Retensio Urine Print

download Retensio Urine Print

of 12

  • date post

    02-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    104
  • download

    10

Embed Size (px)

description

retensio urin untuk keperawatan

Transcript of Retensio Urine Print

Retensio Urine

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah fetomaternal

Oleh:

Sofi M & Ervin N.

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN MALANG

JURUSAN KEBIDANAN

PRODI D4 KEBIDANAN KLINIK2011

RETENSIO URINE

Retensi urin adalah ketidakmampuan buli-buli (kandung kencing) untuk mengeluarkan urin yang telah melampaui batas maksimalnya. Pada ibu melahirkan, aktivitas berkemih seyogyanya telah dapat dilakukan enam jam setelah melahirkan (partus). Namun apabila setelah enam jam tidak dapat berkemih, maka dikatakan sebagai retensi urin postpartum.

Pengertian Retensi urin adalah ketidakmampuan buli-buli (kandung kencing) untuk mengeluarkan urin yang telah melampaui batas maksimalnya. Pada ibu melahirkan, aktivitas berkemih seyogyanya telah dapat dilakukan enam jam setelah melahirkan (partus). Namun apabila setelah enam jam tidak dapat berkemih, maka dikatakan sebagai retensi urin postpartum.

Jika wanita pasca persalinan tidak dapat berkemih dalam waktu 6 jam pasca persalinan. Ketidak mampuan untuk melakukan urinasi meskipun terdapat keinginan atau dorongan terhadap hal tersebut.

ketidakmampuan berkemih selama 24 jam yang membutuhkan pertolongan kateter, karena tidak dapat mengeluarkan urine lebih dari 50% kapasitas kandung kemih

Ketidakmampuan buli-buli ( kandung kencing untuk mengeluarkan urine yang telah melampaui batas maksimalnya

Ketidakseimnbangan urine berkemih selama 24 jam untuk melahirkan (ischuria puerpuralis ) Tidak adnaya proses berkemih spontan setelah kateter menetap dilepaskan atau dapat berkemih spontan namun urin sisa lebih dari 150 ml

Suatu keadaan penumpukan urin dikanding kemih dan idak mempunyai kemampuan untuk mengosongkan secara sempurna

Kesulitan miksi karena kegagalan urin dari fesika

Suatu keadaan penumpukan urine di kandung kemih dan tidak punya kemampuan untuk mengosongkanya secara sempurna.Patofisiologi Retensio Urine

Patofisiologi Retensio UrinePada masa kehamilan terjadi peningkatan elastisitas pada saluran kemih, sebagian disebabkan oleh efek hormon progesteron yang menurunkan tonus otot detrusor. Pada bulan ketiga kehamilan, otot detrusor kehilangan tonusnya dan kapasitas vesika urinaria meningkat perlahan-lahan. Akibatnya, wanita hamil biasanya merasa ingin berkemih ketika vesika urinaria berisi 250-400 ml urin. Ketika wanita hamil berdiri, uterus yang membesar menekan vesika urinaria. Tekanan menjadi dua kali lipat ketika usia kehamilan memasuki 38 minggu. Penekanan ini semakin membesar ketika bayi akan dilahirkan, memungkinkan terjadinya trauma intrapartum pada uretra dan vesika urinaria dan menimbulkan obstruksi. Tekanan ini menghilang setelah bayi dilahirkan, menyebabkan vesika urinaria tidak lagi dibatasi kapasitasnya oleh uterus. Akibatnya vesika urinaria menjadi hipotonik dan cenderung berlangsung beberapa lama.

EtiologiTerjadinya gangguan pengosongan kandung kemih akibat dari adanya gangguan fungsi di susunan saraf pusat dan perifer atau didalam genital dan traktus urinarius bagian bawah.

Gambar 2.1 Macam-macam retensio urine dilihat dari etiologinya

Etiologi

a) Retensi urin akut

Merupakan retensi urine yang berlangsung _ 24 jam post partum. Reten urine akut lebih banyak terjadi akibat kerusakan yang permanen khususnya gangguan pada otot detrusor berupa kontraksi dari otot detrusor kurang atau tidak adekuat dalam fase pengosongan kandung kemih. Adanya obstruksi pada uretra, karena overaktivitas otot uretra atau karena oklusi mekanik. Kerusakan juga bisa pada ganglion parasimpatis dinding kandung kemih.

Fenomena ini terjadi akibat dari trauma kandung kemih dan edema sekunder akibat tindakan pembedahan atau obstetri, epidural anestesi, obat-obat narkotik, peregangan atau trauma saraf pelvik, hematoma pelvik, nyeri insisi episiotomi atau abdominal, 1. Retensio urin pasca persalinan pervaginam

Trauma intrapartum menyebabkan udem dan hematom jaringan, selain itu penekanan yang lama bagian terendah janin terhadap periuretra menyebabkan gangguan kontraksi otot detrussor, sehingga terjadi ekstravasasi ke otot kandung kemih Nyeri karena laserasi atau episiotomi juga menyebabkan hambatan terhadap kontraksi detrusor .2. Retensio urin pasca seksio sesaria Seksio sesaria dengan riwayat partus lama menyebabkan udem dan hematom jaringan periuretra Nyeri luka insisi pada dinding perut menyebabkan pasien enggan mengkontraksikan otot dinding perut guna memulai pengeluaran urin Manipulasi kandung kemih selama seksio sesarea menyebabkan spastik

sfingter uretra

Anestesi.b) Retensi urin kronikMerupakan retensi urin yang berlangsung > 24 jam post partum. Pada kasus retensi urine kronik, perhatian dikhususkan untuk peningkatan tekananintravesical yang menyebabkan reflux ureter, penyakit traktus urinarius bagianatas dan penurunan fungsi ginjalDiagnosis

