidak memenuhi kriteria lengkap untuk gangguan yang spesifik tetapi memiliki tiga gejala utama. Beberapa sumber juga memasukkan sindrom Rett dan gangguan disintegrasi masa kanak yang menunjukkan beberapa gejala autisme tetapi mungkin memiliki penyebab yang tidak terkait, sumber lain membedakan sindrom Rett dan gangguan disintegrasi masa kanak dari gangguan spektrum autisme, tetapi mengelompokkan semua kondisi yang telah disebutkan sebelumnya ke dalam gangguan perkembangan pervasif.2.2 GANGGUAN AUTISTIK (AUTISME)DefinisiGangguan autis merupakan gangguan perkembangan, merupakan bagian dari sindroma neurodevelopmental, yang ditandai dengan adanya gangguan dalam berkomunikasi sosial, serta adanya suatu kebiasaan yang terbatas dan berulang-ulang. Pada gangguan autis, terdapat tiga gejala utama yaitu gangguan pada komunikasi sosial, serta adanya suatu kebiasaan yang terbatas dan berulang-ulang, dan perkembangan dan penggunaan bahasa yang menyimpang dari bahasa pada umumnya. Epidemiologi

a. Prevalensi

Menurut penelitian, diagnosis autism disorder mengalami peningkatan sebanyak hampir 1% di USA selama dua dekade terakhir. Berdasarkan kriteria DSM IV, terdapat 8 kasus autisme dari 10.000 anak (0.08 persen). Onset dari spektrum autisme biasanya muncul pada awal periode perkembangan, namun ada beberapa kasus baru dapat ditemukan pada usia anak yang lebih tua. Karena adanya keterlambatan antara onset dan diagnosis inilah yang menyebabkan prevalensi autisme pada anak usia dini lebih meningkat.

b. Distribusi seksAutism spectrum disorder ditemukan pada anak laki-laki empat kali ebih banyak daripada anak perempuan. Dalam beberapa penelitian, anak perempuan yang mengalami autisme mengalami ketidakmampuan dalam hal intelektual dibandingkan pada anak laki-laki. Hal ini mungkin disebabkan karena kurangnya identifikasi, rujukan serta diagnosis.Etiologi

a. Faktor genetik

Menurut beberapa penelitian, genetik memiliki kontribusi yang cukup berarti dalam gangguan autis. Meskipun sebanyak 15 % gangguan autis disebabkan oleh adanya suatu mutasi gen, namun ekspresinya bergantung pada beberapa gen.

b. Biomarker pada gangguan autisBiomarker utama yang diidentifikasi pada gangguan autis adalah serotonin yang meningkat dalam darah terutama pada platelet. Platelet menerima serotonin memalui SET (Serotonin transporter) ketika melewati sirkulasi intestinal. Gen yang memediasi SERT (SLC64A) dan reseptor serotonin, gen 5-HT 2A (HTR2A) diketahui memiliki lebih banyak pengaruh pada anak dengan gangguan autis. Gen ini juga meng-encode protein yang sama pada platelet dan pada otak. Karena serotonin diketahui memiliki pengaruh terhadap perkembangan otak, maka sangat memungkinkan perubahan regulasi pada serotonin memberi pengaruh pada perkembangan otak.c. Faktor imunologiBeberapa studi menunjukkan bahwa faktor imunologi juga memiliki pengaruh terhadap anak dengan gangguan autis. Salah satu contohnya adalah, limfosit pada janin yang mengalami gangguan autis mengalami rekasi dengan antibodi maternalsehingga menyebabkan jaringan neural embrio mengalami kerusakan selama masa kehamilan.d. Faktor prenatal dan perinatal

Komplikasi yang terjadi pada masa prenatal dan perinatal seringkali menyebabkan seorang anak mengalami gejala autisme di kemudian hari. Beberapa faktor yang sering menjadi penyebabnya yaitu kehamilan pada usia lanjut, perdarahan saat kehamilan, gestational diabetes, dan pada kehamilan pertama.

e. Gangguan neur