DiagnosisPada pasien dengan keluhan saluran kemih bagian bawah, maka anamnesis dan pemeriksaan fisik yang lengkap, pemeriksaan rongga pelvis, pemeriksaan neurologik, jumlah urine yang dikeluarkan spontan dalam 24 jam, pemeriksaan urinalisis dan kultur urine, pengukuran volume residu urine, sangat dibutuhkan.

a) Pemeriksaan subyektif, yaitu mencermati keluhan yang disampaikan oleh pasien yang digali melalui anamnesis yang sistematik. Dari pemeriksaan subyektif biasanya didapat keluhan seperti nyeri suprapubik, mengejan karena rasa inginkencing, serta kandung kemih berasa penuh.

b) Pemeriksaan obyektif, yaitu melakukan pemeriksaan fisik terhadap pasien untuk mencari data-data yang objektif mengenai keadaan pasien. Dari pemeriksaan obyektif dengan metode palpasi atau perkusi, biasanya ditemukan massa di daerah suprasimfisis dengan perkusi yang pekak karena kandung kemih yang terisi penuh dari suatu retensi urin. Vesika urinaria biasanya dapat teraba bila terisi > 200 ml.c) Pemeriksaan penunjang, yaitu melakukan pemeriksaan-pemeriksaan laboratorium, radiologi atau imaging (pencitraan) uroflometri, atau urodinamika, elektromiografi, endourologi, dan laparoskopi.

Pada pemeriksaan laboratorium paling sering digunakan kateter dan uroflowmetri, yaitu untuk mengukur volume dan residu urin pada kandung kemih. Dikatakan normal jika volume residu urine adalah kurang atau sama dengan 50 ml, sehingga jika volume residu urine lebih dari 200 ml dapat dikatakan abnormal dan biasa disebut retensi urine. telah disepakati bahwa volume residu urine normal adalah 25% dari total volume vesika urinaria.Karena terjadinya retensi urine yang berkepanjangan, maka kemampuan elastisitas vesica urinaria menurun, dan terjadi peningkatan tekanan intravesika yang menyebabkan terjadinya reflux, sehingga penting untuk dilakukan pemeriksaan USG pada ginjal dan ureter.Selain itu juga dapat digunakan voiding cystourethrografi untuk melihat gambaran radiografi kandung kemih dan uretra. menggunakan kateterisasi ( dengan balon (folley)/ tanpa balon, ukuran tergantung keadaan, biasanya 16 atau 18 F), transuretra atau punksi supra pubik. Kemudian di foto pada saat miksi untuk melihat struktur uretra dan

setelah miksi untuk melihat adanya urine sisa dalam vesika urinaria. PenatalaksanaanKetika kandung kemih menjadi sangat menggembung diperlukan kateterisas kateter Foley ditinggal dalam kandung kemih selama 24-48 jam untuk menjaga kandung kemih tetap kosong dan memungkinkan kandung kemih menemukan kembali tonus normal dan sensasi.Obat-obatan dapat digunakan :

a) Obat yg bekerja pada sistem parasimpatis. Efek kolinergik bekerja di ganglion atau di organ akhir tetapi lebih banyak di sinapnya,yaitu yang disebut dengan efek muskarinik. Contohnya betanekhol. Obat yang bekerja pada sistem simpatis yang sering digunakan adalah antagonis reseptor alpha yang menyebabkan relaksasi spingter uretra.

b) Obat yang bekerja pada otot polos mempengaruhi kerja otot-otot detrusor seperti Prostaglandin yang merupakan reseptoasetilkolin muskarinik dan merangsang kontraksi detrusor.c) Kecemasan dipikirkan mempunyai peranan dalam kesulitan berkemih setelah pembedahan. Benzodiazepine dapat menolong berkaitan dengan (anxiolisis dan efek pelemas otot). Jika pasien masih mengalami gangguan dalam berkemih dan dicurigai spasme uretra , dapat diberikan pelemas otot seperti diazepamd) Antibiotik sesuai kuman dan uji resistensi.

Bila dalam waktu 5 7 hari tidak ada perbaikan ( pasien tetap tidak bisa buang aiir kecil spontan), pasien dapat dipulangkan denagn memakai kateter silikon setelah hasil kultur urin steril. Jika residu urine lebih dari 700 ml, antibiotic profilaksis dapat diberikan karena penggunaan kateter dalam jangka waktu panjang dan berulang.

Komplikasi

Pengosongan kandung Kemih yang tidak lengkap dapat menyebabkan berbagai komplikasi

Pengertian

RETENSIO URINE

Masa kehamilan

elastisitas saluran kemih

Bulan ketiga kehamilan tonusnya dan kapasitas perlahan-lahan vesika urinaria

Bayi lahir tekanan semakin besar

Trauma intrapartum

Obstruksi

asa kehamilan

Bayi lahir tekanan menghilang

RETENSIO URINE

Vesika urinaria menjadi hipotonik dan cenderug berlangsung beberapa lama

BLADDER

Terjadinya gangguan pengosongan kandung kemih akibat dari adanya gangguan fungsi di susunan saraf pusat dan perifer atau didalam genital dan traktus urinarius bagian bawah.

Data subyektif:

sulit buang air kecil pancaran kencingnya lemah, lambat dan terputus-putus, . nyeri dan kandung kencing terasa penuh

kateterisasi,

kateter Foley ditinggal dalam kandung kemih selama 24-48 Pengukuran volume urine yang dikeluarkan spontan dalam 24 jam.

Pengukuran volume residu urine

Obat yg bekerja pada sistem parasimpatis.obat yang bekerja pada otot pol